Unlimited Project Works

19 Oktober, 2018

Campione v4 2-1

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 1

Naples (Napoli, dalam bahasa Italia) adalah salah satu metropolis yang paling menonjol di Italia, dan pelabuhan adalah tempat wisata yang terkenal.

Ungkapan "Lihat Naples dan mati" diciptakan, dari keindahan kota kuno.

Bahkan ketika dilihat dari jauh, pemandangan kota masih mengesankan.

Sinar matahari jatuh di atas Teluk Naples berwarna biru langit berkilauan, dan di atasnya berdiri salah satu dari banyak struktur bersejarah, pelabuhan Santa Lucia.

Bisa dikatakan bahwa pemandangan malam ada di antara tiga terbesar di dunia. Jika melihat ke arah timur, kamu akan dapat melihat Gunung Vesuvius, gunung api yang berjarak sepuluh kilometer.

 

"Hm, melihatnya sejauh ini, sepertinya kota yang cukup indah, tapi begitu kamu mendekat, kamu menyadari bahwa jalanannya kotor dan dipenuhi sampah, dindingnya dirusak, ada kemacetan lalu lintas yang konstan, orang-orang yang suka bersenang-senang, dan kehidupan sehari-hari hanya kacau. Tidak peduli seberapa banyak kamu mencoba untuk mengoleskannya, itu masih merupakan lingkungan yang tidak cocok untuk tempat tinggal manusia."

"Ara, Karen, meskipun kamu benar sekali, itu bukan sesuatu yang harus kamu katakan kepada penduduk kota ini!"

"Aku minta maaf jika kata-kataku menyinggung Anda, Madam. Kejujuran dan keterusterangan adalah bagian dari sifatku, maka aku sering mengeluarkan perasaanku yang sebenarnya tanpa disengaja."

Dikenal sebagai Spaccanapoli, ini adalah salah satu jalan yang lebih tua di Naples.

Pusat kota, dekat dengan Alun-Alun Garibaldi dan katedral di dekatnya sibuk dengan aktivitas, penuh dengan suasana ramah lingkungan komersial dan kelas pekerja tradisional. Di sudut toko buku kuno Diana Milito.

"— M-Madam? Apakah Anda dengar itu, Lily? Gadis kecil ini berani memanggilku 'Madam' ... Katakan sesuatu padaku!"

"Karen, ketika berbicara dengan ... wanita muda seperti Diana, bukankah ada cara yang lebih baik?"

Naples, tempat kelahiran pizza, juga kota universitas.

Itu pada tahun 1224, era Kerajaan Suriah, ketika Universitas Naples didirikan. Universitas telah berlangsung selama berabad-abad sampai sekarang. Mungkin salah satu alasannya adalah lingkungan, karena ada banyak toko buku tua di tempat itu.

Ada jalan di sebelah Piazza Bellini yang terkenal karena memiliki banyak toko buku tua.

Di gedung yang dikenal sebagai 'House of Milito', ketiga penyihir itu berkumpul di sana.

Entah bagaimana, di negara mana pun, orang bisa merasakan atmosfer yang sama di toko-toko buku kuno ini.

Di dalam toko yang dirancang dengan rapi, ada koleksi buku-buku lama, buku-buku tebal dan teks-teks lain, dan itu memberikan atmosfer yang sangat aneh.

"Ketika Liliana-sama tidak tulus, dia akan mencari di tempat lain, dan tidak akan melakukan kontak mata ... Seperti sebelumnya."

"Apa!? Lily, apakah itu benar ...?"

"Tidak sedikitpun! Karen, jangan mengatakan sesuatu tanpa dasar atau bukti apa pun di belakang mereka!"

"Ara, bukankah Anda agak khawatir soal itu tempo hari? —Mengetahui soal usia asli Diana-sama. Bukankah Anda bilang ini terakhir kali, walau beliau berpakaian lebih muda dari usianya sendiri, beliau masih tidak bisa menyembunyikan kaki gagak di sekitar sudut matanya?"

"Aku tidak mengatakan itu! Jelas tidak sampai segitu!"

"Nah, nah, keluarkan fakta tersembunyinya, Lily. Betapa kejamnya kalian!"

Pemilik toko, Diana Milito, adalah seorang penyihir yang tinggal di Naples. Usia tidak diketahui, seorang wanita muda berwajah bayi yang suka berpakaian dalam gaun berkibar dengan banyak hiasan tambahan, yang, anehnya, tidak terlihat cocok.

Liliana baru berusia tujuh tahun saat pertama kali dia bertemu Diana, yang saat itu sudah menjadi wanita muda.

Sejak saat itu hingga sekarang, kira-kira sembilan tahun kemudian, dia masih tersenyum sama, dan wajah mudanya tidak berubah sama sekali.

Meskipun begitu, perjalanan waktu tidak meninggalkannya tak tersentuh, seperti yang ditunjukkan baru-baru ini oleh kerutan di keriput, atau fakta bahwa kulitnya tidak tampak seglamor sebelumnya.

Berapa umur dia tepatnya? Mungkin sebaiknya jangan terlalu banyak memikirkan hal itu.

Liliana buru-buru mengubah topik pembicaraan.

"Lebih penting lagi, Sir Salvatore terlambat, dan itu mengkhawatirkan."

"... Hmph! Lily, menggunakan topik seperti itu untuk berpura-pura tidak bersalah. Menjadi seorang Campione, bagaimana mungkin hal buruk terjadi pada Raja kita?"

Diana menjawab, merajuk.

Kamu sudah melewati masa jayamu, silakan bertindak lebih selayaknya usiamu.

Walau Liliana benar-benar ingin mengatakan itu, dia masih menahan godaan tersebut. Tidak, itu akan menjadi hal yang sangat berbahaya untuk dikatakan.

"Tentu saja, bukan itu maksudku. Maksudku adalah masalah mental dan psikologis raja kita, karena dia malas dan riang, ada hal-hal yang harus dia atasi sendiri."

Di antara mereka, hanya Liliana yang langsung bertemu dengan [Raja Pedang] sebelumnya.

Usai mendengar kata-katanya, Diana juga menunjukkan ekspresi khawatir, dan Karen mengangguk seolah-olah dia tiba-tiba mengalami pencerahan.

"Dengan kata lain, apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa Sir Salvatore adalah orang semacam itu? ... ... Jika Anda mengabaikan fakta bahwa beliau memiliki kekuatan [Raja], secara kepribadian, Anda akan kesulitan untuk menemukan sesuatu yang positif tentangnya?"

"Aku sering mendengar bahwa dia orang yang ceroboh dan terus terang."

Liliana mengeluarkan ponsel biru miliknya.

Masalahnya, Salvatore Doni tidak membawa perangkat elektronik semacam ini ketika dia pergi keluar.

Konon jikapun dia membawanya, dia akan kehilangan itu tanpa sadar, bagaimanapun caranya. Sebagai tindakan pencegahan, kali ini dia memiliki asisten, yang akan sangat membantu dalam situasi seperti itu.

Setelah beberapa kali berdering, orang di ujung sana pun menjawab panggilan itu.

"Ini Kranjcar ... Bagaimana situasi saat ini dengan raja kita?"

"Aku minta maaf karena terlambat. Meskipun aku berhasil membawanya ke Naples, sang Raja mampir ke Alun-Alun Garibaldi untuk membeli gelato. Bisakah kamu mampir untuk menjemput kami? Aku akan menyerahkan beb- maaf, menyerahkannya kepadamu."

Meskipun dia tampak agak lelah, dia masih berbicara dengan nada yang sangat keras.

"Tidak apa-apa, aku akan pergi sekarang. Aku akan bertemu denganmu nanti kalau begitu ... ... Rajaa kita sudah tiba, aku akan segera menjemputnya. Diana, bawa Karen ke bawah tanah dulu, begini akan lebih cepat."

Setelah menutup telepon, Liliana terus menjelaskan situasi saat ini kepada teman-temannya.

Setelah membalik tanda 'Ditutup untuk Urusan Hari Ini' di depan pintu, ketiga penyihir itu berjalan ke luar, ke jalanan Naples.

Liliana segera berpisah dengan dua lainnya dan langsung menuju Alun-Alun Garibaldi.

Liliana Kranjcar adalah seorang penyihir dan seorang ksatria.

Rivalnya, Erica Blandelli, dalam arti yang lebih luas, juga seorang penyihir, tapi mungkin lebih dekat dengan [Tukang Sihir Wanita].

Ada garis tipis antara menjadi [Penyihir] dan tukang sihir.

Ini telah didefinisikan oleh miko suci dan pendeta tua.

Pengetahuan dan sihir mereka telah secara langsung disampaikan dari para penyihir dari generasi sebelumnya.

Diana Milito, seorang penyihir dari [Salib Perunggu Hitam] yang tinggal di Naples, juga orang yang telah mengajarkan Liliana seni dari penyihir. Dan Karen, yang juga memiliki pelatihan dalam jenis sihir yang sama, saat ini tinggal di sisi Liliana untuk pendidikan lebih lanjut.

Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya, Liliana melewati Corso Umberto, secara bertahap menuju ke Alun-Alun Garibaldi.

Patung pahlawan revolusi, Giuseppe Garibaldi, mengawasi alun-alun stasiun.

Sudah diduga, tempat itu penuh sesak, tetapi dia memahami ke mana harus pergi untuk menemukannya.

Itu karena, dari kerumunan, dia telah mendengar dua suara yang sangat familier.

"Jawab aku, Salvatore Doni, meskipun baru kali ini kamu menjilati gelato itu, kapan kamu pergi dan membeli ini?"

"Tidak baik mengkhawatirkan hal-hal kecil, Andrea. Lihat dan nikmatilah langit."

Dua orang yang mencolok mata tengah mendiskusikan sesuatu.

Salah satu dari mereka memiliki rambut hitam, memakai kacamata berbingkai perak, dan memiliki pandangan intelektual, agak neurotik. Di wajahnya yang ramping di antara alisnya, sebuah kerutan dalam terbentuk.

Orang lain adalah cowok pirang dengan sikap yang tampaknya riang.

"Dengar, matahari cukup bagus hari ini. Dan dengarkan dulu, musim panas mekar penuh sekarang. Kita sedang berada di Naples. Kota matahari dan laut yang bersinar. Ini adalah tempat untuk yacht, pantai, bir, barbeque dan pria serta wanita dari segala usia untuk bersenang-senang — semuanya penting tentang musim panas! Dalam situasi seperti ini, cuma ada satu hal yang ingin kucapai di sini. Ya, itu benar, ini adalah liburan!"

Di tangannya, ada sebotol limoncello.

Rasanya seperti minuman yang dingin dan menyegarkan, label pada botol itu dicetak dengan banyak tetesan air. Pria berambut pirang itu tengah mengisap lewaat sedotan ketika dia membuat pernyataannya.

Untuk lebih lanjut menambahkan, dia mengenakan kemeja aloha dengan pola bunga, memang, dia berpakaian sangat santai.

"Sir Salvatore!"

Liliana memanggilnya.

Tanpa ragu, ini adalah Salvatore Doni, ksatria terkuat dari Italia, [Raja Pedang], salah satu pembunuh dewa, seorang Campione.

"Ah, lama tidak bertemu, erm ... Kranjcar, betul?"

"Dia adalah Liliana Kranjcar, rajaku."

Menghadapi Campione yang menyapanya dengan senang hati, pemuda berkacamata itu dengan penuh hormat menambahkan.

Sikap dan kata-katanya tiba-tiba menjadi sangat sopan dan seperti bisnis, kembali ke wajah tanpa ekspresi, berbeda dengan sebelum Liliana memanggil mereka, itu bisa digambarkan sebagai 'pembalikan instan'.

Namanya adalah Andrea Rivera.

Bagi Salvatore Doni, dia kadang-kadang asisten, waktu lain, sekretaris, tetapi yang paling penting, seorang manajer.

Meliputi semua jenis tugas dan urusan, pemuda yang dikenal sebagai [Kepala Pelayan Sang Raja].

"Ah, begitukah. Maaf, aku cuma ingat nama orang yang kutemui lima kali. Kamu mungkin sekitar tiga kali? Aku tidak bisa mengingat nama lengkapmu."


Menghadapi [Raja] yang tersenyum, Liliana melakukan hormat ala militer.

Sebenarnya dia telah bertemu dengannya enam kali, tetapi dia menyimpannya untuk dirinya sendiri. Akan buruk dibodohi oleh kepribadiannya. Dia adalah monster sejati — biarpun semua penyihir di dunia bergabung melawan dia, dia masih akan bisa mendapatkan kemenangan, raja pedang abadi.

"Lalu, Liliana Kranjcar, sekarang aku akan meninggalkan raja padamu. Jika kamu tidak keberatan, aku akan pergi sekarang untuk menyelesaikan masalah mendesak lainnya."

"Itu tidak akan menjadi masalah. Terima kasih, Sir Andrea."

Jawab Liliana, mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Tanpa Andrea Rivera, Salvatore Doni akan menjadi pendekar belaka, tidak dapat berfungsi sebagai pemimpin dunia sihir. Inilah mengapa dia diberi gelar [Kepala Pelayang Sang Raja].

"Dengan itu, Rajaku, Liliana akan mengambil alih mulai sekarang, tolong dengarkan baik-baik instruksi dan bertindaklah seperti seorang raja sejati. Ini, aku memintamu dengan tulus."

Rivera mengajukan permintaan, dengan sikap hormat.

Usai mendengar ini, dia, yang merupakan salah satu dari tujuh raja iblis yang ada, mengerutkan kening.

"Aku sudah tahu itu. Bukannya aku akan dengan sengaja membuat masalah untuknya, kamu sudah kebanyakan khawatir."

"Maafkan aku, itu hanya salah satu tanggung jawabku. Jika kamu mengizinkan aku mengatakan ini, aku cemas kamu mungkin tiba-tiba meninggalkan setengah karena sifatmu yang berubah-ubah, dan karena itu, aku telah menginstruksikan Kranjcar untuk segera menghubungiku jika situasi seperti itu muncul. Akan menjadi nasib baik bagiku jika kamu akan mengingatnya."

Kalau kamu kabur, aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi sesudahnya ... Kata-katanya sepertinya menyiratkan itu.

Liliana setuju dalam diam.

Rivera dan Salvatore Doni adalah teman, bahkan sebelum belakangan telah memperoleh kekuatan [Raja]. Biarpun seseorang mengabaikan itu, dia masih bisa mengkritik raja iblis secara langsung tanpa rasa takut, ketabahan dan ketekunannya ini harus dikagumi, yang mana dia memperoleh peran ini.

"Aku tahu, aku tahu. Sebaliknya, soal tugas yang kuberikan padamu, lakukan dengan benar."

Kepada kepala pelayannya yang prihatin, Salvatore Doni memberi isyarat dengan tangannya agar dia pergi. Tanpa kata, Rivera membungkuk, dan segera pergi, menghilang ke kerumunan.

"Ke mana Sir Andrea pergi?"

"Sebelumnya, aku telah memintanya untuk menjalankan beberapa tugas duniawi ... Baiklah. Haruskah kita pergi untuk menyelesaikan hal-hal di sisimu?"

Doni menjawab pertanyaan Liliana dengan udara penuh kebosanan.

Usai menyelesaikan sisa limoncello, dia mengambil kopernya di tanah.

Itu adalah kotak hitam licin yang sepertinya bisa menyimpan sesuatu yang sangat besar.

Gelarnya, [Raja Pedang], mungkin ada hubungannya dengan ukuran koper itu.

"Tapi, aku tidak bisa merasa senang dengan ini — aku dengar itu karena mungkin ada bahaya kalau kamu meminta bantuanku, tapi tetap saja ..."

Doni mengeluh dengan malas.

Ketika semua dikatakan dan dilakukan, dibandingkan dengan Dejanstahl Voban, dia jauh lebih mudah diatur. Ketidakteraturannya bisa dikatakan menjadi bagian dari ketakutan [Raja].

Dia adalah penduduk di medan perang. Entah bagaimana, itulah cara terbaik untuk menggambarkannya.

Bagi para penyihir di Italia yang tahu fakta itu dengan sangat baik, mereka memperlakukan perilaku dan kepribadian normalnya hanya sebagai tren mode dari generasinya.

"Sudah kuduga, tanpa musuh di depan mata, aku tidak bisa bersemangat, tidakkah kamu setuju? Kita harus menemukan dewa, setan, monster, atau apa pun, tidak masalah jika mereka ramah, dan mengadakan battle royale untuk membumbui sesuatu —"

"Rajaku... Karena aku menduga bahwa kejadian kali ini mungkin ada hubungannya dengan dewa, atau mungkin makhluk seperti naga, aku percaya ini akan sesuai dengan harapanmu."

Ucap Liliana, menyampaikan fakta secara ringkas dan sederhana.

Jika mungkin, dia ingin mendapatkan informasi yang lebih akurat dan dapat diandalkan sebelum merilis rinciannya, tetapi mau bagaimana lagi.

Bagaimanapun, sudah cukup bahwa raja telah dibawa ke Naples. Hal yang paling penting saat ini adalah mencegahnya mengambil tindakan yang tidak perlu.

Mendengar berita itu, sikap Salvatore Doni segera berubah.

"Maukah kamu menjelaskan lebih lanjut, Liliana Kranjcar?"

Nama lengkapnya yang tidak diingat tidak peduli apa yang dia lakukan, jelas dikatakan kali ini.

Bibirnya sedikit memilin ke satu sisi dalam senyuman, sikap joroknya yang sebelumnya seperti seorang bocah lelaki telah menghilang. Salvatore Doni tersenyum gembira, membocorkan sifat aslinya sebagai seorang pendekar.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar