Little Mokushiroku v1 2

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas
Aku tidak yakin apakah mereka mengabulkan permintaanku atau tidak, tapi raja dan bawahannya memberiku sebuah kamar tamu dengan sebuah kanopi besar. Aku menjatuhkan diri ke tempat tidur dan akhirnya bisa bernapas.

“Pahlawan! Apakah ada hal lain yang kau butuhkan?” Harissa dipenuhi energi, kebalikan dari perasaanku.

“Tidak, aku baik-baik saja. Bisakah kau memastikan aku sendirian sebentar?”

“Tentu!” Harissa memberikan jawaban yang ceria dan menyampaikan perintahku kepada gadis pelayan di luar.

Setelah aku mengawasinya pergi, aku mendesah pada diriku sendiri layaknya pak tua dan berkata, “Wow, dia punya banyak energi.”

“Apakah kau menyukai gadis yang sedikit sederhana, seperti dia?”

No comment.”

Aku mengabaikan pertanyaan R dan mencoba memikirkan kembali apa yang sedang terjadi. Itu tidak baik. Penyihir, alien, dan gadis dari dunia lain. Hanya berurusan dengan salah satu dari mereka sudah cukup buruk. Bagaimana aku bisa menangani ketiganya? Jika R masuk, “gadis dari masa depan,” sebenarnya ada empat di antaranya. Tapi War of All tengah berlangsung di masa depan, dan sekarang tidak penting. Itulah satu-satunya hal yang kuhadapi untuk diriku, mungkin.

“Ahh ... apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Kau juga berada di dunia lain. Kau harus menyelesaikan masalah ini dulu.”

“Aku tidak punya waktu. Meskipun aku menolak untuk terlibat dalam masalah dunia lain, Satsuki dalam bahaya bahkan saat kita bicara. Aku harus kembali ke duniaku sendiri, dan cepat.”

Tangan dengan arlojiku terus berdetak bahkan setelah aku dibawa ke sini, jadi aku tahu ini sekitar pukul 14:00 di Bumi. Aku tiba di pabrik yang ditinggalkan sekitar pukul 13:00, yang berarti bahwa sekitar satu jam telah berlalu sejak Messiah muncul.

Messiah telah bilang bahwa dia ingin menikahi Satsuki, jadi dia mungkin tidak akan menyakitinya, tapi ... aku masih perlu untuk kembali secepat mungkin.

Tapi entah mengapa, R menatapku bingung.

“Kalau kau akan pulang ke duniamu, apakah itu berarti kau meninggalkan dunia ini pada takdirnya?”

“Apa yang kau ingin kulakukan? Aku cuma punya garis keturunan. Aku tidak punya kekuatan sama sekali, dan aku tidak istimewa. Aku tidak bisa menyelamatkan apapun.”

“Kau yakin?” Dia bertanya lagi.

“Apa kau bilang bahwa aku harus melakukan sesuatu?”

“Tidak. Tapi kalau kau menyerah pada cerita ini ...”

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Harissa kembali dari koridor dan pembicaraan tiba-tiba berakhir.

“Pahlawan? Apa kau tadi sedang berbicara dengan seseorang?”

“Tidak. Apa cuma bayanganmu saja?”

“Aku pasti sudah mendengar banyak hal, kalau gitu! Aku melakukan itu! Aku pernah mengira dengkuran kakekku jadi raungan naga, dan seluruh desa akhirnya merasa ngeri karena itu!”

Apakah itu sesuatu yang harus kau bilang dengan ceria?

Harissa berlari dan duduk tepat di sampingku. D-Dia benar-benar dekat ...

“Pahlawan! Kau butuh sesuatu dariku?”

“Tidak juga.”

“Harus! Raja menyuruhku menjagamu. Katakan apa yang ingin kulakukan. Apapun!”

“Kau bisa duduk lebih jauh lagi?”

“Aku ... Aku minta maaf! Aku sangat senang, aku dekat denganmu. Aku bau, ya?” Harissa berubah merah dan melompat menjauh dariku.

“Tidak, aku tidak bermaksud bahwa kau baunya tidak enak atau semacamnya ...”

“Tidak, tentu! Aku seorang petani, dan sebenarnya aku tidak seharusnya berada di sini sama sekali. Jadi aku tahu ada bau petani di sekujur tubuhku! Itu datang dari bawah ketiakku, karena aku mulai gugup saat bicara denganmu!”

Dunia ini mungkin tidak punya antiperspirant, ya?
antiperspirant menjaga ketiakmu agar tidak mengeluarkan keringat

Bagaimanapun, tampaknya gadis ini — Harissa — orang yang membawaku ke dunia ini. Yang berarti bahwa jika aku ingin kembali, dia adalah orang yang kuminta.

“Hei, jadi bisakah aku menanyakan sesuatu padamu?”

“Tentu saja! Ada apa, Pahlawan?” Sulit untuk mengatakan ini saat dia menatapku dengan mata yang bersinar itu, tapi ... aku tidak punya pilihan.

“Tolong kirimkan aku kembali ke duniaku sendiri.”

“Huh?”

Ya, itulah yang sudah kuduga akan terjadi.

“Aku tidak bisa mengalahkan Maharaja Iblis. Aku bukan pahlawan.”

Betul. Aku cuma orang biasa. Di dalam RPG, aku tidak berbeda dengan orang desa(villager) acak.

“Tapi ... tapi! Kau dipanggil oleh ritual rahasia keluarga Kerajaan Aburaamian! Legenda mengatakan bahwa pahlawan sejati akan muncul dalam sekejap cahaya terang ...”

“Maaf, aku cuma punya kecenderungan untuk terjebak dalam hal-hal seperti itu. Jika kau membutuhkan seorang pahlawan, mintalah orang lain.”

“Itu ... itu gak mungkin benar.”

“Itu benar.”

“Gak ... itu gak benar! Kau ... kau adalah pahlawan, kau harus menjadi pahlawan. Kalau gak, aku dalam masalah besar.”

Sejujurnya, sakit rasanya mengatakan hal ini.

Tapi aku punya hal-hal yang harus kulindungi. “Itu masalahmu, bukan masalahku. Aku tidak punya waktu untuk ini. Tolong, kirim aku pulang!”

“Hwaah!” Aku sedikit gelisah dan berteriak, dan Harissa terjatuh dari tempat tidur. Senyum cerahnya lenyap, dan air mata terbentuk di matanya.

“Ealim Nekram!” Harissa menggunakan bibirnya yang bergetar untuk bicara semacam mantra. Tiba-tiba, dia menghilang.

“Huh? Harissa?”

Aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa mendengarnya berlari. Kemudian pintu kamar tampak terbuka dengan sendirinya, dan langkah kaki itu berlanjut ke lorong.

“Apa dia menggunakan sihir agar tidak terlihat?”

“Gak.” R menjulurkan kepalanya dari lantai sementara sisa tubuhnya tenggelam di bawahnya. Yang kelihatan seperti seseorang telah memotongnya dan meletakkannya di sana.

Aku memutuskan untuk bertanya kepadanya, meskipun aku tidak berharap banyak.

“Kau tahu bagaimana bisa kembali ke dunia lamaku?”

“Aku tidak bisa jawab itu.”

“Sudah kuduga ...”

“Aku pernah menanyakan hal ini sebelumnya, tapi apakah kau benar-benar yakin akan pulang ke duniamu?”

“Dan sudah kujawab ini sebelumnya. Aku berencana untuk pulang secepat mungkin.” Apa yang terjadi di sini? R benar-benar gigih soal ini. “Apakah ada sesuatu yang terjadi jika aku pulang?”

“Tentu saja. Jika kau pergi, dunia ini binasa,” Kata R.

“Binasa?”

“Kau akan mengerti ini jika kau memikirkannya sebentar,” lanjutnya, merangkak keluar dari lantai saat dia bicara. “Sebuah cerita tanpa pahlawan adalah binasa. Sebenarnya ada seluruh negara yang binasa karena nenek moyangmu menyerah pada mereka. Untuk sebuah cerita, klan Namidare adalah harapan terakhirnya.” Matanya cerah dan tulus ​​di bawah topi militernya, tanpa tandaa kebohongan di dalamnya.

“Ayah tidak memberitahuku itu.”

“Karena dia ayahmu. Jika kau tahu bahwa cerita yang kautinggalkan binasa, Mungkin kau melakukan sesuatu yang sembrono. Seperti yang kau sendiri bilang, bagaimanapun, kau cuma orang normal.” Ayahku telah menyuruhku untuk tidak menyerah pada mereka jika aku bisa.

Mungkin dia benar-benar ingin memberitahuku untuk menyelamatkan mereka, bagaimanapun caranya. Dia telah memberiku hipotetis. Mungkin dia tidak memberiku contoh nyata karena dia adalah ayahku, seperti kata R.

Tapi apa bedanya? Aku melihat pistol laser dan arloji warp yang kubawa dari pesawat ruang angkasa, dan aku memiliki ponsel Satsuki di sakuku. Pemilik benda-benda itu juga memintaku untuk menyelamatkan mereka dan juga cerita mereka.

Ada tiga gadis, tiga cerita, dan hanya satu pahlawan: aku.

Bisakah aku menyelamatkan semuanya?

“Jadi, Rekka, apa yang akan kaulakukan?” Kata R.

“Kau bertingkah seperti ini bukanlah masalahmu ... berkatmulah sampai aku tidak yakin.”

“Bagiku, aku ingin kau menyelesaikan cerita-cerita ini dan berhubungan dengan seorang heroine, atau misiku tidak akan pernah selesai.”

“Mungkinkah kau menyadari bahwa ayahku tidak ingin aku mengetahui semua itu, dan kemudian memberitahuku hanya karena hal itu mempermudahmu?”

“Oh tentu.”

“Kenapa, dasar ...”

“Umimimimi ...”

Aku meraih pipi R dan menariknya sekeras mungkin, meskipun semua ini benar-benar salahnya.

Bagaimanapun, aku harus menyelesaikan ini. Aku tidak bisa duduk disini selamanya.

Aku memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dan berkeliaran sebentar. Akan sangat berbahaya untuk meninggalkan pistol laser di sini, jadi aku memasukkannya ke ikat pinggangku.

“Kemana kau pergi?”

“Jalan-jalan.”

“Apa yang akan kaulakukan untuk pulang ke rumah?”

“Tentukan nanti. Aku akan memikirkannya sambil jalan-jalan.”

“Begitu.” Aku mulai mengembara di kastil. R ikut denganku. Lorong-lorong itu terbuat dari barisan batu bata. Rasanya aku menjadi karakter di dalam RPG.

“Aku bisa merasakan semua orang menatapku.”

“Yup.” Aku memakai seragam SMA biasa, tapi karena tidak ada orang lain yang mengenakan pakaian seperti itu di sini, aku sangat menonjol. Orang-orang menatapku, dan aku tidak bisa berkonsentrasi.

“Mungkin lebih baik tinggal diam di kamarku saja?”

“Gak, merangsang telapak kaki mengaktifkan sel otak. Jika kau tidak yakin harus melakukan apa, kau selalu bisa jalan-jalan.”

“Aku tidak tahu itu. kau sungguh pintar, R.”

“Tentu. Dan kau yang bodoh, Rekka.” Entah bangga pada diri sendiri, atau menghinaku, tapi tolong tetap berpegang pada satu hal.

“Oh? Apa aku mencium sesuatu yang enak?”

“Hmm? Kau benar.” R mulai melayang, dan aku mengikutinya.

Kami sampai di ruangan tempat bau itu berasal.

“Sepertinya ini dapurnya.”

“Tunggu, R, apa kau bisa lapar?”

“Gak. Tapi aku memang punya indra penciuman, dan rasa harumnya enak.”

“Jadi begitu. Aku teramat lapar.” Kalau dipikir-pikir, aku belum makan apa-apa sepanjang hari kecuali roti bakar yang kumakan pagi ini.

Aku membuka pintu, berharap mereka memberiku sesuatu untuk dimakan.

“Um, permisi ...”

“Huh? Oh wow! Bukankah ini sang pahlawan!” Seorang wanita paruh baya menyambutku dengan penuh semangat. Dia mungkin si juru masak. “Aku senang sekali kau ada di sini, Pahlawan! Negara ini pun akan damai!”

Aku bukan pahlawan, sih ... tapi mungkin akan sangat berharga untuk mendengar apa yang harus dia bilang sebelum memutuskan apakah akan pulang ke rumah.

“Aku baru saja sampai di sini, dan aku tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang terjadi. Bisakah kau ceritakan tentang tempat ini?”

“Apa, raja dan Harissa belum memberitahumu? Adu-duh, itu tidak baik. Kami memintamu untuk membantu kami! Tentu, kalau mau, aku akan beritahu semuanya yang perlu kauketahui.”

“Baiklah, pertama ceritakan tentang Maharaja Iblis.”

Setelah itu, dia bercerita tentang Maharaja Iblis dan pasukannya.

Dia bilang bahwa setelah disegel selama beberapa ratus tahun, Maharaja Iblis telah bangkit dua tahun yang lalu.

Dia bisa menggunakan sihir pemanggilan untuk membuat pasukannya muncul di manapun di benua ini, dan begitu mereka selesai menjarah dan merampok, dia bisa membawa mereka kembali ke kastilnya lagi. Karena tidak ada cara untuk menyerang pasukannya, manusia dilumat secara perlahan.

Yang berarti, bagaimanapun, bahwa jika Maharaja Iblis dikalahkan, pasukannya akan hilang untuk selamanya. Tapi kastilnya berada di sebuah pulau terpencil dan dikelilingi oleh penghalang yang kuat. Tidak ada jalan bagi siapapun untuk masuk.

“Kami sudah mencoba beberapa kali untuk membuat pasukan melewati penghalang, tapi kami hanya berdiri di luar sana karena kami tidak dapat menghancurkannya. Lantas dia memanggil pasukannya, dan dia melumat kami.”

“Jika penghalangnya sekuat itu, maka tidak ada yang bisa kulakukan, bukan?”

“Nah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!”

“Kenapa?”

“Di bawah kastil adalah Pedang Pahlawan(Hero’s Sword), yang hanya bisa digunakan oleh pahlawan,” Katanya penuh semangat. “Mereka bilang Pedang Pahlawan memiliki kekuatan untuk menembus sihir apa pun. kau akan memotong penghalang itu sampai setengahnya!”

Yah, itu sudah menjelaskan. Itulah sebabnya semua orang di negara ini berpegang teguh pada pahlawan.

Wanita itu menarik napas panjang lega. “Syukurlah! Sekarang negara ini selamat, begitu juga Harissa!”

“Huh?” Apa maksudnya dengan “begitu juga Harissa”?

Saat aku hendak bertanya apa maksudnya, seorang pria menelengkan kepalanya ke dapur dan berteriak meminta seseorang untuk membantunya membawa bahan.

“Ups! Mereka memanggilku!” Wanita itu membungkuk padaku dengan nada meminta maaf.

“Maaf, tapi aku harus pergi. Jika ada hal lain yang ingin kauketahui, tanyalah Harissa. Dia di ruang belajar.”

“Ruang belajar?”

“Di puncak menara barat.”

“Makasih. Aku akan memeriksanya nanti.”

Aneh rasanya menemuinya setelah aku baru saja meneriakinya, tapi tidak peduli apa yang kulakukan, aku perlu bicara dengannya lagi. Aku juga penasaran dengan maksud wanita itu juga.

“Makasih. Apalagi, aku tidak ingin mengganggumu ...”

“Oh, tunggu sebentar.” Saat aku berbalik untuk pergi, sekarang gilirannya untuk menghentikanku.

“Tentang Harissa ...”

“Huh?”

“Aku berasal dari desa yang sama dengan dia, dan aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia gadis yang sangat rapuh. Dia tidak punya kewajiban menjadi penyihir militer(military sorcerer). Tapi keadaannya sangat buruk akhir-akhir ini, mereka memaksanya bekerja untuk mereka.”

Ini yang pertama aku mendengar tentang Harissa yang bekerja untuk pasukan. Memang benar itu tidak sesuai dengan dirinya.

“Tolong, Pahlawan. Bertemanlah dengannya.” Hanya itu yang dia bilang sebelum dia meninggalkan ruangan.

“Kurasa aku akan pergi menemui Harissa.” R dan aku menuju puncak menara barat, tempat kami diberitahu Harissa berada.

“Berapa langkah tangga ini?” Aku mengeluh, kehabisan napas.

“Dua ratus lima puluh enam.”

“Seharusnya aku tidak bertanya.”

“Aku mengambang, jadi sama sekali tidak menggangguku.”

Aku mencoba memukulnya sampai ke tanah, tapi dia menyelinap pergi.

Setelah beberapa menit berlalu, kami berhasil mencapai puncak menara.

“Kaudengar sesuatu dari dalam?” Aku bertanya.

“Kedengarannya seperti menangis.”

“Kurasa ini Harissa ...”

“Kayaknya benar.”

Aku merasa sangat jahat. Aku membuka pintu tanpa bersuara, jadi dia tak bisa mendengarku.

Ruangan itu penuh dengan rak buku yang dilapisi gulungan dan buku, dan ada tumpukan kertas di lantai. Jika ada gempa bumi, siapapun di sini akan terkubur hidup-hidup. Pegunungan buku berarti ada banyak tempat yang tidak dapat kulihat, dan aku tidak tahu dari mana dia berdiri dari pintu masuk.

Aku mengikuti suara itu dan melihat seorang gadis dengan jubah, meringkuk di sudut dengan kedua tangannya di sekitar lututnya.

“Harissa?”

“Huh?! P-Pahlawan! E-E-E-Ealim Nekr ...”

“Tunggu! Jangan lari.”

Aku meraih tangannya sebelum dia bisa berubah tak terlihat dan melarikan diri lagi. Dia mencoba melepaskannya.

“J-jangan! Jika kau menyentuh tanganku, kau akan jadi kotor!”

Aksennya terdengar mirip dengan wanita di dapur. Bukankah dia bilang mereka berasal dari desa yang sama? Mungkin begitulah biasanya dia berbicara.

“Tentu saja tidak! Tenang!”

“Gak! Saat kau menyentuhku, tanganku berkeringat!” Tangannya terasa sedikit licin, tapi itu bukan masalah sekarang.

Aku terus memegang Harissa, berapa kali pun dia berjuang, dan wajahnya menjadi lebih merah lagi.

“Pu-pu-pu-pu-shuuuu!” Akhirnya dia kepanasan, dan terjatuh ke tanah.

“Rekka, kau harus menggunakan sifatmu yang kuat itu dalam kapasitas lain.” R mengeluh karena suatu alasan, tapi aku mengabaikannya.

“Nah, kalau begitu ...” Begitu Harissa tenang, aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah kudengar dari wanita dapur.

“Jadi, itulah yang kudengar. Apa maksudnya kau diselamatkan juga?”

“... Seharusnya aku dieksekusi.”

Untuk sesaat, aku tersentak. “Kenapa?”

“Aku seorang penyihir(sorcerer), kuakui, dan aku seharusnya pandai memanggil sihir, tapi ...” Perlahan, dia mulai menceritakan ceritanya. “Sihirku memanggil roh dari dunia roh. Tapi roh sangat sulit untuk dihadapi, dan tergantung kepada penyihir untuk membuat mereka mematuhimu. Jika gagal, rohnya bisa marah dan terus mengamuk, atau menyebabkan banyak kenakalan, sebelum mereka pulang.”

“Kau tidak mau mengacaukannya, ya?”

“Iya. Tapi aku benar-benar mengacau.”

“Kapan?”

“Ketika aku berpartisipasi dalam Pasukan Ekspedisi Anti-Maharaja Iblis Ketujuh.”

“Geh!” Itu adalah neraka waktu untuk mengacau.

“Aku mencoba melawan iblis yang dipanggil oleh Maharaja, tapi ... aku tidak bisa mengendalikan sihir ...” Saat dia bicara, suaranya mulai bergaung dengan isak tangis.

“Aku menghancurkan perkemahan, dan kita harus mundur. Seharusnya aku dihukum mati karena perbuatanku! Tapi aku adalah pemanggil(summoner) terakhir yang telah ditinggalkan kerajaan ... jadi mereka bilang jika aku bisa memanggil seorang pahlawan dengan ritual keluarga kerajaan, raja akan memberiku pengampunan khusus.”

“Jadi begitu ...” Karena itulah dia bilang dia membutuhkanku untuk menjadi pahlawan.

“Tapi itu bukan masalah lagi.” Tiba-tiba, dia tersenyum seperti gadis yang sudah meninggal. Sepertinya dia baru saja menyerah pada segalanya, kurasa.

Aku belum pernah melihat orang tersenyum seperti itu sebelumnya sepanjang hidupku. Ada rasa sakit menusuk di sisi kiri dadaku.

Aku menjalani kehidupan normal dengan cara biasa, jadi tidak mungkin aku mengerti apa yang sedang dia alami. Tapi aku tahu dari senyumnya bahwa dia menghadapi keputusasaan yang tidak bisa dimengerti. Apakah itu semacam senyuman yang seharusnya kulihat pada seorang gadis yang lebih muda dariku? Atau kah semua orang di dunia ini tersenyum begini, karena Maharaja Iblis? Apakah itu sebabnya tidak ada yang mencoba menyelamatkan Harissa? Karena di dunia ini, keputusasaan itu normal?

“Aku lamban, dan aku menangis, dan aku tidak bisa bekerja di ladang, dan aku adalah gadis paling tidak berguna di desa ini. Ketika tes pasukan menunjukkan bahwa aku bisa menjadi penyihir, aku bahagia, tapi pada akhirnya, itu juga tidak berhasil.” Harissa mengubur wajahnya di lututnya yang terbungkus jubah. Sepertinya tidak ada orang di dunia ini yang bisa memperbaiki senyumnya yang suram itu. “Aku hanya membawa kesengsaraan dan bencana bagi semua orang. Aku pantas menderita. Lebih baik aku mati.” Dia tersenyum saat dia bicara.

Alih-alih mencari pertolongan, dia tersenyum seakan-akan dia tidak peduli bagaimana hal itu akan berakhir. Tidak. Itu tidak benar. Kau tidak bisa menerima kematian begitu saja.

Harissa mengulurkan tangan untuk meminta bantuan. Dia telah meraih seorang pahlawan dari dunia lain, dan aku telah menyingkirkan tangannya.

Dia tidak ingin mati. Dia adalah seorang gadis normal yang ingin hidup ... siapa sih yang menginginkan seseorang menyelamatkannya? Itu sebabnya aku ...

“Persetan.” Kali ini, aku mengulurkan tangan dan meraih tangan yang telah kujatuhkan.

Harissa mendongak. Dia menatap lurus ke arahku, air mata mengalir di wajahnya.

“Jangan pernah bilang bahwa kau pantas menderita.”

“Pahlawan?”

“Itu sama saja dengan bilang normal bagimu karena menderita, dan aku menolak untuk menerimanya.”

Aku menyukai kenormalan. Aku menyukainya. Itulah yang membuatmu paling bahagia.

Tapi apa yang Harissa katakan justru sebaliknya. Dia bilang normal baginya untuk menderita. Dan ... aku tidak bisa menerimanya.

“Aaah ... persetan! Baik!”

Dengan kasar aku menggaruk kepalaku. Harissa menatapku dengan heran.

“Maaf, Satsuki. Aku akan kembali secepatnya, aku janji. Jadi tunggu saja di sana.” Aku meminta maaf kepada Satsuki di Bumi.

Aku tahu aku tidak punya waktu untuk ini ... tapi apa yang sebenarnya bisa kulakukan? Akulah satu-satunya yang bisa menyelamatkan cerita ini, atau gadis kecil malang ini. Jadi ... hal yang normal dilakukan adalah menyelamatkannya, bukan?

“Aku akan mengalahkan Maharaja Iblis untukmu.”


Harissa bilang bahwa tugas pertama sang pahlawan adalah menarik Pedang Pahlawan dan kemudian mengumpulkan sekutu di kedai. Tapi aku tidak punya waktu.

“T-T-T-T-Tapi kau akan mengalahkan Maharaja Iblis, kan?”

“Tidak masalah. Aku ada urusan dengan penyihir dan raja ruang angkasa setelah ini.” Aku tidak punya waktu untuk membahasnya.

“Sudah pukul 2:30, ya?” Aku sudah di sini selama setengah jam. Iris bilang warp-nya akan memakan waktu tiga jam, jadi aku ingin segera kembali sesegera mungkin.

Jadi masalah terbesar adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya.

“Um, pahlawan. Kau sudah lama menatap itu. Apa itu?”

“Ini? Ini disebut arloji. Ini memberitahuku waktu.”

“Wow. Itu enak sekali. Jadi, itu arloji juga?” Harissa menunjuk arloji warp di pergelangan tanganku yang lain.

“Ini sesuatu yang berbeda. Ini disebut arloji warp.”

“Arloji warp? Bagaimana fungsinya?”

“Kau bisa menghitung koordinat tempat, dan memasukkannya ke dalam sini, dan itu akan mengantarmu ke tempat itu.” Namun, aku tidak dapat melakukan perhitungan koordinat, jadi tidak ada gunanya bagiku. Meskipun aku bisa menggunakannya, aku bisa teleport melewati penghalang dan masuk ke kastil Maharaja Iblis.

Saat aku mendesah frustrasi, Harissa mengangkat tangannya secara perlahan.

“Aku bisa melakukan perhitungan koordinat.”

“Serius?!”

“I-Iya. Kau harus bisa melakukan perhitungan koordinat untuk menjadi pemanggil, jadi kau bisa menentukan di mana kau akan melakukan pemanggilan.”

“Ya! Baiklah, bisakah kau memasukkan sini? Yang kubutuhkan adalah koordinat kastil Maharaja Iblis, berhubungan ke tempat kita sekarang.” Kukatakan padanya apa yang kubutuhkan dan memberinya arloji warp.

“Um, seharusnya ada peta benua di suatu tempat di ruangan ini. Aku akan mencarinya.” Harissa menuju ke dalam tumpukan kertas dan buku.

“Sekarang kita bisa sampai di sana. Berikutnya adalah senjata.”

Hal pertama yang kupikirkan adalah Pedang Pahlawan. “Seharusnya bisa memotong sihir. Bisakah aku menggunakannya untuk mengalahkan Maharaja Iblis?”

“Kukira pertanyaan pertamaku adalah apakah kau pernah belajar menggunakan pedang?” Kata R.

“Oh ...” Betul. Aku cuma orang biasa. Meskipun aku punya senjata, tidak ada gunanya bagiku jika aku tidak bisa menggunakannya. Aku tidak pernah memegang pedang sepajang hidupku, jadi meski aku memiliki Pedang Pahlawan, itu tidak akan berguna bagiku.

Pahlawan normal mungkin akan memulai dengan membangun poin pengalaman dengan melawan lendir(slime) dan belajar menggunakan senjata, tapi aku tidak punya waktu.

“Nah, itu masalah ...”

Dan kemudian Harissa berlari padaku, dengan cara yang sama seperti dia kabur. “Pahlawan! Aku selesai memasukkan koordinatnya!”

“Sungguh? Cepat juga.”

“Aku bekerja sangat keras. Nah seharusnya kita bisa langsung menuju pusat kastil Maharaja?!” Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Harissa menginjak kertas di lantai dan terpeleset.

Dengan cepat aku mengulurkan tangan dan mencengkeramnya agar tidak terjatuh.

“Apakah kau baik saja?”

“Aku baik saja!” Entah kenapa, Harissa gemetar saat dia menjauh dariku. Wajahnya merah padam ... apakah dia memukul hidungnya di dadaku?

“Rekka, bagaimana itunya?” R mengintip ke wajahku. Aku melotot ke arahnya untuk bertanya apa maksudnya. “Payudaranya. Teteknya. Oppai-nya, kalau kau mau. Kau tadi merasakannya, bukan?”

“Gak!” Suaraku cukup nyaring untuk mengejutkan Harissa.

“P-Pahlawan?!”

“Oh maaf. Bukan apa-apa.”

Sial! R mengatakan apapun yang dia inginkan karena tak seorang pun kecuali aku yang bisa melihatnya. Aku mengumpat, diam kali ini, dan kemudian mengambil arloji warp yang Harissa jatuhkan. Lalu—

“Catatan koordinat dikonfirmasi.” Suara elektronik terdengar dari arloji warp. “Sepuluh detik untuk warp. Sembilan. Delapan. Tujuh ...”

“T-Tunggu—!”

Tunggu sebentar! Apa benda sudah diaktifkan? Apa karena dampak dari terbentur mengaktifkannya? Iris belum memberitahuku bagaimana cara membatalkannya. Penghitungan mundur berlanjut selagi aku panik, sampai tidak ada waktu lagi untuk melihatnya sama sekali.

“Terserah! Kita akan pergi sekarang juga!” Jika aku tidak meraihnya, arloji warp akan menuju kastil Maharaja Iblis sendirian. Dan jika itu terjadi, tidak mungkin aku pulang ke rumah hari ini.

Kukatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak punya pilihan, lalu memakai arloji warp di pergelangan tanganku.

Harissa meraih tanganku. “A ... Aku juga akan pergi!”

“Dasar idiot! Lepaskan—” Aku mencoba melepaskannya, tapi aku tidak bisa melakukannya tepat waktu. Penghitungan mundur berbunyi “nol”.

“Memulai warp.”


Pada saat berikutnya, aku menemukan diriku berada di tempat yang sangat dingin.

“H-Huh ...?!” Kepalaku berputar. Inikah efek dari warp? Aku melihat-lihat.

Lantainya terasa dingin, jadi mungkin batu yang sama dengan kastil raja, tapi kedinginan ini sangat aneh. Cahaya hanya dari obor di dinding, dan ruangan itu terlalu besar untuk ditunjukkan lebih jauh dari lingkungan sekitar mereka. Tidak ada jendela, jadi tidak ada sinar matahari, dan udara terasa membeku. Siapa yang membangun tempat ini? Ini cacat! Seseorang panggil arsitek!

“Ow ... dimana kita?” Aku bisa mendengar jubah Harissa bergoyang-goyang di sampingku selagi dia bicara. Akhirnya dia ikut denganku.

“Harissa! Kenapa kau mengikutiku?”

“K-K-Karena aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri!”

“Kenapa? Itu sebabnya kau memanggilku, kan?”

“Awalnya, ya ... tapi saat kau bilang bahwa masalahku bukanlah masalahmu, aku mulai berpikir.” Mataku mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan aku tahu Harissa melihat ke lantai.

“Apa yang kaukatakan itu benar. Dunia ini bukan duniamu. Masalah kami bukanlah masalahmu. Tapi alih-alih memecahkan masalah kami sendiri, kami mencoba meminta bantuanmu. Raja, para jenderal, semua orang, aku juga ... kami semua sangat egois.” Harissa memegang tongkatnya erat-erat di dadanya.

“Tapi kemudian kau bilang kau akan bertarung untuk kami. Untuk dunia ini, yang bukan milikmu sendiri. Aku malu karena aku hanya memikirkan diriku sendiri. Jadi, biarkan aku bertarung denganmu.” Aku bisa merasakan tekad Harissa, dan ini menyakitkan.

“Jangan salah sangka.” Aku perlu mengoreksi satu hal. “Aku melawan Maharaja Iblis untukmu.”

“U-U-Untukku?!”

“Tentu saja.” Akan jadi buruk untuk bilang bahwa aku hanya kasihan padanya, jadi ... aku tidak bilang.

“Untukku ...”

“Huh? Ada apa, Harissa? Kenapa wajahmu merah?” Pipinya memerah sehingga bisa kulihat bahkan di kegelapan.

“G-G-Gak! I-ini bukan apa-apa!”

“Yah, kalau bukan apa-apa, maka baiklah ...” Telingaku menyengat setelah dia berteriak tepat di sebelah telingaku ... tapi itu bukanlah masalah.

“Jadi ya, aku tidak ingin kau berada dalam bahaya. Aku akan melawan Maharaja Iblis sendiri.”

“T-T-Tapi ...!”

“Aku tidak peduli dengan apa yang kaukatakan. Aku akan memberimu arloji warp. Gunakan itu untuk kembali ke kastil—”

“Gak! Aku juga bertarung denganmu!”

Ini jadi ke mana-mana. Dia mulai mengamuk, dan kembali ke aksennya.

Saat aku mencoba memikirkan cara terbaik untuk membujuknya ...

“Kalian di sana ...” Tiba-tiba aku mendengar suara ketiga. Suara rendah dan bariton yang mengguncang seluruh ruangan. Itu datang dari belakang ruangan, di mana kegelapan terasa paling dalam. “Kenapa kalian berteriak di kamar tidurku?”

Mataku telah selesai menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan aku bisa melihat si pembicara dengan jelas. Hal pertama yang kulihat adalah tempat tidur besar yang terlihat untuk lima puluh orang. Aku bisa melihat ekor seukuran batang kayu yang melingkar di sampingnya. Mataku mengikuti ekor tersebut sampai ke tubuh besar, rangka sayap seukuran layar kapal. Itu memiliki empat anggota badan yang tebal dan tampak tangguh. Cakar tajam. Sisik keras. Taring. Mata merah bersinar dalam kegelapan. Wajah seperti kadal karnivora mengerikan, dengan jambul di atas. Aku telah memainkan cukup banyak game untuk mengetahui makhluk ini.

“Seekor ... Seekor naga?!”

“Maha-Maharaja Iblis?!” Harissa dan aku berteriak pada saat bersamaan.

Maharaja Iblis, naga hijau yang bersisik, menyipitkan matanya pada kami, tampak kesal.

“Apa yang sedang terjadi? Aku belum pernah melihat mayat busuk dengan tubuh bersih begitu.”

“M-Mayat b-b-b-busuk adalah m-m-m-monster!”

Makasih penjelasannya, Harissa, tapi bukan itu yang ingin kuketahui sekarang. Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi.

Biasanya, aku meminta R menjelaskan. Sudah berapa kali aku melakukannya hari ini? “Harissa memasukkan koordinat ke pusat pulau itu, kan? Jika kastil Maharaja Iblis berada di pusat pulau, apakah kau mengira kau teleport tepat ke kamar tidurnya?”

Gah! Bagaimana aku bisa begitu tepat? Tidak, bagaimana aku bisa beruntung?

“Kerja bagus. Kau mendapat jackpot. Saatnya pergi, Rekka.”

“Diam!” Tapi berteriak pada R tidak akan membuat situasi ini lebih baik sama sekali.

Aku berdiri di antara Harissa dan sang Maharaja Iblis, dan berbalik menghadapnya. Apa rencanaku? Aku tidak punya rencana! Maharaja Iblis menggaruk rahangnya dengan jari yang lebih tebal dari tubuhku saat dia menatap kami dalam kebingungan.

“Gadis itu memanggilmu pahlawan. Tapi penghalangnya tidak rusak ...”

“I-Itu benar! Aku bukan pahlawan!” Aku mengangguk panik saat mencoba bicara dengan Maharaja Iblis.

“Tapi kalau kau bukan pahlawan, lalu siapa kau?”

“A ... Aku tidak tahu?”

“Aku tidak suka membuang-buang waktu dengan pertanyaan bodoh.”

“A ... Aku hanya tersesat!”

“Kubilang, aku tidak suka membuang-buang waktu.” Setiap kali sang Maharaja Iblis membuka mulutnya, ruangan itu bergetar dan lantai batu bergetar. Begitulah besarnya dia. Tidak mungkin aku bisa mengajaknya bertarung.


Aku panik, dan aku mengalami kesulitan memikirkan hal-hal yang perlu dikatakan. Aku tidak bisa menemukan kebohongan bagus untuk menyingkirkan diriku dari ini! Kalau terus begini, itu akan menjadi game over sebelum aku bisa melakukan apapun.

Ini gawat. Tenanglah, Rekka! Temukan jalan keluar dari ini! Aku menepuk-nepuk tubuhku, mencari jalan keluar dari ini.

Lalu jariku menyentuh sesuatu di ikat pinggangku. Ini ...

“B-Baiklah ... aku akan mengatakan yang sebenarnya.” Aku mengumpulkan semua keberanian dan menguatkan diriku untuk apa yang harus kulakukan.

“Oh? Dan apa itu?” Aku menarik pistol laser dari ikat pinggangku dan segera menembaknya.

“MATI SANA!”

“Apa?! GWAAAAAH!” Maharaja Iblis pasti sudah lengah, karena serangan mendadak yang buruk bikin dia mati.

“A-A-Apa-apaan itu?” Tunggu, sinar laser itu besar sekali! Ini bukan pistol laser, ini meriam laser! Semburan cahaya destruktif mengalir ke arah Maharaja Iblis dan menelan separuh bagian atas tubuhnya.

Dan setelah cahaya itu hilang ... aku melihat sebuah lubang di dinding yang mengarah ke luar kastil, dan abu hitam itulah yang tersisa dari tubuh bagian atas Maharaja Iblis.

Y-Yah, itu curang, mungkin, tapi kalau Maharaja Iblis sudah tewas, hanya itu yang penting, bukan?

Aku tidak sepenuhnya puas, tapi Harissa menatapku penuh semangat, dengan bintang di matanya.

“W-W-Wow! Kupikir seni sihir cahaya telah hilang berabad-abad yang lalu! Kau sungguh pahlawan legenda, Tuan Rekka!”

“Um, baiklah ... mungkin ...” Itu bukan sihir, tapi kurasa aku tidak perlu memberitahunya hal itu.

Lagi pula, jika Maharaja Iblis sudah tewas, sudah waktunya pulang. Masih banyak yang harus kulakukan.

“Hahahah ... hebat, pahlawan!” Lalu, aku mendengar suara bariton lain bergema di ruangan itu.

“Ma-Maharaja Iblis?!”

“Umat manusia menciptakan sihir cahaya untuk mengalahkanku. Aku heran ada orang yang tahu cara menggunakannya.” Aku bisa mendengar suara Maharaja Iblis dengan jelas. Yang berarti aku tidak membayangkannya. Maharaja Iblis masih hidup.

“Tapi kekuatanku jauh lebih besar dari ini!” Bagian bawah tubuh Maharaja Iblis mulai bergetar dan gemetar. Abu di atasnya meniup, dan tubuh bagian atas yang baru terbentuk. Sekarang dia memiliki empat mata, dengan pupil kecil mengeluarkan cahaya jahat. Lengannya terbelah menjadi dua di siku, dan sekarang ada dua kali lebih banyak lengan dan cakar besar. Sisanya yang baru tumbuh berubah dari hijau menjadi emas. Sisik tua di bagian bawah tubuhnya terjatuh, dan warnanya sama dengan jambulnya.

“Hei ... Harissa ... apa itu?”

“A ... A... Aku tidak tahu. Catatan tidak mengatakan apapun tentang ini!” Harissa jatuh di tanah lagi.

“Apa menurutmu aku tidak melakukan apapun selama berabad-abad aku disegel?” Naga emas itu tertawa terbahak-bahak. Aku bisa melihat taring tajam selagi mulutnya terbuka.

“Serangan kalian tidak bisa menyentuh bentuk keduaku.”

“Apa?! Serius?!” Jika itu benar, aku tak bisa apa-apa. Aku beruntung bahkan untuk menang kali pertama.

Maharaja Iblis tersenyum sadis saat melihat keterkejutan kami.

“Ada dua hal dalam pertempuran terakhir yang kuhadapi yang mengalahkanku. Salah satunya adalah sihir cahaya. Yang lainnya adalah Pedang Pahlawan, yang membatalkan sihirku. Tapi setelah bertahun-tahun meneliti, aku berhasil mereplikasi kekuatan Pedang Pahlawan untuk kepentinganku sendiri.”

“T-tapi itu berarti ...” Harissa berteriak putus asa.

“Itu berarti ... apa?!” Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi aku juga berteriak.

Maharaja Iblis menyeringai dengan kejam, taringnya memuncak dari mulutnya.

“Itu berarti sihir cahaya yang baru kau gunakan tidak dapat mempengaruhi bentuk keduaku.”

“T-Tapi kemudian ...” Suara Harissa gemetar, dan sepertinya dia mulai menangis tersedu-sedu.

Jika sihir tidak berhasil, itu berarti penyihir seperti Harissa, dia dan mungkin orang lain di dunia ini — telah kehilangan satu cara untuk melawan Maharaja Iblis.

Tapi bukannya putus asa, aku hanya sedikit penasaran.

“Putus asalah, manusia yang lemah! Berlututlah di hadapan manifestasi kehanc—”

“Rasakan ini!” Aku menarik pelatuk pistol laser sebelum Maharaja Iblis bisa menyelesaikan kalimatnya.

“GYAAAAAAAAAAAAH!” Ada teriakan lagi, sama seperti yang terjadi sebelumnya, saat sang Maharaja Iblis menjadi abu. Ruangan menjadi sunyi sekali lagi.

“Jadi begitu.” Aku mengangguk, yakin akan teoriku sekarang.

“Huh?!” Sesaat kemudian, Harissa menjerit. Dia terkejut sekali.

“Ap-Ap-Ap-Apa yang terjadi? Bagaimana cara kerja sihirmu pada Maharaja Iblis?”

“B-Berhenti menggoncangku. Itu ...” Tepat saat aku mencoba menjelaskan, Maharaja Iblis kembali lagi.

Kali ini, bagian bawahnya berubah menjadi sesuatu seperti centaur, lengan dan kakinya terbelah menjadi empat. Dia lebih dari dua kali setinggi bentuk terakhirnya, dan kepalanya menyentuh langit-langit kamar tidur.

“Apa yang kau lakukan?! Sihir tidak seharusnya bekerja padaku!”

“Simpel. Pistolku bukan sihir. Ini sains.” Sains alien, tepatnya.

“S-Sains?!”

“Sudah mati saja sana!”

“GWAGGGHHHHH!” Aku mulai bosan bicara dengan Maharaja Iblis. Maharaja Iblis biasanya sering mengoceh.

Tapi kemudian dia kembali lagi. “Dengarkan a — GYAAAAAHH!”

“Apakah kau sungguh pah — UGWAAAHH!”

“Maukah kau — GWWWAAAHHHH!”

Menyerah saja. Keparat.

“Berapa banyak bentuk yang kau punya?”

“Jangan mengira kau bisa mengalahkanku! Dengan setiap transformasi, kekuatanku tumbuh! Dan aku masih punya dua lagi!”

“Jadi aku menarik pelatuk dua kali lagi. Mengerti.”

“Tu — GOOWAAAHAHH!”

Jadi Maharaja Iblis ambruk ke tanah, dibakar sampai kehitaman. Dia tidak berbohong soal memperkuat. Pada saat aku menghabiskan bentuk terakhirnya, bukannya berubah menjadi abu, dia berubah menjadi daging naga bakar. Baunya lumayan enak juga.

Ada saat canggung. Tentu, jika kau sudah dewasa mendengar cerita tentang pahlawan legendaris, melihat mengalahkan Maharaja Iblis seperti ini mungkin cukup untuk menghancurkan mimpimu. Tapi setidaknya aku mengalahkan makhluk itu, kan? Benar, kan?

Aku telah belajar sesuatu dari ini juga. Jika aku hanya terjebak di dalam cerita Harissa, mungkin aku akan mengambil Pedang Pahlawan dan melakukan perjalanan untuk mengalahkan Maharaja Iblis. Aku akan pergi ke kedai minum untuk merekrut sekutu, dan mengangkat pedang dan keterampilan sihirku melawan monster sebelum akhirnya melawan Maharaja Iblis. Tapi jika aku melakukan itu, aku akan kesusahan untuk menangani bentuk kedua si Maharaja Iblis, karena sihir tidak akan berhasil.

Sebagai gantinya, aku sempat terperangkap dalam tiga cerita sekaligus. Dan itu berarti tidak perlu lagi memperhatikan peraturan dari satu cerita tertentu. Itu bisa membantu saat aku berurusan dengan cerita Satsuki dan Iris. Aku memastikan untuk mengingatnya.

“Jadi ... yeah, tidak ada gunanya menunggu di sini selamanya. Mari kembali ke kastil.”

“B-Benar ...” Harissa mengangguk, tapi sepertinya dia merasa tidak puas dengan fakta bahwa kekuatan sains aneh itu gampang mengalahkan Maharaja Iblis.


Kami warp kembali ke ruang belajar kastil.

“Oke, kirim aku kembali ke duniaku.”

“Sekarang?!”

“Ya.”

Sudah kubilang, tapi aku tidak punya waktu untuk disia-siakan. Untuk kembali ke dunia lamaku, aku membutuhkan orang yang memanggilku ke sini, dengan kata lain, Harissa, untuk melakukan ritual lain untuk mengirimku kembali. Itu sangat sederhana.

“Baiklah, ayo lakukan.”

“Kau sudah mau pergi?”

Yeah, itulah yang kubilang.

Kenapa Harissa tidak mau aku kembali? Pahlawan yang dia panggil, atau paling tidak, orang yang seharusnya menjadi pahlawan, telah mengalahkan Maharaja Iblis. Yang harus dia lakukan sekarang hanyalah memberitahu raja dan menerima pengampunannya. Dia tidak membutuhkanku di sini untuk hal tersebut.

“Pee ...” R menatapku dengan erat sehingga dia sungguh mengucapkan kata “pee”.

Apa yang terjadi padanya?

Untuk saat ini, aku memutuskan untuk mencoba membujuk Harissa. “Kenapa kau tidak mau aku pulang?”

“Baiklah, um ... aku belum memberitahu raja, dan ... jika kita mengalahkan Maharaja Iblis, aku yakin akan ada perayaan. J-Jadi kau perlu berada di sana.”

“Tidak, aku agak curang saat mengalahkan makhluk itu. Aku tidak butuh perayaan. Dan aku ingin segera kembali secepatnya.”

“Ada seseorang yang menunggumu di rumahmu, pahlawan?”

“Hah? Oh iya ...” Aku cukup yakin bahwa Iris dan Satsuki menunggu pertolonganku.

“Jadi begitu ...” Huh? Kenapa Harissa terlihat sangat sedih?

“Demi Tuhan(Yesus) ...” R berguling-guling di udara. Dia tampak seperti ayahku saat dia mencoba membuka tutup yang macet.

“Aku mengerti. Aku akan mengirimmu kembali ke dunia asalmu.”

“Terima kasih banyak.”

“Tapi pertama, tolong ambil ini.” Harissa memberiku sebuah lingkaran yang dijalin dengan erat dari benang merah.

“Gelang merah?”

“Ini adalah magic item yang bernama Benang Merah(Red Thread). Lakukan ini, dan ...” Harissa mengeluarkan benang dari gelang itu dan menyendokkannya di sekeliling jari kelingkingnya. “Benang Merah memiliki kekuatan untuk menghubungkan orang. Jika kau meletakkannya di tubuhmu dan membuat keinginan yang kuat, kau dapat selalu kembali ke Aburaamu.”

“Hmm ...” Jadi itu tiket satu arah ke dunia ini, ya?

“Kenapa kau memberiku ini?”

“Pada akhirnya, aku tidak membantu mengalahkan Maharaja Iblis. Tapi jika kau mengalami masalah di duniamu sendiri, aku ingin membantumu.”

“Kau banyak membantu, Harissa. Jadi jangan khawatir.”

“Apa yang kaubicarakan?!” Teriak Harissa. Mungkin ini pertama kalinya aku melihatnya marah. “Kau tidak tahu betapa bersyukurnya aku padamu! Jika bukan karenamu, aku pasti sudah dieksekusi. Kau melawan Maharaja Iblis saat aku terlalu menyedihkan untuk melakukannya. Kau telah melakukan banyak hal untukku sehingga aku tidak akan pernah bisa membalasnya.”

Aku mengangguk, merasa sedikit terbebani.

Dia pasti sudah menangis karena terlalu banyak berteriak, karena dia menyeka matanya. “Jika kau bermasalah, gunakan Benang Merah. Aku berjanji akan membantumu.”

“Mengerti. Makasih.” Setelah semua itu, aku tidak bisa mengembalikannya lagi padanya. Jadi aku mengambil gelang itu dan berterima kasih padanya.

Harissa menggambar lingkaran sihir yang rumit yang dibutuhkan untuk mengantarku pulang di lantai ruang belajar. Aku tidak tahu apa arti pola di pusat, tapi cukup besar bagi satu orang untuk berdiri.

“Ini jauh lebih kecil dari yang terakhir, huh?”

“Memanggil seseorang itu sulit, tapi mengirim kembali itu mudah.”


“Hmm ... lalu bagian terpenting dari seorang pemanggil adalah bagian pemanggilan, kalau begitu.” Aku memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepadanya yang telah kupikirkan. “Hei, Harissa, apakah kau yakin kau sebenarnya bukan penyihir yang benar-benar hebat?”

“H-Huh? T-tidak mungkin! Aku orang gagal ...”

“Tapi jika ritual saat kau memanggilku adalah rahasia keluarga kerajaan, itu pasti sangat rumit, bukan?”

“Yah begitulah ...”

“Tuh kan? Kau mungkin benar-benar hebat dalam memanggil roh atau apalah. Membuat roh mematuhimu setelah kau memanggilnya itu sulit dan mengintimidasi, bukan? Maksudku, aku tidak tahu apa-apa soal hal itu, tapi ... kupikir kau kurang percaya diri.”

“Percaya diri?”

“Ya. Kau adalah satu-satunya penyihir di dalam party yang mengalahkan Maharaja Iblis. Mulai sekarang, percaya dirilah, dan berhentilah memikirkan dirimu sebagai orang gagal.” Hmm ... kenapa aku memutuskan untuk menceramahi dia seperti ini? Aku ingin tahu, tapi aku memang tahu jawabannya.

Alasan sebenarnya aku memutuskan untuk mengalahkan Maharaja Iblis adalah karena aku ingin dia bisa bertarung. Aku ingin dia memiliki keberanian untuk percaya bahwa dia bisa bahagia, dan untuk bertarung, bukan hanya menyerah pada segala hal dan berpikir bahwa dia pantas menderita. Jika dia tidak bisa melakukan itu, dia tidak akan pernah bisa menjalani kehidupan normal.

Aku ingin dia menemukan kebahagiaan, bukannya menyerah. Apakah itu hanya aku yang pamer? Yah, mungkin tidak masalah. Bukannya aku akan menemuinya lagi. Tidak masalah jika aku agak memalukan sebelum aku mengucapkan selamat tinggal.

Lingkaran pengiriman penuh dengan cahaya — dan sesaat sebelum aku kembali, kupikir aku mendengarnya berbisik, “Kuharap aku dapat menemuimu lagi suatu hari nanti, pahlawanku.”
Load comments