Unlimited Project Works

25 September, 2018

Campione v2 6-3

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 3

Begitu tugas berakhir, Yuri berpisah dari tubuh Godou dengan panik.

Dengan cepat ia menyesuaikan bagian depan jubah putihnya. Meski tidak menggairahkan seperti Erica, ukuran tubuhnya pas, dan pembelahan antara payudara yang sangat bagus terlihat.

Dia memunggungi Godou, dan duduk.

Kepalanya menunduk, bahunya gemetar.

Mungkin karena dia tak bisa menerima tindakan memalukan yang baru saja dia lakukan. Godou juga merasakan hal yang sama, dan bisa mengerti perasaannya.

—Atmosfernya sangat buruk.

Godou juga duduk dengan kaki disilangkan, mengawasi punggung Yuri.

Atmosfernya sangat buruk. Apa yang harus dikatakan? Ayo, tekankan dan kumpulkan keberanianmu untuk mengatakan sesuatu.

"Hei, Mariya..."

"T-tolong jangan pedulikan aku! Tadi itu hanyalah sesuatu yang kulakukan tanpa berpikir! Anggap saja kamu digigit anjing liar dan lupakan saja!"

Dalam kebingungannya yang semakin meningkat, kata-kata keluar dari mulut Yuri.

"Kalaupun kamu mengatakan itu, aku tidak bisa melakukannya walau aku mau..."

"T-Tapi, kalau kamu tidak melakukan itu, Godou-san, aku tidak bisa menatap matamu lagi! Untuk melakukan sesuatu yang tak tahu malu, rasanya sangat memalukan..."

Mereka melanjutkan percakapan dengan wajah mereka merah sambil menghindari saling pandang.

Jika dia menyalahkan masalah pada dirinya, maka dia pastinya bukan laki-laki.

"T-Tidak, kamu terpaksa melakukan ini sehingga aku bisa melawan kakek tua itu. Itu bukan salahmu, Mariya. Karena akulah yang memutuskan untuk bertarung, seharusnya aku yang bertanggung jawab..."

"Bukan begitu. Sungguh, tolong lupakan ini!"

"Hmm, hmmhmm... Umm, maka mari kita memperlakukan waktu itu sebagai tanggung jawab bersama kita. Itu adalah sesuatu yang kita berdua lakukan bersama, jadi akan lebih masuk akal. Bagaimana aku harus mengatakannya... aku juga kehilangan diri di tengah-tengah itu... apalagi ada suatu perasaan seperti 'tolong, aku dalam perawatanmu dari sini'..."

"I-Itu terdengar benar, mungkin memang seperti itu..."

Saat tidur di benak Godou saat ini, ada dua kata mantra pedang yang berbeda.

Ini didapat dari Yuri, tapi yang kedua—mantra untuk mengalahkan Osiris, dewa dunia bawah didapat oleh Godou sendiri.

Tanpa ini, Voban tak bisa dikalahkan.

Godou mendapat firasat. Kesampingkan dirinya, tapi saat dihadapkan dengan situasi pertempuran, dia akan berhenti memikirkan hal-hal di sekitarnya yang membingungkannya.

Renungkan dengan teliti. Godou mengingatkan dirinya sekali lagi.

"Jadi, aku juga harus meminta maaf. Mohon terima permintaan maafku..."

"T-tidak masalah. Waktu itu, mari kita perlakukan saja saat kita bersikap gegabah..."

Dapat ditangani, Yuri membalikkan wajahnya.

Wajahnya masih sangat merah, tapi setidaknya tidak bingung.

"Maaf karena merasa bingung. Mulai sekarang aku akan merencanakan segalanya dengan lebih teliti sebelum bertindak, dan akan merenungkan tindakanku secara hati-hati. Maafkan ketidakmampuanku, tapi tolong jaga aku dari sekarang."

"Ah iya. Akulah yang seharusnya..."

Saat Yuri duduk, dia membungkuk dalam-dalam dengan kepalanya hampir menyentuh tanah.

Apa yang dia lakukan, apa-apaan ucapan ini?

Kata-kata seperti yang diucapkan sebelum menikah, dan Godou merasakan disonansi. Mengangguk pada ucapan ini akan menjadi masalah nyata.

"H-Harap lupakan itu sekarang juga! Sepertinya aku belum tenang. Setelah mengatakan beberapa kata aneh, aku mohon maaf lagi!"

Bahkan menyadarinya sendiri, suara Yuri sudah jelas meningkat.

Apa yang membuat suasana bermasalah adalah ponsel Godou.

Ini adalah ponsel biasa tanpa fitur tahan air, tapi anehnya hidup tanpa rusak dan tidak kalah dengan badai ini.

"Ooh, hei! Halo!"

Saat telepon berdering, Godou segera mengeluarkan ponselnya.

'—Ini aku. Apa kamu baik-baik saja disana? Kamu bersama Yuri, kan?'

"Ah iya. Aku berhasil keluar. Erica, kamu baik-baik saja, kan?"

Suara yang benar-benar familier.

Gadis cantik yang memiliki glamor emas bersamaan dengan keringanan bagai tiupan angin. Gambaran Erica Blandelli muncul di benak Godou. Entah bagaimana ia merasakan ketegangan.

...Seakan pisau tajam tertahan di punggungnya, ada rasa takut yang aneh.

'Banyak juga yang terjadi di sisi ini, tapi semuanya aman dan sehat untuk saat ini. Adapun Marquis itu... Yang penting, pasti suka bermain.'

"Bermain?"

'Tepat. Apa kamu sudah memperhatikannya? Badai telah menjadi lebih kuat, tapi pasti dengan sengaja. Sebenarnya, kita sudah menemukan orang itu, mengamati dari kejauhan. Mengikat [Serigala]-nya pada tali, seolah-olah bersiap untuk memburu kalian. Selanjutnya badai ini. Dia bisa sangat menginginkan pertunjukan."

"...Buruk sekali."

'Sungguh? Kupikir malam diserang badai bisa sangat mengasyikkan. Pokoknya, mari bertemu di suatu tempat dulu. Kurasa aku sudah tahu kemampuan Voban cukup banyak, tapi kita perlu memikirkan balasan. Kupikir aku bisa melakukan sesuatu melawan [Budak Mati]. Jadi coba pikirkan cara untuk mengatasi otoritas [Serigala]—'

"Ah... Sebenarnya, kupikir aku baik-baik saja dengan yang itu."

'Eh, Godou? Bagaimana?'

"Yah, bagaimana bilangnya ya, banyak hal terjadi di sisi ini juga, iya."

'...Hmph, banyak dan banyak hal eh. Walau aku kira bisa aku bayangkan, tapi bolehkah aku mewawancaraimu sesudahnya?'

Itu bukan pertanyaan biasa tapi sebuah interogasi. Merasa putus asa dalam kalimat ini, Godou mencoba mengubah pokok pembicaraan.

"Jadi begitulah situasinya, panggil saja aku dari sana. Aku akan segera terbang."

'Mengerti — laporan Godou membuatku senang. Biarkan aku membulimu dengan baik setelah itu.'

Meninggalkan kata-kata yang tidak menyenangkan itu, Erica menutup telepon.

Merasakan suasana yang berat seakan menyalakan sumbu dinamit, Godou menyingkirkan teleponnya.

"Apa itu panggilan Erica-san?"

"Ah iya, dia baik-baik saja, dan sepertinya juga memperhatikan pria tua itu. Aku akan pergi, jadi sebaiknya kamu mencari tempat untuk bersembunyi."

Godou membuat saran seperti itu.

Dia tidak ingin Yuri, yang tidak punya kekuatan untuk membela diri, menghadapi bahaya. Namun, Hime-Miko yang cantik menggelengkan kepalanya dan menolak dengan gigih.

"Tidak, aku harus pergi juga... Godou-san, dalam pertempuran sekarang, kemungkinan Marquis menahan kekuatan ofensifnya. Jika dia serius, mengempaskanmu bersamaan jalanan seharusnya tidak mustahil. Tapi, dia tidak melakukan itu, jadi aku pikir itu karena aku ada di sisimu."

Jadi, jika Yuri ada di sana maka Voban tidak bisa memanfaatkan otoritasnya sepenuhnya.

Merenungkan kemungkinan saran Yuri, Godou terdiam. Sejujurnya, Godou juga telah menemukan kemungkinan itu.

Namun, dia tidak bisa melibatkannya untuk alasan seperti ini.

"Tidak masalah. Dibandingkan dengan bersembunyi dan menunggu bahaya berlalu dan tidak melakukan apapun, aku lebih suka melakukan sesuatu untuk kalian semua... kamu juga sudah lupa?"

Yuri yang mengajukan pertanyaan, memiliki mata yang sangat lembut.

"Jika kamu kalah dari Marquis, aku akan tertangkap. Jadi, aku hanya ingin sedikit meningkatkan peluang kemenangan Godou-san. Ini memang agak egois, jadi tolong jangan cemas tentangku."

Membuat saran yang dibuat-buat bahwa itu untuk kepentingannya sendiri, untuk menghilangkan stres bagi orang lain.

Merasakan apa yang dikhawatirkan Yuri, Godou menghela napas panjang.

Dibanding pria tua itu, dia jauh lebih lemah. Untuk mendapatkan kemenangan, dia benar-benar perlu membuang segala kemungkinan keunggulan yang ada. Dan yang terpenting, yang terpenting adalah usaha bersama antar kawan seperjuangan.

Kusanagi Godou berbeda dengan Sasha Dejanstahl Voban atau Salvatore Doni.

Seseorang yang tidak bisa bertarung sendirian, seorang [raja] lemah.

Ini sudah terjadi sampai sekarang.

Jika bukan karena Erica atau Yuri, dan juga sejumlah teman dan kawan lain, Godou tidak akan menjadi Campione, dan pasti tidak akan mendapatkan kemenangan lagi dan lagi.

—Suatu hari, jika saja dia bisa mencapai titik di mana dia tidak perlu meminjam kekuatan lain, tapi sebelum itu—

Godou membuat keputusannya.

Belum waktunya, jadi tolong beri aku kekuatanmu. Sebagai gantinya, kapanpun ada seseorang yang benar-benar membutuhkan kekuatannya sendiri — dia akan menawarkan kekuatannya tanpa ragu sedikit pun. Inilah prinsip yang disebut prinsip pertukaran setara.

"Maaf, aku mengatakan sesuatu yang naif. Lalu maukah kamu menemaniku sebentar?"

"Tentu saja. Kita terlahir dari satu takdir — mari kita lakukan yang terbaik bersama."

Bibir Yuri menunjukkan senyuman damai.

Godou terkadang memperhatikannya, senyum lembut nan ramah yang tak tertandingi oleh gadis lain. Namun, senyum itu tiba-tiba lenyap.

"—O Raja. Bila kau pernah melupakan perasaan ini, akan ada kekuatan baru yang dimiliki oleh tangan itu. Disaat kau membimbing domba-domba yang tersesat, hewan pemandu bertanduk akan melakukan ritual pengorbanan di atas kepalamu."

Dengan pandangan serius dan cekung, Yuri berbicara. Apakah ini peringatan, atau saran pokok — tidak, sebuah nubuat?

"Kambing tangkas dan pintar, dulu dibanding dewa langit yang disembah oleh orang-orang berkuda. Membimbing domba-domba yang tersesat, penatua yang bijak. Tolong jaga ini di hatimu."

"..."

"—Apa? Apa yang baru saja kukatakan?"

"...Tidak banyak, kamu tidak mengatakan sesuatu yang penting."

Sepertinya peindraan roh miko yang menyebabkannya berbicara tadi.

Godou kagum pada kedalaman tak terbatas yang berpotensi dimiliki Yuri.

Namun, apa itu hewan pemandu? Domba, atau kah itu kambing? Sama seperti Godou yang mulai merenung.

—Kusanagi Godou! Ksatriamu memanggilmu. Tolong turun sekali lagi, dan memenuhi kewajibanmu sebagai raja!

Dari suatu tempat terdengar suara seorang gadis.

Itu adalah suara panggilan Erica. Sepertinya sudah saatnya memutuskan pertarungan melawan Voban.

Sebagai kewan seperjuangan yang mempertaruhkan nyawanya meneriakkan nama itu, Godou menerima kekuatan penerbangan dari [Angin] Verethragna.

"Ayo pergi. Mari kita beri sedikit rasa sakit itu!"

"Baiklah, Godou-san! Ke mana pun kamu pergi aku akan menemanimu!"

Yuri mencengkeram erat tangan Godou yang terulur.

Satu takdir.

Dengan tekad ini, keduanya mengendarai angin yang bergejolak dan terbang menuju langit.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar