Unlimited Project Works

17 Oktober, 2018

Campione v3 2-4

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 4

"...Hei, apa kata gadis itu? Dia terlihat sangat serius."

"Dia ingin kita mengakui semua hal yang kita ketahui. Sederhananya, ini adalah ancaman."

"Ancaman?"

Dialog antara Godou dan pemuda ini, berlangsung dalam bahasa Jepang tentunya.

Mendengar itu, gadis cantik pirang itu mengerutkan kening karena ketidaksenangan.

Bahkan untuk ekspresi ini seindah lukisan, gadis ini sangat menakjubkan.

Mengenakan atasan merah dengan celana pendek hitam, pakaiannya sedikit biasa walau kecantikannya luar biasa. Namun, karena kombinasi yang penuh selera sangat alami dan tak terkekang, mungkin kecantikan dan sosoknya yang tak tertandingi yang menyebabkan pendapat orang mengenai pakaiannya membaik.

"... Banyak jalan menuju Roma. Lakukan seperti yang dilakukan orang Romawi. Sayang sekali. Kau terlalu bodoh untuk datang ke sini dengan jelas tak tahu bahasa Italia."

Gadis itu berbicara lagi, sedikit marah.

Mengabaikan konten yang agak kasar, kali ini dia berbicara dengan bahasa Jepang yang sangat fasih. Barangkali dia dalam suasana hati yang buruk karena kemunculan kerennya itu manja.

"Aku ingin bertanya soal insiden [Dewa Sesat] yang terjadi di seluruh pulau Sardinia sekitar tiga hari yang lalu. Bosa, Orgosolo, Barumini ... kau terlihat di semua tempat di mana kehadiran dewata dikonfirmasi. Ini tidak mungkin kebetulan, kan?"

Gadis itu selesai berbicara dan menatap pemuda di sebelah Godou.

Tempat yang dia sebutkan adalah lokasi yang paling mungkin terjadi di pulau Sardinia. Lalu yang 'dia' maksudnya adalah pemuda itu.

Lalu lagi, apa yang dia maksud dengan [Dewa]? Sungguh membingungkan.

"Aku Erica Blandelli, Ksatria Agung dari asosiasi sihir Salib Tembaga Hitam dari Milan. Bahkan di tempat terpencil di selatan ini, ada anggota asosiasi kami, dan orang yang terlihat yang kusebutkan tadi adalah dia."

Asosiasi sihir dan dewa. Mendengar istilah aneh ini, Godou merasa terganggu.

Namun, nada suaranya terlalu natural, dan anehnya tak ada rasa disonansi.

"—Apa, siapa kau? Walau tidak jelas, mungkinkah kau penyihir? Seorang pendeta atau diakon dari suatu agama? Jika memang begitu, tak ada yang aneh jika berhasil memanggil [Dewa Sesat] secara kebetulan. Ada yang salah dengan spekulasiku?"

Erica Blandelli tersenyum penuh kesombongan.

Inilah saat pertama Godou pernah melihat senyuman sombong seperti itu pada wanita. Bagaimana dia bisa begitu angkuh, namun begitu glamor pada saat bersamaan? Godou tak bisa menahan napas pada dua poin itu.

"Ah, aku sudah lama menunggumu, tapi kau menanggapi dengan diam? Dengan cara lain, negosiasi damai berakhir di sini dan inilah saatnya pertempuran. Mencoba untuk berbicara masuk akal kepada orang-orang yang tidak bisa berkomunikasi bagaikan membuang-buang waktu."

Dengan nada menghasut begitu, bagaimana bisa damai?

Lantas Erica melanjutkan:

"Ayo, singa baja. Yang membawa roh singa, baja yang membawa esensi pertempuran! Tanggapilah tangan dan suaraku! Namamu Cuore di Leone ... Prajurit yang mewarisi nama raja berhati singa!"

Apa yang terjadi di saat berikutnya, benar-benar menjungkirbalikkan akal sehat Godou.

"Ksatria Erica Blandelli bersumpah demikian, aku akan mengembalikan kesetiaanmu dengan keberanian dan kesopananku!"

Pedang itu tiba-tiba muncul.

Bodi perak dari bilah itu ramping dan anggun, seperti seberkas cahaya bening yang menyala di bawah sinar matahari terbenam.

"Jika kau adalah seseorang yang terlibat dengan dewa-dewi, kau pasti pernah mendengar tentang nama-nama hebat Erica Blandelli dan Cuore di Leone? Aku tidak ingin menggunakan teknik merah dan hitam melawan siapa pun. Cepatlah beritahu aku semua yang kau tahu dengan efisien, cepat dan patuh."

Lalu, Erica melangkah maju di depannya dengan pedang yang bagaikan sebuah karya seni.

Tentu saja, itu menargetkan Godou dan pemuda yang menunjukkan senyuman samar.

"... Apa itu baru saja? Apa itu trik?"

"Engkau mungkin bisa mempertimbangkan tingkat sihir itu sebagai trik. Ini bukan mantra yang sangat menakjubkan."

Pedang, dewa, ksatria, sihir, penyihir—! Yang benar saja, apa-apaan semua ini?

Godou sangat terkejut. Ini adalah Italia abad kedua puluh satu, bukan Eropa abad pertengahan selama masa kegelapan. Bagaimana bisa semua istilah yang tak jelas ini muncul?

"Engkau adalah wanita kecil yang nakal. Untuk menunjukkan pedang kepadaku, bahkan untuk para pendekar di masa lalu, tak ada yang berani melakukan tindakan biadab semacam itu terhadapku. Orang-orang bodoh teramat mengerikan."

"Ah, sangat percaya diri dengan kemampuanmu sendiri?"

Terhadap pemuda yang tersenyum masam itu, Erica dengan bangga mengibaskan dadanya.

Ujung pedang melambai bak ekor hewan. Bahkan seseorang seperti Godou yang tak tahu apa-apa soal ilmu pedang bisa mengatakan bahwa itu adalah gerakan serangan yang akan datang.

"Bila kau mau, aku bisa menyiapkan pedang untukmu. Aku, Erica Blandelli, takkan membiarkan siapa pun melepaskan diri dari duel pedang. Bagaimana?"

Mendengar kata-kata sombongnya, Godou menelan seteguk udara.

Dari posisi pedang gadis cantik ini, dia mesti sangat terampil.

Hanya seseorang yang telah mencapai tingkat penguasaan tertentu bisa memiliki ketenangan yang begitu indah, keindahan fungsional yang diakibatkan oleh menghindari semua hal yang tidak perlu. Godou bisa merasakan bahwa tingkat kehadiran yang keren dan mengesankan ini tidak bisa begitu saja dengan hasil penampilan yang indah.

"Usulanmu menarik minatku, tapi cukup menyedihkan, aku tidak punya waktu luang."

"Begitu rupanya. Tak pernah ada orang yang menolak undanganku. Kupikir aku akan memiliki pengalaman penolakan pertama di tempat begini, alangkah menghina."

"Hoho, seharusnya tidak mengatakannya, aku akan bermain denganmu suatu hari nanti. Tapi sekarang—"

Pemuda tersebut mengatakan kepada Erica yang anggun namun menyesalkan:

"Orang yang lebih merepotkan datang!"

Perkembangan mendadak terjadi segera sesudahnya.

BOOOOM!!

Ledakan yang sangat keras terdengar.

Kepada Godou yang sudah sangat terkejut dengan kejadian sejauh ini—

Kini dia meragukan kewarasannya sendiri, tapi siapa yang bisa menyalahkannya?

Seekor [Babi Hutan] raksasa kira-kira lima puluh meter telah tiba-tiba muncul dari laut, dan mendarat di pantai dengan sangat berat, merusak bangunan di sekitarnya.

Pemandangan seperti ini muncul di depan matanya.

Bukan hanya Godou, tapi Erica yang memegang pedang juga membeku.

Apa ini? Mungkinkah sebuah adegan yang tampak dari film monster menjadi kenyataan?

Teramat bingung, Godou berhasil menangkap tangannya saat itu juga.

"Hei, bocah, larilah! Cepat larilah!"

Pemuda itu berteriak saat berlari, menarik tangan Godou.

Untuk mematikan pikirannya, Godou mengikuti dan berlari tanpa berpikir. Jadi ketika akhirnya dia menyadari kondisi mengerikan yang mereka hadapi, dia berkeringat dingin.

"T-Tunggu! Arah larimu terlalu berbahaya!"

"Tidak masalah, rute pelarian kita terhalang oleh pedang. Inilah yang disebut harimau di pintu depan, dan ada sesuatu di belakang. Buatlah keputusanmu dengan cepat! Hanya dengan menuju bahaya bisa ada peluang bertahan hidup."

Bahkan dalam keadaan begini, pemuda itu berteriak dengan gembira.

Tempat dimana Godou dituntun adalah tempat [Babi Hutan] mengamuk.

Mungkin tempat paling berbahaya di Cagliari pada saat ini.

"T-Tunggu! Aku punya urusan yang belum selesai—"

"Jika takdir mengizinkannya, kita akan bertemu lagi! Selamat tinggal!"

Miss Erica sepertinya meneriakkan sesuatu, tapi pemuda itu terus menarik tangan Godou selagi mereka berlari.

Bulu dan kulit [Babi Hutan] raksasa, sama seperti hitam pekat bak kegelapan.

Kapan pun hewan raksasa hitam itu melangkah ke tanah pelabuhan, bumi bergetar hebat.

"Roar!" Setiap kali melolong, jendela di gedung bergetar, lalu hancur berantakan.

Kapan pun ia menyerang, beberapa bangunan atau gudang dihancurkan bagaikan model miniatur skala kecil.

Dari suatu tempat api mulai menyala.

Mungkin minyak yang mudah terbakar tersimpan di suatu tempat penyimpanan.

Api yang menghancurkan secara bertahap menyebar, dan pelabuhan tampak seolah-olah dijilat oleh lidah merah, lalu ditelan. Perlahan, api itu tumbuh sampai di mana benda itu tampak akan terbakar.

"... Berkat api besar ini, wanita yang merepotkan itu mungkin menyerah."

Godou menatap api yang menyala selagi dia berbicara dengan wajah pahit.

Gadis yang bernama Erica telah menghilang dalam asap sekitar sepuluh menit yang lalu. Melihat bahwa dia tidak mengikuti, mungkin sudah waktunya menuju arah yang aman.

Saat ini, lokasi Godou dan pemuda itu berada di sebuah sudut di pelabuhan yang dikelilingi api.

Walau tidak ada bahaya, api mulai berangsur-angsur menyebar.

Selanjutnya, beberapa ratus meter ke depan adalah [Babi Hutan] yang paling mengerikan.

Semua bangunan di sekitarnya yang bisa dihancurkan sudah hilang, tapi hewan itu tidak menyerang ke sini. Jika memang demikian, Godou dan pemuda itu mungkin akan membiarkan kehidupan mereka dihabisi bak lilin ditiup angin.

"Jika ini berlanjut, kita akan dibakar sampai mati. Bagaimana kita bisa lolos?"

"Bila kita lari sebelum api melahap kita, tiada masalah — itulah kebenarannya."

Mengulang kembali keluhan Godou, pemuda itu mengamati lingkungan sekitar.

Dengan menyebalkan, wajah tampan pria itu masih membawa ekspresi santai.

Walau api besar membara begitu dekat, pemuda tersebut tidak memiliki sedikit pun keringat. Berbeda dengan Godou yang diliputi oleh keringat dan abu, pemuda tersebut mempertahankan penampilannya yang murni dan asli.

"Mulai dari sekarang, apa yang kamu lakukan? Kelihatannya sangat aneh, apakah ada yang terjadi?"

"Ya. Sebenarnya aku mendengar teriakan minta tolong, seharusnya bukan imajinasiku."

Godou menepuk telinganya tapi tak bisa mendengar hal serupa.

"Aku tidak bisa mendengar hal seperti itu. Kamu pasti salah."

"Tidak, mustahil — begitu rupanya!"

Tiba-tiba pemuda mulai beraksi.

Arah yang dia tempuh, persis tempat yang [Babi Hutan] raksasa itu hancurkan.

"Mau kemana kamu? Tempat itu berbahaya."

"Haha, bila engkau takut, kembalilah dulu. Jagalah dirimu sendiri!"

Pemuda itu tersenyum sambil dia terus maju.

Godou ragu sesaat, lalu berlari mengejar.

Jika mereka berpisah sekarang, kemungkinan besar dia tidak akan melihatnya lagi. Yang terpenting, dia harus hati-hati menyaksikan tindakan sembrono pemuda ini, jadi Godou memutuskan.

Lari mengejar si pemuda, Godou berusaha untuk menggerakkan langkahnya.

Melewati puing-puing, menendang batu, menghindari api yang membakar, terbatuk-batuk dan menangis akibat menghirup asap, dan mengatasi banyak kesulitan, mereka berlari sekitar lima menit.

Pemuda itu pun berhenti.

Jalannya di depan terhalang oleh banyak tumpukan bahan bangunan yang ambruk.

Sekitar satu jam yang lalu, bahan bangunan ini ditumpuk di tumpukan rapi sampai ke ketinggian atap di sepanjang deretan gudang.

Namun, sekarang menjadi gunung puing-puing, dan api yang hebat melahap lingkungan sekitar. Tantangan saat ini paling sulit diatasi.

Tanpa peralatan yang tepat,tak ada cara untuk maju.

Pada saat ini, Godou melihat ada suara manusia di sisi yang berlawanan, menangis dan meminta pertolongan.

Dari suaranya, mungkin bukan hanya satu orang, tapi beberapa atau bahkan lusinan.

"Hei, bocah. Engkau ingat lokasi ini? Inilah tempat kami bermain."

Pertanyaan mendadak pemuda itu membuat Godou langsung ingat.

Itu seperti yang dia katakan, ini adalah ladang kosong tempat mereka bermain sepakbola dengan para pemuda di dekat dermaga beberapa puluh menit yang lalu. Gudang itu ambruk, kebanyakan karena amukan [Babi Hutan]. Lalu terbakar, mengakibatkan situasi saat ini.

"Orang-orang itu mungkin gagal lari pada waktunya, dan hanya bisa menangis minta tolong dengan suara sedih."

"Orang-orang itu? ... Mungkinkah orang-orang yang baru bermain dengan kita di dermaga!?"

"Ya, sama. Orang-orang yang kita temui sedang menangis minta tolong, dan suara mereka sampai ke telingaku. Ini adalah salah satu kemampuanku, bukan kesalahan."

Di luar tumpukan puing-puing besar, terdengar suara bahasa Italia.

Tentu saja, artinya tak diketahui, tapi mudah untuk membayangkannya sebagai tangisan bantuan.

Godou mencoba menemukan jalur alternatif di sekitar puing-puing, tapi tidak berhasil.

Godou mencoba menemukan jalan melalui puing-puing, tapi tidak berhasil.

Godou mencoba menemukan jalan untuk menghindari panas yang terbakar, tapi tidak berhasil. Gagal total

"Apa yang harus kulakukan?! Bagaimana mereka bisa diselamatkan?!"

Dia tak bisa menahan diri untuk tidak mengaum dalam kemarahan.

Mengabaikan api yang membakar, juga ada [Babi Hutan] lusinan meter di depan, terlibat dalam kehancuran. Godou merasa geram. Karena monster itu, berapa orang yang telah dikorbankan?

Memikirkannya, hatinya bersinar dalam kemarahan.

Menyaksikan Godou, pemuda itu tersenyum lembut.

"Engkau mencari untuk menyelamatkan orang lain sebelum mengamankan pelarianmu sendiri. Engkau seorang bocah dengan kualitas mengagumkan. Perasaan keadilanmu layak untuk sepuluh puisi pujian yang dianugerahkan olehku."

"Idiot, apakah ini waktunya dan tempat untuk sesuatu seperti itu? Jangan bercanda denganku!"

"Aku tidak bercanda. Aku akan menyelamatkan orang-orang, yakin saja ... Bocah, walau durasinya pendek, tapi aku senang. Kuucapkan terima kasih."

Api merah menyinari wajah tampan pemuda itu.

Merasakan rasa khidmat, Godou terdiam. Apa yang terjadi dengan cowok ini? Mengapa ada perasaan keagungan yang tiba-tiba? —Itu sangat aneh.

"Hoho, sampai membuat diriku sangat terhibur dengan bocah di antara manusia, sungguh tak terduga. Dengan kemauan, aku tak bisa tidak membimbingnya berkeliling untuk bersenang-senang, tapi ini hampir berakhir. Aku harus menyelesaikan misiku. Bila takdir menyetujui, mari kita bertemu lagi. Semoga damai sejahtera bagimu."

Pemuda yang seharusnya lebih pendek dari Godou, entah mengapa menatap ke bawah pada Godou.

Namun, tidak ada rasa disonansi.

Pemuda di hadapannya saat ini memberikan perasaan yang sangat mengagumkan dan menyebalkan, dan tak mungkin menganggapnya sebagai manusia biasa. Dia pastilah eksistensi yang sangat spesial.

"Engkau mungkin akan pergi sekarang, bocah. Arah yang engkau ikuti tiada pusaran api, hanya kehidupan fana yang stabil. Karakter kebenaran takkan kehilangan berkah cahaya, engkau harus melangkah lurus ke depan."

Lalu dia berjalan menuju puing-puing tempat orang-orang menangis minta tolong.

Jemarinya menunjuk ke arah yang berlawanan, lalu Godou merasa tubuhnya berbalik dan berjalan ke sana dengan sendirinya, lalu mulai berlari! Apa yang sedang terjadi!?

Kaget, Godou dengan mati-matian berusaha menghentikan langkahnya sendiri.

Aku tidak bisa pergi begitu saja, Godou berusaha menahan diri.

"Alangkah bocah keras kepala, engkau menahan mantraku."

"Tunggu dulu, beri aku waktu sebentar. Bagaimana aku bisa melarikan diri sendiri? Kalau aku melarikan diri, kamu harus ikut, dan juga orang-orang di sisi lain. Jadi—"

"Pikiranmu sudah cukup. Aku tidak membutuhkan bantuanmu, karena engkau hanya akan menghalangiku. Cepatlah lari."

Pemuda itu memohon dengan nada pelan.

"Sayang sekali tlah kehilangan namaku. Bila namaku dipanggil pada saat krisis, restuku akan didapat. Bila aku adalah diri masa laluku, aku takkan pernah meninggalkan ungkapan kudus ini sebagai kata perpisahan! Jadi teman, aku akan memberikan kata-kata ini untukmu — selamat tinggal! Cepatlah lari!"

Hasilnya, inilah dia.

Saat pemuda itu selesai mengucapkan selamat tinggal, kaki Godou berlari otomatis.

Tidak mungkin berhenti, tidak mungkin melawan.

Melarikan diri dari ancaman api dan [Babi Hutan], berlari dengan kecepatan penuh ke arah di mana tak ada jalan.

Karena tidak dapat menyelamatkan si pemuda, atau orang-orang yang terjebak dalam api — pikiran ini membuat Godou sangat tertekan, tapi dia tidak dapat menghentikan langkahnya.

Segera setelah itu, tak tahu bagaimana kabarnya, Godou melarikan diri dari api. Sesaat dia melupakan kesalahannya karena melarikan diri sendiri, dan sangat mengembuskan napas lega.

—Apa yang segera terjadi adalah keputusasaan.

Pada suatu saat, Godou telah tiba di Katedral Duomo yang dilewatinya pada sore hari.

Katedral besar berdiri di sana.

Tempat ibadah untuk menghormati keilahian, dan menawarkan doa orang.

Di samping struktur yang tenang dan saleh, seekor hewan besar berdiri di sana, beberapa lusinan meter tingginya, sama besarnya dengan Katedral Duomo — [Babi Hutan] hitam raksasa.

Begitu kokoh sehingga terlihat sedikit gemuk, dengan tubuh yang bertenaga dan kuat.

Kaki kurus yang tak terduga, dan mulut yang berisi taring besar yang menakutkan.

Makhluk yang sama sekali berbeda dengan hewan-hewan terkait yang Godou ketahui.

Betapapun hidupnya seekor babi hutan, tak ada yang ganas atau aneh begini. Kebrutalannya membuat seseorang memikirkan seorang dewa, Godou belum pernah bertemu dengan seseorang yang begitu mengerikan dalam hidupnya!

Dibandingkan dengan gereja yang dibangun batu ini, [Babi Hutan] ini adalah eksistensi dewata yang sejati.

Dewa kemarahan, dewa kehancuran, dewa kegelapan hitam pekat.

Syok, kagum dan takut, kali ini tubuh Godou benar-benar beku.

ROAAAAAAAAAAAAAAR!

ROAAAAAAR!

Setelah mengaum yang membuat bumi goncang dan udara bergetar, [Babi Hutan] melumat Katedral Duomo bak potongan seni yang terbuat dari kertas. Godou menatap adegan itu dengan terheran-heran.

Potongan puing-puing batu jatuh dari langit bagaikan hujan es.

Ini terlalu berbahaya! Sama seperti Godou yang memikirkannya, embusan angin bertiup kencang.

Mula-mula itu sepoi-sepoi yang menyegarkan, tapi kemudian langsung menjadi badai, segera berubah menjadi tornado.

"... Angin? —Sekarang bukan waktunya untuk begitu santai!"

Berteriak, Godou segera meninggalkan tempat kejadian dari [Babi Hutan] dan gereja.

Hal aneh yang terjadi sesudahnya, mungkin takkan terlupakan seumur hidup.

Itu adalah duel antara tornado dan [Babi Hutan] hitam.

Di daerah sekitar alun-alun Katedral Duomo, ada banyak bangunan bersejarah Cagliari.

Seperti Torre dell'Elefante, Torre di San Pancrazio dan lainnya ... Ada juga banyak gereja gothic dan Barok dari Abad Pertengahan.

Di lokasi bangunan bersejarah ini, tornado yang terbentuk kini telah menyapu [Babi Hutan] raksasa ke udara. Seberapa kuat angin di tornado ini?

Tertelan oleh badai spiral, babi hutan itu ditangguhkan di udara.

Di sekelilingnya, Godou menyaksikan tiba-tiba kedatangan kilatan cahaya keemasan. Dengan cepat dan tajam, busur emas mengiris tubuh [Babi Hutan] menjadi beberapa bagian.

Gaaaaaaaah!

Suara deru [Babi Hutan] memenuhi udara, terdengar bagai teriakan kematian akhir.

Kehilangan dukungan, tubuh hitam besar jatuh ke tanah, mengakibatkan kecelakaan yang sangat mengerikan, meruntuhkan sebuah menara, menyebarkan potongan-potongan batu ke mana-mana, dan menghancurkan banyak rumah.

Kemudian tubuh [Babi Hutan] perlahan berubah menjadi butiran pasir dan kolaps.

Hal yang menyapu butiran pasir ini adalah si pembunuh — tornado. Berangsur-angsur mereda, berubah menjadi embusan angin yang kencang, mengambil pasir yang mana sebelumnya [Babi Hutan].

Yang tersisa adalah jalan-jalan yang telah berubah bak neraka.

Jalan-jalan yang rusak parah, api masih mengamuk di dermaga, begitu juga orang-orang yang kacau.

Orang yang hanya peduli untuk lari. Orang yang berdiri membeku. Orang yang berdoa kepada Tuhan. Menangis, marah, ngeri, sakit hati, mendesah.

Di antara orang banyak ini, Godou berjalan dengan sendirinya dengan gemetar.

Pada suatu saat, langit telah menjadi hitam. Di jalanan yang rusak di malam hari, Godou berkeliaran tanpa tujuan sendirian.

Apa yang terjadi dengan pemuda di dermaga itu? Dia benar-benar ingin tahu mereka selamat. Dia ingin tahu kondisi mereka saat ini. Didorong oleh pemikiran ini, Godou mencari dan berkeliaran di mana-mana.

Pada akhirnya, dia gagal menemui mereka.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar