Unlimited Project Works

19 November, 2018

Campione v4 3-3

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 3

Godou dan Liliana kembali ke permukaan tanah dari atap.

Bangunan bertingkat tinggi biasanya agak jarang di kota-kota Eropa, tapi metropolis Italia ini adalah pengecualian, ada beberapa bangunan bertingkat di sekitarnya.

Kota di malam hari di depan mereka, memang hidup.

Meski sudah larut, masih banyak toko yang masih beroperasi, restoran, hotel, pub, misalnya, bahkan butik dan toko kelontong belum ditutup.

Ada banyak orang yang bolak-balik. Laki-laki dan perempuan muda sangat menonjol dalam kerumunan ...

"Mungkinkah area ini adalah tempat kencan malam yang populer?"

"Iya. Distrik Santa Lucia, bahkan di malam hari, adalah salah satu area yang lebih aman di Naples."

Godou sepenuhnya setuju atas jawaban Liliana.

Baru saja tiba dari pedesaan Sardinia, pemandangan di sini terasa memesona.

"... Bagaimanapun, aku tidak menduga kalau Liliana-san bisa terbang."

Mengingat bagaimana mereka telah melarikan diri, dia berkata dengan sungguh-sungguh.

Dia pernah bertanya pada Erica sebelumnya apakah dia bisa menggunakan sihir untuk terbang, tapi dia menjawab dengan 'Tidak kalau itu aku', mendesah.

Sihir yang jenius itu tidak bisa gunakan, tapi Liliana bisa — Godou merasa sedikit terkejut.

"Ini adalah kehormatanku untuk melayanimu. Mantra terbang adalah seni rahasia dari kami, tidakkah kamu pernah mendengar itu sebelumnya? Dari kisah-kisah yang disebutkan penyihir beterbangan di langit menggunakan sapu?"

Sepertinya Liliana agak bangga, tapi perhatian Godou adalah pada kontradiksi yang dia sadari.

"Eh? Erica adalah penyihir juga, tapi dia memberitahuku bahwa dia tidak bisa terbang?"

"Sebenarnya, dia bukan penyihir—witch—, melainkan mage wanita. Seorang penyihir harus memiliki sifat seorang miko, untuk dapat menerima seni dari penyihir yang diberikan ... Tapi, hanya berdasarkan kemampuannya, dia juga bisa disebut [Penyihir]."

Kalau dipikir-pikir, selama kekacauan di bulan Juni, mereka telah memperkenalkan Liliana sebagai penyihir yang memiliki sifat seorang miko.

Aku mengerti, jadi itu memiliki arti seperti itu.

Bagaimanapun, berkat Liliana-lah bahwa mereka bisa lari dari situasi itu, Godou berbalik dan menundukkan kepalanya.

"Bagaimanapun, terima kasih. Jika bukan karena bantuanmu ... siapa tahu bagaimana itu akan berubah."

"Untuk membantu Raja adalah tugas ksatria, tidak ada yang kulakukan adalah layak untuk pujianmu ... Tapi, mengapa kamu tidak bisa bertarung di tempat itu?"

Untuk ksatria yang tidak tahu statusnya saat ini, Godou ingin merengek tentang masalahnya.

Tampaknya dia harus melakukan penjelasan tentang otoritas Verethragna, dan saat dia memutuskan ...

"Liliana-sama, Anda ada di sini! Apakah situasi berubah menjadi buruk seperti yang kita prediksi!?"

Dari kerumunan, muncul seorang gadis muda yang pendek.

Dia tampaknya mirip dengan Shizuka dalam hal usia, mengenakan seragam maid setengah lengan yang cocok dengan dirinya, dan tampaknya seseorang yang dikenal Liliana. Saat dia datang, dia melemparkan Godou tatapan curiga.

"Ah, maaf soal itu, membuatmu mencari aku."

Liliana menghadapi maid muda yang muncul tiba-tiba dengan tenang.

Godou mendadak memikirkan seni sihir yang bisa menramal lokasi orang-orang. Jika memiliki objek yang menjadi sasaran, sesuatu seperti sehelai rambut, selama mereka berada di kota yang sama, kamu bisa dengan kasar mengatakan lokasi mereka saat ini.

Erica kadang-kadang menggunakan mantra semacam ini, gadis muda itu pasti telah melakukan hal serupa.

"Karen, kamu mesti tahu siapa dia, bukan? Campione Jepang — Kusanagi Godou-sama. Ingat sopan santunmu. Kusanagi Godou, ini pelayanku, Karen Jankulovski."

Liliana memperkenalkan mereka satu sama lain.

Dari nama keluarganya yang susah diucapkan bagi orang Jepang, ia tampaknya berasal dari garis keturunan Eropa Timur.

"...Kusanagi Godou-sama? Liliana-sama, bukankah Anda bersama dengan Sir Salvatore sebelumnya, apakah terjadi sesuatu?"

"Yah, banyak hal yang telah terjadi. Banyak hal yang membuatku pusing setiap kali memikirkannya."

"Dengan Sir Salvatore, maksudmu Doni? Eh, apakah orang itu juga datang ke Naples?"

Segala sesuatunya tampak lebih rumit daripada yang dia pikirkan.

Saat ia menuju ke persembunyian [Salib Perunggu Hitam], Godou mendengarkan laporan mereka soal situasi saat ini di Naples.

... Benar saja, Salvatore Doni adalah seorang idiot yang khusus menjadi gangguan bagi orang lain.

Usai mendengar soal peristiwa yang telah terjadi di Naples dan membuat kesimpulan, Godou memerhatikan bahwa orang yang telah mengendalikan langkahnya dan mengikuti mereka terus-menerus — gadis muda dalam seragam maid — menyeringai tinggi.

"Mm, itu sudah berubah menjadi krisis ... Tapi, tak disangka, Liliana-sama adalah seseorang yang tidak boleh diremehkan. Saat Sir Salvatore pergi, dia membawa seorang [Raja] lagi — tidak, tumbuh intim dengannya. Apakah Anda berencana untuk memanfaatkan ketidakhadiran Erica-sama?"

"K-Karen! Jangan berspekulasi soal hal-hal aneh begitu!"

Aah, gadis ini juga setan, pikir Godou, bersimpati pada Liliana.

Dari sang maid, senyum Karen, bayangan setan bisa dilihat. Itu adalah senyum yang imut, namun Godou mendapati dirinya tidak bisa memujinya. Itu, dengan cara yang berbeda, kepribadian setan seperti Erica.

"P-Pokoknya, kita harus segera datang dengan rencana balasan untuk Dewa Perseus. Kusanagi Godou, apa otoritasmu memiliki semacam kondisi aktivasi? Kekuatan [Pedang] — kemampuan yang kamu gunakan melawan Marquis Voban di Tokyo — apa yang diperlukan untuk menggunakannya?"

Liliana mengubah topiknya secara paksa.

"Untuk menggunakannya, aku harus memiliki pengetahuan yang layak soal sifat dan aspek kedewataan musuh. Masalahnya adalah, aku benar-benar tidak berpengetahuan soal rincian dalam mitologi."

Tentu saja, dia masih tahu kisah Perseus.

Godou melihat tangan kanannya. Tidak, [Pedang] belum bisa dirasakan, maka pengetahuan segitu belum cukup.

"Tapi, jika aku mengingatnya dengan benar, kamu seharusnya menggunakan [Pedang] beberapa kali, bagaimana kamu memenuhi kondisi itu?"

"Erica menggunakan sihir untuk menyampaikan semua pengetahuan padaku, mantra itu bernama [Intruksi]."

"Maka itu sederhana, aku juga, memiliki kemampuan untuk menggunakan mantra itu. Di tempat Erica, biarkan aku, Liliana Kranjcar, selesaikan tugas!"

"Tidak, soal itu, mustahil ... kamu tahu, sihir memiliki sedikit efek pada kami Campione."

Ini buruk. Godou mulai bingung.

Jika ini terus berlanjut, dia harus menjelaskan bagaimana Erica telah melakukannya, dia tidak mungkin melakukan itu!

"... Ada celah dalam kata-kata Kusanagi Godou-sama. Kami sudah tahu bahwa sihir tidak berpengaruh pada Campione, jadi bagaimana tepatnya dia bisa menggunakan mantra [Instruksi]?"

Seperti yang diduga, Karen menyela.

Liliana juga menunggu jawaban Godou dengan antisipasi, apakah dia benar-benar harus mengucapkannya? Ini seperti permainan penalti itu.

"Erm, soal itu, dengan kata lain ... sihir dari sumber eksternal tidak punya pengaruh, tapi lain cerita jika dari dalam, sesuatu sepanjang 'penyisipan mulut', tapi dengan sihir?"

"Lisan ... dari dalam ... ah, aku mengerti. Begitu rupanya."

Liliana menoleh ke samping, sementara Karen menyembunyikan tawanya.

Gadis ini benar-benar setan, dia telah melihatnya dari awal, dan mengubah situasi menjadi sumber hiburan baginya.

Mengabaikan kesengsaraan Godou, majikannya berbalik ke arah maid-nya.

"Ada apa, Karen? Aku tidak punya petunjuk."

"Fufu, seperti yang diharapkan dari Liliana-sama, betapa lugunya ... Ini persis apa yang dia katakan, penyisipan oral. Dengan kata lain, mulut ke mulut. Ciuman penuh gairah antara seorang pria dan seorang wanita. Apakah Anda lupa, bahwa legenda seorang gadis yang menawarkan tubuhnya kepada raja iblis Campione untuk menyegel sihir penyegel?"

"... Mulut ke mulut? Ciuman penuh gairah?"

Liliana mengulangi dengan pelan, dan tersipu merah tua.

"Aku, aku mengerti. Lalu, waktu itu di Tokyo, di depanku, dengan Erica — t-tindakan itu punya makna lain!?"

"Ah, tunggu, apa? ... Yah, begitulah."

Sebenarnya, itu hanya Erica yang bermain-main, tapi dia tidak perlu tahu itu.

Karena memalukan untuk mengatakannya dengan keras, Godou hanya mengangguk dengan ambigu. Jawabannya tampaknya menyebabkan Liliana menyadari banyak hal yang memasuki kepalanya, dan dia sedikit gemetar.

"Waktu itu — kamu bahkan tidak sedikitpun cemas bahwa kami ada di dekatmu, didorong oleh hasrat dan doronganmu, seolah-olah kamu sendirian dengan kekasihmu, dengan suara biola sebagai latar belakang, untuk saling berpegangan kuat, waktu itu, adalah itu!"

Tolong jangan gunakan ekspresi semacam itu untuk menggambarkannya, meski batinnya benar-benar ingin mengatakannya, dia menahan dorongan itu.

"Meskipun aku sudah berpikir demikian, aku akan mengatakannya sekali lagi! Kamu terlalu tidak tahu malu! Untuk terlibat dalam tindakan itu tepat di depanku, adegan ciuman penuh gairah itu!"

Merasa sangat menyesal, Godou telah keliru tentangnya, Godou pikir Liliana telah berempati padanya.

"M-Maaf ... Karena hal semacam itu, kita tak bisa melakukannya waktu ini. Paham?"

"Y-Ya. Aku paham. Selama Erica tidak ada di sini, kita tidak punya cara menggunakan mantra itu untukmu."

"Kenapa tidak bisa? Kupikir ini adalah solusi yang sangat mudah untuk masalah kita."

Dan tentu saja, orang yang menyela sekali lagi adalah Karen.

Dengan itu, dia menyentuh topik yang raja dan majikan coba hindari.

"Liliana-sama hanya harus melakukan mulut ke mulut pada Kusanagi-sama, tak ada masalah dengan itu, kan?"

"Tidak, ada masalah! Bagiku dan Liliana-san melakukan itu, akan sangat buruk!"

"I, itu benar. Sebagai gadis murni dan suci, mana mungkin aku melakukan itu!"

Godou dan Liliana membalasnya bersamaan.

Namun, Karen, seperti anak yang keras kepala, terus berlanjut.

"Sekarang adalah saat krisis ketika [Dewa Sesat] telah turun. Kalian berdua, sebagai Campione dan sebagai ksatria, tolong jangan meremehkan kerasnya situasi. Tentu, itu adalah hal yang mengerikan untuk menginjak-injak kemurnian seorang gadis, tapi bencana yang akan disebabkan oleh dewa bahkan lebih tak termaafkan — Nah, nah, karena itu Liliana-sama, tolong cium!"

Gadis ini, seperti yang kuduga, sepenuhnya menikmati diri sendiri!

Godou sangat yakin akan hal itu, sementara Karen membuat saran dengan wajah serius, tapi di dalam, dia mesti terkikik melihat wajah majikannya yang bermasalah.

Namun, saran si setan kecil adalah pilihan yang tepat—

Godou melirik ke wajah Liliana.

Panik, bermasalah, dan sedikit marah, tapi gadis berambut perak itu pasti tahu kebenaran kata-kata itu. Dia mesti mengambil keputusan. Itu jelas bahwa tekadnya goyah, dan ekspresinya melemah.

—Godou tiba-tiba merasakan aliran kekuatan melalui tubuhnya.

Sebuah indikator bahwa [Dewa Sesat] sudah dekat, dia buru-buru memeriksa sekelilingnya, dan kemudian segera menyadari.

Dari arah laut, pada kuda putih murni dengan sayap besar menyebar lebar dari punggungnya, ditunggangi pahlawan cantik nan berani.

"Kalau dipikir-pikir, Perseus juga mampu terbang."

Pegasus, kuda langit.

Legenda mengatakan seekor hewan dewata yang dapat terbang melintasi langit, lahir dari darah Medusa, serta sandal yang dapat membuat pemakainya terbang ... Godou ingat tentang mitos Yunani Perseus.

Bagaimanapun, ini adalah pemandangan yang cukup spektakuler. Itu terlalu mencolok.

Tempat mereka saat ini adalah sebuah plaza terbuka yang agak lebar.

Banyak pria dan wanita suka bermain-main di sekitar daerah ini karena kios-kios makanan ringan dan minuman yang terkonsentrasi di sekitar area tersebut.

Di langit yang diterangi oleh cahaya terang dari jalanan, Pegasus putih bersih mendekat dengan anggun.

Pria tampan yang memegang kendali menyisihkan pedangnya di pinggangnya, lalu di tangannya muncul sebuah busur kayu yang dibuat dengan mahir, sebuah tempat panah di punggungnya, jubah putihnya berkibar karena angin. Penampilan yang sangat mencolok.

"Hahaha! Di sana kau rupanya, pembunuh dewa, aku sudah mencarimu beberapa saat!"

Suara gembira Perseus bisa didengar.

Orang-orang di jalanan, mengangkat kepala mereka dan melihat manusia dan kuda terbang, mulai berteriak, menyebabkan kegemparan.

Menyaksikan sosok sang pahlawan mendekat melalui khaos dan kekacauan yang berlangsung, Godou menjadi sangat gugup.

"Liliana-san, apa menurutmu kita bisa kabur dari Pegasus dengan apa yang kamu gunakan sebelumnya!?"

".... Sejujurnya, menurutku itu akan sulit. Kalau kita mengandalkan hewan suci dari legenda untuk lebih lambat dari sihir kita, itu terlalu optimis terhadap kita."

Jawaban yang sudah diharapkan.

Godou menyiapkan dirinya sendiri, karena tidak ada gunanya mencoba kabur.

Dengan tidak ada tempat untuk mundur, maka hanya ada satu pilihan — Maju saja.

"Sepertinya tak ada jalan lain kecuali bertarung ... aku akan pergi sekarang. Mungkin itu jadi skenario terburuk, aku serahkan sisanya padamu. Bagaimanapun juga, si Doni bajingan itu seharusnya baik-baik saja, kalau begitu, temukan dia dan entah bagaimana membuatnya bertarung dengan Perseus!"

Meninggalkan Liliana dan Karen dengan kata-kata itu, Godou langsung menuju Perseus.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar