Unlimited Project Works

17 Oktober, 2018

Campione v3 2-3

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 3

Hasil pertandingannya sangat mengejutkan.

Godou berhasil memukul beberapa bola pertama dan menang di awal, tapi ia mulai kalah, sampai akhir pertandingan.

Pemuda itu melempar bola putih dengan postur tubuh yang sangat ceroboh.

Namun, bola terbang dengan keras dan kencang. Dalam hal kontrol, lintasannya juga bisa digambarkan tidak kalah sempurna.

Bahkan di antara generasi Godou, tak ada pelempar lain yang bisa melempar bola semacam itu. Miura dari SMP yang sangat melampaui Godou dengan bakat alami, dan juga pitcher mengerikan yang dia temui saat bepergian ke Korea dan Taiwan, tidak satupun dari mereka setara dengan pemuda di pulau Sardinia ini.

Tingginya kurang dari 170cm, pemuda ini juga memiliki tubuh yang sangat kurus.

Namun, kekuatan lemparannya tidak bisa diimbangi.

"Kamu yakin belum pernah bermain bisbol sebelumnya?"

"Ya, hari ini adalah pertama kalinya, dan rasanya agak lucu."

Dengan lebih dari tiga puluh bola terlempar, sebagian besar berakhir dengan ayunan yang gagal.

Sikap lemparan pemuda itu tanpa keraguan diimprovisasi, dan sepertinya dia tidak pernah mendapat pelatihan sebelumnya. Namun, tindakannya tampak begitu alami.

Jelas sangat acak, tapi gerakannya sangat elegan, dan hasilnya adalah bola cepat lurus dengan kekuatan besar.

Setelah pemukul itu gagal, bola berlanjut dengan momentum yang sepertinya akan merusak jaring ikan.

"Sialan, tak ada gunanya, bisakah kita istirahat? Biarkan aku membuat strategi."

Mulai terengah-engah, Godou meminta waktu istirahat.

Jenius? Apakah ini yang disebut jenius sejati? Tidak, Godou merasa tidak. Pemuda di hadapannya yang mengaku amnesia bukanlah seseorang yang bisa digambarkan begitu mudah dengan kata benda sederhana—ada perasaan sesuatu yang tidak biasa di sini.

Tapi tak peduli seberapa cepat bola terbang, mereka sama sekali tidak mungkin dipukul.

Langkah pertama adalah mata yang terbiasa pada tingkat kecepatan itu. Konon, bahkan saat dia pemukul keempat, Godou tidak bisa memukul bola cepat yang dilemparkan dengan kekuatan seperti itu. Apa yang harus dia lakukan?

"Hohoho, takusah panik. Akulah yang terkuat dan mengalahkan semua lawan. Aku hanya ingin melakukan pertarungan yang bagus, silakan saja ambil banyak waktu untuk berpikir sesuai keinginanmu."

Jelas kata-kata arogansi semacam itu, tapi Godou tidak dapat menemukan jawaban.

Selain itu, pemuda itu tampak seolah-olah dia bahkan tidak berusaha — Godou tidak dapat menerima kekalahan seperti ini, dia harus menemukan cara untuk membalikkan keadaan!

... Walau anak-anak di dekatnya bermain sepak bola agak jauh, lemparan pemuda itu terlalu menakjubkan, dan tak lama kemudian mereka semua berkumpul di sampingnya untuk menonton.

Melihat Godou beristirahat sejenak, mereka perlahan mengelilinginya.

Llau anak-anak Cagliari juga ikut dalam kompetisi tersebut.

Walau begitu, tak ada yang bisa mengalahkan pemuda tersebut. Jangankan mencetak gol bagus, bahkan menyentuh bola pun mustahil bagi mereka.

"Siapa sih orang itu ...? Jika seseorang menggambarkannya sebagai orang yang tidak manusiawi, itu bisa dipercaya."

Setelah melempar lebih dari seratus bola cepat nan kuat, pernapasan pemuda itu tetap teratur.

Begitu juga kekuatan kontrol dari keraguan lemparan.

Melihat pemuda tersebut menakut-nakuti anak-anak setempat dengan mudah, Godou sangat terkejut.

Segera setelah itu, sepertinya mereka sedang bersiap untuk bermain sepak bola. Para pemuda Italia memeluk Godou dan bahu pemuda itu lalu berjalan menuju sepak bola.

"Hei, bisakah kamu mengajukan pertanyaan untukku? Tak apa bagi mereka untuk tidak pergi bekerja? Sepertinya mereka bermain terlalu banyak."

"Jangan mempermasalahkan hal kecil begitu ... Ini bisa menjadi cara mereka melakukan sesuatu, bukankah ada perkataan 'melakukan seperti yang dilakukan orang Romawi?' Engkau pergi dan menikmati dirimu sendiri."

Melihat Godou khawatir, pemuda itu tersenyum dengan jujur.

"Baiklah, terserah." Merasakan suasana Latin yang cepat, Godou menyerah pada jawabannya.

Mungkin itu karena ia sudah terbiasa dengan kepribadian konyol dari kakek dan ibunya, dan juga pengaruh teman mereka. Walau Godou menganggap dirinya memiliki karakter yang sangat serius, dia mendapati dirinya memiliki toleransi yang agak murah hati untuk memenuhi karakter yang begitu sembrono dan aneh.

Jika demikian, lakukan saja saat pemuda tersebut menyarankan dan jangan memikirkan hal lain, bersenang-senanglah tanpa khawatir.

Dengan mengenakan kaos atau rompi, pemuda Italia itu adalah pekerja yang paling mungkin. Dengan kata lain, mayoritas dari mereka bertubuh kuat dengan lengan, kepala dan punggung yang mirip dengan patung David. Untuk sesaat, Godou merasa terintimidasi tapi dia langsung terbiasa.

Godou dan pemuda itu bergabung dengan tim yang sama, dan mulai bermain sepakbola jalanan.

Bahkan di sepakbola pun tak ada yang bisa mengalahkan pemuda itu.

Meliuk-liuk bola dengan cekatan melalui lawan-lawannya, membantu rekan setimnya di dekat gawang dengan memberikan bola melewati celah yang sempit, dan mencetak gol spektakuler. Walau dia menyebutnya 'pertama kali bagiku' ayo kita abaikan saja. Bagaimanapun, itulah jenis pertunjukan yang dia berikan.

Di akhir permainan, pemuda tersebut membawa bola melewati lima bek dan mengakhiri pertandingan dengan bola melengkung yang sempurna yang tertembak ke gawang. Sosoknya seperti seorang dewa.

"Fantastico! Fantastico! Figlio Del Sole!"

Seorang pemuda yang paling emosional berteriak.

Mengakhiri pertandingan tanpa penyesalan, gurp tersebut mengelilingi si pemuda, bersorak dengan wajah tersenyum dan air mata emosional. Mencurahi dia dengan pujian bergaya Latin seperti memanggilnya jenius dan lahir dari matahari.

Segera, langit berangsur-angsur menjadi gelap.

Matahari yang terbenam perlahan memberi pelabuhan itu warna oranye, dan keduanya mengucapkan perpisahan pada si pemuda Italia. (Pada akhirnya, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kembali bekerja, jadi tidak ada gunanya bertanya.)

Pemuda itu saling melirik Godou, dan mereka saling tersenyum.

"... Meski ini hari aneh, tapi aku sangat senang. Bagaimana denganmu?"

"Aku juga senang. Permainan itu lumayan juga."

Godou yang tidak pernah menganggap dirinya tipe ramah, terkejut mendapati dirinya begitu akrab dengan pemuda dalam waktu singkat, bahkan tanpa tahu namanya.

Namun, itu bukan perasaan yang tidak menyenangkan.

Rasanya seperti masa-masa ketika dia masih bermain bisbol dan bergaul dengan rekan satu tim ...

Itulah perasaan ramah yang dia dapatkan dari pemuda ini.

"Aku akan bepergian ke daratan besok. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Jika kamu berencana untuk tinggal di sini untuk sementara waktu, ayo bertemu lagi saat aku kembali."

"Ya, aku juga sedang ada urusan ..."

"Bukankah kamu bilang kamu kehilangan ingatanmu, apa yang sedang kamu rencanakan? Ada apa, hanya bermain sepakbola dengan orang-orang itu tadi. Atau mungkin pertandingan bisbol yang tepat dengan sembilan pemain di setiap sisinya, tapi ruang yang jauh lebih luas daripada dermaga ini akan dibutuhkan."

"Oh? Engkau telah kalah dalam pertandingan, namun engkau tidak belajar pelajaranmu?"

Keduanya mengobrol dan tertawa bersama.

Matahari terbenam di jalan pelabuhan.

Jalan laut kecil menyinari warna oranye terang.

Hari akan segera berakhir. Jika memungkinkan, Godou benar-benar ingin meluangkan lebih banyak waktu bersama pemuda ini. Dikonsumsi dengan pemikiran itu, ia menjadi lebih banyak bicara.

Karena itulah dia gagal melihat bayangan di jalan di depan.

Bayangan ini dalam bentuk seorang wanita muda yang cantik.

Pada saat Godou memerhatikannya, dia sudah memulai pembicaraan.

"Permisi, orang yang sedang berjalan di sana — aku sangat menyesal atas gangguan mendadak itu, tapi ada yang ingin kutanyakan."

Itu dikatakan dalam bahasa Italia.

Tentu saja, Godou sama sekali tidak mengerti, tapi saat itu perhatiannya benar-benar ditarik oleh gadis yang muncul di hadapannya.

Hampir tidak lebih dari 160cm, tinggi badannya tidak terlalu tinggi untuk standar Eropa. Namun, ada rasa martabat, bagaimana seharusnya orang bilang? Laga bak ratu, berdiri di sana dengan kehadiran yang begitu mengesankan.

Rambut pirangnya yang panjang berkibar melawan angin laut.

Dengan warna merah, di bawah cahaya matahari terbenam oranye dan kontras dengan rambut pirangnya yang panjang, kesan warna merah sangat diintensifkan.

Merah bak nyala api dan rambut warna emas yang membara, warnanya bak mahkota seorang pendekar, dengan anggun bertengger di atas kepalanya.

Namun, selain ini — sosok yang paling penting adalah kecantikan gadis itu, yang mana Godou tak bisa mengalihkan pandangannya.

Sosok cantik seolah-olah hasil pengerjaan halus, proporsional lebih baik dari pada boneka mana pun, lebih hidup dari model atau aktris mana pun, dan benar-benar jenuh dengan kemuliaan dan kepercayaan diri, itu adalah wajah yang tak pernah bisa dilupakan setelah melihat sekali.

"Tolong beritahu aku semua tentang dewa yang telah muncul di pulau ini. Namaku Erica Blandelli. Anggaplah itu hadiah balasan, karena kau tidak perlu memberikan namamu."


Setelah beberapa hari, akhirnya terpikir oleh Godou.

Jika dia tahu dia akan mengatakan sesuatu yang begitu sombong, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya tertarik padanya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar