Unlimited Project Works

28 Oktober, 2018

Campione v3 4-3

on  with No comments 
In  
diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 3

Lari.

Erica Blandelli menggunakan teknik [Melompat] untuk membuat tubuhnya lebih ringan saat ia berlari dengan kekuatan penuh.

Beralri melewati berbagai bangunan yang disambar petir, segala macam benda yang tertiup angin kencang, dan kota kecil yang rusak parah terkikis hujan badai yang langka.

Sebenarnya, Erica sangat cepat sehingga dia bisa terbang.

Jalanan batu yang diaspal jadi berantakan, dan dia melompat antara atap, lampu jalan, dan segala macam pijakan pada bangunan, kakinya jarang sekali menyentuh tanah.

Sulit membangun gedung bertingkat di Eropa, terutama Italia.

Karena ada banyak kota yang memiliki pemandangan ikonik seperti Menara Pisa atau Coliseum, agar tidak memengaruhi pemandangan, ada banyak peraturan hukum yang mencegah pembangunan gedung bertingkat.

Erica menganggap itu memalukan.

—Jika ada bangunan yang lebih tinggi, dia bisa lebih dekat dengan si [Kambing].

Bangunan Dorgali adalah lima atau enam lantai, sedangkan si [Kambing] terbang santai beberapa puluh meter di langit.

Walau Erica disebut jenius dalam sihir, dia tak tahu teknik terbang.

Keistimewaannya adalah [Besi], kemampuan memanipulasi besi dan baja seperti lengan dan kakinya sendiri untuk tujuan penyerangan dan pertahanan. Terbang, penerawangan roh dan persiapan ramuan termasuk dalam domain penyihir sejati seperti Lucretia Zola.

Usai sampai di puncak menara, Erica menarik napas dalam-dalam sambil dia menghentikan langkahnya.

Walau tujuannya menyelidiki, menyaksikan dari jarak jauh sangat tidak berguna.

Tak ada usaha, tak ada hasil—

Dia perlu berjudi sekarang. Meski dia tidak pernah menggunakannya dalam pertempuran nyata, mantra itu — teknik rahasia yang disebutkan dalam laporannya kepada pamannya, tiba saatnya untuk mencobanya.

Menekankan sekitar sepuluh detik, dia segera membuat keputusannya.

Dia pertama-tama akan melakukan usaha itu, lalu memutuskan kapan harus maju atau mundur saat situasi menentukan.

"Eli Eli lama sabachthani? Ya Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

Erica merapal dengan suara nyaring.

Mantra Golgota adalah mantra kemarahan dan doa, yang mengundang kebencian dan penyesalan.

"Ya Tuhan, aku menangis di siang hari, tapi Engkau tak mendengarnya, dan di malam, dan aku tidak diam. Tetapi Engkau-lah yang kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."

Menunjuk Cuore di Leone menuju langit dengan tangan kanannya.

Pedang ini dipasangkan dengan Il Maestro, pedang sihir dari rivalnya Liliana Kranjcar.

Dulu, ini adalah dua pedang berharga yang ditempa untuk kepentingan dua ksatria agung dengan gelar Raja Singa dan Raja Peri. Erica dan Liliana telah menemukan dua pedang di katakombe di bawah Florence, dan masing-masing mengklaim salah satu dari pasangan itu sebagai senjata pribadi mereka.

"Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendi-sendinya; hatiku menjadi seperti lilin; luluh di tengah-tengah perutku. Kekuatanku kering seperti beling; dan lidahku melakat di rahangku; dan Engkau membawaku ke dalam debu kematian. Sebab anjing telah mengerumuni aku: gerombolan penjahat telah mengepungku: mereka menusuk tangan dan kakiku."

Inilah rapalan keputusasaan yang mengerikan, membawa kemarahan pada Tuhan yang menahan keselamatan bahkan di ambang kematian.

"Tapi janganlah jauh dariku, Ya Tuhan: Ya kekuatanku, cepatlah Engkau menolongku. Lepaskan jiwaku dari pedang; Selamatkan aku dari mulut singa, karena Engkau tlah mendengar aku dari tanduk lembu liar!"

Ini adalah sebuah nyanyian pujian, yang berisi hal-hal yang mutlak akan menyertai kesetiaan kepada Tuhan dalam menghadapi kematian tertentu.

"Aku akan menyatakan nama-Mu kepada saudara-saudaraku: di tengah-tengah umat akan kupuji Engkau."

Nama mantra itu adalah [Ya Tuhan! Mengapa Engkau meninggalkan aku?]

Dari semua teknik yang diberikan oleh Salib Tembaga Hitam, diakui sebagai salah satu seni rahasia yang paling sulit.

—Merasakan dinginnya udara dingin seperti es, Erica tahu dia telah berhasil.

Dari bibirnya terdengar senyuman sombong seekor singa betina.

Jelas bukan akibat badai, suhu di sekitarnya berangsur-angsur turun.

Mantra Erica, telah mengumpulkan dingin yang mengerikan pada tulang.

Bukit Golgota, udara yang sama dengan tempat di mana Anak Tuhan binasa, udara beku yang sama kini mengisi lingkungan Erica. Cukup mandi di udara dingin ini akan menyebabkan hati orang biasa menjadi mati rasa.

Lalu untuk dewa — atau eksistensi dewata yang serupa, tentu saja tetap akan sangat tidak nyaman.

Jadi, si [Kambing] menurunkan tatapannya.

Turun perlahan ke arah lokasi Erica.

Provokasi berhasil, Erica tersenyum sambil ia melompat ke atap sebelah.

Dia mulai mengamati si [Kambing].

Mata yang sangat cerdas. Pada dasarnya kambing merupakan hewan yang sangat cerdas, walau menyerupai domba bodoh dalam rupanya, mereka sangat waspada dan pandai. Jadi ini wajar saja.

Ketika dia bertemu dengan [Babi Hutan] di Cagliari, dewa [Angin] telah muncul sebelum dia sempat mendekati seperti ini.

Meskipun dia melihat pertempuran antara babi hutan hitam dan tornado dari kejauhan, dia tidak bisa terlalu dekat untuk mengamati. Namun, pada jarak dekat ini kini dia bisa melihat bahwa si [Kambing] tidak memiliki kecerdasan seperti hewan dewata.

Mungkin hanya kecerdasan hewan—itu adalah tingkat kemungkinannya.

—Ayo uji dia.

"Cuore di Leone, aku memberikan kepadamu jeritan tangisan anak Tuhan dan Roh Kudus, menjadi tombak Longinus!"

Dengan menggunakan sihir [Transformasi] pada pedang kesayangannya, dia mengubah bentuknya menjadi sebuah tombak.

Menanamkan itu dengan mantra atau keputusasaan, ini memberi Cuore di Leone prana yang sama seperti tombak suci yang menusuk anak Tuhan. Dengan demikian senjata magis lahir, mampu melukai dewa dan membuat mereka berdarah.

"Santo Thomas, berbagi kesyahidanmu dengan yang lain!"

Didampingi mantra baru, Erica melemparkan tombak ke depan.

Diberikan kutukan yang tidak pernah meleset dari sasarannya, bahkan dewa pun tak bisa lepas dari tombak yang dilempar, apalagi eksistensi di bawah dewa — seperti hewan dewata atau sakral.

Tombak itu meninggalkan luka dalam di perut bagian bawah si [Kambing].

Kuak! Jeritan kesakitan hewan raksasa itu sampai ke langit.

Erica memanggil kembali Cuore di Leone menggunakan sihir, setelah memastikan dugaannya, bahwa hewan dewata yang lahir dari [Dewa Sesat] — lawan sekuat itu dapat ditangani dengan kekuatannya sendiri!

Namun, lawannya tidak begitu lemah sehingga memungkinkan kemenangan mudah tanpa persiapan.

Saat Erica menganalisis potensi pertempuran dari musuhnya, si [Kambing] menguak dengan berisik.

Petir terus turun dari langit.

Sasarannya jelas orang yang kurang ajar yang telah melukai hewan dewata itu. Secara naluriah, Erica mulai berlari sebelum guntur dan petir bisa membakarnya menjadi arang.

Kras!

Petir berkobar, sementara guntur meraung.

Siaran petir menyengat tempat dia berdiri dua detik yang lalu.

Merasakan dampak dan angin panas yang mengguncang kulitnya, dia memutuskan mungkin sudah waktunya untuk mundur.

Meski pertarungan berlanjut dengan cara ini, dia hanya bisa mempertahankan situasi saat ini dengan sebaik-baiknya. Usai memutuskan untuk mundur, Erica kembali melompat, melangkah ke atap sebelah, dan melompat berulang kali.

Jika dia berdiri diam, dia akan segera dibakar sampai mati oleh petir si [Kambing].

Erica melirik langit.

Berjalan di udara — tidak, melayang di udara adalah [Kambing] raksasa.

Sampai sekarang, semua hewan dewata yang muncul telah dikalahkan oleh tornado misterius, tapi bagaimana dengan si [Kambing] ini? Apa dewa lawan akan muncul?

Sembari merenungkan hal-hal ini, Erica menghitung rute pelariannya.

Melompat turun secara langsung dan mencampuradukkan dirinya di antara orang banyak akan menjadi yang teraman, tapi itu juga akan membawa tragedi yang hebat.

Erica mendesah 'hmph' dan buru-buru meninggalkan gagasan itu.

Sebagai seorang ksatria yang angkuh, mana mungkin dia bisa memilih cara mundur seperti itu? Tentu saja itu ditolak dengan tegas.

Lalu, cuma ada satu jalur yang perlu diambil.

Arah menuju gunung curam itu bisa dilihat dari Cagliari.

Erica terus melompat dan berlari menuju arah sana. Dengan demikian, setidaknya dia bisa memimpin si [Kambing] menjauh dari jalanan, memberi orang lebih banyak waktu untuk melarikan diri. Itulah yang dia simpulkan.

 

"Engkau masih hidup, bocah, sepertinya hidup kita sangat sulit untuk dihancurkan."

Keluar dari kerumunan yang melarikan diri dengan susah payah—

Keduanya bertemu sekali lagi dan itu adalah kata-kata pertama pemuda itu, diucapkan dengan nada santai biasa.

"Ya, aku katakan dulu, aku sangat khawatir denganmu ... Meskipun aku telah melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, keselamatanmu sangat membebani hatiku selama ini."

Melihat sosok pemuda secara mendetail, Godou menjawab.

Seperti sebelumnya, pemuda itu mengenakan mantel compang-camping. Wajahnya sangat lembut dan tepat, dengan semacam pesona sekilas yang tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu di Cagliari.

Tapi ada rasa keanehan tertentu.

Godou merasa aneh, orang ini berbeda dari sebelumnya. Tidak ada perubahan penampilan, tapi ada sesuatu yang tidak beres. Apa itu?

"Hoho, nalurimu bagus sekali. Dengan pendidikan yang tepat, mungkin engkau akan menjadi pendeta yang luar biasa."

Melihat Godou yang kebingungan itu, pemuda itu tersenyum.

Wajahnya yang tersenyum sama seperti sebelumnya, tapi entah bagaimana hal itu menimbulkan perasaan yang lebih dewasa.

—Tunggu sebentar. Apa yang orang ini katakan?

"Hei, tadi kamu bicara sesuatu yang aneh. Sesuatu soal pendidikan dan pendeta."

"Tak usah diindahkan, aku hanya bicara sendiri. Sebaliknya, engkau harus berterima kasih pada takdir karena membiarkan kita bertemu sekali lagi. Takdir kita tampaknya sangat saling terkait."

Tidak, ini sama sekali bukan hasil takdir tapi niat manusia.

Alasan mereka datang adalah karena Kusanagi Godou dan Erica Blandelli diharapkan bisa bertemu dengan pemuda di sini.

Namun, mengapa dia tidak memiliki keberanian untuk membicarakan hal ini?

Merasakan keragu-raguannya dalam urusan ini, Godou menemukan perasaan yang berbeda muncul, tidak seperti perasaan saling berbagi dengan pemuda saat mereka pertama kali bertemu.

Kras! Pada saat ini, jatuhnya guntur terdengar.

Petir mencolok di dekatnya? Godou dan pemuda itu mendongak dan mengamati sekelilingnya.

"—Erica!"

Beberapa kilatan petir bisa terlihat turun, sementara Erica melompat ke kiri dan kanan untuk menghindarinya.

Melihat kejadian ini terungkap, Godou tidak bisa menahan teriakan.

Jika ini berlanjut, bukankah dia akan digoreng sampai mati dengan petir? Walau situasinya mengerikan, siluet Erica masih membawa ketenangan sejati.

Si [Kambing] raksasa mulai terbang mendekati permukaan di beberapa titik.

Meluncur di atas bangunan sambil mengejar gadis pirang yang cantik, arah yang ditempuh Erica adalah kaki pegunungan di luar kota.

Bergerak cepat di antara atap, Erica berlari seperti anak panah.

Dia mungkin melakukan ini untuk mencegah terciptanya lebih banyak korban di Dorgali.

Tapi, apa benar-benar aman baginya untuk melewati ruang terbuka lebar tanpa penutup?

Melupakan perselisihan mereka selama beberapa hari terakhir ini, Godou kini merasa cemas dengan keamanan Erica.

"Apa ini, gadis itu juga ikut. Sepertinya takdir kita juga saling terkait."

Dalam kondisi seperti itu, si pemuda masih mempertahankan tawanya yang santai.

"Ya, banyak yang telah terjadi dan saat ini aku bepergian bersamanya. Bagaimanapun, kalau ini berlanjut mungkin akan tragis. Aku akan mengejarnya! Apa yang akan kamu lakukan!?"

"Engkau harus menyerah. Walau engkau pergi ke sana, engkau takkan berguna."

Pemuda itu menasihati Godou dengan tenang yang telah berseru sembarangan tanpa berpikir.

Godou hanya menggeleng kuat, menolak dengan tekad.

"Meski begitu, aku tidak bisa menyaksikan dan tidak melakukan apa-apa!"

Erica jelas wanita yang menyebalkan.

Setiap kali dia berbicara, kebanyakan keluhannya tidak menyenangkan. Mengurus orang lain dengan semangat yang bersahabat, tapi selalu mengejeknya tanpa ampun saat dia berbicara dengannya, dan juga karena keras kepala, egois, meski begitu ...

Dia bukan seseorang yang sangat dibenci sehingga Godou bisa meninggalkannya pada saat dibutuhkan.

Godou berlari ke arah yang sama dengan dia, bertekad.

Walau dia sangat menyebalkan di banyak tempat, kenyataannya sekarang dia berkelahi sendirian, menghadapi dewa sebagai lawannya. Berpura-pura tidak melihat dan mengabaikan kebutuhannya akan bantuan — mustahil.

Tentu saja, Godou tahu ini bodoh dan impulsif, tapi memang begitu.

"Engkau sungguh bodoh. Walau engkau bodoh, gadis itu tak jauh lebih baik, berkelahi sendirian adalah buktinya. Jelas ada cara yang lebih mudah untuk kabur, tapi dia memilih yang sulit."

Pemuda itu terkejut.

"Dan aku, mengamati, entah bagaimana tidak bisa melihat dia binasa tanpa bantuan, menjengkelkan sekali!"

Kalau dipikir-pikir, bukankah pemuda ini juga memiliki kekuatan luar biasa?

Godou mengingat kembali saat mereka berpisah di Cagliari, saat dia mengalami kekuatan dominasi pemuda yang luar biasa itu — apakah itu juga sihir? Atau hipnosis yang hebat?

Bila kekuatan semacam itu digunakan lagi, itu akan menjadi masalah. Saat Godou mencoba mundur, pemuda itu tersenyum.

Senyum klasik dan pelik.

Dengan semacam esensi sekilas, itu adalah senyuman seperti kabut.

Pada saat ini Godou menyadari, alasan mengapa dia merasakan keanehan saat mereka bertemu lagi, ada di sini.

Pemuda lebih tidak alami daripada sebelumnya, dibandingkan dengan manusia yang hidup, ia merasa lebih seperti menghadapi patung Buddha yang rumit. Keanehan yang tak terlukiskan.

"Tenanglah, walau kalian semua bodoh, tapi anak-anak bodoh sangat menggemaskan. Aku takkan menghentikanmu, sebenarnya aku akan memberimu kekuatan — jadi, ambil benda yang engkau tutupi."

Tiba-tiba pemuda itu mengulurkan tangannya.

"A-Apa yang kusembunyikan?"

"Begitu? Ketika aku pertama kali berbicara denganmu di dermaga, rasanya menarik perhatianku. Aku bisa merasakan bahwa rasa itu bahkan lebih hebat daripada terakhir kali. Lantas cepat, bukalah bungkusan itu."

"Tablet batu itu!"

Pandangan pemuda itu terfokus pada ransel Godou, dan akhirnya dia mengerti.

Godou buru-buru mengeluarkan tablet batu itu — [Jilid Rahasia Prometheus].

"Ya, tak salah, kebijaksanaan kuno yang tersembunyi ini—takkan pernah kuduga spesimen semacam itu masih tersembunyi di alam fana. Dengan ini, bahkan dalam keadaanku saat ini, aku bisa menyelesaikan masalah ini."

Tablet batu kuno yang permukaannya menggambarkan seorang pria terpenjara dengan gambar kekanak-kanakan.

Pemuda itu menyipitkan mata dengan penuh minat, menatap gambar itu.

"Oh, Titan yang dihukum itu ... Matahari ... Api... Orang bodoh ... Keselamatan. Begitu rupanya, inilah yang menjadi kekuatan [Pencurian]! Haha, Prometheus si [Penipu]! Menipu para dewa, pencuri pahlawan yang memimpin manusia — engkaulah kehadiran yang kurasakan di dermaga saat itu!"

Mendengar tawa gembira itu, Godou melihat sesuatu.

Dia tidak memberitahunya nama [Jilid Rahasia Prometheus], ​​tapi mengapa pemuda bisa memanggil namanya? Mungkinkah dia benar-benar eksistensi supranatural?

"... Seperti Erica dan lainnya, apakah kamu penyihir?"

"Tidak, aku benar-benar berbeda dari mereka, tapi saat ini masih belum lengkap. Selama aku tidak bisa mengingat namaku, aku akan terus menjadi tidak lengkap. Namun, belakangan ini saya sadar, barangkali tinggal di negara ini mungkin takkan terlalu buruk."

Sambil tersenyum masam, pemuda itu sedang membelai [Jilid Rahasia Prometheus].

"Sudahkah seseorang menggunakan tablet batu ini sebelumnya? Dalam benda ini, tinggallah kekuatan dewa yang dicuri."

"Dicuri?"

"Ya, bukankah sudah kukatakan kekuatan [Pencurian]? Batu ini memiliki karakteristik mencuri otoritas dewa, lalu menyimpannya di dalamnya ... Namun, jika targetnya adalah dewa yang kuat, kemungkinan besar hanya sebagian kekuatan yang akan dicuri. Ini seharusnya sangat berguna, menarik sekali."

Memegang tablet batu itu, pemuda itu menunjuk ke bukit beberapa ratus meter jauhnya.

Ke arah itu adalah Erica dan si [Kambing] yang mengejar.

"Kalau begitu aku akan mengalahkan monster itu— bocah, engkau bisa menemaniku!"

 

Itu sudah cukup jauh dari jalanan Dorgali.

Dengan hujan deras, Erica sampai di kaki gunung tempat hutan hijau dan bebatuan putih yang mengering tergeletak.

Di dekatnya ada beberapa pohon, tapi pada dasarnya ada sebuah tambang batu terbuka lebar.

Berlarian di sini, Erica pun berhenti. Melihat ke arah jalanan, si [Kambing] terlihat santai, tapi sebenarnya ia menyerang dengan kecepatan tinggi.

Lantas, apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Erica mulai mencari ide.

Solusi terbaik mungkin menggunakan mantra ilusi untuk bersembunyi, yang secara langsung menipu mata si hewan dewata.

Tapi akan lebih baik untuk menunda lebih banyak waktu, jika dia menghilang dari pandangannya, kemungkinan si Kambing akan segera berbalik untuk menghancurkan kota.

"... Kira-kira lima belas menit, mungkin bisa memperlambat selama durasi itu?"

Bernapas tak beraturan karena kegelisahan, Erica bergumam sendiri.

Melelahkan pikiran dan tubuhnya dari pengejaran sang hewan dewata, Erica membuat perkiraan berdasarkan kemampuan bertarungnya yang tersisa.

Mudah-mudahan, akan lebih baik jika ada yang bisa menyelesaikan evakuasi selama sedikit waktu ini.

Untuk menunda lebih lama lagi, Erica — tidak, mungkin tak ada orang yang bisa mencapai prestasi itu, itu sampai ke pengampunan surga.

Dengan tenang menghitung pilihannya, Erica menatap ke arah si [Kambing] dengan mata semangat pertempuran yang hebat.

Pada saat itu, dia menyadari sesuatu yang tak terduga.

—Petir hitam

Menurun dari langit, petir hitam melanda tubuh besar si [Kambing].

Kuak!

Udara dipenuhi oleh jeritan yang menyakitkan, bagaimana mungkin hewan dewata itu bisa mengeluh karena diserang senjatanya?

Pada saat ini, Erica menyadari bahwa petir hitam yang turun ke atas si [Kambing] adalah keneradaan yang berbeda.

Seperti kutukan terwujud, sangat mirip dengan mantra Golgota milik Erica sendiri.

Mewujudkan kesadaran penuh kebencian dan penyesalan, membentuk kutukan hitam yang membawa bencana ke lingkungan sekitar.

Bahkan tanpa sifat pengguna penerawangan roh, Erica dapat dengan mudah mengenali bahwa kutukan petir hitam itu sangat hebat. Tapi dari mana kutukan itu berasal?

Mungkinkah dewa kedua muncul?

Setelah disengat berkali-kali oleh petir hitam, si [Kambing] pun jatuh dari langit, membuat saraf Erica tegang.

 

Segera setelah meninggalkan jalanan Dorgali, pemuda tersebut menunjuk [Tome Rahasia Prometheus] di langit.

Lalu, dari awan hitam muncul coretan petir hitam yang menimpa si [Kambing]. Setiap kali terkena kilat petir, monster terbang itu mengeluarkan jeritan rasa sakit. Disengat oleh petir, si [Kambing] sangat menderita.

Selanjutnya, dimandikan dengan petir tak terhitung, si kambing jatuh ke tanah.

Tiba-tiba jatuh ke lapangan batu yang kosong di luar jalanan, tubuh raksasa itu menggigil. Mata Godou melebar sembarimelihat kejatuhan monster yang tak terduga itu.

"Ini bukan apa-apa, monster tak pernah sekuat rupa mereka. Tentu saja, dari perspektif manusia fana, mungkin itulah ancaman terbesar. Tapi, ini hanyalah ciptaan yang tidak stabil yang dipecah dari otoritas dewa — Cukup dengan menerapkan sedikit kekuatan dewata, mereka akan jatuh seperti itu."

"M-Meskipun aku tidak begitu mengerti, kamu bilang bahwa itu terlihat besar, tapi sebenarnya cukup lemah?"

"Ya, bukan penjelasan yang buruk, semestinya engkau dipuji ... Akan tetapi, kemenangan ini berkat batu ini, yang membawa kutukan dari dewa bumi, ini sangat berguna."

Sambil mengamati si [Kambing] tergeletak di tanah, pemuda itu berbincang santai dengan Godou.

Berdiri di sebelah teman yang menyombongkan kualitas aslinya berangsur-angsur terungkap, Godou merasa semakin bingung.

Deskripsi yang diucapkan seorang dewa sama persis dengan yang diucapkan Lucretia Zola — "dewa pedang emas hancur menjadi beberapa monster raksasa."

Pemuda ini jelas tahu lebih banyak tentang situasinya daripada Erica, yang disebut anak ajaib jenius oleh Lucretia Zola. Siapakah dia?

"Godou, kamu berkomplot dengan orang ini!?"

Suara tuduhan yang elegan mendadak terdengar.

Pemilik suaranya pastilah Erica. Kemungkinan besar dia menyaksikan kejatuhan si [Kambing] dan telah bergegas.

Walau basah akibat hujan dan tubuhnya tertutup lumpur, kemegahannya tak bisa ditekan. Atau lebih tepatnya, bisa dikatakan bahwa berada dalam keadaan ekstrem, kecantikannya bahkan lebih ditekankan.

"Bukannya seperti itu, kami cuma kebetulan bertemu di kota ... Tidakkah kamu juga mengatakan bahwa kita mungkin akan menemuinya?"

Godou menjawab dengan keberatan.

Tentu saja, dibandingkan dengan sikap keras Erica, pilihan Godou untuk si pemuda tetap tidak berubah — tapi setiap kali dia memikirkan asal-usul si pemuda yang tidak dikenal, keraguannya meningkat.

Mungkinkah ... tidak, pasti seperti itu.

"... Hei, orang yang mengalahkan hewan dewata itu kau, kan?"

Karena waspada karena kata-kata Godou, Erica melihat pemuda itu dengan mata yang jahat.

Dia juga memerhatikan [Jilid Rahasia Prometheus] yang dipegang di tangan si pemuda tersebut.

"Ya, berkat batu misterius [Pencurian], monster itu dikalahkan."

"Telah menguraikan kekuatan yang dimiliki oleh grimoire ini — dengan kata lain, mungkinkah kau pengguna penerawangan roh? Ini mustahil tanpa penerawangan roh tinggkat tertinggi."

"Hoho, jangan menanyakan identitasku, namaku saat ini tertutup."

Menghadapi permintaan Erica, sikap pemuda yang tidak terpengaruh itu tetap tidak berubah.

"Omong-omong, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu, cepatlah pergi — yang kedua akan segera tiba. Makhluk yang sangat ganas dan kejam, lebih baik jangan mendekatinya."

"Yang kedua?"

Mendengar peringatan itu, Godou mengerutkan keningnya.

Kuak!

Kuakan seekor burung aneh muncul. Suara apa ini? Godou dan Erica mendongak di udara secara bersamaan. Siapa sangka berapa kali mereka mengalami rasa takut hari ini?

— Kali ini adalah [Burung Pemangsa] berwarna emas.

Meluncur pada sayap raksasa di langit mendung yang luas, seekor burung pemangsa yang memiliki bulu emas.

Kalau dipikir-pikir, Lucretia juga telah menyebutkan elang yang lahir dari dewa pedang, tapi, ini mungkin bukan rajawali, Godou merasa itu lebih mirip seekor elang.

Deskripsi terbaik mungkin masih [Burung Pemangsa].

Lebar sayapnya dari ujung ke ujung, diukur sekitar lima puluh atau enam puluh meter.

Mengepakkan sayapnya dengan kuat di langit Dorgali, burung pemangsa raksasa berputar-putar dengan ganas, nama burung pemangsa agaknya sudah pas.

"—Bukankah itu berbahaya?"

Setiap kali [Burung Pemangsa] mengepakkan sayapnya di udara, pusaran angin tercipta selama ia berbalik.

Angin kencang menjadi topan, lalu badai, dan semakin diperkuat untuk menjadi tornado — dalam waktu yang sangat singkat, angin dari kepakan sayap telah menciptakan tornado yang kini menyerang jalanan.

Segala macam benda, besar dan kecil, terbang tinggi ke udara.

Jika tornado kuat semacam itu diproduksi di tengah jalan, kerusakan besar akan benar-benar mengecilkan petir si [Kambing].

Sambil Godou merasa putus asa, Erica mempertanyakan pemuda tersebut.

"...Apakah kau memanggil burung juga?"

"Salah, bocah, aku tidak memanggil mereka. Ini untuk mencariku, mereka datang."

Menunjukkan senyum tanpa cela, pemuda itu menjawab.

Godou merasa terganggu oleh sikap kasualnya bahkan pada saat krisis begini, tapi tidak mampu mengalihkan pandangannya dari ciri-ciri tampan pemuda itu. Tak dapat dipercaya, dia tertarik dan malah mendengarkannya.

... Ini salah, tak bisa dilanjutkan.

"Begitu ya ... Lalu kamu — mungkinkah ..."

"Hoho, jangan katakan keras-keras. Lebih baik begitu. Jadi, bocah dan nona kecil, cepatlah kalian pergi. Walau tak berperasaan begini, kota ini akan hancur, hanya kehancuran yang menanti."

Pemuda itu menekan ujung jari telunjuknya di bibirnya.

Seolah berharap Erica akan diam, tapi Godou mengabaikannya, dan menghadapi si pemuda tampan itu:

"Tunggu sebentar, tidak bisa dipastikan akan hancur, kan?"

"Sudah pasti, kekuatan yang tersimpan di batu Prometheus sudah habis sekarang. Tak ada cara lain untuk mengusir monster itu. Bila engkau tak dapat memahaminya, maka engkau hanya bisa digambarkan sebagai orang bodoh."

"Aku mengerti, tapi aku tidak bisa menerimanya!"

Godou berteriak secara impulsif.

Baru saja saat dia mengejar Erica, dia juga merasakan hal yang sama. Sekalipun sulit, dia harus menghadapi ini secara langsung.

Bahkan sekarang pun, Godou tak mau lari, atau meninggalkan pandangan di depannya ini.

Seperti anak yang keras kepala, Godou menyadarinya. Tapi memikirkan tragedi yang dibawa oleh tornado, membayangkan Erica berjuang melawan monster itu sendiri, Godou akan merasa sangat tidak tenang, jadi dia harus memanjakan keras kepalanya—

"Bila ini adalah zaman kuno, aku akan memberikan perlindunganku padamu, menyambutmu sebagai pendekarku, mengantarkanmu ke medan perang —"

Dihadapkan pada kesedihan anak yang bodoh, orang hanya bisa menenangkannya sebanyak mungkin.

Dengan ekspresi seperti seorang ayah, pemuda itu mengangguk.

"Nah, begitulah, bocah, tadi juga engkau mengeluh dengan cara yang sama. Mengabaikan kebijaksanaan bertahan hidup untuk melemahkan kekuatan yang lemah dan membungkuk pada yang kuat. Engkau teramat payah."

Hmph. Pemuda itu mendesah dengan sedih.

"Mungkin inilah saat terakhir aku membantumu dengan kebodohanmu. Begitu kedua hewan itu dikalahkan, aku tak bisa lagi bermain santai. Sungguh, kehilangan waktu istirahat untuk bocah semacam ini, sayang sekali!"

"...? Apa yang kamu bicarakan?"

Tidak bisa memahami seutuhnya kata-kata pemuda itu, Godou mempertanyakannya.

Apa yang dia katakan? Tapi dia tidak menjawab, dan hanya melemparkan [Jilid Rahasia Prometheus] ke atas.

Godou menangkapnya dengan panik.

"Peganglah. Mungkin sekeping batu ini akan dibutuhkan nanti."

"Eh?"

"Bocah, janjiku. Saat waktunya tiba, gunakanlah 'tuk dunia."

Meninggalkan kata-kata itu, pemuda itu tiba-tiba berlari.

Menuju jalanan Dorgali — arah di mana tornado dilepaskan oleh putaran [Burung Pemangsa].

"Ini mungkin perpisahan seumur hidup. Selamat tinggal!"


Godou ingin mengejarnya, tapi langsung menjauhkan diri.

Seperti angin. Pemuda itu berlari dengan kecepatan bak angin, dan langsung lenyap.

"Orang itu, dia sudah bilang bahwa musuh itu berbahaya, apa yang bisa dia coba lakukan sekarang?"

Sambil bergumam sendiri sambil berlari, Godou tiba-tiba merasakan embusan angin bertiup di sekelilingnya.

Embusan angin kencang, dan meniup langit Dorgali tempat [Burung Pemangsa] terbang.

"Godou, hati-hati! Itu datang!"

"Datang? Apa!?"

Diperingatkan oleh Erica yang berhasil menyusul, Godou menggeram dengan marah sebagai jawaban.

"Dewa kedua muncul di Cagliari! Dewa angin yang mengalahkan monster itu, tidak, dewa perang yang memiliki inkarnasi angin!"

Pada saat ini, embusan angin lainnya telah menjadi pusaran, dan tornado kedua terbentuk.

Angin kencang bertiup di luar jalanan Dorgali menjadi pusaran.

Di depan pemandangan ini, [Burung Pemangsa] berhenti berputar-putar. Tiba-tiba, tornado di jalanan lenyap.

Burung raksasa itu langsung menyerbu tornado yang tersisa.

Tornado yang bahkan bisa mengempaskan [Babi Hutan] ke udara, menangkapnya, dan menaikkannya ke langit.

Terbang menuju tengah, [Burung Pemangsa] tetap memegang kendali.

Bukan hanya karena tidak tertangkap angin, ia terbang ke arah sebaliknya dari putaran tornado. Di bawah prinsip yang tidak diketahui, terbang kecepatan tinggi [Burung Pemangsa] menyebabkan tornado melambat secara perlahan.

Ini terlalu konyol. Godou merasa takut saat dia berdiri tak karuan.

Dalam sekejap, tornado lenyap.

Namun, muncul di samping [Burung Pemangsa] adalah sebuah benda — pedang emas.

Baja emas raksasa, bilah besar sama besarnya dengan lebar sayap [Burung Pemangsa], pedang itu berbilah ganda.

[Pedang] ini melayang di udara, menghadap ke arah [Burung Pemangsa], seolah-olah dipegang oleh seorang pendekar raksasa yang tak terlihat, ini adalah pemandangan yang paling aneh.

"Sudah kuduga ... Dewa itu bisa mengubah wujudnya sesuai situasi. Dewa perang yang memiliki banyak inkarnasi adalah ...!"

Pada suatu saat, Erica datang ke sebelah Godou.

Mereka berdua tidak lagi memiliki kekuatan untuk berlari, dan hanya bisa menyaksikan pertempuran antara [Burung Pemangsa] dan [Pedang].

Dengan kecepatan yang hampir terlalu cepat untuk dilihat, [Raptor] terbang di udara.

Setiap kali angin bertiup seperti gelombang sonik, tanahnya berantakan. Itu belum sampai pada kecepatan suara, tapi masih sangat cepat.

Meski begitu, [Pedang] tetap memegang keunggulan.

Dihadapkan dengan lawan super cepat, ia menari santai di udara dengan elegan, menebas terus-menerus.

Pedang itu mendarat di atas lingkaran [Burung Pemangsa].

Dengan setiap goresan yang berhasil, bulu-bulu emas menari-nari di udara sembari darah segar menodai tanah dengan merah.

Saat yang menentukan pertempuran akhirnya tiba.

Pedang emas itu membuat luka yang dalam di tubuh raksasa [Burung Pemangsa], memotongnya menjadi dua.

Lalu, tubuh terbelah dari burung pemangsa berubah menjadi partikel seperti pasir dan mulai hancur. Partikel ini lalu diserap oleh bilah [Pedang].

Namun, ini belum berakhir.

[Pedang] emas lalu menusuk kambing yang telah jatuh ke tanah.

Dengan serangan terakhir — seharusnya digambarkan seperti itu, monster raksasa tak berdaya yang tergeletak di tanah ditusuk lehernya, itu adalah serangan akhir yang tidak berhias.

Jadi, tubuh raksasa [Kambing] juga berubah menjadi partikel cahaya, dan diserap oleh [Pedang].

Entah bagaimana hujan telah berhenti, dan angin serta guntur telah lenyap.

Saat sinar matahari sampai di tanah, [Pedang] emas tiba-tiba lenyap tanpa bekas.

Meninggalkan Dorgali, diliputi oleh kekuatan dewata, serta Godou dan Erica yang tak bisa berkata apa-apa sambil melihat langit dengan ekspresi yang sangat rumit.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar