Unlimited Project Works

25 Oktober, 2018

Campione v4 3-1

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 1

Sudah hampir dua jam sejak mereka memulai perjalanan melintasi laut di malam hari. Saat itu sudah lewat pukul dua belas malam.

Kusanagi Godou menghela napas lega begitu lampu pantai dan kota mulai terlihat. Berangkat dalam perjalanan, tanpa mengetahui tujuan, cobaan ini hampir berakhir.

Manipulasi Athena dari kecepatan kapal pesiar adalah kelainan sungguhan.

Jika mereka melakukan perjalanan dengan kecepatan seperti ini di darat, konsekuensinya akan tak terbayangkan. Godou telah berdoa agar tak ada halangan yang muncul di hadapan jalan mereka dalam perjalanan.

Karena kenyataan bahwa mereka semakin dekat dengan tujuan mereka, kecepatan mereka berkurang cepat, dan Godou sangat berterima kasih untuk itu.

Ada sebuah kastil raksasa di sebelah pelabuhan.

Itu pastinya penunjuk spesial. Mereka mungkin masih dalam batas-batas Italia, tapi dia tak tahu di mana dia berada. Pengamatan cepat menunjukkan bahwa kota itu cukup besar.

"... Hei, tempat apa itu? Apa ada alasan mengapa kita datang ke sini?"

"Hmm? Di manakah kita, eh? Entahlah."

Pertanyaannya yang masuk akal dijawab dengan jawaban yang tak bertanggung jawab.

"Jangan tanya itu, Kusanagi Godou. Aku mengikuti ke mana angin bertiup. Bagaimanapun juga, tidakkah ini semacam perjalanan? Aku mempercayakan nasib kita pada bimbingan angin, maju ke arah yang sama, itu hanyalah takdir dewata. Bergerak bagai awan di langit."

Di perahu 'pinjaman', dewi Athena berbisik pelan.

Bagi kebanyakan orang modern, itu akan menjadi ide yang konyol, tapi Godou tidak begitu keberatan, dan hanya ingin mengatakan padanya untuk tidak melakukan hal-hal seolah-olah dia Homer, penyair Yunani, puisi improvisasi secara real time.

Saat inilah ketika perubahan tiba-tiba terjadi.

Dari sudut pelabuhan, cahaya zamrud bisa terlihat membentang ke arah langit.

"Ada apa disana?"

"Hm ... Sepertinya seseorang dengan sembarangan menstimulasi esensi dari tanah."

Godou dan Athena mengamati situasi dari perahu mereka—

Cahaya zamrud berangsur-angsur berubah menjadi bentuk yang familier ... naga, menyebarkan sayap lebih dari sepuluh meter dan melayang di udara, naga besar dengan sisik zamrud.

"Seperti yang kuduga, apakah itu dewa sesuatu?"

"Tidak, itu mungkin sesuatu seperti hewan dewata walau asal-usulnya mestinya terkoneksi dengan dewa ..."

Terbiasa dengan ini, itu menakutkan. Lebih baik bahwa kali ini musuhnya bukanlah dewa, pikir Godou.

Saat dewa dan raja iblis melihat, naga raksasa itu perlahan turun ke tanah.

Segera setelah itu, cahaya seperti kilat petir, entah dari mana, seolah-olah membidik naga, menukik ke suatu tempat di daerah umum sekitarnya.

"...Aku punya firasat buruk tentang ini."

"Sepertinya prediksiku sangat tepat, kita baru saja menyaksikan turunnya dewa yang merepotkan. Fufu, semuanya baru mulai menarik."

Perahu, didorong oleh kekuatan suci Athena, perlahan mendekati ke tanah.

Dengan demikian, Kusanagi Godou dan dewi sesat tiba di kota paling berbahaya di Italia.

Perseus.

Dia mengalahkan Medusa si setan berambut ular dari Mitologi Yunani, lalu, ketika putri Etiopia, Andromeda akan dikorbankan untuk monster, dia terlibat dalam pertempuran dengan monster tersebut di tepi pantai, dan memperoleh kemenangan, menyelamatkan sang putri.

Sudah diketahui bahwa dia adalah dewa yang mewakili pembunuhan ular dan naga.

[Ala Perseus dan Andromeda] adalah istilah yang mengacu pada mitos yang memiliki tema serupa.

Heraion — hilangnya kendali atas simbol tanah akan membawa perwujudan dari musuh bebuyutannya, ini adalah apa yang dipikirkan Liliana Kranjcar, usai menyadari kemungkinan terjadinya hal seperti itu.

"Tidak di Yunani, atau di Irak, tetapi tepat di tengah-tengah Italia, mengapa ini, tiba-tiba ..."

Sebuah gumaman keluar dari bibirnya. Tapi, dia tahu bahwa [Dewa Sesat] bisa berwujud di tempat-tempat yang tidak ada hubungannya dengan mitos asli mereka, jadi dia tidak terganggu olehnya.

"Kalau begitu, kau telah mendengar namaku, gadis cantik. Untuk menunjukkan rasa hormatmu kepada nama agung dari pendekar yang membunuh ular, akan lebih baik untuk pergi sekarang. Setelah perkenalanku, kini saatnya bagiku untuk menampilkan keberanianku."

Perseus tersenyum cemerlang, menunjukkan kulitnya yang putih bak mutiara.

Dia pastinya bukan cowok normal, senyumnya berani dan menawan. Seakan di respon, naga di belakang Liliana meraung.

GRAAAAAAAA!!

Suara yang mengerikan dan keras.

Hal itu menyebabkan tubuh langsing Liliana bergetar tak terkendali, besarnya suara itu hampir menyerbu gendang telinganya. Bukan hanya pelabuhan Santa Lucia, mungkin seluruh kota Naples merasakan hal itu.

Dan kembali pada raungan itu, pedang terwujud di telapak tangan Perseus.

Panjangnya lebih dari satu meter, bilahnya tebal dan berat seperti pisau daging. Pedang yang pas untuk seorang pahlawan — Buruk.

Untuk mencegah dimulainya pertempuran, Liliana memanggil pahlawan cantik itu.

"Dewa Perseus, tolong hentikan! Naga ini terbentuk, dari Naples — dari esensi tanah — seekor hewan dewata, jika kau menghancurkannya dengan ceroboh, aura spiritual tanah akan mati bersamanya, tolong berhentilah!"

"Nona muda, itu tidak bisa kulakukan."

Balas Perseus, dengan senyum samar.

"Membunuh naga dan ular adalah kenapa aku berwujud. Ini adalah tugas dan tanggung jawab seorang pahlawan, jadi, ini tindakan yang harus kulakukan, bila aku menyerah di tengah-tengah, itu tak bisa dimaafkan!"

"Karena alasan itu, kau tidak akan peduli apa yang terjadi pada tanah!?"

"Ini demi menyelesaikan tugasku. Mau bagaimana lagi."

Ucapnya dengan riang, seolah-olah dia bersinar bagai matahari.

Itu adalah kalimat murahan yang hanya seorang pahlawan sejati yang berjuang untuk umat manusia dan menyelamatkan para gadis cantik yang bisa mengucapkannya. Entah bagaimana, cowok cantik itu — yang mengucapkan kata-kata itu dan memancarkan keanggunan — juga seorang pendekar yang berpengalaman, bersemagat dan bertempa dalam pertempuran.

"Akan lebih baik bila kau mundur. Peran seorang gadis muda adalah untuk berdiri dan menunggu untuk diselamatkan oleh sang pahlawan, dan menawarkan cintanya kepada yang menang. Akan menjadi sombong bagimu untuk mengganggu lebih dari itu!"

Liliana membeku langsung usai ditegur dingin. Ancaman yang terselubung tipis.

Biarpun Liliana menggunakan semua kekuatannya, dia masih harus menghentikan Perseus. Meskipun itulah yang dipikirkannya, tubuhnya tidak akan patuh. Anggota badannya tidak mau bergerak, tidak, lebih tepatnya, tidak bisa bergerak.

Itu mungkin kekuatan dari kata-katanya.

Perseus — pahlawan pembunuh ular — dalam kehadirannya yang luar biasa, Liliana hanya bisa menelan ludah.

Dia tak tahu bahwa gadis yang pernah dilihatnya sebagai rival, mengalami kejadian serupa di hadapan dewa perang Verethragna,. Sampai ditekan seperti ini di bawah otoritas dewa, itu memang menjengkelkan.

"Hahaha, gadis patuh. Bila tak masalah denganmu, setelah aku menghabisi naga itu, jatuhlah ke pelukanku layaknya perawan yang diselamatkan, menghidupkan kembali kisah Andromeda!"

Seperti yang Perseus katakan ...

Naga zamrud membentangkan sayapnya dan pergi, mungkin berniat untuk melawan sang pahlawan dari udara.

Membuka rahangnya, memperlihatkan gigi tajam dan lidah merah gelapnya.

—Permusuhan terbuka.

Dari gertakan ganas hewan dewata, Liliana mengerti itu.

Dari rahangnya, api dimuntahkan, seolah-olah membersihkan tanah yang bersih, api suci itu menelan Perseus.

Namun, dalam hal itu, bentuk pahlawan cantik tampaknya berubah menjadi meteor putih cemerlang.

Dengan kecepatan melampaui apa yang bisa diikuti mata Liliana, gerakannya bagai sebuah meteor — sangat cepat — dan saat itulah dia melemparkan pedangnya lurus ke langit.

Berputar di udara, itu dengan mudah menyobek sayap sang naga zamrud.

GUAAAAAAAA!!

Monster raksasa itu meraung kesakitan.

—Naga itu turun menuju pelabuhan, dengan leher terangkat, masih menunjukkan tekadnya untuk bertarung. Namun, kecepatan Perseus takkan memungkinkannya berhasil.

Menangkap pedangnya yang terbang kembali ke tangannya bagaikan bumerang, dia melompat dari tanah.

Itu hanya sepersepuluh detik.

Dalam sepersekian detik itu, Perseus sudah berada di sisi naga, dan dengan tusukan pedangnya, dia membuka leher besar naga itu, menyebabkan darah zamrud menyembur keluar dari lukanya.

Naga raksasa itu, sekali lagi, melolong, atau lebih tepatnya, meratap.

Walau lehernya belum putus sepenuhnya, itu lebih dari setengah menuju pemenggalan penuh.

—Jika saja kita penyihir telah melibatkan naga.

Liliana berpikir untuk dirinya sendiri, menyaksikan tontonan itu terungkap, biarpun penyihir teragung di dunia mempraktekkan strategi terbaik, mengelilingi penuh, meskipun demikian, itu bahkan tidak akan mendekati kemenangan pasti.

Bagi para penyeihir, naga adalah makhluk dewata dari kekuatan yang sangat besar.

Namun, makhluk dengan rupa manusia di depannya, dengan mudah memaksa sang naga ke sudut, berniat untuk mengambil nyawanya.

Ini adalah [Dewa Sesat], makhluk yang sangat menakutkan.

Walau dia memiliki sikap, gaya dan keberanian seorang pahlawan, dia hanya bisa melihat simbol pertanda buruk. Sementara dia masih berakar pada rasa takutnya, sebuah suara tiba-tiba terdengar.

"Tunggu, dewa perang di sana. Yang harus kau lawan ada di sini. Sebagai dewa, memilih monster, bukankah itu menyedihkan?"

"Fufu, hamba naga, ya. Sungguh tak sopan, bukankah berlebihan untuk mengecamku begitu?"

Perseus melompat selagi menjawab, menempatkan jarak antara dia dan sang naga.

Guaaaaaaa ......

Naga yang lemah itu berteriak.

Dari sekitar makhluk dewata yang hampir dibunuh oleh sang pahlawan, muncul seorang gadis muda yang tampak sepuluh tahun lebih sedikit. Tak diketahui kapan dia tiba di pelabuhan, tapu yang lebih penting, mengapa gadis seperti itu ada di sini — Tunggu ...

Liliana menyadari dia juga seorang [Dewa Sesat].

Mandi di bawah sinar bulan, rambut perak berkilauan, mata lebih hitam dari kegelapan. Aura dewata dari dewi yang kuat, pelindung tanah, penguasa atas kegelapan, bisa dirasakan. Seorang dewi agung dari tanah, dan yang agak terkenal pada saat itu.

Ditelan dalam aura dewata yang dipancarkan oleh sang dewi, Liliana merasa tubuhnya menjadi panas.

Bertemu dengan dia, dewi pelindung penyihir dan ular, yang, di bawah perlindungan dewata bulan hampir penuh, [Strega], dia, yang kekuatan magisnya berada di puncaknya.

Namun demikian, berkat kedatangannya Liliana telah keluar dari ikatan Perseus. Mendapatkan kembali kebebasannya untuk bergerak, dia dengan cepat memeriksa sekelilingnya, dan melihat bahwa di belakang dewi itu, adalah seseorang yang jelas tidak seharusnya hadir di sini.

"Kusanagi Godou? Kenapa kamu di sini!?"

"Kamu adalah teman Erica — Liliana — apa aku benar?"

Lalu, Campione dari timur jauh, saling bertukar sapa dengannya.

Sebuah kesempatan bertemu dengan seorang pahlawan, seorang dewi dan seorang raja iblis. Liliana menjadi depresi dengan pertanda buruk ini.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar