Unlimited Project Works

19 November, 2018

Campione v3 6-4

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 4

Pedang kembar Verethragna, pentungan Melqart dan api Prometheus bertabrakan di udara.

Di bawah, Godou cepat-cepat membantu Erica saat kakinya terluka.

"Bisakah kamu tetap berjalan? Tolong tahan untuk sekarang. Sangat berbahaya di sini, jadi lebih baik pindah ke lokasi lain."

"Godou ... kamu berhasil mengelabui [Dewa Sesat], sungguh pencapaian luar biasa."

Sementara para dewa bertempur dengan intens, mereka berdua memasuki hutan.

Erica tengah bersandar, tidak dapat berjalan dengan baik, di pundaknya, keduanya berjalan berdampingan.

Alhasil mereka sampai di kaki pohon besar.

Membuat Erica kecewa, Godou memegang [Jilid Rahasia Prometheus] sekali lagi.

Verethragna memiliki keuntungan dalam pertempuran udara karena senjata-senjatanya yang bisa menyegel kekuatan dewata dan membunuh musuh. Itu sudah jelas.

Pengejar, Pengusir, dan api biru disayat berkali-kali.

Dewa pemuda yang mencapai kemenangan sepertinya hanya masalah waktu saja. Namun, gerakan terbangnya di udara dan juga kecepatan pedangnya tampaknya lambat-laun menjadi lamban.

"Jika ini terus berlanjut, akan sangat sulit bagi [Jilid Rahasia Prometheus] untuk mencuri kekuatannya."

"Bagaimana dengan ini — Godou, sebelum Verethragna datang, cepat melarikan diri sendirian. Aku hanya membebanimu, tinggalkan aku di sini."

Bertumpu pada pohon, Erica berbicara dengan menyakitkan.

Suara yang indah dengan kejelasan, dan wajah yang kecantikannya tidak terpengaruh oleh debu, pasir, serta keringat. Baru sekarang Godou akhirnya tersentak oleh perasaan sebenarnya betapa cantiknya gadis ini.

"Bisakah kamu menggunakan sihir penyembuhan? Seperti yang biasa terlihat di game?"

"Aku bisa, tapi butuh waktu tertentu agar mantra itu bekerja. Menyembuhkan dua kaki ini ... Mungkin akan memakan waktu tiga puluh menit, jadi akan sangat terlambat."

Teknik yang bisa menyembuhkan kaki-kaki yang tampak seperti patah ini, mungkin adalah mantra yang sangat kuat.

Namun, itu sama sekali tidak berguna dalam situasi ini.

Sekarang, hanya ada satu hal yang bisa digunakan.

Godou melihat ke arah Verethragna dengan tekad, dan berkata pada Erica:

"Jadi, satu-satunya kartu truf adalah tablet batu Prometheus. Aku akan memikirkan cara untuk menjadi lawan orang itu. Cepat gunakan sihir itu. Setelah kakimu disembuhkan, kita akan berlari bersama."

"Jangan bodoh! Kamu akan mendorong Verethragna! Siapa tahu seperti apa retribusi dewata yang akan kamu derita!?"

"Tapi, orang itu bisa berubah menjadi angin, kan? kalau aku lari sendiri, aku akan ditangkap pada akhirnya. Jika tanpamu, aku mungkin tidak akan bisa melarikan diri."

Godou menghela napas kali ini.

"Jujur saja, tidak ada cara lain selain langkah itu. Tapi—"

"Tapi?"

"Bukankah Erica menyebutkan sebelumnya? Orang itu lebih menyukaiku. Aku juga sangat peduli dengannya. Bagi seorang mantan teman untuk berubah menjadi sesuatu seperti itu, sungguh sangat buruk meninggalkan dia sendiri dan tidak melakukan apa-apa."

Meskipun waktu mereka bersama itu pendek, Godou merasa sebagai teman yang si pemuda telah menyimpang dari jalan yang benar.

Apa yang bisa dia lakukan — tidak tahu.

Bahkan dengan luka di sekujur tubuhnya, dewa perang yang kuat terus bertarung dengan semangat besar.

Apa yang bisa dia lakukan — tidak tahu.

Meski begitu Godou harus tetap tinggal dan menyaksikan saat-saat terakhir, perasaan ini sangat nyata.

"Kamu sangat ... idiot sungguhan?"

"Aku benar-benar tidak bisa menyangkal itu. Saat kamu mengatakan hal seperti itu, aku hanya bisa menerima semuanya."

Dihadapkan dengan nasihat dari penyihir dan ksatria perempuan, Godou menjawab dengan pelan.

Erica menatap langit seakan dia sudah menyerah, mendesah sebentar.

"Idiot, juga idiot tulen, sangat bodoh sehingga kamu adalah orang idiot yang putus asa."

"Baik ... Jika itu membuatmu senang, katakan apapun sesukamu, aku tidak ingin berdebat lagi."

Tidak dapat membangunkan Godou dari kebodohannya, Erica tersenyum. Itu bukan senyum ejekan atau belas kasihan, tapi sepertinya kebanyakan membawa perasaan menyerah.

"Tapi di tengah semua kebodohan itu, ada sedikit kelucuan ... aku akan bertanya sekali lagi, apakah kamu akan mengubah keputusanmu?"

"Tidak, aku berutang budi padanya, jadi aku tidak bisa memilih untuk lari."

"... Berutang budi? Kalau begitu, ya sudah."

Dengan beberapa obrolan, Erica sudah sadar.

Godou merasa sangat terkejut dan bahagia pada saat bersamaan. Akhirnya mampu mencapai saling pengertian dengan gadis ini, dia pasti tidak akan pernah mengharapkan ini terjadi saat pertama kali mereka bertemu.

"Meninggalkan segalanya pada 'ya sudah,' itu benar-benar menjengkelkan bagi kita manusia yang lemah. Terserah, kita harus memberi para dewa kesulitan untuk menderita."

Mengatakan itu, Erica terdiam beberapa saat, tenggelam dalam benaknya.

Lalu dia menatap wajah Godou dengan serius dan berkata:

"Kita mungkin lupa, tapi [Jilid Rahasia Prometheus] telah tersimpan di dalamnya kekuatan dewata Verethragna — kemampuan inkarnasi [Kuda Putih], kan?"

"Ah ya. Kurasa begitu. Meskipun itu kekuatan yang berhubungan dengan matahari, mengapa itu kuda?"

"Aku akan menjelaskannya nanti. Dengarkan aku baik-baik? Ketika kamu menuju Verethragna, jika kamu merasa ini ujungnya, jangan ragu, gunakan saja kekuatan ini secepat mungkin."

Mendengar saran Erica, Godou mendadak menatap dengan mata terbuka lebar.

Bukankah ini langkah yang Lucretia peringatkan 'jangan pernah menggunakannya.'

"Kalau aku melakukan itu, aku pasti akan mati. Bukankah Lucretia-san memperingatkan kita?"

"Kalau ini terus berlanjut, kita semua akan mati. Tapi kalau kamu mencobanya, mungkin itu akan menjadi pembalikan besar. Kamu tahu aturan untuk promosi di catur, kan?"

Godou memiringkan kepalanya dengan bingung, tidak tahu apa yang Erica sedang pertimbangkan.

Itu adalah sesuatu seperti aturan yang memungkinkan pion mencapai barisan jauh di sisi berlawanan untuk ditukar dengan ratu atau kuda. Dalam catur Jepang, ada konsep serupa di mana bidak dapat dipromosikan di tiga baris wilayah lawan.

"Sayangnya, tidak semuanya bisa berjalan lancar ... Kesempatanmu mati sangat tinggi, tapi jika berhasil, hadiahnya sangat besar. Dibandingkan dengan pengorbanan biasa, ada harga dalam upaya ini."

Dia menunjukkan senyum yang paling lembut.

Seperti kuncup bunga kecil dari Cedar Merah Australia, senyum seperti seorang putri bangsawan. Gadis ini benar-benar bisa tersenyum seperti itu, betapa tidak disangka, Godou merasa dia tidak bisa mengalihkan tatapannya.

"Kusanagi Godou, kamu adalah orang yang sangat bodoh, tetapi justru kebodohan inilah yang telah mengantarkanmu ke sini. Itu kebenarannya. Jadi mengapa kamu tidak bergabung dengan barisan orang yang paling bodoh, dan juga orang-orang terhebat di dunia. Aku tidak akan memintamu untuk mengumpulkan keberanianmu, sebaliknya, tetap bertahan dengan kebodohanmu sampai akhir — paham?"

"Ya, aku hampir mengerti ... Tapi dipanggil idiot atau bodoh olehmu selama ini, entah kenapa terasa rumit."

"Ah, aku memujimu. 'Idiot' itu julukan yang paling mesra — bukankah kamu merasakan itu? Sungguh payah."

"Aku sungguh tidak bisa merasakan itu. Aku belum pernah mendengar tentang 'idiot' yang membawa makna yang begitu dalam."

Dihadapkan dengan godou yang menyerah, Erica tertawa.

"Sebenarnya aku baru menyadari sesuatu, 'anak haram Epimetheus,' nama lain untuk Campione yang kujelaskan sebelumnya. Tapi deskripsi ini memiliki makna tersembunyi yang aneh."

"Epimetheus. Dewa lain dari mitologi Yunani? Itulah perasaan yang kudapatkan dari namanya."

"Ya, kamu benar. Kalau kita punya kesempatan untuk bertemu lagi, aku pasti akan menjelaskannya padamu. Jadi jangan ragu dan lakukanlah, Godou, ambil jalan yang bahkan tidak bisa dilewati orang berani dan pintar. Satu-satunya yang mampu berjalan adalah orang-orang bodoh, aku percaya kamu memiliki kecenderungan itu."

"... Aku tidak benar-benar mengerti, tapi aku mendapatkan pesannya. Terima kasih sudah menjagaku. Terima kasih."

Godou mengungkapkan rasa terima kasihnya atas makna mendalam atas kata-katanya.

Sebenarnya, ada alasan tambahan untuk mendekati sisi Verethragna.

Jika dia meninggalkan gadis cantik nan kuat yang ditutupi dengan duri seperti mawar ini, dan melarikan diri sendirian, Kusanagi Godou tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri selama sisa hidupnya.

Sebaliknya, ia lebih suka melakukan konfrontasi melawan dewa.

Untuk meninggalkan seorang gadis yang membutuhkan, tidak ada tempat yang sama baiknya dengan menyerahkan tubuhnya untuk melindungi gadis itu.

Walaupun dia telah membuat keputusan dalam hatinya, tapi—

Dia tidak mungkin bisa berbicara seperti itu. Jika dia mengatakannya, Erica Blandelli yang sombong pasti akan bertarung sampai saat terakhir biarpun itu berarti mematahkan kakinya sendiri.

"Benar, tunggu sebentar, Godou. Bungkukkan badan dan dekatkan telingamu."

Apakah Erica akan memberiku saran baru?

Ketenangannya yang elegan tadi, telah menjadi sedikit malu-malu — apakah itu sesuatu yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata?

Dan itu harus dibisikkan?

Bingung, Godou melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Perlahan-lahan bergerak ke arah Erica yang tidak bisa berdiri dari rasa sakit di kakinya, dia membawa telinganya ke bibir Erica.

Dalam kondisi seperti itu, dia masih tampak ragu-ragu.

"Apa, bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu?"

"Ya, baiklah ... aku sudah mengatakan apa yang kumau tadi ..."

"Lalu mengapa aku harus begini?"

"Benar, diam saja! Aku hanya ingin memberimu hadiah yang luar biasa!"

Serangan tak terduga datang tepat pada saat itu.

Setelah beberapa saat ragu-ragu, seolah tiba-tiba membuat keputusan, dia menekan bibirnya, warna bunga sakura, dekat pipi Godou, dan mengecupnya.

Cup...

Sensasi lembut dan ringan tengah dikirim.

Pikiran Godou tiba-tiba menjadi kosong.

Sentuhan yang sangat kecil dan ringan, tapi kejutannya luar biasa hebat! Apa yang gadis ini lakukan!

"K-Kamu, kenapa kamu melakukan itu? Apa itu tadi!?"

"D-Diam! Terkejut dengan sesuatu seperti ini! Hanya saja ... Benar, itu hanya jimat keberuntungan! Ini memang terburu-buru, tapi aku percaya ini adalah yang paling berguna!"

Malu, pipi Erica memerah.

"Satu-satunya laki-laki yang pernah aku kecup sampai sekarang, adalah paman dan ayahku! Jadi itu pasti akan sangat efektif! Tunjukkan aku rasa terima kasih!"

Pipi Godou — tidak, seluruh wajahnya terasa panas.

Wajahnya sendiri mungkin merah juga, itu tidak bisa dihindari. Harinya tiba ketika seorang gadis cantik mengecupnya seperti ini, dia tidak pernah memimpikan hal itu.

Itu sudah mustahil untuk melihat wajah Erica dengan benar.

Dia membalikkan tubuhnya dengan panik, dan Godou bergegas maju menuju dewa yang dulunya adalah temannya.


Nuraghe sa Bastia. Di pintu masuk yang tertutup rapat yang dibuat oleh Melqart.

Mengiris menjadi dua bagian, Pengejar dan Pengusir tertanam rusak di tanah, sementara api biru Prometheus sudah mati di beberapa titik.

Verethragna menarik napas panjang, pedang emasnya tidak lagi di tangannya.

Dia kini dalam kondisi di mana tubuhnya dipenuhi luka.

Dalam keadaan ini, itu adalah konfrontasi langsung terakhirnya dengan Godou yang memegang [Jilid Rahasia Prometheus].

"BOcah, aku harus mengatakan bahwa engkau melakukannya dengan baik. Tapi seperti yang engkau lihat, aku telah mengalahkan senjata Raja Melqart, apimu telah lenyap, dan satu-satunya hal yang menarik perhatianku adalah batu mistik Prometheus. Cepat, berikan itu padaku."

"Mana mungkin, kecuali kau setuju untuk meninggalkan pulau ini. Ini adalah kartu truf terakhir dari manusia, aku tidak bisa dengan santainya melepaskannya demi diriku sendiri."

Godou menahan tangan yang diulurkan oleh Verethragna.

Desakan Godou membuat pemuda itu mendesah dengan jelas.

"Sia-sia. Sampai aku, dewa perang, akan dipaksa untuk menggunakan kekuatan dewata melawan anak manusia sebagai lawan, sungguh membuang waktu!"

Bergumam, Verethragna perlahan mendekat.

Langkahnya berat, seolah-olah sangat lelah.

Jadi tindakannya selanjutnya terjadi tepat seperti yang Godou prediksi. Dewa dalam bentuk pemuda mendadak menendang ke tanah.

Tanpa kekuatan dewata, gerakan apa yang akan dia buat? Dia hanya bisa bergantung pada tubuhnya. Dalam sekejap Godou menyadari itu, dampaknya datang.

Dipukul oleh tendangan berputar Verethragna, Godou terhempas.

Tetap saja, itu bukan kepalanya. Menghindari serangan langsung itu berkat pandangan dinamisnya yang terlatih baik. Dia juga memegang [Jilid Rahasia Prometheus] dengan seluruh kekuatannya, jadi dia tidak melepaskannya.

"Sampai sini, bukankah kau akan menggunakan kemampuanmu yang sebenarnya terhadap seseorang seperti aku? Kau masih menganggap enteng kompetisi."

"Ini bukan kompetisi, hanya hukuman untuk manusia bodoh yang tak tahu tempatnya."

Benar, biarpun itu adalah kompetisi seni bela diri atau olahraga, Godou tidak punya peluang untuk menang.

Walau dia dirugikan, Godou tidak bisa membiarkan dirinya dipandang rendah.

"Erica sudah memberitahuku, dewa macam apa Verethragna — dewa yang berubah sepanjang waktu, dan bisa mendapatkan kemenangan apapun medan perangnya, kan? Awalnya dewa pangkat prajurit dari klan kerajaan, dan dengan meningkatnya popularitas menjadi disembah dan dihormati, akhirnya menjadi dewa pelindung rakyat dan keadilan, kan?"

"Benar, itulah asalku!"

Kali ini tendangan ke depan yang menyerang Godou.

Walau tidak menyerang tempat yang fatal, serangan Verethragna sangat ganas.

Merasakan dampak yang terasa seperti kecelakaan mobil, Godou terhempas lagi, dan jatuh ke tanah, kesadarannya buram sejenak.

"Jelas sekali, dewa agung, tapi bermain-main dengan bocah sepertiku, bukankah itu aneh? Ketika aku bertemu denganmu di dermaga, tidak seperti itu ya? Lebih mirip dengan matahari, layak dikagumi — seperti yang kau gambarkan. Benar, seperti seorang pahlawan!"

"Jangan katakan lagi, ini adalah hal-hal yang terjadi ketika aku telah melupakan sifatku sebagai [Dewa Sesat]. Awalnya dalam mitos, aku adalah putra dari matahari, pahlawan yang menjaga cahaya."

Kali ini adalah serangan telapak tangan, lalu pukulan, diikuti oleh chop karate.

Serangan cepat yang membuat penghindaran dan pertahanan tidak berguna, Godou dihajar seperti karung pasir, terlempar seperti bola.

Tubuhnya terasa sakit, terasa seperti panas terik, dan ada memar yang parah di mana-mana, bahkan mungkin patah tulang.

Kesadarannya semakin kabur, dan yang lebih penting, seluruh tubuhnya sakit.

"Tapi, semuanya sudah berlalu dan hilang. Nostalgia takkan pernah mengembalikan masa lalu."

Verethragna meninggalkan kata-kata itu.

Namun Godou tidak setuju, bahkan mempertimbangkan situasi saat ini, tangan kanannya terus memegang [Jilid Rahasia Prometheus]. Ini adalah hasil cengkeraman dan tekad pemukul keempat.

"Kenapa kau memberikan tablet batu ini kembali padaku? Kedua kalinya kita bertemu, kenapa kau membiarkan aku menyimpannya? Bukankah lebih baik dihancurkan saja?"

Adegan di Dorgali selama waktu itu. Bukankah si pemuda mengatakan itu?

Ketika saatnya tiba, dia harus menggunakan ini untuk dunia.

Itu mungkin adalah perpisahan seumur hidup.

Dengan kata lain, orang itu sudah tahu, jika inkarnasi terpisah dari Verethragna, hewan-hewan dewata dikalahkan, dia akan kembali menjadi [Verethragna Sesat] di masa depan.

— Yang mengapa Godou berutang budi padanya.

Pemuda di Cagliari telah membuat Godou dan orang-orang muda di dermaga terlibat bersama, dan bermain dengan gembira.

Pemuda di Dorgali telah menggunakan [Jilid Rahsia Prometheus] untuk mengalahkan [Kambing], tapi tidak berharap harus melawan [Burung Pemangsa] begitu cepat.

Dia mengalahkan hewan dewata yang telah lahir dari inkarnasinya, dan merebut kembali kekuatannya sebagai dewa.

Pada saat yang sama mengambil identitasnya sebagai [Dewa Sesat], nama dewata Verethragna yang seharusnya disegel, serta karakteristik melawan mitos dan menahan penghinaan terhadap manusia.

Menanggapi keinginan Godou, dia mengalahkan inkarnasinya yang terpisah.

Karena itu, pemuda itu tidak ada lagi.

Pemuda yang ditemuinya di Cagliari, kemudian bertemu lagi di Dorgali, tidak ada lagi, dan sekarang, di hadapan mata Godou hanyalah dewa pemuda bernama Verethragna.

Mengetahui ini akan terjadi, Godou tidak akan pergi bertarung ketika mereka bertemu untuk kedua kalinya.

Dan sekarang dia mengerti dengan baik, itu karena keinginan Kusanagi Godou, dia tidak punya pilihan selain kembali ke bentuk asli yang tidak diinginkan, dan sangat hati-hati, menyelamatkan Godou adalah kartu truf yang bisa menyebabkan dia kesakitan.

Jika ini bukan bantuan, lantas apa?

Oleh karena itu Godou tidak punya pilihan selain mencoba menghentikan Verethragna dengan segala cara, dia harus dihentikan!

"Seperti yang engkau gambarkan, itu benar-benar kesalahanku. Hohoho, mengapa aku melakukan hal seperti itu ... aku tidak ingat."

"Benarkah? Kau benar-benar tidak ingat?"

Tubuhnya ditutupi dengan luka, Godou tergeletak di tanah selagi bertanya pada sang dewa.

Sekarang dia pun mengerti. Apa yang benar-benar orang itu harapkan pada Kusanagi Godou dan harapkan darinya. Wajah tampan dari dewa pemuda memandang rendah manusia dari atas, sekarang sedikit mirip dengan orang sebelumnya.

"... Hmm. Aku benar-benar tidak dapat mengingatnya, bocah, maafkanlah aku."

"Siapa yang akan memaafkanmu? Sungguh dewa pelupa, aku akan mengeluh tentangmu atas nama umat manusia."

Tatapannya bertemu dengan pemuda itu.

Pemuda manusia memelototi mata yang tenang dari [Dewa Sesat] yang telah kehilangan dirinya sendiri.

Serangan telah berhenti, Godou memaksa tubuhnya yang babak belur, dan akhirnya berdiri.

—Hmph.

Sambil mendesah sedikit, Verethragna tersenyum dengan damai.

"Hoho, engkau bukan orang jahat. Jika takdir membawamu menemui dewa, mungkin engkau akan hidup damai. Betapa malang bagimu, bocah."

"Ya itu benar. Semua orang yang kutemui di pulau ini adalah orang aneh. Tapi, aku tidak merasa diriku malang."

"Ha, walau pendapat kita berbeda, bahkan dari sudut pandangmu, apakah itu tidak terlalu dibuat-buat?"

Verethragna dan Kusanagi Godou.

Sama seperti saat mereka bertemu hari pertama di pelabuhan Cagliari, keduanya mengobrol.

Hanya empat hari telah berlalu, tapi siapa yang bisa menduga dalam waktu singkat, situasi di antara mereka berdua akan mengalami perubahan drastis.

"Walau aneh, semua orang sangat menarik. Jenius yang angkuh dan manja, yang sifat aslinya ternyata adalah seorang penyihir yang sangat lembut; dan kemudian ada wanita tua malas yang bersikeras terlihat seperti anak muda."

"Oh?"

"Masih ada lagi. Dewa amnesia dan terlalu percaya diri, saat ini orang ini menyebabkan masalah bagi orang lain, tapi tetap saja aku tidak membencinya."

"Hidupmu sudah ada di tangan dewa, tapi engkau masih membuat lelucon. Sungguh tidak sopan!"

"Kalau kau ingin aku menghormatimu, maka bertindaklah sedikit lebih seperti dewa. Bukankah itu sederhana?"

Itu bukan lagi kontes menatap.

Mata sang dewa dan manusia hanya saling menatap selama sekitar sepuluh detik.

Yang pertama mengalihkan pandangannya adalah Verethragna.

"Bila sudah mustahil. Aku telah kembali ke diri sesatku. Dalam keadaanku saat ini, hanya bertemu dengan kekalahan dan mendapatkan kehidupan baru, aku akan kembali ke jalan sejati para dewa. Jadi, berapa banyak waktu yang akan dibutuhkan engkau?"

Menunjukkan senyum seperti awan kemerahan di pagi hari, pemuda itu mengulurkan tangannya.

Di dalamnya ada percikan kecil, seperti tanda-tanda awal petir.

Arah yang dituju oleh tangan ini, adalah pemuda yang pernah dia temui bersama.

"Yang kau butuhkan adalah kekalahan? Lalu, biarkan aku memberikannya padamu."

Tangan Godou yang gemetar mengangkat [Jilid Rahasia Prometheus] dan mengarahkannya pada sang dewa perang.

Menanggapi kehendak si pengguna, tablet batu memanas secara bertahap.

"Hentikan, bocah, manusia yang menggunakan kekuatan dewa akan melebihi batasnya, engkau berencana menggunakan kekuatan dewata [Kuda Putih] milikku? Bila begitu, engkau tetap akan mati. Serahkan dengan patuh. Aku akan menyelamatkan hidupmu bila engkau patuh."

"Terlalu menyebalkan, untuk diperintah oleh dewa yang membawa begitu banyak masalah bagi umat manusia, bagaimana aku bisa melakukan apa yang diperintahkan!"

"Bodoh! Bila engkau menyerangku dalam kondisi ini, paling-paling engkau akan mencapai kekalahan bersama. Engkau sadar?"

"Mungkin tidak — Erica, orang yang lebih pintar dariku berkata, ini bisa berakhir dengan hasil yang sempurna — jadi aku akan mengambil spekulasi, meskipun aku tidak tahu tentang logika, jika ada peluang untuk sukses, aku akan mempertaruhkan segalanya pada pertaruhan ini!"

"Pada akhirnya umur manusia itu pendek, siapa duga engkau akan membuat seperti pertaruhan bodoh. Engkau memang bocah merepotkan!"

"... Namaku Kusanagi Godou. Ingat baik-baik."

"Apa?"

"Kita sudah melakukan banyak hal bersama, ayolah, seharusnya kau mengingat namaku. Sama seperti Erica, kau mengabaikannya? Dasar cowok kasar."

Kedua pemuda itu saling menatap sekali lagi.

Melihat ke bawah dari atas, dewa pemuda itu tersenyum.

Pemuda manusia yang ditolak itu menyatakan penyesalan karena keengganannya untuk menerima sesuatu. Detik berikutnya, dari tangan muncul petir, sementara api putih muncul dari tablet batu.

Kekalahan timbal balik. Serangan-serangan yang dilepaskan oleh kedua pemuda itu, mencapai kekalahan yang sama.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar