Unlimited Project Works

19 November, 2018

Campione v3 6-2

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 2

Sinar fajar mulai muncul di langit timur.

Mandi di bawah cahaya, inkarnasi [Angin] berubah menjadi sosok [Pemuda].

Dewa pemuda berambut hitam mendarat ringan di tanah, pada saat fajar seperti yang dijanjikannya. Dia memiliki sifat-sifat dewata dengan ikatan yang dalam terhadap cahaya.

Di depan matanya ada hutan hijau yang mengelilingi reruntuhan kuno.

Saat sinar mentari memandikan pepohonan hijau tua di hutan, cahaya berwarna mawar dilepaskan.

—Melalui faksi kebaikan, memiliki dewa cahaya sebagai inti, kekuatan dewata pemuda itu dinaikkan hingga maksimum ketika dimandikan di bawah sinar fajar. Dalam keadaan ini, bisa untuk menembus penghalang hutan.

Sebenarnya Melqart juga seorang dewa yang mengendalikan matahari, tapi tanggung jawabnya menguasai terlalu banyak hal.

Karena itu, dia tidak bisa meningkatkan kekuatan dewata bahkan ketika matahari terbit, sehingga si pemuda bersiap untuk menggunakan keuntungan ini.

— Mungkin itu bisa diterima untuk membuat semuanya menjadi sederhana dan menunggu raja dewata pulih sepenuhnya.

Namun, ia menghilangkan gagasan ini secepat itu muncul, menganggapnya terlalu tidak sopan.

Sebagai orang yang memegang semua kemenangan di tangannya, itu akan menjadi kesempatan paling istimewa untuk melawan raja dewata yang agung dan kuno, dan menang. Dengan penuh rasa hormat, dia akan memanfaatkan kesempatan ini.

Sudut bibirnya sedikit naik, dia berjalan menuju hutan dengan bentuk pemuda.

Walau dia memiliki kekuatan sepuluh inkarnasi, ini adalah keadaannya yang paling normal.

Bukan hanya manusia, tetapi bentuk pemuda berusia lima belas tahun.

Setiap kali dia mengatur untuk mengoreksi kesalahan dunia, yang ditugasi oleh tuannya untuk menaklukkan dewa musuh yang berlawanan, dia suka tampil sebagai seorang pemuda.

Seorang pemuda berusia lima belas tahun yang mulia.

Menurut ajaran agama yang ia jaga, itu adalah simbol dari 'pahlawan.'

Seperti semalam, cabang-cabang pohon menyimpang seperti ular untuk menghalangi jalannya.

Dihadapkan dengan penghalang semacam itu, dia hanya memberikan perintah 'berhenti.'

Mantra berkah dan dominasi, ini adalah otoritas yang dimiliki oleh inkarnasi pemuda sebagai pahlawan. Pepohonan di hutan langsung kembali menjadi tanaman normal, dan membuka jalan.

Selanjutnya adalah serangan pasukan belalang.

Bagi orang yang setara dengan raja dewata itu sendiri, hewan dewata atau utusan dewa seperti belalang tidak setara sama sekali. Dia langsung menggunakan kekuatan spiritual dari inkarnasi kedelapan, [Kambing].

Hewan dewata yang cerdas ini disembah oleh suku nomaden sebagai penjelmaan petir.

Melepaskan sambaran petir dari tangannya, seluruh pasukan belalang hangus terbakar.

"Raja Melqart, apakah engkau percaya penghalang seperti itu dapat menghentikanku?"

Meraung menuju langit.

Ada balasan instan.

'Tentu saja! Dewa yang membunuh dewa, dewa pendekar yang agung. Itu hanyalah penjaga. Untuk penjaga begitu, bagaimana mereka bisa menghentikan langkah dewa perang?'

Apa yang muncul berikutnya adalah badai angin yang berhembus dari depan.

Melqart juga dewa badai, bahkan untuk [Angin] yang kuat yang dapat menerbangkan kota tempat manusia tinggal, itu adalah lotere. Angin tidak dapat meniup angin.

... Setelah itu, mereka menggunakan segala macam kekuatan dewata.

Seperti pasukan orang mati yang dipanggil dari dunia bawah, gelombang kejam yang bisa membasuh semuanya bagai banjir, atau ribuan guntur yang melesat bagai tombak di langit.

Dewa pemuda mengalahkan semua serangan ini, dan akhirnya tiba di Nuraghe sa Bastia.

'Ch ... Masih dapat bertarung dengan beralih bentuk. Sungguh menjengkelkan!'

"Dengan kekuatan transformasi, aku memegang kemenangan di tanganku apapun medan perangnya. Hahaha, Raja. Aku bisa merasakan kehadiranmu di hadapanku. Engkau tidak keluar? Tampaknya, kekuatan dewatamu belum sepenuhnya pulih!"

Dia mengamati sekeliling reruntuhan sambil berbicara dengan suara Melqart.

Lokasi asli dari pintu masuk ke kuil bawah tanah sekarang di bawah batu besar.

'Bahkan untuk kekuatan dewatamu, batu karang ini tidak dapat dengan mudah dihancurkan. Ini adalah istana terakhir yang kupesan kepada pengrajin Kothar-wa-Khasis untuk dibangun di masa lalu. Untuk menghentikanmu, aku menggunakan pertahanan ini. Ingat untuk berterima kasih padaku!'

"Ya ... Aku paham, walau sangat kasar, itu lumayan!"

Dewa pemuda mengagumi batu yang kokoh ini. Sudah diduga dari raja dewata kuno dan dewa perang, dia tidak menganggap enteng pertahanan.

Namun, ini adalah dewa perang yang bisa mengalahkan dewa maupun iblis.

Dalam keterampilan murni prajurit, ia adalah dewa yang melampaui Melqart. Memuji batu itu tidak berarti dia tidak bisa menghancurkannya — sambil dia memutuskan, dia memerhatikan.

Hanya sebentar kehadirannya.

Untuk dewa yang kuat, ia merasakan kekuatan magis si pemilik sangat kecil.

"Engkau datang. Aku sudah menyatakan, waktu berikutnya engkau menghalangiku, aku akan menghadiahimu sesuai dengan itu, apa engkau ingat?"

Dewa pemuda berbalik dan menerima senyum darinya sebagai balasannya.

Penyihir pirang cantik yang menggunakan Cuore di Leone, gadis itu berdiri di sana dengan pakaian perang merahnya.

"Aku ingat kata-katamu dengan jelas, tapi aku seorang kesatria, dan tidak bisa membiarkanmu melakukan apa pun yang kamu suka di dunia ini — jika aku tidak dipindahkan meskipun pengetahuanku, itu akan menjadi noda bagi kehormatanku."

Erica membalas dengan tenang.

Dewa pemuda telah memutuskan pada saat fajar dirinya sendiri.

Untuk mengejar dia ke hutan, Godou dan Erica datang ke reruntuhan. Seperti yang disepakati sebelumnya, Godou menyembunyikan dirinya, bersiap untuk menggunakan [Jilid Rahasia Prometheus].

Menunggu Erica menarik perhatian si dewa pemuda.

Jika grimoire digunakan secara langsung, dia mungkin akan menghindarinya. Api biru yang mencuri kekuatan dewata — walau itu menabrak [Kuda Putih] secara langsung, dewa pemuda dapat menghindar dengan mudah. Bila Godou mencobanya lagi, hasilnya akan sama.

Dengan demikian Erica harus memaksanya untuk menunjukkan suatu celah.

"Apa kau masih ingat janji pertama kita saat pertama kali kita bertemu?"

Erica bertanya dengan senyum seindah musim semi.

Seperti wanita bangsawan yang mengobrol senang di salon, dia memiliki ekspresi dan tingkah laku yang sangat elegan.

Namun, mempertahankan keadaan ini adalah kerja keras. Lawannya adalah dewa, satu kesalahan dan itu akan berubah menjadi pengulangan apa yang terjadi dengan Melqart. Erica tidak mau menderita penghinaan seperti itu lagi.

Berharap untuk melawan dewa dan serangan balik, orang pasti tidak bisa kehilangan semangat. Erica Blandelli takkan pernah tunduk pada musuh tanpa perlawanan! Dia akan mempertaruhkan nyawanya untuk membuat lawannya mendengarkan.

"Hoho, janji apa?"

"Bukankah kau bilang, suatu hari kau akan menantangku untuk duel pedang? Jadi, biarkan aku mengambil resiko — jika aku mendapatkan kemenangan dengan pedang, kau harus meninggalkan pulau ini."

Menunduk dengan hormat, Erica membuat permintaannya. Bagaimana reaksi si dewa pemuda?

Terima atau abaikan? Jika yang terakhir, maka dia akan dipaksa untuk mencoba opsi berikutnya. Apa hasilnya?

"Haha! Engkau berani menggunakan pedang untuk menantangku, dewa perang. Ya, baiklah! Kehendakmu teramat berani, spesimen langka dari seorang penyihir dengan semangat prajurit!"

Benar saja, dewa perang setuju, seperti yang dia dengar dari Godou.

Erica tertawa sendiri. Aku, sudah lama mencari kekalahan. Apapun lawanya, aku tidak akan pernah dikalahkan. Dari semua pernyataan besarnya, kepercayaan dirinya menyilaukan, dan provokasinya berhasil!

"Jadi, aku harus menyiapkan pedang ... Ah, ini akan berhasil."

Melihat ke atas tanah, dewa muda mengambil sebuah cabang pohon.

Panjang yang sama dengan Cuore di Leone milik Erica, namun sangat ramping, bahkan seorang bocah saja akan mematahkannya menjadi dua dengan mudah.

"Ya, panjangnya sempurna. Ini akan berhasil."

Dewa pemuda tertawa mengejek sambil mengayunkan cabang.

Tebasan sepuluh sentimeter sederhana, tapi angin seperti pedang itu bagai tornado walau kenyataannya adalah cabang tipis dan ringan.

Ini pasti yang dikenal sebagai keterampilan dewata. Hanya dari serangan satu itu, Erica memahami keterampilan dewa pemuda.

Setelah seni bela diri mencapai puncak tertinggi keterampilan, ukuran dan berat senjata tidak lagi penting.

Untuk menggunakan senjata besar dengan sempurna, harus mempelajari teknik untuk menggunakannya dengan kecepatan dan ketepatan. Untuk menggunakan senjata kecil dan ringan dengan sempurna, harus belajar bagaimana membuat serangan yang kuat dan berat.

"Cuore di Leone — baja yang memiliki nama raja singa. Sekarang aku memerintahkanmu. Singkirkan penyamaran yang kuberikan padamu, dan ungkapkan bentuk sejatimu. Muncul di hadapanku sebagai singa, dan bertarunglah di sisiku!"

Erica meneriakkan mantra, membuka segel pedang kesayangannya.

Pedang ramping sebelumnya adalah bentuk sementara yang dipilih Erica untuk melatih dirinya sendiri. Pengekangan yang diterapkan sendiri untuk mengembangkan serangan memukul keras dengan pedang ringan dan ramping.

Cuore di Leone mulai berkembang.

Tubuh berat bilahnya seperti jangkar, panjangnya kira-kira dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Pedang lebar satu tangan yang tidak cocok dengan pergelangan tangan gadis yang ramping iti.

Ini adalah bentuk asli dari pedang sihir singa.

Lalu Erica memanggil di tangan kirinya sebuah pelindung infanteri melingkar yang terbuat dari baja, permukaan merahnya diukir dengan lambang salib hitam.

Jika Erica tidak menggunakan sihir untuk meningkatkan kekuatan dan tenaga eksplosifnya, dia tidak akan bisa menggunakan persenjataan berat ini.


"Baik. Sepertinya engkau sudah siap. Mari kita mulai!"

Dewa pemuda mengumumkan secara gembira dengan senyuman.

Erica menyerang tanpa ragu-ragu.

Menggunakan pedang ringan dan tipis adalah untuk mengembangkan rasa dampak berat dalam keterampilan pedangnya. Lalu sebaliknya, apa rahasia menggunakan pedang yang berat? —Kecepatan serta kontrol yang stabil.

Erica melambai ringan tangan kanannya.

Dari bahu ke siku, lalu dikombinasikan dengan kekuatan dari pergelangan tangan, dia mengayunkan Cuore di Leone yang berat dan padat, menebas ke arah dewa pemuda secara horizontal.

Dari bahunya sampai ujung pedang, itu bagaikan cambuk.

Untuk lawan seorang manusia, bahkan pendekar pedang kelas satu, gerakan semacam ini akan sangat sulit untuk diketahui ketika dilihat untuk pertama kalinya.

Itu juga sangat kuat. Dalam bentuk aslinya, Cuore di Leone cukup tajam untuk memotong beton, belum lagi dampak tambahan yang dihasilkan oleh berat yang luar biasa.

— Walaupun melawan serangan seperti itu, dewa pemuda menahan dengan mudah dengan cabang ramping.

Bukan itu saja, dia memotong kembali ... Koreksi, dewa pemuda hanya mengayunkan cabang dengan ringan dan Erica menerima dampak dengan perisai baja di sebelah kirinya, tapi dampak ranting itu benar-benar membuat tangan kirinya gemetar.

Menahan rasa sakit, dia menubrukkan perisai ke arah tubuh si dewa pemuda.

Taktik kasar menggabungkan serangan dengan pertahanan. Erica mengarahkan pada armor di kaki dewa pemuda, melangkah dengan keras dengan kaki kirinya! Bakatnya tidak terbatas pada gerakan luar biasa dari keterampilannya dengan pedang ramping.

Teknik-teknik nyata dari Salib Tembaga Hitam, tidak hanya luar biasa dalam penampilan, tetapi memiliki banyak taktik praktis dalam pertempuran sungguhan.

Melakukan gerakan ini, Erica menyerang cepat tanpa jeda.

Tetapi sang dewa pemuda menghindari serangan-serangan ini dengan melangkah ke kiri dan ke kanan.

Dan kadang-kadang dia akan menggunakan cabang kecil untuk membuat serangan balik untuk melemahkan momentum serangan Erica. Dia hampir menari bagai kupu-kupu dan menyengat bagai lebah.

"Nona! Engkau telah dilatih dengan baik! Bila engkau terus begitu, suatu hari engkau akan menjadi pendekar yang kuat. menakjubkan!"

Dia bahkan bisa memuji lawannya.

Benar-benar memperlakukannya sebagai permainan, tapi tidak peduli, Erica mengira dia akan bertindak seperti itu sejak awal.

Erica bertarung sambil menunggu kesempatan.

Sengaja memilih kompetisi pedang, dan menggunakan bentuk sejati Cuore di Leone untuk bertarung dengan kekuatan penuh, ini semua dalam persiapan untuk langkah berikutnya.

Dia berdoa agar dewa pemuda tidak memiliki kekuatan dewata prediksi maupun membaca pikiran.

Lalu Erica pun menggunakan langkah terakhirnya.

"Pedang sihir singa, tinggalkan tubuh pedangmu dan ubahlah menjadi rantai yang mengikat!"

Saat pedang dan ranting berbenturan berulang kali, Erica tiba-tiba melompat mundur.

Pada saat yang sama melantunkan mantra pendek, pedang kesayangannya mulai berubah.

Tidak menjadi senjata pedang dan tombak milik ksatria, tapi rantai besi dengan panjang sekitar tiga meter. Rantai besi ini juga memiliki beban berat di salah satu ujungnya, dan Erica mengayunkannya ke pergelangan kaki dewa pemuda itu.

Berniat menjerat kedua kakinya dan membuatnya jatuh.

"Hahaha, siapa sangka engkau punya rencana."

Menuju langkah seperti itu, dewa pemuda hanya tersenyum dan melompat untuk menghindar.

Tapi Erica membuang rantai kedua, kali ini berubah dari perisai di tangan kirinya.

Itu dibelokkan oleh ranting.

Namun, pada saat itu Erica telah menutup jarak dan mendekati dewa pemuda.

Rantai di kanannya kembali menjadi pedang besar — bentuk asli Cuore di Leone, dan menebas langsung. Di tengah udara yang akan mendarat, sang dewa pemuda terkena serangan penuh.

Darah segar langsung tersebar di sekitar.

Sebelumnya diresapi dengan mantra, pedang sihir singa telah memotong lengan kanan sang dewa.

— Pada saat itu juga, api biru dari [Jilid Rahasia Prometheus] meledak, seolah melahap Erica bersamaan dengan tubuh si pemuda.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar