Unlimited Project Works

19 November, 2018

Campione v3 5-4

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 4

"Maukah kau merahmati hamba dengan namamu, dewa yang tak terkalahkan dari timur?"

Tiba-tiba Erica berlutut, menundukkan kepala dengan hormat.

Melihat padanya, koreksi — pemuda, dewa pemuda menunjukkan senyum yang jelas.

"Tidak perlu. Engkau telah melihat identitas sejatiku begitu cepat, gadis pintar!"

Lalu dia menyipitkan matanya dan dengan senang hati mengarahkan pandangannya ke kedalaman hutan.

"Raja Melqart, bersembunyi di tempat begini ... Dengan merapalkan penghalang, dia tampak sangat waspada padaku. Hohoho, bagus sekali, orang itu pasti terluka, tapi aku juga terluka. Biarkan kami berdua mengistirahatkan tubuh kami, dan orang yang pulih paling cepat akan mendapatkan keuntungan."

"Seperti yang diharapkan, kaulah yang melukai dewa Melqart—"

Erica meminta dengan hormat.

Ekspresinya masih kaku, tapi bila dibandingkan saat bertemu dengan Melqart tadi, jauh lebih tenang.

Ini adalah perjumpaan kedua dengan dewa sejati, dan dia menunjukkan pertumbuhan yang jelas dari pengalaman terakhirnya.

"Betul, dan hasilnya saling kalah. Aku terluka parah dan kehilangan lebih dari separuh kekuatan dewataku. Lihat, semua hewan mengamuk di atas pulau, kekuatan dewata yang berserakan dari tubuhku memperoleh kehidupan, dan menjadi hewan dewata. Semua kecuali satu, telah dikalahkan dan kembali ke tubuhku. Hoho, saat aku bertemu denganmu, adalah saat aku pulih setengah, dan merasa lelah, aku ingin bermain-main untuk sementara ini."

Di sisi lain, Kusanagi Godou-

Sedang bermasalah. Rupanya jelas identik dengan pemuda. Namun, itu jelas bukan dia.

"... Kamu siapa? Aku sudah tahu kamu adalah dewa, tapi bagaimana aku harus mengatakannya, itu — kamu pasti bukan orang yang kutemui?"

"Ya, engkau bocah dengan naluri yang sangat baik. Betul, aku tidak lagi sama dengan masa lalu."

Sikap yang sangat menyendiri, dan senyuman bak dewa yang memandang rendah kehidupan di bumi dari atas. Godou menjadi semakin yakin.

Walau sangat bangga, orang itu tidak akan pernah melihat Godou begini.

"Jadi, permainan di pulau ini akan segera berakhir. Biarkan Raja Melqart terbangun itu bagus, untuk melawan raja itu, marilah kita menentukan pemenang kali ini."

"— Biarkan dia terbangun?"

Godou mengerutkan dahi pada kata-kata yang tidak bisa dia abaikan.

"Ya, aku adalah [Dewa Sesat] yang esensinya adalah pertempuran untuk meraih kemenangan. Selama aku menginginkan lawan, menginginkan musuh berperang melawanku, musuh yang sesuai akan muncul. Aku datang ke pulau ini karena takdir terjalinnya tanah ini dan lawan terkuatku."

Aku sudah lama mencari kekalahan.

Dewa pemuda itu tersenyum sambil bergumam sendiri.

"Seperti biasa, setiap kali aku datang ke sebuah pulau di mana musuh yang kuat tidur, aku akan membacakan doa untuk memberiku kekalahan, berikan aku musuh yang kuat, berikan aku pertempuran yang sesungguhnya! Jadi, tak ada pilihan selain melawan Raja Melqart, lebih tepatnya, aku harus mengatakan itu luar biasa."

Pemuda ini adalah pelaku di balik keseluruhan kejadian.

Mengetahui hal ini, Godou menahan napas, ini adalah fakta bahwa Erica merasa sulit untuk mengungkapkannya.

"Maafkan kejujuranku, kau termasuk dalam faksi cahaya, dewa pelindung keadilan dan orang-orang. Aku percaya tindakan kekerasan ini tidak tepat. Tolong kembalilah ke jalan kebenaran."

Permintaan Erica seperti jabatan seorang pejabat tinggi yang menasihati seorang raja.

Tapi pemuda itu tetap tersenyum seperti awan fajar yang cerah, dan menggelengkan kepalanya.

"Sayang, tapi aku tak bisa melakukan itu. Engkau lupa? Kini aku berada di tengah pemberontakan. Betul, aku pernah menjadi pelindung terang dan keadilan — tapi dalam keadaanku saat ini, aku adalah dewa konflik yang memberontak. Hohoho, bocah, saat kami bermain bersama, itu sangat menarik."

Pemuda itu menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah Godou.

"Belum lama ini, karakteristik dewataku telah lenyap begitu saja, jadi kehadiran [Dewa Sesat]-nya sangat lemah, eksistensi yang berbeda dibandingkan dengan jati diriku. Akan tetapi, kini sebagian besar kekuatan dewata telah diambil, sangat berbeda, aku telah menemukan kembali jati diriku. Kini aku adalah dewa perang yang sesat!"

Pasti berbeda dari sebelumnya.

Lebih agung dari sebelumnya, lebih kuat dari sebelumnya, lebih suci dari sebelumnya, tidak manusiawi — orang yang sama sekali berbeda. Dan telah melakukan begitu banyak hal yang tidak masuk akal, terutama dengan kesadaran penuh.

Ini adalah [Dewa Sesat], dewa yang menolak mitos yang diciptakan oleh umat manusia.

Godou pun mengerti arti yang dipegangnya.

"Hoho, sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara. [Kuda Putih] itu, telah menjadi tidak sabaran."

Hewan raksasa yang merusak hutan hijau itu mendekat.

Si penyusup yang maju bagai buldozer, tentu saja adalah [Kuda Putih].

Perisai berbulu yang bermandikan sinar rembulan, mengeluarkan cahaya putih. Berkat [Kuda Putih], Godou bisa melihat dengan jelas sekelilingnya walau penglihatan malamnya buruk.

"Haha, anak baik! Datang untuk menawarkan kekuatan atas kepulanganku!"

Sosok pemuda itu lenyap.

Tubuh tampan bak patung dewa yang dibuat dengan hati-hati telah hilang, berubah menjadi embusan angin.

— Tornado! Godou segera menyadari, angin suci yang ia lihat dua kali, yang meniup hewan dewata ke udara. Ini adalah salah satu kekuatan dewata si pemuda.

Segera, embusan angin membentuk pusaran dan menjadi tornado.

Dia harus segera menghentikannya, pemuda itu — walau waktu mereka bersama itu pendek, tapi Godou merasa harus menghentikan dewa yang dia anggap sebagai temannya. Tapi apa yang bisa dia lakukan, Kusanagi Godou hanyalah seorang manusia berusia lima belas tahun yang tidak berdaya. Apa yang harus dilakukan!?

Erica berseru pada saat ini.

"Godou! Kusanagi Godou! [Jilid Rahasia Prometheus] mengumpulkan sihir sangat kuat!"

Pertama kali Erica memanggil nama lengkapnya.

Namun, dibanding memerhatikannya, Godou malah buru-buru meraih tangannya ke ranselnya, dan mengeluarkan tablet batu itu.

Berpikir dengan saksama, ini tidak perlu dicemaskan. Kekuatan, teknik, pengetahuan Kusanagi Godou, tak ada satu pun yang bisa melampaui dewa.

Jikapun ada, itulah yang disebut pemuda itu tablet batu untuk "mencuri kekuatan dewa."

Tapi sesuatu yang tidak bisa digunakan oleh si penyihir jenius Erica, bisakah Godou menggunakannya?

Bukan hanya kiasan, tapi saat tangannya meraih tablet batu itu, Godou merasakan panas terik, seolah-olah dia telah memasukkan tangannya ke dalam api.

Tingginya suhu, dia mempertahankan cengkeramannya dan tablet batu itu tiba-tiba lepas.

Mengambil ukiran pria di atas tablet batu itu — kemungkinan besar penggambaran Prometheus, dan mengarah ke si tornado dan [Kuda Putih]. Tindakan ini dilakukan secara tidak sadar.

Pada saat itu, grimoire dari zaman para dewa memuntahkan api biru.

"Eh — aku ... Aku berhasil melakukannya ... kan?"

Bahkan Godou sendiri ragu-ragu, dan menatap api sambil tanpa gerak.

Tornado yang berubah dari pemuda itu segera menghindari api.

Tapi api mengepung tubuh kuat dan bertenaga dari [Kuda Putih], berhasil melahapnya. Setelah terbakar selama sepuluh detik, itu segera hilang.

Mengikuti apinya, tubuh tinggi dan besar [Kuda Putih] juga lenyap tanpa bekas.

Hasilnya, selama kira-kira tiga puluh detik, api biru dan [Kuda Putih] menghilang dari tanah.

Pada saat yang sama, bobot [Jilid Rahasia Prometheus] meningkat. Godou yang telah bertahan kepanasan juga stabil, menjadi kehangatan yang lembut.

— Matahari.

Tiba-tiba, bayangan kecemerlangan matahari dan nyala api putih masuk ke dalam benak Godou.

Mungkinkah ini kekuatan dewata yang dimiliki oleh [Kuda Putih], mengapa kuda putih berhubungan dengan matahari?

"... Hmm, engkau sudah tahu bagaimana cara menggunakan batu ini? Sedikit merepotkan."

Angin berputar kembali, membentuk sosok dewa pemuda di tengahnya.

"Baiklah, kehilangan hanya satu inkarnasi tidak akan memengaruhiku — kekuatan dewataku sebagian besar telah diambil ... Wah, sebaiknya engkau dihukum karena menentang dewa, tapi demi persahabatan singkat kita, aku akan memaafkanmu kali ini."

Pemuda itu tersenyum.

Bukan senyum kuno dan elegan, tapi senyum gembira dan tegas melihat seorang tukan ikut campur baru.

"Biarkan aku mengingatkanmu, tak ada kedua kalinya. Bila engkau menggunakan batu ini untuk menghalangiku, aku akan memberi hadiah padamu waktu berikutnya. Engkau t'lah dimaafkan!"

Setelah mengatakan ini, itu berarti bahwa dia tidak akan memberi Godou atau Erica peringatan lebih lanjut.

Melihat langsung ke kedalaman hutan, dia maju dengan langkah yang kuat.

Namun, pada saat itu —

Batang pohon tiba-tiba bergoyang, dan pepohonan di hutan terjatuh satu demi satu, menghalangi jalan dewa pemuda itu.

Dengan awalnya tidak ada jalan menuju ke kedalaman hutan, kini bahkan lebih sulit untuk sampai ke sana.

Dari telapak dewa pemuda, petir mendadak dilepaskan.

Dalam kondisi normal, satu serangan itu seharusnya membakar pohon menjadi abu.

Tapi pohon itu benar-benar tidak terluka. Penghalang pohon yang menghalangi masuk ke hutan, tidak menunjukkan sedikit pun jejak terbakar, dan terus menghalangi jalannya.

"Penghalang Raja Melqart, sepertinya dia sangat mewaspadaiku. Tanpa persiapan sama sekali, tidak mungkin bisa langsung masuk."

Dewa pemuda itu tersenyum masam dan mulai berteriak menuju kedalaman hutan.

"Baik, raja kuno! Aku akan menunggumu sampai subuh! Begitu aku menyimpan cukup tenaga untuk mengiris dinding kotamu, aku akan kembali!"

Menyelesaikan deklarasi perang yang kuat, wujudnya mereda.

Berubah menjadi angin kencang di udara.

Yang terakhir Godou dengar adalah tawa keras "hahahahaha!" si pemuda.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar