Unlimited Project Works

07 Oktober, 2018

Arifureta v2 Cerpen Bonus 1

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com

Telinga Kucing Teror

Suatu sore, Hajime, Shea, dan Yue tengah berjalan-jalan di jalan utama kota, mencari persediaan untuk perjalanan mendatang mereka. Itu adalah momen istirahat yang langka di antara kunjungan labirin yang selalu menaklukkan mereka. Jalanan dipenuhi suara orang-orang yang tawar-menawar atas barang-barang, bau dari ratusan bumbu yang berbeda-beda berbaur bersama ketika pemilik warung mulai menyiapkan makanan, dan melihat seribu toko yang berbeda masing-masing dengan barang-barang unik mereka sendiri untuk dijual.

Ada yang bersemangat dalam atmosfer yang begitu hidup. Terutama Shea, yang tidak pernah melangkah ke luar desa kecilnya di lautan pepohonan sampai dewasa ini. Telinga kelincinya berkedut gembira saat dia melihat sekeliling, kegembiraan terlihat di wajahnya. Setiap beberapa detik dia kembali tersadar dan dengan cepat melihat sekeliling untuk memastikan dia tidak terpisah dari Hajime dan Yue. Usai memastikan mereka masih di sana, dia akan sekali lagi mulai melompat-lompat, memeriksa apa saja dan segala sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Shea terlihat seperti anak kecil.” Yue tertawa sembari melihat Shea berlari kesana kemari. Lalu dia berbalik untuk melihat Hajime, mencari pendapatnya. Biasanya, Hajime akan langsung bereaksi pada suara Yue, hampir seperti insting, tapi untuk sesaat dia hanya melamun, melihat lurus ke depan.

“... Hajime?”

“O-Oh, apa, Yue?” Hajime menjawab dengan sebuah gerak terkejut. Bingung pada tingkah lakunya yang tidak biasa, Yue mengerutkan alisnya. Menyadari bahwa dia pasti tidak mendengarnya, Yue hanya berkata “Bukan apa-apa,” lalu tetap terus mengawasinya setelah itu.

Dalam sekejap, dia menyadari tatapan Hajime terpaku pada seseorang tertentu. Ketika dia mengikuti pandangannya ke orang itu, dia merasakan gelombang cemburu membasuhnya. Tapi setelah diamati lebih teliti, ia melihat bahwa tatapannya tidak terpaku pada orang, melainkan bagian tertentu dari tubuh mereka.

“Aku mengerti,” dia merenung pada dirinya sendiri. Tampaknya Hajime memiliki titik lemah untuk “mereka.” Kecemburuannya lenyap, tapi dia masih meratapi kenyataan bahwa dia tidak memiliki “mereka.” Dan dia masih tak bisa memaafkan gadis lain karena mencuri perhatian Hajime, biarpun itu hanya satu bagian dari dirinya. Apalagi, kata-kata “menyerah” dan “mundur” tidak ada dalam kamusnya, sehingga menguatkan tekadnya, Yue menarik lengan baju Hajime.

“Hajime, ayo kita berpisah sebentar. Jaga Shea, oke?”

“Berpisah? Kalau ada sesuatu yang ingin kau cari atau suatu tempat yang ingin kau datangi, aku tidak keberatan mengambil jalan memutar. Kita bisa pergi bersama.”

“Tidak. Aku tak mau kau mengetahuinya.” Yue cemberut dan berbalik darinya. Hajime terkejut; ini adalah pertama kali dia mengambil sikap seperti itu dengannya. Tetapi, Yue hanya memberinya satu pandangan terakhir.

“Jangan ikuti aku. Aku bakal marah padamu kalau kau melakukannya.”

“O-Oke, tidak akan ...” Hajime mencoba menyembunyikan betapa terguncangnya dia, tapi gagal total. Lalu, tanpa melihat ke belakang, Yue berlari ke kerumunan.

“Ada apa dengannya?” Hajime hanya berdiri di sana, tercengang, tidak menyadari bahwa dia adalah penyebab sikap anehnya.

Malam itu, Hajime dan Shea telah kembali ke penginapan dan mulai mendiskusikan perilaku aneh Yue sebelumnya.

“Yue-san sangat terlambat.”

“Ya. Y-Yah, a-aku yakin dia cuma mau waktu sendirian.”

“Hajime-san, kau kelihatan sangat bingung ...”

“Apa katamu? Aku baik-baik saja. Lagipula, apa yang mungkin membuatku bingung? Lihat, tidak ada, eh, salah. Ya, tidak ada yang salah sama sekali.”

“Kau menjawab pertanyaanmu sendiri ... kedengarannya seperti masalah bagiku.” Shea mulai merasa terganggu oleh sikap Hajime. Dia belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya, dan sementara itu tampak jelas baginya bahwa Yue tidak akan pernah meninggalkannya, sepertinya Hajime tidak cukup mempercayai Yue bahkan untuk memastikannya. Dia kesal karena dia tidak bisa mempercayai Yue seperti yang dia yakini pada dirinya, dan ketidaksenangannya menyebar pada suaranya.

“Aku tidak percaya kau, Hajime-san. Yue takkan pernah meninggalkanmu, jadi mengapa kau bertindak sangat cemas? Tidak bisakah kau tenang saja?”

“Hah? Kau pasti salah paham. Aku tahu bahwa dia tidak akan meninggalkanku. Aku akan lebih bersedia mempercayaimu jika kau mengatakan padaku langit akan jatuh besok daripada jika kau mengatakan Yue akan meninggalkanku.”

Menyadari bahwa dia salah menilai apa yang membuat Hajime sangat bingung, dia melanjutkan dengan, “Terus?” Hajime memperhatikan telinga kelincinya saat mereka miring ke samping dalam kebingungan. Alhasil, dia berbicara dengan suara gemetar.

“Dengar, Yue biasanya tidak akan pernah meninggalkanku. Kalau sampai dia ingin berpisah, aku pasti telah melakukan sesuatu yang sangat buruk, sesuatu yang sangat tidak ia sukai.”

“O-Oke, dan?”

“Dan itu artinya dia akan menyerangku malam ini.” Jawaban Hajime hanya membuatnya semakin membingungkan Shea. Lalu dia mulai dengan gugup melirik ke sekeliling ruangan.

“Yue pasti akan datang ke tempat tidurku malam ini. Setiap kali dia tidak bahagia denganku, itulah yang selalu dia lakukan. Dia monster di malam hari, jadi aku bahkan tidak yakin aku akan fit untuk bepergian besok.”

“Jadi begitu.” Tatapan mencela Shea lebih intens dari sebelumnya. Itu wajar saja, Hajime baru saja memberitahunya bahwa dia akan berhubungan seks dengan Yue malam ini. Dari perspektif Shea, itu hanya kelihatan dia memuji permainan seksnya. Ketika bersaing untuk mendapatkan kasih sayang, lebih-lebih karena sejauh ini dia tidak berhasil, masuk akal bagi Shea untuk tidak bahagia dengannya. Bahkan telinga kelincinya bergerak-gerak dalam tuduhan.

Hajime gelisah dengan gugup dan menggerutu, “Itu hanya karena kau belum melihat apa yang dia suka di tempat tidur sampai kau bisa mengatakan itu.”

“Di sini, izinkan aku memberimu sebuah contoh. Suatu kali, aku bertanya pada Yue apakah dia benar-benar perawan.”

“Whoa, serius? Itu seperti hal nomor satu yang seharusnya tidak pernah kau lakukan.”

“Yeah, aku sudah tahu itu. Aku tak tahu apa yang merasukiku. Mungkin aku terlalu dekat dengan merusak semua serangan malam yang konstan. Yah, itu karena dia sangat baik sampai aku mulai meragukan apakah dia masih perawan atau tidak.”

“Yeah, aku yakin dia marah.”

“‘Marah’ adalah pernyataan yang meremehkan. Sejujurnya aku mengira dia akan membunuhku. Secara mental, bagaimanapun juga. Aku siap untuk berakhir sebagai budak seks Yue untuk hidup ... Itu hari-hari yang gelap. Sial, malahan aku berlutut dan memohon ampun. Bisakah kau percaya itu? Aku, memohon pengampunan?”

“K-Kau berlutut? Tidak mungkin ...” Shea bergidik ngeri. Biarpun Hajime menyebutnya sebagai serangan malam, dia berasumsi bahwa kenyataannya hanya karena mereka melakukan hubungan seks yang sedikit kasar. Dia akan menegur Hajime karena melebih-lebihkan, tapi ketika dia mendengar apa yang telah dia lakukan, dia mulai bertanya-tanya apa jenis kejenakaan gila yang mencampai Yue.

Keheningan yang canggung menyebar ke seluruh ruangan sementara Hajime melihat sekeliling dengan gugup, cemas kekasihnya mungkin menyerangnya setiap saat. Shea hanya menonton, tak tahu harus berkata apa. Dengan klik pelan, pintu ke kamar mereka terbuka. Shea dan Hajime keduanya mendongak sekaligus. Yue berdiri di ambang pintu, sepasang telinga kelinci di kepalanya.

“Aku pulang.” Ekspresinya tak beraturan seperti biasanya. Dia tampaknya tidak keberatan dengan fakta bahwa ada telinga kelinci yang tumbuh dari kepalanya. Mengabaikan kekagetan Hajime dan Shea, dia duduk di tempat tidur. Keduanya pun kembali tersadar, dan sebelum Hajime bisa mengatakan apa-apa, Shea berteriak.

“Aph-apha-apaan itu ituuuu!?”

“... Pertanyaan yang aneh. Tentu saja telinga kelinci.”

“Aku mengerti itu! Tapi kenapa kau memilikinya, Yue-san? Apa kau mencoba mencuri poin kuatku atau sesuatu!?” Shea menunjuk menuduh Yue, berteriak seolah-olah Yue baru saja menyalin sifatnya yang paling penting. Yue hanya berbalik dan menjawab dengan suara merajuk.

“Ini semua kesalahan Hajime dan telinga kelinci.”

“Ke-Kenapa sampai kau harus menyalin telingaku? Dan jika mereka salah, mengapa kau memakainya?” Shea menggelengkan kepalanya. Telinga kelinci beterbangan saat dia melakukannya. Hajime memandang dan Yue bergumam, “Aku kira pada akhirnya yang palsu hanya ...”

Kata-kata itu pun memberi petunjuk kepada Hajime soal apa yang tengah terjadi. Yue telah menemukan keinginan rahasia Hajime untuk menggosok telinga kelinci berbulu Shea. Maka, untuk bersaing, Yue menemukan sepasang telinga kelinci untuk dirinya. Kemungkinan besar di suatu toko itu.

“Y-Yah, kurasa aku bisa mengerti hasratmu yang membara untuk memiliki sepasang telinga kelincimu sendiri setelah melihat betapa hebatnya telinga kelinciku. Fufufu, tapi biarkan aku memberitahumu sesuatu. Di hadapan telinga kelinci asli, telinga kelinci palsumu hanyalah tiruan pucat!” Shea menatap mungkin sedikit terlalu kejam pada Yue dan melanjutkan.

“Yue-san, itu adalah kesalahan strategis untuk mencoba melawanku di kandangku! Ini kekalahanmu!” Shea tengah sedikit menyombongkan dirinya, tapi itu juga jelas terlihat bahwa telinga Yue palsu dan tidak selembut atau berbulu seperti aslinya.

Namun, Yue telah melakukan ini demi Hajime. Dia sudah menganggapnya imut di luar dugaan, tapi mengetahui bahwa dia bersedia sampai begitu hanya untuk menyenangkan Hajime, menjelaskan sepasangan telinga mana yang dianggapnya lebih penting. Tidak ada perbandingan antara gadis kelinci, yang sibuk menyombongkan dirinya sendiri, dan vampir yang telah melakukan semua yang dia bisa untuk memberinya keinginannya. Tentu saja, Yue tidak goyah dalam menghadapi provokasi Shea. Bahkan, dia melebihi semua harapan.

“Aku tidak pernah berpikir telinga kelinciku akan mampu mengalahkanmu. Ini baru permulaan. Pertarungan sebenarnya dimulai di sini!” Yue mencabut telinga kelinci dan menggantinya dengan yang lain. Sesuatu itu tampak seperti sepasang segitiga hitam berbulu yang terletak di atas kepalanya. Yang lebih menakjubkan, ketika dia menuangkan mana ke dalamnya, telinga itu bergerak seperti sepasang telinga asli.

“Ap-Apa-apaan ... itu?” Suatu sentakan listrik menembus tulang belakang Hajime. Rasa takjub yang tak tergambarkan melandanya. Tapi Yue belum selesai. Saat tangan Hajime yang gemetar menyentuh telinga kucing Yue, dia mengeluarkan teriakan kaget. Di depan mata mereka, Yue menarik benda panjang dan halus lainnya, dan entah bagaimana menempelkannya ke area tepat di atas pantatnya. Setelah menuangkan mana ke dalamnya, itu juga bergerak, seperti ekor asli. Hajime menelan ludah. Yue merangkak dan merangkak ke tempat Hajime berada. Dia tampak sangat imut. Ketika akhirnya dia mencapai Hajime, dia mengatakan satu kata.

“Meong.” Apa yang telah digantikan Yue dengan telinga kelincinya adalah puncak dari semua telinga binatang, telinga kucing. Dia bahkan membeli ekor kucing untuk dicocokkan. Dia melengkungkan punggungnya dan bermain-main dengan lucu pada Hajime. Dalam sekejap ini, Myue lahir.

“Yue, seberapa jauh kau akan menguji kontrol diriku?” Hajime membuai kepalanya dengan tangannya, berusaha mati-matian menahan dirinya. Naluri primitifnya sudah di ambang menaklukkan alasannya. Tetapi bahkan ketika dia berada di kaki terakhirnya, Yue tidak menunjukkan belas kasihan padanya.

“Meong.” Dia berguling ke punggungnya, bagai anjing yang menunjukkan kepatuhan kepada tuannya. Tatapan memelasnya bertemu dengan Hajime. Itu cukup untuk mendorong Hajime melewati batas. Cahaya di matanya digantikan oleh sinar liar. Tapi sebelum sesi sanggama terbesar dalam sejarah dimulai, Shea dengan berani menyela mereka.

“Sungguh licik! Yue-san, kau benar-benar wanita yang licik! Sudah jelas bahwa kau berpikir ke depan! Tetap saja ...! Jangan lupa bahwa telinga dan ekor itu palsu! Dan telinga dan ekorku asli tidak akan pernah kalah dengan yang palsu! Dengar, Hajime-san, ini sepasang telinga kelinci yang asli. Jangan ragu untuk menyentuh semua yang kau suka!” Taruhan jiwanya, Shea menantang Yue. Telinga dan ekornya berkedut penuh semangat saat dia bersandar pada Hajime. Tapi sepertinya Yue telah meramalkan perkembangan ini. Ketika datang untuk memperebutkan Hajime, Yue memastikan untuk mempersiapkan setiap kemungkinan.

“Dasar bodoh. Shea, apa yang membuatmu berpikir ... bahwa telingaku sama sekali palsu?”

“Apa katamu?”

“Aku tahu kau akan membahasnya, Shea. Itu sebabnya aku punya telinga kucing asli. Ini bukan replika. Itu sebabnya aku bisa menggerakkannya menggunakan mana. Mana juga membantu mencegah mereka membusuk.” Yue duduk, lalu menatap Shea dengan penuh kemenangan. Tulang belakang Hajime dan Shea bergidik, tapi untuk alasan yang berbeda kali ini. Mengingat kenyataan yang sangat keras, Hajime tiba-tiba mulai berkeringat. Shea mundur perlahan, seluruh tubuhnya gemetar. Yue memiringkan kepalanya dengan kebingungan, saat Hajime mengambil waktu untuk mengumpulkan akalnya sebelum mengajukan pertanyaan.

“Y-Yue, dari mana kau menemukan itu?”

“Hm? Dari toko barang umum di jalan utama.” Hajime dan Shea menarik napas lega. Sepertinya ini biasa dijual di area itu—

“... Tapi mereka tidak menjual yang asli.” Hajime dan Shea menegang lagi. Jadi itu berarti Yue hanya mendapatkan telinga kelinci tiruannya dari sana. Lalu dari mana telinga kucing dan ekor kucingnya yang asli? Mereka berdua melihat kembali Yue, yang membusungkan dadanya dengan bangga dan menjawab dengan santai.

“Aku merobeknya dari diriku sendiri.” Telinga kucing dan ekor kucing yang berkedut. Apakah mereka benar-benar bergerak karena mana yang Yue tuangkan, atau karena mereka masih begitu segar ...

Tiba-tiba, telinga kucing itu tidak terlihat lucu bagi Hajime. Shea meringkuk di sudut, telinganya menempel di kepalanya.

“Dia seorang psikopat, Yue-san seorang psikopat,” gumamnya. Air mata mengalir dari matanya dan seluruh tubuhnya menggigil.

Yue tiba-tiba mengalihkan tatapannya pada Shea. Shea melompat dengan terkejut ketika Yue menatap telinganya dengan mata dingin, tanpa emosi.

“Bisakah aku ... merobeknya juga?”

“Gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak, Yue-san, kau sudah gila!!! Kau monsterrrrrrrrrrrrrrr!!!” Shea melompat keluar dari kamar dengan kecepatan seekor kelinci yang melarikan diri. Meringis, Hajime memanggil Yue.

“Umm, Yue?”

“Ya? Maaf, itu cuma lelucon. Aku merasa kasihan pada Shea, tapi aku ingin menghabiskan waktu bersamamu saja ... Apalagi, ini adalah telinga palsu yang dibuat dengan bulu monster asli, itu saja, jadi kau bisa membelainya sebanyak yang kau mau, baik?”

“J-Jadi begitu. Umm, yah, kau benar-benar imut, Yue. Tapi uhh, itu bukan karena telinga kucing, itu hanya karena kau adalah kau, kau tahu itu, kan?”

“Ya. Makasih.” Yue tersenyum hangat. Hajime dengan hati-hati menyingkirkan telinga dan ekor kucing dari Yue dan memeluknya erat-erat. Yue mempercayakan dirinya pada Hajime dan membiarkan kekuatan mengalir keluar dari anggota tubuhnya. Mengagumi betapa cantiknya dirinya, Hajime mulai mengelus rambutnya.

... Dia memutuskan untuk tidak bertanya mengapa telinga dan ekor yang diambilnya dari Yue menjadi hangat.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar