Unlimited Project Works

07 Oktober, 2018

Campione v3 1-1

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 1

Suatu malam tertentu di minggu kedua bulan Maret, di daerah Nezu di kawasan Bunkyo di Tokyo.

Di ruang tamu rumah Kusanagi, dua pria tua tengah menikmati alkohol.

Godou juga ada di sana, duduk di pojok. Tapi dia ada di sana hanya untuk menuangkan minuman keras itu, bergerak maju mundur untuk mengantarkan botol sake hangat.

... Dengan satu hirupan, dia bisa tahu apakah sake itu menghangat pada suhu yang tepat.

Sebetulnya ini adalah salah satu keahlian Godou. Tapi untuk memiliki keterampilan seperti itu pada usia lima belas tahun, itu sama sekali tidak terasa benar. Tapi tetap saja, itu adalah keterampilan yang dilatih oleh kakeknya sejak usia muda.

"—Jadi, kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi ke Italia?"

Orang yang menanyakan ini adalah teman lama kakek, Takamatsu-sensei.

Dia berasal dari generasi yang sama dengan kakeknya, seorang profesor di sebuah universitas swasta di Tokyo yang mengajar sejarah barat. Karena itulah, Godou dan adiknya Shizuka memanggilnya 'sensei.'

"Eh? Aku hanya pergi ke sana untuk bertemu dengan seorang teman lama."

Orang yang menjawab adalah orang yang akan berangkat ke Italia hanya dalam waktu dua hari, Kusanagi Ichirou.

Kendati dia orang yang suka bepergian, dia jarang sekali meninggalkan negara ini. Tetapi, selama musim semi ini, ia mendadak mengatakan bahwa ia ingin pergi ke Italia.

Dan karena itu, Takamatsu-sensei secara khusus datang menemuinya dengan botol alkohol.

... Kakek juga pernah menjadi profesor folkloristics, tapi sudah pensiun. Sekarang, dia melewati hari-harinya dengan santai. Terlalu santai, kadang kala. Godou benar-benar ingin memberitahunya.

Meski dia benar-benar ingin berterima kasih padanya karena telah melakukan semua pekerjaan rumah tangga.

Tapi untuk menanamkan pengetahuan cucunya soal selera, aroma dan bahkan asal mula alkohol, menjadi populer di antara semua wanita yang sering mengunjungi distrik perbelanjaan (baik tua maupun muda), dan sering bertemu wanita yang lebih tua (yang Godou yakini sebagai wanita cantik di masa lalu) di jalan, sepertinya tahu banyak dari mereka, Godou merasa pasti ada masalah.

"... Teman lama yang kamu sebutkan itu wanita, kan?"

Takamatsu-sensei, teman lama kakek, berkata dengan agak jijik.

Sebagai catatan, orang ini akan selalu mengatakan sesuatu seperti "Kamu terlihat sangat mirip dengan Ichirou ..." setiap kali dia melihat wajah Godou. Yang benar saja, DNA yang diwariskan pasti akan menyebabkan kesamaan wajah, jadi tolong jangan sampai ada kecemasan aneh ini.

"Ah, setelah kamu mengungkitnya, kamu juga kenal dia. Ya, apakah kamu ingat? Lucretia Zola si mahasiswa asing asal Italia saat kita kuliah di universitas?"

"Oh, wanita itu. Hei, jangan bilang bahwa kamu terus berhubungan dengannya selama ini?"

"Tidak. Itu baru dimulai belakangan ini. Aku mengirim surat ke alamat rumah Italia yang dia berikan padaku sebelumnya, dan sebuah balasan. Benda yang dia tinggalkan di Jepang empat puluh tahun yang lalu akhirnya menjadi milikku. Kalau bisa, aku ingin mengembalikannya pada dia secara pribadi."

"Tunggu sebentar! Bukankah kamu sudah janji pada Chiyo kamu tidak akan pernah menemui wanita itu lagi? Apakah kamu sudah lupa?"

Percakapan mulai terasa tak terkendali.

Chiyo adalah nama nenek Godou yang meninggal beberapa tahun yang lalu.

Kembali di masa lalu, kakek adalah pria yang tampan. Dia memiliki karunia percakapan untuk memenangkan hati orang secara terampil, diplomasi sempurna, dan kemampuan pengamatan yang luar biasa. Dengan kata lain, dia sangat populer dengan wanita.

Dan dia tidak pernah menolak siapa pun.

Karena kakeknya seperti ini, nenek pastinya tangguh.

"Janji ... Bukankah aku tidak akan menemuinya di bandara?"

"Bukan itu! Aku yakin kamu ingat, kamu cuma pura-pura lupa. Apalagi lagi, kamu tidak berkewajiban untuk pergi secara pribadi, yang kamu butuhkan hanyalah mengirimkannya melalui pos udara."

Menuju kakek yang bertingkah seperti tidak tahu, Takamatsu-sensei menunjukkan situasinya.

"Sepertinya sesuatu yang berharga. Tidakkah akan merepotkan jika rusak dalam perjalanan ke sana? Dan aku juga ingin mengunjungi Italia sekali dan mengobrol dengan Lucretia Zola yang belum pernah kutemui dalam waktu yang lama."

"Ichirou, apa kamu tahu bagaimana cara berbicara bahasa Italia?"

"Tidak, bahkan sepatah kata pun tidak. Tapi semuanya akan berjalan baik, jadi akan baik-baik saja."

Jika ini dikatakan oleh orang tua biasa, dia akan menjadi orang yang sangat santai, atau menderita demensia.

Tapi bukan itu yang terjadi pada kakek. Ketika Kusanagi Ichirou masih menjadi sarjana folkloristis yang aktif, dia seperti selebriti dalam penelitian lapangan. Mengkhususkan diri dalam mempelajari berbagai seni dan budaya tradisional, dia sering pergi ke berbagai negara untuk menyelidiki.

Tempat yang dia kunjungi untuk diselidiki kadang bisa menjadi komunitas desa terpencil.

Dia mampu mengintegrasikan dirinya ke dalam komunitas mereka dengan cepat, membangun hubungan baik dengan penduduk desa dan bahkan mendapatkan beberapa rahasia desa yang biasanya tidak diberitahu kepada orang luar. Apalagi lagi, sebagian besar desa ini terletak di Asia Tenggara, China, India dan negara-negara asing lainnya. Dia bisa dengan mudah mengatasi hambatan bahasa yang biasanya akan menghentikan orang lain.

Bisa dikatakan berada pada tingkat manusia super.

"Benda yang berharga ... Apa yang wanita itu tinggalkan di Jepang?"

"Soal itu, ingatkah kelompok teman-teman di universitas yang biasanya sering bepergian bersama? Pada saat itu, ada kejadian tertentu soal kutukan dari dewa penjaga dan jika aku mengingatnya dengan benar, dua puluh orang meninggal dan hal itu menimbulkan keributan besar."

"Kutukan!?"

Mendengar cerita yang luar biasa itu, Godou berteriak tanpa sadar.

Sambil mencermati cucunya, Ichirou tersenyum dan berkata.

"Ya, ini adalah cerita yang kudengar selama aku berada di institut penelitian. Sekelompok teman baik pergi ke Noto untuk berlibur. Pada saat itu, banyak, banyak hal terjadi."

"Aku ingat bahwa ini menyebabkan kegemparan ... Penyihir itu sepertinya menyembunyikan dirinya di suatu tempat dan melakukan hal-hal aneh."

"P-Penyihir?"

Dari mulut Takamatsu-sensei terdengar kalimat yang luar biasa, Godou bahkan lebih terkejut.

Sebuah kutukan diikuti oleh penyihir, apa yang terjadi saat itu?

"... Wanita yang akan ditemui Ichirou, pelajar asing dari Italia yang dijuluki 'penyihir'. Seorang perempuan dengan kehadiran yang aneh, aku tidak tahu kapan dimulai, tapi orang-orang mulai memanggilnya dengan nama panggilan ini."

"Tapi, dia selalu tersenyum dan menjawab 'Ya, aku penyihir'."

Dengan semua ini, Takamatsu-sensei mulai terlihat sedikit kesal, sementara kakeknya masih sangat senang.

Kemungkinan besar mengenang kejadian lama, dia memejamkan mata dan melanjutkan:

"Dia wanita yang sangat menarik. Dia bergaul dengan baik dengan kucing serta burung, dapat menemukan benda-benda yang hilang dengan segera, dan memperkirakan cuaca esok hari dengan akurasi yang lebih tinggi daripada ramalan cuaca ... Oh, dan dia sangat fasih berbahasa Jepang — Pada dasarnya sama seperti penduduk lokal seperti kita."

Wanita ini, bersama dengan Ichirou dan Takamatsu-sensei yang lebih muda, telah melakukan perjalanan onsen.

Selama kunjungan mereka ke sebuah penginapan musim panas di sebuah desa terpencil, hal-hal aneh telah terjadi.

"Ada banyak orang yang meninggal karena serangan jantung, dalam rentang waktu hanya setengah bulan, dengan kira-kira dua puluh korban. Tidak ada epidemi atau insiden pembunuhan sehingga rumor menyebar bahwa itu adalah retribusi yang disebabkan oleh kutukan dewa bumi setempat."

"Kutukan ... Jika itu adalah cerita detektif, pasti ada trik mengejutkan?"

Godou tidak menyukai genre cerita detektif, tapi kakeknya hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa kecut.

"Sayang sekali, tidak ada trik yang terungkap. Itu hanya karena keberuntungan bahwa kami berada di sana dalam perjalanan kami. Kami semua sangat panik. Satu-satunya orang yang tenang adalah Lucretia Zola. Dia keluar malam itu, baru pulang pagi dengan lelah. Ketika dia kembali, dia membuat 'nubuat', bahwa sejak hari itu dan seterusnya, tak ada yang akan mati seperti itu lagi. Semuanya teratasi."

Cerita yang luar biasa. Semuanya tampak seperti bohong.

Tapi sang kakek tampaknya tidak bercanda. Takamatsu-sensei juga serius.

"Sepertinya orang yang luar biasa ... Omong-omong, mengapa dia datang ke sini untuk belajar?"

Minatnya terusik, Godou penasaran untuk bertanya lebih jauh.

"Itu untuk mempelajari legenda kuno Jepang — terutama legenda tentang Yamato Takeru. Sebenarnya, dia lebih tahu tentang mitos dan cerita seperti itu pada pedang legendaris daripada kita. Sebelum datang ke Jepang, dia telah meneliti legenda Raja Arthur dan Ksatria Meja Bundar di sebuah universitas di London."

"Ini tidak masuk akal, mengapa dia sengaja meninggalkan universitas di London untuk datang ke Jepang?"

"Mana kutahu, kalau kamu bertanya pada Lucretia Zola secara pribadi, yang dia lakukan hanyalah tersenyum dan mengatakan bahwa dia memiliki alasannya."

"Itu berarti banyak hal terjadi antara kakek dan wanita ini."

Kembali ketika kakek adalah seorang mahasiswa pascasarjana, dia hanya bertunangan dengan nenek dan mereka belum pernah menikah. Nenek lalu melarang kakek untuk menemui Lucretia Zola-san, karena itulah Takamatsu-sensei kini menunjukkan ekspresi sedih semacam itu.

Dengan ini, Godou pun mengerti keseluruhan ceritanya.

"Banyak hal? Tolong jangan bicara buruk tentangku. Kami hanya berteman dengan saling menghormati yang kebetulan memiliki bergender berlawanan. Chiyo dan Takamatsu seharusnya tidak memiliki kesalahpahaman aneh seperti itu."

Jawaban jujur ​​seperti itu, pasti tidak bisa dipercaya. Godou mendesah.

... Mengingat kata-kata nenek yang telah meninggal itu berulang kali:

'Godou, kamu tidak boleh menjadi seperti kakekmu. Meskipun dia adalah orang yang luar biasa, dia memiliki cacat fatal sejak awal ... Karena kamu masih sangat muda, Nenek selalu mencemaskanmu karena kamu mirip dengan kakekmu. Kendati dia biasanya seperti pria yang baik, dia terkenal terkadang melakukan hal-hal yang kurang masuk akal ... Ya ampun, aku sangat cemas.'

Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu pada Godou yang belum dewasa?

Penyebab kecemasan nenek, adalah suami penyuka perempuan yang tinggal bersamanya selama bertahun-tahun ini, dan jelas bukan tindakan Godou sendiri. Godou berpikir sendiri sambil menatap langsung ke mata kakeknya dan berbicara.

"Hei, Kakek, sebelum aku membicarakan masalah lain, bukankah ini janji yang telah kakek buat dengan nenek? Kenapa tidak menyerah saja. Tolong batalkan perjalanan ke Italia."

"Itu, aku tidak bisa melakukannya. Sekali pun sangat tidak adil bagi Chiyo, janji dengan seorang teman lama juga sangat penting. Aku sudah berjanji kepadanya bahwa aku akan membawa benda itu kepadanya secara pribadi."

Sebuah janji untuk seorang teman.

Jika memang begitu, Godou tidak membantah.

Kendati menjadi seorang Casanova, kakek tidak pernah mengkhianati kepercayaan keluarganya. Ini juga salah satu alasan mengapa teman laki-lakinya mengaguminya. Entah pria atau wanita, Kusanagi Ichirou tidak akan pernah bersikap tidak adil terhadap seorang teman. Pada saat dia mendengar bahwa seorang teman memerlukan bantuan, dia akan segera bergegas membantu, jikapun berada di luar Jepang. Dia memiliki hati bak seorang ksatria.

Seseorang yang menghargai hubungan di atas segalanya.

Godou menghormati dan mengagumi aspek karakter kakeknya ini, dan ingin menjadi orang seperti itu juga jika memungkinkan.

"... Milik wanita itu, apa itu? Kamu hanya menggambarkannya sebagai sesuatu yang berharga."

"Soal itu, di desa tempat kejadian kutukan terjadi, bukankah dia meninggalkan sesuatu? ... Malam itu, Lucretia Zola telah mengunjungi sebuah kuil yang dibakar oleh orang-orang lokal yang tidak hormat, mempresentasikan benda ini sebagai persembahan. Setelah itu, kutukan berhenti ... Mungkin kutukan dan penyihir itu nyata?"

Menghadapi penyelidikan Takamatsu-sensei, kakek meninggalkan kursinya dan dengan cepat kembali.

Membawa benda datar yang dibungkus dengan sehelai kain ungu.

Lalu dia meletakkannya di atas meja dan membukanya.

Tablet batu berukuran B5, di atasnya ada gambar kekanak-kanakan. Seharusnya foto seorang pria dengan kedua tangan dan kakinya dikunci, didistribusikan di tepi gambar ini adalah gambar seekor burung dengan sayapnya terbentang, matahari, bulan dan bintang.

Tablet itu sudah usang dan ada tanda-tanda sudah dibakar.

"... Sebuah litograf, mungkinkah ini sangat kuno?"

Godou memberikan pendapatnya yang jujur.

Sebuah ukiran yang ditinggalkan oleh orang-orang primitif di suatu tempat. Jika itu masalahnya, itu masuk akal.

"Sepertinya bukan. Sampai ini bisa menjadi artefak yang digali dari situs arkeologi, kondisinya terlalu bagus ... meski tak bisa mengesampingkan kemungkinan itu adalah karya seniman hebat."

Melihat tablet batu dengan ketertarikan, kakek menjawab.

"Ichirou, bagaimana benda ini bisa menjadi milikmu?"

"Sebenarnya desa itu dikosongkan lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Orang yang mengelola kuil itu terganggu dengan bagaimana menangani tablet batu. Mereka tidak tahu bagaimana menemukan pemiliknya tapi bisa mengingat wajah salah satu mahasiswa yang menyertainya, dan mahasiswa itu ternyata adalah aku. Melalui berbagai halangan, akhirnya mereka bisa menghubungiku."

"Setelah itu, kakek memutuskan untuk pergi menemui orang itu."

Kebetulan sekali ini membuat hati Godou bergetar.

Sebagai seorang sarjana dalam folkloristis, Kusanagi Ichirou memiliki publikasi, sehingga namanya tercatat di universitas tempat dia bekerja pada saat itu. Dengan menghubungi universitas tersebut, mereka bisa menemukan informasi kontak kakek. Jika kakek telah menjadi orang biasa dalam hal-hal yang sederhana, kemungkinan besar mereka tidak akan menemukannya.

Sebenarnya, butuh banyak waktu bagi mereka untuk saling bertemu lagi.

Godou bisa mengerti perasaan kakek yang ingin mengembalikan tablet batu itu ke pemilik aslinya.

Namun, Godou tidak bisa membiarkan kakeknya melanggar janji dengan nenek begitu saja.

Setelah beberapa pertimbangan, Godou membuat keputusannya, tablet akan dikirimkan dengan cara lain.

"Baiklah, aku mengerti — aku akan membawa tablet batu ini ke Italia. Dengan begini, kakek bisa menepati janjinya dengan baik."

Melihat Godou mengusul begitu, kakeknya menunjukkan ketertarikannya pada matanya, sementara Takamatsu-sensei tampak sangat cemas.

"Godou, apakah kamu serius? Kamu kenal orang Italia?"

"Tidak, sama sekali tidak. Tapi semuanya akan berjalan entah bagaimana, tidak masalah."

Godou sudah berpengalaman untuk dibawa ke luar negeri oleh kakeknya.

Tempat-tempat yang dikunjungi kebanyakan adalah negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam atau Thailand. Terpisah dari kakek lalu bertemu beberapa hari kemudian pun terjadi. Setiap kali terjadi, Godou harus menghabiskan lebih dari setengah hari sendirian tanpa uang dan kesulitan bahasa. Dalam kasus yang parah, dia harus menunggu beberapa hari.

Usai mengalami situasi seperti itu berkali-kali, Godou benar-benar menjadi terbiasa dengan hal itu.

Kesulitan bahasa bisa ditangani oleh bahasa tubuh. Hal ini terbukti berhasil dengan sangat baik untuk berkomunikasi meski makna rumit tidak dapat diungkapkan, tapi hal itu membawanya mendekat kepada orang lain.

Orang Jepang lainnya mungkin akan membeku jika mereka bertemu orang asing di jalanan dan harus bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Dalam situasi seperti itu, Godou akan memanfaatkan begitu banyak bahasa Inggris yang dia ketahui untuk membangun sebuah dialog yang terpotong-potong.

... Omong-omong, adik perempuannya Shizuka juga pernah bepergian ke luar negeri bersama kakeknya beberapa kali.

Tapi dia tidak pernah bertemu dengan hal-hal yang terjadi pada kakaknya, membuat Godou mencurigai bila kakeknya sengaja menjebaknya untuk melatih cucunya.

"Hoho, Godou ingin masuk menggantikanku ... Bisakah aku mempercayakan ini padamu dengan percaya diri?"

Senyuman menggoda muncul di wajah sang kakek.

"Betul, seorang pria harus menepati janjinya. Saat ini liburan musim semi, jadi aku pasti bosan sampai mati."

"Tempat Lucretia tinggal, meski dianggap Italia, sebenarnya adalah sebuah pulau di Mediterania — Sardinia, dan terletak jauh di pedalaman pedalaman pulau itu. Kupikir kamu akan menganggapnya kasar."

Saat dia melihat pernyataan cucunya, sifat senyuman kakeknya berubah.

Ini memberi rasa pujian tapi pada saat yang sama seperti bermain lelucon. Senyum itu tercampur dengan emosi yang rumit, senyum yang sangat menggembirakan.

"Aku mengerti, lantas aku akan menyerahkan semuanya padamu. Tangani dengan baik."

Sambil mengangkat tablet batu dari meja, ia meletakkannya di tangan Godou.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar