Unlimited Project Works

17 September, 2018

Campione v2 Prolog

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
[Kutipan dari catatan Dewan Tetua, Cerita Rakyat Dalmatia, Kroasia]

Suatu hari, serigala jahat itu mencoba masuk ke istana raja babi.

"Wah, sudah lama sekali aku sampai di tempat yang begitu indah. Babi kecil yang indah, tolong biarkan aku memasuki istanamu. Aku tidak akan berbuat jahat."

"Tidak, sama sekali tidak. Kami akan memberikan apapun yang kau mau, jadi pergilah," sang raja membalas si serigala, yang mengemis di luar dengan suara membujuk.

Raja yang bijak tahu bahwa si serigala tidak akan menepati janjinya.

"Tidak ada yang kumau. Aku hanya ingin masuk istana. Jika kau tidak mengizinkanku masuk, aku akan memilih cara lain, lho?"

"Mohon berhenti, mohon berhenti! Selama kami tidak membiarkanmu masuk, kami akan melakukan apapun!"

Mengabaikan sang raja babi dan permohonannya yang putus asa dan menyedihkan, serigala yang jahat itu menarik napas dalam-dalam.

Ketika dia melakukannya, napas si serigala menjadi angin puyuh yang meniup istana raja babi. Istana yang terbuat dari banyak batu bata terbang seperti kapas.

Cuma itu saja, angin puyuh melonjak menjadi badai besar dan menghempaskan semua di sekitar istana.

"Lihat, bukankah sudah kubilang? Kau seharusnya membiarkanku masuk istana dengan tenang. Camkan ini sebagai pelajaran untuk tidak pernah menentangku lagi, oke?" Si serigala jahat mencemooh sang raja babi.

<Komentar> "The Three Little Pigs(Tiga Babi Kecil)" berasal dari cerita cerita rakyat aslinya "The Wolf and The Goat(Serigala dan Kambing)" dan "The Wolf and The Pig(Serigala dan Babi)". Tapi ada lagi, hipotesis berani mengenai asal-usul legenda ini.

Pada tahun 1854, Raja Iblis Dejanstahl Voban menggunakan Otoritas terkenal akan badai, [Sturm und Drang], untuk mendorong Dalmatian, kota pelabuhan Zadar ke jurang kehancuran. Beberapa peneliti percaya bahwa, selama bertahun-tahun, ingatan akan tragedi ini berpengaruh pada cerita rakyat.



[Dari bagian tentang Voban, Sasha Dejanstahl, Petunjuk Mage Eropa]

Dia bernama [Marquis Voban], tapi dia sama sekali bukan seorang bangsawan.

Lahir pada paruh pertama abad kedelapan belas di daerah Hungaria modern, dia mungkin tidak memiliki satu keluarga pun sejak lahir. Anak lelaki itu menjalani hidupnya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain selama lebih dari sepuluh tahun, berjuang setiap hari hanya untuk mendapatkan roti, sampai suatu hari dia berhasil membunuh seorang dewa dan tiba-tiba bangkit untuk menjadi Campione.

Campione adalah mereka yang menyita sebagian [Otoritas] dari dewa yang mereka bunuh. Mereka adalah keberadaan yang ditakutkan magi yang bernama [Raja].

Tapi saat itu, dia belumlah [Marquis].

Beberapa tahun kemudian, dia menyerang istana marquis yang memerintah daerah tersebut dan merebut status dan dominasi Marquis. Tapi dia bosan dengan status ini dalam beberapa tahun dan akhirnya meninggalkannya. Namun, itu adalah sumber gelar yang masih dia gunakan — Marquis Voban.

Selanjutnya, nama Voban berasal dari selera humornya yang aneh dan mengerikan.

Mengetahui bahwa marquis sebelumnya telah memiliki seekor anjing buas bernama "Voban", ia memilihnya sebagai nama keluarganya sendiri. Lalu dia memerintahkan mantan marquis untuk melayani kerabatnya, mantan anjing peliharaan...



[Dame Liliana Kranjcar, Mencapai Pertemuan dengan Sang [Raja] di Budapest]

Mereka berada di sebuah kamar hotel kelas atas, yang bisa ditemukan di negara manapun.

Semewah dan senyaman ruangan yang menampung [Pertemuan] masihlah agak terlalu umum untuk disebut istana Raja Iblis.

Pemilik ruangan itu bernama Sasha Dejanstahl Voban.



Dia adalah salah satu Campione yang magi di seluruh dunia takuti sebagai raja, Raja Iblis.

Mereka semua memiliki kekuatan sihir yang luar biasa yang disebut [Otoritas]. Semuanya dijarah dari dewa-dewi yang dibunuh oleh tangan Raja Iblis sendiri.

"Kau cucu Kranjcar? Kami bertemu empat tahun yang lalu, tapi aku tidak ingat wajahmu ... ahh, jangan anggap aku sebagai orang tua yang pikun. Orang-orang di generasimu tumbuh terlalu cepat. Hal yang sama akan terjadi bahkan dengan orang lain selain diriku."

Suaranya jelas, bahkan intelektual.

Penampilan fisiknya pun sama. Dia memiliki dahi yang lebar, matanya yang sangat cekung, dan coraknya sangat pucat. Jika seseorang mengklaim bahwa ia mengajar di universitas tertentu, semua orang akan setuju.

Rambut peraknya disisir lurus dan janggutnya juga dicukur dengan hati-hati.

"Itu wajar saja. Saat itu saya bukan apa-apa selain anak kecil dan kami bertemu bahkan tidak lebih dari sepuluh menit. Tidak usah dipungkiri."

Liliana Kranjcar membungkuk saat dia menjawab dengan sopan.

Dia berlutut dengan satu lutut dan memegangi lengan kanannya di dadanya.

Untuk ucapan di sebuah suite hotel, itu sangat tidak biasa. Tapi di atas berada di depan seorang [Raja], seorang ksatria memiliki kewajiban untuk menampilkan dirinya dengan sopan santun yang sesuai.

Gadis yang tergabung dalam asosiasi sihir [Salib Perunggu Hitam] itu masih berumur enam belas tahun.

Ciri tampannya, yang memberi kesan peri, lebih gagah dari pada indah. Rambut peraknya yang panjang diikat dengan ekor kuda.

Meski masih muda, gadis itu adalah mage yang memegang gelar Ksatria Agung.

Di Milan pun, di mana talenta luar biasa dari seluruh dunia berkumpul, satu-satunya yang memiliki bakat sebanding adalah Erica Blandelli dari [Salib Tembaga Hitam].

"Bagus sekali. Nah, kupikir kau sudah tahu, tapi aku sudah tidak sabar, jadi mari kita langsung ke intinya. Aku memanggilmu ke sini untuk satu alasan."

Voban menyipitkan mata zamrudnya kecil sekali.

Kapan pun mata iblis itu berkilauan, makhluk hidup apapun dihadapan mereka akan berubah menjadi gumpalan garam. Itu adalah otoritas yang dia katakan telah direbut dari Dewa Iblis Celtic, Balor.

[Mata Sodom], [Legiun Serigala Lapar], [Sturm und Drang], [Penjara 'tuk Budak Mati].

Di antara mage di Eropa, setiap orang mengenal beberapa Otoritas-nya.

"Kuanggap kau belum melupakan ritual empat tahun yang lalu? Ritual sihir besar untuk memanggil Dewa Sesat. Aku telah berpikir untuk mencoba ritual rahasia yang telah kau bantu denganku sekali lagi."

Liliana menatap lurus ke arah wajah sang Raja Iblis.

Sihir besar itu telah menghasilkan lebih dari sekedar beberapa korban. Kenapa dia mencoba ritual berbahaya seperti itu lagi? Setelah merenungkan pertanyaan itu sejenak, Liliana menyadarinya.

'Seorang Pembunuh Dewa memanggil Dewa. Bagaimana bisa ada alasan lain selain bertarung?'

"Saat itu, Salvatore sialan itu lebih baik dariku. Aku tidak menduga bahwa orang bodoh itu akan mendatangi Dewa yang dipanggil terlebih dulu dan merebutnya. Kau tahu, aku tidak pernah bermimpi bahwa orang yang belum berpengalaman semacam itu akan muncul di dunia kita!" ujar Voban dengan biasa saja, tapi iris mata iblisnya berkedip-kedip.

Empat tahun yang lalu, insiden itu telah menyebarkan ketenaran Raja Iblis muda, Salvatore Doni dan keturunan Italia-nya di seluruh dunia sihir Eropa seperti guntur. Kisah para Pembunuh Dewa mencuri rampasan [Raja] lama.

Liliana, yang kebetulan hadir saat itu, teringat seluruh ceritanya dengan baik.

"Dalam tiga bulan lagi, rasi bintang dan jalur ley line akan membentuk kondisi yang tepat untuk memanggil seorang Dewa untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Aku mungkin tidak tertarik dengan pengetahuan semacam itu, tapi aku menjadikannya pro. Benarkah begitu, Caspar?"

Mendadak, Voban dengan senang hati mengarahkan pandangannya ke belakang Liliana.

Tiba-tiba merasakan kehadiran yang menakutkan di belakangnya, Liliana semakin cemas saat seseorang tidak terlihat dan tak pernah terdengar. Siapa yang bisa menyelinap dari Ksatria Agung seperti dia?

Dia buru-buru berbalik hanya untuk mendesah.

Berdiri di belakangnya adalah seorang pria tua berpakaian hitam. Pria tua itu mengangguk canggung pada pertanyaan Voban, seolah-olah dia adalah mesin yang kekurangan minyak.

Tidak ada ekspresi di wajahnya yang pucat. Tidak ada cahaya di matanya. Mereka sangat kosong dan tidak fokus.

Kemunculan orang mati.

Pria tua dengan ekspresi seperti itu tidak bisa disebut apa-apa selain mayat yang bergerak.

(Ini adalah [Budak Mati]!)

Liliana langsung ingat salah satu otoritas raja lama itu.

Memaksa manusia yang dia bunuh secara pribadi untuk tinggal di dunia ini sebagai salah satu orang mati yang hidup dan menegakkan ketaatan mutlak sebagai budak yang setia.

Itu mengerikan. Mau tak mau Liliana merasakan hal seperti itu.

Kemungkinan besar mayat ini pernah menentang Raja Iblis saat dia masih hidup. Dia mungkin salah satu mage yang pernah bertempur melawannya. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan melalui keberanian biasa. Itu adalah prestasi yang patut dihormati.

Tapi, Otoritas ini menodai keberanian dan menertawakan martabat.

Karena dia mewarisi darah keluarga Kranjcar yang terkenal dan termasuk dalam asosiasi sihir [Salib Tembaga Hitam], perlawanan terhadap Raja Iblis ini tidak akan dimaafkan. Kalau tidak, dia pasti akan pergi segera.

......Tidak.

Jika pemimpin mage Italia, Salvatore Doni, dalam kondisi sempurna, dia mungkin bisa meminta perlindungannya. Tapi saat ini mustahil.

Karena luka yang dia terima dua bulan yang lalu baru sembuh, masih terlalu dini baginya untuk melawan Campione yang lain.

"Kranjcar. Kau adalah salah satu miko yang kukumpulkan empat tahun yang lalu. Apa kau ingat siapa yang menunjukkan talenta yang paling menonjol saat itu?"

Untuk memanggil Dewa, dia telah menggunakan pengaruhnya sebagai raja untuk mengumpulkan lusinan miko. Saat ritual selesai, dua pertiga dari mereka kehilangan kewarasan mereka, disebabkan oleh trauma emosional yang mendalam yang mereka derita.

Untungnya, Liliana termasuk yang ketiga yang berhasil selamat.

"Saat itu, saya tahu kualitas itu lebih penting daripada kuantitas. Alih-alih mengumpulkan orang-orang sinting, saya harus memilih miko yang terbaik."

Mata jahat zamrud menusuk Liliana dengan geli.

Seperti yang mereka lihat melalui semangat pemberontakannya.

"Kecuali aku salah, bukankah dia orang Asia? Kau takkan ingat nama dan silsilah gadis itu, bukan?"

Pada saat ini, Liliana ragu-ragu.

Haruskah dia menjawab dengan jujur ​​atau tidak? Mengingat bahayanya, tentu saja itu yang terakhir. Tapi meski dia berhasil pura-pura tidak tahu, dia hanya akan mendengarnya dari yang lain.

Dan sebagai ksatria egois, dia harus melakukannya dulu.

Dia harus berani menghadapi situasi ini dan sangat melibatkan dirinya sendiri, lalu memberikan semuanya untuk memastikan bahwa dia tidak menghasilkan korban yang tidak terlibat. Mengikuti rasa keadilannya yang khas, Liliana memutuskan dirinya.

"Namanya Mariya. Dia orang Jepang dan katanya dia berasal dari Tokyo. Ini mungkin kurang ajar, tapi jika Anda memerintah, saya akan menemukannya dan membawanya ke hadapan Anda," sarannya sambil menundukkan kepalanya. Tapi jawabannya tak terduga.

"Aku punya ide yang lebih bagus lagi. Aku sudah berpikir untuk pergi ke Jepang sendiri. Hmm, setelah kupikir-pikir, sudah lama aku berkeliling benua."

"Anda adalah Campione, namun Anda akan pergi sendiri?"

"Aku juga ingin menghirup udara asing sesekali. Bukankah bagus? Aku pria tua yang baru beberapa tahun pergi yang hanya ingin menikmati liburan sementara, benar?"

Mencampuradukkan pernyataan ini dengan rasa humornya yang mengerikan, sang Raja Iblis menghentikan penghukuman ksatria tersebut.

"Tapi memiliki teman memang berguna. Aku memerintahkanmu untuk mengisi peran itu. Keberatan?"

Walau dia keberatan, mustahil dia mengungkapkannya.

Sambil mengamati Liliana yang tunduk, Voban berkata:

"Kalau begitu buat persiapan segera. Sebaiknya kau tidak membuatku menunggu terlalu lama."

"Dipahami. Tapi, apakah boleh saya katakan satu hal dulu? Salah satu saudara Anda ada di Jepang. Tidakkah lebih baik mengontaknya dulu?"

Kusanagi Godou. Anak lelaki yang telah mengalahkan dewa perang Persia kuno, Verethragna dan menjadi Campione.

Dia bisa memerintah sepuluh inkarnasi dewa perang dan memiliki ksatria merah, yang merupakan rival Liliana, menunggunya sebagai kekasihnya.

Tapi Raja Iblis paling senior menolak usulan ini dengan tawa mencemooh.

"Tidak usah. Jika dia ingin membicarakan sesuatu, dia bisa datang padaku."

Itu adalah kehendak seorang Raja Iblis dengan terlalu banyak waktu luang.

Tidak akan lama sebelum ini berkembang menjadi gejolak yang akan menelan Kusanagi Godou dan Tokyo.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar