Unlimited Project Works

21 September, 2018

Campione v2 4-2

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 2

Saat itu sekitar senja, dan tetesan hujan berangsur-angsur mulai turun dari langit yang mendung.

Kusanagi Godou dan Erica Blandelli meninggalkan Akademi Jounan, dan di jalan pulang.

Beberapa hari yang lalu di kelas olahraga, saat Erica bermain bisbol—lebih tepatnya, Erica telah membangunkan cintanya pada bola bisbol dengan strike out sampai anak-anak lelaki sakit hati. Lalu hari ini sepulang sekolah, menyeret Godou yang tak berdaya, dia melakukan serangan ke klub bisbol.

"—Buat taruhan dan lihat apakah ada di antara kalian yang bisa memukul bola yang aku lempar!"

Erica menantang pemain resmi klub bisbol tersebut dengan keras dan jelas.

Godou mengasihani dari lubuk hatinya anggota klub bisbol yang rasa penasarannya terbangun oleh tantangan itu.

Selanjutnya, catcher pemula tim bisbol yang terkenal akan bertindak sebagai asisten Erica hari ini. Dengan kata lain, Erica bisa melempar sebanyak yang dia mau. Klub bisbol yang lemah, yang selalu kalah dalam pertandingan pertama di babak kualifikasi Kejuaraan Bisbol SMA Nasional, memiliki harapan nol untuk menang.

Godou memutuskan akan lebih aman untuk menemani Erica daripada melakukan sesuatu sesukanya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk saat ia menyaksikan Erica berhasil men-strike out pemain kedelapan berturut-turut.

"Pengganti! Aku akan mengganti batter berikutnya!"

Godou berteriak pada batter kesembilan yang sedang berjalan menuju posisi batting dengan air mata di matanya.

"Oh, Godou, aku merasa kamu sedang merencanakan sesuatu."

"Kekejamanmu berhenti di sini. Izinkan aku menunjukkan kepadamu bahwa seorang amatir hanyalah seorang amatir!"

Sambil tersenyum di gundukan pitcher, Erica tanpa takut menghadapi Godou yang mengambil pemukul logam.

Pertarungan satu lawan satu antara pitcher dan batter—

Yang pertama adalah foul. Yang kedua adalah strike. Yang ketiga tertangkap oleh catcher. Yang keempat adalah ball.

Erica yang bersikeras untuk melempar lemparan lurus sampai sekarang, tiba-tiba melemparkan dengan luar biasa. Selanjutnya, itu adalah lemparan kecepatan tinggi yang cepat seperti lemparan lurus!

Bahkan pitcher klub bisbol yang menetapkan tujuan mereka di Kejuaraan Nasional tidak akan bisa melempar melengkung dengan mudahnya.

Meski terkejut dengan atletis atipikal Erica, Godou masih memukul bola. Sebuah pukulan tajam yang membuat bola terbang dengan indah di antara base ketiga dan shortstop.

...Kenyataannya, Godou sudah meramalkan bola seperti itu di tengah jalan.

Pagi ini, berbaring di sebelah bantal Erica yang sedang tidur, adalah komik bisbol berdasarkan teknik asli. Selain itu, komik ini dibuka pada halaman yang menggambarkan lemparan melengkung dengan detail yang ketat.

—Tetapi, bagaimana jika dia benar-benar berhasil dalam lemparan seperti itu...

Jika dia serius memasuki olahraga, dia mungkin akan mencapai tingkat kelas dunia. Bakat yang mengagumkan.

Godou berpikir saat dia melihat wajah Erica yang tidak puas.

"Godou, kamu telah merusak kemenanganku yang berturut-turut, tidak bisakah kamu membaca mood-nya?"

"Bagi seseorang yang telah bermain bola bisbol dengan serius selama sembilan tahun, aku tidak dapat mentolerir untuk menontonnya lebih jauh lagi! Meskipun aku benar-benar mengerti bahwa kamu adalah orang yang luar biasa, tapi tolong bersikap baik."

Mereka berdua memegang payung masing-masing saat mereka berjalan pulang di bawah hujan.

Sebelumnya, mereka hanya kenalan saat berkunjung ke Italia, tapi sekarang sudah jauh berbeda. Pada saat Godou menyadari, itu sudah berkembang menjadi sebuah hubungan di mana mereka saling bertemu sepanjang hari dan berjalan berdampingan. Perasaan nasib buruk itu semakin meningkat.

Dewasa ini, Godou memiliki banyak kekhawatiran rahasia.

Ada kalanya kehadiran Erica memiliki semacam feminitas yang melampaui semua gadis lainnya dari usia yang sama. Perasaan ini hanya terjadi saat Godou ada di sisinya.

Seringan angin, tanpa sedikit pun kekhawatiran, perasaan bahwa menjadi satu adalah hal yang paling alami di dunia ini.

Ini pertanda buruk. Mungkin jika situasi ini dengan Erica menjadi semakin intim, tanpa peringatan akan datang suatu hari ketika Godou tidak dapat lagi menolak kemajuannya...

"Ada apa lagi, Godou, kamu tiba-tiba terlihat sangat terganggu, apa kamu menemukan daya tarik baruku?"

Erica tersenyum tiba-tiba.

Senyum cantik dan menawan seperti bunga mekar dari Camellia Jepang. Memang benar, kontak dekat seperti itu tidak akan berhasil. Godou mengambil langkah ke samping dan memutuskan untuk menjaga jarak dari Erica.

"Tidak, bukan apa-apa. Jangan menebak secara acak."

"Oh, bukan apa-apa ya? Ah, memang benar, aku hanya memikirkan sesuatu yang menyenangkan."

Erica menatap Godou seolah-olah dia memiliki motif tersembunyi, dan tiba-tiba berbicara. Menutup payung yang dipegang di tangan kanannya, dia mematahkan payung itu dengan kedua tangannya.

"Oh tidak, payungnya rusak, apa yang harus kulakukan?"

"Hei! Bukankah kamu mematahkannya sendiri, apa yang kamu bicarakan!?"

Erica mencoba bersandar di dekat Godou dan berlindung dari hujan di bawah payungnya.

Godou ingin mendorongnya pergi, tapi menyadari itu mustahil untuk mencapainya dengan kekuatan sendiri. Perlawanan mati-matian akan sia-sia. Erica memeluk lengan kirinya erat-erat dan berbisik di telinganya.


"Bukankah ini hebat? Dua kekasih berlindung dari hujan bersama seperti ini cukup bagus? Kecuali kamu benar-benar ingin melihatku basah?"

"Aku akan meminjamkan payungku padamu! Menyingkirlah!"

"Tapi kalau begitu, apa kamu tidak basah kuyup? Tolong pegang payungnya betul-betul. Ah, hujan telah menetes di bahuku, bisakah kamu mendekat?"

Tanpa menunggu tanggapan Godou, Erica membungkuk lebih dekat lagi.

Godou merasa putus asa saat tubuh yang hangat dan lembut menekannya.

Proporsi bak dewi dan sensasi merangsang dari bentuk tubuh ditularkan melalui seragam sekolah. Selanjutnya, napas yang bertiup di telinganya mengisyaratkan seberapa dekat bibirnya.

Dengan suasana seperti itu, Erica bisa saja melakukan sesuatu seperti ciuman. Godou harus melarikan diri secepat mungkin!

"Hei, hentikan, Erica. Ini di tengah jalan dan ada banyak pengamat. Tidakkah menurutmu tidak pantas bagi murid SMA dalam perjalanan pulang dari sekolah?"

Karena kekuatan tidak akan berhasil, dia harus mencoba metode lain, pikir Godou saat dia berbicara dengan panik.

"Bagi kekasih, perilaku seperti ini bisa diterima dengan sempurna. Ah, ciuman di tengah hujan, ini akan menjadi pertama kalinya. Sama untuk Godou, kan?"

Lawan yang tidak bisa ditangani dengan sedikit trik.

Erica mendekat dengan bibirnya saat dia dengan lembut berbicara dengan suara pelan. Sama seperti Godou membuat keputusan untuk berjuang dari witch ini dan melarikan diri dengan segenap kekuatannya.

"Kalau kalian tidak cukup payung, bagaimana kalau aku memberi tumpangan? Sebagai gantinya, aku harap kalian berdua bisa mendengarkan permintaanku."

Terganggu oleh suara yang tenang, Erica segera memisahkan diri dari tubuh Godou.

Sikap pertempuran—Godou merasa terkejut karena Erica telah beralih ke keadaan siaga tinggi. Ini sangat kontras dengan penampilannya seorang gadis yang mungkin memasak sambil menyenandungkan sebuah lagu.

Tatapannya diarahkan pada seorang pemuda yang berdiri di depan mereka.

"Namaku Amakasu Touma—pernahkah kalian mendengar tentang Komite Kompilasi Sejarah? Aku melakukan tugas untuk organisasi itu, senang bertemu dengan kalian."

Seorang pria mengenakan setelan berkerut dan membawa payung hitam.

Mengenakan kacamata, dia melepaskan nuansa 'orang tak berguna'.

"Sebenarnya, kami punya hubungan kerja dengan Mariya-san. Terakhir kali saat kejadian dengan Athena, kami memberikan banyak bantuan dan dukungan dari belakang."

Godou mengangguk.

Pertarungan dengan Athena telah membuat Tokyo kacau dan menghancurkan banyak fasilitas umum. Godou pernah mendengar dari Yuri bahwa Komite Kompilasi Sejarah telah sibuk sepanjang dan setelah kejadian tersebut, mencoba mengendalikan penyebaran informasi.

"Uh, apa maksudmu? Tapi aku tidak begitu mengerti, apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"

"Godou, tolong jangan bersikap ramah, mungkin dia adalah orang yang ingin memanfaatkan kekuatanmu."

"Nah, itu berlaku untukmu dan aku. Kita berdua tak bisa terpisahkan. Juga, kali ini kepentingan kita selaras."

Amakasu memaksakan senyuman atas tuduhan Erica. Namun, ekspresinya menjadi segera serius.

"Ini situasi darurat dan waktunya adalah esensi. Kami ingin meminjam kekuatanmu—Mariya-san telah diculik dan pelakunya adalah Sasha Dejanstahl Voban. Kau tahu ini?"

"...Apa!?"

Godou merasa sangat terkejut dengan kabar tak terduga ini. Nama yang didengarnya disebutkan kemarin dan fakta bahwa Yuri diculik.

"Marquis Voban? Aku hampir tidak bisa mempercayainya. Akan masuk akal baginya untuk pergi ke China dimana musuhnya Luo Hao berada. Tapi datang ke negara pulau ini di Timur Jauh, bukankah itu terlalu aneh? Dan alasan apa dia harus menculik Yuri?"

Nada suara Erica menghina dan jelas penuh dengan kecurigaan.

"Itu tidak sepenuhnya tanpa sebab. Wanita muda itu sebenarnya mengenal Marquis Voban sejak lama. Pernah ada kejadian... Lagi pula, ini sangat mendesak sekarang, bisakah kalian mengesampingkan keraguan kalian dan ikut dengan kami?"

"Ok, kemana kita pergi?"

Godou segera menjawab permintaan Amakasu yang rendah hati, tanpa ragu atau mempertimbangkan.

"Ya, aku harap kalian bisa mengerti permintaan mendadak dan mencurigakan ini—satu-satunya yang bisa bertarung dengan Campione adalah Campione yang lain."

"Aku akan membantu, jadi mari kita pergi ke lokasi Mariya segera."

"Uh, apa tidak masalah?"

Amakasu merasa terkejut dengan jawaban langsung Godou, karena dia siap untuk melanjutkan ucapan bujukannya.

Godou mengangguk, tapi Erica di sampingnya mengerutkan kening.

"Godou, tolong jangan menganggapnya enteng. Maukah kamu menunjukkan sedikit keraguan?"

"Aku tahu. Tapi bagaimana aku bisa tetap tenang mengetahui bahwa seorang teman berada dalam bahaya?"

Peringatan Erica benar. Meski dia tidak mengakuinya, Godou setuju dengannya.

Biar bagaimanpun, dia juga punya 'berita' yang disediakan tadi malam.

"Sebenarnya semalam si bocah Salvatore Doni itu memanggilku. Orang sibuk itu bercerita tentang Marquis Voban yang datang ke Jepang, dan meskipun dia berbicara seperti orang idiot sepanjang waktu, aku yakin Erica tahu dia adalah pria yang tidak berbohong, bukan?"

"Sir Salvatore?"

Meski karakternya bermasalah, tapi Salvatore Doni bukanlah pembohong.

Seorang pria yang sama sekali tidak berguna saat berhadapan dengan situasi menipu. Kegagalan penuh seorang pria yang akan mencoba memecahkan setiap masalah dengan sebilah pedang.

"Yah, kalau begitu jangan salah. Kalau orang itu hidup kembali maka siapa yang tahu kapan dia akan menyusahkan Godou, jangan ceroboh ..."

"Ya, Erica. Mungkin akan merepotkan kalau kamu terjebak dalam konflik lain dengan Campione, kenapa kita tidak berpisah?"

Godou memberi saran pada pendampingnya sambil mengoceh.

Terakhir kali pertarungan dengan Doni sepertinya telah membuat Erica kerepotan.

Bagaimanapun, dia telah menjadi musuh bersama Campione yang dikenal sebagai [Kepala] di Italia. Salib Tembaga Hitam miliknya telah memerintahkan semua bantuan yang diberikan kepada Godou untuk dihentikan, tapi Erica mengabaikannya.

Masalahnya tidak terselesaikan, dan hubungannya dengan Doni memasuki jalan buntu.

Ini bisa jadi masalah besar lainnya. Raja Iblis Balkan mungkin juga memiliki pengaruh kuat terhadap Salib Tembaga Hitam.

Tempat itu tak terduga dekat dengan Italia. Namun, Erica menggelengkan kepalanya.

"Godou, apa kamu berencana untuk meninggalkanku sebagai ksatria nomor satu ini dan akan bertemu dengan seorang Raja Iblis? Aku tidak akan mengikuti perintah bodoh semacam itu. Kamu masih belum terbiasa dengan masalah ini, jadi mengapa kamu tidak menerima pertolonganku secara jujur?"

Godou menggaruk kepalanya di wajah sombong itu.

Kapanpun Erica berbicara begitu, biasanya pura-pura bersikap keras kepala yang berasal dari pertimbangan untuknya. Perasaan ini mengandung rasa malu dan syukur.

"Amakasu-san, bukan? Jadi inilah rencananya, bawa kita ke tempat pria tua itu dan Mariya berada. Kami akan mencoba yang terbaik."

"Terima kasih, Raja. Bantuan Anda sangat dihargai!"

Amakasu melirik Godou dan Erica secara terpisah, dan menundukkan kepalanya dengan sangat ambisius.

Itu hampir seperti gerak aktor komedi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar