Unlimited Project Works

24 September, 2018

Campione v2 6-1

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 1

Erica Blandelli mengingat dari pengalamannya keberadaan sihir [Melompat].

Itu adalah semacam sihir yang meringankan tubuh seseorang dan membiarkan kemampuan melompat seseorang melampaui batas manusia. Dengan menggunakan ini, dia bisa melakukan gerakan menakjubkan yang dipopulerkan oleh film Hong Kong kesayangannya hanya melalui penggunaan alat pengaman.

Bahkan tanpa berlari, ia bisa melompat ke tempat-tempat yang lebih tinggi dari ketinggiannya sendiri.

Dia bahkan bisa berlari ke dinding vertikal atau melakukan akrobat lincah yang bahkan aktor stunt paling hebat pun tak pernah bisa diharapkan untuk meniru.

—Kini dengan terampilnya dia menggunakan sihir ini untuk melarikan diri.

Di pusat kota di tengah malam yang penuh badai tanpa ada tempat berlindung.

Terbang di antara deretan bangunan menjulang dari atap sampai atap, Erica sering berlari-lari di sekitar kota sehingga bahkan sesuatu seperti kucing atau monyet tidak bisa bertahan.

Erica membanggakan diri pada sihir ini. Jika dia menggunakannya dengan serius, hampir tidak ada orang yang melampaui keahliannya.

Namun, di antara para ksatria kematian ada tiga yang juga unggul dalam jenis sihir ini. Begitu juga mereka menggunakan sihir [Melompat], mengejar seperti bayangan kematian.

"Benar-benar sulit untuk ditangani—"

Desis Erica.

Angin kencang mengguncang tubuhnya, dan hujan membuat jarak pandang sangat buruk. Selanjutnya, sudah malam hari. Karena basah di mana-mana, salah langkah ceroboh bisa dengan mudah menyebabkan jatuh.

Erica terus berlari tanpa terpengaruh oleh kondisi yang tidak menguntungkan ini.

Namun, itu mungkin cukup. Mengguncang mereka dari jejaknya akan menjadi mustahil jadi barangkali bukan ide buruk untuk berbalik dan melakukan serangan balik di sini.

Ada tiga ksatria yang mengejar.

Selain jumlah yang kurang menguntungkan, dan juga agak sulit untuk menghabisi satu dari mereka dengan serangan pertama.

Saat menggunakan sihir [Transformasi] pada pedang ajaib di tangan kanannya, dia melihat ke belakang untuk mengamati. Cuore di Leone mengubah bentuknya dari pedang ramping menjadi tombak lempar.

Tombak pendek tapi berat dimaksudkan untuk dilempar.

Dengan memutar, dia melempar sudut yang tajam. Pada saat tombak lempar itu meninggalkan tangan Erica, dua klon identik juga tampak seperti bayang-bayang.

Sebanyak tiga lemparan terbang langsung ke arah tiga ksatria kematian.

Ujung tombak menembus dada mereka dengan tajam, menusuk jantung yang terlindungi di balik rantai besi.

Jiwa mati yang masih hidup runtuh menjadi debu.

Kemungkinan kemampuan pengambilan keputusan dari para ksatria kematian — kemampuan berpikir, lebih rendah daripada saat mereka masih hidup. Butuh waktu lama untuk mengubah tindakan mereka.

Karena itulah Erica bertindak seperti dirinya. Berlari menjauh diikuti dengan serangan balik yang cepat, rencananya mulai membuahkan hasil dengan sempurna.

—Namun, performa terakhirnya belum dimulai.

Saat Cuore di Leone kembali dari bentuk tombaknya kembali ke pedang, Erica membuat persiapan untuk musuh yang tersisa.

Sekarang adalah saat kunci. Pedang, sihir, strategi, kebijaksanaan. Penentang yang mencocokkannya dalam setiap kategori ini segera tiba.

"Berlari jauh ke sini, itu benar-benar tidak sesuai dengan pilihanmu untuk pertempuran spektakuler."

Suara itu keluar dari malam hujan.

Suara perempuan yang elegan dan manis, tapi menyembunyikan kekuatan besar di balik keramahan tersebut.

"Seperti tikus yang berlari-lari, ini sudah berakhir. Erica Blandelli."

"Kalau dipikir-pikir lagi, kamu pernah bilang ingin terbang seperti burung layang. Lily, itu tidak bagus, kamu kekurangan ekspresi puitis."

Liliana Kranjcar.

Di tengah angin kencang, Erica mengejek gadis yang benar-benar basah kuyup itu yang cantiknya bak bidadari dan mengenakan jubah biru serta hitam. Baginya untuk tampil di sini tak ada yang luar biasa.

Gadis ini adalah keturunan witch sejati dan layak. Benar-benar melebihi Erica, dia adalah seorang ahli sihir terbang.

"Jangan panggil aku Lily! —Kalau kau tidak bekerja sebagai bawahan raja yang lemah itu, maka tidak usah menandinginya. Selain itu, tak usah jadi rubah. Sungguh tidak masuk akal!"

"Daripada licik, ini hanyalah cintaku. Ini tidak sepertimu, karena tidak merasakan ucapanmu."

Saat kedua ksatria wanita berbicara di bawah hujan dan angin yang deras, mereka berjalan ke arah satu sama lain.

Mereka memahami kemampuan masing-masing dengan sangat baik. Entah yang menang atau yang kalah, takkan bisa menyelesaikan pertempuran tanpa cedera.

"Sayapku, bentuklah baja ke dalam pedang ilusi—Il Maestro, pinjamkan kekuatanmu!"

Liliana mengangkat lengannya ke arah langit, dan dengan keras memanggil pedang kesayangannya itu.

Saber panjang berwarna perak itu muncul dan Liliana melompat dari tanah pada saat itu juga.

Mendekati kilatan petir.

Dengan kecepatan yang sebanding, Erica menghindar ke samping. Alih-alih ilmu pedang, itu lebih seperti menari— langkah melompat seperti flamenco, sambil menghindari serangan dari musuh yang mendekat.

Liliana, yang berhasil mengatasi kecepatan Erica, bergerak pelan dengan langkah meluncur.

Berlari-lari seolah-olah dia sedang bermain seluncur es, dia mengejar jejak ringan Erica.

"Jangan mengira kau bisa lolos dariku dengan kecepatan seperti itu!"

"Benar. Kalau begitu, biarkan aku mengalahkanmu dengan kekuatan!"

Erica melakukan dorongan maju dengan Cuore di Leone, yang mengarah pada jantung Liliana.

Itu bukan serangan tunggal. Dalam sekali napas, Erica menyerang tiga kali, sebuah langkah pembunuhan yang terdiri dari tiga tusukan mendadak.

Il Maestro melepaskan nada metalik melodik bak instrumen, dan pada saat yang sama menangkis serangan Erica secara berirama.

Kemahiran Liliana sangat indah dan sangat tepat.

Dengan terampil memegang senjata berat itu, sekaligus melakukan serangan kuat, Erica memindahkan pedang ajaib yang sangat indah untuk menghindari serangan ringan atau menangkis.

Erica tidak menyerang dengan meninggalkan, tapi menunggu waktunya.

Bukan pedangnya, tapi dengan kakinya. Bertujuan pada insting Liliana, Erica melangkah tanpa ampun ke arah kaki lawannya seolah-olah menghancurkannya dengan tumitnya.

"Tunggu, kamu menggunakan kakimu dengan keji seperti dulu!"

"Lily, lihatlah dirimu. Kamu masih belum mengubah kebiasaan mengumpat saat kamu bersemangat. Seorang ksatria harus selalu berusaha melakukan pertempuran yang lebih spektakuler!"

Menuju Liliana yang mundur untuk menghindari tumit lawannya, Erica tersenyum anggun.

Saat mereka terus menebas dan saling menyerang, jarak di antara mereka sedikit demi sedikit menyusut. Dalam hal ini, situasi pertempuran jarak dekat akan berkembang, dan menggunakan kaki adalah bagian normal dari ilmu pedang.

Mempertahankan posisinya, Erica langsung jatuh ke bawah.

Pedang ajaib singa itu diblokir oleh Il Maestro. Mendekat pada penjaga pedang. Segera Erica melangkah maju pada benturan, menggunakan pedang ajaib untuk menerbangkan Liliana yang ringan.

"Gadis sangat kuat ini! Pertarungan spektakuler apanya? Ini seperti kuda yang menarik gerobak dengan kekuatan kasar!"

"Kalau begitu, bukankah lebih baik menggambarkannya sekuat dan seagung seekor singa?"

Kepada lawan umpatanya, Erica membalas dengan senyuman.

Liliana mendengus dan mengambil langkah besar. Ini adalah persiapan untuk keterampilan terbangnya. Untuk terbang bebas di langit bagaikan burung, ia membutuhkan jarak yang tepat.

"Kalau begitu, lalu aku akan melambung tinggi seperti elang. Bersiaplah... Hmph, mereka sudah menyusul?"

Secara tidak sengaja Liliana terkejut.

Erica mudah menebak alasannya. Dengan deru rantai besi dan senjata metalik lainnya, jelas beberapa ksatria lain telah tiba dengan menggunakan [Melompat].

Ksatria kematian tengah mengejar Erica dengan perintah dari Voban.

Ada empat di antara mereka.

Mereka mengambil posisi dan mengelilingi bangunan dimana dua gadis itu sedang bertarung.

Tersebar di antara atap rumah dan bangunan di sekitarnya, mereka membentuk jaring pengepungan.

"...Sepertinya mereka akan mengganggu kita. Lalu, aku akan mundur dulu. Kalau kau bisa keluar dari sini, marilah kita menentukan pemenangnya pada hari lain."

Liliana berbicara sambil meletakkan Il Maestro.

Kehilangan semua ketertarikan karena duel itu terganggu. Alih-alih berjuang demi pembunuhan atau kecerdasan dan kekuatan, ksatria berjuang untuk menunjukkan keahlian dan keberanian mereka.

Sungguh rival agungku. Orang yang bisa membedakan pertempuran dari duel dengan benar.

...Namun.

Pada saat ini, Erica memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini.

Bukan dengan serangan mendadak, tapi melawan keempat ksatria kematian ini berhadapan muka akan terlalu sulit. Namun, akan sangat berbeda jika dia memiliki partner yang setidaknya setara dengan dirinya. Untungnya, kartu truf seperti itu ada di sini.

"Hei Lily, kebetulan ada yang ingin kukatakan padamu..."

Dengan suara ramah dan indah yang jarang digunakannya, Erica berbicara.

"Tidak mungkin. Aku benci berbicara denganmu dan itu tidak akan pernah berakhir dengan baik. Bukankah lebih baik bagiku untuk melihat situasi berbahaya saat ini?"

Respons Liliana agak dingin.

Namun, Erica mengharapkannya dan menunjukkan senyuman yang terbuka seperti yang dilakukan seorang bangsawan.

"Jangan bicara begitu dingin oh. Ini mungkin terbukti menguntungkanmu—Lily, apa kamu benar-benar memikirkan untuk melayani Marquis Voban dan mengikuti setiap perintahnya mulai sekarang?"

"Kenapa tidak? Aku hanya memenuhi tugasku kepada sang [Raja]."

Tanpa ragu, jawaban yang tepat.

Namun, inilah mengapa sangat menyenangkan bermain-main dengan Liliana Kranjcar.

Merasakan gerakan ksatria kematian, Erica menambahkan penekanan pada nada suaranya. Jika mereka menunggu waktu mereka sebelum bergegas, maka inilah saatnya membawa Liliana ke sisinya!

"Begitu... Kalau memang begitu, mengapa kamu tidak memenuhi tugasmu dengan raja lain? Kalau itu satu-satunya alasan mengapa kamu mengikuti Marquis, maka tidak masalah, bukan?"

"...Apa kamu menyarankan agar aku mengubah kesetiaanku kepada Kusanagi Godou?"

Melihat alis mata Liliana berkedut, Erica berbicara seperti kakak atau orang lebih tua.

"Benar. Kalau itu dia maka kamu pasti akan merasakan sensasi pertarungan—Lily, apa kamu benar-benar mengikuti Marquis ke Tokyo tanpa keberatan? Aku mengerti kamu dengan baik, Lily, itulah sebabnya aku ragu-ragu. Ini sama sekali tidak seperti kamu menyerah pada tirani Marquis dengan sangat patuh."

"Ini dan itu. Itu semua salahmu, Erica Blandelli!"

Tanpa tahu alasan kemarahannya, Erica merasa agak terkejut.

"Eh, benarkah begitu? Kenapa?"

"Ini sepenuhnya salah tindakanmu melawan Kusanagi Godou dan menerima peran pacarnya! Inilah yang memancing pertentangan oposisi kakekku!"

Merasa ada sebuah kisah tersembunyi di balik penjelasan ini, Erica membuat catatan mental.

Kakek yang tinggal di pengasingan itu terkenal di antara pemuja Dejanstahl Voban.

Belajar bahwa nona muda dari keluarga Blandelli yang mana rival mereka telah menjadi kekasih Campione yang baru lahir, pastilah dia merasa hari-harinya telah sia sia. Maka dia pasti sudah lama mengatur mengenal raja tua memanggil cucunya untuk memenuhi keinginannya.

"Mungkinkah itu benar, Lily, bahwa kakek mengirimmu ke Marquis agar cucunya sendiri bisa menjadi kekasih seorang [Raja]? Bukankah ini keputusan yang salah?"

Dari gadis yang jujur ​​ini, mengharapkan rayuan terlalu banyak.

Erica merasakan simpati pada Liliana yang marah.

"Sungguh. Cucunya ini dikira apa..."

"Kalau begitu, mengapa tidak mengakhirinya? Lily, kamu menekan keinginanmu sendiri untuk memenuhi perbuatan keterlaluan Marquis. Bukankah sudah waktunya bagimu untuk menjadi dirimu sendiri, Liliana Kranjcar? Salah satunya adalah seorang tiran yang akan memaksa seorang perempuan untuk melakukan permintaannya yang tidak masuk akal, sementara yang lainnya adalah raja muda yang berjuang untuk membantu perempuan tak berdaya ini—menurutmu, manakah sisi yang benar?"

Ksatria kematian hendak menyerang. Nasib Godou dan Yuri masih belum diketahui.

Terlalu banyak hal yang harus dikonfirmasi, dan terlalu banyak masalah yang membutuhkan solusi. Namun, orang tidak boleh menyerah pada kegelisahan sehingga Erica menghadirkan kedermawanan santai dan terus melanjutkan.

"Kalau kamu tidak pernah bersumpah setia kepada Marquis secara lisan, maka raja yang kamu pilih adalah keputusanmu... Jika pria tua anakronistik itu keberatan, maka Salvatore Doni akan menjawab sebagai kepala alsi Milan. Karena Kusanagi Godou adalah sekutunya dan saat ini memperjuangkan yang lemah—kurasa kamu akan segera kehilangan alasanmu untuk melayani Marquis, Lily."

"Hmph. Sebuah usulan menarik, tapi apa kau bermain-main denganku sekali lagi?"

Liliana menatap curiga sekelilingnya.

Erica melakukan hal yang sama. Dengan mengamati area itu saat dia berbincang elegan, dia tidak pernah melepaskan pengawalnya sejenak. Dia siap bertempur kapanpun.

"Ara, apa aku pernah main-main denganmu, Lily?"

"Jangan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Dua tahun yang lalu, saat kita pingin untuk pergi ke bioskop, bukankah kau tertawa saat kau berhasil menipuku agar menonton film romantis itu dengan pemandangan ranjang yang intens!?"

"Aku juga tidak tahu film semacam itu. Dan sungguh, Lily, kamu bahkan pingsan sampai bermimpi indah di tengah menontonnya."

"Tidak, sama sekali tidak. Aku juga jatuh menuju trikmu saat kita memilih pakaian saat berbelanja di Milan. Yang kamu pilih adalah pakaian tak tahu malu itu dengan potongan rendah, punggung terbuka dan pusar telanjang, dan kamu membeli begitu banyak—!"

"Lily, kamu punya tubuh bagus, jadi baju itu sangat cocok untukmu. Kamu harus lebih percaya diri pada diri sendiri!"

"D-Diam! Dan juga, setengah tahun yang lalu ketika kita bertemu di Venesia secara kebetulan—kau terus-menerus mengatakan semua hal baik tapi tidak tulus ini untuk menyenangkan hatiku, dan bermain seperti mainan!"

"Oh, kau bilang ini sama? Dan inilah aku, mencoba memberi nasihat yang bagus kepada Lily!"

Pada saat itu, ksatria kematian akhirnya bergerak.

Mengambil keuntungan dari saat Liliana lengah dan kehilangan kesadaran akan kehadiran mereka, dua dari empat ksatria mengayunkan pedang mereka ke arah Erica, memotong ke bawah!

Tidak hanya ada kerugian dalam jumlah, tapi orang tidak bisa berhenti bergerak saat bertarung di tempat seperti ini.

Berhenti berarti dikelilingi, dan satu melawan banyak orang akan menghasilkan pembantaian. Tapi, Erica memaksakan dirinya untuk bergerak dan menghadapi kedua ksatria kematian yang menyerang.

Mengayukan Cuore di Leone untuk membatasi gerakan memotong salah satunya, dia mengikuti gerakan pedang dengan pinggulnya.

Saat pedang ksatria kedua mendekat, dia menghindar dengan glamor dengan sedikit sentuhan tubuhnya.

Pada saat itu, dia menatap Liliana.

Mereka bertukar pandangan. Wajahnya, cantik bak boneka, sedikit mengerutkan kening. Il Maestro kembali beraksi. Saat jubah biru dan hitam berkibar kencang, akhirnya Liliana Kranjcar mengambil tindakan.

"Kau akan menerima pembalasanmu suatu hari nanti! Bersiaplah!"

Saat dia mengajukan keluhan singkat, Liliana mendekat.

Erica menggunakan dirinya sebagai umpan untuk dua ksatria kematian, sementara Liliana melakukan serangkaian serangan sengit dengan menggunakan Il Maestro.

Satu kilat, dua kilat.

Begitu saja, Liliana menghabisi dua ksatria yang tidak waspada.

Ada dua ksatria tersisa yang bisa ditangani satu lawan satu. Mereka berdua juga melompat ke atap tempat Erica dan Liliana berada.

Yang pertama bergerak adalah Liliana.

Seperti burung dia melompat tinggi ke langit yang penuh badai. Jubah biru dan hitam berkibar ditiup angin menyusulnya saat dia menukik bak burung pemangsa yang ganas.

Di bawahnya salah satu ksatria kematiannya menunggu.

Mayat itu memegang sebuah kaitan panjang dan menyodorkan gadis yang bersembunyi di udara.

—Terlalu naif.

Karena mengatakan itu, bibir Erica melengkung dengan senyuman penuh kepastian.

Jenis [Melompat] yang digunakan Liliana jauh berbeda dengan Erica. Ini berjalan lebih cepat, terbang jauh lebih tinggi, melonjak lebih jauh, dan bahkan bisa mengabaikan prinsip-prinsip kontinuitas.

Kejatuhannya tiba-tiba berhenti.

Liliana menghentikan jatuh bebasnya layaknya memukul rem di tengah udara. Pedang ksatria kematian meleset dari sasarannya.

Segera, Liliana melanjutkan kejatuhannya dan mengayunkan pedangnya ke bawah.

Bobot dan kekuatan lompatan itu menambal serangan pedang dengan energi kinetik saat ia menabrak ksatria kematian, dan sebuah tebasan yang dalam melintasi dari bahu kanan ke pinggul kiri diiris membuka tubuh.

Jatuh ke tanah, lututnya roboh dan tubuhnya terjatuh serta mulai terjatuh dari dasar.

Dalam sekejap, ksatria kematian berubah menjadi debu yang tersebar.

Kemampuan lompat Liliana Kranjcar sudah mencapai tingkat terbang. Bahkan seorang ahli pun akan kesulitan untuk menang melawannya jika mereka tidak terbiasa dengan cara dia bertarung.

"Sungguh menakjubkan, Lily. Kamu selalu memiliki bakat untuk terbang!"

Erica menyatakan persetujuannya.

Sejak zaman kuno, ini telah berakar kuat dalam budaya witch Eropa timur dan selatan.

Konon katanya mereka membuat ramuan rahasia, menjinakkan hewan buas di hutan dengan sihir, dan terbang dengan bebas ke langit. Mampu memperoleh keterampilan ini ditentukan oleh disposisi saat lahir, serta pelatihan lebih lanjut sepanjang hidup.

Kemampuan Erica di area ini dikalahkan oleh Liliana.

Namun, untuk menebusnya—

Memanipulasi baja, dan menggunakan mantra untuk menempa pedang dan tombak. Dalam hal kekuatan untuk menggunakan sihir untuk menciptakan alat pembunuhan dan penghancuran ini, Erica berada jauh di depan!

"Cuore di Leone yang ditempa malam gelap! Keturunan pedang tertinggi! Tanggapilah doaku, baja raja!"

Ini adalah seni misterius dari Excalibur, untuk meningkatkan efisiensi mengiris pedang kesayangannya sampai semaksimal mungkin.

Dengan menggunakan mantra ini, Erica menyerang dengan pedangnya dengan sikap superior. Pedang panjang yang digunakan oleh ksatria kematian dipotong bersih setengahnya oleh Cuore di Leone.

Terhadap serangan para ksatria biru dan merah, ksatria kematian terakhir juga berubah menjadi debu.

"Bahkan sejak lama, kau telah menggunakan kekuatan kasar untuk mengalahkan orang lain seperti ini. Sungguh idiot yang cocok untuk menyerang di garis depan.

"Hei Lily. Aku selalu memujimu secara langsung, kenapa kamu selalu menghinaku... Inilah sebabnya aku bilang kamu bukan wanita."

Liliana yang tidak senang itu ekspresinya segera memburuk atas kritik Erica.

"Diam! Alih-alih ini, kau harus bergegas menemui tuanmu. Orang penting itu mungkin masih harus berjuang demi Mariya Yuri, bukan? Pergilah ke sana sebelum terlambat!"

Ksatria mulia, tanpa cacat dan bersifat ksatria. Inilah gadis bernama Liliana Kranjcar.

Menyaksikan kebenaran ini sekali lagi, Erica tersenyum.

Dia tidak ingin bekerja di bawah Marquis. Pada tingkat tertentu, dia pasti mendukung Kusanagi Godou.

"Sangat benar... Tapi ini bagus, Lily rela membantuku. Tapi, ketertarikanku mengancam!"

"Mengancam? Apa kau benar-benar mengira kau bisa mengancamku dengan pedang untuk memaksaku bergabung?"

Liliana berbicara layaknya dia diperlakukan bodoh sampai dipermainkan.

Namun, Erica menyeringai dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan terlibat dalam perilaku hambar seperti itu.

"Hei, di laci tertentu di kamar tidur mu—yang kedua dihitung dari atas. Di buku catatan itu, bukankah cukup bagus? Sangat ekspresif dan penuh perasaan, layaknya gadis muda!"

"—!?"

Liliana menatap Erica dengan mata pembunuh.

Erica terus tak terpengaruh.

"Siapa sangka kamu tertarik menulis novel? 'Aku benci orang-orang yang suka menyendiri itu. Namun, ketukan kuat di dadaku apa ini? Mungkinkah, bisakah ini, ini cinta?' Novel romantis dengan perasaan seperti ini sangat langka di media hiburan saat ini. Jika itu aku, aku akan memasukkan lebih banyak orang mati, pembunuhan, tindakan, dan bela diri!"

"Apa! Hei hei hei! Bagaimana kau tahu keberadaan 'itu'!?"

Erica mendengus sedikit dan tersenyum.

Sebenarnya ada maid di rumah tangga Kranjcar yang bertindak sebagai informan rahasia, tapi tidak perlu diungkapkan fakta itu.

"Fufufu. Jika Lily menjadi teman dekatku mulai sekarang, maka aku akan secara otomatis melupakan keberadaan buku catatan itu? Jadi, mengerti?"

"Bunuh! Aku lebih suka membunuhmu untuk membungkam mulutmu selamanya!"

Bagi Liliana yang sangat marah, Erica tersenyum penuh glamor.

Inilah senyuman yang Godou gambarkan seperti senyum setan.

"Jangan terlalu terburu-buru. Kalau aku mati, isi surat wasiat yang disegel penuh dengan rincian novel itu — aku pikir ini mungkin akan berguna suatu hari nanti, tapi aku tidak pernah mengira harinya hari ini!"

"Kau, kau, setan! Kau bukan manusia!!"

Mendengar teriakan berulang dari gelar yang paling dikenal, Erica mulai merencanakan langkah selanjutnya.

Karena sekutu yang kuat telah didapat, tiba saatnya untuk bertemu dengan Godou sesegera mungkin. Raja yang meminjamkan bantuannya kepada mereka yang membutuhkan, di mana dia sekarang—?
Share:

0 komentar:

Posting Komentar