Unlimited Project Works

23 September, 2018

Campione v2 5-2

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 2

Lari

Di bawah guntur dan hujan deras, gerombolan bayangan kelabu berlari.

Bayangan—tidak, jika orang melihat dengan saksama, itu adalah siluet serigala. Mereka berjumlah sekitar tiga puluh atau empat puluh.

Sekumpulan serigala berwarna kelabu bak bulu tikus.

Tapi ukuran serigala itu tidak normal, karena tubuh mereka yang tinggi dan kokoh bisa dengan mudah disalahartikan dengan kuda.

Sekumpulan serigala raksasa berderap menuruni Jalan Tol Shuto dengan kecepatan mengerikan, mengejar mobil Godou dari belakang.

...Anehnya, jarak di antara mereka menyusut.

Masih sekitar tiga puluh meter, tapi mereka akan segera menyusul.

"Jadi ini [Serigala] yang disebut oleh kakek tua itu? Ini monster sungguhan."

"Aku juga baru kali ini melihat mereka. Marquis mampu memanggil ratusan [Serigala] ini dan dapat dengan mudah membasmi sepuluh sampai dua puluh desa atau kota dengan mereka."

Melihat keganasan serigala dari jendela belakang mobil, Godou dan Erica saling bertukar pendapat.

Hewan buas yang sangat lapar seolah-olah mereka telah menemukan mangsanya.

Mungkin orang bisa mengerti dengan uraian berikut. Sekumpulan serigala yang bola matanya berkobar dengan warna darah sambil meneteskan air liur dan mengejar dengan ganas.

"Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya tak ada mobil yang mendekat. Ada apa..."

Godou bergumam saat menyadari kecerobohannya.

Meski lalu lintas tidak berat hari ini, jumlah mobil di Jalan Tol Shuto seharusnya takkan kosong. Padahal, seharusnya ada mobil di depan dan mobil dari belakang yang coba lewat.

Tapi mulai lima menit yang lalu, jumlah mobil di sekitar mereka menjadi sangat sedikit.

Ini tidaklah aneh. Jika pengemudi normal melihat monster jenis itu berlari di jalan, mereka pasti akan membuat jalan bagi mereka. Ini tidak sulit dibayangkan.

"Mari kita berharap serigala-serigala itu tidak menimbulkan insiden serius..."

Godou hanya bisa berdoa ke langit.

Serigala kelabu mungkin hanya menargetkan Godou dan Yuri serta harus mengabaikan mobil-mobil lain. Makanya, kecemasan itu sepertinya tidak mungkin. Tapi tetap saja, mereka harus mempersiapkan yang terburuk.

...Dalam tabrakan mobil, serigala itu mungkin akan mengempaskan mobil sebagai gantinya.

"Amakasu-san, tolong hentikan mobilnya! Jangan melibatkan orang yang tidak terkait!"

"Aku menolak untuk berhenti, tapi kita pasti harus menghindari pengejaran di tempat seperti ini."

Setelah diberitahu oleh Yuri, Amakasu memutar kemudi.

Saat itu di persimpangan Kokuchou di Rute 3 Jalan Tol Shuto.

Amakasu mengarahkan mobil ke jalur menuju pintu keluar menuju ke jalanan biasa.

"Apa kamu berencana mengemudi di jalanan? Itu sangat berbahaya!"

"Kalau kita diserang oleh monster-monster itu sambil mengemudi dengan kecepatan tinggi, hasilnya akan tragis! Karena mereka akan menyusul cepat atau lambat, akan lebih mudah untuk lolos di jalanan biasa."

Tentu saja, alasan ini memiliki kelebihan, jadi Godou segera menanggapi saran Amakasu.

"Kalau begitu, tolong beritahu kami di tempat yang sesuai, lalu coba pikirkan solusinya!"

—10 menit kemudian, Amakasu telah mengemudikan mobil ke jalanan di sekitar distrik Roppongi.

Ini adalah pusat kota yang berisi bangunan bertingkat tinggi, hotel mewah dan stasiun televisi, dengan kuil, biara dan kedutaan sedikit lebih jauh.

"...Bisakah kamu menghentikan mobil di sana? "

Karena hujan deras yang menerpa jendela, sulit dilihat di luar dengan jelas. Godou masih berhasil menemukan tempat yang bagus dan mulai mengingatkan Amakasu.

Berbelok di persimpangan, mereka berhenti di depan sebuah sekolah dasar.

Sebuah sekolah dasar pusat kota. Baik taman bermain maupun area keseluruhannya sangat besar, tapi cukup untuk sedikit mengamuk. Karena sudah malam, takkan ada anak-anak.

Godou menyuruh Amakasu menghentikan mobilnya dan turun ke jalan.

Badai sangat dahsyat.

Saat tetesan air hujan yang ditiup angin menyambar tubuhnya menyamping, pakaiannya basah kuyup dengan cepat karena air hujan. Hujan juga mengisi sepatunya dengan air.

Sebuah payung dalam situasi seperti itu kemungkinan besar akan segera terbang.

"Kenapa kamu tidak ikut juga, Mariya. Meski cuacanya buruk, tolong tahan."

Godou membuka pintu ke jok belakang dan mempercepat Yuri untuk turun.

Namun, Hime-Miko dari Musashino tampaknya tidak berniat mengikutinya. Dia hanya menatap Godou, memohon dengan tulus.

"Kusanagi-san, seharusnya kamu melihatnya, kan? [Serigala] dan [Budka Mati] hanyalah bagian dari kekuatan Marquis Voban. Kamu tidak bisa mengalahkannya. Dan kalau kamu mati-matian, pasti akan membawa kerusakan ke sekitarnya."

Jadi, tolong serahkan aku. Atas permohonan ini, Godou menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak terlalu pintar, dan tidak bisa mengerti alasan untuk melakukan itu. Yang aku tahu yakni: kamu adalah temanku yang pernah membantuku. Kalau aku meninggalkan perempuan semacam itu, aku akan menyesalinya — seperti yang telah kukatakan tadi, ini adalah sikap keras kepalaku."

Godou menawarkan tangannya pada Hime-Miko terus-menerus.

Berharap dia bisa menerima tangan ini. Itulah yang Godou harapkan dari lubuk hatinya.

"Aku tidak ingin menyerahkanmu ke kakek tua semacam itu. Dan aku bukan satu-satunya yang berpikir begitu. Membiarkan seorang gadis pemberani dan penyayang menderita kekejaman begitu dari pria tua yang keras kepala itu, jika ada orang lain yang mendengar tentang kekejaman semacam itu, aku yakin sembilan dari sepuluh orang akan setuju dengan keputusanku."

Godou merasa bahwa keterampilan mengucapnya sangat buruk.

Sambil mengumpat ketidakberdayaannya sendiri pada saat yang sangat penting, Godou terus berbicara.

"Jadi, mari kita pertimbangkan ini... Tentu saja aku tahu bahwa melawan kakek tua itu akan membawa masalah bagi banyak orang. Tapi jika hal itu dijelaskan dengan benar, mereka harusnya bisa bertahan untuk sementara. Aku minta maaf karena memutuskan tanpa konsultasi, tapi itu adalah sesuatu yang mendesak."

Godou bertanya-tanya apakah dia bisa menemukan kata-kata untuk membujuk Yuri yang merupakan orang paling serius yang dia kenal.

Merasa tidak ada alasan lain untuk beralasan, Godou berdoa semaksimal mungkin saat mencoba menyampaikan keinginannya untuk keselamatannya.

"Aku mengerti bahwa kamu cemas dengan banyak hal, tapi tolong ikut aku. Aku mohon, Mariya."

"Kekuatanmu, kamu mengerti bahwa kamu tidak bisa mengalahkan Marquis, bukan?"

"Aku tidak ada niat untuk memaksakan diri menang, tapi tidak apa-apa asalkan menghindari kalah. Selama aku bisa melindungi Mariya, aku puas. Kalaupun lawanku kuat, tidak mudah untuk seimbang. Pasti, ada yang bisa dilakukan."

Sebuah ucapan optimis tanpa cemas, hampir terdengar seperti ucapan Salvatore Doni.

Sebagian demi memberi kepercayaan Yuri, Godou memaksa dirinya untuk berbicara dengan cara ini.

Itu adalah ucapan dengan alasan bodoh dan sama sekali tidak ada kredibilitas. Akhirnya Yuri mendesah setelah mendengarkan.

"Sungguh, cukup... kamu tidak memberiku pilihan. Biasanya kamu bicara dengan bijaksana tapi mengapa saat ini kamu sangat ceroboh..."

Yuri mendongak dan menatap langsung ke mata Godou.

"Tidak peduli betapa benarnya melawan orang seperti itu, aku masih tahu kamu tidak akan berhasil. Jadi cukup, Bujukanmu itu seperti orang bodoh."

Tidak sesuai dengan nada tajamnya, dia tidak menatap Godou dengan tegas.

Yuri mengulurkan tangannya dengan ketus.

Tangan halus itu perlahan mengulurkan tangan ke arah tangan Godou yang terulur.

"Bukannya aku percaya ucapan Kusanagi-san atau semacamnya. Jangan salah paham. Bukannya aku ingin kamu mempertaruhkan nyawamu atau sesuatu seperti itu. Lagi pula, aku hanya korban penculikanmu. Aku kira perlawanan itu sia-sia... Sebenarnya, ini semua ada karena itu, jadi jangan salah paham."

"Ya, aku mengerti. Ini sudah cukup, Mariya."

Mariya meraih tangan Godou dan mencengkeramnya erat-erat.

Bak anak hilang yang akhirnya menemukan ayahnya.

Godou mengangguk dengan senang hati. Wajah Yuri tersipu dan dia menundukkan kepalanya.

Yuri berdiri dan meninggalkan mobil, berjalan dalam hujan.

Pakaian putih Jepangnya langsung basah kuyup oleh hujan, dan menempel erat pada bentuk tubuhnya yang sangat feminin.

"Aku akan menghadapi Marquis bersama Kusanagi-san—jadi, tolong jaga aku."

"Kita akan melakukan yang terbaik."

Meski sepertinya dia belum sepenuhnya mendapatkan kepercayaan yang lain, Godou menjamin dengan wajah tersenyum.

Yuri juga menanggapi dengan senyum malu mirip dengan bunga ceri yang jatuh.

"Sekarang sudah diputuskan, mari kita siap-siap... Mariya, kamu harus menyeberangi pintu itu dulu..."

Saat Godou menunjuk pintu masuk sekolah, Yuri menghela napas.

"Aku mengerti, ini memang melanggar, sungguh melanggar hukum..."

"Umm, tolong jangan memarahiku untuk saat ini. Bahkan aku pun merasa tidak nyaman dengan hal ini. Erica, kumohon."

"Yeah yeah. Meskipun kamu membicarkan renungan, tapi tindakan aslimu benar-benar mengkhianatinya—itu adalah salah satu poin terburuk Godou. Nah dalam hal ini, kita tidak punya pilihan selain mengandalkanmu."

Erica tersenyum jahat dan juga turun dari mobil.

Sambil membungkuk ke depan, dia meraih satu sisi rok seragamnya.

Lalu dia merobeknya dan melakukan hal yang sama pada sisi lain, membuat celah robek di kedua sisi roknya. Tentu saja hal itu dilakukan untuk memudahkan pergerakan.

"Singa baja, perisai [Diavolo Rosso], semoga mantraku merespons kehendakku!"

Mengabaikan hujan, Erica menggunakan sihir pemanggilan.

Pedang ajaib singa, Cuore di Leone, muncul di tangan kanannya.

Mempersiapkan posisi pertempurannya, Erica mengayunkan pedang kesayangannya ke dalam bentuk V. Pintu masuk sekolah dasar dipotong oleh serangan yang menyayat.

"Ah, ini adalah sesuatu yang tidak bisa aku tangani, jadi aku akan memberikan suport dari kejauhan. Maaf, aku tidak bisa banyak membantu. Kuharap kalian beruntung."

Kata Amakasu.

Pada saat putus asa ini, dia masih duduk santai di kursi pengemudi.

"Hmph. Tidak terbiasa dengan pertempuran, sungguh—tapi aku rasa kamu tidak kompeten."

"Ya, Erica-san. Jika aku harus melawan Anda, aku akan kalah total dalam tiga puluh detik."

"Begitu? Dari perkiraanku, kamu bisa bertahan sekitar tiga ratus detik. Karena jarang menemukan peluang, apa kamu ingin mencobanya sekarang?"

Senyum yang muncul di wajah Erica bak bunga beracun, Amakasu bersikap bodoh dan membuat senyum menjilat.

Setelah berbasa-basi, mereka bertiga memasuki sekolah di bawah perlindungan malam.

Saat itu pukul 8 malam. Mungkin saja ada staf yang lembur. Godou berdoa agar mereka tidak keluar dari gedung jika memang ada.

Godou bertujuan ke tempat bermain yang seharusnya terbukti menguntungkan.

Bagi [Serigala] yang memiliki indra penciuman yang tajam, bersembunyi itu barangkali tidak berguna sehingga akan lebih baik memilih lokasi dengan pandangan yang jelas dari lawan.

Mereka menunggu di tempat bermain sekitar lima menit.

Akhirnya, sekumpulan serigala raksasa muncul. Tak terduga untuk tubuh besar mereka, serigala melompati pagar sekolah dengan mudah dan memasuki taman bermain.

[Serigala] berjumlah kira-kira tiga puluh atau empat puluh mendekat secara perlahan.

"Aku akan mengurus mereka. Lagi pula, sebaiknya jangan menggunakan [Kuda Putih] atau [Burung Pemangsa] di tempat begini. Simpanlah bentuk Verethragna untuk Marquis."

"Kalau begitu aku akan menyerahkannya padamu."

Godou mengangguk dengan murah hati atas usul Erica.

Dari sepuluh bentuk yang diambil dari Verethragna, kebanyakan tidak memberikan keuntungan dalam menangani musuh yang berkelompok.

Kuda Putih yang memanggil api matahari dari langit adalah satu dari sedikit pengecualian, tapi terlalu kuat untuk digunakan dengan gegabah.

Di sisi lain, [Burung Pemangsa] relatif lebih normal, tapi ada akibatnya setelah penggunaan.

"—Mari, penyelamat orang-orang kafir. Tuhan yang dijanjikan lahir dari sang Perawan!"

Erica berbicara lembut ke pedang perak dan meneriakkan mantra.

Cuore di Leone melayang ke udara seolah-olah dipimpin oleh sebuah benang tak terlihat.

"Demi nama kudus, ya Tuhan lengan yang tak terhitung jumlahnya. Tuhan dipuji! Dikuduskanlah nama-Mu!"

Satu pedang, dua pedang, tiga pedang. Cuore di Leone mengalikan pedang berbentuk sama yang muncul di udara di depan Erica.

Dalam sepuluh detik, pedang perak ajaib telah berlipat ganda sampai tiga belas.

"Kalau begitu sekarang saatnya menentukan pemenangnya, Cuore di Leone!"

Mantra ini menjadi pemicu sinyal.

Tiga belas pedang itu menjadi tiga belas panah dan terbang dengan kecepatan kilat.

Mengarah antara mata [Serigala] yang masuk, mereka menusuk ke depan.

Serigala-serigala kelabu berteriak menyedihkan.

Namun darah tidak keluar dari luka mereka. Sebagai gantinya, cairan hitam biru mengalir dari dahi mereka. Mayat serigala-serigala raksasa meleleh ke dalam kegelapan dan lenyap.

Layaknya ksatria kematian, mereka tampak makhluk yang tidak normal.

Melenyapkan tiga belas dari sekumpulan dalam satu gerakan, Cuore di Leone terbang dan kembali ke tangan Erica.

Pada beberapa saat yang tidak diketahui, ia kembali ke pedang asli.

"Anjing pemburuku tampaknya tidak efektif melawan [Diavolo Rosso], sayang sekali."

Suara yang familier terdengar.

Perwujudan tirani yang disamarkan oleh aliran intelektualitas, Raja Iblis tua berbicara dengan pelan.

"Maaf telah membuatmu menunggu, bocah. Apa kau dihajar kalah olehku?"

Guntur jatuh. Angin kencang menjerit. Tetesan hujan jatuh berulang kali ke tanah. Suara Voban terbawa, sama sekali tidak terpengaruh oleh suara-suara itu.

Sombong seperti biasanya, Raja Iblis berjalan santai ke tengah taman bermain.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar