Unlimited Project Works

26 September, 2018

Campione v2 7-1

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 1

Saat badai melanda malam, di tempat yang tidak jauh dari Menara Tokyo—

Siapapun yang memiliki akal sehat takkan berani keluar di luar dalam cuaca yang tidak menguntungkan tersebut.

Tidak, bahkan orang dengan hal-hal yang sangat mendesak tidak akan memilih untuk pergi keluar, karena tingkat angin, hujan, dan guntur ini.

Dalam badai, seorang pria tua berdiri, mengenakan jaket hitam dengan tawa gembira di wajahnya.

"Hahahahahaha! Cari dan berburu! Malam ini adalah malam yang indah! Anjing pemburuku, temukan mangsaku!"

Dejanstahl Voban berteriak keras.

Dengan sangat cepat, puluhan [Serigala] terbentuk di kegelapan di belakangnya, dan mulai meluncur melintasi kota di malam hari. Seakan membawa tawanya, angin menguat, dan petir menjadi lebih ganas.

Teriakan angin dan suara guntur, hujan deras menerobos tanah dengan suara-suara garang, semua ini mendominasi malam kota.

Tanpa ada tanda-tanda orang di jalanan, mobil-mobil di jalan juga lenyap.

Dengan kata lain, tidak berlebihan jika mengatakan bahwa kota itu berubah menjadi kota tanpa orang-orang. Voban yang berteriak angkuh seperti raja gurun pasir.

"Ah, menjadi sangat bersemangat. Dia terlihat sangat senang."

Yang tampak kagum dengan ketulusan adalah anggota Komite Kompilasi Sejarah, Amakasu Touma.

Di sampingnya ada Liliana Kranjcar. Saat dia mengintip orang yang dianggap sebagai pria tua yang bermartabat, dia menunjukkan ekspresi sedikit terkejut.

"Terutama tindakan hambar ini. Seolah-olah sudah lama dia belum menemukan hiburan sampai saat ini... Sungguh, tiran anakronistik seharusnya menikmati kehidupannya yang terpencil!"

"Tapi, kehidupan duduk di balkon di bawah terik matahari dan semakin tua... Sesuatu seperti itu tidak baik—"

Erica Blandelli dengan sengaja memainkan advokat setan terhadap teman lamanya.

—Di dekat Taman Shiba di kawasan Minato.

Mereka telah menemukan Raja Iblis tua dan bersembunyi di tempat gelap di suatu gedung untuk menyaksikan pemandangan ini.

Kira-kira tiga puluh menit yang lalu, Erica membawa Liliana ke tujuannya, dan melumpuhkan keluhan kebencian satu demi satu sambil tersenyum saat mereka mencari Voban.

Liliana, yang bahkan ahli dalam ramalan, telah meramalkan lokasi Marquis.

Beranjak ke arah ramalan yang ditunjukkan, mereka bertemu Amakasu.

Saat Erica dan Liliana berjalan bersama, sebuah mobil berhenti di jalan, tiba-tiba membuka pintu dan keluar itu muncul sosoknya.

Membuka payung hitam dan berjalan menuju hujan deras.

Namun, payung itu langsung terempas. Amakasu menggelengkan kepalanya seolah-olah mengatakan "tidak tahan dengan ini," menyerah, dan biarkan jasnya terisi air hujan. Pada saat bersamaan, dia berbicara.

"Bertemu di sini pastilah takdir, ayo pergi... Jadi, bisakah kamu mengenalkan wanita muda ini bersamamu, Erica-san? Sebenarnya, sepertinya aku pernah bertemu Liliana Kranjcar-san di suatu tempat sebelumnya?"

Karena itu, ketiganya berdiri bersama.

"Jadi Amakasu-san, bolehkah aku mengajukan pertanyaan?"

"Tidak masalah, asalkan aku tahu jawabannya. Tapi, berat dan ketiga ukuran itu rahasia, ya?"

Kepada anggota Komite Kompilasi Sejarah yang menjawab dengan sembrono, Erica menatapnya tajam.

"Sebenarnya mulai dari sekarang aku sadar. kamu... gak, alasan mengapa Godou diminta dalam urusan ini."

Erica sedang bertanya-tanya dengan nada halus.

Amakasu bermain bisu dan tertawa, ekspresinya yang tenang dan santai tidak goyah.

"Sebenarnya kami juga sangat cemas dengan Erica-san. Bukankah normal bernegosiasi dengan pihak yang memiliki kemampuan melakukan sesuatu?"

"Jadi gimana? Bila seseorang yang dekat dengannya terjebak dalam bahaya, Godou akan bertindak tanpa berpikir jernih. Mengabaikan pengorbanan, melawan Marquis bisa berubah menjadi kesempatan bagus untuk mendorong Godou maju dalam memanfaatkan potensinya... Boleh dikatakan. Apa aku terlalu banyak memikirkan sesuatu?"

"Kamu terlalu banyak memkirkan hal ini. Bagaimanapun, kami dari Komite Kompilasi Sejarah adalah pegawai negeri yang terhormat. Pertimbangan pertama kami adalah kesejahteraan penduduk Tokyo dan negera Jepang."

Erica dengan elegan melepaskan sarkasme akut.

Amakasu, meski jelas tidak tulus, punya wajah yang entah bagaimana orang tidak bisa membenci.

Mendengarkan percakapan keduanya, Liliana berbisik dengan tidak adanya niat baik.

"Percakapan di antara rubah dan kelelawar harus dilakukan di tempat lain. Kesampingkan itu, apa yang harus dilakukan sekarang? Apa Kusanagi Godou ke sini?"

"Ya, ke sini, bagaimana aku bilangnya ya, itu dia harus ke sini."

Erica menjawab, memikirkan teleponnya sekarang.

...Tentu saja, tidak boleh ceroboh dengan seorang pria seperti Kusanagi Godou. Meskipun ia jelas tidak memiliki keterampilan sosial yang luar biasa, ia terus menarik semua orang aneh ini.

Barangkali ini adalah bagian dari sifat raja. Sebuah eksistensi yang dapat diandalkan, tapi tidak terlalu lucu.

Rencana untuk membawa Liliana ke sisinya ternyata ditetapkan lebih awal dan berhasil jauh melampaui harapan. ...Kita harus mencatat hal ini di masa depan.

Bermain-main dengan pendatang baru akan baik-baik saja. Inilah hak istimewa seorang raja. Tapi, dia tak bisa dimaafkan jika dia serius.

Orang yang benar-benar dicintai Kusanagi Godou di atas segalanya bukanlah orang lain selain Erica Blandelli.

"Untuk mengukir prinsip ini jauh ke dalam jiwa, benar-benar harus dimulai dari masa kanak-kanak... Dengan kepribadian seperti itu, kemungkinan dia menjadi orangtua yang memanjakan anak-anaknya agak tinggi..."

"Ada apa, Erica? Apa yang kamu katakan dengan pelan?"

Erica menggelengkan kepalanya pada pertanyaan Liliana.

Prioritas saat ini adalah berurusan dengan Marquis Voban. Yang mana harus berkonsentrasi.

"Ah ah, maaf, bukan apa-apa, jangan pedulikan hal itu. —Mulailah. Kusanagi Godou dan Dejanstahl Voban, ronde kedua duel antara [Raja]."

Erica dan Liliana melangkah maju berdampingan.

Mereka melangkah menuju tempat Raja Iblis tua memanggil angin, hujan dan guntur, tertawa terbahak-bahak.

Di bawah badai yang intens, kedua gadis itu pun berhadapan dengan raja tua.

"Ohoh, akhirnya keluar dari rumah? Sudah terlambat. —Oh, Kranjcar sepertinya sudah bergabung dengan rivalnya, tapi kenapa? Tidakkah seharusnya kau mengikutiku?"

Voban melirik ke samping pada gadis di samping Erica dan berbicara.

Dia bisa langsung mengatakan bahwa Liliana telah mengubah kesetiaannya. Mata bengkoknya penuh kepastian.

"Saya menyampaikan permintaan maaf saya yang paling dalam. Liliana Kranjcar kini akan meminta untuk mundur dari melayani Anda. Maafkan saya karena menolak untuk menodai kesopanan saya dengan berpartisipasi dalam penculikan orang lemah dan wanita."

"Berani menolak raja tirani? Bodoh! Tapi, ini mungkin model peran seorang ksatria."

Voban tersenyum lebar.

"Membunuhmu dengan tanganku sendiri dan membiarkanmu bergabung dengan barisan [Budak Mati] akan cukup. Pastinya, [Diavolo Rosso] akan menemanimu juga. Kau tidak akan kesepian ya? Gadis-gadis dengan sifat serigala, kalian layak menjadi prajurit di bawah perintahku."

Kegelapan menjadi gelisah sekali lagi.

Prajurit, dengan tubuh kokoh dan memakai pakaian perang kuno, lahir dari kegelapan.

"Aku tidak bisa membiarkan kalian keliru, jadi izinkan aku mengajari kalian semua. Orang-orang ini — [Budak Mati] hanya bisa dilepaskan dari belengguku dengan keadaan kematianku. Jadi sekarang, bagi para ksatria yang kalian kalahkan dengan tangan kalian sendiri, jangan keliru percaya bahwa mereka akan mendapatkan kedamaian. Mereka baru saja berubah menjadi debu sekali lagi, kembali ke tanah, dan setelah beberapa lama akan kembali ke belengguku sekali lagi... Dominasiku abadi."

Dari badai puluhan ksatria kematian muncul.

Itu benar. Dari antara ksatria yang kalah, sekarang ada dua yang terlihat identik dengan mereka. Sudah diduga dari otoritas yang diambil dari para dewa, metode biasa tidak berhasil.

Menyaksikan kekuatan musuhnya, Erica malah menunjukkan senyum sombong.

"Kata-kata raja tidak mungkin salah. Tapi, semoga aku begitu berani melakukan koreksi. Kami bukanlah lawanmu. Sudahkah kau melupakan fakta ini?"

"Aku tidak begitu tua dan pikun. Tapi, di manakah bocah kesayanganmu itu?"

Sifat senyuman Voban berubah.

Dalam senyum raja yang familier dengan kekuatan absolutnya, tawa hangat seorang prajurit yang terdiri dari desiran darah panas bisa terlihat.

"Bocah itu bahkan tak bisa memuaskan rasa laparku sedikit pun. Raja yang baru lahir hanya bisa sampai sini. Tapi kalau orang itu — bisa membiarkanku menyaksikan kekuatan yang mengalahkan si bocah Salvatore, maka aku akan mengubah kata-kataku. Malam ini, adalah saat yang langka bagi darahku mendidih karena kegembiraan. Kesempatan untuk menikmati pertarungan sesuka hatiku!"

Bukan untuk kekuatan menguburkan dewa, atau untuk memerintah bumi.

Hanya untuk menikmati pertarungan yang bagus.

Kekuatan yang hanya ada untuk pertempuran dan konflik.

Raja yang tubuhnya telah ada selama berabad-abad, yang memilih kesendirian dan wilayah terbengkalai serta menaklukkan, pada deru raja tua, Erica mengangguk.

"Kalau begitu, raja, maka kau harus memastikan sendiri. —Kusanagi Godou! Ksatriamu memanggilmu. Tolong turun sekali lagi, dan memenuhi kewajibanmu sebagai raja!"

Dengan sedikit membungkuk, menaikkan suaranya untuk memanggil nama itu.

Mengendarai angin bertiup kencang, berbicara dengan mengucapkan mantra yang memanggil raja muda itu.

—Segera, angin membentuk pusaran di depan mata Erica.

—Dari kekuatan mantra yang meluap, Liliana mundur karena terkejut.

Tiba-tiba di tengah angin, keluar Kusanagi Godou dan Mariya Yuri berpakaian miko-nya.

"Kau telah membuatku menunggu cukup lama, bocah. Membuat orang tua menunggu sangat lama, bocah tak tahu malu. Sudah kuduga dari sekutu si bocah Salvatore itu."

"Maaf. Tapi, membandingkan aku dengan orang semacam itu membuatku marah."

Voban yang memperlakukan musuh-musuh yang muncul di hadapannya sebagai orang idiot, dan Godou yang menanggapi dengan semangat pertempuran yang angkuh.

Itulah saat kedua raja bertemu lagi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar