Unlimited Project Works

22 November, 2018

Campione v4 5-3

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 3

Ini adalah pelabuhan distrik Santa Lucia.

Ini adalah lokasi pertarungan dengan Perseus pada kemarin, dan juga di mana Godou dan Athena muncul. Liliana telah menghabiskan sekitar dua puluh menit untuk kembali ke sini, dan memanggil ke arah laut,

"Wahai dewi agung Athena, ksatria yang rendah hati, Liliana Kranjcar, dengan ini meminta pertemuan denganmu! Tolong izinkan aku berada di hadapanmu!"

Suara Liliana bergema di seberang laut, yang berwarna merah oleh matahari terbenam.

Hanya sesaat sebelum sepetak kegelapan dengan garis besar perak mulai terbentuk di ujung lain pelabuhan. Kegelapan dengan cepat mengambil bentuk Athena Sesat, yang perlahan berjalan menuju Liliana.

"Kenapa Kusanagi Godou tidak datang? Gadis kecil, urusanku tidak bersamamu."

Sang dewi berkata dengan arogan, tapi dia sudah menduga itu.

Tidak peduli apa yang terjadi nanti, dia harus mendapatkan beberapa informasi tentang Perseus.

Liliana gugup dan tegang.

Untuk bernegosiasi tidak dengan pedang tapi dengan kata-kata, itu bukan keahliannya. Sebaliknya, Erica lebih baik dalam seni persuasi, tapi dalam situasi ini dia hanya bisa mengertakkan giginya dan melakukannya ...

"Atas nama Raja, aku datang untuk mengajukan permintaan, penyelidikan tentang prinsip-prinsip kekuatan Perseus yang memungkinkannya untuk menyegel otoritas Kusanagi Godou. Karena kekurangan kami, kami tidak dapat memahami misteri di baliknya, dan dengan demikian, aku memohon padamu untuk memberikan kami kebijaksanaanmu—"

"Aku sudah bilang sebelumnya, ada harga yang harus dibayar."

Athena menyatakan dengan dingin, dan Liliana ragu-ragu.

Dia tidak mengharapkan Athena memberikan jawaban dengan mudah.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi kecil dari sang dewi. Jika mereka telah pergi dengan strategi ini dalam negosiasi oleh Kusanagi Godou sebelumnya, mereka mungkin sudah bisa mendapatkan beberapa petunjuk. Tapi dari ekspresi dingin dari pihak lain, kemungkinan dibohongi agak tinggi, dan dengan demikian dia berkata ...

"Tolong, untuk Kusanagi Godou yang berjuang demi kau, apa kau tidak memiliki hadiah perpisahan?"

"Bukankah aku sudah mengatakan ini sebelumnya juga? Dia bisa saja memilih untuk tidak bertarung, dan membiarkanku melemparkan pahlawan pengacau itu langsung ke kedalaman gunung berapi itu. Jika dia melakukan itu, maka bukankah itu akan jauh lebih menyusahkan baginya?"

Nada suara Athena tidak sedikit pun tertarik padanya.

Jika gadis yang keras kepala ini adalah manusia, Liliana akan memberinya omelan yang cukup. Namun ...

Liliana menahan keinginan itu, dan berulang kali melafalkan, 'Bersabarlah, tahanlah!' untuk dirinya sendiri. Seorang penyihir biasa akan menyerah saat itu juga, mengingat dewi yang tidak masuk akal.

Toh, dia memiliki sifat seorang penyihir.

Asal-usul para penyihir Eropa, adalah miko yang memuja Athena.

Mempelajari penerawangan spiritual, mendengarkan ucapan sang dewi.

Kata-kata kekuatan dan kedewataan dari dewi tanah memberikan kekuatan kepada para penyihir. Kemungkinan yang dihasilkan untuk mendapatkan kebijaksanaan para dewa dan wahyu yang tersebarnya sangat tinggi—

"Meskipun, ketika aku pada awalnya membawa Kusanagi Godou ke sini, aku tidak mengharapkan dewa alam itu terwujud. Barangkali ini takdir. Menghadapi pemimpin timur kuno memang keras, tapi jika dia gagal, kita hanya bisa mengatakan bahwa kemampuan bocah itu tidak cukup ..."

Athena tertawa bahagia.

Pemimpin dari timur kuno? Kalau dipikir-pikir, apa yang dia katakan sebelumnya? Pembuat onar. Dia telah memanggil pahlawan cantik itu sebagai pembuat onar, atau sesuatu seperti itu.

Athena memiliki banyak hal untuk dikatakan tentang Perseus.

Semua kata-katanya terus berputar di kepala Liliana, seperti ledakan inspirasi melalui penghalang yang rusak. Sang dewi, sejak awal, telah melihat asal-usul sang pahlawan.

Lalu, gambar apa yang dia lihat?

Cahaya emas cemerlang. Bagian-bagian matahari yang menghujani turun dari langit. Sinar matahari.

Pahlawan yang telah menggabungkan semua ini juga memiliki atribut baja, salah satu dewa pedang.

Diana pernah mengatakan bahwa dia adalah 'Orang yang berasal dari Persia'. Namanya adalah Perseus. Namun, itu belum cukup. Nama asli sang dewa, tidak, asal yang sebenarnya adalah—

"...Ho. Engkau, miko, ya?"

Athena yang telah menemukan fakta itu, menatapnya.

Liliana merasa menggigil kedinginan, seolah-olah dia adalah hewan pengerat yang ditakuti oleh seekor ular, seekor serangga yang diburu oleh seekor burung hantu. Dia berada dalam situasi yang sama dengan hama itu, tak berdaya seperti mereka.

"Omong-omong, Kusanagi Godou memiliki miko berbakat yang melayaninya, di tanah airnya. Fufu, sebuah wahyu, hanya dari kata-kataku? Nah, haruskah aku membiarkanmu kembali dengan jawaban di kepalamu ..."

Bagai pemangsa yang bermain dengan mangsanya.

Dengan perasaan seperti itu, Athena merenung sendiri. Mata tajam dari dewi pengetahuan telah mengentahui kenyataan bahwa Liliana telah menemukan sesuatu melalui inspirasi — bagi Liliana, situasinya telah berubah menjadi buruk.

Athena mengulurkan tangannya ke dagu Liliana yang lebih tinggi, membuat kontak dengan ujung jarinya.

Jika jari itu berubah menjadi senjata, itu tidak akan mengejutkan.

Liliana menahan napasnya secara naluri, dalam menghadapi kematian dan kegelapan menatap matanya. Paling tidak, dia harus menemukan cara untuk menyampaikan apa yang telah dia temukan pada Kusanagi Godou.

"... T-Tunggu di sana."

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar.

Bagi Athena, itu adalah suara pemuda yang dia tunggu-tunggu, tapi bagi Liliana, itu adalah suara seorang pemuda yang tidak dia harapkan ditunggu di sini.

"Muncul juga, ya. Untuk membuatku menunggu begitu lama, betapa tidak sopannya engkau."

"Kusanagi Godou! Kenapa kamu datang kesini!?"

Obat mujarab yang berharga — seekor sapi atau kuda yang meminum segitu akan lumpuh setidaknya selama setengah hari.

Tapi orang itu, yang berjalan goyah ke arah mereka, tentu saja Kusanagi Godou. Sepertinya dia belum sepenuhnya pulih dari efek obatnya.

Mengingat betapa tidak stabilnya dia, itu tidak akan mengejutkan jika dia terjatuh kapan saja.

Bahkan dengan tubuhnya dalam keadaan ini, dia masih menatap Athena dengan tatapan tajam.

"... Apa rencanamu dengannya?"

"Aku masih memikirkan itu. Gadis ini tanpa tata krama atau didikan yang semestinya, telah memperoleh wahyu dari atas kata-kataku. Mulanya, aku hanya akan memberikan hukuman dewata atas dirinya, namun ..."

"Wahyu?"

"Betul. Untuk mengetahui asal-usul orang yang engkau sebut Perseus, dan lebih jauh lagi, ia hampir berhasil sepenuhnya memahami identitasnya ... Nah, apa yang harus aku lakukan padanya?"

Athena memutar-mutar jari yang menekan dagu Liliana, dan perlahan membawanya ke bawah.

Dengan lembut membelai lehernya, seolah-olah memperingatkannya bahwa dia bisa mematahkan tubuhnya kapan saja dia mau.

Terus ke bawah, jarinya memberikan tekanan pada dada Liliana, yang pasti tidak bisa digambarkan sebagai penuh, seolah-olah memberitahu Liliana bahwa itu bisa menembus jika dia menggunakan lebih banyak kekuatan.

Dibandingkan dengan pertempuran yang pernah dia alami, situasi saat ini jauh lebih berbahaya.

Kehidupan Liliana benar-benar ada di tangan Athena, dan dia merasa putus asa.

"Lepaskan dia, dan sebagai harganya, aku menerima kondisimu sebelumnya!"

Kata-kata yang menakutkan lolos dari bibir sang [Raja].

Tatapan memelas di mata Liliana, memberitahunya untuk tidak melakukannya, sia-sia.

"Kusanagi Godou, bukankah sudah terlambat untuk mengatakan itu?"

"Tidak masalah, bukan? Kau seorang dewi, setidaknya beri aku sebanyak ini. Aku mengalahkanmu terakhir kali, juga, bagi manusia, ada hal yang disebut 'perlakuan istimewa untuk pemenang', itu tidak akan terlalu berbeda."

"... Hm."

"Negosiasi akan sama seperti yang kita sepakati sebelumnya. Kau akan memberitahuku rahasia Perseus, tapi jika gadis itu berhasil menyimpulkannya dari penerawangannya, itu mungkin sedikit berbeda dari kesepakatan awal kita, tapi tetap saja, itu seharusnya tidak menjadi masalah, bukankah begitu? Apakah kau menemukan persyaratan yang disetujui?"

Saat Godou selesai, Athena menganggukkan kepalanya dengan santai.


Liliana melihat ketakutan terburuknya menjadi kenyataan, hanya bisa melemparkan tatapannya ke bawah.

"Lupakan, aku akan berjanji padamu. Meskipun itu tidak berjalan seperti yang kumau, kita berdua akan mendapatkan keuntungan dari akhir cerita ini. Tidak apa-apa, kan?"

"Tidak, aku punya satu syarat."

Apa yang akan dia minta?

Athena memandang bocah itu, mengangkat alisnya.

"Meskipun aku berjanji, suatu hari nanti aku akan mendengarkan satu perintahmu, tapi ini tidak boleh menyangkut orang-orang di sekitarku. Satu-satunya yang terlibat dan dipengaruhi oleh perintahmu hanya aku ... Apakah itu baik-baik saja?"

"Meskipun engkau telah mengatakan bahwa engkau menyetujui persyaratan, engkau masih menuntut kondisi lain yang menguntungkan untuk dirimu sendiri?"

Kusanagi Godou memberikan kondisinya dengan tanpa malu.

Liliana tercengang melihat ekspresi yang begitu serius dan tegas di wajahnya.

"Cobalah untuk belajar lebih banyak tentang masyarakat manusia. Selain itu, bukankah kau yang konyol dan keras kepala. Terhadap seseorang yang egois seperti dirimu, menggunakan metode yang tidak masuk akal untuk menghadapinya, itu adalah cara keluarga Kusanagi ... Dan seperti katamu, hasilnya akan menjadi keuntungan bagi kita berdua."

"Dan jika aku menolak?"

"Lalu sebelum keparat brengsek itu kembali, aku akan membawamu ... meskipun kau mengalahkanku, kau masih harus menghadapi Perseus dalam pertempuran, aku sangat meragukan kau akan mengambil risiko sebesar itu."

Melihat percakapan antara sang dewi dan lelaki itu, Liliana pun mengerti.

Kusanagi Godou memang orang yang baik, tapi dia tidak naif.

Menunjukkan ketulusan pada orang lain, tapi pada saat yang sama, mengukur pro dan kontra, memilih pilihan terbaik dan memberitahu mereka bahwa dia masih memiliki kekuatan dan otoritas. Ini adalah kejutan yang menyenangkan bagi Liliana.

"Hm, akhirnya mengambil langkahmu, ya?"

Mengakui kualifikasinya, Athena tertawa, dan menambahkan,

"Baiklah. Menanggapi permintaanku sebagai seorang Ratu, engkau telah menjawab dengan gaya seorang Raja. Seberapa pas statusmu sebagai dewa pembagi, dan dengan begitu, aku dengan ini setuju dengan kesepakatannya ... bocah."

Athena mengangkat jarinya dari tubuh Liliana.

Dan mendorong Liliana dengan ringan dengan ketukan dari jarinya.

Sama seperti itu, dia dihempaskan, dan tertangkap oleh Godou yang masih lemah.

"Satu hal lagi, dengan begini engkau akan dapat sepenuhnya mengetahui tindakannya — Dengarkan dengan baik, Perseus adalah seorang pembunuh ular dari Babel, dan orang yang mengizinkan sang dewa matahari untuk menjadi pemimpin timur kuno, adalah orang dari kerajaan perintismu."

Orang kerajaan perintis. Apa dia mengacu pada negara yang pernah ada di tanah ini?

Lalu, seorang pemimpin timur kuno, dewa matahari, cahaya cemerlang yang bisa menyegel kekuatan Verethragna, yang berarti bahwa—

Liliana, yang berada di pelukan Godou, mengerti juga.

Inspirasi yang dia peroleh dari Athena dan pengetahuan yang dia miliki sebagai seorang penyihir telah bergabung bersama, dan dia pun bisa memahami sifat asli Perseus, dan dengan itu, dia menghela napas lega.

Jika itu kasusnya, maka memiliki kekuatan yang bisa menyegel kekuatan dewata Verethragna adalah tidak ada yang tak terduga.

"Engkau paham? Lantas, tak ada yang tersisa untuk dilakukan ... Kusanagi Godou, waktu berikutnya kita bertemu setelah pertempuranmu berakhir. Hasil dari pertempuran itu, tidak ada yang bisa memprediksi."

Bentuk Athena mulai berubah.

Sosok gadis muda itu mulai menyusut dengan cepat, menjadi burung hantu dengan bulu kelabu dan mata hitam pekat.

Sang dewi menjadi burung nokturnal terbang menuju cakrawala, lalu ...

Tubuhnya bergoyang keras, Kusanagi Godou jatuh ke tanah bersama Liliana yang telah dia bantu.

"Ada apa!? Tolong bertahanlah!"

"B-Bukan apa-apa. Sepertinya aku belum sepenuhnya membersihkan efek dari obat itu, dan aku tidak bisa sepenuhnya menggunakan kekuatanku ... maaf, aku harus menyerahkan semuanya padamu setelah ini ..."

"Aku, aku sangat menyesal, demi seseorang sepertiku—!"

Dengan erat memeluk [Raja] yang lemah ke dadanya, Liliana berteriak.

Jejak malam semakin dekat saat senja mendekat. Munculnya bulan setengah yang tergantung tinggi di langit, tampak seolah-olah menertawakan mereka.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar