Unlimited Project Works

30 November, 2018

Campione v4 7-2

on  with No comments 
In  

diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 2

Jumlah waktu mereka berdua turun, hanya beberapa puluh detik.

"... Untuk memutuskan [Mithras] yang terkandung dalam tubuhku? Meskipun metodenya tidak luar biasa, itu masih cukup mengesankan, Kusanagi Godou!"

Merasa senang, sang pahlawan bangkit.

Sekarang, satu-satunya nama yang tersisa baginya adalah 'Perseus'. Sebelum kerusakan dipulihkan, nama 'Mithras' yang diputus oleh [Pedang] tidak memiliki arti.

Melihat sosok energik di depannya, Godou mengangguk tenang.

Serangan sebelumnya adalah [Pedang] yang membunuh Mithras, dan seperti yang dia duga, itu tidak merusak terhadap kedewataan Perseus, tapi itu tidak bisa dihindari, karena dia tidak mungkin meminta hasil yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, dia beruntung diluar dugaannya.

Sebelumnya, ketika dia mengubah target [Pedang] dari Apollo menjadi Osiris dalam serangannya, dia menderita kelelahan luar biasa, tapi kali ini dia tidak merasakan efek sampingnya. Itu mungkin karena dia tidak memaksakan dirinya sebanyak waktu itu, ketika dia mengubah sifat kemampuannya dengan paksa.

—Sementara dia berpikir, Perseus mulai bergerak.

Ketika dia menyadari itu, Perseus muncul tepat di depannya, dan kemudian meraih lengan kirinya, dengan santai melemparkannya ke samping, mengempaskan Godou.

"—Guha! Benar-benar kekuatan konyol ...!"

Godou menabrak pilar batu putih.

Untungnya kepalanya bukan titik benturan, tapi punggungnya sebagian tertanam ke dinding.

Di Piazza Plebiscito yang telah menjadi medan perang, ini adalah antara dua bangunan bersejarah, gereja San Francesco di Paola dan istana kerajaan Naples.

Pada bagian muka bangunan yang pertama, gereja, ada banyak pilar yang dibangun dari batu putih, dan itu telah menjadi tempat wisata yang cukup terkenal.

Godou telah dilemparkan ke salah satu pilarnya.

.... Dampaknya sangat besar. Meskipun dia tidak memiliki pengalaman sebelumnya, itu mungkin terasa seperti tertabrak truk.

"Sejak jaman dulu, gulat tidak pernah menjadi teknik pendekar, itu juga olahraga untuk banyak orang. Mungkin kau sudah mengetahui hal ini juga. Ayo, mari kita uji kemampuan kita!"

"Tidak mungkin aku akan melakukannya! Aku adalah contoh orang modern, aku tidak memiliki pendidikan seperti itu!"

Godou membalas secara naluriah. Perseus seharusnya mengacu pada seni bela diri campuran, tapi tak mungkin Godou memiliki keterampilan bela diri seperti itu.

Sambil berdiri, Godou merasakan sensasi yang mengerikan.

Tubuhnya tidak mampu mengerahkan fleksibilitas penuh, karena dampak ke wilayah punggungnya. Tubuhnya terluka, dan Perseus mendekat perlahan.

Dia tidak punya pilihan selain bertarung, dan Godou melihat gadis cantik di bidang penglihatannya.

Sambil merasa bingung tentang pertarungan antara dewa dan Campione, banyak orang sedang menonton dalam keadaan seperti melamun. Jumlahnya tidak lebih dari seribu, tapi setidaknya beberapa ratus.

Dan berdiri di depan audiens adalah gadis cantik berambut perak, ekspresi kecemasan, seolah dia ingin memanggil pedang sihirnya dan berdiri di antara Godou dan sang pahlawan.

Godou buru-buru mencoba mengatakan padanya 'itu masih terlalu dini' melalui ekspresinya, melihat lurus pada Liliana.

Ketika melakukan pertempuran dengan dewa yang memiliki banyak otoritas yang aneh dan kuat, akan lebih baik untuk tidak menunjukkan seluruh tanganmu sekaligus, atau kemungkinan penghapusan lengkap akan menjadi tinggi.

Cara yang lebih praktis adalah menilai aliran pertempurannya, lalu meningkatkan kekuatan tempurmu secara bertahap, itu akan lebih efisien.

Itu seperti mengganti pemain di tengah pertandingan sepak bola atau bisbol, Liliana merasa agak menyesal, dan dia mengendurkan pundaknya yang tegang, sepertinya dia telah menyadari niatnya.

"... Karena aku yang terkuat di antara yang kuat. Sungguh, aku adalah orang yang memegang setiap kemenangan. Aku tidak peduli siapa yang menantangku, entah manusia atau iblis; aku mungkin menghadapi semua lawanku dan semua musuhku. Apapun itu, aku akan menghancurkan semua orang yang menghalangi jalanku!"

Godou mengucapkan kata-kata kekuatan.

Himne suci Verethragna yang dinyatakan sebagai yang terkuat dan kemenangan. Memvisualisasikan gambar itu. Itu dari makhluk dewata heroik dan gigih, bertanduk — inkarnasi [Banteng].

"Wahai banteng besar yang memiliki tanduk emas bersinar, berikan aku bantuanmu!"

Menyatu dengan tekad Godou, rasa sakit di tubuhnya berangsur-angsur meninggalkannya.

Pada saat seperti ini, adrenalin yang menerobos tubuh Campione, kira-kira seratus kali lebih tinggi dibanding orang normal. Karena betapa serampangan tubuh mereka, dalam pertempuran, biarpun tulang mereka patah, organ-organ dalam tertindik, mereka dapat menahan rasa sakit.

"Oo, menggunakan kekuatan baru? Dengan kekuatan dewata transformasi yang kau peroleh dari dewa perang itu, kekuatan macam apa yang akan terjadi kali ini!?"

Perseus meraihnya lagi, sambil berteriak.

Apa dia bermaksud melempar aku lagi? Tapi, kekuatanku kali ini tidak akan kalah.

Kondisi aktivasi untuk [Banteng] adalah untuk lawan memiliki kekuatan manusia super. Jika musuhnya Perseus, maka tidak akan ada masalah—!

Godou meraih tubuh Perseus sambil membungkuk, dan melemparkannya mundur dengan baik sekali.

Kali ini giliran sang pahlawan cantik yang dihempaskan ke udara dan menabrak pilar batu.

"Hahaha, kau mengerti ya! Bagus sekali, ayo, beri aku serangan lagi!"

Perseus berdiri, tertawa dengan suara nyaring.

Tatapan matanya mulai menjadi lebih serius, mungkin serangan itu tidak menyebabkan kerusakan.

Godou 'hmph' dengan hidungnya.

Meskipun dia sedikit kecewa, tapi Godou tidak berencana bertarung dengan pahlawan mitos terlalu lama. Karena dia memiliki rencana pertempuran yang lebih efisien dan realistis, Godou menahan pikirannya tentang malu dan menyentuh pilar batu.

.... Dia sekarang memiliki kekuatan manusia super.

Kekuatan yang tidak dihasilkan oleh otot, tapi kekuatan supranatural yang aneh.

Ketika menggunakan inkarnasi [Banteng], dia hanya perlu menempatkan kakinya di tanah, dan kekuatan panas yang membara akan mengalir dari kakinya ke seluruh tubuhnya, yang seharusnya menjadi sumber kekuatan aneh ini.

Godou menggunakan kedua lengannya untuk memeluk pilar batu putih gereja San Francesco di Paola.

Pilar-pilar yang dibuat dari batu yang indah di bagian depan gereja sekitar empat, lima meter, dari batu kapur murni. Tentu saja, mereka mantap ke tanah, dan ke gereja di atas.

"O, OOOOOOOOOOOOOOO!!"

Selaras dengan raungannya, pikirannya terfokus.

Kekuatan [Banteng] memiliki satu karakteristik yang tidak masuk akal, yaitu ketika target otoritas ini lebih berat, kekuatan juga meningkat secara proporsional.

Dalam perbandingan langsung kekuatan dengan Perseus, dia mungkin bisa dibuang untuk jarak sekitar sepuluh meter, tapi di sini di depan gereja, dengan kekuatan penuhnya—

... Krek ... krak ... Suara yang buruk bisa terdengar dari pilarnya.

Retak mulai muncul di bagian atas pilar, dan Godou merasa bahwa itu hampir siap. Dalam satu napas, dia mencabut pilar — tidak, lebih tepatnya, dia mematahkannya.

Itu adalah pemandangan yang luar biasa, meskipun bahwa dialah yang melakukannya, Godou masih merasa tercengang olehnya.

Seperti Popeye, orang yang mendapatkan kekuatan luar biasa setelah makan bayam, atau Hakim Simson dari Perjanjian Lama yang menurunkan pilar Kuil Dagon, semacam itu.

(Omong-omong, gereja ini dirancang pada awal abad kesembilan belas oleh arsitek terkenal Pietro Bianchi, yang diakui oleh Paus sebagai sebuah bangunan yang penting secara historis. Tindakan merusak bangunan ini mungkin akan menimbulkan kemarahan dewata.)

Tanpa berpikir, Godou mengayunkan pilar itu maju mundur—

Dengan dampak beratnya, dia menyerang Perseus.

Tidak, untuk menggunakan kata kerja [pukulan] akan menjadi penghinaan besar, itu seperti menggunakan derek industri dengan bola baja raksasa yang digunakan untuk pembongkaran untuk menyerang Perseus.

"Ngh! Kekuatan hebat apa-apaan ini!"

Perseus menggunakan kedua tangannya untuk melindungi wajahnya, dan Godou melemparnya ke tanah dengan paksa.

Pilar batu yang digunakan sebagai senjata kebrutalan terbuat dari batu kapur, sehingga pecah menjadi potongan-potongan setelah beberapa saat. Sambil membersihkan debu di tubuhnya, sang pahlawan kemudian menatap Godou dengan tatapan tajam.

Itu bukan kebencian atau kemarahan, melainkan pandangan tekad dan apresiasi terhadap agresi yang ditunjukkan.

"Kau juga adalah seorang pria yang dikenal sebagai Raja, dan aku merasa bahwa kau harus menggunakan senjata yang lebih pas — Tapi ini juga bagus, meskipun aku masih berharap tindakanmu menjadi lebih indah!"

Sementara masih berbicara, dia merentangkan lengannya, dan Perseus menendang tanah.

Sebuah tackle dengan tubuh yang diturunkan. Itu mungkin teknik dari gulat atau pankrasi. Tapi, tidak dapat bersaing dalam kemampuan bertarung mereka, tapi ini adalah gaya bebas, tak ada yang menahan pertempuran kematian.

—Karena itu, Godou melemparkan sisa-sisa pilar batu.

Hanya memperhitungkan berat badan, berat pilar dalam situasi ini setidaknya seratus kilogram.

Dia melempar, dengan kekuatan supranatural [Banteng], dan dengan pengalaman masa lalu Kusanagi Godou sebagai penangkap bisbol yang terampil, dia memiliki keyakinan dalam kekuatan dan kontrol lemparannya.

Puuun!!

Apa yang dulunya pilar batu mengeluarkan kebisingan hebat dari turbulensi udara saat bergerak di udara.

Perseus melompat ke samping, menghindari pilar batu, dan di tempat dia berdiri beberapa saat yang lalu, di dekat tangga batu, sisa-sisa pilar batu itu meleset dari sasarannya, menabrak tanah dan kemudian berguling ke samping.

"Maaf saja, tapi menggunakan metode yang tidak tepat untuk mendapatkan kemenangan adalah hal favoritku. Aku tidak bermaksud mendengarkan permintaanmu, seperti memiliki duel yang luar biasa dan hebat."

"Begitu ... Baiklah, lalu kau dapat menggunakan metode pilihanmu sendiri untuk menunjukkan kekuatanmu."

Pedang favorit Perseus muncul di udara tipis, dan tangannya dengan kuat menggenggamnya.

"Tidak adil bila kau hanya menggunakan senjata, jadi mari kita lakukan pertempuran, dengan pedang di tanganku ini."

Kata-kata kali ini menandai dimulainya pertarungan yang luar biasa.

Godou memutuskan pilar lain dari gereja San Francesco di Paola.

Dengan itu dia mengayun, melempar, memukul, dan menghantam.

Musuhnya, Perseus bergerak seperti macan kumbang putih di dataran, berlari, melompat, menghindar. Dan kemudian, dengan tubuhnya yang sekokoh baja, dia memberanikan diri untuk menahan pukulan dari pilar batu, menyebabkannya hancur berkeping-keping.

Apakah itu sisi ofensif atau defensif, ini adalah pertempuran antara orang super yang luar biasa.

.... Pada catatan terkait, audiens, setelah melihat tragedi kehancuran terungkap, akhirnya mendapatkan kembali indra mereka, berteriak, menjerit, mendesah, pecah menjadi kekacauan. Kerumunan mulai berteriak dan menjerit, bergegas pergi ke sekitarnya, dan situasi menjadi panik.

Aku harap tak ada yang terluka

Tapi bahkan saat Godou melihat ke keadaan panik mereka, dia menjadi khawatir.

Tak ada yang cukup bodoh untuk tersandung ke dalam alun-alun ini yang merupakan medan perang antara orang super, tapi dalam desakan mereka dan terdorong dalam kekacauan itu, mungkin menyebabkan seseorang menjadi terluka, dan itu menyebabkan dia khawatir.

Sebelum dimulainya pertarungan, Godou terus-menerus bermasalah atas itu. Sekarang, dia sudah berjuang dengan sekuat tenaganya selama kurang lebih sepuluh menit—

Piazza Plebiscito telah berkurang menjadi lahan kosong, seperti reruntuhan.

Di atas trotoar batu di alun-alun, potongan batu kapur telah tersebar di mana-mana, dalam bentuk kerikil kecil atau puing-puing.

Gereja, dengan pilar-pilar putih seperti koridor tertutup sekarang hancur, setiap jejak kemiripan dengan aslinya telah lenyap bersama mereka.

Sebagian besar pilar telah disingkirkan oleh Godou, dan dengan demikian, bangunan bersejarah yang patut diteladani yang dulunya adalah gereja Roma, menjadi pemandangan kehancuran.

Itu adalah pengorbanan yang sangat besar, tapiPerseus tetap relatif tidak terluka.

"Hahaha, bertempur dengan baik. Tapi, sudah waktunya untuk mengakhiri ini!"

Dengan erat mencengkeram pedangnya, sang pahlawan berteriak.

Dengan kegesitan macan kumbang putih, dengan kecepatan yang membuatnya tampak seperti meteor, Godou bahkan tidak bisa melihat sosoknya.

Musuhnya cepat, dan ada juga kesenjangan besar antara kemampuan tempur jarak dekat mereka.

Meskipun Godou masih bisa bertahan dengan jangkauan senjatanya dan refleksnya sendiri, kemungkinan berat melawannya. Pilar-pilar itu hampir sepenuhnya dihancurkan, dan dengan itu sumber senjatanya menipis.

.... Godou ingat tentang Liliana.

Haruskah dia memanggilnya di sini, dan meninggalkan pertahanan padanya? Setelah mempertimbangkan itu, Godou segera menggelengkan kepalanya.

Terhadap seseorang yang memiliki kecepatan seperti itu, biarpun mereka berdua menyerang sekaligus, itu tidak akan membuat banyak perbedaan.

Sebelum pertarungan, dia telah mendengar darinya bahwa kartu trufnya — setara dengan Erica [Mantra Golgota], dan dia ingin menggunakannya pada saat yang lebih baik.

—Dia harus mengandalkan kekuatannya sendiri untuk keluar dari situasi ini, dan menggertakkan giginya, menahan pukulan yang akan dia ambil.

Godou memantapkan tekadnya.

Bibirnya memilin ke samping, dia mengungkapkan senyuman suram, dan membuang pilar batu di tangannya.

"Semua musuh di depanku, takutilah aku."

Dari mulutnya lolos kata-kata kekuatan.

Perseus melaju ke arahnya, menghunjamkan pedangnya dalam serangan menusuk langsung.

Melepaskan dorongan membunuh tertentu, tampaknya — sudah waktu yang tepat.

Godou mengambil serangan langsung tanpa menghindar. Salah satu alasannya adalah serangan itu terlalu cepat untuk dihindari.

"Setiap orang berdosa harus gemetar di hadapan kekuatanku. Sekarang adalah waktunya, bahwa aku mendapatkan ketangguhan sepuluh gunung, kekuatan seratus sungai, dan tenaga seribu unta! Di atas diriku yang perkasa, aku akan menanggung simbol unta yang mengamuk!"

Sambil melantunkan kata-kata kekuatan, dia ditembus oleh pedang.

Dadanya tertembus pedang tebal.

Perseus ingin menembus dia sepenuhnya, menghancurkan tubuhnya, dan merobeknya terbuka dari belakang—!

"Apa?"

Perseus mendesis, dengan ketidakpastian.

Seperti yang diharapkan dari pahlawan pembunuh ular, indra-indranya mengesankan, karena dia telah memperhatikan keadaan luar biasa yang telah terjadi pada lawannya.

Bahkan dengan pedang menembus tubuhnya, Godou mengangkat kaki kirinya, dan menendang dengan tajam. Dia, dengan tubuh goyahnya, menendang langsung di dada Perseus, mengempaskannya.

Godou adalah seorang amatir dalam seni bela diri. Namun, tendangan ini berada pada tingkat yang melampaui semua seniman bela diri manusia.

Sebuah tendangan yang luar biasa, seolah-olah dia mengayun palu baja.

Jika itu menabrak lantai beton, kemungkinan besar lantai akan hancur berkeping-keping.

"—Guh!?"

Itu adalah kali pertama dia mendengar Perseus mendesah kesakitan.

Tubuhnya yang kuat dihempaskan, membuatnya mundur lebih dari dua puluh meter.

Pada saat yang sama, pedang yang tertanam di dada Godou ditarik keluar, terbang kembali dengan sang pahlawan.

"—Gah!"

Kali ini Godou yang mengeluarkan kepedihan rasa sakit. Pedang itu dikeluarkan dari tubuhnya tiba-tiba, dan darah segar mulai mengalir keluar dari lukanya.

Sakit, sakit sakit sakit sakit, ini sakit sekali!

Rasa sakit dari luka tikam mulai memudar perlahan, dan meskipun itu masih sangat menyakitkan, itu adalah tingkat yang lebih dapat ditoleransi, dan darah telah menggumpal.

Ini adalah kemampuan inkarnasi [Unta], memperlambat sensasi rasa sakit, dan mendapatkan daya tahan yang tidak normal.

Di atas itu, kekuatan dan tenaga kakinya meroket. Jika dia menantang seorang master Muay Thai di pertarungan tendangan tadi, dia yakin dia akan dengan mudah menang. Selanjutnya, kekuatan destruktif—

... Di bidang penglihatan Godou, dia melihat meteor putih melaju ke arahnya.

Dengan kecepatan mengerikan, mungkin itu bergerak lebih cepat daripada fastball langsung dari pelempar andalan Liga Utama.

Namun, sebelum dia menyadarinya, kaki kanan Godou sudah memasuki gerakan bertahan.

Tendangan tinggi yang sangat baik. Itu mengesankan bahwa Perseus entah bagaimana berhasil mempertahankannya, tapi pertahannya dihancurkan oleh tendangan.

... Tubuh sang pahlawan melayang di udara sekali lagi.

Jarak yang ditempuh dalam penerbangan kira-kira lima puluh meter kali ini, dan Perseus terbang dari gedung gereja San Francesco di Paola yang hancur sampai ke sisi yang berlawanan, dinding istana kerajaan Naples.

"Guah!?"

Dinding istana kerajaan dibangun dengan bata oranye kusam.

Sebuah lubang raksasa seperti kawah gunung berapi telah dibuat, dan dengan benturan keras, tubuh Perseus jatuh ke lantai batu Piazza Plebiscito.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar