Unlimited Project Works

08 November, 2018

Denpachi C1-3

on  with No comments 
In  
diterjemahkan oleh http://setiablog.com
Bagian 3

[Selalu ada tempat yang bagus di film mana pun.]

Mitsuya teringat kata-kata seorang kritikus film terkenal yang telah meninggal.

Apa ada yang bagus soal game terkutuk itu?

Kapan pun Mitsuya membeli game yang tidak sesuai dengan keinginannya, game yang dia beli dengan harga tinggi bisa dijual ke toko bekas.

Apa yang mungkin lebih membuat frustrasi dibanding game bodoh yang tak bisa kujual ke toko?

Mitsuya bertanya pada dirinya sendiri. Saat ini dia berada di tempat parkir bawah tanah yang cukup besar untuk menampung sebanyak seratus mobil. Ini adalah ruang bawah tanah sebuah gedung kantor besar di mana beberapa mobil diparkir di sana-sini. Dan, ada kerumunan orang di pusat parkir mobil. Tempat pertarungan—.

Dojima telah menjelaskan kepadanya bahwa ada seorang player yang memiliki gedung dan membuatnya tersedia untuk tujuan ini hanya pada tengah malam. Ketika dia menerima pesan untuk ‘datang ke sini di malam hari’ dengan instruksi yang tertulis di peta, Mitsuya diam-diam meninggalkan rumahnya dan berjalan ke sini. walau dia masih takut dengan game-nya, ada seseorang seperti penjaga gerbang di pintu masuk yang menjelaskan berbagai hal kepadanya dengan sopan. Dia bahkan lebih terkejut ketika dia turun ke lantai bawah tanah. Hal pertama yang menarik perhatian Mitsuya yaitu kecerahan pencahayaan yang luar biasa yang menerangi seluruh tempat parkir bawah tanah. Player tersebar di seluruh lantai ruang bawah tanah, hampir seolah-olah mereka tengah mengadakan kongregasi di kota game online atau di bar. Suara tawa bersemangat bergema di mana-mana. Selagi Mitsuya melihat sekeliling, dia menemukan banyak anggota party mengobrol di antara mereka, dan berbagai orang lain yang duduk dan makan. Itu adalah tempat di mana dia tidak bisa merasakan bahkan rasa bengis atau haus darah. Mitsuya berpikir serius pada dirinya sendiri ‘Apa aku di tempat yang salah?’ karena suasana umum tempat itu terlalu jauh dari apa yang dibayangkannya.

Bukankah ini game kematian? Bukankah ini berbahaya? Lagian, jika ponsel dihancurkan—

“Hei, kamu yang disana.”

Suara tiba-tiba memanggilnya dari belakang. Saat dia menengok ke belakang dengan terkejut, dia menemukan seorang pria dan seorang wanita yang tampak tersenyum. Mereka terlihat sekitar dua atau tiga tahun lebih tua dari Mitsuya.

“Pertama kali kamu di sini?”

“I-Iya...”

Mitsuya menjawab hati-hati ketika dia mulai merasa gugup. Orang-orang yang menghadapnya sepertinya memerhatikan kewaspadaannya yang nyata.

“Ah, santai. Bukannya kita akan mencabik-cabikmu dan memakanmu atau apalah.”

Ucap pria itu dengan senyum masam.

“M-Maaf.”

Mitsuya menunduk dan meminta maaf sembari tergagap.

“Umm, pekerjaanmu apa?”

“S-Sword Knight...”

“Sword Knight ya. Aku juga. Kamu level berapa?”

“Aku belum... ini pertama kalinya aku...”

“Yah, itu berarti hari ini akan menjadi pertandingan debutmu. Bagaimana dengan ini? Ingin ber-party dengan kami? Kami kekurangan satu orang jadi kami sedikit kesusahan. Namaku Beat, omong-omong.”

“Aku Kan.”

Setelah sampai sejauh ini, Mitsuya berhenti.

Aku mengerti, nama ketika aku mendaftar. Aku tidak harus memberikan nama asliku.

“Namaku Dark.”

“Ooh, itu nama yang cukup keren.”

Setelah diberitahu itu, dia merasa sedikit malu. Rasanya lumayan karena ini adalah kali pertama seseorang berkomentar soal nama dalam game-nya.

“Jadi, Dark-kun, kamu akan—”

“Tahan di sana.”

Suara yang familier terdengar dari sisinya. Itu Dojima, mengenakan camo pants dan tank top. Ada juga seorang gadis asing yang berdiri sedikit di belakangnya. Dia memiliki tubuh yang agak mungil dan ramping, rambut hitam panjang, kemeja hitam, rok hitam, dan kaus kaki hitam di atas lutut. Dia berpakaian serba hitam.

“Yo Beat.”

“Sup, Resshin.”

Sepertinya Dojima dan Beat sudah saling kenal.

(Resshin? Benar, itulah nama Dojima-san di dalam game.)

“Maaf. Aku sudah memesannya.”

“Begitu. Yah, aku lega kamu sudah ber-party dengan Resshin. Aku sudah merasa khawatir sebelumnya karena sangat berbahaya ketika pemula berada di garis depan. Belakangan ini, ada banyak orang pengecut yang mengeroyok para pemula.”

“Maksudmu orang-orang dari [Ksatria Biru Meja Bundar] atau sesuatu? Bahkan aku telah diserang oleh mereka belakangan ini.”

“Itu sebabnya aku ingin setidaknya bisa memberi pemula dan mereka yang tanpa kepercayaan kemampuan untuk melarikan diri.”

Mitsuya lalu menyaksikan Dojima tertawa terbahak-bahak pada Beat.

“Apa ini? Apa kamu mencoba untuk mengajari murid lagi? Duh, kalau kamu baik terus, akhirnya kamu akan ditusuk dari belakang, tahu?”

Ucap Dojima sambil menunjukkan senyum nakal.

“Aku ketahuan. Tapi Resshin, tentu saja kamu bisa mengerti apa yang coba aku katakan, kan?”

Beat lalu terus mengobrol sebentar dengan Resshin, atau Dojima.

“Baiklah, Dark-kun. Kalau kamu terganggu oleh apa pun, jangan ragu untuk berbicara denganku kapan saja.”

Dia meninggalkan kata-kata itu ketika dia dan temannya pergi setelah itu.

 

“—Yah, seluruh party kita ada di sini.”

Dojima, Mitsuya, dan orang lain — Dojima berganti tatapannya antara Mitsuya dan gadis itu ketika dia mengatakannya. Mitsuya juga melirik gadis dengan rambut hitam panjang. Karena tubuhnya yang mungil, dia tampak sedikit lebih muda darinya. Wajahnya kecil, dan matanya juga terlihat agak mengantuk. Warna hitam yang menutupi tubuhnya memancarkan atmosfer yang agak tak bisa didekati. Tapi, Mitsuya berpikir sendiri ‘Jujur saja, dia benar-benar kelihatan imut’. Ketika matanya bertemu dengan gadis itu, dia menunduk dan membungkuk secara sopan. Mitsuya membalas gerakan itu.

“Ini Kyomoto Momiji. Ini mungkin sedikit membingungkan, tapi dalam game, dia menggunakan nama [Kaede]. Kita akan berada di party yang sama, jadi aku akan memanggilmu Momiji. Apa tak masalah?”

Gadis yang bernama Momiji mengangguk menanggapi kata-kata Dojima. Setelah itu, Dojima memperkenalkan Mitsuya ke Momiji. Dojima, sang pemimpin, mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke alamat email dari server host [Innovate] — pada saat itulah Mitsuya mengetahui tentang keberadaan alamat — badan email tersebut memiliki semacam pesan untuk efek Mitsuya bergabung dengan party. Setelah beberapa saat, mereka bertiga menerima email. Alamat pengirimnya hilang, tapi pesan yang mengatakan [Dipahami. Player Dark, Resshin dan Kaede telah membentuk sebuah party] telah diterima.

“Baik. Sekarang Kanzaki-kun ada di party kita.”

Ujar Dojima sambil tersenyum. Tanpa ragu, Mitsuya menjawab

“Apa tak masalah? Benarkah?”

Mitsuya berganti tatapannya antara Dojima dan Momiji. Terlepas dari pendapat Dojima, Mitsuya merasa ragu apakah Momiji baik-baik saja dengan keputusan itu karena mereka baru saja bertemu beberapa saat yang lalu. Dojima dan Momiji saling berpandangan, lalu mereka berdua berbalik menghadap Mitsuya.

“Ya, kami menyambutmu. Kanzaki-kun.”

Sambil Dojima mengatakan itu dengan senyum, Momiji juga mengangguk sebentar dalam keheningan. Itu adalah serangkaian kejutan untuk Mitsuya.

 

Api menyembur keluar dari tangan orang di depan matanya. Api itu dibubarkan oleh lawan yang menggunakan tongkat kayu di tangan mereka. Permukaan tanah tempat parkir rusak oleh tinju seseorang. Setelah pertempuran, lokasi yang rusak segera diperbaiki oleh anggota staf yang mana seorang Mage, dan sepertinya seolah-olah kerusakan tidak pernah terjadi. Itu adalah kenyataan yang terasa lebih seperti game. Mitsuya berdiri di antara kerumunan. Itu seperti galeri di mana semua orang membentuk lingkaran di sekitar mereka yang bertarung di tengah. Medan perang di tengah kerumunan ditandai dengan cat putih yang menggambar sebuah persegi panjang kira-kira setengah ukuran lapangan basket gimnasium sekolah. Di sana, pertarungan satu-lawan-satu yang melibatkan kemampuan supranatural diadakan. Tidak seperti di siang hari, tampaknya party saling bertarung di sini. walau Mitsuya mulanya khawatir bahwa serangan nyasar akan menghantam galeri ketika mereka menonton, tampaknya ada sesuatu seperti dinding tak terlihat yang mengelilinginya yang telah didirikan seseorang sehingga semua sihir api yang menyentuhnya lenyap begitu saja. Dojima berkata

“Tidak apa-apa kalau kamu hanya menganggapnya sebagai semacam penghalang.”

Dojima menjelaskan berapa banyak player yang datang dengan prinsip dan aturan mereka sendiri untuk dipatuhi sehingga mereka dapat memainkan game dengan damai dan aman. Kalau tidak, mustahil memainkan game ini di mana ada kemungkinan kematian. Itu karena ‘Tidak ada yang mau membunuh orang lain’. Para player yang menyerang Mitsuya di jalanan hanyalah ekstrimis radikal. Lawan saling berjabat tangan sebelum bertarung dan juga berbagi percakapan sesudahnya. Namun, Dojima juga memaparkan tentang bagaimana sebenarnya semua orang takut di dalam hati mereka, dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditolong. Ada banyak orang yang tersenyum, tapi itu hanya kepalsuan mereka dalam [Game]. Sebenarnya, mereka benar-benar ingin melarikan diri secepat mungkin, dan putus asa untuk melakukannya. Di balik senyuman itu, pasti mereka sama sepertiku — pikir Mitsuya.

“Yah, hampir giliran Mitsuya-kun.”

Ucap Dojima sambil memberi tepukan pada Mitsuya.

“Eh, aku...?”

Mitsuya benar-benar tercengang. Dia tidak menduga akan bertarung begitu tiba-tiba. Dia percaya bahwa dia di sini hanya untuk mengamati saja. Tetapi, Dojima sepertinya telah mengajukan permohonan untuk bertarung.

“Kalau kamu tidak menaikkan level dengan cepat, kamu mungkin akan diserang lagi oleh mereka yang memangsa para pemula.”

Ketika Dojima memberitahunya hal tersebut, Mitsuya ingat apa yang terjadi ketika tim yang berpakaian biru telah menyerangnya. Dia takut saat itu. Benar-benar takut terserang. Dia tidak mengerti apa-apa, dan merasa putus asa bahwa dia tidak dapat melakukan apa-apa.

“Jangan khawatir. Lawanmu sama denganmu, jadi itu juga akan menjadi pertarung pertama mereka hari ini. Ada kondisi yang sama.”

Sama—. Dia bukan satu-satunya yang didorong ke dunia yang tidak logis ini. Tentu, dia bukan satu-satunya yang terlibat—. Ada orang lain yang pernah mengalami situasi serupa. Ada orang lain selain dia yang datang ke sini setelah memahami inti dari situasi untuk mengatasinya dan bergerak maju.

“…Aku mengerti. Aku akan mencoba.”

Dojima tersenyum ketika mendengar kata-kata Mitsuya.

“Sudahkah kamu membaca buku peraturan? Apakah kamu ingat semuanya?”

Mitsuya mengangguk menanggapi pertanyaan Dojima.

“Baiklah, lantas kamu seharusnya tidak memiliki masalah bermain [Denpachi].”

“...Den... pachi?”

Mitsuya mengerutkan alisnya ketika mendengar kata yang tidak familier itu.

“Yeah, banyak orang menyebut pertarungan di game ini dengan nama tersebut. Kamu ‘menembak dengan ponselmu’, jadi itulah mengapa itu [Denpachi][9]. Anak-anak muda zama sekarang memiliki kebiasaan memperbaiki hal-hal ini menjadi kanji bukan? Itulah mengapa itu disebut [Denpachi] menggunakan karakter ‘listrik’ dari telepon dan ‘lebah’ seperti pada serangga. Nah, kanji untuk ‘pachi’ sebenarnya tampak berbeda dari orang ke orang.”

“Denpachi ya.”

Mitsuya menatap ponsel di tangannya. Mungkin mustahil bagi pembuat ponsel untuk membayangkan bahwa orang akan dipaksa berkelahi dan mati dengan perangkat seperti itu.

“Untuk sekarang, dengarkan saja apa yang harus aku katakan sebagai seniormu. Ketika kamu tidak bersama anggota party lain, aku ingin kamu menghindari sesuatu yang berbahaya dan bertarung di tempat lain selain tempat pemula seperti ini.”

Mitsuya menundukkan wajahnya sebagai tanggapan atas nasihat jujur ​​Dojima. Itu karena Dojima menyadari kenyataan bahwa Mitsuya mengganti ponselnya. Dojima menyatakan bahwa mustahil untuk melarikan diri dari game dengan membuang ponsel saja, dan hanya bisa dengan menyelesaikannya. Seperti Mitsuya, banyak player lain yang mencoba melarikan diri darinya menggunakan metode serupa, tapi semua upaya itu sia-sia. Pada satu saat, seorang kenalan Dojima bahkan mengganti ke model ponsel yang tidak memiliki fungsi email. Namun, muncul ponsel dengan fungsionalitas email yang diletakkan di atas meja kamar mereka pada hari berikutnya. Beberapa orang bahkan mencoba untuk merusak ponsel mereka saat mereka tidak bermain game, tapi ponsel indah nan bersih dan tidak tergores muncul di tangan mereka beberapa jam kemudian. Di luar game, apa pun sebenarnya bisa dilakukan ke ponsel. Itu bisa rusak, dan itu bisa dibuang. Tapi pada akhirnya, ponsel akan selalu kembali ke player seolah-olah tidak ada yang terjadi padanya.

“Karena tidak ada cara untuk melarikan diri, kamu harus lebih memerhatikan partnermu yang akan bersamamu ketika pertarungan bisa terjadi kapan saja, daripada mencoba menjauhkannya dari rasa takut.”

Dojima menatap Mitsuya dengan ekspresi tegas di matanya saat dia mengatakannya.

“Ponselnya tidaklah buruk. Game-nyalah yang buruk. Jika kamu ingin bertahan hidup, kamu harus percaya pada ponselmu lebih dari apa pun dan siapa pun. Ponselmu adalah satu-satunya sekutu yang akan kamu miliki dalam game ini.”

Apa yang ingin Dojima sampaikan kepada Mitsuya yaitu lebih baik menghadapi objek ketakutannya secara langsung — telepon genggamnya.

 

“Pertarungan selanjutnya akan dimulai! Level 1 Sword Knight [Dark] dan Level 1 Mage [Finn]. Kedua player, silakan masuk ke lapangan!”

Anggota staf yang berdiri di tengah lapangan mengumumkan. [Pelindung] yang mengurung lapangan telah menghilang sehingga para player bisa masuk.

“Ayo, semoga berhasil!”

Ketika Dojima mendorongnya dari belakang, Mitsuya memasuki lapangan.

“Lakukan yang terbaik, pemula!”

“Jangan merasa gugup—!”

Berbagai teriakan datang dari kerumunan. Ukuran galeri telah meningkat. Sepertinya pertarungan pemula menarik banyak perhatian. Itu adalah nilai tambah untuk dapat melihat kompetensi player baru yang akan bangkit dalam game dari sini. Jika seseorang tampak berbakat, maka akan mungkin untuk menghindari kontak atau pertarungan dengan mereka. Mereka yang tanpa bakat bisa meningkat dengan mendapatkan poin pengalaman melalui pertarungan. Dengan kata lain, ini adalah di mana nilai Mitsuya dalam game akan diputuskan sampai batas tertentu. Lawan Mitsuya memasuki lapangan. Pria itu kira-kira seusia dengannya. Dia tampak gugup dan takut. Memang, dia bukan satu-satunya yang merasa takut. Mitsuya menelusuri proses pertarungan di benaknya.

Ketika menekan tombol panggil di ponsel tiga kali ke arah lawan, telepon lawan menjawab. Pertarungan dimulai ketika lawan menempatkan ponsel mereka ke mode panggilan secara bersamaan. Dengan memasuki mode panggilan, kedua pihak dapat menggunakan kemampuan dalam game mereka. Jika ada perbedaan level antara dua player, player dengan level yang lebih rendah dapat memilih untuk menolak, tapi player dengan level yang lebih tinggi tidak dapat menolak pertarungan. Karena pengaturan aslinya yakni [Menanggapi semua pertarungan], semua player di sekitarnya menjadi sadar akan kehadiran player terlepas dari perbedaan levelnya. Pemula yang baru memulai game segera ditempatkan dalam situasi berbahaya, dan itu juga mengapa Mitsuya diserang dua kali. Secara umum, player memilih pengaturan untuk [Melawan player dengan level yang sama].

“Fight!”

Anggota staf laki-laki keluar dari batas lapangan setelah mengumumkan dimulainya pertandingan. Mitsuya dan lawannya — Finn juga mengeluarkan ponselnya. Tak satu pun dari mereka merasa mudah menekan tombol panggil tiga kali. Tidak, keduanya ragu-ragu dan tidak terselesaikan untuk menindaklanjuti aksi tersebut. Mitsuya pun memutuskan untuk menekan tombol panggilan setelah lawannya memutuskan. Ketika ponsel Mitsuya bergetar, ia berhenti sejenak, tapi dia pun menekan tombol untuk masuk ke mode panggilan. Pertarungan dimulai.

Ukuran kehidupan seorang player ditentukan oleh ‘tingkat baterai yang ditampilkan di telepon’. Tingkat baterai yang dikonsumsi selama pertarungan dan tingkat baterai telepon sebenarnya tidak sama. Bahkan jika tingkat baterai normal dari sebuah ponsel akan habis, itu tidak akan menjadi masalah selama pertarungan. Kebalikan dari itu juga berlaku. Daya baterai yang dikonsumsi selama pertarungan selalu terbatas pada pengukur baterai untuk game. Pengukur akan berkurang saat menerima kerusakan juga, dan yang pertama menjadi nol dianggap kalah. Pemenang nanti memperoleh poin pengalaman untuk jumlah menit saat mereka aktif dalam pertarungna. Fungsi telepon seluler utama yang digunakan untuk game adalah antarmuka email yang telah dimodifikasi untuk tujuan game. Baik penerima maupun bidang subjek tidak ada, dan masukan untuk badan email mencakup seluruh area tampilan telepon. Kemampuan digunakan dengan mengetik kalimat ke dalam bidang entri email. Sebagai contoh, jika seorang Mage masuk dalam ‘Menembak api ke arah lawan’ — itu akan memungkinkan bagi mereka untuk melemparkan api ke lawan mereka. Kalimat terbaru (kemampuan) yang ditampilkan di layar selalu diberikan prioritas, dan kalimat (kemampuan) sebelum kehilangan efek. Pengukur baterai ponsel selalu dikonsumsi ketika kemampuan digunakan. Dengan kata lain, ukuran kehidupan dibagi antara aktivasi kemampuan dan kerusakan. Pengukur kehidupan di Denpachi pada dasarnya adalah penjumlahan ukuran HP dan MP dalam RPG.

Baik Mitsuya dan Finn meluncurkan fungsi email di ponsel mereka pada saat yang bersamaan dan mulai mengetikkan kalimat untuk menyerang. Keduanya mengetik karakter ketika mereka mengalihkan pandangan mereka antara lawan dan layar mereka. Itu adalah gagasan dasar bahwa mereka dapat memasukkan input tanpa menatap layar. Lagi pula, itu adalah kesalahan luar biasa untuk mengalihkan pandangan dari lawan mereka. Berdasarkan berapa lama player menghabiskan melihat layar mereka, itu mungkin untuk mengetahui seberapa familier mereka dengan game. Dari perspektif siapa pun, sudah jelas bahwa baik Mitsuya dan Finn adalah pemula. Tangan Finn berhenti, mungkin karena dia sudah selesai mengetik. Lawan Mitsuya adalah Mage, yang berarti dia mampu memanipulasi api dan air secara bebas seperti dalam video game. Finn mengarahkan tangan kanannya ke arah Mitsuya. Api dihasilkan di telapak tangannya, dan itu terbentuk menjadi bentuk bola sebelum ditembakkan. Namun, bola api itu tidak tampak bergerak sangat cepat, dan sepertinya agak bisa dihindari. Mitsuya menarik tubuhnya kembali untuk menghindari bola api, dan menarik ikat pinggang dari pinggangnya pada saat bersamaan. Api menghilang saat menabrak pembatas di belakangnya. Ikat pinggang yang dia lepaskan berdiri tegak bagai pedang. Mitsuya telah memasukkan emailnya sebuah kalimat yang berbunyi ‘Gunakan ikat pinggangku sebagai pedang melawan lawanku’.

Itu adalah kemampuan Sword Knight — mereka bisa mengeraskan substansi di tangan mereka dan mengubahnya menjadi senjata atau armor. Ketika levelnya naik, efek dari kemampuan itu juga ditingkatkan. Namun, pengukur baterai akan terus mengalir selama kemampuan itu tetap aktif. Objek yang terkena dampak juga kehilangan efeknya begitu meninggalkan tangan. Ada berbagai alasan mengapa dia memilih untuk menggunakan ikat pinggangnya — jika benda yang sangat berbahaya seperti tongkat atau pedang kayu dipegang di sekitar kota, barangkali polisi akan mengejarnya karena itu. Itu adalah praktik standar untuk Sword Knight menggunakan benda sehari-hari biasa. Dojima telah menyuruhnya untuk ‘membuat senjata dari apa yang kamu kenakan’. Karena ikat pinggang adalah hal yang biasa, itu tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.

Selagi Mitsuya meletakkan ponselnya, dia mencengkeram ikat pinggangnya yang mengeras dengan kedua tangannya. Mitsuya memiliki pengalaman nol di Kendo, dan karena itu dia tidak memiliki pengetahuan tentang cara menilai jarak dan waktu. Lawannya benar-benar memiliki keuntungan karena bisa menggunakan proyektil. Finn menembakkan api lagi. Dengan memerhatikan arah tangannya, mudah untuk menghindarinya. Tapi, itu tidak cukup untuk menyelesaikan banyak hal. Bahkan, ia berada pada kerugian besar sebagai Sword Knight karena baterai berkurang terus.

(Kalau aku tidak melakukan ini, aku akan kalah)

Ketegangan menguasai Mitsuya. Itu berbeda dari video game yang selalu dia mainkan. Terlalu berbeda. Alih-alih berjuang melawan alter ego-nya, dia berjuang melawan dirinya sendiri. Itu seperti perbedaan antara perjudian pada mesin game di rumah, dan sebenarnya bertaruh uang di kasino. Apalagi, hidupnya sendiri sedang dipertaruhkan ….

“Aaaaah—!”

Mitsuya menguatkan tekadnya saat dia berteriak dan mulai menyerang ke depan. Terkejut, Finn bereaksi dengan memegang tangannya ke arah Mitsuya.


Sebelah sini!

Mitsuya tiba-tiba berubah arah dan bergerak secara diagonal. Karena terkejut, Finn mengoreksi arah tangannya. Selagi lawannya membuka telapak tangannya dan mencoba menyerang lagi, Mitsuya mengubah arah tiga kali sambil mendekat ke lawannya. Mitsuya terus berlari dengan cara zig-zag sambil mendekati Finn. Finn berada di bawah kekuasaan gerakan Mituya dan tak bisa berbuat apa-apa selain memutar tangan ke kiri dan ke kanan. Lawannya juga seorang pemula kalau mengenai seni bela diri dan tidak bisa menilai waktu atau jarak setiap gerakan.

(Aku bisa melakukan ini!)

Ketika pikiran itu terlintas dalam benaknya, Finn mulai membombardir area itu dengan api tanpa memerhatikan keakuratannya. Beberapa dari tembakan itu menuju ke arah yang tak terduga, walau salah satunya membelok ke arah tempat Mitsuya pindah. Mitsuya menahan serangan kebetulan itu dengan menggunakan ikat pinggangnya sebagai tameng. Tetapi meskipun demikian, akibatnya panas menyengat Mitsuya.

Bahkan hanya merasakannya terasa sangat panas. Serangan langsung akan sangat buruk.

Sementara pikiran seperti itu mengalir melalui benak Mitsuya, Finn mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu.

Dia mencoba mengubah metode serangannya, tapi aku akan meraihnya sebelum itu!

Mitsuya melompat ke depan dengan penuh semangat — tetapi kakinya tiba-tiba terasa berat dan dia tidak bisa bergerak maju. Dia tidak bisa bergerak. Dia tidak bisa maju selangkah pun. Ketika dia melihat ke arah kakinya karena perubahan mendadak, dia menyadari kedua kakinya tertutup es dan menempel ke permukaan tanah. Pada saat yang sama, sensasi dingin menular ke kulitnya.

Sihir es—. Aku mengerti!

Dia mencoba menerjang es dengan ikat pinggangnya, tapi itu terlalu padat. Tampaknya es jauh lebih keras daripada ikat pinggangnya. Finn mulai mengetik di ponselnya lagi. Serangan berikutnya akan berakibat fatal. Lawannya akan menembak ke arah tempat dia tidak bisa bergerak menjauh. Itu adalah pilihan yang bijaksana dari seorang Mage.

Mengalahkan…? Aku mengerti, aku akan kalah…. Aku tidak ingin mati di sini, tapi tidak apa-apa. Aku bisa melakukan semuanya. Itu hanya game. Aku mencoba yang terbaik. Aku melakukannya dengan baik. Aku seorang pemula bukan? Aku baik-baik saja. Jika aku perlahan maju—

“A-aku akan menyelesaikannya—!”

Itu suara Finn. Mitsuya merasa lega ketika air mata mengalir keluar dari mata Finn. Matanya penuh kehidupan — tidak, matanya mata seseorang yang bergantung pada kehidupan, dan masih berharap untuk hidup. Api yang kuat tercurah di tangannya.

Ini game berakhir ketika ponselku rusak. Dengan kata lain, ‘kematian’—.

Ketika kata ‘kematian’ menyelinap di benaknya, perasaan dingin dan membingungkan menyelimuti seluruh tubuh Mitsuya. Dia bukan satu-satunya yang dilanda rasa takut itu. Bahkan Finn sama dengannya.

“B-Bahkan aku... ingin menang—!”

Mitsuya terus-menerus menerjang es di sekitar kakinya berulang kali dengan ikat pinggangnya, dan merusaknya tepat sebelum api mampu mendaratkan serangan langsung. Dia merunduk ke sisi memungkinkan api terbang di atasnya, lalu melemparkan sepotong es retak pada Finn. Potongan-potongan es membentur wajah Finn, dan dia menjatuhkan ponselnya karena itu. Telepon itu meluncur di atas permukaan tanah dan menjauh dari Finn.

Sekarang!

Mitsuya mulai berlari menuju ponsel Finn. Walau Finn juga mulai bergerak, Mitsuya mengambil beberapa potongan es dan melemparkannya ke tangan Finn kali ini. Begitu serpihan-serpihan itu mengenai punggung tangan Finn, dia berhenti bergerak sesaat. Itu memutuskan pertandingan. Keduanya meluncur ke arah ponsel, tetapi Mitsuya memegang telepon Finn terlebih dahulu dan berguling di permukaan jalan untuk melarikan diri. Itu juga bisa untuk menang dengan mencuri ponsel lawan dan membatalkan mode panggilan (mode pertempuran). Itu juga bisa bagi seseorang untuk kalah dengan membatalkan mode panggilan di telepon mereka sendiri…. Mitsuya menekan tombol power di ponsel Finn. Itu mengakhiri mode panggilan, dan menyebabkan pertarungan selesai. Di depan Finn yang jatuh, Mitsuya mengangkat telepon genggamnya yang membuat ‘suara’ singkat untuk menunjukkan bahwa panggilan itu telah diputuskan.

“...Ini kemenanganku.”

Kata Mitsuya sambil mengangkat suaranya. Finn menundukkan kepalanya dengan ekspresi kesal. Sebuah peringatan terdengar di telepon Mitsuya dengan email yang mengatakan [You Win!]. Meskipun alamat pengirimnya hilang, jelas bahwa alamat itu dikirim oleh [Innovate].

“Player [Dark] menang!”

Setelah pengumuman itu, sejumlah sorak-sorai muncul dari area sekitarnya. Itu adalah pertarungan pertama Kanzaki Mitsuya — [Dark], dan kemenangan pertama di [Denpachi].
Share:

0 komentar:

Posting Komentar