Unlimited Project Works

19 September, 2018

Campione v2 3-2

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 2

Di kelas kelas 1-5, Erica dan Godou bersiap untuk makan siang.

Makan siang disiapkan oleh Erica—tidak, Arianna yang berperan sebagai maid. Hari ini, Godou membawa kotak makan sendiri.

Jika dia tidak melakukan persiapan, rasanya dia tengah membuat masalah bagi orang lain.

Arianna dengan murah hati mengakomodasi saran Godou. Omong-omong, Erica yang tidak berniat memasak, tetap bersikap netral dan baik-baik saja.

Pada saat ini, pengunjung tak terduga tiba.

"Hei, Onii-chan, maukah kamu memberikan ini padaku?"

Mendengar suara biasa adiknya dari rumah, Godou memalingkan muka.

Itu adalah Shizuka dengan seragam SMP-nya, dan di belakangnya ada Mariya Yuri.

"Ara. Bukankah itu Shizuka dan Yuri? Sungguh jarang kalian berdua berada di sini ..."

Erica berbicara sambil tersenyum.

Yuri hanya mengangguk sebagai jawaban, sementara Shizuka menyapanya dengan sesuatu seperti "Halo, Erica-san."

"Shizuka, apa tak masalah kamu datang ke kelas SMA?"

"Entahlah, tapi tidak ada peraturan sekolah yang melarangnya, kan? Omong-omong, Mariya-senpai sudah punya ponsel."

Seorang gadis SMP yang tampak dekat dengan Godou, ditambah kemunculan Yuri. Anak-anak lelaki Kelas 1-5 sibuk mendengarkan dengan ekspresi "apa!"

—Mariya, sudah punya ponsel?

—Idiot. Bukankah kamu tahu blog revolusi IT gadis virtual terakhir?

—Kurang ajar, makhluk yang dikenal sebagai pria sungguh punya kemampuan untuk mengubah wanita?

Dengan sedikit merasakan amarah mereka, Godou merasakan firasat yang tak menyenangkan.

Omong-omong, Shizuka tersenyum bangga. Yuri tengah mengamati perubahan di sekitarnya. Erica diam-diam mengawasi segala sesuatu dengan penuh minat sambil mengatakan "eh."

"Onii-chan, berikan nomor ponselmu dan alamat email-mu ke Mariya-senpai. Dia ingin memasukkannya sekarang juga."

"Ah? Bukankah aku sudah memberitahunya nomor teleponku sebelumnya?"

Yuri dengan malu-malu menundukkan kepalanya dan menjawab Godou.

"Maafkan aku, Kusanagi-san... aku benar-benar buruk dengan teknologi. Karena aku tidak tahu bagaimana cara mengoperasikannya, aku memutuskan untuk datang ke sini untuk menukar informasi kita setelah membahasnya dengan Shizuka-san."

"Yah, itu sebenarnya cukup sederhana, tidak sulit kok."

Jadi, secara mengejutkan dia belum terbiasa dengan hal-hal ini. Godou mengeluarkan ponselnya.

Yuri juga dengan panik membuka ponsel peraknya.

"Jadi, ayo segera kita lakukan dengan infra merah."

"Tentu. Jadi, apa melakukan panggilan berhubungan dengan infra merah?"

Apa dia tahu bagaimana cara mengirim informasi menggunakan infra merah? Atas saran Godou, wajah Yuri yang ragu penuh dengan pertanyaan.

...Pertama, mungkin lebih baik mengajari dia cara dasar untuk menggunakan telepon.

Setelah mempertimbangkan kembali, Godou memberitahu nomor telepon dan alamat email-nya pada Yuri dan menunjukkan kepadanya bagaimana cara mengirim surat. Dia menjelaskan padanya semua yang perlu dilakukan adalah mendaftarkan surat masuk dan menunjukkan caranya.

Keduanya mengoperasikan ponsel Yuri bersama-sama.

Tanpa memperhatikan, jarak antara mereka sedikit demi sedikit menyusut.

—Embusan napas mereka hampir sampai saling berhadapan. Meski wajah itu halus dan cantik, tapi juga gelisah karena Yuri mengoper teleponnya dengan canggung.

Akhirnya sadar bahwa dia adalah seorang gadis cantik, Godou mulai merasa malu.

Pada saat Godou membalikkan mukanya, tatapannya bertemu dengan mata tersenyum Shizuka yang penuh dengan niat menantang.

Orang ini, apa yang dia rencanakan kali ini? Pada saat dia menemukannya, kerusuhan anak-anak lelaki akan segera dimulai.

"Ah ohohoh, Mariya-san, maukah kamu memberitahuku nomor teleponmu!"

Nanami mendadak berteriak dari kursinya di sebelah kiri dekat bagian depan.

Anak-anak di kelas itu berkomentar seperti 'mengaku diam-diam dengan ekspresi serius bahwa aku benar-benar menemukan miko moe', atau 'Mariya yang sepertinya bekerja sebagai miko, tolong kuburkan Kusanagi dalam kegelapan untuk keamanan semua miko mandi.' Mustahil berpura-pura tidak mendengar ucapan bercanda semacam itu.

"Sama! Aku juga mau nomor telepon Mariya-san!"

"Kami tidak akan pernah membiarkanmu menyimpan informasi penting semacam itu untukmu sendiri."

"Ini untuk cinta semua cowok di kelas! Kesempatannya ada disini."

"Mati sana, Kusanagi! Kami adalah kaum jelata, dan kami bersumpah bahwa kami akan menentang akhir kelas kapitalis yang memperoleh kekayaan mereka melalui cara-cara yang tidak sah."

Saat teriakan Nanami bergema di seluruh kelas, ruangan itu penuh dengan teriakan anak-anak lelaki.

Yuri merasa terkejut dengan kekuatan keputusasaan mereka, dan mengamati sekitarnya dengan tatapan yang mendekati ketakutan ekstrem.

"Ah ah, ini buruk, Onii-chan. Sulit untuk menjadi anak lelaki yang populer."

Sang adik yang datang dengan Yuri, memfokuskan perhatiannya, berbicara dengan cara yang agak tidak ramah.

"Shi ... Shizuka, apa yang mau kamu katakan..."

"Hmph. Betapa karakter penting yang bisa disambut baik oleh para cewek, tapi sesekali kamu memerlukan obatmu."

Adikku sayang, tolong jangan menciptakan situasi untukku dengan motif seperti ini.

Godou berdoa ke arah langit sebagai tanggapan atas kata-kata Shizuka yang tanpa ampun.

"—Maaf semuanya."

Yuri-lah yang berbicara.

Dia tampak pulih dari keterkejutannya, dan berbicara dengan suara tekad.

"Aku tidak berniat bertukar nomor telepon dengan orang lain selain Kusanagi-san. Sama sekali tak ada. Jadi tolong tenang dan jangan buat macam-macam. Makasih."

Meski kata-katanya serius dan sopan, tapi ada kekuatan yang tak tertahankan bagi mereka.

Anak-anak terdiam dalam sekejap dan kelas menjadi tenang kembali. Namun, seluruh anak-anak lelaki kelas dengan marah melihat Godou dengan mata niat membunuh.

—Kau lagi dari semua kejadian beruntung ini.

—Ini sungguh percobaan lain, pergilah ke atap.

—Tembak dari belakang di medan perang, sigh.

Terperangkap dalam pusaran arus yang sunyi, Godou mulai berkeringat dingin karena merasa bahaya. Shizuka menambahkan bahan bakar ke dalam api dengan memberi komentar seperti "Wow, pernyataan berani di depan banyak orang, itu pasti benar ..."

Selain itu, Erica yang tengah mengamati semuanya menertawakan dirinya sendiri.

"Hei Yuri, meski memang benar Godou-ku cukup atraktif, tapi anak-anak lain sangat menyedihkan. Mereka telah melihat kehidupan cinta Godou dan cintaku setiap hari, sampai mengumpulkan banyak tekanan."

Tatapan kelas segera berkumpul pada gadis Italia berambut pirang itu.

Mempertahankan gerak elegan, Erica mulai menonjolkan suaranya seolah-olah dia adalah pemimpin wanita dalam sebuah pertunjukan.

"Karena tidak ada hujan hari ini, ayo kita makan siang di atap. Apa itu bagus, Godou? Kita menyambut Yuri dan Shizuka untuk bergabung dengan kita. Bukankah itu benar untuk makanan, semakin meriah, kan?"

Erica bergegas menemui Godou dan berbicara kepada kedua pengunjung itu, lalu memimpin dengan meninggalkan kelas.

Sepenuhnya yakin bahwa perintahnya akan diikuti, dia keluar dari kelas tanpa kembali.

Sungguh, pengalaman Erica di bidang ini bukanlah hal yang lucu. Entah sebagai pembicara atau sebagai pendengar, dia memiliki banyak wawasan. Godou mengambil tas makan siangnya dari tas sekolahnya.

Memancing adiknya dan Yuri untuk mengikutinya, Godou mengejar Erica.

"Merasakan sesuatu menjadi lebih menarik, Godou?"

Suasana hati Erica sangat hebat saat dia berbicara setelah Godou menyusulnya.

"...kamu cuma bersenang-senang tanpa mempedulikan orang lain. Mungkin cuma kamu yang menganggap itu lucu. Sementara itu aku dibebani oleh masalah aneh ini... Shizuka juga mulai memperhatikan ada yang tidak normal."

"Jangan cemas, tidak peduli apa yang dipikirkan anak itu, dia akan segera mengerti perbedaan kekuatannya."

"Perbedaan kekuatannya? Apa itu?"

Erica tersenyum glamor atas pertanyaan Godou.

"Entah masalah adik ipar atau istri kedua, yang paling berkuasa adalah aku—istri pertama Godou, Erica Blandelli. Pokoknya, jangan cemas dengan hal-hal sepele seperti itu, karena mereka mencari dukungan itu tak masalah bagiku!"

"Jangan katakan sesuatu seperti adik ipar, dari mana kamu bisa belajar bahasa Jepang semacam itu!"

 

Hari ini, apa yang Godou bawa adalah makan siang biasa dengan nasi dan berbagai macam acar.

Salmon dan telur ikan dalam nasi seharusnya tidak apa-apa.

...Awalnya, situasi Erica adalah dia berkomentar dengan ekspresi bijak bahwa memakan prem kering dan sejenisnya adalah tantangan bagi semua orang kecuali orang Jepang. Namun, mulai dari beberapa titik, dia mulai mendeskripsikan prem Kishu yang sangat asam sebagai "buah dengan rasa yang menakjubkan," dan bahkan memakannya bersamaan dengan biji dengan menghancurkannya menggunakan giginya.

Seorang gadis dengan tubuh yang berkembang dengan baik, yang ternyata adalah seseorang yang mau makan apapun.

Ini mungkin adalah keberhasilan pendidikan elite para ksatria untuk lebih menumpuk stamina di dalam tubuh dengan menghindari makan pilih-pilih.

Dia sekarang sedang melahap bola nasi buatan Godou.

"Terakhir kali aku makan sushi di rumah Godou, aku penasaran apakah ini adalah sesuatu yang bisa aku buat sendiri? Bukankah itu cuma nasi dengan ikan campur, sederhana sekali, kan?"

"Kalau itu yang kamu pikirkan, cobalah sendiri nanti."

Godou belum pernah melihat Erica memasak sesuatu selain mie instan, mungkin karena perhatian utamanya terhadap makanan adalah bagian "makan".

"Ogah, sungguh merepotkan."

Untuk perubahan subjek Erica, Godou mengangguk pada respons yang diharapkan.

Langit mendung, dan ada beberapa kelompok makan siang di atap yang terpisah dari mereka.

Di sebelah Godou ada Yuri yang makan siangnya sendiri dibawa dari kelas, sementara Shizuka sedang menyiapkan sandwich yang telah dia beli.

"Jadi itulah yang dilakukan Onii-chan di dapur pagi ini ... Astaga! Kamu harus menghabiskan begitu banyak usaha!"

Shizuka mengeluh saat ia memakan sandwichnya, sementara Yuri perlahan-lahan menuangkan sumpitnya ke kotak makan kecilnya.

Di dalamnya ada sejumlah kecil nasi, ikan yellowtail goreng dengan saus kedelai, serta telur goreng dan lauk pauk seperti bayam.

Beberapa sentuhan tomat sangat meningkatkan keseluruhan warna, dan terlihat sangat berselera.

"...Isinya terlihat jauh lebih sedikit dari apa yang Godou buat untuk makan siang."

"Erica, jangan kurang ajar dan menatap makan siang orang lain dengan minat seperti itu. Maafkan aku Mariya, tolong jangan pedulikan dan teruslah makan."

"Kalau, kalau mau coba, silakan memilih yang kamu sukai."

Meski suaranya terdengar agak dipaksakan, Yuri berbicara sambil tersenyum.

Mungkin dia ingin memperbaiki hubungan berbahayanya dengan Erica.

Seperti yang Godou pikirkan pada dirinya sendiri, gadis berambut pirang di sampingnya meraih tangannya tanpa ragu sedikit pun.

Langsung meraih selembar telur goreng dan memasukkannya ke mulutnya, sopan santun Erica itu buruk tapi gerakan tangannya sangat anggun.

"Hmm, rasanya tidak buruk. Kalau kamu membuatnya sedikit lebih empuk dengan tekstur yang lebih lengket maka itu akan menjadi gaya favoritku. Jika Arianna berhasil, itu pasti sempurna, tapi itu kebanyakan."

"Kamu tidak tahu cara memasak tapi kamu tahu bagaimana cara mengkritik."

Saat Godou berkomentar mengenai Erica, Godou juga mengulurkan tangan untuk mencoba telur goreng.

Nasi goreng dengan saus sangat lezat, dan saus tuna cakalang sangat nikmat rasanya.

"Ah, ini benar-benar hebat. Apa ibu Mariya-senpai yang membuat ini? Tidak seperti ibuku sendiri, masakan ini luar biasa."

Minatnya terusik, bahkan Shizuka mengambil sebagian dari telur goreng untuk dicoba, tapi jawaban atas pertanyaan tersebut mengejutkan semua orang.

"Ah tidak. Ibuku tidak membuat ini. Aku membuatnya sendiri. Luar biasa rasanya sesuai selera semua orang."

"Mariya memasak cukup bagus... APa kamu membuat sendiri makan siang setiap pagi?"

"Sesuatu seperti itu, tapi karena aku menggunakan makanan sisa dari masakan ibuku semalam, itu tidak benar-benar dihitung sebagai karya ekslusifku sendiri."

"Yah, tetap saja ini sangat menakjubkan. Dibandingkan rumahku... sangat berbeda."

Godou berbicara sangat terkesan.

Lalu dia melirik adik perempuannya di sampingnya.

"Apa, Onii-chan, ekspresimu mengatakan sesuatu."

"Biarkan aku menjelaskannya, Godou, masakan yang Arianna lakukan adalah sesuatu yang disiapkan khusus untukku sang majikan. Jangan lupakan itu."

Shizuka merasa tidak enak karena kurangnya bakat memasaknya, sementara Erica dengan egois membuang komentarnya sendiri yang disengaja.

Dibandingkan dengan keduanya, Mariya tampak jauh lebih mulia tidak peduli bagaimana kamu melihatnya.

Omong-omong, hal itu sangat berbeda dengan Godou yang telah berusaha keras untuk menguleni bola nasi dengan jumlah kekuatan yang sesuai.

"Begitu kamu terbiasa, itu tidak terasa begitu menakjubkan, kan? Kalau kamu mau, aku bisa membagikan beberapa tip tentang cara menyiapkan makanan dengan cepat."

"Kedengarannya menarik. Makasih. Kalau bisa, kedua orang itu harus—"

Godou memalingkan muka untuk menemukan Shizuka yang melotot marah pada kakaknya, sementara Erica sengaja mengalihkan tatapannya dan menatap burung-burung yang terbang di langit.

Yuri dan Godou tidak bisa tidak saling pandang dan tersenyum.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar