Unlimited Project Works

10 Oktober, 2018

Arifureta v2 Cerpen Bonus 6

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com

Konferensi Orangtua-Guru

“Bu, Yah, tolong, TOLONG jangan mengatakan sesuatu yang memalukan.” Kata-kata itu bergema melalui koridor sekolah yang diterangi cahaya malam.

“Ayolah, Hajime, apa yang kau cemaskan? Ini cuma konferensi orangtua-guru. Kami hanya akan membicarakan tentang apa yang kau lakukan di sekolah dan semacamnya.”

“Ya ampun, cemas sekali. Hanya karena wali kelasmu loli legal bukan berarti kami akan mengacau atau begitulah.”

“Itu TEPAT masalahnya! Tolong jangan gunakan kata-kata seperti loli legal di depan guruku. Serius, tak ada orangtua orang lain yang seperti itu. Tolong, aku mohon, diam saja, oke?” Hajime terlihat sangat serius. Tapi ibunya, Sumire, dan ayahnya, Shuu, hanya menyeringai bak anak kecil.

“Apakah kau dengar itu, Sumire? Dia mengatakan tak ada orangtua orang lain yang seperti ini.”

“Memang benar. Untuk menduga dia menganggap kami sebagai orang spesial ... Sayang, aku tidak menduga aku akan bisa melepaskannya ketika saatnya tiba untuk menjadi mandiri. Ufufu.”

“Itu bukanlah maksudku! Berhentilah menafsirkan hal-hal sesuka kalian!” Orangtua Hajime mengabaikannya. Hari ini adalah hari yang dijadwalkan untuk konferensi orangtua-gurunya. Karena dia tahu betapa gilanya orangtuanya, Hajime sangat cemas mereka mungkin mengacaukan segalanya.

Dia tiba-tiba teringat bencana disaat konferensi SMP-nya. Dia tersadar dari renungannya oleh suara langkah kaki seseorang yang datang ke lorong. Guru yang keluar untuk menyambut mereka tidak lain adalah Hatayama Aiko. Berdiri hanya setinggi 140 sentimeter, Aiko yang berwajah bayi mirip dengan bayi tupai lebih dari guru dengan cara dia selalu berlari melakukan yang terbaik untuk membantu, tapi malah memperburuk keadaan.

Wawancara itu dimulai dengan polos dengan Aiko berbicara mengani nilai Hajime. Shuu dan Sumire mengangguk dengan berlebihan sambil dia memeriksa nilai tesnya dan sejenisnya. Mereka jelas hanya berpura-pura bagian itu, jadi Hajime semakin peduli.

“Umm, jadi pada dasarnya, Nagumo-kun baik-baik saja secara akademis. Meskipun aku dan beberapa guru lainnya cemas soal kebiasaan kronisnya tidur di kelas ...” Aiko tersenyum canggung, dan Hajime membalas senyumnya. Lalu, dengan enggan, dia membuka mulutnya dan mencoba mengantarkan kalimat berikutnya sebijaksana mungkin.

“Selain itu, hubungan interpersonal Nagumo-kun sedikit ...”

Sebuah gambaran Hajime duduk sendirian saat makan siang melintas di benak Aiko. Meskipun isolasinya mengkhawatirkan Aiko, Hajime sendiri sepertinya tidak terganggu sama sekali. Dia bahkan mengatakan kepada Aiko untuk tidak mengkhawatirkannya, jadi dia tidak yakin bagaimana mengatasinya. Namun, Shuu menepis kekhawatirannya dengan sembarangan.

“Baik aku dan istriku sadar akan kekurangan teman-temannya, Sensei. Dan tak satu pun dari kami yang peduli.”

“T-Tapi ...”

“Tidak apa-apa, Sensei. Anak kami mungkin sedikit pasif, tapi jika saatnya tiba ketika dia perlu melangkah, dia akan melakukannya. Aku dan suamiku sudah mendiskusikan hal ini sejak lama ... dan jika waktunya tiba bahwa putra kami harus melarikan diri, kami sudah menyiapkan beberapa pilihan untuknya!”

“U-Umm aku tidak yakin melarikan diri adalah ...” Aiko heran pada bagaimana orangtua Hajime yang tidak peduli dengan situasi sekolahnya, dan mereka bahkan bersedia membantunya melarikan diri jika Hajime menginginkannya.

Sumire mendadak berubah serius. Memikirkan komentarnya sebelumnya karena itu harusnya cuma bercanda, Aiko juga menjadi serius. Dia bersiap untuk ibu Hajime menanyakan apa yang dia lakukan sebagai guru untuk memperbaiki situasi, tapi apa yang Sumire minta benar-benar tidak terduga.

“Omong-omong, Hatayama-sensei, apa Anda sudah berpacaran sekarang?”

“... Datang lagi?” Aiko membuka matanya lebar-lebar, tanda tanya metafora mengambang di atas kepalanya. Sebuah tanda tanya mengambang di atas kepala Hajime.

“Aku bertanya apakah ada laki-laki yang Anda kencani.”

“T-Tidak, tidak ada, tapi ...”

“Lalu, apakah ada seorang perempuan yang Anda kencani?”

“Tentu saja tidak! Apa maksud Anda!?” Aiko berteriak ketakutan. Ekspresi Hajime mengalami transformasi yang cepat.

“Aku mengerti. Aku pernah mendengar bahwa mengajar adalah pekerjaan yang sangat menuntut. Apalagi, putraku berkata Anda bahkan menyerahkan banyak waktu luang untuk membantu para murid ... Terus terang saja, kami cemas soal prospek pernikahan Anda.”

“Te-Terima kasih atas perhatian Anda! Jadi, mengapa Anda melakukan ini?”

“Yah, aku hanya berpikir ... kenapa tidak menikahi putra kami?”

“Serius, apa maksud ANda!?” Aiko berseru.

“Apa-apaan! Bu, Yah!” Kekacauan menyelimuti ruang kelas. Shuu dan Sumire terus membingungkan Aiko lebih jauh, sementara Hajime mati-matian mencoba menghentikan kekacauan orangtuanya. Namun, hanya memburuk dari sana.

“Hah? Tapi bukankah Hatayama-sensei benar-benar tipemu?” Shuu bertanya.

Bingung, Aiko tidak bisa berkata lebih dari “Hawawa.”

Untuk itu, Sumire berkomentar, “Wow, akhirnya aku mendengar seseorang ‘hawawa’ dalam kehidupan nyata,” sambil mengangguk puas.

“U-Umm, itu semua yang ingin aku diskusikan ...” Aiko merosot lelah di atas meja yang dia duduki.

Beberapa saat kemudian, dia bangkit dan berjalan sempoyongan ke kantor guru. Berurusan dengan Shuu dan Sumire bersama-sama menguras banyak stamina mental. Hajime tengah memikirkan permintaan maaf yang tepat ketika Aiko tiba-tiba berhenti di tengah-tengah lorong dan berbalik ke arah mereka. Ada sedikit sipu samar menyebar di pipinya.

“N-Nagumo-kun! Aku gurumu, jadi kita tidak bisa menjalin hubungan, oke?” Dia kemudian berbalik dan menghilang ke kantor guru.

“Bu, Yah, bagaimana aku harus menghadapi guruku besok?”

Orangtua Hajime hanya memberinya acungan jempol.

“Dengan senyuman, kan?” Mereka berdua mengatakan itu secara bersamaan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hajime merasa ingin membunuh seseorang.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar