Unlimited Project Works

24 Januari, 2019

Valhalla Saga Prolog

on  
In  

Prolog

Saga

Itu artinya legenda.

Kisah seorang pahlawan yang takkan pernah dilupakan



MVP dari turnamen dunia ke-6.

MVP dari turnamen dunia ke-7.

Pemegang gelar ganda.

Pro gamer terbaik di Zaman Kegelapan, yang dikenal sebagai salah satu kategori terbaik dalam E-SPORTS di seluruh dunia.

Dia, yang tak pernah melepaskan mouse dan keyboard-nya seperti yang seharusnya pro gamer terbaik, menghadapi seorang dokter yang menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kaku.

“Dia meninggal.”

Itu adalah serangan jantung.

Dan tamat.



“Dia meninggal.”

“Bukankah maksudmu aku menjadi beradab?”

Dia melucu sambil tersenyum yang dipaksakan, tetapi itu hanya berlangsung sesaat. Lee Tae Ho tengah melihat mayatnya yang ada di lantai dan di layar monitor dengan wajah bodoh, dan pada ketua yang berusaha mengatakan apapun yang dia bisa, secara bergantian.

Aula dipenuhi dengan keheningan. Ada ribuan penonton yang berkumpul untuk menyaksikan final, tetapi tak ada yang mengangkat suara mereka.

Karena itu mengejutkan sejauh itu.

Namun, keheningan itu tak berlangsung lama. Seseorang mulai berteriak dan tak lama kemudian aula mulai dipenuhi dengan segala macam suara. Ada beberapa yang terisak-isak, dan beberapa yang memanggil kenalan mereka dan berteriak. Bahkan ada yang tertawa seakan situasinya menyenangkan.

“Sial. Ah, sial.”

Tae Ho mengutuk. Staf membawa mayatnya di atas tandu.

“Aku mati saat bermain game?”

Dia berbalik untuk melihat monitor. Diri Tae Ho yang lain, ksatria naga Kalsted, berada di lantai tengah kolaps dan membuat ekspresi sedih.

Apa yang akan terjadi sekarang?

Dia menjadi takut.

Akankah dia tetap sebagai jiwa untuk selamanya?

Mungkin itu lebih baik daripada diseret ke neraka dan jiwanya padam. Tidak, apakah itu benar-benar masalahnya? Dia harus tinggal di tempat ini dan berkeliaran untuk selamanya.

Dia tak tahu. Dia tak tahu apa-apa.

Tae Ho melihat sekelilingnya. Dia tak bisa melihat malaikat atau iblis, apalagi malaikat maut. Dia tak beragama. Apa karena itu?

Tae Ho bernapas dengan kasar. Dia telah mati dan menjadi hantu, tetapi dia masih bernapas dengan kasar. Dia bahkan merasa keringat dingin menetes.

“Jiwa seorang prajurit yang mati setelah pertempuran yang mulia.”

Saat itu, sebuah suara terdengar. Ketika dia mengangkat kepalanya, dia bisa melihat bahwa langit-langit stan pribadinya bersinar. Seorang wanita cantik muncul dari sela cahaya itu.

“M, malaikat?!”

Tae Ho menghela napas lega ketika dia menyadari bahwa dia tidak akan pergi ke neraka. Sebenarnya, dia telah memberikan sumbangan baru-baru ini, jadi mungkin itulah alasannya.

Tapi malaikat ini agak aneh. Dia tak bisa melihat sayap putih atau lingkaran cahaya. Setelah dia melihat lebih baik, dia mengenakan armor dan bahkan memiliki pedang di pinggangnya.

“Eh, seorang Valkyrie?”

Tae Ho berbicara tanpa sadar dan wanita cantik dengan rambut hitam panjang itu mengulurkan tangannya padanya sambil tersenyum.

“Ayo pergi prajurit yang agung.”

Tae Ho meraih tangannya tanpa mengetahui dan pada saat itu, dunia terbalik.

“Prajurit pemberani! Selamat datang di Valhalla, tempat para prajurit Dewa-Dewi berkumpul!”

“Valhalla! Valhalla! Valhalla! “

“Oh, Odin!”

“Thor!”

Mata Tae Ho menjadi bulat. Orang-orang yang berbaris di depan pintu lengkung besar itu berteriak dengan antusias.

Tetapi kebanyakan tampak aneh. Tidak, tepatnya pakaian mereka. Semua orang memiliki tubuh besar dan mengenakan pakaian kulit atau armor. Dan barang-barang yang mereka pegang kebanyakan adalah kapak atau pedang.

Dia bisa melihat wanita cantik di antara mereka, tetapi mereka juga mengenakan armor dan helm.

Mereka juga memiliki pedang di pinggang mereka.

“Ada banyak prajurit hebat yang berkumpul di sini.”

Tae Ho terkejut dengan suara yang terdengar tepat di sebelahnya dan berbalik untuk melihat sumbernya. Valkyrie yang dilihatnya di stan game tengah memandangi orang-orang yang berbaris sambil tersenyum cerah.

Valhalla.

Valkyrie.

Tae Ho membuka matanya dengan bulat. Itu karena sesuatu memukul kepalanya.

Valhalla. Tempat itu bisa disebut surga di mitologi Eropa Utara. Perjamuan tempat para prajurit yang tewas dalam pertempuran hebat berkumpul!

“Tu, tunggu! Ada yang salah! Aku seorang pro gamer!”

Dia bukan seorang prajurit. Selain itu, dia bahkan tidak ingat mati di tengah pertempuran yang mulia.

Namun, Valkyrie hanya memiringkan kepalanya karena protes Tae Ho.

“Progay?”

“Pro-gamer!”

“Pekerjaan apa itu?”

Pertanyaan itu datang dari seorang prajurit yang dekat dengan Tae Ho. Itu adalah pria besar yang janggutnya mencapai dadanya, dan otot-ototnya amat luar biasa.

Tae Ho tersentak atas pertanyaan pria ini, yang akan dicoba untuk tidak melakukan kontak mata ketika bertemu dengannya di jalan-jalan dan berkata dengan suara pelan.

“Eh, seperti namanya, itu adalah pekerjaan yang melibatkan bermain game.”

“Game? Oh! Maksudmu pertempuran!”

“Pertempuran!”

“Duel!”

Yang di dekatnya mengangguk dan tersenyum seolah-olah mereka akhirnya mengerti.

Tidak, bagian mana dari hal itu yang kau pahami!

Tae Ho dengan cepat mencoba meredakan kesalahpahaman itu, tetapi mulutnya sepertinya tidak terbuka dengan mudah. Selain itu, ada satu orang di sebelahnya yang menuangkan bahan bakar ke dalam api.

“Orang ini adalah seorang juara! Dan orang yang memenangkan semua pertempuran di mana dia berpartisipasi pada saat itu!”

Itu adalah Valkyrie. Senyumnya dipenuhi dengan kebanggaan seolah-olah prajurit yang dibawanya adalah yang terbaik.

“Juara!”

“Juara!”

“Raja pertempuran!”

“Kau sangat luar biasa dibandingkan dengan penampilanmu!”

“Jadi, kau menyembunyikan keterampilan yang luar biasa itu ya?”

“Darahku mendidih! Aku ingin sekali bertarung denganmu!”

Orang-orang seperti beruang tersenyum ganas dan berkumpul. Rasanya suhu sekitar naik 3 derajat.

‘Bukan, sialan! Bukan itu! Bagaimana kau menafsirkan pro gamer sebagai raja pertempuran!’

Namun, Valkyrie yang sepertinya tak tahu bagaimana perasaan Tae Ho, tersenyum cerah dan berkata.

“Prajurit mulia, selamat datang di Valhalla!”

“Selamat datang!”

“Selamat datang!”

“Valhalla!”

“Oh! Odin!”

Seorang prajurit mendekati Tae Ho dan tersenyum usai meletakkan tangannya di bahunya. Itu tidak tampak seperti lengan manusia tetapi seekor gajah.

“Sekarang, prajurit. Kita akan pergi ke Valhalla bersama-sama.”

“Aku ingin mendengarkan ceritamu!”

“Pintunya terbuka!”

“Ohh! Valhalla!”

Tae Ho ingin membantah bagaimanapun juga, tapi itu adalah hal yang tidak berarti. Ketika Tae Ho nyaris tidak berhasil mengatakan sesuatu, semua prajurit melihat ke pintu besar.

Valhalla.

Arena di mana jiwa para prajurit para dewa tinggal dan pada saat yang sama jamuan!

Pintunya terbuka.
SEBELUM CABUT, KOMENTAR DULU BOS

Share:

SAO Progressive v1 1

on  
In  

Aria di Malam Tanpa Bintang

1

Hanya sekali, aku melihat sebuah bintang jatuh yang sebenarnya.

Itu bukan perjalanan berkemah di bawah bintang-bintang, tapi dari jendela kamarku. Ini takkan menjadi hal yang langka bagi mereka yang tinggal di tempat-tempat dengan langit yang cerah atau yang gelap gulita di malam hari, tapi rumahku selama empat belas tahun, Kawagoe di Prefektur Saitama, bukanlah keduanya. Bahkan di malam yang cerah, kau hanya bisa melihat bintang paling terang dengan mata telanjang.

Namun pada suatu malam pertengahan musim dingin, aku kebetulan melirik keluar jendela dan melihat kilasan cahaya sesaat yang jatuh secara vertikal melalui langit malam tanpa bintang yang pucat dengan cahaya kota. Aku berada di kelas empat atau lima pada saat itu, dan di masa kecilku yang polos, aku memutuskan untuk membuat permohonan... hanya untuk menyia-nyiakannya pada hal yang paling tidak berguna yang dapat dibayangkan: “Aku berharap monster berikutnya akan menjatuhkan rare item.” Aku berada di tengah operasi untuk naik level di MMORPG favoritku saat itu.

Aku melihat bintang jatuh lainnya dengan warna dan kecepatan yang sama tiga (atau mungkin empat) tahun kemudian.

Tapi ini bukan dengan mata telanjang, dan tidak berkedip ke langit malam kelabu. Itu terjadi dalam kedalaman suram labirin yang diciptakan oleh NerveGear — full-sensory immersive VR interface pertama di dunia.



Cara si pengguna rapier bertarung membawa kata “kerasukan”.

Dia melesat menghindar dari arah crude axe level-6 Ruin Kobold Trooper, aku merasakan hawa dingin mengalir di punggungku. Setelah tiga keberhasilan yang berhasil dihindarkan, keseimbangan si Kobold benar-benar hilang, dan ia melepaskan skill pedang kekuatan penuh ke dalam makhluk yang tak berdaya itu.

Dia menggunakan Linear, tusukan sederhana yang merupakan serangan pertama yang dipelajari siapapun di kategori Rapier. Itu adalah serangan yang sangat biasa, dorongan memutar lurus ke depan dari posisi terpusat, namun kecepatannya mencengangkan. Itu jelas bukan hanya sistem bantuan gerak gim, tapi lebih merupakan produk dari keterampilan atletiknya sendiri.

Aku sudah melihat anggota party dan monster musuh menggunakan skill yang sama berkali-kali selama beta test, tapi yang bisa kutangkap kali ini adalah efek visual dari lintasan pedangnya, dan bukan kilasan bilah pedang itu sendiri. Kilatan cahaya murni yang tiba-tiba di tengah-tengah dungeon yang redup membawa memori bintang jatuh itu ke pikiranku.

Setelah tiga kali pengulangan dengan pola yang sama menghindari kombo Kobold dan merespons dengan Linear, si pengguna rapier itu menghabisi makhluk bersenjata itu — salah satu yang paling sulit di dungeon — tanpa goresan. Tapi itu bukan pertarungan yang malas dan mudah. Begitu dorongan terakhir menembus dada si Kobold dan mengirimkannya menjadi pecahan-pecahan poligon kosong, ia tersandung ke belakang dan menggedor-gedor dinding, seolah-olah disintegrasi makhluk itu mendorongnya ke belakang. Orang itu meluncur turun ke dinding sampai dia duduk di lantai, terengah-engah.

Dia tidak memperhatikan aku berdiri di persimpangan terowongan sekitar lima belas meter jauhnya.
setiakun
Aktivitas normalku pada saat ini adalah diam-diam menyelinap pergi dan menemukan mangsa berburuku sendiri. Sejak aku membuat keputusan sebulan yang lalu untuk bekerja sebagai solo player yang mementingkan diri sendiri, aku tidak pernah berusaha mendekati orang lain. Satu-satunya pengecualian adalah jika aku melihat seseorang bertarung dan dalam bahaya besar, tapi si pengguna rapier itu tidak pernah berkurang darahnya. Paling tidak, dia tampaknya tidak membutuhkan siapapun menerobos masuk dan menawarkan bantuan.

Tetapi tetap saja…

Aku ragu-ragu selama lima detik, lalu mengambil keputusan dan melangkah maju ke arah player yang duduk itu.

Dia kurus dan berukuran kecil, mengenakan breastplate perunggu terang di atas tunik kulit merah tua, celana kulit ketat, dan sepatu bot setinggi lutut. Wajahnya tersembunyi di balik jubah bertudung dari kepala ke pinggang. Semua selain jubah itu adalah light armor yang tepat untuk pengguna rapier yang gesit, tapi itu juga mirip dengan pakaian pendekar pedangku. Anneal Blade tercintaku, hadiah untuk quest level tinggi, begitu berat sehingga aku perlu mengurangi peralatan besar untuk menjaga gerakanku tajam — aku tidak mengenakan apapun yang lebih berat dari mantel kulit kelabu gelap breastplate kecil.

Pengguna rapier itu tersentak ketika dia mendengar langkah kakiku tapi tidak bergerak lebih jauh. Dia akan melihat warna hijau kursorku untuk meyakinkannya bahwa aku bukan monster. Kepalanya tetap menempel di antara kedua lututnya yang terangkat, pertanda jelas bahwa dia ingin aku terus berjalan, tapi aku berhenti beberapa meter jauhnya.

“Menurutku tadi overkill yang berlebihan.”

Bahu ramping di bawah jubah tebal mengangkat bahu lagi. Tudung bergeser ke belakang hanya satu atau dua inci, dan aku melihat dua mata yang tajam menatapku. Yang bisa kulihat hanyalah dua iris cokelat muda; kontur wajahnya masih gelap.

Setelah beberapa detik dari tatapan yang sama tajamnya dengan tusukan rapier itu, dia sedikit memiringkan kepalanya. Sepertinya dia tidak mengerti apa yang kumaksud.

Dalam hati, aku menghela napas pasrah. Ada satu gatal besar di benakku yang membuatku tidak melanjutkan jalan kesendirianku.

Linear si pengguna rapier itu sangat sempurna. Bukan saja gerakan sebelum dan sesudahnya sangat singkat, serangan itu sendiri lebih cepat daripada yang bisa kulihat. Aku belum pernah di hadapan skill pedang yang menakutkan dan indah seperti itu sebelumnya.

Pada awalnya, aku berasumsi dia pastilah mantan beta tester lainnya. Kecepatan itu pasti berasal dari banyak pengalaman yang diperoleh sebelum dunia ini jatuh ke dalam kondisi mematikan saat ini.

Tetapi ketika aku melihat Linear untuk kedua kalinya, aku mulai mempertanyakan asumsiku. Dibandingkan dengan keunggulan serangannya, aliran pertempuran si pengguna rapier benar-benar berbahaya. Ya, strategi pertahanan untuk menghindari serangan musuh dengan gerakan minimum menyebabkan serangan balasan yang lebih cepat daripada memblokir atau menangkis, serta menghemat keausan pada peralatan. Tapi konsekuensi dari kegagalan jauh melebihi yang positif. Dalam skenario terburuk, serangan yang berhasil dilakukan musuh dapat dianggap sebagai serangan balik yang menyertakan efek setrum singkat. Bagi seorang solo fighter, terpana adalah ciuman kematian.

Itu tidak cocok — permainan pedang yang brilian dikombinasikan dengan strategi yang benar-benar sembrono. Aku ingin tahu alasannya, jadi aku mendekat dan bertanya-tanya apakah mungkin ini berlebihan.

Tapi dia pun tidak mengerti istilah online yang sudah sangat umum itu. Si pengguna rapier yang duduk di lantai di sini bukan beta tester. Dia mungkin belum menjadi pemain MMO sebelum datang ke gim ini.

Aku menghela napas cepat dan meluncurkan penjelasan.

Overkill adalah istilah yang digunakan ketika kau melakukan damage berlebihan untuk jumlah health yang tersisa dari monster itu. Setelah Linear keduamu, Kobold itu hampir mati. Hanya tinggal dua atau tiga piksel pada bar HP-nya. Kau bisa menyelesaikannya dengan mudah dengan serangan ringan, daripada menggunakan skill pedang penuh.”

Sudah berapa hari sejak aku mengucapkan begitu banyak kata sekaligus? Berapa minggu? Karena menjadi murid Jepang yang melang, penjelasanku sama anggunnya dengan esai, tapi si pengguna rapier tidak menunjukkan respons selama sepuluh detik penuh. Akhirnya, suara pelan bergumam dari bagian dalam tudung.

“Apa ada masalah dengan melakukan terlalu banyak damage?”

Lambat laun, akhirnya, aku menyadari bahwa si pengguna rapier yang berjongkok adalah yang paling jarang dari pertemuan di seluruh dunia ini, bisa dikatakan tidak ada di dalam dungeon — bukan player pria, tapi wanita.



VRMMORPG pertama di dunia, Sword Art Online, telah membuka pintu virtualnya hampir sebulan sebelumnya.

Dalam MMO rata-rata, player akan mencapai batas level awal dan seluruh dunia gim akan dieksplorasi secara menyeluruh dari ujung ke ujung. Tapi di sini di SAO, bahkan para player terbaik dalam gim hampir tidak ada di level 10 — dan tak ada yang tahu berapa batas atasnya. Nyaris beberapa persen dari letak gim, kastil terapung Aincrad, telah dipetakan.

SAO bukan lagi sebuah gim. Itu lebih dari penjara. Mustahil untuk log out, dan kematian avatar player mengakibatkan kematian tubuh player, titik. Di bawah situasi yang kejam itu, hanya sedikit orang yang berani mengambil risiko bahaya monster dan perangkap dungeon.

Selain itu, game master memaksa gender avatar setiap player menjadi mirip di kehidupan nyata mereka, yang berarti ada kekurangan besar perempuan dalam gim. Aku berasumsi bahwa sebagian besar masih berkemah di tempat yang aman di Town of Beginnings. Aku hanya melihat wanita dua atau tiga kali di dungeon besar ini — labirin lantai pertama — dan mereka semua berada di tengah-tengah party petualangan besar.

Jadi tidak pernah terpikir olehku bahwa si pengguna rapier yang menyendiri di tepi wilayah yang belum dijelajahi jauh di dalam dungeon ini sebenarnya adalah seorang wanita.



Secara singkat aku mempertimbangkan untuk menggumamkan permintaan maaf dan pergi dengan tergesa-gesa. Aku tidak dalam pembasmian melawan pria yang selalu membuat poin berbicara dengan player wanita yang mereka temui tanpa ragu-ragu, tapi aku pasti tidak ingin diidentifikasi sebagai salah satu dari mereka.

Jika dia merespons dengan “Pikirkan urusanmu sendiri” atau “Aku bisa melakukan apa yang kumau,” aku tidak punya pilihan selain setuju dan bergerak maju. Tapi respons si pengguna rapier itu tampaknya pertanyaan yang jujur, jadi aku berhenti dan mencoba memberikan penjelasan yang tepat.

“Yaa… tidak ada penalti dalam gim karena overkill — itu hanya tidak efisien. Skill pedang membutuhkan banyak konsentrasi, jadi semakin banyak kau menggunakannya, semakin banyak kelelahan yang kau peroleh. Maksudku, kau masih harus pulang ke rumah, kan? Kau harus mencoba menghemat lebih banyak energi.”

“…Pulang ke rumah?” suara dari tudung itu bertanya lagi. Itu adalah monoton, tampaknya kelelahan, tapi aku pikir itu indah. Aku tidak mengatakan itu dengan keras, tentu saja. Sebagai gantinya, aku mencoba menguraikan.

“Yah. Butuh waktu berjam-jam untuk keluar labirin dari tempat ini, dan bahkan kota terdekat berjarak tiga puluh menit dari sana, kan? Kau akan membuat lebih banyak kesalahan jika kau lelah. Kau terlihat seperti solo player bagiku; kesalahan-kesalahan itu bisa dengan mudah berakibat fatal.”

Ketika aku berbicara, aku bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa aku menceramahinya dengan sungguh-sungguh. Itu bukan karena dia seorang gadis, pikirku. Aku memulai percakapan ini sebelum menyadari gendernya.

Jika perannya dibalik dan seseorang dengan sombong mengajariku tentang apa yang harus kulakukan, aku pasti akan memberitahu mereka untuk pergi ke Neraka. Begitu aku menyadari betapa kontradiktif tindakanku dengan kepribadianku, si pengguna rapier akhirnya bereaksi.
setiakun
“Kalau begitu, tidak ada masalah. Aku tidak akan pulang.”

“Hah? Kau tidak... pulang ke kota? Tapi bagaimana dengan mengisi ulang potion, memperbaiki peralatan, tidur...?” Aku bertanya, sulit percaya. Dia mengangkat bahu sebentar.

“Tidak perlu potion jika aku tidak menerima damage, dan aku membeli lima pedang yang sama. Kalau aku mau tidur, aku hanya tidur di safe area terdekat,” katanya dengan suara serak. Aku tidak punya jawaban.

Safe area adalah sebuah ruangan kecil yang terletak di dalam dungeon yang tidak pernah dalam bahaya muncul monster. Itu mudah dibedakan dengan obor berwarna di setiap sudut ruangan. Mereka berguna sebagai pijakan saat berburu atau memetakan dungeon, tapi tidak dimaksudkan untuk tidur siang lebih dari satu jam. Ruangan yang tidak memiliki tempat tidur, hanya lantai batu yang keras, dan pintu yang terbuka tidak menghalangi suara langkah kaki yang mengerikan dan menggeram di koridor di luar. Bahkan petualang yang gagah berani tidak bisa tidur dalam kondisi seperti itu.

Tapi jika aku harus menerima pernyataannya pada nilai pari, dia menggunakan ruang batu yang sempit itu sebagai pengganti kamar penginapan yang layak untuk berkemah di dungeon secara permanen. Mungkinkah itu benar?

“Um... sudah berapa jam kau di sini?” Aku bertanya, takut tahu jawabannya.

Dia menghembuskan napas perlahan. “Tiga hari... mungkin empat. Apa kau sudah selesai? Monster berikutnya akan segera muncul, jadi aku harus bergerak.”

Dia meletakkan tangan yang rapuh dan bersarung tangan ke dinding dungeon dan dengan goyah mengangkat kakinya. Dengan rapier menjuntai dari tangannya sebesar pedang dua tangan, dia berbalik ke arahku.

Ketika dia berjalan maju, aku melihat air mata di jubah dan mengetahui kondisinya yang buruk. Sebenarnya, adalah keajaiban bahwa setelah empat hari berkemah di dungeon, kain tipis itu masih utuh. Mungkin pernyataannya tentang tidak menerima damage sama sekali bukanlah omong kosong belaka...

Bahkan aku pun tidak menduga perkataan yang keluar dari mulutku di punggungnya.

“Jika kau terus bertarung seperti ini, kau akan mati.”

Dia berhenti diam dan membiarkan bahu kanannya bersandar ke dinding sebelum berbalik. Mata yang kupikir berwarna cokelat di bawah tudung itu kini tampak memucat, merah pucat.

“...Bagaimanapun juga, kita semua akan mati.”

Suaranya yang parau dan serak sepertinya memperdalam udara dingin di dungeon.

“Dua ribu orang meninggal dalam satu bulan. Dan kami bahkan belum menyelesaikan lantai pertama. Tidak mungkin untuk mengalahkan gim ini. Satu-satunya perbedaannya adalah kapan dan di mana kau mati, cepat... atau lambat...”

Pernyataan terpanjang dan paling emosional yang diucapkannya sejauh ini melewati bibirnya dan melebur di udara.

Secara naluriah aku mengambil langkah maju, lalu menyaksikan ketika dia dengan diam-diam jatuh ke lantai, seolah-olah dilanda kelumpuhan yang tak terlihat.
SEBELUM CABUT, KOMENTAR DULU BOS

Share:

Strike the Blood v7 Intro

on  
In  

INTRO

Dulu sekali, seorang pria dilahirkan.

Dia dihidupkan oleh orang-orang pertama yang turun ke tanah, diusir dari surga para dewa—

Dengan kata lain, dia adalah manusia pertama yang dibuat oleh tangan orang-orang.

Dalam kemarahan mereka, para dewa membuang pria itu ke suatu tempat di luar cakrawala, mencapnya sebagai pembunuh, dan mengutuknya dengan keabadian.

Dan dengan demikian, ia menjadi kriminal. Hanya yang terakhir dari saudara-saudaranya, dan keturunan mereka, yang tersisa di tanah.

Penuh kehidupan, bumi meninggalkan pria itu dan terus menolak kedatangannya.

Sebagai gantinya, dia membenci tanah itu. Sendirian dalam kegelapan abadi, air mata dan darahnya mengalir melalui cakrawala, menyelimuti dunia, dan melahirkan banyak jenis iblis.

Alih-alih karunia, ia membawa peradaban dan perang ke tanah yang ditolaknya. Melalui dia, para pria menemukan pembelajaran dan sihir; melaluinya, para pria membuat setiap bilah perunggu dan besi.

Akhirnya, mereka yang tersisa di atas tanah membangun kota baru itu melanggar semua hukum bumi: kota buatan, lahir dari serat karbon, resin, dan baja.

Namanya Cain, Sumber Segala Dosa, Bapak semua iblis.

Saat ini pun, ia tidur di tanah di luar cakrawala, memimpikan kembalinya, sehingga ia dapat membalas dendam kepada dunia.



Gua itu diselimuti cahaya yang berkelap-kelip. Secara berkala, api mirip pelangi mengubah warna dan bentuknya. Udara putih dan beku, seolah-olah waktu sendiri diam.

Di sini, di dunia hampa yang hanya diperintah oleh ketenangan dan isolasi, seorang bocah lelaki berbaring sendirian. Dia berumur dua belas tahun, masih muda, hanya setengah dewasa. Namun, dia sudah sadar tengah sekarat.

Satu paru-parunya, jantungnya, dan tulang serta organ dalam yang tak terhitung jumlahnya telah hancur, darah segar tersebar di mana-mana.

Tepat sebelum kematiannya, dia melihat sebuah ledakan besar dan sesosok raksasa, beast man ganas, marah dengan amarah, gerombolan mayat hidup, dan...

Seorang gadis di dalam peti mati, terus tidur bahkan ketika serpihan es berkilauan menari-nari di sekelilingnya bak bulu-bulu di udara. Daging pucatnya, seputih gletser, diwarnai merah karena darah bocah itu—

“Kenapa kau tidak takut padaku, bocah?”

Suara serius bergema di dunia terputus dari aliran waktu.

Bayangan raksasa yang diselimuti oleh es putih melayang di ruang kosong. Mungkin itu adalah burung raksasa yang menyebarkan sayap es, atau barangkali itu putri duyung. Bentuknya goyah bagaikan fatamorgana menatap dingin ke arah bocah lelaki yang berlumuran darah itu.

Dengan sedikit gemetar bibirnya, bocah itu menjawab, “Mana...aku tahu...?”

Namun, suaranya belum terdengar. Bocah itu sudah kehilangan tubuh fisiknya. Akibatnya, jiwanya cacat, akan tersedot ke dunia kosong.

Walau begitu, mata bocah itu tidak menunjukkan rasa takut. Dia tersenyum lemah pada burung raksasa yang mengerikan itu, seolah-olah menentang kehancuran hidupnya.

“Mungkin karena...aku masih punya banyak hal yang harus dilakukan...”

Burung raksasa itu memperhatikan bocah itu dengan matanya yang agung dan transenden.

Di dunia yang dingin itu, kehendaknya adalah hukum. Bila teror menangkapnya bahkan untuk sesaat—bila dia menerima kematiannya sendiri—tidak diragukan lagi dia akan segera merobek jiwanya dengan kekuatannya yang luar biasa, seperti yang telah dia lakukan terhadap pengorbanan manusia yang tak terhitung jumlahnya yang dibawa ke dunia sebelumnya.

Namun, bocah itu tidak mengalihkan pandangannya. Dia memaksa tubuhnya yang berantakan untuk duduk, menyampaikan ketabahannya dengan tenang.

Dengan suara yang sama sekali tanpa emosi, burung raksasa itu dengan tenang memberikan kebenaran.

“Kau sudah kedaluwarsa. Tak ada lagi yang bisa kaulakukan. Ini adalah Memori Darah dari Leluhur Keempat...sebuah kuburan dengan waktu yang tak terbatas dalam kehidupan kekal. Kami, terbenam dalam darahnya, memakan ingatan leluhur untuk hidup. Kau kini hanyalah satu bagian dari keseluruhan itu.”

Bentuknya berubah menjadi seorang gadis cantik—yang memiliki mata menyala dan rambut berwarna pelangi mengepul bak api. Dia melanjutkan:

“Bocah lelaki sekarat, kenapa kau tidak takut padaku? Kenapa kau memanggil namaku?”

Bocah itu menyela pertanyaannya dengan teriakan, seakan ingin meledakkannya. Diam kau...!”

Bahkan ketika tangannya yang berlumuran darah tenggelam ke dalam kekosongan, dia merobeknya dengan kekuatan keinginan dan bangkit.

“Ini belum selesai! Aku bisa melindunginya! Untuk itu, aku akan menggunakan kekuatan apapun yang kupunya, bahkan yang dapat menghancurkan seluruh dunia...!”

Gadis itu tersenyum kagum. Itu membawa rasa tidak bersalah yang cocok dengan wajahnya yang bagaikan peri.

“Kau, bukan leluhur tetapi orang biasa, berpestalah dengan Memori Darah kekalku—?”

Dari ruang kosong, semua yang telah hilang —darah, daging, tulang, dan organnya— dipulihkan. Alih-alih dikonsumsi, bocah itu malah menyerap Memori Darah. Dia, manusia tak berdaya, menggunakan “kekuatan hidup negatif” tanpa batas yang hanya dimiliki oleh para leluhur—

Gadis itu menyipitkan matanya yang berkilauan. “Harganya...akan menjadi bocah lelaki terkasih—”

Dari dalam tangannya yang terkepal, serpihan es kecil muncul. Dalam sekejap mata, itu tumbuh menjadi sebuah tombak yang panjang—tombak es dengan ujung bercabang dua.

Bocah itu dengan sungguh-sungguh mengulurkan tangannya yang basah kuyup dan memanggil nama gadis itu.

“Aku akan tetap melakukannya. Jadi tolong, beri aku kekuatanmu...Avrora!”

Saat itu juga, mata gadis itu melembut, menahan air mata bahagia. Senyum menyenangkan menyelimutinya ketika dia berbisik, “Baiklah. Ambil.”



Kemudian, ketika bocah itu berdiri tanpa daya, tangannya terulur, gadis itu menusukkan tombak sedingin es ke dalam dadanya.
SEBELUM CABUT, KOMENTAR DULU BOS

Share:

World Reformation 77

on  
In  
Bagaimanapun, Yorishiro-sama dan aku –Kourin Karen– memutuskan untuk menyelidiki reruntuhan bersejarah dari Negeri Dunia Bawah yang ada di depan kita.

Aku juga terganggu oleh bayangan yang menyebut dirinya Entropy sang Dewa Kegelapan, namun tujuan awal kami adalah menemukan kota ini, dan menyelidikinya.

Mengapa kota ini runtuh? Mengapa terkubur jauh di bawah tanah?

Jika kami bisa mengungkap kebenaran dengan menyelidiki reruntuhan, kami mungkin bisa lebih dekat dengan identitas bayangan itu.

Yorishiro-sama dan aku berjalan di jalan setapak di kota.

Melewati di tengah dan lebarnya jalan besar.

Pada masa-masa ketika kota itu masih hidup, aku berpikir bahwa banyak orang telah bergerak bolak-balik di jalan ini.

Tapi saat ini, itu adalah ruang yang tenang di mana hanya ada puing-puing dan pasir berserakan.

“Yorishiro-sama, hati-hati. Gelap dan kita tidak bisa melihat apa yang ada di kaki kita.”

“Ara, kalau begitu, ingin berpegangan tangan sambil berjalan?”

“Apa?!”

Tanpa sadar, akhirnya aku berpegangan tangan dengan Yorishiro-sama saat kami berjalan.

Entah mengapa, ini membuat jantungku berdetak kencang.

Biarpun aku berpegangan tangan dengan seseorang, orang lain itu adalah seorang gadis sepertiku, terlebih lagi, aku memiliki hati yang tertuju pada Haine-san, namun...

Benar saja, apakah itu karena Yorishiro-sama terlalu cantik?

Bahkan di mata orang yang berjenis kelamin sama, Yorishiro-sama itu cantik secara transenden. Aku berpikir seperti itu bahkan ketika dia biasanya menutupi wajahnya dengan cadar. Ketika dia melepaskan cadar itu, kecantikannya melampaui imajinasiku. Sangat tidak adil.

Jika seseorang menyembunyikan wajahnya secara normal, kau akan membayangkan orang itu sebagai sangat cantik, jadi bukankah rintangan kecantikan seharusnya meningkat ketika orang itu mengungkapkan wajahnya?

“Ufufufu...berjalan berdampingan seperti ini...”

“Ya?”

“Kita terlihat seperti teman, bukan?”

“Y-Y-Ya?!”

Aku hanya mengatakan ‘ya’.

“I-I-I-Itu berlebihan-hhh! Aku seorang pahlawan dan Yorishiro-sama adalah seorang Pendiri! Aku berjanji pada penobatan pahlawan bahwa aku akan mencurahkan pedangku untuk Yorishiro-sama...”

“Ara ara, itu Karen-san yang kaku-desu wa ne. Tapi berjalan dengan tangan dipegang seperti ini, melihat tubuh telanjang masing-masing, dan yang paling penting, mencintai pria yang sama; bukankah ini sudah sampai tidak apa-apa memanggil kita sahabat?”

“I-Itu...!”

Meski dia memberitahuku itu, seperti yang aku pikirkan, seseorang seperti aku yang menjadi teman Yorishiro-sama tidak terpikirkan.

Seorang teman, dengan kata lain, adalah orang yang sederajat.

Tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, aku tidak bisa menganggap Yorishiro-sama setara denganku.
setiakun
Ada Pendiri dan Pahlawan yang berdiri, tapi ada juga yang kukatakan sebelumnya, meski aku mengambil bagian kecantikan, aku masih jauh dari mencapai levelnya.

Sebagai contoh, pada masa perselisihan idol, ketika kami bertarung bersama dengan Celestis, aku kewalahan oleh kesederhanaan dan pesona orang itu.

Bahkan dengan itu, aku tidak ingin kalah sebagai wanita di depan Haine-san, jadi akhirnya aku berkata ‘Aku menang’. Aku hanya bertindak keras di sana.

Dan saat ini, di depan kecantikan Yorishiro-sama, aku bahkan tidak bisa bersikap keras.

Kecantikan sempurna yang akan membuatmu bertanya-tanya apakah dia sebenarnya bukan representasi seorang Dewi. Selain itu, orang ini tidak hanya memiliki kecantikan dan status.

Dia juga sempurna dalam kekuatan.

Bepergian bersama dengannya dalam kesempatan ini, fakta ini menjadi lebih jelas. Orang ini melampauiku –pahlawan– dengan panjang dan batas, dan kemampuannya untuk mengendalikan kekuatan dewata cahaya dengan baik.

Bahkan keterampilan menghancurkan lantai di pertarungan bayangan-san, Yorishiro-sama tidak memiliki alat dewata seperti pedang suci Saint-George, tapi, ia mampu menciptakan kehancuran seperti itu dengan tangan kosong.

Biasanya, berapapun jumlah elemen cahaya yang kaupunya, tanpa alat dewata yang menguatkannya, seseorang tidak bisa tidak bisa mengeluarkan kekuatan dewata yang cukup untuk menghancurkan sesuatu.

Yorishiro-sama membalikkan norma seperti itu.

Dia mungkin memiliki elemen cahaya yang jauh melebihi punyaku; seseorang yang jarang terlahir dengan afinitas tinggi dari elemen cahayanya.

Bahkan dalam ‘Jarum Bimbingan’, pada awalnya, itu seharusnya aku dan Yorishiro-sama yang menuangkan kekuatan dewata bersama-sama, namun, akhirnya Yorishiro-sama melakukannya sendirian di sini.
setiakun
Jika Yorishiro-sama bukan sang Pendiri, dia akan menjadi pahlawan cahaya, tidak diragukan lagi.

Berpikir seperti itu, kepercayaan diriku semakin berkurang.

Bahkan Haine-san, dia pasti lebih menyukainya...

“Maaf, sepertinya aku telah mengubah suasana hatimu jadi masam.”

Tangan Yorishiro-sama terlepas dari jemariku.

Ini buruk. Apakah wajahku menunjukkan perasaanku?

“Tapi jangan khawatir. Haine-san pasti akan memilihmu.”

“Eh?”

“Dahulu kala, aku melakukan dosa. Dosa besar yang tidak bisa kutebus walaupun aku berusaha menebusnya. Dia...masih belum tahu tentang perincian dosaku ini. Tapi dia akan tahu itu pada waktunya. Ketika dia mengetahui hal itu, dia tidak akan memaafkanku.”

Kota bawah tanah ini gelap sehingga aku tidak dapat memastikan ekspresi Yorishiro-sama dengan baik.

Tapi entah kenapa, kupikir Yorishiro-sama mungkin menangis.

“Karena itulah aku tidak bisa bersama Haine-san. Dimanjakan olehnya itu menyenangkan dan itu membuatku bahagia, tapi sejauh itulah aku diizinkan melangkah. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh dari itu. Ketika Haine-san belajar tentang segalanya dan mulai membenciku, aku tidak akan bisa menerimanya.”

Aku tidak bisa memahami sepenuhnya kata-kata Yorishiro-sama.

Aku tidak tahu apa maksudnya tentang ‘dosa besar’, dan sejak awal, aku tidak bisa membayangkan Pendiri Cahaya Yorishiro-sama melakukan dosa, entah itu besar atau kecil.

Tapi dia kemungkinan besar...tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

“Itu sebabnya, Karen-san, aku akan mendukungmu. Walau aku tidak berada di sisinya, bagaimanapun juga, aku akan senang akan kebahagiaannya. Mungkin ini cara kasar untuk mengatakan ini pada Karen-san...”

“!!”

“Eh?!”

Aku memegang tangan Yorishiro-sama dengan erat.

Kekuatannya sangat kuat, aku pun mengejutkan Yorishiro-sama. Tapi, aku tidak bisa menghentikan perasaan ini.

“Yorishiro-sama! Tolong jadilah temanku!!”

“Eeh?!”

“Jujur saja, aku tidak mengerti dengan baik apa yang dikatakan Yorishiro-sama. Yang kumengerti yaitu Yorishiro-sama adalah orang yang baik!”

Jika bukan itu masalahnya, dia tidak akan mengirim kata-kata baik kepadaku berkali-kali, dia tidak akan bermain bersama denganku.

Dimanjakan oleh Haine-san bersama Yorishiro benar-benar menyenangkan.

Jika dengan seseorang yang membohongi dirinya sendiri, aku tidak akan bersenang-senang.

“Itu sebabnya, Yorishiro-sama, tolong jadilah temanku. Ayo bikin Haine-san memanjakan kita dan disusahi kita!”

“Karen-san!”

“Jika Yorishiro-sama telah melakukan kesalahan, aku tidak bisa mengatakan sesuatu yang lancang: ‘Aku memaafkan Yorishiro-sama’. Tapi, setidaknya aku bisa minta maaf denganmu sebagai teman! Tolong beri aku kualifikasi untuk melakukan itu, Yorishiro-sama!”

Dan Haine-san pasti akan menerima apapun itu.

Dia adalah orang yang aku cintai.

Tidak masalah bagi Yorishiro-sama dan aku untuk bahagia!

“Astaga, kau benar-benar...”

Itu sangat gelap, aku tidak bisa melihat ekspresi Yorishiro-sama dengan baik.

Namun , dari tangan yang kupegang, aku bisa mengatakan bahwa kekuatan yang dipegangnya telah menguat.

“...Kau benar-benar pahlawanku-desu wa ne.”
SEBELUM CABUT, KOMENTAR DULU BOS

Share:

World Reformation 76

on  
In  
Dengan begitu, aku –Kourin Karen– akhirnya terpisah dari Haine-san.

Ketika lantai pecah, yang kulihat saat kami jatuh di reruntuhan adalah...bayangan yang menyebut dirinya Dewa Kegelapan dan Haine-san saling dorong ketika mereka berdua pergi.

Orang itu melakukan sesuatu yang sembrono lagi untuk menyelamatkan kami.

Memikirkan itu, aku merasa malu pada ketidakberdayaanku sendiri, dan pada saat yang sama, aku merasakan kebahagiaan pada bagaimana orang yang aku cintai berjuang demi diriku; campuran perasaan ini membuatku bingung.

Masa laluku tidak akan mengerti perasaan semacam ini sama sekali, dan akan jatuh dalam lingkaran setan yang kejam dan berakhir dengan panik. Tapi sekarang, sudah berbeda.

Aku memutuskan untuk menyebut emosi yang tidak dapat dijelaskan ini sebagai ‘cinta’.

Definisi itu mengembalikan hatiku ke ketenangan dan itu membantuku sedikit.

Aku mencintai Haine-san, jadi aku senang ketika Haine-san melindungiku. Aku mencintai Haine-san, jadi akhirnya aku lebih khawatir tentang Haine-san daripada yang lain.

Dengan mengakui bagian perempuanku, aku dapat membuat alasan atas perasaan-perasaan ini yang harus dimarahi sebagai seorang pahlawan.

***

“...Kau baik-baik saja, Karen-san?”

Yorishiro-sama, yang bangun lebih dulu, mengulurkan tangannya padaku.

“Ah iya!”

Aku buru-buru meraih tangan itu.

Tapi, betapa menyedihkannya aku. Seharusnya aku yang melindungi Pendiri-sama sebagai pahlawan.

“Kami akhirnya jatuh ke bawah. Sepertinya bahan-bahannya menjadi jauh lebih rapuh dari yang kuduga.”

“Ya, aku merasa kita jatuh dari ketinggian. Aku terkejut bahwa kita bisa keluar dengan aman dari— Ah.”

Aku segera memperhatikan alasannya.

Bagian belakangku setengah terkubur di pasir. Mungkin sesuatu yang bocor dari padang pasir. Itu menumpuk dan bekerja sebagai bantalan untuk melunakkan dampak kejatuhan kita.

“......Ini...di bawah tanah, kan?”

“Yeah, dan kita sudah datang. Tempat yang kita cari dalam perjalanan ini, Negeri Dunia Bawah Kegelapan.”

“Eh?!”

Aku menarik punggungku dari pasir dan berlari ke tempat Yorishiro-sama berada dan berdiri di sisinya, lalu, mengikuti tatapannya.

Apa yang muncul di pandanganku adalah sisa-sisa sebuah kota yang mencapai jauh ke kejauhan. Di ruang ini di kedalaman bumi, ada banyak bangunan batu. Sebagian hancur atau dimakamkan di pasir; sudah tidak ada kehidupan.

Tapi dalam keadaan saat ini pun, aku masih bisa mengerti bahwa ada jejak kehidupan di masa lalu yang panjang.

Jejak manusia tinggal di sini.

Akan lebih akurat untuk menggambarkannya sebagai reruntuhan. Reruntuhan bersejarah kota bawah tanah yang megah.

Ini adalah tempat yang kami cari, Negeri Dunia Bawah Kegelapan?

“Luar biasa! Bahkan ketika gelap gulita di bawah tanah, aku masih bisa sedikit tahu konturnya.”

“Sepertinya ada lumut yang tumbuh di permukaan bangunan. Sepertinya itu tipe yang mengeluarkan sedikit cahaya. Karen-san, fokus ke telingamu.”

Diberitahu hal ini oleh Yorishiro-sama, aku berkonsentrasi pada telingaku dan...mendengar semacam suara lembab.

Mungkinkah ini...suara air?

“Itu pasti sumber air bawah tanah. Sepertinya beberapa kali ada hujan di padang pasir, hujan turun ke pasir dan menciptakan aliran. Kehidupan muncul di tempat-tempat di mana ada air. Tapi yah, sebagian besarnya tumbuhan.”

Mengatakan ini, Yorishiro-sama berjalan di sekitar seolah-olah memastikan sekitarnya.

“Berkat tanaman yang membersihkan udara, kita bisa bernapas bahkan ketika kita berada di bawah tanah. Bahkan di kota metropolitan yang sudah mati ini, kehidupan masih berjalan dalam bentuk yang berbeda.”

“Tapi...benar saja, cahaya lumut tidak akan membantu dalam penglihatan yang baik. Kita juga tidak bisa memastikan pijakan kita jadi...tunggu, aku akan membuat sedikit cahaya...”

Mengatakan ini, aku akan menuangkan kekuatan dewata cahaya ke pedang suciku tapi...

“!! Hentikan!”

Tiba-tiba aku diteriaki oleh Yorishiro-sama dan menjadi takut.

“Apa kau lupa apa yang terjadi beberapa saat yang lalu?! Bayangan itu menyerang kita yang mencari cahaya, kau tahu? Kalau kau menyinari pedangmu lagi, itu akan berfungsi sebagai mercusuar dan anak itu akan sekali lagi datang ke sini-desu wa.”

“M-Maaf!”

Persis seperti yang dikatakan Yorishiro-sama.

Aku bisa melihat bayangan-san itu berdesakan dengan Haine-san ketika lantai runtuh dan kami jatuh.

Kami tidak menderita cedera, sehingga bayangan-san juga pastilah aman, dan ada kemungkinan besar ia berkeliaran di sekitar kota ini di suatu tempat.

Itu terjadi beberapa saat yang lalu, namun, mengapa aku mengacau sekarang...

“Tapi, apa yang harus kita lakukan sekarang, Yorishiro-sama? Bagusnya bahwa kita tiba di Negeri Dunia Bawah Kegelapan, tapi jalan masuknya sudah runtuh, dan kembali sekarang itu mustahil. Selain itu, jika *monster* tak dikenal seperti itu berkeliaran, penting untuk melindungi diri kita sendiri, tahu?”

“Tidak perlu khawatir. Kami memiliki Haine-san.”

Eh?

“Kami akhirnya terpisah darinya, tapi itu mungkin pilihan terbaik saat ini. Dia memiliki senter eteril bersamanya. Jika dia terus menyalakannya, bayangan itu pasti terpikat padanya dan menargetkan Haine-san. Jika itu satu lawan satu, dia bisa menunjukkan kekuatan aslinya sebanyak yang dia mau.”

Begitu...

Terhadap bayangan yang menyerap cahaya, aku hanya bobot mati.

“Di saat itu, kita harus tetap bersembunyi. Tak usah khawatir soal masalah keluar dari sini juga. Haine-san pasti akan mengurusnya.”

“Kami melemparkan semua itu ke Haine-san...”

Ketika aku mengeluarkan apa yang aku pikirkan dari mulutku, Yorishiro-sama terkikik dengan bercanda.

“Karena kau tahu, memang begitu, kan? Orang itu bisa menyelesaikan apa saja. Selamatkan dunia saat berada dalam bahaya, dan bahkan kekhawatiran para wanita.”

Itu benar.

Hanya waktu yang singkat telah berlalu sejak aku bertemu Haine-san, tapi siapa yang tahu berapa kali dia telah menyelamatkanku.

Dia jauh lebih pahlawan daripada aku.

“Orang itu...jauh lebih dari Dewa...”

Eh?
SEBELUM CABUT, KOMENTAR DULU BOS

Share:

World Reformation 75

on  
In  
“Apa ini?!”

Karen-san yang menyerang terkejut oleh situasi yang tak terduga ini.

Serangan yang dia lepaskan ini bermaksud merusak atau membunuhnya, malah membuatnya lebih hidup. Tentu saja dia akan terkejut.

Benarkah menyebutnya lebih hidup?

Bagaimanapun, bayangan itu melahap kekuatan dewata cahaya Karen-san dan dengan cepat tumbuh lebih besar.

Ini sudah tiga kali lebih besar dari sebelumnya.

Mungkin itu hanya imajinasiku tapi, kelihatannya warna hitam pekat yang menutupi tubuhnya juga semakin tebal.

“Karen-san! Hentikan seranganmu! Itu akan menjadi lebih besar dan lebih besar!”

“Eh?! Baik!”

Dengan semua kejutan itu, Karen-san lupa untuk menghentikan ‘Holy Light Line’, tapi setelah diteriaki olehku, dia berhenti menuangkan kekuatan dewata.

Namun pada saat dia melakukan itu, bayangan itu sudah tumbuh cukup besar untuk memandang rendah kami.

“Itu memakan kekuatan dewata cahaya...adalah bagaimana aku harus melihat pemandangan ini, kan?”

Aku menyimpulkan ini dari kejadian di depanku.

Dengan serangan kekuatan dewata cahaya yang dilepaskan Karen-san sebagai pemicunya, itu tumbuh dengan cara yang luar biasa, jadi kupikir tidak ada alasan lain...

Namun, mungkinkah itu?

“Cahaya...membuat kegelapan lebih besar? Itu biasanya tidak akan pernah terjadi.”

“A-Apa begitu?!”

Mempersiapkan diri untuk serangan bayangan yang akan dilanjutkan, kami berkumpul di satu lokasi.

Karen-san mungkin berpikir bahwa kesalahannya memperburuk situasi, dia sepertinya menyesal. Aku menjawab pertanyaannya itu dengan maksud untuk mengurangi perasaannya juga.

“Elemen Kegelapan...materi gelap adalah zat yang dapat menghapus elemen apapun tanpa syarat. Bumi, air, api, angin; di hadapan elemen Kegelapan, mereka semua tidak berdaya. Tapi, ada pengecualian.”

“Kekuatan dewata cahaya.”

Yorishiro mengambil alih dan berbicara.

“Haine-san terlihat tak terkalahkan dalam sekejap, tapi satu-satunya kelemahan materi gelap adalah kekuatan dewata cahaya. Satu-satunya elemen yang tidak bisa dihapus materi gelap adalah cahaya, dan sebaliknya, kegelapan adalah elemen yang terhapus.”

Yorishiro menatapku, dan aku mengerti apa yang dia katakan. Aku mengeluarkan sejumlah kecil materi gelap.

Ketika Yorishiro mengenai materi gelap ini dengan kekuatan dewata cahayanya sendiri, pusaran gelap itu tersebar dan menghilang seperti gelembung. Tidak ada satu pun tanda perlawanan.

“Waa?!”

Melihat ini, Karen-san benar-benar terkejut.

“Empat elemen dasar memiliki rotasi titik-titik lemah dalam kelompok mereka sendiri. Kegelapan adalah musuh alami mereka semua, dan Kegelapan tidak bisa menang melawan Cahaya. Selain itu, Cahaya sedikit lebih kuat dari keempat elemen dasar yang merupakan keunggulan yang tidak dapat diandalkan.”

“Dengan kata lain, itu menciptakan siklus afinitas yang lebih besar.”

Karena aku belum berjuang melawan cahaya, aku benar-benar lupa tentang hal itu.

Jika itu adalah ‘Holy Light Bullet’ dari Kapten Vesage yang setingkat butir kecil, aku masih bisa mengurusnya, tapi ketika sampai pada tingkat keterampilan tertentu, kegelapan sama sekali tidak bisa mengalahkan cahaya.

Ini adalah alasan terbesar mengapa aku kalah dalam pertempuran para dewa 1.600 tahun yang lalu.

“Tapi itulah alasan mengapa bayangan itu tidak normal.”

Bayangan itu dengan sopan menunggu ketika kami sedang menjelaskan.

Sepertinya ia beradaptasi dengan gigantifikasi mendadak dan mengambil waktu untuk melakukannya.

“Aku...Dewa Kegelapan...Entropy.”

Sementara itu, ia mengulangi hal yang sama.

Apakah ia suka memperkenalkan dirinya sendiri sebanyak itu?

“Kekuatan dewata cahaya seharusnya menjadi racun yang mematikan, namun, itu malah menjadi lebih besar. Ini adalah definisi eksistensi di luar akal sehat! Ah, tapi, jika bayangan itu benar-benar Dewa, akal sehat tidak akan berlaku se—”

“Tidak, itu mustahil.”

Aku adalah Dewa Kegelapan yang asli, namun, akal sehat masih berlaku untukku.

Pertama-tama, orang itu bukan Dewa. Mungkin.

“Bagaimanapun, selama cahaya tidak menyala, Karen-san, silakan mundur.”

Dan kemudian, aku melangkah maju.

“Jika itu elemen yang sama, yang memiliki kekuatan lebih kuat akan menang. Ini adalah aturan alami. Aku penasaran apakah ia akan melihat materi gelapku sebagai makanan yang lezat juga. Mari kita nikmati banyak hal.”

Dark Matter, Set.

Dengan kepalan tangan dengan materi gelap, aku mencoba mengenai bayangan raksasa tapi...

“Dia lari lagi!”

Apakah hal itu tidak punya niat untuk melawanku?

Bahkan ketika telah menjadi lebih besar, ia masih gesit. Sambil menghindari seranganku, ia menghindariku, apalagi tak memerhatikanku, ia bergegas ke depan.

Tujuannya adalah...

“Karen-san! Yorishiro!”

Bajingan itu, seberapa besar tujuannya pada wanita?!

Tidak, bukan itu. Tujuannya adalah kekuatan dewata cahaya yang dilepaskan Karen-san dan Yorishiro.

Sekarang setelah kupikirkan lagi, makhluk itu sudah membidik Karen-san sejak awal. Karen-san, yang telah menerangi tanah hitam pekat dengan pedang sucinya.

Mahkluk itu mungkin mengarahkan pada para pengguna cahaya untuk memakan kekuatan dewata mereka dan menjadikan dirinya lebih besar.

“Lari, kalian berdua!”

Aku buru-buru mencoba mengejarnya, tapi aku tidak bisa tiba tepat waktu.

“Kugh!”

Karen-san juga mengambil sikap dengan pedang sucinya, tapi dia tidak bisa melakukan lebih dari itu.

Jika dia menyerang dengan kekuatan dewata cahayanya, dia sudah tahu bahwa itu hanya akan membuatnya lebih hidup, dan dia tidak memiliki metode lain untuk menyerang.

Biarpun dia melarikan diri dengan Yorishiro, itu tidak akan berjalan seperti yang dia mau.

“...Sudah kuduga, akan lebih baik untuk habis-habisan-desu wa ne.”

Itulah yang dikatakan Yorishiro.

‘Apa yang akan dia lakukan?’, Saat aku memikirkan ini...

“[Holy Light Destruction Formation]”

Lantai di kaki Yorishiro muncul retakan, dan dari retakan itu, cahaya keluar.
setiakun
Saat berikutnya, lantai hancur bersama dengan suara gemuruh dan berubah menjadi potongan-potongan kecil.

“Uwaaa?!!!”

“Kyaaaaa!!!”

Dengan kata lain, pijakan kami telah hilang secara tiba-tiba, dan sementara Karen-san dan aku berteriak, kami tidak punya pilihan selain terus jatuh.

Sepertinya aula ini memiliki tingkat yang lebih rendah, dan di sana, ruang yang dalam menyebar.

Aku merasa kita akan jatuh sebentar.

Aku bisa memanfaatkan pembalikan gravitasi materi gelap untuk mengapung, tapi ada sesuatu yang harus kuprioritaskan.

“Enak saja aku akan membiarkanmu!”

Untuk menahan bayangan yang masih terus membidik Karen-san dan Yorishiro, aku berdesak-desakan dengannya dan memilih untuk jatuh bersama dengannya.

“Aku...Dewa Kegelapan...Entropy.”

“Mengganggu! Hanya itu yang bisa kau katakan?!”

Di sisi lain, kehadiran Karen-san dan Yorishiro semakin membesar.

Baiklah. Itulah tepatnya yang kau rencanakan, Yorishiro?

Di saat kau pergi, aku akan mengalahkan makhluk ini!
SEBELUM CABUT, KOMENTAR DULU BOS

Share: