Unlimited Project Works

25 Oktober, 2018

Campione v4 3-2

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 2

Entah bagaimana, malam ini, adalah malam yang ditakdirkan untuk bertemu dengan kenalan, satu demi satu.

Di pelabuhan yang tidak dia tahu, kebetulan dia bertemu seseorang yang pernah dia temui sebelumnya, dan menarik napas lega.

"Kusanagi Godou, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, tapi ..."

Liliana Kranjcar meninggalkan sisi naga, berjalan mendekatinya.

Gadis cantik, bagai bidadari dari garis keturunan Eropa Timur.

"Apakah kamu, kebetulan, membawa dewi itu ke Naples?"

"Sebaliknya. Dia — Athena — membawaku ke Naples."

Tampaknya tempat ini adalah Naples.

Godou sudah mati-matian untuk mengetahui lokasinya saat ini.

Seorang ksatria seperti Liliana, setelah mendengar nama itu, pasti akan menyadari betapa parahnya situasi. Matanya melebar karena terkejut, lalu dengan cepat mengangguk.

"... Athena. Dewi yang kamu lawan saat musim semi ini, kan?"

Dia tidak menyelidiki lebih jauh ke dalam ini, dan segera mengalihkan perhatiannya ke arah konfrontasi antara dua dewa. Memang, dia adalah orang yang serius dan rasional, seseorang yang dapat diandalkan dan dipercayai dalam situasi seperti ini.

"Lalu, aku akan segera melaporkan situasi saat ini. [Dewa Sesat] di sana adalah sang pahlawan Perseus. Bagi Athena, dengan aspek ular dan sebagai dewi tanah, dia adalah musuh alami, tolong perhatikan ini."

"Kalau dipikir-pikir itu, Athena dan Medusa adalah satu dan dewa yang sama, tampaknya."

Godou mengangguk pada Liliana yang memperingatkan keuntungan Perseus atas Athena.

Walau dia telah melupakan sebagian besar pengetahuan Athena, dia masih memiliki gagasan umum.

Sementara mereka berbicara, sepasang dewa itu saling menatap. Itu bukanlah romansa, tetapi permusuhan yang intens, agak kesal menyaksikan mereka.

"Benar, kita adalah hamba si naga. Bagaimanapun, mereka adalah keturunan ular yang bijaksana, anak-anakku tercinta ... Jika ada orang berandal brengsek menyakiti mereka dengan pedang, sebagai dewi pelindung mereka, aku akan secara alami membela mereka."

"Aku, Perseus, tidak tertarik untuk bertarung dengan wanita, tapi ..."

Kedua dewa saling berhadapan secara provokatif.

Walau sopan dalam ucapan mereka, mata mereka berkilauan dengan permusuhan.

"Bila musuhku adalah dewi Athena yang perkasa, maka tidak sopan bila menolakmu."

"Perseus, benar?"

"Untuk yang sebelumnya dikenal sebagai Medusa, itu mestinya menjadi nama yang cukup tak terlupakan. Untuk memiliki kesempatan menghapus kekecewaanmu atas kekalahanmu dalam mitos itu lucu, bukankah begitu?"

"... Hmph, sungguh tidak menyenangkan. Sampai menyebutkan nama itu dengan sengaja, pria yang amat bodoh."

Ucap Athena dengan nada penuh kebencian, meringis.

"Baiklah, aku akan menerima undanganmu — anakku yang terluka, kembali ke pelukanku, dan pulihkan tubuhmu."

Dengan senyuman sengit seorang ksatria, sang dewi memanggil, di sisi naga.

Dengan sebagian besar lehernya terobek, makhluk dewata yang sekarat itu merespon, melarutkan tubuh zamrudnya yang besar menjadi cahaya, yang diserap oleh Athena.

Segera setelah itu, dia mengangkat satu tangan, menuju langit.

Tiba-tiba, permukaan laut di Teluk Naples menjulang ke atas dengan tajam.

Pasir dan kersik di laut naik lebih tinggi, membentuk bentuk ular raksasa.

Seekor ular.

Jumlahnya bukanlah satu saja. Semburan dari laut, berjumlah delapan — Delapan ular raksasa telah bangkit dari laut, memandang rendah Perseus. Godou teringat pertempuran di Tokyo.

Kemudian, Athena juga menggunakan ular raksasa yang sama seperti ini, seolah-olah untuk memamerkan kekuatannya sebagai dewi tanah.

Dia juga telah menyelimuti area dalam kegelapan.

Udara yang tebal dan gelap. Untuk ditelan oleh itu akan menghalangi semua cahaya, yang telah menyebabkan pendududuk Tokyo jatuh ke dalam kepanikan hebat, untungnya, kali ini dia hanya menggunakan sedikit ...

"Ular kegelapan dan bumi. Ini akan sedikit merepotkan."

Kata Perseus.

Namun, ekspresinya tidak sesuai dengan kata-katanya. Di mulutnya, senyum yang diketahui muncul.

"Untungnya, aku sudah siap untuk ini ... Kisahku dari zaman kuno, dengan leher Gorgon yang kuputuskan, aku akan melakukannya sekali lagi. Di hadapanku, semua ular tak berdaya."

Sembari dia mengatakan itu, delapan ular yang baru saja dibuat Athena berubah menjadi debu.

Kegelapan seperti kabut juga mulai menyebar, seolah-olah ditiup oleh angin.

"Kekuatan pembunuh ular, ya? Sepertinya kekuatan yang kau dapatkan setelah mengalahkan seorang dewi dengan atribut yang sama dengan milikku."

"Bila kau ingin aku melakukannya, aku bisa bersumpah tidak menggunakan kekuatan ini dalam pertempuran kita. Bagaimana menurutmu?"

Menanggapi tampilan berbahaya sang dewi, pahlawan itu menundukkan kepalanya dengan hormat.

"Hmph, itu tidak perlu. Aku akan membuatmu menyesali keberanianmu ... Menggunakan kekuatan itu, seharusnya melemahkan kekuatan dewatamu. Walau kau telah mewarisi kehendak Zeus, sewaktu itu di Yunani, kau memiliki berkah dari tanah untuk perlindungan. Hak istimewa yang tidak kau miliki di sini!"

Mendengar ucapan marah Athena, Godou mulai ragu.

Kekuatan sebelumnya, apakah itu kekuatan yang sama dengan [Pedang]?

Bayangan dimana Perseus telah bangkit dengan pedangnya dan dampaknya, tampaknya itu benar-benar menyegel semua kekuatan dewata yang berhubungan dengan ular.

Dalam kemarahan dan keinginannya yang besar untuk melawan Perseus, kekuatan dewata Athena membengkak secara eksplosif.

Itu setara dngan dia tidak lagi peduli untuk menguji kekuatan lawannya, mirip dengan apa yang terjadi di Tokyo — mungkin saja lebih buruk — Ini gawat.

Mengingat setelah pertempuran dan kepanikan mereka sebelumnya, Godou berpikir bahwa dia harus menghentikan mereka bagaimanapun juga.

"Tunggu, tunggu sebentar! Jangan suka-suka di tempat semacam ini! Berhenti!"

"Hm. Aku sudah khawatir sebelumnya, tapi siapa kau? Bukan manusia biasa, sepertinya ... Pembunuh dewa modern, ya?"

Memfokuskan pandangannya pada Godou, yang telah memasuki bidang penglihatannya, Perseus bertanya.

Orang yang menjawab adalah Athena.

"Seperti katamu. Dia adalah Kusanagi Godou. Walau dia belum matang, tetap saja, dia adalah seorang bocah yang agak mengesankan ... aku akan mengatakan ini dulu, tapi dia sudah menjadi mangsaku. Akan lebih baik bila kau mengingatnya dengan baik."

"Ho. Untuk dibicarakan seperti itu oleh dewa perawakanmu, tidak buruk sama sekali ..."

Sembari Perseus menatapnya, menyipitkan mata, Godou merasa agak gelisah.

Sangat mungkin bahwa dia sedang dinilai.

Apakah orang ini merasa bahwa melawan Athena tidak akan cukup, dan sedang mempertimbangkan aku juga?

"Seperti kataku, tunggu. Kalau kalian berdua ingin bertarung, itu bagus, tapi tolong jangan bertarung di kota. Kalian akan menjadi gangguan bagi penduduk setempat!"

"Beberapa waktu lalu, kau menghabiskan semua kekuatanmu untuk melibatkanku dalam pertempuran di negerimu sendiri, sungguh ironis."

"Dengan keadaan itu, aku tidak punya pilihan! Bagaimanapun, kalau kalian ingin bertarung, lakukan di tempat lain!"

"Pembunuh dewa muda, kehendakmu terlalu dangkal. Kau salah."

Dia ingin bertindak sebagai mediator antara dua dewa, tetapi malah dituduh sombong oleh Perseus.

Yang pasti, orang ini tidak akan membuat saran yang tepat. Godou hanya bisa mengerutkan kening, memikirkan hal itu.

"Apakah kau mendengarkan? Orang-orang menginginkan upaya besar dari seorang pahlawan, dan menunggu kisah-kisah perbuatanku. Aku, menghormati keinginan mereka, akan berjuang untuk mereka, aku akan menampilkan semua keberanianku. Karena ini adalah tugas seorang pahlawan!"

"Jangan gunakan 'menghormati keinginan orang-orang' dengan mudahnya! Tak takhu malu!"

Seperti yang diduga, Perseus telah mengatakan sesuatu yang sesuai dengan minatnya sendiri.

Bila mereka melanjutkan percakapan begini saja, itu pasti akan berakhir dengan dia meminta Campione — Kusanagi Godou — untuk berduel.

"Walau seharusnya kau sudah tahu ini, kau juga salah satu musuhku, pembunuh dewa muda."

Menatap Godou yang mencoba menyangkal kenyataan, Perseus tersenyum.

Seorang pahlawan kebajikan, mungkin dia memiliki keinginan aneh untuk bertempur. Dia merasa seolah-olah dia telah melihat ini sebelumnya, tepatnya, beberapa bulan yang lalu — dewa sesat Verethragna juga sama.

"Setan, rakshasa, malaikat jatuh, pembunuh dewa ... pendekar yang dicap sebagai kekejian besar. Kau berbagi banyak kualitas yang serupa dengan mereka, sebagai raja iblis, dan dengan para pahlawan baja, dewa sepertiku, di antara kita, kita hanya bisa menjadi musuh abadi, untuk bertarung. Kami para dewa, yang lahir di atas tanah, dan kalian manusia, yang telah mendapatkan kedudukan yang sama dengan para dewa, kemungkinan bagi kami menyeberang itu sudah biasa — takdir kami telah diputuskan di masa lalu."

Pahlawan baja, mengatakan itu, mengejutkan Godou sedikit.

Sepertinya naluri Campione memperingatkannya — Di sisi lain, bisa juga dikatakan bahwa itu adalah kegembiraan yang bisa dirasakan sebelum pertandingan sampai mati dengan musuh bebuyutan.

"Kalau begini, ya sudah."

Athena bergumam.

"Raja iblis pembunuh dewa dan tenaga pahlawan selalu berada dalam konflik sejak zaman dahulu ... Hm. Dengan takdir yang menghubungkan itu, tak terhindarkan bagi mereka untuk bertemu lagi. "

Untuk mengatakan itu tak terelakkan, atau alasan apa pun lainnya, tidakkah itu jelas bahwa itu semua kesalahan dewi ini ... Sambil mengeluh pada dirinya sendiri, sang dewi melanjutkan.

"Baiklah. Haruskah kita mundur kali ini, pahlawan baja? Aku baru ingat bahwa aku telah berencana untuk melatih bocah ini dengan baik."

Sebuah pernyataan yang tidak menguntungkan.

Untuk Godou yang memegang kepala dengan tangannya, Athena mengeluarkan perintah bak ratu.

"Kusanagi Godou, bila kau ingin agar kota tidak terlibat, maka kau harus berjuang untuk itu, sebagai Raja, untuk melindungi temanmu sendiri. Ini memang pelatihan bagus bagi orang yang belum berpengalaman."

"Fufu. Untuk bisa bertukar serangan dengan pembunuh dewa dan ratu ular, ini semakin menarik."

"K-Kalian, jangan putuskan ini sesuai keinginan kalian sendiri ..."

Mengapa para dewa selalu berubah menjadi begitu keras kepala?

Godou mengutuk kesialannya sendiri, dan pada saat yang sama menganalisis sekelilingnya dengan tenang.

Athena tersenyum provokatif, sementara Perseus memakai ekspresi penuh semangat bertarung. Liliana Kranjcar mengamati dari sisi dengan tenang, terlihat cemas.

Bagaimana dia akan mendekati pertarungan dengan pahlawan dari mitos ini? Godou tak bisa mendapatkan ide.

Selain itu, ada juga masalah lokasi.

Kastil yang dibangun di atas formasi tanah yang menjangkau ke arah laut, pelabuhan, dan bahkan jalanan menuju ke kota, itu semua terlalu dekat!

Saat ini, mereka hanya sekitar sepuluh meter dari dermaga, di samping jalanan, yang terlihat agak makmur.

Tak peduli bagaimana mereka bertempur, kemungkinan mereka akan menyebabkan kerusakan pada lingkungan, yang ingin Godou hindari.

"Aku tidak keberatan bermain bersama kalian, tapi aku punya permintaan. Aku ingin ganti tempat untuk duel kita. Aku tidak bisa bertarung di tempat begini."

Ucap Godou dengan nada kesal.

Dia takkan membiarkan dirinya terhanyut dalam kecepatan mereka. Selain itu, dia juga harus membuat mereka mematuhi kondisinya.

"Ho, apakah kau tak puas dengan tempat ini sebagai arena duel kita?"

"Tentu saja."

"... Hmph. Walau, bagaimanapun juga, aku tidak merasa bahwa itu adalah masalah besar, ya?"

Desakan tegas Godou menyebabkan Perseus untuk memeriksa sekitarnya dengan hati-hati.

"Di kota yang sentimental dan historis, di bawah sinar rembulan dan tatapan seorang dewi, ini adalah panggung yang layak bagi kita untuk berduel."

"Ini mengerikan. Biasanya, sebelum duel, kau harus melakukan persiapan untuk berbagai hal. Kalau kau memintaku untuk berduel langsung, mana mungkin aku bisa bersemangat!"

Sepuluh bentuk Verethragna, dalam kondisi ini, mana tahu bisa diaktifkan.

Untuk bertarung tanpa persiapan, harus dipukuli secara sepihak, itulah sebabnya dia perlu mengulur waktu dan membuat rencana.

Dengan cepat mengambil keputusan, Godou berbisik kepada ksatria wanita itu.

"... Maaf, tapi karena itu, aku akan meninggalkan tempat ini. Kalau aku tidak ada, kau mestinya aman, jadi ambillah kesempatan itu untuk pergi."

Awalnya dia bermaksud untuk pergi setelah menyelesaikan kata-kata itu, tapi Liliana juga membisikkan jawabannya.

"... Dengan kata lain, meninggalkan tempat ini untuk saat ini, ingin mempersiapkan serangan balik?"

"Ya, itu kedengaran benar. Pria itu sangat cepat, walau aku mungkin tak bisa mengalahkannya dalam aspek itu, untuk saat ini, aku hanya bisa mencoba."

"Kalau begitu, tolong serahkan padaku."

Tiba-tiba, Liliana menempel padanya dengan erat.

Tubuhnya yang ramping menempel ke tubuhnya, memeluknya, pikiran Godou menjadi kosong dalam kebingungan. Apakah dia jatuh ke laut, pakaiannya yang setengah kering mengeluarkan aroma air asin.

Dia bisa merasakan kelembutan dan kehangatan gadis cantik, seperti bidadari melalui kontak tubuh mereka—

Sembari dia merasakan itu, penyihir berambut perak itu berteriak.

"Wahai Sayap Artemis, berikan aku kekuatan untuk melakukan perjalanan sepanjang malam dan melayang melintasi langit!"

Ini sebuah mantra — kata-kata untuk mengaktifkan kekuatan magis?

Tepat setelah itu, Godou dan Liliana dikirim terbang di udara.

"Eh?"

Pemandangan di depan matanya tiba-tiba menjadi sangat luas.

Bagian dalam Naples, pelabuhan yang membentang ke laut, kastil raksasa di dekat pelabuhan, dan banyak lampu jalan yang terang ...

Godou melihat ke arah tempatnya berdiri beberapa saat yang lalu.

Sosok Athena dan Perseus, yang ditinggalkan di tanah.

"Eeeh!?"

Seakan tertarik oleh magnet yang tak terlihat, Liliana dan Godou bergerak melalui langit, tepat di atas jalanan Naples.

Jika ada yang melihat ke atas, mereka akan berpikir bahwa mereka melihat bintang jatuh, tapi alaminya, bintang jatuh tidak akan sedekat ini dengan tanah.

Mereka terus terbang selama sekitar setengah menit.

Melambat, mereka turun, dan mendarat secara bertahap di atap sebuah gedung. Walau Godou merasa takut bahwa atapnya mungkin rubuh karena di bawah berat mereka, itu adalah ketakutan yang tak berdasar.

Godou dan Liliana mendarat di atap dengan pelan, dengan postur terbang yang sama.

Dan setelah itu, mereka meluncur ke depan seperti pesawat yang baru saja mendarat, dan berhenti dengan cepat, pendaratan yang aman.

Mereka terbang sejauh dua atau tiga kilometer.

Menatap kastil tepi laut di kejauhan, Godou mendesah lega.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar