Unlimited Project Works

28 Oktober, 2018

Campione v3 4-2

on  with No comments 
In  
diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 2

"Apa, Godou. akhirnya kamu menyelesaikan pembicaraan rahasiamu dengan wanita itu? ... Sungguh tak tahu malu."

Melihat Godou keluar dari rumah Lucretia sekali lagi, Erica bergumam sendiri.

"Siapa yang kamu panggil tak tahu malu?! Aku hanya ingin memastikan beberapa hal dengan orang itu."

"Tak cukup bodoh untuk melakukan sesuatu di belakang punggungku. Kalau tidak ada yang memalukan, maka kamu pasti akan melakukannya secara terbuka? Baik, terserah. Cepat pergi, tujuan selanjutnya adalah Dorgali."

"Kenapa kita ke sana? Apa kamu sudah menemukan berita soal pria itu?"

Erica telah menunjukkan tujuan berikutnya adalah satu jam perjalanan dengan mobil saat Godou menanyainya.

Akan sangat menyenangkan jika pemuda yang terakhir kali dia lihat di Cagliari aman dan sehat.

"Tidak, tapi peluangnya untuk muncul cukup tinggi ... Pengguna penerawangan roh kami di Salib Tembaga Hitam telah melihat pengumpulan prana di daerah sekitar Dorgali."

"Prana?"

"Benar, dan sangat kuat. Alasan mengapa aku pergi ke Cagliari, juga karena penerawangan roh menemukan konsentrasi sihir yang sama di sana, lalu si bocah dan [Babi Hutan] itu muncul."

Kalau dipikir-pikir, Lucretia juga menyebutkan penerawangan roh.

Pengguna penerawangan roh memiliki bakat seperti ramalan, dan panggilan telepon tadi, rupanya merupakan laporan dari mereka.

"Untuk memprediksi sesuatu seperti ini, menakjubkan sekali, bisakah mereka melihat semuanya?"

"Tidak seperti itu. Isi penerawangan roh mereka sangat terbatas, seperti sekarang, kita masih belum tahu identitas dewa di pulau ini — namun akan berbeda jika pengguna penerawangan roh berada di level tertinggi di sini. Sayangnya, orang yang memiliki talenta semacam itu sangat langka."

Kekuatan pengguna penerawangan roh didominasi oleh sifat bawaan.

Kalau dipikir-pikir, jika orang dengan ramalan biasa, itu akan sangat mengerikan.

Menerima itu, Godou mengubah suasana hatinya. Mendengar bahwa si pemuda mungkin muncul, dia mendadak mulai merasa cemas dan ingin tahu secepat mungkin apakah dia selamat.

"Bagaimana kita bisa sampai di sana? Kereta atau bus, yang mana?"

"Baik, mobil dan sopir!"

Tetap saja, mengharapkan taksi di kota ini di pedesaan—

Alhasil, dibandingkan dengan memanggil taksi dari perusahaan taksi di Nuoro, akan lebih cepat naik bus secara langsung. Setelah menyimpulkan itu, Godou serta Erica yang tidak senang naik bus.

Dorgali adalah sebuah kota kecil di pesisir.

Itu memiliki lembah di dekat laut, serta lembah sungai yang curam di sekitarnya. Erica telah menyebutkan bahwa Dorgali dikelilingi oleh sumber daya alam yang melimpah, dan telah ditunjuk sebagai taman nasional.

Di sepanjang jalan gunung bergelombang, bus melesat cepat.

"—Hmm? Sedang hujan?"

Melihat ke luar jendela, Godou mendadak mendapati langit gelap.

Awan kelabu segera muncul dan menutupi langit seperti tirai yang tebal.

"Hujan? Tidak, bukan begitu."

Mendengar Godou bergumam, Erica berbalik menghadapnya. (Omong-omong, walau kursi di samping Godou kosong, dia mengabaikannya dan duduk di depan.)

"Hampir tidak pernah hujan di Sardinia sepanjang tahun ini, kamu bahkan tidak tahu itu?"

Sebuah iklim Mediterania. Hujan hangat, kering, sangat sedikit. Pulau ini, di tengah Laut Mediterania, jelas juga termasuk wilayah iklim itu.

"Kalau begitu, mungkinkah ..."

"Persis seperti yang kamu bayangkan. Barangkali kejadian aneh akan terjadi — kemungkinan besar pertanda kehadiran dewata."

Beberapa menit setelah nubuat Erica, perjalanan bis pendek berakhir.

Dorgali adalah kota yang sangat kecil di kaki gunung.

Cuma ada beberapa toko dan kantor polisi di sepanjang jalan utama dimana halte bus ditandai dengan sebuah tanda. Turun, hal pertama yang Godou dan Erica perhatikan adalah awan gelap di langit. Dibandingkan dengan apa yang mereka lihat di bus, awan itu jelas lebih banyak.

Membuat langit yang tidak berawan sejernih sejam yang lalu tampak bagaikan ilusi, langit mendung yang pertama yang dilihat Godou di Sardinia membuatnya merasa tak enak.

"—Sudah disini."

Erica berbicara secara mendadak.

Lalu, tetes hujan mulai meluncur di wajah Godou. Akhirnya mulai hujan.

Hujan deras seperti mandi tiba-tiba, tapi mungkin ini bukan yang dimaksud Erica.

Sama seperti apa yang Godou pikirkan, cahaya emas berkelebat mendadak.

Kras!

Saat suara guntur meraung, kilat melanda, dan angin mulai terangkat cepat.

—Badai.

Tanpa ada tanda peringatan, badai tiba begitu saja. Lalu Godou melihat sesuatu.

Terbang dengan santai di tengah badai adalah seekor hewan raksasa berkaki empat — seekor [Kambing] di tengah langit.

Seperti seekor naga China yang melayang-layang di udara, seekor [Kambing] raksasa tanpa sayap, membawa angin, awan dan hujan, menari dengan guntur di langit.

Karena letaknya sangat jauh, ukurannya yang tepat tidak dapat ditentukan.

Namun, itu tidaklah lebih kecil dari [Babi Hutan] yang terlihat di Cagliari. Tertutup bulu putih, dan ada dua tanduk panjang yang membentang dari kepalanya.

Kuak!

Kambing itu menguak keras dan nyaring, dan meniupkan angin kencang yang tiba-tiba.

Menguak lagi, kali ini guntur dan petir turun ke tanah.

Kota ini hampir semuanya dibangun dengan kayu, tapi karena hujan turun, sangat beruntung seseorang tidak perlu cemas akan bahaya kebakaran.

Meski begitu, hal itu tidak mengubah fakta bahwa ada bencana. Dengan mata yang tak bernyawa, Godou melihat bentuk heroik [Kambing].

"Apa itu juga sebuah inkarnasi yang lahir dari dewa pedang?"

"Kayaknya, kalau bisa aku benar-benar ingin menggunakan kemampuan [Jilid Rahasia Prometheus] untuk menghentikannya, lalu melakukan kontak langsung, tapi hal itu tidak dapat dilakukan."

Perasaan yang didapatnya dari Erica mendadak berubah, dan Godou sangat terkejut.

Perasaan kemegahan seperti api dan emas, yang sangat berani dan intens akan memancarkan keindahan dan matanya.

Itu adalah sosok yang agung dan tak terhampiri, seperti peserta kelas atas sebelum sebuah kompetisi dimulai.

"Ayo, pedangku, Cuore di Leone. Pedang yang menjaga singgasana singa! Aku memohon pendahulu merah dan hitam. Berikan perlindunganmu pada tubuh dan keksatriaanku!"

Lantas Erica mulai meneriakkan kata-kata seperti mantra.

Segera setelah itu, pedang ramping yang sudah dikenal dan mantel merah yang belum pernah terlihat sebelumnya, muncul dari udara. Dengan memegang pedang di tangan kanannya, Erica membungkus jubah itu di sekeliling dirinya dengan anggun dengan tangan kirinya.

Mantel itu memiliki desain yang berani dengan garis-garis hitam dengan latar belakang merah, dan sangat cocok dengan kecantikan dan rambut pirang Erica. Dalam sekejap, Godou merasa sangat tertarik.

"Aku akan mendekati kambing itu untuk diselidiki. Godou, kamu harus mencari tempat untuk bersembunyi. Kita akan bertemu nanti."

"Kamu berencana melawan makhluk itu?"

"Tentu saja tidak! Aku cuma menyelidiki. Di mana pun kamu berada, aku dapat menemukanmu dengan sihir. Jadilah tamuku, cari tempat untuk bersembunyi!"

Sambil mengucapkan itu, Erica bergegas maju.

Cepat seperti anak panah melalui jalanan hujan seolah-olah dia tengah terbang, kecepatan ini benar-benar melampaui batas manusia.

Mungkinkah ini juga sihir? Saat Godou bereaksi kaget, dia melihat saat dia mengecil di kejauhan.

"... Ini bukan situasi yang santai, mending aku mencari tempat untuk bersembunyi."

Memeriksa situasi di jalanan, Godou kaget.

Badai dan guntur yang tiba-tiba.

Lalu, monster raksasa terbang di udara.

Dengan banyaknya anomali besar, Dorgali pun mulai gaduh.

Ada yang membuka jendela mereka untuk memeriksa kondisi badai, hanya untuk dikejutkan oleh pemandangan di udara.

Teriakan teror, teriakan kaget, kekacauan, masyarakat meraung seakan jatuh ke neraka.

Badai meniup kayu dan benda-benda ringan seperti kain ke langit. Petir menerangi kegelapan langit mendung secara berkala, sementara guntur turun dari langit membakar bumi dan menghancurkan bangunan.

Siapa yang bisa mengira kegemparan hebat semacam itu bisa terjadi di sebuah kota kecil yang berpenduduk beberapa ribu orang.

"— Lari dengan ceroboh akan lebih buruk lagi, apa yang harus kulakukan?"

Melihat kekacauan di kota, Godou tak bisa menahan desisan pada dirinya sendiri.

Karena Godou sudah tahu sebagian dari alasan mengapa hal ini terjadi, dia bisa mempertahankan ketenangan alaminya. Melihat orang-orang dalam kekacauan — dia bisa memerhatikannya.

Seperti dirinya sendiri, ada pemuda lain yang dengan tenang mengamati kerumunan orang yang panik.

Seorang pemuda tampan sangat luar biasa sehingga orang tidak pernah bisa melupakan wajahnya setelah melihatnya sekali.

Kedua tatapan saling bertukar pandang.

Ada yang tersenyum nostalgia, sementara yang lain menunjukkan ekspresi bingung.

Godou ingin menemuinya, ingin memastikan apakah dia selamat.

Namun, menghadapi pertemuan mendadak ini, ia merasa ragu. Kapanpun inkarnasi dewa muncul, pemuda tersebut juga menyaksikan. Bukankah ini seperti yang telah dijelaskan Erica?
Share:

0 komentar:

Posting Komentar