Unlimited Project Works

13 November, 2018

Denpachi LC2

on  with No comments 
In  

Last Chapter 2 – raincoat

Aku tak bisa membawa diriku pergi dan bertempur di jalanan selama musim hujan. Ketika hujan turun selama pertempuran, ada saatnya ketika arus berbalik dan posisi kami berubah walau kami memiliki keuntungan.

William berpikir sendiri sambil minum sekaleng kopi di tempat istirahat yang tersembunyi di sebuah taman. Hujan lebat mengguyur di atas area istirahat. Tombak yang tajam dan tampak menyakitkan jatuh di depan matanya.

“Pasti bagus untuk orang-orang yang memperlakukan ini seperti medan perang khusus.”

Kata William sambil menghembuskan napas.

“Ada tempat-tempat di mana orang-orang menutup diri untuk melarikan diri dari kenyataan. Aku tidak bisa membuat diriku seperti itu.”

Duduk di belakang William, Tathlum mengeluh.

“Tidak apa-apa, kan? Untuk kehendak mereka sendiri — tidak semuanya kuat. Walau tempat seperti itu ada, tidakkah itu baik-baik saja?”

Tathlum tidak menanggapi perkataan William. Semua orang takut pada ‘kematian’. Bahkan William dan yang lainnya ketakutan. Tapi, karena mereka membentuk kelompok tiga orang yang ramah dan menjadi sedikit lebih kuat, mereka telah mampu bertempur sampai sekarang. Itu tidak mengubah fakta bahwa setiap orang bertempur di medan perang mereka sendiri. Mungkin kebetulan saja bahwa ketiga orang ini bertemu. Tapi, persahabatan yang mereka bertiga bagi telah dimungkinkan mengatasi berbagai kesulitan bersama. Itu adalah sesuatu yang dibanggakan William.

Dullahan kemudian muncul. Sambil memegang payung plastik, dia berjalan ke arah mereka. Setelah hujan deras mendadak mulai turun selama pertempuran mereka sebelumnya, Dullahan telah kehilangan kontes gunting-kertas-batu pasca kemenangan mereka dan pergi untuk membeli tiga payung plastik seharga seratus yen untuk mereka bertiga. Selagi dia kembali, ekspresi Dullahan tampak bermasalah. William bertanya sambil menatap wajah Dullahan

“Ada apa?”

“—Ya. Dalam perjalanan kembali, aku bertemu seseorang yang mengenakan jas hujan, dan mereka berkata padaku [Sebaiknya kau menjauh dari game. Itu demi kebaikanmu sendiri].”

“Itu mungkin cuma omong kosong orang yang mencoba berkhotbah soal keadilan. Seseorang yang tidak punya keberanian untuk bertarung.”

Ucap Tathlum.

“Yah, terserah. Haruskah kita pulang? Di sini dingin.”

Kata William sambil menepuk bahu Dullahan. Setelah membuka payung yang dia terima, dia mulai berjalan di bawah hujan deras bersama dengan Dullahan dan Tathlum. Ketika mereka berjalan pulang, Dullahan mengingat kembali percakapan yang dia lakukan dengan sosok dalam jas hujan itu. Sementara ekspresi Dullahan menyampaikan benaknya yang dalam, Tathlum menaikkan suaranya.

“Jangan bilang kamu merasa merinding? Kita sudah sampai sejauh ini untuk menyelesaikannya. Kamu harus melupakan omong kosong seperti itu.”

Mengatakan itu, Tathlum terus berjalan dengan susah payah melalui hujan lebat.

“…Ya, kamu benar.”

Dullahan mengikuti mereka berdua dalam hujan. Dullahan mengatakan hal yang sama seperti yang dilakukan Tathlum pada sosok dalam jas hujan. Dan—

[Kau sudah gila.]

Dengan nada sedih, itu adalah jawaban yang dia terima.

Ini terjadi seminggu sebelum mereka pergi ke reruntuhan.
Share:

08 November, 2018

Denpachi C1-4

on  with No comments 
In  
Bagian 4

Kirino Shizuka tidak berpikir bahwa ada sesuatu yang lebih gelap atau lebih dingin dari hujan di tengah malam. Dia berdiri di taman yang sepi dan remang-remang. Itu sama seperti biasanya. Itu bukan kejadian langka. Kirino menyapukan jemarinya ke rambut hitam panjangnya yang basah kuyup oleh hujan. Blazer dan rok seragamnya juga basah, dan menempel erat pada anggota tubuhnya yang ramping, menonjolkan garis-garis tubuhnya. Anak-anak muda berpakaian biru telah runtuh di sekelilingnya. Kirino mengambil tas yang jatuh dan payung yang tetap terbuka. Walau berkeliaran begitu larut, itu bukan karena dia pergi keluar untuk menikmati kehidupan malam. Dia telah pergi berburu, itu saja.

Ada beberapa tipe orang yang berpartisipasi dalam [Innovate]. Ada player yang sehat yang mengikuti aturan mereka sendiri dan saling bertarung di lingkungan ‘aman’. Sebaliknya, ada juga yang bertarung tanpa memerhatikan aturan. Para player yang bertarung tanpa pertimbangan untuk orang lain disebut sebagai [Ekstrimis]. Terakhir, ada juga PK — Player Killer. Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya yang suka membunuh orang lain. Ketika mereka menjadi lebih kompeten, mereka juga semakin kuat. Ada banyak Player Killer yang memiliki level tinggi. Jika mereka level rendah, mereka akan dengan mudah dihukum oleh PKK — Player Killer Killer. Mereka adalah PK yang memiliki spesialisasi dalam berurusan dengan PK lain — dengan demikian PKK. Itu adalah tipe player yang bahkan ada di game online.

Di antara berbagai jenis player, Kirino adalah [Ekstrimis]. Walau dia perempuan, dia memilih untuk bermain sendiri meskipun ada banyak kelompok vigilante dan orang-orang seperti tentara bayaran yang mencoba untuk menghubunginya. Ketika PK merajalela, hal-hal seperti kelompok vigilante dibentuk untuk entah bagaimana menghentikan tindakan semacam itu. Kelompok-kelompok ini melakukan hal-hal mulai dari melindungi pemula hingga menjadi PKK. Dia telah disarankan oleh para vigilante bahwa berbahaya bagi wanita untuk bermain sendiri, dan gaya bermainnya terlalu radikal. Dari sudut pandang Kirino, kelompok PKK dan vigilante yang menyerang para player tanpa ampun yang tampak sedikit meragukan bahkan lebih buruk. Tak ada yang lebih menyebalkan baginya selain mereka yang memegang kekuasaan mereka dengan dalih ‘keadilan’. Bahkan Kirino tidak suka kalau dia telah menjadi salah satu dari [Ekstrimis]. Setelah mencapai level tertentu, ada batasan seberapa konservatif seseorang bisa bertarung. Kecuali seorang lawan juga dari level yang tinggi, poin pengalaman yang diperoleh akan hampir tidak berharga. Itulah mengapa dia menabrak jalanan untuk bertarung melawan [Ekstremis] ini. Dengan itu, kesempatannya untuk menghadapi PK juga meningkat.

Di antara PK dan beberapa player yang berdiri di puncak struktur seperti piramida yang mewakili semua player, ada sesuatu yang mirip dengan hubungan ‘seleksi alam’. Karena itu, PK memang tidak baik. Para player yang telah membunuh sekali saja dan memperoleh poin pengalaman akan melihat poin pengalaman mereka secara bertahap jatuh kecuali mereka bertarung melawan player lain dalam rentang waktu tertentu. Banyak orang menyebut PK yang mati-matian mencari poin pengalaman adalah [Vampir]. Kirino tidak mencurahkan cukup banyak game untuk membunuh orang. Meski begitu, Kirino tidak memiliki waktu luang untuk mengumpulkan sejumlah kecil poin pengalaman secara perlahan. Semakin cepat dia menyelesaikannya, semakin cepat dia akan menerima hadiah. Karena itu, dia mengambil jalan memutar dalam perjalanan pulang. Enak baginya untuk berkeliaran di tengah malam mengenakan seragam. Pria dengan motif tersembunyi datang di depan Kirino, meskipun dia benar-benar memburu mereka. Namun, metode ini pun mencapai batasnya. [Witch] — Kirino dipanggil begitu selama dia mulai tumbuh terlalu kuat. Levelnya hampir mendekati yang diperlukan untuk menyelesaikan game. Walau beberapa orang bodoh kadang-kadang mencoba menyerangnya, level mereka selalu terlalu rendah, dan poin pengalaman yang didapat dari mereka hanyalah seperti tetesan di lautan.

Apa yang harus kulakukan — sambil memikirkan beberapa cara untuk membuat kemajuan, Kirino mulai berjalan di sepanjang jalan yang gelap dengan payung di tangannya. Setelah berjalan beberapa saat, dia memperhatikan kehadiran di depan. Sejak dia mulai bermain game, dia menjadi sensitif terhadap kehadiran orang lain. Ada seseorang yang berdiri di bawah lampu jalan mengenakan jas hujan kuning. Kedua tubuh bagian atas dan bawah mereka ditutupi warna kuning. Karena tudung mereka, wajah mereka tidak terlihat jelas. Tapi, dia merasa seolah-olah mata mereka diarahkan padanya. Karena dia baru saja mengalahkan sekelompok anak-anak muda berpakaian biru, Kirino memikirkan bagaimana penampilan kuning dari orang itu tampak ironis. Walau tampak sedikit menyeramkan, mereka sepertinya tidak memiliki niat untuk bertarung karena tidak ada respon dari ponselnya. Kirino menghela napas dan melanjutkan perjalanannya. Saat ia melewati sosok mengenakan jas hujan—

[Pergi dari game ini.]

Dengan suara aneh, dia dengan jelas diberitahu begitu dari samping. Sepertinya beberapa orang bahkan menggunakan pengubah suara. Kirino berdiri diam di tempat saat dia bertanya

“Apa? Apa kau seorang kawan dari orang-orang biru itu? Atau kau hanya seorang mesum?”

Dia mencoba memprovokasi mereka, tapi tidak ada reaksi. Mereka tidak berbalik juga.

[Game ini yang terburuk. Akan lebih bijaksana untuk menjauhinya. Ini bukan saran belaka. Itu peringatan. Yang selanjutnya adalah—]

“Kalian akan membunuhku?”

Kirino tersenyum sambil menyela. Orang dalam jas hujan hanya berjalan pergi, dan menghilang ke kegelapan malam. Di bawah hujan yang dingin, Kirino menghembuskan napas.

Game ini yang terburuk? Aku sudah tahu itu. Tapi, ada hal-hal yang harus kulakukan. Ada sesuatu yang mutlak harus kuselesaikan. Tentu, sebelum aku menjadi gila. Ini adalah game rusak yang membuat orang menjadi gila.
Share:

Denpachi C1-3

on  with No comments 
In  
Bagian 3

[Selalu ada tempat yang bagus di film mana pun.]

Mitsuya teringat kata-kata seorang kritikus film terkenal yang telah meninggal.

Apa ada yang bagus soal game terkutuk itu?

Kapan pun Mitsuya membeli game yang tidak sesuai dengan keinginannya, game yang dia beli dengan harga tinggi bisa dijual ke toko bekas.

Apa yang mungkin lebih membuat frustrasi dibanding game bodoh yang tak bisa kujual ke toko?

Mitsuya bertanya pada dirinya sendiri. Saat ini dia berada di tempat parkir bawah tanah yang cukup besar untuk menampung sebanyak seratus mobil. Ini adalah ruang bawah tanah sebuah gedung kantor besar di mana beberapa mobil diparkir di sana-sini. Dan, ada kerumunan orang di pusat parkir mobil. Tempat pertarungan—.

Dojima telah menjelaskan kepadanya bahwa ada seorang player yang memiliki gedung dan membuatnya tersedia untuk tujuan ini hanya pada tengah malam. Ketika dia menerima pesan untuk ‘datang ke sini di malam hari’ dengan instruksi yang tertulis di peta, Mitsuya diam-diam meninggalkan rumahnya dan berjalan ke sini. walau dia masih takut dengan game-nya, ada seseorang seperti penjaga gerbang di pintu masuk yang menjelaskan berbagai hal kepadanya dengan sopan. Dia bahkan lebih terkejut ketika dia turun ke lantai bawah tanah. Hal pertama yang menarik perhatian Mitsuya yaitu kecerahan pencahayaan yang luar biasa yang menerangi seluruh tempat parkir bawah tanah. Player tersebar di seluruh lantai ruang bawah tanah, hampir seolah-olah mereka tengah mengadakan kongregasi di kota game online atau di bar. Suara tawa bersemangat bergema di mana-mana. Selagi Mitsuya melihat sekeliling, dia menemukan banyak anggota party mengobrol di antara mereka, dan berbagai orang lain yang duduk dan makan. Itu adalah tempat di mana dia tidak bisa merasakan bahkan rasa bengis atau haus darah. Mitsuya berpikir serius pada dirinya sendiri ‘Apa aku di tempat yang salah?’ karena suasana umum tempat itu terlalu jauh dari apa yang dibayangkannya.

Bukankah ini game kematian? Bukankah ini berbahaya? Lagian, jika ponsel dihancurkan—

“Hei, kamu yang disana.”

Suara tiba-tiba memanggilnya dari belakang. Saat dia menengok ke belakang dengan terkejut, dia menemukan seorang pria dan seorang wanita yang tampak tersenyum. Mereka terlihat sekitar dua atau tiga tahun lebih tua dari Mitsuya.

“Pertama kali kamu di sini?”

“I-Iya...”

Mitsuya menjawab hati-hati ketika dia mulai merasa gugup. Orang-orang yang menghadapnya sepertinya memerhatikan kewaspadaannya yang nyata.

“Ah, santai. Bukannya kita akan mencabik-cabikmu dan memakanmu atau apalah.”

Ucap pria itu dengan senyum masam.

“M-Maaf.”

Mitsuya menunduk dan meminta maaf sembari tergagap.

“Umm, pekerjaanmu apa?”

“S-Sword Knight...”

“Sword Knight ya. Aku juga. Kamu level berapa?”

“Aku belum... ini pertama kalinya aku...”

“Yah, itu berarti hari ini akan menjadi pertandingan debutmu. Bagaimana dengan ini? Ingin ber-party dengan kami? Kami kekurangan satu orang jadi kami sedikit kesusahan. Namaku Beat, omong-omong.”

“Aku Kan.”

Setelah sampai sejauh ini, Mitsuya berhenti.

Aku mengerti, nama ketika aku mendaftar. Aku tidak harus memberikan nama asliku.

“Namaku Dark.”

“Ooh, itu nama yang cukup keren.”

Setelah diberitahu itu, dia merasa sedikit malu. Rasanya lumayan karena ini adalah kali pertama seseorang berkomentar soal nama dalam game-nya.

“Jadi, Dark-kun, kamu akan—”

“Tahan di sana.”

Suara yang familier terdengar dari sisinya. Itu Dojima, mengenakan camo pants dan tank top. Ada juga seorang gadis asing yang berdiri sedikit di belakangnya. Dia memiliki tubuh yang agak mungil dan ramping, rambut hitam panjang, kemeja hitam, rok hitam, dan kaus kaki hitam di atas lutut. Dia berpakaian serba hitam.

“Yo Beat.”

“Sup, Resshin.”

Sepertinya Dojima dan Beat sudah saling kenal.

(Resshin? Benar, itulah nama Dojima-san di dalam game.)

“Maaf. Aku sudah memesannya.”

“Begitu. Yah, aku lega kamu sudah ber-party dengan Resshin. Aku sudah merasa khawatir sebelumnya karena sangat berbahaya ketika pemula berada di garis depan. Belakangan ini, ada banyak orang pengecut yang mengeroyok para pemula.”

“Maksudmu orang-orang dari [Ksatria Biru Meja Bundar] atau sesuatu? Bahkan aku telah diserang oleh mereka belakangan ini.”

“Itu sebabnya aku ingin setidaknya bisa memberi pemula dan mereka yang tanpa kepercayaan kemampuan untuk melarikan diri.”

Mitsuya lalu menyaksikan Dojima tertawa terbahak-bahak pada Beat.

“Apa ini? Apa kamu mencoba untuk mengajari murid lagi? Duh, kalau kamu baik terus, akhirnya kamu akan ditusuk dari belakang, tahu?”

Ucap Dojima sambil menunjukkan senyum nakal.

“Aku ketahuan. Tapi Resshin, tentu saja kamu bisa mengerti apa yang coba aku katakan, kan?”

Beat lalu terus mengobrol sebentar dengan Resshin, atau Dojima.

“Baiklah, Dark-kun. Kalau kamu terganggu oleh apa pun, jangan ragu untuk berbicara denganku kapan saja.”

Dia meninggalkan kata-kata itu ketika dia dan temannya pergi setelah itu.

 

“—Yah, seluruh party kita ada di sini.”

Dojima, Mitsuya, dan orang lain — Dojima berganti tatapannya antara Mitsuya dan gadis itu ketika dia mengatakannya. Mitsuya juga melirik gadis dengan rambut hitam panjang. Karena tubuhnya yang mungil, dia tampak sedikit lebih muda darinya. Wajahnya kecil, dan matanya juga terlihat agak mengantuk. Warna hitam yang menutupi tubuhnya memancarkan atmosfer yang agak tak bisa didekati. Tapi, Mitsuya berpikir sendiri ‘Jujur saja, dia benar-benar kelihatan imut’. Ketika matanya bertemu dengan gadis itu, dia menunduk dan membungkuk secara sopan. Mitsuya membalas gerakan itu.

“Ini Kyomoto Momiji. Ini mungkin sedikit membingungkan, tapi dalam game, dia menggunakan nama [Kaede]. Kita akan berada di party yang sama, jadi aku akan memanggilmu Momiji. Apa tak masalah?”

Gadis yang bernama Momiji mengangguk menanggapi kata-kata Dojima. Setelah itu, Dojima memperkenalkan Mitsuya ke Momiji. Dojima, sang pemimpin, mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke alamat email dari server host [Innovate] — pada saat itulah Mitsuya mengetahui tentang keberadaan alamat — badan email tersebut memiliki semacam pesan untuk efek Mitsuya bergabung dengan party. Setelah beberapa saat, mereka bertiga menerima email. Alamat pengirimnya hilang, tapi pesan yang mengatakan [Dipahami. Player Dark, Resshin dan Kaede telah membentuk sebuah party] telah diterima.

“Baik. Sekarang Kanzaki-kun ada di party kita.”

Ujar Dojima sambil tersenyum. Tanpa ragu, Mitsuya menjawab

“Apa tak masalah? Benarkah?”

Mitsuya berganti tatapannya antara Dojima dan Momiji. Terlepas dari pendapat Dojima, Mitsuya merasa ragu apakah Momiji baik-baik saja dengan keputusan itu karena mereka baru saja bertemu beberapa saat yang lalu. Dojima dan Momiji saling berpandangan, lalu mereka berdua berbalik menghadap Mitsuya.

“Ya, kami menyambutmu. Kanzaki-kun.”

Sambil Dojima mengatakan itu dengan senyum, Momiji juga mengangguk sebentar dalam keheningan. Itu adalah serangkaian kejutan untuk Mitsuya.

 

Api menyembur keluar dari tangan orang di depan matanya. Api itu dibubarkan oleh lawan yang menggunakan tongkat kayu di tangan mereka. Permukaan tanah tempat parkir rusak oleh tinju seseorang. Setelah pertempuran, lokasi yang rusak segera diperbaiki oleh anggota staf yang mana seorang Mage, dan sepertinya seolah-olah kerusakan tidak pernah terjadi. Itu adalah kenyataan yang terasa lebih seperti game. Mitsuya berdiri di antara kerumunan. Itu seperti galeri di mana semua orang membentuk lingkaran di sekitar mereka yang bertarung di tengah. Medan perang di tengah kerumunan ditandai dengan cat putih yang menggambar sebuah persegi panjang kira-kira setengah ukuran lapangan basket gimnasium sekolah. Di sana, pertarungan satu-lawan-satu yang melibatkan kemampuan supranatural diadakan. Tidak seperti di siang hari, tampaknya party saling bertarung di sini. walau Mitsuya mulanya khawatir bahwa serangan nyasar akan menghantam galeri ketika mereka menonton, tampaknya ada sesuatu seperti dinding tak terlihat yang mengelilinginya yang telah didirikan seseorang sehingga semua sihir api yang menyentuhnya lenyap begitu saja. Dojima berkata

“Tidak apa-apa kalau kamu hanya menganggapnya sebagai semacam penghalang.”

Dojima menjelaskan berapa banyak player yang datang dengan prinsip dan aturan mereka sendiri untuk dipatuhi sehingga mereka dapat memainkan game dengan damai dan aman. Kalau tidak, mustahil memainkan game ini di mana ada kemungkinan kematian. Itu karena ‘Tidak ada yang mau membunuh orang lain’. Para player yang menyerang Mitsuya di jalanan hanyalah ekstrimis radikal. Lawan saling berjabat tangan sebelum bertarung dan juga berbagi percakapan sesudahnya. Namun, Dojima juga memaparkan tentang bagaimana sebenarnya semua orang takut di dalam hati mereka, dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditolong. Ada banyak orang yang tersenyum, tapi itu hanya kepalsuan mereka dalam [Game]. Sebenarnya, mereka benar-benar ingin melarikan diri secepat mungkin, dan putus asa untuk melakukannya. Di balik senyuman itu, pasti mereka sama sepertiku — pikir Mitsuya.

“Yah, hampir giliran Mitsuya-kun.”

Ucap Dojima sambil memberi tepukan pada Mitsuya.

“Eh, aku...?”

Mitsuya benar-benar tercengang. Dia tidak menduga akan bertarung begitu tiba-tiba. Dia percaya bahwa dia di sini hanya untuk mengamati saja. Tetapi, Dojima sepertinya telah mengajukan permohonan untuk bertarung.

“Kalau kamu tidak menaikkan level dengan cepat, kamu mungkin akan diserang lagi oleh mereka yang memangsa para pemula.”

Ketika Dojima memberitahunya hal tersebut, Mitsuya ingat apa yang terjadi ketika tim yang berpakaian biru telah menyerangnya. Dia takut saat itu. Benar-benar takut terserang. Dia tidak mengerti apa-apa, dan merasa putus asa bahwa dia tidak dapat melakukan apa-apa.

“Jangan khawatir. Lawanmu sama denganmu, jadi itu juga akan menjadi pertarung pertama mereka hari ini. Ada kondisi yang sama.”

Sama—. Dia bukan satu-satunya yang didorong ke dunia yang tidak logis ini. Tentu, dia bukan satu-satunya yang terlibat—. Ada orang lain yang pernah mengalami situasi serupa. Ada orang lain selain dia yang datang ke sini setelah memahami inti dari situasi untuk mengatasinya dan bergerak maju.

“…Aku mengerti. Aku akan mencoba.”

Dojima tersenyum ketika mendengar kata-kata Mitsuya.

“Sudahkah kamu membaca buku peraturan? Apakah kamu ingat semuanya?”

Mitsuya mengangguk menanggapi pertanyaan Dojima.

“Baiklah, lantas kamu seharusnya tidak memiliki masalah bermain [Denpachi].”

“...Den... pachi?”

Mitsuya mengerutkan alisnya ketika mendengar kata yang tidak familier itu.

“Yeah, banyak orang menyebut pertarungan di game ini dengan nama tersebut. Kamu ‘menembak dengan ponselmu’, jadi itulah mengapa itu [Denpachi][9]. Anak-anak muda zama sekarang memiliki kebiasaan memperbaiki hal-hal ini menjadi kanji bukan? Itulah mengapa itu disebut [Denpachi] menggunakan karakter ‘listrik’ dari telepon dan ‘lebah’ seperti pada serangga. Nah, kanji untuk ‘pachi’ sebenarnya tampak berbeda dari orang ke orang.”

“Denpachi ya.”

Mitsuya menatap ponsel di tangannya. Mungkin mustahil bagi pembuat ponsel untuk membayangkan bahwa orang akan dipaksa berkelahi dan mati dengan perangkat seperti itu.

“Untuk sekarang, dengarkan saja apa yang harus aku katakan sebagai seniormu. Ketika kamu tidak bersama anggota party lain, aku ingin kamu menghindari sesuatu yang berbahaya dan bertarung di tempat lain selain tempat pemula seperti ini.”

Mitsuya menundukkan wajahnya sebagai tanggapan atas nasihat jujur ​​Dojima. Itu karena Dojima menyadari kenyataan bahwa Mitsuya mengganti ponselnya. Dojima menyatakan bahwa mustahil untuk melarikan diri dari game dengan membuang ponsel saja, dan hanya bisa dengan menyelesaikannya. Seperti Mitsuya, banyak player lain yang mencoba melarikan diri darinya menggunakan metode serupa, tapi semua upaya itu sia-sia. Pada satu saat, seorang kenalan Dojima bahkan mengganti ke model ponsel yang tidak memiliki fungsi email. Namun, muncul ponsel dengan fungsionalitas email yang diletakkan di atas meja kamar mereka pada hari berikutnya. Beberapa orang bahkan mencoba untuk merusak ponsel mereka saat mereka tidak bermain game, tapi ponsel indah nan bersih dan tidak tergores muncul di tangan mereka beberapa jam kemudian. Di luar game, apa pun sebenarnya bisa dilakukan ke ponsel. Itu bisa rusak, dan itu bisa dibuang. Tapi pada akhirnya, ponsel akan selalu kembali ke player seolah-olah tidak ada yang terjadi padanya.

“Karena tidak ada cara untuk melarikan diri, kamu harus lebih memerhatikan partnermu yang akan bersamamu ketika pertarungan bisa terjadi kapan saja, daripada mencoba menjauhkannya dari rasa takut.”

Dojima menatap Mitsuya dengan ekspresi tegas di matanya saat dia mengatakannya.

“Ponselnya tidaklah buruk. Game-nyalah yang buruk. Jika kamu ingin bertahan hidup, kamu harus percaya pada ponselmu lebih dari apa pun dan siapa pun. Ponselmu adalah satu-satunya sekutu yang akan kamu miliki dalam game ini.”

Apa yang ingin Dojima sampaikan kepada Mitsuya yaitu lebih baik menghadapi objek ketakutannya secara langsung — telepon genggamnya.

 

“Pertarungan selanjutnya akan dimulai! Level 1 Sword Knight [Dark] dan Level 1 Mage [Finn]. Kedua player, silakan masuk ke lapangan!”

Anggota staf yang berdiri di tengah lapangan mengumumkan. [Pelindung] yang mengurung lapangan telah menghilang sehingga para player bisa masuk.

“Ayo, semoga berhasil!”

Ketika Dojima mendorongnya dari belakang, Mitsuya memasuki lapangan.

“Lakukan yang terbaik, pemula!”

“Jangan merasa gugup—!”

Berbagai teriakan datang dari kerumunan. Ukuran galeri telah meningkat. Sepertinya pertarungan pemula menarik banyak perhatian. Itu adalah nilai tambah untuk dapat melihat kompetensi player baru yang akan bangkit dalam game dari sini. Jika seseorang tampak berbakat, maka akan mungkin untuk menghindari kontak atau pertarungan dengan mereka. Mereka yang tanpa bakat bisa meningkat dengan mendapatkan poin pengalaman melalui pertarungan. Dengan kata lain, ini adalah di mana nilai Mitsuya dalam game akan diputuskan sampai batas tertentu. Lawan Mitsuya memasuki lapangan. Pria itu kira-kira seusia dengannya. Dia tampak gugup dan takut. Memang, dia bukan satu-satunya yang merasa takut. Mitsuya menelusuri proses pertarungan di benaknya.

Ketika menekan tombol panggil di ponsel tiga kali ke arah lawan, telepon lawan menjawab. Pertarungan dimulai ketika lawan menempatkan ponsel mereka ke mode panggilan secara bersamaan. Dengan memasuki mode panggilan, kedua pihak dapat menggunakan kemampuan dalam game mereka. Jika ada perbedaan level antara dua player, player dengan level yang lebih rendah dapat memilih untuk menolak, tapi player dengan level yang lebih tinggi tidak dapat menolak pertarungan. Karena pengaturan aslinya yakni [Menanggapi semua pertarungan], semua player di sekitarnya menjadi sadar akan kehadiran player terlepas dari perbedaan levelnya. Pemula yang baru memulai game segera ditempatkan dalam situasi berbahaya, dan itu juga mengapa Mitsuya diserang dua kali. Secara umum, player memilih pengaturan untuk [Melawan player dengan level yang sama].

“Fight!”

Anggota staf laki-laki keluar dari batas lapangan setelah mengumumkan dimulainya pertandingan. Mitsuya dan lawannya — Finn juga mengeluarkan ponselnya. Tak satu pun dari mereka merasa mudah menekan tombol panggil tiga kali. Tidak, keduanya ragu-ragu dan tidak terselesaikan untuk menindaklanjuti aksi tersebut. Mitsuya pun memutuskan untuk menekan tombol panggilan setelah lawannya memutuskan. Ketika ponsel Mitsuya bergetar, ia berhenti sejenak, tapi dia pun menekan tombol untuk masuk ke mode panggilan. Pertarungan dimulai.

Ukuran kehidupan seorang player ditentukan oleh ‘tingkat baterai yang ditampilkan di telepon’. Tingkat baterai yang dikonsumsi selama pertarungan dan tingkat baterai telepon sebenarnya tidak sama. Bahkan jika tingkat baterai normal dari sebuah ponsel akan habis, itu tidak akan menjadi masalah selama pertarungan. Kebalikan dari itu juga berlaku. Daya baterai yang dikonsumsi selama pertarungan selalu terbatas pada pengukur baterai untuk game. Pengukur akan berkurang saat menerima kerusakan juga, dan yang pertama menjadi nol dianggap kalah. Pemenang nanti memperoleh poin pengalaman untuk jumlah menit saat mereka aktif dalam pertarungna. Fungsi telepon seluler utama yang digunakan untuk game adalah antarmuka email yang telah dimodifikasi untuk tujuan game. Baik penerima maupun bidang subjek tidak ada, dan masukan untuk badan email mencakup seluruh area tampilan telepon. Kemampuan digunakan dengan mengetik kalimat ke dalam bidang entri email. Sebagai contoh, jika seorang Mage masuk dalam ‘Menembak api ke arah lawan’ — itu akan memungkinkan bagi mereka untuk melemparkan api ke lawan mereka. Kalimat terbaru (kemampuan) yang ditampilkan di layar selalu diberikan prioritas, dan kalimat (kemampuan) sebelum kehilangan efek. Pengukur baterai ponsel selalu dikonsumsi ketika kemampuan digunakan. Dengan kata lain, ukuran kehidupan dibagi antara aktivasi kemampuan dan kerusakan. Pengukur kehidupan di Denpachi pada dasarnya adalah penjumlahan ukuran HP dan MP dalam RPG.

Baik Mitsuya dan Finn meluncurkan fungsi email di ponsel mereka pada saat yang bersamaan dan mulai mengetikkan kalimat untuk menyerang. Keduanya mengetik karakter ketika mereka mengalihkan pandangan mereka antara lawan dan layar mereka. Itu adalah gagasan dasar bahwa mereka dapat memasukkan input tanpa menatap layar. Lagi pula, itu adalah kesalahan luar biasa untuk mengalihkan pandangan dari lawan mereka. Berdasarkan berapa lama player menghabiskan melihat layar mereka, itu mungkin untuk mengetahui seberapa familier mereka dengan game. Dari perspektif siapa pun, sudah jelas bahwa baik Mitsuya dan Finn adalah pemula. Tangan Finn berhenti, mungkin karena dia sudah selesai mengetik. Lawan Mitsuya adalah Mage, yang berarti dia mampu memanipulasi api dan air secara bebas seperti dalam video game. Finn mengarahkan tangan kanannya ke arah Mitsuya. Api dihasilkan di telapak tangannya, dan itu terbentuk menjadi bentuk bola sebelum ditembakkan. Namun, bola api itu tidak tampak bergerak sangat cepat, dan sepertinya agak bisa dihindari. Mitsuya menarik tubuhnya kembali untuk menghindari bola api, dan menarik ikat pinggang dari pinggangnya pada saat bersamaan. Api menghilang saat menabrak pembatas di belakangnya. Ikat pinggang yang dia lepaskan berdiri tegak bagai pedang. Mitsuya telah memasukkan emailnya sebuah kalimat yang berbunyi ‘Gunakan ikat pinggangku sebagai pedang melawan lawanku’.

Itu adalah kemampuan Sword Knight — mereka bisa mengeraskan substansi di tangan mereka dan mengubahnya menjadi senjata atau armor. Ketika levelnya naik, efek dari kemampuan itu juga ditingkatkan. Namun, pengukur baterai akan terus mengalir selama kemampuan itu tetap aktif. Objek yang terkena dampak juga kehilangan efeknya begitu meninggalkan tangan. Ada berbagai alasan mengapa dia memilih untuk menggunakan ikat pinggangnya — jika benda yang sangat berbahaya seperti tongkat atau pedang kayu dipegang di sekitar kota, barangkali polisi akan mengejarnya karena itu. Itu adalah praktik standar untuk Sword Knight menggunakan benda sehari-hari biasa. Dojima telah menyuruhnya untuk ‘membuat senjata dari apa yang kamu kenakan’. Karena ikat pinggang adalah hal yang biasa, itu tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.

Selagi Mitsuya meletakkan ponselnya, dia mencengkeram ikat pinggangnya yang mengeras dengan kedua tangannya. Mitsuya memiliki pengalaman nol di Kendo, dan karena itu dia tidak memiliki pengetahuan tentang cara menilai jarak dan waktu. Lawannya benar-benar memiliki keuntungan karena bisa menggunakan proyektil. Finn menembakkan api lagi. Dengan memerhatikan arah tangannya, mudah untuk menghindarinya. Tapi, itu tidak cukup untuk menyelesaikan banyak hal. Bahkan, ia berada pada kerugian besar sebagai Sword Knight karena baterai berkurang terus.

(Kalau aku tidak melakukan ini, aku akan kalah)

Ketegangan menguasai Mitsuya. Itu berbeda dari video game yang selalu dia mainkan. Terlalu berbeda. Alih-alih berjuang melawan alter ego-nya, dia berjuang melawan dirinya sendiri. Itu seperti perbedaan antara perjudian pada mesin game di rumah, dan sebenarnya bertaruh uang di kasino. Apalagi, hidupnya sendiri sedang dipertaruhkan ….

“Aaaaah—!”

Mitsuya menguatkan tekadnya saat dia berteriak dan mulai menyerang ke depan. Terkejut, Finn bereaksi dengan memegang tangannya ke arah Mitsuya.


Sebelah sini!

Mitsuya tiba-tiba berubah arah dan bergerak secara diagonal. Karena terkejut, Finn mengoreksi arah tangannya. Selagi lawannya membuka telapak tangannya dan mencoba menyerang lagi, Mitsuya mengubah arah tiga kali sambil mendekat ke lawannya. Mitsuya terus berlari dengan cara zig-zag sambil mendekati Finn. Finn berada di bawah kekuasaan gerakan Mituya dan tak bisa berbuat apa-apa selain memutar tangan ke kiri dan ke kanan. Lawannya juga seorang pemula kalau mengenai seni bela diri dan tidak bisa menilai waktu atau jarak setiap gerakan.

(Aku bisa melakukan ini!)

Ketika pikiran itu terlintas dalam benaknya, Finn mulai membombardir area itu dengan api tanpa memerhatikan keakuratannya. Beberapa dari tembakan itu menuju ke arah yang tak terduga, walau salah satunya membelok ke arah tempat Mitsuya pindah. Mitsuya menahan serangan kebetulan itu dengan menggunakan ikat pinggangnya sebagai tameng. Tetapi meskipun demikian, akibatnya panas menyengat Mitsuya.

Bahkan hanya merasakannya terasa sangat panas. Serangan langsung akan sangat buruk.

Sementara pikiran seperti itu mengalir melalui benak Mitsuya, Finn mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu.

Dia mencoba mengubah metode serangannya, tapi aku akan meraihnya sebelum itu!

Mitsuya melompat ke depan dengan penuh semangat — tetapi kakinya tiba-tiba terasa berat dan dia tidak bisa bergerak maju. Dia tidak bisa bergerak. Dia tidak bisa maju selangkah pun. Ketika dia melihat ke arah kakinya karena perubahan mendadak, dia menyadari kedua kakinya tertutup es dan menempel ke permukaan tanah. Pada saat yang sama, sensasi dingin menular ke kulitnya.

Sihir es—. Aku mengerti!

Dia mencoba menerjang es dengan ikat pinggangnya, tapi itu terlalu padat. Tampaknya es jauh lebih keras daripada ikat pinggangnya. Finn mulai mengetik di ponselnya lagi. Serangan berikutnya akan berakibat fatal. Lawannya akan menembak ke arah tempat dia tidak bisa bergerak menjauh. Itu adalah pilihan yang bijaksana dari seorang Mage.

Mengalahkan…? Aku mengerti, aku akan kalah…. Aku tidak ingin mati di sini, tapi tidak apa-apa. Aku bisa melakukan semuanya. Itu hanya game. Aku mencoba yang terbaik. Aku melakukannya dengan baik. Aku seorang pemula bukan? Aku baik-baik saja. Jika aku perlahan maju—

“A-aku akan menyelesaikannya—!”

Itu suara Finn. Mitsuya merasa lega ketika air mata mengalir keluar dari mata Finn. Matanya penuh kehidupan — tidak, matanya mata seseorang yang bergantung pada kehidupan, dan masih berharap untuk hidup. Api yang kuat tercurah di tangannya.

Ini game berakhir ketika ponselku rusak. Dengan kata lain, ‘kematian’—.

Ketika kata ‘kematian’ menyelinap di benaknya, perasaan dingin dan membingungkan menyelimuti seluruh tubuh Mitsuya. Dia bukan satu-satunya yang dilanda rasa takut itu. Bahkan Finn sama dengannya.

“B-Bahkan aku... ingin menang—!”

Mitsuya terus-menerus menerjang es di sekitar kakinya berulang kali dengan ikat pinggangnya, dan merusaknya tepat sebelum api mampu mendaratkan serangan langsung. Dia merunduk ke sisi memungkinkan api terbang di atasnya, lalu melemparkan sepotong es retak pada Finn. Potongan-potongan es membentur wajah Finn, dan dia menjatuhkan ponselnya karena itu. Telepon itu meluncur di atas permukaan tanah dan menjauh dari Finn.

Sekarang!

Mitsuya mulai berlari menuju ponsel Finn. Walau Finn juga mulai bergerak, Mitsuya mengambil beberapa potongan es dan melemparkannya ke tangan Finn kali ini. Begitu serpihan-serpihan itu mengenai punggung tangan Finn, dia berhenti bergerak sesaat. Itu memutuskan pertandingan. Keduanya meluncur ke arah ponsel, tetapi Mitsuya memegang telepon Finn terlebih dahulu dan berguling di permukaan jalan untuk melarikan diri. Itu juga bisa untuk menang dengan mencuri ponsel lawan dan membatalkan mode panggilan (mode pertempuran). Itu juga bisa bagi seseorang untuk kalah dengan membatalkan mode panggilan di telepon mereka sendiri…. Mitsuya menekan tombol power di ponsel Finn. Itu mengakhiri mode panggilan, dan menyebabkan pertarungan selesai. Di depan Finn yang jatuh, Mitsuya mengangkat telepon genggamnya yang membuat ‘suara’ singkat untuk menunjukkan bahwa panggilan itu telah diputuskan.

“...Ini kemenanganku.”

Kata Mitsuya sambil mengangkat suaranya. Finn menundukkan kepalanya dengan ekspresi kesal. Sebuah peringatan terdengar di telepon Mitsuya dengan email yang mengatakan [You Win!]. Meskipun alamat pengirimnya hilang, jelas bahwa alamat itu dikirim oleh [Innovate].

“Player [Dark] menang!”

Setelah pengumuman itu, sejumlah sorak-sorai muncul dari area sekitarnya. Itu adalah pertarungan pertama Kanzaki Mitsuya — [Dark], dan kemenangan pertama di [Denpachi].
Share:

31 Oktober, 2018

Denpachi C1-2

on  with No comments 
In  
Bagian 2

Dia memiliki liburan empat hari. Mengenakan kemeja putih dan celana jeans, Mitsuya berada di bagian buku di sebuah toserba.

[Elemen tersembunyi setelah diselesai! Perangkap dungeon yang tersembunyi!]

Mitsuya yang tidak tertarik, menghela napas sambil dia menempatkan buku strategi game yang dia lihat kembali ke rak. Mitsuya memikirkan bagaimana ini adalah cara yang agak buruk untuk menghabiskan masa liburannya. Setelah keluar di pagi hari, dia berkeliaran di toko game, toko buku, game center, dan juga melihat-lihat bagian pakaian sesekali. Hobinya sempit, dan dia tidak punya niat untuk memperluasnya. Itu adalah tren khas yang telah diamati di kalangan kutu buku. Dia mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa waktu. Sudah tengah hari. Perutnya menggerutu, mengingatkan bahwa dia belum makan siang. Tapi, dia tidak merasa ingin makan sendiri. Terutama dia tidak suka harus memasuki restoran atau kedai makan sendirian. Tak hanya merasa kesepian karena tidak memiliki teman percakapan atau seseorang untuk makan bersama, dia juga merasa malu sendirian.

Setelah mempertimbangkan berbagai pilihannya, dia memutuskan membawa pulang dari toko hamburger. Setelah tas hamburger menggantung dari tangannya, dia mencari tempat di mana dia bisa duduk. Karena selama liburan, meja dan kursi di department store sepenuhnya ditempati oleh pasangan dan keluarga, dan karenanya Mitsuya terpaksa mencari tempat yang tampaknya kurang populer. Karena dia sendirian, dia ingin makan di tempat yang tidak terlalu mencolok. Mitsuya tidak menyukai orang, tapi dia pergi berbelanja sendiri sehingga dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Dia tak perlu khawatir atau takut akan apa yang dipikirkan orang lain ketika dia sendirian. Mitsuya keluar dari department store. Dia berpikir soal makan di sudut tempat parkir, dia tahu di mana orang-orang biasanya tidak lewat. Tentunya, akan cerah di sana, dan pasti bangku di sana akan menjadi tidak populer. Tak selalu ada orang di bangku itu. Itu terjadi begitu dia melangkah ke jalan dan hampir tiba di lokasi itu di tempat parkir. Dia mendengar suara keras kehancuran. Itu datang dari suatu tempat di sekitar bangku cadangan. Walau dia terkejut dengan itu, Mitsuya mengintipnya dari sudut.

“Kau masih di sini?”

Seorang pria dengan fisik yang kuat berkata dengan suara rendah. Dia memiliki rambut pendek, dan tubuh seorang olahragawan. Ketebalan leher, lengan, dan dadanya menakjubkan. Pria itu tampak seperti berusia awal dua puluhan. Seorang pria muda yang sepertinya seorang anggota tim menyerahkan sebuah tongkat kepada temannya. Mitsuya terkejut dengan bagaimana pria muda itu berpakaian. Itu karena dia berpakaian biru, sama seperti orang-orang yang mencoba menyerang Mitsuya sebelumnya. Dia mengenakan warna biru di bagian atas dan bawah tubuhnya. Ada seorang pemuda lain yang terjatuh di atas bangku yang rusak di belakang pria itu. Bajunya juga biru.

Suara itu dari tadi, mungkinkah dari pemuda yang dibanting di bangku cadangan menyebabkannya pecah? Apa ini pertengkaran?

Begitu pikiran tersebut terlintas dalam benaknya, telepon genggamnya mulai bergetar.

(Sialan!)

Kenapa di saat seperti ini!?

Mitsuya buru-buru mengeluarkan ponselnya, tapi dia terpaku ketika dia melihat layar. Tak ada apapun di situ. Itu hanya terus bergetar. Itu sama seperti yang terjadi saat itu.

Aku tak mau hal seperti itu terjadi lagi!

“Hmm?”

Pria dengan fisik yang bagus itu mendorong tangannya ke saku celana jinsnya seolah-olah dia telah memerhatikan sesuatu. Itu telepon genggamnya. Dia mengambil ponselnya dan melihat layar. Lalu, orang muda berpakaian biru juga mengeluarkan ponselnya dan memeriksa layar.

“Oh. Kau punya teman lain, kan?”

Pria itu berkata dengan senyum tak kenal takut.

“...—tidak bisa. Jika kamu melihat-lihat, hari ini hanya ada kita...”

Orang itu mengangkat alis dengan ekspresi bingung. Pria itu menekan sebuah tombol seolah untuk memastikan sesuatu. —Tapi, tidak ada respon dari telepon pria itu.

“Apa ada pria berlevel rendah di dekat sini?”

Itu sama seperti orang yang fokus pada layarnya. Pemuda yang jatuh terhuyung ketika dia berdiri, dan merangkak ke belakang pria dengan tongkat di tangannya. Pria itu tidak sadar.

Dia akan dipukul!

“Dibelakangmu!”

Mitsuya segera berteriak. Mata pria itu bertemu sejenak dengan miliknya. Ketika pria itu berbalik dengan rotasi cepat tubuhnya, dia memutuskan untuk menggunakan momentum tersebut untuk mendaratkan tendangan ke kepala orang yang mencoba membidiknya dari belakang. Pemuda yang tersingkir dengan satu pukulan terpental ke samping dan berguling di permukaan jalan beberapa kali sebelum berhenti.

“Brengsek!”

Sementara itu, anak muda lain yang berpakaian biru berlari ke arah Mitsuya bukannya pria itu. Dia mengangkat tongkat di tangannya sambil dia mengirim tatapan tajam ke arahnya. Insiden yang terjadi di pagi hari empat hari yang lalu terlintas di benaknya. Ketakutan menyelimuti Mitsuya. Itu terjadi ketika dia mencoba melindungi kepalanya dengan lengannya. Sepasang lengan tebal menyambar pinggang anak muda itu dari belakang. Dan lalu, begitu saja, pria itu membungkuk ke belakang dan menabrak kepala anak muda itu ke tanah. Anak muda berpakaian biru jatuh ke tanah setelah terluka serius di kepalanya. Itu adalah teknik yang dia lihat dalam program gulat profesional di televisi. Backdrop — itulah yang terjadi pada anak muda itu. Orang yang baru saja menggunakan teknik itu melepaskan anak itu dan merapikan dirinya. Yang lebih muda terkapar di tanah. Aspal ada di bawahnya. Mengingat bagaimana itu pukulan ke kepala, itu pasti fatal.

Dia masih hidup?

Dia agak cemas. Mungkin dia telah menjadi saksi di tempat pembunuhan.

“Ah, pria itu akan baik-baik saja. Aku menahannya di sana. Dia mungkin hidup.”

Pria itu tertawa dan mengatakan itu pada Mitsuya yang hanya menatap matanya pada anak muda itu dengan cemas.

“Jadi, kamu mau bertarung denganku sekarang? Ponselku bergetar. Kamu level berapa?”

Pria itu berbicara dengan ramah, tapi Mitsuya tak bisa memahami apa yang dia katakan. Ekspresi bingung muncul di wajah Mitsuya, dan dia tampak terkejut.

“Hei, apa kamu tidak membaca penjelasan tentang game?”

“Hah?”

Mitsuya menanggapi pertanyaan pria itu dengan keraguan. Namun, pria itu tampaknya memahami sesuatu dan agak geli saat dia berkata

“Begitu, jadi itu sebabnya kamu bahkan tidak berkutik ketika kamu diserang. Itu kadang terjadi. Hmm, jangan di sini. Untuk saat ini, mari kita bicara di tempat lain.”

Pria itu mulai berjalan pergi sendiri. Mitsuya sepertinya tidak memahami artinya, jadi dia mengirim pandangan bermasalah ke arah pria itu.

“Soal game. Kamu mendaftar, kan? [Innovate].”

Saat kata itu meninggalkan mulut lelaki itu, Mitsuya pun mengerti alasan di balik pertemuan dan keadaannya yang tidak biasa.

‘Game dimana player bertarung satu sama lain di dunia nyata’—.

 

Di sebuah taman di dekatnya yang beberapa orang lewat, penjelasan diberikan padanya. Lelaki dengan fisik yang bagus duduk di bangku tua hanya berjarak pendek dari Mitsuya. Pria itu mengidentifikasi dirinya sebagai Dojima Shintaro. Dojima memberitahu Mitusya soal game yang disebut [Innovate]. Itu adalah kisah yang hampir bagaikan mimpi. Jika seseorang menyelesaikannya, keinginan mereka akan dikabulkan—. Dengan menggunakan ponsel seseorang sebagai terminal input yang menjadi seperti garis hidup, player bisa saling bertarung di dunia nyata dengan memanipulasi berbagai fenomena, hampir seolah-olah mereka memiliki kekuatan sihir atau supranatural. Dengan bertarung melawan player lain, seseorang dapat meningkatkan experience point dan kekuatan mereka sendiri. Setelah level player mencapai seratus, sebuah event di mana seseorang bisa bertarung melawan [Last Boss] akan dimulai. Dan, jika ada yang mengalahkan [Last Boss], maka game akan dihapus. Mustahil berhenti di tengah jalan. Sampai game-nya selesai, benar-benar mustahil untuk berhenti. Sederhananya, itu adalah jenis game yang dikatakan [Innovate]. Dojima berbicara terus terang saat Mitsuya menyerahkan salah satu hamburger yang dia beli. Saat dia melihat dari sebelah, Mitsuya bahkan berpikir bahwa seluruh ceritanya tampak seperti ucapan seseorang dengan gangguan mental.

“Ini bukan lelucon, kan...?”

Mitsuya bertanya saat Dojima menghabiskan hamburgernya dengan tenang. Dojima merapikan bungkus hamburger dan melemparkannya ke tempat sampah terdekat. Dia lalu menepuk tangannya ke pangkuannya saat dia berdiri.

“Akan lebih mudah kalau aku tunjukkan padamu. Bawa ponselmu.”

Mitsuya menarik ponselnya. Setelah melihatnya, Dojima mengambil ponselnya sendiri dan menyalakannya. Pada saat yang sama, telepon Mitsuya mulai bergetar. Sepertinya ponsel Mitsuya bergetar menanggapi ponsel Dojima. Usai menekan beberapa tombol di ponselnya, Dojima berkata

“Tekan tombol itu untuk merespon.”

Mengikuti instruksi Dojima, Mitusya menekan tombol di ponselnya untuk memasukkannya ke mode panggilan.

“Kanzaki-kun, apa profesi yang kamu pilih [Sword Knight]?”

“Eh, ya.”

“Begitu ya. —Kalau begitu.”

Dojima melihat sekeliling di daerah sekitarnya dan menuju ke tempat di mana pepohonan telah ditanam. Dia mengambil sesuatu dan kemudian berjalan kembali. Dia memegang sebatang pedang kayu dari cabang pohon di tangannya. Itu panjang dan tipis. Sepertinya jenis objek yang akan mudah pecah jika itu melambai-lambai. Tidak, itu adalah sesuatu yang mungkin akan patah hanya pada hari yang berangin.

“A-Apa...?”

Mitsuya bertanya dengan waspada. Dojima tersenyum sedikit saat melihat reaksi Mitsuya, dan dia melemparkan cabang pohon tersebut pada Mitsuya. Tidak berhasil menangkapnya, jatuh ke tanah.

“Yah, ambil saja untuk sementara. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi.”

Usai diberitahu itu dengan senyum, Mitsuya masih tampak bingung ketika dia mengambil cabang pohon tersebut.

“Sekarang, letakkan ponselmu dalam mode mail.”

Mitsuya memasukkan ponselnya ke dalam mode mail seperti yang diperintahkan kepadanya.

“Umm, penerima...?”

“Tidak, ketikkan saja teks isi pesannya. Benar juga, masukkan [Ayunkan cabang pohon]. “

Mitsuya mengisi isi pesan itu seperti yang diperintahkan kepadanya.

“…Sudah selesai.”

“Baik. Sekarang—”

Dojima sekali lagi melihat sekeliling mereka di taman lalu kembali setelah dia mengambil sesuatu. Itu adalah kaleng baja yang kosong. Alih-alih aluminium, itu terbuat dari baja. Dojima menempatkan kaleng baja yang tidak bisa diubah oleh kekuatan genggaman manusia biasa di tanah di depan Mitsuya.

“Cobalah pukul kaleng dengan tongkatnya. Aku akan menyerahkan penyesuaian kekuatan kepadamu, tapi menurutku sebaiknya jangan terlalu menggunakan banyak kekuatan.”

Meski Mitsuya masih bingung dengan situasinya, dia mengangkat tongkat itu dan mengayunkannya ke bawah sekaligus.

(Jika aku memukulnya dengan cabang tipis, cabangnya akan—)

Bertentangan dengan apa yang Mitsuya pikirkan, baja dapat dengan mudah dihancurkan oleh kekuatan cabang pohon, dan dampak yang dihasilkannya bahkan mencungkil sebagian besar tanah.

“...!”

Mitsuya tidak bisa berkata apa-apa oleh fenomena yang baru saja terjadi, dan dia mengalihkan pandangannya di antara cabang tipis di tangannya dan kaleng baja. Dojima mengambil kaleng baja yang hancur dan memegangnya dari atas. Dia melemparkannya lurus ke udara, lalu bersiap untuk memukulnya tanpa melihat telepon genggamnya. Ketika kaleng yang dilemparkannya kembali turun, dia memukulnya dengan tinjunya. Kaleng yang dia pukul terbang ke arah pohon di taman dengan kecepatan luar biasa. Saat kalengnya menabrak pohon, itu menghasilkan bunyi keras dan getaran. Sejumlah daun lantas jatuh ke tanah.

“Begitulah. Kita memiliki kekuatan yang luar biasa. Pada waktu bersamaan—”

Dojima memandang Mitsuya dengan ekspresi serius. Mata yang sama yang baru saja dilihatnya empat hari lalu. —Matanya mirip dengan gadis SMA itu. Itu adalah tatapan yang tegas dan tajam.

“Itu berarti kamu telah bergabung dengan sebuah game di mana kamu tidak bisa menolak untuk berpartisipasi.”

[Ada kemungkinan bahwa Anda akan kehilangan nyawa Anda dalam game ini. Jika Anda tidak bisa menerima ini, tolong jangan berpartisipasi.]

Itu adalah kalimat yang telah dibaca Mitsuya ketika dia mendaftar.

 

Mitsuya memasuki ruangan apartemen tempat Dojima tinggal. Dojima pada dasarnya tinggal di sebuah studio yang memiliki ruang makan dan dapur. Di satu sisi ruangan, ada televisi, peralatan rumah tangga, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain ada berbagai dumbel dan peralatan lain untuk melatih tubuh. Sebuah majalah seni bela diri ditinggalkan di atas meja kecil, dan poster-poster dari berbagai seniman bela diri yang terkenal telah disematkan di sekeliling ruangan. Itu adalah jenis kamar yang sepertinya tidak pernah disentuh oleh seorang wanita. Di kamar itu, Mitsuya membaca lembaran kertas yang telah dicetak dari komputer. Itu adalah salinan penjelasan untuk [Innovate] yang telah ditampilkan saat pendaftaran, yang disebut panduan bermain untuk [Innovate]. Segala hal yang telah dilewati Mitsuya tidak diragukan lagi ditulis di sini. Menggigil dingin meremukkan tulang belakang Mitsuya setiap kali dia membaca peraturan dan penjelasan, dan dia mulai memahami bahwa meskipun situasinya tampak tidak masuk akal dan tidak nyata, itu adalah realitas yang berbahaya. Matanya kembali ke kalimat itu sekali lagi.

[Ada kemungkinan bahwa Anda akan kehilangan nyawa Anda dalam game ini. Jika Anda tidak bisa menerima ini, tolong jangan berpartisipasi.]

Dia merasa ingin menangis. Itu membuatnya dalam suasana hati yang diinginkannya untuk melampiaskan rasa frustrasinya pada sesuatu. Sesuatu di luar nalarnya tiba-tiba muncul padanya, dan sebelum dia sadar, tanpa disadari dia telah dibawa ke tempat misterius. Sekaligus, dia pun bisa memahami semua yang telah terjadi padanya sejauh ini. Sehari setelah menerima pesan itu, sekelompok orang tiba-tiba menyerangnya. Hari ini, ada tim yang menentang Dojima. Ada juga gadis SMA yang menggunakan kekuatan api untuk membakar salah satu laki-laki. Menurut panduan bermain, itu ditulis sebagai berikut:

[ ・Mage – dengan mengisi kata-kata seperti ‘api’, ‘air’, ‘angin’ dan seterusnya di badan email, mereka dapat mengaktualisasikan fenomena ini dan melepaskannya ke orang lain.]

Mage—. Gadis sekolahan itu adalah mage dalam game. Itu terlalu mengada-ada sehingga tampak seperti lelucon. Itu sangat gila sehingga semuanya tampak seperti lelucon. Dimana ini? Ini kenyataan. Abad ke dua puluh satu. Jepang. Tapi, bagaimana mungkin hal seperti game ini ada dalam kenyataan!?

(Aku mengerti, ini game...)

Mitsuya tidak mampu menahan emosi berputar yang menyelimuti dirinya, sehingga dia menutupi wajahnya. Semuanya tampak bodoh. Tapi, dia terjebak dalam kekacauan bodoh ini.

“Yah, aku akan membuatkan teh untuk kita.”

Setelah Dojima menyeduh teh di dapur, dia mengeluarkan dua cangkir teh. Dia meletakkan cangkir di atas meja dan kemudian duduk di meja di seberang Mitsuya. Aroma teh instan tercium di udara.

“Apa kamu belum yakin?”

Dojima bertanya. Mitsuya tidak melihat Dojima, dan hanya berbicara sambil melihat ke bawah.

“Ini cukup gila bagimu untuk mencoba meyakinkanku.”

“Memang.”

“…Apa ini tak masalah?”

“Hmm?”

“Kamu berpartisipasi dalam game yang tidak bisa dimengerti ini, jadi apakah ini tak masalah, Dojima-san?”

Usai Dojima meneguk teh hitamnya, dia menjawab

“Jika aku tidak berpikir itu tak masalah, maka aku tidak akan membawamu ke sini.”

Setelah mendengar kata-kata ramah itu, Mitsuya menatap Dojima. Dia menyadari bahwa air mata mulai membasahi matanya sendiri. Sebelum dia sadar, air mata itu tangisan karena seseorang membantunya.

“Jika ponsel hancur, player akan mati. Ini mutlak.”

Menanggapi kata-kata Dojima, Mitsuya menunduk dan menyipitkan matanya ke ponsel yang telah diletakkan di atas meja. Ponsel Dojima sedang mengisi daya, tapi telah dimatikan, yang berarti telepon mereka tidak bergetar. Dojima mengutak-atik ponsel Mitsuya sedikit. Rupanya, telepon selular Mitsuya telah menanggapi tanpa pandang bulu kepada semua orang karena telah ditetapkan untuk memanggil lawan apapun secara otomatis. Dojima melanjutkan

“Ini memang game yang penuh bahaya. Tapi, aku hanya mendengar desas-desus tentang beberapa orang yang meninggal selama enam bulan terakhir. Kebanyakan player sehat—”

“Apa-apaan ini! Bagaimana kamu bisa mengatakan hal-hal seperti ‘sehat’ ketika orang bisa mati hanya karena satu ponsel rusak? Sihir!? Knight!? Aku tidak tahu apa-apa tentang itu!”

Mitsuya mengangkat suaranya dalam kemarahan saat dia melempar ponselnya ke tempat tidur Dojima.

“Jika ada yang melihat email itu, mereka hanya akan berpikir itu adalah lelucon atau semacamnya...”

Mitsuya berteriak saat air mata terus mengalir di pipinya.

“...Aku masih tidak mengerti semuanya dengan baik. Seharusnya ada sesuatu yang orang-orang yang menerima email itu memiliki kesamaan, atau semacam pengetahuan dasar. Tapi, temanku meninggal. Itu terjadi dalam game ini.”

Usai mendengar pengakuan Dojima yang tiba-tiba, Mitsuya berbalik kembali. Dojima meneguk tehnya lagi sambil melanjutkan

“Baik aku dan temanku berpartisipasi dalam game. Kami bertarung bersama di sebuah party. Tapi pada hari tertentu satu tahun lalu—”

Player Killer — seorang ekstremis yang tiba-tiba menyerang player tanpa pandang bulu setahun lalu memberi Dojima cedera parah, dan teman Dojima bahkan terbunuh.

“Seperti katamu, itu pasti dunia yang tidak biasa. Apa kamu percaya itu? Ada lebih dari seribu orang yang berpartisipasi dalam game ini, kamu tahu? Semua orang melakukan yang terbaik untuk mencoba menghapusnya. Kamu dapat menghapusnya jika kamu mencapai level seratus dan mengalahkan last boss. Keinginanmu akan dikabulkan. Aku yakin dia masih bertarung di suatu tempat.”

Ucap Dojima dengan ekspresi pahit.

“...Bagaimana caranya? Bagaimana semua orang terus berjuang?”

Menanggapi pertanyaan Mitsuya, Dojima menjelaskan setelah mengambil jeda singkat.

“—Hadiah untuk menyelesaikan.”

“Hadiah untuk menyelesaikan?”

“Aku sudah memberitahumu sebelumnya bahwa ‘keinginan apapun akan diberikan’ — itulah yang seharusnya jadi kebenaran.”

“Kamu memang mengatakan itu... tapi—”

“Tidak, bukan berarti tidak ada yang bisa menyelesaikannya. Ketika seorang player menyelesaikan game, semua player lainnya menerima pengumuman melalui email. Begitulah cara kami mengetahui keberadaan orang yang telah menyelesaikan game. —Tapi, tidak ada yang melihat orang itu yang menyelesaikan game itu lagi…. Meski begitu, masih ada yang berjuang untuk tujuan itu. Sebagian orang mencoba mencapainya meski itu berarti membunuh. Ini adalah sesuatu yang memesona semua orang. Bagaimanapun juga, apapun yang kamu inginkan bisa menjadi kenyataan.”

“Karena itu, ini sesuatu yang berbahaya—”

“Mari kita membentuk sebuah party.”

Sebelum Mitsuya bisa mengekspresikan dirinya seutuhnya, Dojima memotongnya. Meski Mitsuya memiliki pandangan kosong di wajahnya karena dia tidak sepenuhnya memahami kata-kata itu, Dojima melanjutkan

“Seperti katamu, ini adalah game berbahaya yang melibatkan kematian. Tapi, tidak peduli seberapa banyak kamu ingin mengalahkan aku, itu tidak akan membiarkanmu berhenti dari game ini di tengah jalan. —Jadi, bentuklah party denganku. Setidaknya, aku memiliki kekuatan untuk melawan hal-hal yang tidak masuk akal ini, dan aku lebih mungkin untuk hidup darimu sekarang.”

Itu perkataan yang kuat. Mata Dojima tegas. Mitsuya tiba-tiba teringat gadis SMA itu.

—Apakah gadis itu juga mencari sesuatu?

Bahkan dengan jumlah player terbatas yang dia temui dalam game ini, dia mengerti. Ada beberapa tipe player. Ada beberapa orang yang kasar. Mereka memiliki mata seseorang yang terjebak dan kecanduan game. Kemudian, ada orang-orang yang telah mata tekad — orang-orang yang berpartisipasi dalam game untuk mencapai sesuatu. Mitsuya menemukan kedua mata itu dapat diandalkan sekaligus menakutkan pada saat yang bersamaan. Itu adalah sesuatu yang tidak dia miliki.

“—Mengapa kamu membuatku bertindak lebih jauh dengan mengatakannya?”

Niat Dojima mungkin tulus.Tapi, dia tetap meragukannya.

“Meskipun kamu tidak mengerti game-nya, kamu membantu orang asing sepertiku di tempat parkir itu, bukan? Ini sama. Mungkin ini adalah kesempatan bertemu, tapi bukankah tak masalah? Ini hampir seperti sesuatu yang akan kamu temukan dalam pengaturan game.”

Setelah mengatakan itu, Dojima mengungkapkan senyum polos. Itu dipenuhi dengan ketulusan.

—Aku harus menjadi pria paling baik.

Hanya karena dia menerima penjelasan untuk game abnormal ini dari Dojima, dia hanya bisa melihat Dojima sebagai player game abnormal. Orang abnormal inilah yang telah menunjukkan kebaikan kepadanya.

—Dan, aku anak abnormal yang telah menerima kebaikan itu.

Saat Mitsuya berpikir demikian, dia merasa harus mengangguk sebagai tanda hormat ats tawaran Dojima.

 

“Kalau begitu, daripada mengubah modelnya, apa tak masalah diganti dengan kontrak baru?”

“Ya.”

Mitsuya mengangguk saat dia menyatakan konfirmasi ke pegawai toko yang duduk di depannya. Sehari setelah dia bertemu Dojima, Mitsuya pergi ke toko telepon seluler. Meski ia merasa Dojima bisa dipercaya, Mitsuya jujur saja ​​masih tidak dapat menerima sifat konyol dari game yang disebut [Innovate]. Dia ingin lari dari situasi di mana dia akan mempertaruhkan hidup dan mati. Karena itu, setelah menerima penjelasan tentang game dari Dojima, ia berangkat ke toko telepon seluler keesokan harinya. Dia punya satu tujuan. Dia berencana mengubah ponsel yang saat ini melekat pada kontraknya sehingga dia bisa mendapatkan yang baru dan menyimpan yang lama di kamarnya. Tentu saja, dia berencana untuk membuang segala sesuatu dari emailnya ke nomor teleponnya. Dia tidak akan bisa menggunakan informasi ponsel apapun yang dia daftarkan ke game [Innovate]. Segala sesuatu yang berkaitan dengan ponselnya akan menjadi baru, dan dengan ini dia akan dibebaskan — tentu, dia ingin lari dari game gila itu sesegera mungkin. Mitsuya menarik napas lega.

Setelah beberapa jam, Mitsuya sekali lagi menerima email ke ponselnya meskipun dia belum memberi tahu siapapun tentang alamat email barunya.

‘Kami menantikan Dark-sama bermain di ponsel baru.’

Isi teksnya hanya terdiri dari satu kalimat. Itu adalah email tanpa alamat pengirim. Di bidang subjek, kata-kata ‘Dari Innovate untuk Dark-sama’ ditulis. Saat dia melihatnya, Mitsuya merasa ngeri sampai jantungnya membeku. Game-nya tidak normal. Meski dia mencoba lari dari game-nya, game-nya mengejarnya. Takut berpartisipasi dalam game karena ponselnya, Mitsuya mulai meninggalkan ponselnya di rumah dan tidak membawanya ke luar. Namun, pada saat dia menyadari, telepon genggamnya entah bagaimana berhasil masuk ke sakunya atau tasnya. Dia pasti meninggalkannya di rumah. Dia telah memastikan bahwa itu menempel di belakang laci mejanya. Namun, tidak peduli berapa banyak dia mencoba untuk memisahkan ponselnya dari dirinya sendiri, itu selalu kembali padanya. Seolah-olah seseorang bekerja di belakang layar untuk mengembalikannya padanya. Karena takut, dia bahkan berpikir untuk mencoba mematahkan telepon genggamnya beberapa kali, tetapi dia berhenti ketika dia mengingat kata-kata Dojima ‘Jika ponsel hancur, player itu akan mati’. Dia pergi ke kota tetangga dan melemparkannya ke tempat pembuangan sampah. Itu tidak ada gunanya. Ketika dia tiba di rumah dan kembali ke kamarnya, dia menemukan ponselnya tersimpan dengan rapi di atas mejanya. Apakah ponselnya kembali sendiri? Ponselnya juga telah menerima email yang berbunyi—.

‘Tolong perlakukan ponsel Anda dengan hati-hati.’

Pengirim tidak dikenal. Subjek itu hanya ‘Dari Innovate untuk Dark-sama’—. Siapa di balik ini? Staf game? Mitsuya tidak bisa mengetahuinya. Kemungkinan besar pekerjaan dari pemangku kepentingan dalam game. Fenomena abnormal yang tidak terkait dengan realitas pasti terjadi di sekitar Mitsuya, dan hari-hari tanpa tidurnya berlanjut.

—Ini berarti kamu telah bergabung dengan game di mana kamu tidak dapat menolak untuk berpartisipasi.

Saat Mitsuya mengingat kata-kata Dojima, dia mengalihkan pandangannya ke ponselnya sendiri.
Share:

28 Oktober, 2018

Campione v3 4-3

on  with No comments 
In  
Bagian 3

Lari.

Erica Blandelli menggunakan teknik [Melompat] untuk membuat tubuhnya lebih ringan saat ia berlari dengan kekuatan penuh.

Beralri melewati berbagai bangunan yang disambar petir, segala macam benda yang tertiup angin kencang, dan kota kecil yang rusak parah terkikis hujan badai yang langka.

Sebenarnya, Erica sangat cepat sehingga dia bisa terbang.

Jalanan batu yang diaspal jadi berantakan, dan dia melompat antara atap, lampu jalan, dan segala macam pijakan pada bangunan, kakinya jarang sekali menyentuh tanah.

Sulit membangun gedung bertingkat di Eropa, terutama Italia.

Karena ada banyak kota yang memiliki pemandangan ikonik seperti Menara Pisa atau Coliseum, agar tidak memengaruhi pemandangan, ada banyak peraturan hukum yang mencegah pembangunan gedung bertingkat.

Erica menganggap itu memalukan.

—Jika ada bangunan yang lebih tinggi, dia bisa lebih dekat dengan si [Kambing].

Bangunan Dorgali adalah lima atau enam lantai, sedangkan si [Kambing] terbang santai beberapa puluh meter di langit.

Walau Erica disebut jenius dalam sihir, dia tak tahu teknik terbang.

Keistimewaannya adalah [Besi], kemampuan memanipulasi besi dan baja seperti lengan dan kakinya sendiri untuk tujuan penyerangan dan pertahanan. Terbang, penerawangan roh dan persiapan ramuan termasuk dalam domain penyihir sejati seperti Lucretia Zola.

Usai sampai di puncak menara, Erica menarik napas dalam-dalam sambil dia menghentikan langkahnya.

Walau tujuannya menyelidiki, menyaksikan dari jarak jauh sangat tidak berguna.

Tak ada usaha, tak ada hasil—

Dia perlu berjudi sekarang. Meski dia tidak pernah menggunakannya dalam pertempuran nyata, mantra itu — teknik rahasia yang disebutkan dalam laporannya kepada pamannya, tiba saatnya untuk mencobanya.

Menekankan sekitar sepuluh detik, dia segera membuat keputusannya.

Dia pertama-tama akan melakukan usaha itu, lalu memutuskan kapan harus maju atau mundur saat situasi menentukan.

"Eli Eli lama sabachthani? Ya Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

Erica merapal dengan suara nyaring.

Mantra Golgota adalah mantra kemarahan dan doa, yang mengundang kebencian dan penyesalan.

"Ya Tuhan, aku menangis di siang hari, tapi Engkau tak mendengarnya, dan di malam, dan aku tidak diam. Tetapi Engkau-lah yang kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."

Menunjuk Cuore di Leone menuju langit dengan tangan kanannya.

Pedang ini dipasangkan dengan Il Maestro, pedang sihir dari rivalnya Liliana Kranjcar.

Dulu, ini adalah dua pedang berharga yang ditempa untuk kepentingan dua ksatria agung dengan gelar Raja Singa dan Raja Peri. Erica dan Liliana telah menemukan dua pedang di katakombe di bawah Florence, dan masing-masing mengklaim salah satu dari pasangan itu sebagai senjata pribadi mereka.

"Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendi-sendinya; hatiku menjadi seperti lilin; luluh di tengah-tengah perutku. Kekuatanku kering seperti beling; dan lidahku melakat di rahangku; dan Engkau membawaku ke dalam debu kematian. Sebab anjing telah mengerumuni aku: gerombolan penjahat telah mengepungku: mereka menusuk tangan dan kakiku."

Inilah rapalan keputusasaan yang mengerikan, membawa kemarahan pada Tuhan yang menahan keselamatan bahkan di ambang kematian.

"Tapi janganlah jauh dariku, Ya Tuhan: Ya kekuatanku, cepatlah Engkau menolongku. Lepaskan jiwaku dari pedang; Selamatkan aku dari mulut singa, karena Engkau tlah mendengar aku dari tanduk lembu liar!"

Ini adalah sebuah nyanyian pujian, yang berisi hal-hal yang mutlak akan menyertai kesetiaan kepada Tuhan dalam menghadapi kematian tertentu.

"Aku akan menyatakan nama-Mu kepada saudara-saudaraku: di tengah-tengah umat akan kupuji Engkau."

Nama mantra itu adalah [Ya Tuhan! Mengapa Engkau meninggalkan aku?]

Dari semua teknik yang diberikan oleh Salib Tembaga Hitam, diakui sebagai salah satu seni rahasia yang paling sulit.

—Merasakan dinginnya udara dingin seperti es, Erica tahu dia telah berhasil.

Dari bibirnya terdengar senyuman sombong seekor singa betina.

Jelas bukan akibat badai, suhu di sekitarnya berangsur-angsur turun.

Mantra Erica, telah mengumpulkan dingin yang mengerikan pada tulang.

Bukit Golgota, udara yang sama dengan tempat di mana Anak Tuhan binasa, udara beku yang sama kini mengisi lingkungan Erica. Cukup mandi di udara dingin ini akan menyebabkan hati orang biasa menjadi mati rasa.

Lalu untuk dewa — atau eksistensi dewata yang serupa, tentu saja tetap akan sangat tidak nyaman.

Jadi, si [Kambing] menurunkan tatapannya.

Turun perlahan ke arah lokasi Erica.

Provokasi berhasil, Erica tersenyum sambil ia melompat ke atap sebelah.

Dia mulai mengamati si [Kambing].

Mata yang sangat cerdas. Pada dasarnya kambing merupakan hewan yang sangat cerdas, walau menyerupai domba bodoh dalam rupanya, mereka sangat waspada dan pandai. Jadi ini wajar saja.

Ketika dia bertemu dengan [Babi Hutan] di Cagliari, dewa [Angin] telah muncul sebelum dia sempat mendekati seperti ini.

Meskipun dia melihat pertempuran antara babi hutan hitam dan tornado dari kejauhan, dia tidak bisa terlalu dekat untuk mengamati. Namun, pada jarak dekat ini kini dia bisa melihat bahwa si [Kambing] tidak memiliki kecerdasan seperti hewan dewata.

Mungkin hanya kecerdasan hewan—itu adalah tingkat kemungkinannya.

—Ayo uji dia.

"Cuore di Leone, aku memberikan kepadamu jeritan tangisan anak Tuhan dan Roh Kudus, menjadi tombak Longinus!"

Dengan menggunakan sihir [Transformasi] pada pedang kesayangannya, dia mengubah bentuknya menjadi sebuah tombak.

Menanamkan itu dengan mantra atau keputusasaan, ini memberi Cuore di Leone prana yang sama seperti tombak suci yang menusuk anak Tuhan. Dengan demikian senjata magis lahir, mampu melukai dewa dan membuat mereka berdarah.

"Santo Thomas, berbagi kesyahidanmu dengan yang lain!"

Didampingi mantra baru, Erica melemparkan tombak ke depan.

Diberikan kutukan yang tidak pernah meleset dari sasarannya, bahkan dewa pun tak bisa lepas dari tombak yang dilempar, apalagi eksistensi di bawah dewa — seperti hewan dewata atau sakral.

Tombak itu meninggalkan luka dalam di perut bagian bawah si [Kambing].

Kuak! Jeritan kesakitan hewan raksasa itu sampai ke langit.

Erica memanggil kembali Cuore di Leone menggunakan sihir, setelah memastikan dugaannya, bahwa hewan dewata yang lahir dari [Dewa Sesat] — lawan sekuat itu dapat ditangani dengan kekuatannya sendiri!

Namun, lawannya tidak begitu lemah sehingga memungkinkan kemenangan mudah tanpa persiapan.

Saat Erica menganalisis potensi pertempuran dari musuhnya, si [Kambing] menguak dengan berisik.

Petir terus turun dari langit.

Sasarannya jelas orang yang kurang ajar yang telah melukai hewan dewata itu. Secara naluriah, Erica mulai berlari sebelum guntur dan petir bisa membakarnya menjadi arang.

Kras!

Petir berkobar, sementara guntur meraung.

Siaran petir menyengat tempat dia berdiri dua detik yang lalu.

Merasakan dampak dan angin panas yang mengguncang kulitnya, dia memutuskan mungkin sudah waktunya untuk mundur.

Meski pertarungan berlanjut dengan cara ini, dia hanya bisa mempertahankan situasi saat ini dengan sebaik-baiknya. Usai memutuskan untuk mundur, Erica kembali melompat, melangkah ke atap sebelah, dan melompat berulang kali.

Jika dia berdiri diam, dia akan segera dibakar sampai mati oleh petir si [Kambing].

Erica melirik langit.

Berjalan di udara — tidak, melayang di udara adalah [Kambing] raksasa.

Sampai sekarang, semua hewan dewata yang muncul telah dikalahkan oleh tornado misterius, tapi bagaimana dengan si [Kambing] ini? Apa dewa lawan akan muncul?

Sembari merenungkan hal-hal ini, Erica menghitung rute pelariannya.

Melompat turun secara langsung dan mencampuradukkan dirinya di antara orang banyak akan menjadi yang teraman, tapi itu juga akan membawa tragedi yang hebat.

Erica mendesah 'hmph' dan buru-buru meninggalkan gagasan itu.

Sebagai seorang ksatria yang angkuh, mana mungkin dia bisa memilih cara mundur seperti itu? Tentu saja itu ditolak dengan tegas.

Lalu, cuma ada satu jalur yang perlu diambil.

Arah menuju gunung curam itu bisa dilihat dari Cagliari.

Erica terus melompat dan berlari menuju arah sana. Dengan demikian, setidaknya dia bisa memimpin si [Kambing] menjauh dari jalanan, memberi orang lebih banyak waktu untuk melarikan diri. Itulah yang dia simpulkan.

 

"Engkau masih hidup, bocah, sepertinya hidup kita sangat sulit untuk dihancurkan."

Keluar dari kerumunan yang melarikan diri dengan susah payah—

Keduanya bertemu sekali lagi dan itu adalah kata-kata pertama pemuda itu, diucapkan dengan nada santai biasa.

"Ya, aku katakan dulu, aku sangat khawatir denganmu ... Meskipun aku telah melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, keselamatanmu sangat membebani hatiku selama ini."

Melihat sosok pemuda secara mendetail, Godou menjawab.

Seperti sebelumnya, pemuda itu mengenakan mantel compang-camping. Wajahnya sangat lembut dan tepat, dengan semacam pesona sekilas yang tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu di Cagliari.

Tapi ada rasa keanehan tertentu.

Godou merasa aneh, orang ini berbeda dari sebelumnya. Tidak ada perubahan penampilan, tapi ada sesuatu yang tidak beres. Apa itu?

"Hoho, nalurimu bagus sekali. Dengan pendidikan yang tepat, mungkin engkau akan menjadi pendeta yang luar biasa."

Melihat Godou yang kebingungan itu, pemuda itu tersenyum.

Wajahnya yang tersenyum sama seperti sebelumnya, tapi entah bagaimana hal itu menimbulkan perasaan yang lebih dewasa.

—Tunggu sebentar. Apa yang orang ini katakan?

"Hei, tadi kamu bicara sesuatu yang aneh. Sesuatu soal pendidikan dan pendeta."

"Tak usah diindahkan, aku hanya bicara sendiri. Sebaliknya, engkau harus berterima kasih pada takdir karena membiarkan kita bertemu sekali lagi. Takdir kita tampaknya sangat saling terkait."

Tidak, ini sama sekali bukan hasil takdir tapi niat manusia.

Alasan mereka datang adalah karena Kusanagi Godou dan Erica Blandelli diharapkan bisa bertemu dengan pemuda di sini.

Namun, mengapa dia tidak memiliki keberanian untuk membicarakan hal ini?

Merasakan keragu-raguannya dalam urusan ini, Godou menemukan perasaan yang berbeda muncul, tidak seperti perasaan saling berbagi dengan pemuda saat mereka pertama kali bertemu.

Kras! Pada saat ini, jatuhnya guntur terdengar.

Petir mencolok di dekatnya? Godou dan pemuda itu mendongak dan mengamati sekelilingnya.

"—Erica!"

Beberapa kilatan petir bisa terlihat turun, sementara Erica melompat ke kiri dan kanan untuk menghindarinya.

Melihat kejadian ini terungkap, Godou tidak bisa menahan teriakan.

Jika ini berlanjut, bukankah dia akan digoreng sampai mati dengan petir? Walau situasinya mengerikan, siluet Erica masih membawa ketenangan sejati.

Si [Kambing] raksasa mulai terbang mendekati permukaan di beberapa titik.

Meluncur di atas bangunan sambil mengejar gadis pirang yang cantik, arah yang ditempuh Erica adalah kaki pegunungan di luar kota.

Bergerak cepat di antara atap, Erica berlari seperti anak panah.

Dia mungkin melakukan ini untuk mencegah terciptanya lebih banyak korban di Dorgali.

Tapi, apa benar-benar aman baginya untuk melewati ruang terbuka lebar tanpa penutup?

Melupakan perselisihan mereka selama beberapa hari terakhir ini, Godou kini merasa cemas dengan keamanan Erica.

"Apa ini, gadis itu juga ikut. Sepertinya takdir kita juga saling terkait."

Dalam kondisi seperti itu, si pemuda masih mempertahankan tawanya yang santai.

"Ya, banyak yang telah terjadi dan saat ini aku bepergian bersamanya. Bagaimanapun, kalau ini berlanjut mungkin akan tragis. Aku akan mengejarnya! Apa yang akan kamu lakukan!?"

"Engkau harus menyerah. Walau engkau pergi ke sana, engkau takkan berguna."

Pemuda itu menasihati Godou dengan tenang yang telah berseru sembarangan tanpa berpikir.

Godou hanya menggeleng kuat, menolak dengan tekad.

"Meski begitu, aku tidak bisa menyaksikan dan tidak melakukan apa-apa!"

Erica jelas wanita yang menyebalkan.

Setiap kali dia berbicara, kebanyakan keluhannya tidak menyenangkan. Mengurus orang lain dengan semangat yang bersahabat, tapi selalu mengejeknya tanpa ampun saat dia berbicara dengannya, dan juga karena keras kepala, egois, meski begitu ...

Dia bukan seseorang yang sangat dibenci sehingga Godou bisa meninggalkannya pada saat dibutuhkan.

Godou berlari ke arah yang sama dengan dia, bertekad.

Walau dia sangat menyebalkan di banyak tempat, kenyataannya sekarang dia berkelahi sendirian, menghadapi dewa sebagai lawannya. Berpura-pura tidak melihat dan mengabaikan kebutuhannya akan bantuan — mustahil.

Tentu saja, Godou tahu ini bodoh dan impulsif, tapi memang begitu.

"Engkau sungguh bodoh. Walau engkau bodoh, gadis itu tak jauh lebih baik, berkelahi sendirian adalah buktinya. Jelas ada cara yang lebih mudah untuk kabur, tapi dia memilih yang sulit."

Pemuda itu terkejut.

"Dan aku, mengamati, entah bagaimana tidak bisa melihat dia binasa tanpa bantuan, menjengkelkan sekali!"

Kalau dipikir-pikir, bukankah pemuda ini juga memiliki kekuatan luar biasa?

Godou mengingat kembali saat mereka berpisah di Cagliari, saat dia mengalami kekuatan dominasi pemuda yang luar biasa itu — apakah itu juga sihir? Atau hipnosis yang hebat?

Bila kekuatan semacam itu digunakan lagi, itu akan menjadi masalah. Saat Godou mencoba mundur, pemuda itu tersenyum.

Senyum klasik dan pelik.

Dengan semacam esensi sekilas, itu adalah senyuman seperti kabut.

Pada saat ini Godou menyadari, alasan mengapa dia merasakan keanehan saat mereka bertemu lagi, ada di sini.

Pemuda lebih tidak alami daripada sebelumnya, dibandingkan dengan manusia yang hidup, ia merasa lebih seperti menghadapi patung Buddha yang rumit. Keanehan yang tak terlukiskan.

"Tenanglah, walau kalian semua bodoh, tapi anak-anak bodoh sangat menggemaskan. Aku takkan menghentikanmu, sebenarnya aku akan memberimu kekuatan — jadi, ambil benda yang engkau tutupi."

Tiba-tiba pemuda itu mengulurkan tangannya.

"A-Apa yang kusembunyikan?"

"Begitu? Ketika aku pertama kali berbicara denganmu di dermaga, rasanya menarik perhatianku. Aku bisa merasakan bahwa rasa itu bahkan lebih hebat daripada terakhir kali. Lantas cepat, bukalah bungkusan itu."

"Tablet batu itu!"

Pandangan pemuda itu terfokus pada ransel Godou, dan akhirnya dia mengerti.

Godou buru-buru mengeluarkan tablet batu itu — [Jilid Rahasia Prometheus].

"Ya, tak salah, kebijaksanaan kuno yang tersembunyi ini—takkan pernah kuduga spesimen semacam itu masih tersembunyi di alam fana. Dengan ini, bahkan dalam keadaanku saat ini, aku bisa menyelesaikan masalah ini."

Tablet batu kuno yang permukaannya menggambarkan seorang pria terpenjara dengan gambar kekanak-kanakan.

Pemuda itu menyipitkan mata dengan penuh minat, menatap gambar itu.

"Oh, Titan yang dihukum itu ... Matahari ... Api... Orang bodoh ... Keselamatan. Begitu rupanya, inilah yang menjadi kekuatan [Pencurian]! Haha, Prometheus si [Penipu]! Menipu para dewa, pencuri pahlawan yang memimpin manusia — engkaulah kehadiran yang kurasakan di dermaga saat itu!"

Mendengar tawa gembira itu, Godou melihat sesuatu.

Dia tidak memberitahunya nama [Jilid Rahasia Prometheus], ​​tapi mengapa pemuda bisa memanggil namanya? Mungkinkah dia benar-benar eksistensi supranatural?

"... Seperti Erica dan lainnya, apakah kamu penyihir?"

"Tidak, aku benar-benar berbeda dari mereka, tapi saat ini masih belum lengkap. Selama aku tidak bisa mengingat namaku, aku akan terus menjadi tidak lengkap. Namun, belakangan ini saya sadar, barangkali tinggal di negara ini mungkin takkan terlalu buruk."

Sambil tersenyum masam, pemuda itu sedang membelai [Jilid Rahasia Prometheus].

"Sudahkah seseorang menggunakan tablet batu ini sebelumnya? Dalam benda ini, tinggallah kekuatan dewa yang dicuri."

"Dicuri?"

"Ya, bukankah sudah kukatakan kekuatan [Pencurian]? Batu ini memiliki karakteristik mencuri otoritas dewa, lalu menyimpannya di dalamnya ... Namun, jika targetnya adalah dewa yang kuat, kemungkinan besar hanya sebagian kekuatan yang akan dicuri. Ini seharusnya sangat berguna, menarik sekali."

Memegang tablet batu itu, pemuda itu menunjuk ke bukit beberapa ratus meter jauhnya.

Ke arah itu adalah Erica dan si [Kambing] yang mengejar.

"Kalau begitu aku akan mengalahkan monster itu— bocah, engkau bisa menemaniku!"

 

Itu sudah cukup jauh dari jalanan Dorgali.

Dengan hujan deras, Erica sampai di kaki gunung tempat hutan hijau dan bebatuan putih yang mengering tergeletak.

Di dekatnya ada beberapa pohon, tapi pada dasarnya ada sebuah tambang batu terbuka lebar.

Berlarian di sini, Erica pun berhenti. Melihat ke arah jalanan, si [Kambing] terlihat santai, tapi sebenarnya ia menyerang dengan kecepatan tinggi.

Lantas, apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Erica mulai mencari ide.

Solusi terbaik mungkin menggunakan mantra ilusi untuk bersembunyi, yang secara langsung menipu mata si hewan dewata.

Tapi akan lebih baik untuk menunda lebih banyak waktu, jika dia menghilang dari pandangannya, kemungkinan si Kambing akan segera berbalik untuk menghancurkan kota.

"... Kira-kira lima belas menit, mungkin bisa memperlambat selama durasi itu?"

Bernapas tak beraturan karena kegelisahan, Erica bergumam sendiri.

Melelahkan pikiran dan tubuhnya dari pengejaran sang hewan dewata, Erica membuat perkiraan berdasarkan kemampuan bertarungnya yang tersisa.

Mudah-mudahan, akan lebih baik jika ada yang bisa menyelesaikan evakuasi selama sedikit waktu ini.

Untuk menunda lebih lama lagi, Erica — tidak, mungkin tak ada orang yang bisa mencapai prestasi itu, itu sampai ke pengampunan surga.

Dengan tenang menghitung pilihannya, Erica menatap ke arah si [Kambing] dengan mata semangat pertempuran yang hebat.

Pada saat itu, dia menyadari sesuatu yang tak terduga.

—Petir hitam

Menurun dari langit, petir hitam melanda tubuh besar si [Kambing].

Kuak!

Udara dipenuhi oleh jeritan yang menyakitkan, bagaimana mungkin hewan dewata itu bisa mengeluh karena diserang senjatanya?

Pada saat ini, Erica menyadari bahwa petir hitam yang turun ke atas si [Kambing] adalah keneradaan yang berbeda.

Seperti kutukan terwujud, sangat mirip dengan mantra Golgota milik Erica sendiri.

Mewujudkan kesadaran penuh kebencian dan penyesalan, membentuk kutukan hitam yang membawa bencana ke lingkungan sekitar.

Bahkan tanpa sifat pengguna penerawangan roh, Erica dapat dengan mudah mengenali bahwa kutukan petir hitam itu sangat hebat. Tapi dari mana kutukan itu berasal?

Mungkinkah dewa kedua muncul?

Setelah disengat berkali-kali oleh petir hitam, si [Kambing] pun jatuh dari langit, membuat saraf Erica tegang.

 

Segera setelah meninggalkan jalanan Dorgali, pemuda tersebut menunjuk [Tome Rahasia Prometheus] di langit.

Lalu, dari awan hitam muncul coretan petir hitam yang menimpa si [Kambing]. Setiap kali terkena kilat petir, monster terbang itu mengeluarkan jeritan rasa sakit. Disengat oleh petir, si [Kambing] sangat menderita.

Selanjutnya, dimandikan dengan petir tak terhitung, si kambing jatuh ke tanah.

Tiba-tiba jatuh ke lapangan batu yang kosong di luar jalanan, tubuh raksasa itu menggigil. Mata Godou melebar sembarimelihat kejatuhan monster yang tak terduga itu.

"Ini bukan apa-apa, monster tak pernah sekuat rupa mereka. Tentu saja, dari perspektif manusia fana, mungkin itulah ancaman terbesar. Tapi, ini hanyalah ciptaan yang tidak stabil yang dipecah dari otoritas dewa — Cukup dengan menerapkan sedikit kekuatan dewata, mereka akan jatuh seperti itu."

"M-Meskipun aku tidak begitu mengerti, kamu bilang bahwa itu terlihat besar, tapi sebenarnya cukup lemah?"

"Ya, bukan penjelasan yang buruk, semestinya engkau dipuji ... Akan tetapi, kemenangan ini berkat batu ini, yang membawa kutukan dari dewa bumi, ini sangat berguna."

Sambil mengamati si [Kambing] tergeletak di tanah, pemuda itu berbincang santai dengan Godou.

Berdiri di sebelah teman yang menyombongkan kualitas aslinya berangsur-angsur terungkap, Godou merasa semakin bingung.

Deskripsi yang diucapkan seorang dewa sama persis dengan yang diucapkan Lucretia Zola — "dewa pedang emas hancur menjadi beberapa monster raksasa."

Pemuda ini jelas tahu lebih banyak tentang situasinya daripada Erica, yang disebut anak ajaib jenius oleh Lucretia Zola. Siapakah dia?

"Godou, kamu berkomplot dengan orang ini!?"

Suara tuduhan yang elegan mendadak terdengar.

Pemilik suaranya pastilah Erica. Kemungkinan besar dia menyaksikan kejatuhan si [Kambing] dan telah bergegas.

Walau basah akibat hujan dan tubuhnya tertutup lumpur, kemegahannya tak bisa ditekan. Atau lebih tepatnya, bisa dikatakan bahwa berada dalam keadaan ekstrem, kecantikannya bahkan lebih ditekankan.

"Bukannya seperti itu, kami cuma kebetulan bertemu di kota ... Tidakkah kamu juga mengatakan bahwa kita mungkin akan menemuinya?"

Godou menjawab dengan keberatan.

Tentu saja, dibandingkan dengan sikap keras Erica, pilihan Godou untuk si pemuda tetap tidak berubah — tapi setiap kali dia memikirkan asal-usul si pemuda yang tidak dikenal, keraguannya meningkat.

Mungkinkah ... tidak, pasti seperti itu.

"... Hei, orang yang mengalahkan hewan dewata itu kau, kan?"

Karena waspada karena kata-kata Godou, Erica melihat pemuda itu dengan mata yang jahat.

Dia juga memerhatikan [Jilid Rahasia Prometheus] yang dipegang di tangan si pemuda tersebut.

"Ya, berkat batu misterius [Pencurian], monster itu dikalahkan."

"Telah menguraikan kekuatan yang dimiliki oleh grimoire ini — dengan kata lain, mungkinkah kau pengguna penerawangan roh? Ini mustahil tanpa penerawangan roh tinggkat tertinggi."

"Hoho, jangan menanyakan identitasku, namaku saat ini tertutup."

Menghadapi permintaan Erica, sikap pemuda yang tidak terpengaruh itu tetap tidak berubah.

"Omong-omong, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu, cepatlah pergi — yang kedua akan segera tiba. Makhluk yang sangat ganas dan kejam, lebih baik jangan mendekatinya."

"Yang kedua?"

Mendengar peringatan itu, Godou mengerutkan keningnya.

Kuak!

Kuakan seekor burung aneh muncul. Suara apa ini? Godou dan Erica mendongak di udara secara bersamaan. Siapa sangka berapa kali mereka mengalami rasa takut hari ini?

— Kali ini adalah [Burung Pemangsa] berwarna emas.

Meluncur pada sayap raksasa di langit mendung yang luas, seekor burung pemangsa yang memiliki bulu emas.

Kalau dipikir-pikir, Lucretia juga telah menyebutkan elang yang lahir dari dewa pedang, tapi, ini mungkin bukan rajawali, Godou merasa itu lebih mirip seekor elang.

Deskripsi terbaik mungkin masih [Burung Pemangsa].

Lebar sayapnya dari ujung ke ujung, diukur sekitar lima puluh atau enam puluh meter.

Mengepakkan sayapnya dengan kuat di langit Dorgali, burung pemangsa raksasa berputar-putar dengan ganas, nama burung pemangsa agaknya sudah pas.

"—Bukankah itu berbahaya?"

Setiap kali [Burung Pemangsa] mengepakkan sayapnya di udara, pusaran angin tercipta selama ia berbalik.

Angin kencang menjadi topan, lalu badai, dan semakin diperkuat untuk menjadi tornado — dalam waktu yang sangat singkat, angin dari kepakan sayap telah menciptakan tornado yang kini menyerang jalanan.

Segala macam benda, besar dan kecil, terbang tinggi ke udara.

Jika tornado kuat semacam itu diproduksi di tengah jalan, kerusakan besar akan benar-benar mengecilkan petir si [Kambing].

Sambil Godou merasa putus asa, Erica mempertanyakan pemuda tersebut.

"...Apakah kau memanggil burung juga?"

"Salah, bocah, aku tidak memanggil mereka. Ini untuk mencariku, mereka datang."

Menunjukkan senyum tanpa cela, pemuda itu menjawab.

Godou merasa terganggu oleh sikap kasualnya bahkan pada saat krisis begini, tapi tidak mampu mengalihkan pandangannya dari ciri-ciri tampan pemuda itu. Tak dapat dipercaya, dia tertarik dan malah mendengarkannya.

... Ini salah, tak bisa dilanjutkan.

"Begitu ya ... Lalu kamu — mungkinkah ..."

"Hoho, jangan katakan keras-keras. Lebih baik begitu. Jadi, bocah dan nona kecil, cepatlah kalian pergi. Walau tak berperasaan begini, kota ini akan hancur, hanya kehancuran yang menanti."

Pemuda itu menekan ujung jari telunjuknya di bibirnya.

Seolah berharap Erica akan diam, tapi Godou mengabaikannya, dan menghadapi si pemuda tampan itu:

"Tunggu sebentar, tidak bisa dipastikan akan hancur, kan?"

"Sudah pasti, kekuatan yang tersimpan di batu Prometheus sudah habis sekarang. Tak ada cara lain untuk mengusir monster itu. Bila engkau tak dapat memahaminya, maka engkau hanya bisa digambarkan sebagai orang bodoh."

"Aku mengerti, tapi aku tidak bisa menerimanya!"

Godou berteriak secara impulsif.

Baru saja saat dia mengejar Erica, dia juga merasakan hal yang sama. Sekalipun sulit, dia harus menghadapi ini secara langsung.

Bahkan sekarang pun, Godou tak mau lari, atau meninggalkan pandangan di depannya ini.

Seperti anak yang keras kepala, Godou menyadarinya. Tapi memikirkan tragedi yang dibawa oleh tornado, membayangkan Erica berjuang melawan monster itu sendiri, Godou akan merasa sangat tidak tenang, jadi dia harus memanjakan keras kepalanya—

"Bila ini adalah zaman kuno, aku akan memberikan perlindunganku padamu, menyambutmu sebagai pendekarku, mengantarkanmu ke medan perang —"

Dihadapkan pada kesedihan anak yang bodoh, orang hanya bisa menenangkannya sebanyak mungkin.

Dengan ekspresi seperti seorang ayah, pemuda itu mengangguk.

"Nah, begitulah, bocah, tadi juga engkau mengeluh dengan cara yang sama. Mengabaikan kebijaksanaan bertahan hidup untuk melemahkan kekuatan yang lemah dan membungkuk pada yang kuat. Engkau teramat payah."

Hmph. Pemuda itu mendesah dengan sedih.

"Mungkin inilah saat terakhir aku membantumu dengan kebodohanmu. Begitu kedua hewan itu dikalahkan, aku tak bisa lagi bermain santai. Sungguh, kehilangan waktu istirahat untuk bocah semacam ini, sayang sekali!"

"...? Apa yang kamu bicarakan?"

Tidak bisa memahami seutuhnya kata-kata pemuda itu, Godou mempertanyakannya.

Apa yang dia katakan? Tapi dia tidak menjawab, dan hanya melemparkan [Jilid Rahasia Prometheus] ke atas.

Godou menangkapnya dengan panik.

"Peganglah. Mungkin sekeping batu ini akan dibutuhkan nanti."

"Eh?"

"Bocah, janjiku. Saat waktunya tiba, gunakanlah 'tuk dunia."

Meninggalkan kata-kata itu, pemuda itu tiba-tiba berlari.

Menuju jalanan Dorgali — arah di mana tornado dilepaskan oleh putaran [Burung Pemangsa].

"Ini mungkin perpisahan seumur hidup. Selamat tinggal!"


Godou ingin mengejarnya, tapi langsung menjauhkan diri.

Seperti angin. Pemuda itu berlari dengan kecepatan bak angin, dan langsung lenyap.

"Orang itu, dia sudah bilang bahwa musuh itu berbahaya, apa yang bisa dia coba lakukan sekarang?"

Sambil bergumam sendiri sambil berlari, Godou tiba-tiba merasakan embusan angin bertiup di sekelilingnya.

Embusan angin kencang, dan meniup langit Dorgali tempat [Burung Pemangsa] terbang.

"Godou, hati-hati! Itu datang!"

"Datang? Apa!?"

Diperingatkan oleh Erica yang berhasil menyusul, Godou menggeram dengan marah sebagai jawaban.

"Dewa kedua muncul di Cagliari! Dewa angin yang mengalahkan monster itu, tidak, dewa perang yang memiliki inkarnasi angin!"

Pada saat ini, embusan angin lainnya telah menjadi pusaran, dan tornado kedua terbentuk.

Angin kencang bertiup di luar jalanan Dorgali menjadi pusaran.

Di depan pemandangan ini, [Burung Pemangsa] berhenti berputar-putar. Tiba-tiba, tornado di jalanan lenyap.

Burung raksasa itu langsung menyerbu tornado yang tersisa.

Tornado yang bahkan bisa mengempaskan [Babi Hutan] ke udara, menangkapnya, dan menaikkannya ke langit.

Terbang menuju tengah, [Burung Pemangsa] tetap memegang kendali.

Bukan hanya karena tidak tertangkap angin, ia terbang ke arah sebaliknya dari putaran tornado. Di bawah prinsip yang tidak diketahui, terbang kecepatan tinggi [Burung Pemangsa] menyebabkan tornado melambat secara perlahan.

Ini terlalu konyol. Godou merasa takut saat dia berdiri tak karuan.

Dalam sekejap, tornado lenyap.

Namun, muncul di samping [Burung Pemangsa] adalah sebuah benda — pedang emas.

Baja emas raksasa, bilah besar sama besarnya dengan lebar sayap [Burung Pemangsa], pedang itu berbilah ganda.

[Pedang] ini melayang di udara, menghadap ke arah [Burung Pemangsa], seolah-olah dipegang oleh seorang pendekar raksasa yang tak terlihat, ini adalah pemandangan yang paling aneh.

"Sudah kuduga ... Dewa itu bisa mengubah wujudnya sesuai situasi. Dewa perang yang memiliki banyak inkarnasi adalah ...!"

Pada suatu saat, Erica datang ke sebelah Godou.

Mereka berdua tidak lagi memiliki kekuatan untuk berlari, dan hanya bisa menyaksikan pertempuran antara [Burung Pemangsa] dan [Pedang].

Dengan kecepatan yang hampir terlalu cepat untuk dilihat, [Raptor] terbang di udara.

Setiap kali angin bertiup seperti gelombang sonik, tanahnya berantakan. Itu belum sampai pada kecepatan suara, tapi masih sangat cepat.

Meski begitu, [Pedang] tetap memegang keunggulan.

Dihadapkan dengan lawan super cepat, ia menari santai di udara dengan elegan, menebas terus-menerus.

Pedang itu mendarat di atas lingkaran [Burung Pemangsa].

Dengan setiap goresan yang berhasil, bulu-bulu emas menari-nari di udara sembari darah segar menodai tanah dengan merah.

Saat yang menentukan pertempuran akhirnya tiba.

Pedang emas itu membuat luka yang dalam di tubuh raksasa [Burung Pemangsa], memotongnya menjadi dua.

Lalu, tubuh terbelah dari burung pemangsa berubah menjadi partikel seperti pasir dan mulai hancur. Partikel ini lalu diserap oleh bilah [Pedang].

Namun, ini belum berakhir.

[Pedang] emas lalu menusuk kambing yang telah jatuh ke tanah.

Dengan serangan terakhir — seharusnya digambarkan seperti itu, monster raksasa tak berdaya yang tergeletak di tanah ditusuk lehernya, itu adalah serangan akhir yang tidak berhias.

Jadi, tubuh raksasa [Kambing] juga berubah menjadi partikel cahaya, dan diserap oleh [Pedang].

Entah bagaimana hujan telah berhenti, dan angin serta guntur telah lenyap.

Saat sinar matahari sampai di tanah, [Pedang] emas tiba-tiba lenyap tanpa bekas.

Meninggalkan Dorgali, diliputi oleh kekuatan dewata, serta Godou dan Erica yang tak bisa berkata apa-apa sambil melihat langit dengan ekspresi yang sangat rumit.
Share:

Campione v3 4-2

on  with No comments 
In  
Bagian 2

"Apa, Godou. akhirnya kamu menyelesaikan pembicaraan rahasiamu dengan wanita itu? ... Sungguh tak tahu malu."

Melihat Godou keluar dari rumah Lucretia sekali lagi, Erica bergumam sendiri.

"Siapa yang kamu panggil tak tahu malu?! Aku hanya ingin memastikan beberapa hal dengan orang itu."

"Tak cukup bodoh untuk melakukan sesuatu di belakang punggungku. Kalau tidak ada yang memalukan, maka kamu pasti akan melakukannya secara terbuka? Baik, terserah. Cepat pergi, tujuan selanjutnya adalah Dorgali."

"Kenapa kita ke sana? Apa kamu sudah menemukan berita soal pria itu?"

Erica telah menunjukkan tujuan berikutnya adalah satu jam perjalanan dengan mobil saat Godou menanyainya.

Akan sangat menyenangkan jika pemuda yang terakhir kali dia lihat di Cagliari aman dan sehat.

"Tidak, tapi peluangnya untuk muncul cukup tinggi ... Pengguna penerawangan roh kami di Salib Tembaga Hitam telah melihat pengumpulan prana di daerah sekitar Dorgali."

"Prana?"

"Benar, dan sangat kuat. Alasan mengapa aku pergi ke Cagliari, juga karena penerawangan roh menemukan konsentrasi sihir yang sama di sana, lalu si bocah dan [Babi Hutan] itu muncul."

Kalau dipikir-pikir, Lucretia juga menyebutkan penerawangan roh.

Pengguna penerawangan roh memiliki bakat seperti ramalan, dan panggilan telepon tadi, rupanya merupakan laporan dari mereka.

"Untuk memprediksi sesuatu seperti ini, menakjubkan sekali, bisakah mereka melihat semuanya?"

"Tidak seperti itu. Isi penerawangan roh mereka sangat terbatas, seperti sekarang, kita masih belum tahu identitas dewa di pulau ini — namun akan berbeda jika pengguna penerawangan roh berada di level tertinggi di sini. Sayangnya, orang yang memiliki talenta semacam itu sangat langka."

Kekuatan pengguna penerawangan roh didominasi oleh sifat bawaan.

Kalau dipikir-pikir, jika orang dengan ramalan biasa, itu akan sangat mengerikan.

Menerima itu, Godou mengubah suasana hatinya. Mendengar bahwa si pemuda mungkin muncul, dia mendadak mulai merasa cemas dan ingin tahu secepat mungkin apakah dia selamat.

"Bagaimana kita bisa sampai di sana? Kereta atau bus, yang mana?"

"Baik, mobil dan sopir!"

Tetap saja, mengharapkan taksi di kota ini di pedesaan—

Alhasil, dibandingkan dengan memanggil taksi dari perusahaan taksi di Nuoro, akan lebih cepat naik bus secara langsung. Setelah menyimpulkan itu, Godou serta Erica yang tidak senang naik bus.

Dorgali adalah sebuah kota kecil di pesisir.

Itu memiliki lembah di dekat laut, serta lembah sungai yang curam di sekitarnya. Erica telah menyebutkan bahwa Dorgali dikelilingi oleh sumber daya alam yang melimpah, dan telah ditunjuk sebagai taman nasional.

Di sepanjang jalan gunung bergelombang, bus melesat cepat.

"—Hmm? Sedang hujan?"

Melihat ke luar jendela, Godou mendadak mendapati langit gelap.

Awan kelabu segera muncul dan menutupi langit seperti tirai yang tebal.

"Hujan? Tidak, bukan begitu."

Mendengar Godou bergumam, Erica berbalik menghadapnya. (Omong-omong, walau kursi di samping Godou kosong, dia mengabaikannya dan duduk di depan.)

"Hampir tidak pernah hujan di Sardinia sepanjang tahun ini, kamu bahkan tidak tahu itu?"

Sebuah iklim Mediterania. Hujan hangat, kering, sangat sedikit. Pulau ini, di tengah Laut Mediterania, jelas juga termasuk wilayah iklim itu.

"Kalau begitu, mungkinkah ..."

"Persis seperti yang kamu bayangkan. Barangkali kejadian aneh akan terjadi — kemungkinan besar pertanda kehadiran dewata."

Beberapa menit setelah nubuat Erica, perjalanan bis pendek berakhir.

Dorgali adalah kota yang sangat kecil di kaki gunung.

Cuma ada beberapa toko dan kantor polisi di sepanjang jalan utama dimana halte bus ditandai dengan sebuah tanda. Turun, hal pertama yang Godou dan Erica perhatikan adalah awan gelap di langit. Dibandingkan dengan apa yang mereka lihat di bus, awan itu jelas lebih banyak.

Membuat langit yang tidak berawan sejernih sejam yang lalu tampak bagaikan ilusi, langit mendung yang pertama yang dilihat Godou di Sardinia membuatnya merasa tak enak.

"—Sudah disini."

Erica berbicara secara mendadak.

Lalu, tetes hujan mulai meluncur di wajah Godou. Akhirnya mulai hujan.

Hujan deras seperti mandi tiba-tiba, tapi mungkin ini bukan yang dimaksud Erica.

Sama seperti apa yang Godou pikirkan, cahaya emas berkelebat mendadak.

Kras!

Saat suara guntur meraung, kilat melanda, dan angin mulai terangkat cepat.

—Badai.

Tanpa ada tanda peringatan, badai tiba begitu saja. Lalu Godou melihat sesuatu.

Terbang dengan santai di tengah badai adalah seekor hewan raksasa berkaki empat — seekor [Kambing] di tengah langit.

Seperti seekor naga China yang melayang-layang di udara, seekor [Kambing] raksasa tanpa sayap, membawa angin, awan dan hujan, menari dengan guntur di langit.

Karena letaknya sangat jauh, ukurannya yang tepat tidak dapat ditentukan.

Namun, itu tidaklah lebih kecil dari [Babi Hutan] yang terlihat di Cagliari. Tertutup bulu putih, dan ada dua tanduk panjang yang membentang dari kepalanya.

Kuak!

Kambing itu menguak keras dan nyaring, dan meniupkan angin kencang yang tiba-tiba.

Menguak lagi, kali ini guntur dan petir turun ke tanah.

Kota ini hampir semuanya dibangun dengan kayu, tapi karena hujan turun, sangat beruntung seseorang tidak perlu cemas akan bahaya kebakaran.

Meski begitu, hal itu tidak mengubah fakta bahwa ada bencana. Dengan mata yang tak bernyawa, Godou melihat bentuk heroik [Kambing].

"Apa itu juga sebuah inkarnasi yang lahir dari dewa pedang?"

"Kayaknya, kalau bisa aku benar-benar ingin menggunakan kemampuan [Jilid Rahasia Prometheus] untuk menghentikannya, lalu melakukan kontak langsung, tapi hal itu tidak dapat dilakukan."

Perasaan yang didapatnya dari Erica mendadak berubah, dan Godou sangat terkejut.

Perasaan kemegahan seperti api dan emas, yang sangat berani dan intens akan memancarkan keindahan dan matanya.

Itu adalah sosok yang agung dan tak terhampiri, seperti peserta kelas atas sebelum sebuah kompetisi dimulai.

"Ayo, pedangku, Cuore di Leone. Pedang yang menjaga singgasana singa! Aku memohon pendahulu merah dan hitam. Berikan perlindunganmu pada tubuh dan keksatriaanku!"

Lantas Erica mulai meneriakkan kata-kata seperti mantra.

Segera setelah itu, pedang ramping yang sudah dikenal dan mantel merah yang belum pernah terlihat sebelumnya, muncul dari udara. Dengan memegang pedang di tangan kanannya, Erica membungkus jubah itu di sekeliling dirinya dengan anggun dengan tangan kirinya.

Mantel itu memiliki desain yang berani dengan garis-garis hitam dengan latar belakang merah, dan sangat cocok dengan kecantikan dan rambut pirang Erica. Dalam sekejap, Godou merasa sangat tertarik.

"Aku akan mendekati kambing itu untuk diselidiki. Godou, kamu harus mencari tempat untuk bersembunyi. Kita akan bertemu nanti."

"Kamu berencana melawan makhluk itu?"

"Tentu saja tidak! Aku cuma menyelidiki. Di mana pun kamu berada, aku dapat menemukanmu dengan sihir. Jadilah tamuku, cari tempat untuk bersembunyi!"

Sambil mengucapkan itu, Erica bergegas maju.

Cepat seperti anak panah melalui jalanan hujan seolah-olah dia tengah terbang, kecepatan ini benar-benar melampaui batas manusia.

Mungkinkah ini juga sihir? Saat Godou bereaksi kaget, dia melihat saat dia mengecil di kejauhan.

"... Ini bukan situasi yang santai, mending aku mencari tempat untuk bersembunyi."

Memeriksa situasi di jalanan, Godou kaget.

Badai dan guntur yang tiba-tiba.

Lalu, monster raksasa terbang di udara.

Dengan banyaknya anomali besar, Dorgali pun mulai gaduh.

Ada yang membuka jendela mereka untuk memeriksa kondisi badai, hanya untuk dikejutkan oleh pemandangan di udara.

Teriakan teror, teriakan kaget, kekacauan, masyarakat meraung seakan jatuh ke neraka.

Badai meniup kayu dan benda-benda ringan seperti kain ke langit. Petir menerangi kegelapan langit mendung secara berkala, sementara guntur turun dari langit membakar bumi dan menghancurkan bangunan.

Siapa yang bisa mengira kegemparan hebat semacam itu bisa terjadi di sebuah kota kecil yang berpenduduk beberapa ribu orang.

"— Lari dengan ceroboh akan lebih buruk lagi, apa yang harus kulakukan?"

Melihat kekacauan di kota, Godou tak bisa menahan desisan pada dirinya sendiri.

Karena Godou sudah tahu sebagian dari alasan mengapa hal ini terjadi, dia bisa mempertahankan ketenangan alaminya. Melihat orang-orang dalam kekacauan — dia bisa memerhatikannya.

Seperti dirinya sendiri, ada pemuda lain yang dengan tenang mengamati kerumunan orang yang panik.

Seorang pemuda tampan sangat luar biasa sehingga orang tidak pernah bisa melupakan wajahnya setelah melihatnya sekali.

Kedua tatapan saling bertukar pandang.

Ada yang tersenyum nostalgia, sementara yang lain menunjukkan ekspresi bingung.

Godou ingin menemuinya, ingin memastikan apakah dia selamat.

Namun, menghadapi pertemuan mendadak ini, ia merasa ragu. Kapanpun inkarnasi dewa muncul, pemuda tersebut juga menyaksikan. Bukankah ini seperti yang telah dijelaskan Erica?
Share: