Unlimited Project Works

20 November, 2018

Campione v4 4-2

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 2

Kusanagi Godou menemukan dirinya di suatu tempat yang tidak dikenal.

Tempat ini antah berantah, tempat yang tidak ada di Bumi, atau kenyataan.

Ini dunia abu-abu. Warnanya abu-abu sejauh mata memandang.

Namun, ada sesuatu yang lain di dunia abu-abu ini.

"... Sampai bisa bertemu dengan benar seperti ini, sudah cukup lama."

Ada seorang gadis di depannya.

Dia terlihat sekitar lima belas tahun. Fitur yang proporsional. Sosok ramping. Jika seseorang membandingkannya dengan Lucretia Zola atau Erica Blandelli, orang mungkin mengatakan bahwa dia adalah tipe yang lebih 'ramping'.

Bagaimanapun, dia memikat.

Dia bisa digambarkan sebagai cantik, tetapi juga, dia memiliki wajah dan figur yang sangat manis bagai boneka. Rambut pinknya terbelah ke kiri dan kanan, dan mengenakan gaun putih tipis.

Dengan posturnya yang mungil, dia memberi kesan seorang anak kecil. Namun, sebaliknya, dia memberikan nuansa glamor [Lady], lebih dari gadis lain yang Godou kenal.

Mulanya Godou tak kenal siapa dia, tapi telah mengingatnya dalam sekejap. Tentu, dia ...

"... Pandora-san, apa aku benar?"

"Masih saja cara lama yang sama untuk menyapaku, eh — Walau tak masalah bila kau memanggilku 'Mama' ..."

Sikapnya yang sembrono membuatnya tampak seolah-olah dia telah memasang simbol berbentuk hati di akhir kalimatnya.

Memiliki DNA Jepang murni di tubuhnya, Godou tidak bisa menerima saran itu, jadi dia mengabaikannya untuk saat ini. Pertanyaannya mulai menumpuk.

Pasangan yang telah melahirkan raja iblis Campione, Epimetheus abadi dan istrinya, Pandora.

Dia yang terakhir, jelas.

"Setiap pertemuan kita tampak begitu nyata, walau aku tidak yakin, aku selalu lupa bahwa kita telah bertemu."


"Hmm, bicara dengan blak-blakan, mungkin levelmu belum cukup tinggi?"

Dengan kesungguhan seorang dewi (sementara), dia mengatakan itu.

"Dengan pemurnian jiwa yang berkesinambungan, lalu mencapai pencerahan, itu adalah level yang kau perlukan untuk mengingat hal-hal yang terjadi di ruangan ini. Mereka yang mampu mencapai keadaan itu, biasanya tidak menjadi pembunuh dewa, jadi kurasa itu mustahil."

"... Haa. Lalu, apakah ini batas antara hidup dan mati?"

Kenangan samar dan kabur melintas di benaknya. Itu pasti informasi yang diambil sebelumnya.

Mendengar pertanyaan Godou, Pandora mengangguk, tersenyum. Senyum yang lebar dan ceria, senyuman gadis normal yang bisa ditemukan di mana saja.

"Benar. Dunia ide, seperti kata bangsa Yunani kuno. Untuk bagnsa Persia, 'menog'. Karena kau sudah mati satu kali, hubunganmu dengan dunia nyata telah menjadi tipis, itulah mengapa kau ada di sini."

"Sebelum kematianku, aku seharusnya menggunakan kekuatan [Domba] ..."

"Itu benar, tubuh fisikmu sudah pulih dengan lancar. Sebenarnya, sebelum kau hidup kembali, kau sudah mati sekali, kau tahu. Apa kau tidak memerhatikan?"

"Mungkin. Tapi aku mulai meragukan itu yang terjadi ..."

Jika itu mungkin, Godou tidak pernah ingin mengingat informasi semacam itu, bergumam sendiri.

Begitukah? Apa aku akan bangkit setelah aku mati? Apa-apaan tubuh serampangan yang kumiliki.

"Bukankah itu tak masalah? Karena itulah kau bisa datang ke dunia ini dan bertemu denganku. Meskipun aku dapat terwujud di dunia fisik, sungguh merepotkan untuk kembali ke tempat ini .Yang membawa kita pada kelahiran para dewa! Aku tidak keluar kecuali situasinya seperti itu, baru-baru ini."

"Haa ... Lalu, apa acara spesialnya?"

Meskipun dia seperti itu, dia adalah pendukung Campione. Seorang pelindung.

Biasanya, dia tidak akan muncul tanpa alasan khusus.

"Aku memanggilmu untuk memberimu peringatan. Kau telah menemukan atribut dewata dari 《Baja》 , kan?"

"Baja ... Maksudmu Perseus?"

"Ya, itu. Pahlawan itu, dia adalah penjahat ... bukan, penipu, jadi berhati-hati di sekelilingnya! Bagaimanapun, karena kau adalah rival dengan orang-orang dari 《Baja》 , kalah dari mereka pastinya tabu!"

"Apakah peringatanmu hanya itu?"

Kalau kamu bisa menang hanya karena seseorang mengatakan kepadamu untuk tidak kalah, maka hidup tidak akan begitu penuh dengan kesulitan. Melihat Godou yang sedang menggaruk-garuk kepalanya, Pandora menggelengkan kepalanya.

"Tidak, bukan itu. Mengesampingkan dewa-dewa lain, karena kau lahir di ujung timur, aku secara khusus memberitahumu hal ini. Di pulau tempat Godō tinggal, tertidur《Baja》yang paling kuat, jadi kau harus berhati-hati, untuk sementara waktu. Paham?"

"Terkuat?"

"Ya, yang terkuat. Meskipun pahlawan yang kau lawan sekarang juga kuat, orang itu bahkan lebih kuat."

"... Kenapa orang seperti itu ada di Jepang?"

"Karena, itulah ujung timur — Di luar itu hanya terletak laut. Ada banyak hal yang telah disapu, menumpuk di sana ... barangkali tak masalah, mengingat itu sudah tidur begitu lama."

"Mengenai itu, bisakah kamu menjelaskan lebih lanjut?"

"Maaf, tidak bisa. Kami berdiri di sisi dewa, lagian, jadi aku tidak bisa memberitahumu lebih dari itu. Ini adalah perjanjian yang kami miliki dengan dunia ini, aturan yang harus kami patuhi sepenuhnya ... Selanjutnya, apa pun yang kukatakan di sini, tidak akan kau lupakan begitu kau kembali? Meskipun aku melakukan hal yang rumit, itu tidak akan ada gunanya."

"Setelah kamu menyebutkannya, benar juga ..."

Godou membalas dengan suara pelan. Bagaimanapun, kata-katanya tetap berada di alam ketidaksadaran ini.

Mungkin indra keenam dan naluri dari Campione yang Godou miliki, adalah informasi yang dia sampaikan dari dunia ini.

"Hati-hati. Orang itu, benar-benar vulgar, musuh wanita, tidak layak untuk gelar 'pahlawan'! bila akhirnya kau harus melawannya lagi, pastikan kau tidak akan kalah! Kau harus membuatnya meronta-ronta!"

Seperti dugaanku, ini bukan peringatan.

Ini lebih seperti ketika para senior yang berpikiran olahraga menekankan 'Pastikan kamu harus menang' pada junior mereka ketika bermain melawan sekolah saingan, misalnya. Pesan semacam itu disampaikan. Setelah perasaan itu disampaikan, Godou mendesah dalam-dalam, selagi kembali ke dunia nyata.

 

Godou yang bangun mengangkat bagian atas tubuhnya.

Dia di tempat tidur. Meski kamarnya kecil, itu tetap sangat bersih. Apa ini ruang tamu? Karena tidak banyak kebutuhan sehari-hari yang bisa dilihat, rasanya kamar ini jarang digunakan.

Di samping tempat tidur, ada seorang gadis yang familier. Padahal, itu bukan gadis cantik yang memiliki rambut emas kemerahan.

Dia sama cantiknya, ksatria berambut perak, seperti bidadari.

"J-Jam berapa sekarang?"

"S-Sekarang, hampir tengah hari."

"Lantas, di mana kita?"

"Ini adalah rumah Diana Milito. Temanku yang tinggal di Naples. Untuk menjagamu, aku meminjam kamar tamunya."

Liliana Kranjcar menjawab pertanyaan yang Godou tanyakan saat dia terbangun. Itu pasti sekitar jam satu, telah lewat tengah malam ketika dia dikalahkan oleh Perseus. Apa dia tidur selama setengah hari?

Aneh ... Godou memiringkan kepalanya.

Bentuk ketujuh Verethragna, [Domba]. Kekuatan ini memungkinkan dia untuk menghindari kema- tidak, membangkitkannya dari kematian. Tapi, karena itu tidak diaktifkan secara otomatis, itu akan menjadi tidak berarti jika dia terbunuh seketika.

Dan, dia akan berada dalam kondisi tidur untuk jangka waktu tertentu, sampai dia sepenuhnya pulih.

Namun, kali ini saat dia tidur adalah yang terpanjang sejauh ini, sepertinya dia memiliki ingatan memasuki dunia mimpi, mungkinkah karena itu? Walau begitu, sepertinya dia sudah terbiasa dengan kematian ...

Baginya, yang menerima siklus kematian dan kebangkitan secara alami, dia merasa agak kasihan pada diri sendiri.

"—Kusanagi Godou!"

Namanya tiba-tiba diteriaki.

Berbalik, dia bisa melihat tetesan besar air mata di mata Liliana, dan wajahnya kesusahan.

"A-Apakah tubuhmu masih sakit? Tadi malam, setelah dipukul oleh Perseus, bahkan napasmu berhenti, aku bahkan tidak tahu kapan kamu mulai menjadi lebih baik ..."

"Ah, maaf soal itu. Karena berbagai alasan, aku berhasil bertahan ..."

Begitu. Dari sudut seseorang yang tidak tahu alasan di baliknya, itu akan tampak seperti keajaiban.

Saat dia merenungkan hal ini, Godou memberikan penjelasan sederhana tentang kebangkitannya. Dia tidak yakin apakah dia telah mendengar detail dari kekuatannya yang tidak dapat diandalkan, tetapi air mata Liliana mulai turun.

... Dia menangis? Gadis gagah berani ini? Dengan perkembangan tak terduga seperti itu, Godou kembali ketakutan.

"K-Kalau kamu bisa membangkitkan dirimu sendiri, maka tolong beritahu kami lebih dulu sebelum kamu pergi dan mati ... Apakah kamu tahu betapa khawatirnya aku!"

"M-Maaf. Tidak ada waktu bagiku untuk menjelaskan."

Godou hanya bisa menundukkan kepala di wajah Liliana yang menangis dan marah. Dia telah kalah. Dia benar-benar tidak berpikir dia akan mulai menangis.

"Mengetahui cara mengatur waktumu juga merupakan bagian dari kemampuan seorang Raja! T-tapi, aku benar-benar lega. Bahwa kamu telah kembali dengan selamat ... Aku benar-benar menyesal. Itu karena kegagalanku, semuanya berubah seperti itu!"

Liliana yang sudah berhenti marah telah menangis dan meminta maaf.

Pendapatnya tentang Liliana berubah lagi, karena dia terlihat seperti boneka, dia berpikir bahwa Liliana bukan seseorang yang mengungkapkan emosinya. Kenyataannya, dia benar-benar seorang gadis yang emosional.

Dia benar-benar cemas dan marah, dan emosinya terlihat jelas di wajahnya.

"Yah, karena aku berhasil bertahan hidup, bukankah ini happy ending? ... Karena, kamu tidak benar-benar gagal. Itu karena aku terlalu lemah hingga kalah dari Perseus."

Mendengar Godou mengatakan itu, Liliana segera mengangkat wajahnya, yang basah dengan air mata.

"T-Tidak, bukan itu. Kekalahanmu adalah kegagalanku ... Jika pada saat itu, aku telah menciummu, akhirnya akan berubah secara berbeda, bukankah begitu."

Godou merasa wajahnya memerah karena jawaban Liliana, dan mengubah topik dengan suara panik.

"Itu nggak benar! Itu jelas bukan alasan aku kalah! Lebih penting lagi, apa yang terjadi setelah itu!? Bagaimana dengan Perseus dan Athena!?"

"Ah iya. Masalahnya belum terpecahkan, dan bahaya masih dekat."

Liliana lalu menceritakan apa yang terjadi.

Mendengar bahwa itu hanyalah gencatan senjata sementara antara dua dewa, hati Godou menjadi berat, dan memikirkan masalah merepotkan lainnya.

"Ah, benar juga, Erica dan yang lainnya masih belum tahu kalau aku di Naples ... Sudahkah kamu menghubungi mereka?"

"Um, tidak ... aku sangat menyesal, tapi aku lupa tentang itu."

"Aku tidak menegurmu, tahu. Aku akan pergi dan menelepon mereka, jadi tidak ada masalah sama sekali."

Meskipun dia mengatakan itu, dia sedikit khawatir.

Jika Erica dan Yuri mencari tahu tentang semalam, dia pasti akan menghadapi sarkasme dan omelan mereka. Jika dia menghubungi mereka, apakah dia harus menyembunyikan kebenaran? Godou menggaruk kepalanya, mempertimbangkan pilihannya.

"Liliana-sama, sejak semalam, berada di sisi Godou-sama yang menjaganya. Sungguh, dia belum meninggalkan sisi tempat tidur sekalipun, pemujaan yang patut dipuji!"

Orang yang bernyanyi pujian dari majikannya sendiri adalah Karen, yang baru saja memasuki kamar.

"K-Karen! Tak masalah meskipun kamu tidak mengatakannya!"

"Ara Liliana-sama, tidak perlu malu. Seorang gadis yang tinggal di sisi prajurit yang terluka, seolah-olah itu adalah adegan dari sebuah lukisan. Kembali ke topik utama, jika Anda ingin melakukan panggilan, Anda bisa langsung melakukannya, tapi ... apakah tak masalah dengan Anda, Kusanagi-sama?"

Setelah menggoda majikannya sampai wajahnya berubah merah bagai apel, Karen berbalik untuk bertanya pada Godou.

Tidak tahu arti dibalik pertanyaannya, Godou memiringkan kepalanya.

"Bolehkah aku bertanya apakah ada yang salah dengan keputusan itu?"

"Tidak, selagi Kusanagi-sama tertidur, kami sudah mempertimbangkan untuk menghubungi Erica-sama. Tapi, kami memutuskan untuk menunggu keputusan Anda lebih dulu, untuk berjaga-jaga."

Ucap maid nakal itu.

"Sebetulnya, aku berhubungan baik dengan Arianna Hayama Arialdi, jadi aku telah mendengar darinya bahwa Kusanagi-sama datang ke Italia bersama Erica-sama dan seorang nyonya Jepang. Dan satu lagi dari Sardinia — tolong maafkan aku, yang intim dengan Anda secara pribadi — Lucretia Zola. Bersama-sama, Kusanagi-sama pergi ke Sardinia untuk menikmati liburan panjang."

Siapa, siapa pria yang digambarkan sebagai maniak seksual?

Setidaknya, itu pasti bukan Kusanagi Godou, karenanya, ketika Liliana mulai gagap, 'S-Sungguh gaya hidup yang buruk ...' dan tidak bisa berhenti gemetar, Godou berharap Liliana akan berhenti, serius.

"Anda telah menghilang dari tempat tinggal Anda, meninggalkan kekasih Anda untuk melarikan diri dengan seorang gadis muda yang cantik dalam suatu perjalanan. Aku sangat terkejut ketika aku tahu, mungkinkah mereka kawin lari? Apakah itu perselisihan antara kekasih — masalah antara pria dan wanita? Sebagai kesimpulan, aku menyimpulkan bahwa mungkin lebih baik tidak memberitahu kekasih Anda."

"Ada banyak masalah dengan pikiranmu, dan lebih jauh lagi, dia adalah dewa!"

"K-Kusanagi Godou ... Tidak apa-apa jika kamu tidak keberatan dengan persepsi orang lain, kamu sudah merupakan pendukung terkenal. Baik dalam alasan untuk memiliki satu atau dua h-harem di bawah pengurusanmu ... Ya, kemudian kamu akan mandi di bak mandi yang penuh dengan sampanye, dan menikmati pesta pora bersama pacar-pacarmu, tidak diragukan lagi! Dan kemudian suatu hari, kamu akan mengumpulkan setiap wanita cantik di dunia, menciptakan sejarah harem terbesar yang pernah tercatat! —Ku, dasar bejat!"

"Liliana-sama, wajar saja bagi seorang Raja. Yah, cowok adalah makhluk seperti itu."

"Oi, oi! Jangan sembarangan bicara dengan wajah lurus!"

Alhasil, Godou harus menghabiskan sepuluh menit untuk menyelesaikan ini.

Memarahi Liliana yang telah melontarkan fantasi konyol miliknya, dan kemudian mengintimidasi Karen yang sedang menambahkan minyak ke api, akhirnya semuanya menjadi tenang.

"... Dan begitulah, aku tidak punya pacar, tidak ada apa-apa antara aku dan Erica, kami hanya teman, Mariya — gadis Jepang — juga sama, dan terakhir, soal Lucretia Zola, dia seorang tua, seumur seperti nenekku!"

"Bisakah teman normal saling berciuman dengan penuh semangat? Jika itu masalahnya, maka tidakkah akan ada masalah dengan moral dan rasa kebajikanmu?"

"Itu ... itu tidak bisa ditolong, kami tidak punya pilihan!"

Dia sudah berkali-kali mengulangi alasan itu, tidak ada pengaruhnya.

Karen memiliki senyum nakal yang tidak cukup menjangkau matanya, mengabaikan kata-katanya. Di sisi lain, Liliana tampaknya tenggelam dalam pemikiran yang mendalam, tapi untungnya dia tidak mengejar masalah itu, meskipun sepertinya dia bertindak sedikit aneh.

Godou kemudian meminjam telepon, dan menekan nomor Erica.

Teleponnya tidak tersambung, dan dia mengulangi prosedur ke nomor Lucretia dan Anna, yang juga tidak berhasil. Ponsel Yuri sama dengan ponsel Godou, tidak bisa digunakan di Italia, jadi dia tidak menghubungi nomor teleponnya.

Pada akhirnya ... bahkan setelah mencoba banyak, dia tidak bisa menjangkau teman-temannya di pulau Sardinia.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar