Little Mokushiroku v1 5

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

Ketika aku meminta Satsuki mengumpulkan informasi yang aku butuhkan, ada tempat yang harus aku kunjungi.

“Aku tidak berharap akan kembali begitu cepat.” Aku melihat benang merah di pergelangan tanganku. Jika aku berharap cukup saat memakainya, aku bisa kembali ke dunia Harissa.

Arlojiku berada di pukul enam lebih sedikit. Cuma ada enam jam lagi sampai serangan meteor. Jika aku menginginkan rencanaku bekerja, aku perlu mendapatkan barang tertentu dari dunianya.

Aku minta Iris menunjukkan padaku ke halaman sehingga aku bisa menggunakan benang merah.

“Baiklah, waktunya pergi.”

“Ya, mari.”

Untuk suatu alasan, Iris membungkus tubuhnya di lenganku. Dia tampak bersemangat.

“Iris, kalau kau terus menempel padaku seperti itu, kau akan terseret ke dunia lain.”

“Itulah kenapa aku melakukannya.”

“Aku tidak pergi ke sana main-main.”

Dia membawa tas mewahnya di pundaknya, dan sepertinya berpikir dia akan melakukan perjalanan kecil. Aku mencoba membuatnya menunggu di sini, tapi dia malah marah.

“Kau sudah mengalahkan Maharaja Iblis, kan? Jadi ini akan baik-baik saja. Aku sudah meminta ayah memberi semua alatku kembali. Kedengarannya menyenangkan! Dan aku pasti tidak membiarkanmu meninggalkanku lagi!” Dia menekan dirinya terhadapku lagi.

P-Payudaranya! Aku tidak yakin bagaimana menangani perasaan lembut di lengan atasku, tapi aku senang melihat dia merasa lebih baik. Aku tidak menyangka ini berbahaya, jadi aku kira tidak ada ruginya untuk membawanya.

“Baik. Aku akan membawamu, jadi turunkan aku sedikit.”

“Pecundang,” kata R.

Aku ingin berteriak padanya untuk menyingkirkan dada ratanya.

Tapi sebaliknya, aku mengabaikannya, meraih tangan Iris, dan membuat permohonan pada benang merah. “Bawa aku ke Harissa.”

Gelang itu mulai bersinar. Dan kemudian seberkas sinar merah — benang merah, persis seperti namanya — menjulur ke udara dan membentuk lingkaran dengan radius satu meter. Aku bisa melihat apa yang tampaknya seperti api menari di sisi lain. Pembukaan merah langsung menelan kami.


Ketika aku membuka mata, aku kembali ke kastil di Aburaamu. Benang merah berjumbai dan jatuh dari lenganku. Terbukti, itu hanya bisa digunakan satu kali.

“Wow... Itu terasa sangat berbeda dengan warp, ya?” Iris tampak terkesan. Dia menatap dinding batu di sekelilingnya, matanya bersinar dengan rasa ingin tahu.

“P-Pahlawan?!” Aku mendengar suara di belakangku.

“Apa kau si juru masak?”

Aku berbalik dan melihat si juru masak tua yang mengkhawatirkan Harissa. Dia berkedip karena terkejut pada kedatangan kami yang tiba-tiba.

“Hah?” Akucyakin itu akan membawaku langsung ke Harissa. Yah, aku kira aku bisa bertanya. “Permisi. Apa kau tahu di mana Harissa berada?”

“Dia pergi.”

Aku tidak mengharapkan jawaban yang kudapatkan.

“Hah? Kenapa?”

Ekspresinya semakin tegas setelah aku menanyakan pertanyaan itu. “Karena kau!”

“Aku?”

“Karena kau palsu! Mereka bilang Harissa pembohong, dan mereka akan mengeksekusinya!” Bahunya gemetar karena marah. Tapi kemarahannya dengan cepat berubah menjadi kesedihan, dan dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis. “Itu salahmu! Itu salahmu!”

“Mengapa mereka mengatakan bahwa Harissa adalah pembohong? Tolong beritahu aku!” Harissa dan aku telah mengalahkan «Maharaja Iblis». Aku pikir aku telah membawa cerita Harissa ke ujungnya.

Tapi ketika aku mendengar apa yang mau dia katakan, aku menyadari betapa bodohnya aku. “Aku tidak menarik Pahlawan Pedang, jadi mereka menolak menerima aku sebagai pahlawan?” Itulah yang terjadi.

Arloji warp telah berfungsi, sehingga kami berdua pergi ke kastil Maharaja Iblis dan mengalahkannya tanpa ada yang tahu. Hanya butuh waktu dua jam lebih sedikit. Bagaimanapun juga, tidak ada yang akan percaya bahwa itu terjadi kecuali mereka ada di sana. Dan yang lebih buruk lagi, aku belum menarik Pedang Pahlawan untuk membuktikan bahwa aku adalah pahlawan.

Harissa telah memanggil seorang bocah yang tampak normal sepertiku, dan aku menghilang dari kastil hanya dalam dua jam. Dan Pedang Pahlawan masih ada di mimbarnya juga. Apa yang akan terjadi?

“Mereka semua mengira kau ketakutan, berbalik, dan lari!” Tentu saja. Semua orang akan memikirkan itu.

Dan karena Harissa gagal memanggil pahlawan, dia akan dieksekusi, seperti yang direncanakan semula.

“Dia terus mengatakan kau adalah pahlawan sejati sampai akhir. Tapi tidak ada yang percaya, jadi dia memberiku benang merah ini sebelum mereka membawanya ke tempat eksekusi.”

“Sial!” Aku sudah tergesa-gesa, aku lupa menjelaskan sesuatu kepada raja dan bawahannya!

“Tunggu, Rekka! Kemana kau pergi?” Aku menggoyangkan tangan Iris dari lengan bajuku.

“Aku harus menyelamatkan Harissa!”

“Tapi mereka semua berpikir kau lari, kan? Kalau kau pergi sekarang dan mengatakan kau mengalahkan Maharaja Iblis, mereka tidak akan mempercayaimu, kan?”

Aku membeku seperti seseorang telah mencucurkan air dingin ke kepalaku. Dia benar. Sekarang mereka mengira aku pembohong, mereka tidak akan percaya tanpa bukti.

Tenang! Berpikir. Pikirkan tentang apa yang harus kau lakukan. Hal pertama yang aku butuhkan adalah membuktikan bahwa aku adalah seorang pahlawan. Yang lainnya membuktikan bahwa aku telah mengalahkan Maharaja Iblis. Aku membutuhkan yang terakhir masalahnya, dan jika aku akan mendapatkannya, aku harus pergi ke kastil Maharaja Iblis.

“Sial! Aku lupa arloji warp!” Armada Pertahanan Diri telah mengambil semua barangku ketika aku tiba di Owaria. Aku mulai panik ketika Iris menjulurkan pundakku.

“Aku punya arloji warp.”

“Hah? Sungguh?!” Aku tidak melihat apapun di pergelangan tangannya.

“Semua alatku ada di sini.” Dia mengambil arloji dari tasnya. “Tas ini menggunakan teknologi lubang cacing(wormhole), sehingga bisa menampung apa saja. Aku punya pistol laser untukmu dan aku di sini juga. Aku juga punya camilan, minuman, sampo, dan pakaian ganti.”

Lubang cacing menghubungkan dua titik di angkasa, bukan? Dugaanku adalah bahwa apapun yang dimasukkan ke dalam tas dikirim ke tempat lain, di mana itu bisa diambil kapan saja dia menginginkannya. Teknologi alien itu luar biasa.

Aku mengambil arloji warp dan berkata terima kasih kepada Iris. Oke, sekarang aku punya cara untuk mencapai kastil Maharaja Iblis.

“Baiklah, ayo kita ambil Pedang Pahlawan lebih dulu! Nyonya, bisakah kau membawa kami ke ruang bawah tanah tempat Pedang Pahlawan disegel?”

“Hah? Aku ... Aku kira.” Dia mengangguk cepat-cepat.

“Terima kasih. Ayo cepat!”

Si juru masak membawa kami ke ruang bawah tanah kastil. Pedang Pahlawan disimpan di ruangan yang sangat kecil, hanya sekitar dua meter ke samping. Di tengahnya ada mimbar yang sepertinya diukir dari batu yang kokoh, dan ada pedang dua tangan yang terkubur di dalamnya.

“Ini adalah Pedang Pahlawan?”

“Betul. Ribuan orang telah mencoba untuk menariknya, tapi tidak ada yang bisa.”

Karena tidak ada yang bisa menarik pedang, mereka bahkan tidak menempatkan penjaga di depan ruangan. Itu berarti bahwa semua yang harus kami lakukan untuk masuk adalah menggunakan pistol laser untuk meledakkan kunci. Oke, saatnya untuk mengeluarkan benda ini dan pergi ke kastil Maharaja Iblis.

Aku meraih gagangnya dan menariknya ... dan itu tidak akan tertarik! “Apa?” Selanjutnya, aku mencoba menariknya dengan kedua tangan.

“Fnnnggghh!” Ini bergerak sedikit, tapi itu tetap tidak akan keluar.

Hah? Apa yang sedang terjadi di sini?

“K-Kau benar-benar palsu!” Si juru masak menangis tersedu-sedu.

Tunggu sebentar. Aku mungkin orang normal, tapi aku dipanggil ke sini untuk menyelamatkan dunia. Bukankah seharusnya aku bisa mencabut pedang? Aku melakukan apa yang selalu kulakukan ketika saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan berbalik pada R untuk meminta bantuan.

“Hmm? Aku belum yakin. Mungkin karena kau memperbanyak banyak cerita pada saat yang bersamaan?”

Tunggu. Jadi karena aku bukan pahlawan dari cerita ini sendirian, aku tidak cukup memiliki hak untuk mencabut pedangnya? Ataukah itu karena aku bukan pahlawan sejati, dan hanya figuran mereka? Ini bukan bagian dari rencana, dan itu adalah berita buruk.

Dalam kasus terburuk, bisakah aku membawa bukti bahwa aku telah mengalahkan Maharaja Iblis ke tempat eksekusi? Tidak, jika mereka bilang itu palsu, aku akan berakhir. Maharaja Iblis tidak meninggalkan kastilnya sejak dia hidup kembali, dan tak seorang pun di Aburaamu telah melihatnya. Kau akan berpikir siapa saja yang melihat naga besar itu akan diyakinkan, tapi karena mereka mengira aku adalah pembohong, mereka mungkin akan curiga. Jika aku akan meyakinkan mereka, aku harus menjadi pahlawan.

“Kapan Pedang Pahlawan disegel, dan kenapa?” Jika aku ingin keluar, aku membutuhkan informasi, dan aku membutuhkannya dengan cepat.

“Yah, itu disegel oleh Pahlawan Legendaris untuk ketika Maharaja Iblis dihidupkan kembali.” Si juru masak tua itu masih terisak-isak selagi dia berbicara, dengan ingus di wajahnya.

“Dia bisa saja melemparkannya ke peti harta karun di suatu tempat. Kenapa dia meletakkannya di batu karang ini?”

“Entahlah. Mungkin untuk mencegah orang menggunakannya untuk kejahatan?”

Itu tidak membantuku. Apa ini berakhir? Aku membutuhkan Pedang Pahlawan untuk menghentikan meteor juga! Jika saja Pahlawan Legendaris tidak memasang segel ini ... tunggu. Segel?

“Hei, jika ini disegel, apakah itu berarti pedang ini terjebak di sini dengan sihir?”

“Tentu saja. Jika hanya terjebak di sana sendiri, orang kuat bisa mencabutnya.”

Alasan aku tidak bisa mencabut pedang yakni aku bertindak sebagai protagonis dari banyak cerita. Itu berarti aku tidak punya hak untuk menjadi pahlawan, jadi segel itu menghentikan aku untuk mencabutnya.

Tapi aku lupa sesuatu yang penting. Itu adalah salah satu kelebihanku. Tidak perlu mematahkan segel pada pedang sihir.

Aku hanya perlu mendapatkan pedang itu sendiri. Aku punya barang-barang berteknologi tinggi yang dibawa Iris dari Finerita. Meninggalkan. Pindah. Teleport. Alat apa yang bisa melakukan itu?

“Iris, letakkan koordinat ke arloji warp.”

Aku menawarkan tangannya yang mengenakan arloji warp, dan dengan tanganku yang lain, aku mengambil Pedang Pahlawan.

“Apa yang harus kumasukkan?”

“Aku hanya perlu bergerak sekitar satu meter.”

“Mengerti.” Iris memasukkan koordinat dalam waktu kurang dari satu detik.

“Entri Koordinat dikonfirmasi. Sepuluh detik untuk warp. Sembilan. Delapan. Tujuh ...” Suara elektronik mulai menghitung mundur. Rasanya seperti butuh selamanya, dan aku menendang lantai dengan frustrasi.

Rasanya bagaikan keabadian, tapi setelah sepuluh detik aku warp. Karena aku hanya pindah satu meter, aku masih di dalam ruangan. Tapi sekarang, Pedang Pahlawan ada di tanganku.

Yes!” Iris bilang di atas pesawat luar angkasanya bahwa arloji warp bisa mengangkut apa saja yang bawa. Pilar diukir dari tanah, jadi itu adalah bagian dari tanah. Jadi, aku warp hanya dengan membawa Pedang Pahlawan.

“Ap-Ap-Apa yang terjadi?!” Si juru masak tampak sangat bingung, tapi aku tidak punya waktu untuk menjelaskan.

“Iris, hal berikutnya yang ingin kulakukan adalah pergi ke kastil Maharaja Iblis.”

“Aku bisa menghitung secepat itu, jika aku punya peta dunia ini.”

“Kalau begitu ayo pergi ke ruang belajar. Cepat!” Aku berlari keluar dari ruangan, membawa Pedang Pahlawan, tapi sebelum aku melakukannya, aku berkata, “Nyonya, aku berjanji akan menyelamatkan Harissa!” Dan kemudian aku berlari ke puncak menara barat tempat penelitian itu.


Pada saat aku kembali dari kastil Maharaja Iblis, Harissa akan dieksekusi.

Dia berlutut di mimbar eksekusi, lengan dan kepalanya terkunci di pasung. Dia tampak lelah. Di belakangnya, algojo berdiri diam. Sekelompok idiot berkumpul di alun-alun untuk menyaksikan eksekusi.

Itu terlalu penuh bagiku untuk melaluinya sendiri, tapi Iris membuat jalan dengan mengangkat orang dan membuang mereka ke samping, jadi aku bisa berlari lurus ke mimbar. Di belakang mimbar adalah balkon kastil. Salah satu menteri ada di sana, membaca sesuatu dari sebuah gulungan. Dia mungkin sedang membaca daftar kejahatan Harissa. Ketika selesai, algojo akan membawa kapak di lehernya.

Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku pikir aku telah mengakhiri kesengsaraan Harissa dan ceritanya. Dia seharusnya bahagia sekarang. Aku takkan membiarkannya berakhir seperti ini!

Sang menteri menggulung gulungan itu dan mengirim sinyal kepada pria di mimbar.

Dia mengambil kapaknya yang besar dan pindah ke sampingnya. Itu tidak terlihat sangat tajam, dan bilahnya ditutupi goresan, tapi beratnya saja sudah cukup untuk memastikannya menembus lehernya yang tipis.

“Tunggu!” Aku berteriak, tapi suaraku terhapus oleh raungan kerumunan.

Dia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Aku berteriak lagi, tapi tidak ada yang bisa mendengarku. Sial! Keparat!

Harissa, semangat! Kenapa kau hanya duduk di sana?! Aku tahu dia cengeng, tapi dia tidak menangis. Tak ada ekspresi di wajahnya sama sekali.

Itu adalah wajah seseorang yang menyerah dalam segala hal. Dia memejamkan mata, seolah-olah mengantisipasi kematian yang akan datang. Si idiot itu!

“Aku bilang, jangan menyerah!”

Klang!

Gah! Berat sekali! Kapak itu sangat berat! Aku beruntung aku berhasil memblokirnya tanpa pedangku patah. Itulah yang kuinginkan dari Pedang Pahlawan.

Tapi algojo bertopeng tidak menunjukkan tanda-tanda keraguan. Dia mengangkat kapak lagi. Saat itulah Iris melompat masuk.

“Kau pikir kau mau apa pada Rekka-ku?!”

Dia memberinya tendangan melompat kejam! Dia mungkin seorang perempuan, tapi dia memiliki kekuatan beberapa kali penduduk Bumi. Tendangannya mengempaskan si aljogo dari mimbar.

“Pahlawan?” Harissa menatapku, seolah-olah dia tidak bisa mempercayai matanya.

Aku ingin menyapa, tapi pertama-tama, aku harus berurusan dengan semua prajurit yang mengelilingiku. Mereka adalah prioritas pertamaku. Aku melihat ke arah sang raja dan para menteri lainnya di balkon.

“Hei, raja, kau tahu pedang apa ini, kan?!”

Aku mengangkat Pedang Pahlawan yang baru saja aku gunakan untuk memblokir kapak raksasa itu, dan orang-orang di balkon, dan kerumunan juga, mulai berbisik satu sama lain. Terbukti, Pedang Pahlawan seperti legenda pahlawan, dan semua orang tahu itu.

Itu membuat ini lebih mudah. Rencana pertamaku adalah membujuk raja bahwa aku adalah pahlawan, tapi akan lebih baik hanya menghasut rakyat.

“Akulah sang pahlawan, yang dipilih oleh Pedang Pahlawan! Aku dipanggil ke sini oleh penyihir hebat Harissa Hope, dan aku baru saja datang dari kastil Maharaja Iblis, tempat aku bertarung untuk menyelamatkan orang-orang dari dunia ini!”

Kerumunan semakin nyaring. Pahlawan itu muncul, pergi ke kastil Maharaja, dan kembali ... Aku bisa melihat harapan di mata mereka.

“Jangan tertipu, wargaku!” Salah satu menteri di balkon berteriak.

Itu adalah pria tua yang meragukan bahwa aku adalah pahlawan pertama kali aku datang ke sini. Dia memiliki kumis dan janggut, jadi mudah untuk mengenalinya.

“Bocah itu baru saja dipanggil di sini pagi ini! Kalaupun dia adalah pahlawan, dia tak bisa sampai di sana dan kembali dalam waktu yang singkat!”

Biasanya, dia ada benarnya.

“Diam, Kumis! Aku adalah pahlawan! Aku bisa melakukan apapun yang aku mau!” Tapi aku baru saja balas berteriak padanya.

Jika aku punya lebih banyak waktu, aku bisa memberi tahu dia tentang teknologi yang kugunakan, tapi sama seperti sebelumnya, waktu hampir habis. Itu sebabnya aku butuh bukti, dan aku membutuhkannya sekarang.

“Iris, bawa keluar.”

“Serahkan padaku!” Dia membuka tasnya dan mengarahkannya ke arah di mana tidak ada yang berdiri.

Terdengar bunyi bedebum besar, dan seluruh alun-alun berguncang. Keluar dari lubang cacing muncul kepala naga panggang. Itu lebih besar dari pria dewasa, dan pemandangan yang mengesankan. Kalaupun kau tidak pernah benar-benar melihat Maharaja Iblis, kau pasti akan percaya bahwa ini adalah kepalanya.


Warga di alun-alun lupa bahkan untuk panik. Mereka semua melihat kepala Maharaja Iblis dengan syok. Orang yang membawa mereka ini adalah orang yang menarik pedang dari batu itu. Tidak ada yang menunjukkan bahwa tidak ada bukti bahwa ini adalah kepala sang Maharaja.

Aku berpikir bahwa pria berkumis mungkin mencoba mengeluh lagi, tapi aku telah memotong penghalang di sekitar kastil Maharaja Iblis ketika aku tengah menguji pedang. Tanpa penghalang, siapapun bisa masuk ke dalam kastil, tempat mereka akan menemukan sisa tubuh yang terbakar. Maka tidak ada yang bisa memanggil Harissa pembohong.

Aku mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, dan matahari bersinar dari pedang itu. “Aku telah mengalahkan Maharaja Iblis! Tidak perlu lagi takut akan iblis-iblisnya!”

Beberapa detik kemudian sorak-sorai dimulai.


Kami keluar dari alun-alun sebelum kami dikelilingi oleh warga yang bersorak-sorai. Harissa mengalami kesulitan berjalan, jadi aku menggendongnya di pelukanku. Pertama, kami pindah ke tempat kosong, dan kemudian kami bertemu dengan si juru masak tua.

“Harissa! Aku sangat senang ...”

“Nyonya ...”

Harissa meraih koki tua yang sedang menangis itu, dan mereka berdua bergembira dalam keselamatannya.

Aku menghela napas lega. Aku berhasil melepaskannya.

“Aku minta maaf karena meragukanmu, Pahlawan.” Si juru masak tua itu meminta maaf saat dia menangis.

“Tidak apa-apa. Aku hanya senang Harissa selamat.”

“T-T-Terima kasih, Pahlawan!” Harissa berterima kasih kepadaku dengan air mata mengalir di wajahnya. Noda gelap terbentuk di jubah tahanannya yang tipis.

“Hei, jangan menangis,” aku menggodanya.

“Ketika aku di depanmu, aku selalu berkeringat dan menangis!” Dia tersenyum, hanya sedikit, dan menyeka air matanya dengan lengan bajunya. “Kau menyelamatkan aku lagi, Pahlawan.”

“Jangan cemas soal itu.”

“Tapi tapi ... aku bilang bahwa aku akan menyelamatkanmu kali ini!”

“Harissa ... kalau kau benar-benar ingin membalasku, maukah kau ikut denganku ke Bumi?”

“Bumi?”

“Dunia asalku. Ini dalam bahaya besar sekarang, dan aku butuh bantuanmu untuk menyelamatkannya.” Rasanya aku sedikit mengambil keuntungan darinya, tapi aku benar-benar membutuhkan bantuannya.

“Kau benar-benar membutuhkanku?”

“Ya, tentu!”

“Baik!” Dia mengusap matanya dengan lengan bajunya, dan tersenyum dengan wajah merah.

“Aku akan melakukan apapun untuk membantumu! Tolong, biarkan aku membantu menyelamatkan Bumi-mu!”

“Makasih! Pertama, ayo pakai pakaian dan tongkatmu.”

Sekarang aku memiliki kartu yang kubutuhkan. Sudah waktunya untuk permainan terbesar dalam hidupku.
Load comments