Unlimited Project Works

17 Oktober, 2018

Campione v3 2-5

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 5

Keesokan paginya, surat kabar di penginapan memberi Godou kejutan lengkap.

Itu adalah surat kabar yang berbasis di selatan Sardinia dengan Cagliari sebagai fokus utamanya, namun insiden kemarin tidak dilaporkan.

Ada laporan dan gambar mengenai kebakaran di pelabuhan, tapi setelah bertanya kepada pemilik penginapan yang mengenal bahasa Inggris, semua yang Godou dapatkan adalah sebuah jawaban seperti 'Kemarin sepertinya ada api di daerah pelabuhan. Anda terjebak di dalamnya, bukan? Betapa malangnya!" Dan tepukan di bahu Godou.

Meminta yang lain, tidak ada seorang pun di penginapan yang tahu tentang [Babi Hutan] maupun tornado.

Godou ingin bertanya secara rinci, tapi kemampuan pengungkapan lisannya tidak cukup. Penuh dengan keraguan, Godou meletakkan tagihannya di penginapan dan pergi. Semua yang terjadi kemarin seharusnya nyata.

Lagi pula, ayo pergi ke lokasi kejadian, lalu Godou berangkat ke plaza Katedral Duomo.

Gereja yang dirubuhkan, jalan yang hancur.

Pekerja konstruksi bekerja keras dalam melakukan perbaikan. Siapa yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan segalanya hingga semula.

"Itu benar-benar bukan mimpi ..."

Godou bergumam selagi melihat adegan bencana.

Selanjutnya tiba waktunya untuk memeriksa dermaga, tapi saat dia membuat keputusan itu, sebuah suara memanggilnya.

"Betapa santainya kamu terus tinggal di kota ini? Di mana orang yang bersamamu saat itu? Aku mencari keberadaannya, bisakah kamu membantuku?"

Cagliari, rusak dan hancur dimana-mana semalam.

Orang yang muncul di sini adalah gadis berambut pirang yang berpakaian merah — pemilik wajah tak terlupakan itu.

"... Apa, kamu ya."

Namanya kalau tidak salah Erica Blandelli.

Dengan kesan buruk, Godou menanggapi dengan sangat dingin.

"Ah, mana salamnya? Aku pernah mendengar bahwa orang Jepang sangat besar dalam sopan santun, mungkinkah aku salah? Atau mungkin, akulah yang bodoh?"

Erica mengucapkan kata-kata pedas dengan nada yang elegan.

Bahkan untuk seseorang seperti Godou yang tidak terbiasa menangani perempuan, dia tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak melakukan pembalasan. Mengerutkan kening, dan menggunakan nada jahat sebisa mungkin, dia melakukan serangan balik:

"Aku juga pernah mendengar bahwa orang Italia sangat ramah, tapi sepertinya kamu tidak punya keramahan seperti itu."

Mereka saling menatap sejenak.

Sangat jelas, suasana hati Erica berubah menjadi lebih buruk, tapi itu sama dengan Godou.

"Jika kamu seorang gentleman, maka aku bisa melebarkan keramahan sebanyak yang kamu mau. Tapi, bagimu untuk bertindak dengan sikap seperti itu terhadap seorang wanita, tidak dapat diterima, sama sekali tidak dapat diterima, kamu gagal."

"Paling tidak di tempat aku lahir, perempuan yang mengancam orang lain dengan pedang tidak dianggap wanita. Ini karena kebrutalanmu sendiri, jangan salahkan orang lain."

Jadi, inilah percakapan pertama Kusanagi Godou dan Erica Blandelli, yang terjadi dalam kondisi terburuk. Walau keduanya sama sekali bukan tipe yang mengatakan kata-kata ofensif semacam itu pada pertemuan pertama, tapi situasi saat ini adalah yang terburuk.

"Hanya bawahan seorang penyihir yang memanggil [Dewa Sesat], beraninya kamu berbicara kepadaku dengan cara seperti itu?"

"Menyebut itu lagi? Kamu telah terus-menerus membicarakan dewa sejak kemarin, apa itu? Bisakah kamu berkomunikasi dengan kata-kata yang orang normal sepertiku bisa mengerti? Kamu telah mengatakan hal-hal yang tidak bisa dimengerti selama ini, dan membuat pikiranku sangat bingung!"

Godou dengan marah mengucapkan itu.

Mendengar keluhan tersebut, Erica hanya tersenyum, lalu mengulurkan tangannya.

Ditepuk di tangannya, ada tas perjalanan di bahu Godou.

Langsung menariknya ke arahnya, Godou sama sekali tidak bisa menahan kekuatannya yang mengerikan. Godou sangat terkejut bahwa dia akan kehilangan kekuatan oleh seorang gadis ramping.

"Lihat, apa ini? Sebuah peninggalan suci yang memberi kekuatan dewata — bahkan bagi kita penyihir dari Salib Tembaga Hitam, jarang kita memiliki spesimen kaliber setinggi ini."

Apa yang Erica keluarkan dari tas belakang, adalah tablet batu.

Ukuran B5, terbungkus kain ungu, di atasnya diukir gambar agak kekanak-kanakan yang meninggalkan kesan mendalam. Objek yang dibawa teman perempuan kakek ke Jepang—

"Ah, hei! Kembalikan! Itu bukan milikku. Aku datang khusus dari Jepang untuk mengembalikannya ke pemilik aslinya."

"Pemilik aslinya? Orang ini ada di pulau Sardinia?"

"Ya. Berbicara dengan kesombongan mulai kemarin, sepertinya kamu tidak normal tidak peduli bagaimana aku melihatnya!"

"... Kritik keras seperti itu ditujukan padaku, aku akan menghukummu sebentar lagi. Tapi pertama, aku punya pertanyaan untukmu, tolong beritahu aku nama pemilik aslinya."

Bagai burung hantu yang telah melihat mangsanya di tengah malam, mata Erica berkedip terang.

"Sebuah artefak dewata milik kelompok yang memanggil [Dewa Sesat], aku sangat tertarik dengan pemilik ini ... Cepat, atau ingin diancam lagi dengan pedang? Sementara aku masih merasa murah hati, akan lebih bijak bila kamu mengakuinya, paham?"

Mata Erica setajam pedang, walau nadanya penuh kelembutan palsu.

Godou hendak bertindak menantang saat tiba-tiba dia menyadari.

Dewa, sihir, pemuda misterius, Erica Blandelli.

Ada banyak hal yang tak dapat dijelaskan yang terjadi padanya kemarin dan dia perlu mendapatkan lebih banyak informasi di bidang ini.

Dengan tak adanya pemuda itu, satu-satunya sumber informasi adalah gadis ini.

"... Dia tampaknya bernama Lucretia Zola, dan saat ini tinggal di sebuah tempat di daratan yang bernama Oliena. Aku sedang bersiap untuk menuju ke sana sendiri."

Membuat keputusannya, Godou menjelaskan secara langsung.

Mendengar itu, Erica mengerutkan kening dan menatap Godou.

'Lucretia Zola? Penyihir dari Sardinia? Penyihir jahat bawahan sepertimu, akan menemuinya? ... Sungguh mencurigakan."

Kusanagi Godou dan pemuda misterius.

Dan kini Kusanagi Godou dan Erica Blandelli.

Kedua pertemuan ini, yang bisa mengharapkan mereka berkembang menjadi sebuah peristiwa yang akan mengguncang dunia dan para dewa — tapi pada saat ini hanya pedesaan Italia selatan — hanya sebuah pemandangan di pulau Sardinia.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar