Unlimited Project Works

31 Desember, 2018

Little Mokushiroku v1 Epilog-Prolog 2

on  
In  

diterjemahkan oleh setia-kun
“Jadi apa rencananya?” Kata R.

“Mana aku tahu,” ucapku, mukaku menghadap mejaku.

Hariku yang panjang dan sibuk pun berakhir, dan aku kembali menjadi murid SMA biasa, tapi sekarang aku punya masalah lain. Itu dimulai tepat setelah Iris memberi kami tumpangan kembali ke Bumi dengan pesawat luar angkasanya dan menurunkan kami.


“Aah! Tunggu, bagaimana aku bisa kembali ke Aburaamu?!” Harissa adalah yang pertama berteriak.

“Gunakan saja mantra yang sama yang kau gunakan untuk membawa kita ke sini.”

“Aku tahu cara memanggil dan mengirim seseorang kembali ke Bumi, tapi aku tidak tahu cara membuka saluran dunia dari sisi ini!”

“Ap- Apa?!” Sejujurnya, aku tidak tahu apa bedanya, tapi jika dia mengatakan demikian, dia mungkin benar. Itu masalah, kalau begitu.

“Benang merahku hilang ... apa kau punya cadangan?”

“Ya, tapi kau tidak bisa menggunakannya tanpa seseorang yang membantu ...”

“Jadi begitu ...” Apa yang harus kita lakukan? Kalau begini terus, Harissa tidak akan bisa pulang ke rumah.

“Harissa yang malang, ya? Dia tidak punya tempat tinggal di sini, dan tentu saja, tidak ada uang. Kira-kira dia bakal mati di jalanan, ya?” R berbisik di telingaku.

Aku perlu mencari cara untuk membawanya pulang, tapi sebelum itu, aku perlu memastikan dia baik-baik saja. “Harissa, apakah kau ingin tinggal di rumahku sampai kita menemukan cara untuk mengembalikanmu ke Aburaamu?”

“Hah? Boleh?” Harissa tiba-tiba tersentak, seolah-olah sesuatu yang sangat mengasyikkan telah terjadi.

“Hei!”

“Rekka!”

Entah kenapa, Iris dan Satsuki memelototiku, tapi Harissa tidak mendengar keduanya. Dia meraih kemejaku dan memintaku lagi dan lagi jika itu benar-benar tak masalah. Kalau begini terus, dia bakal merusak bajuku.

“Tentu saja tidak apa-apa. Akulah yang memintamu untuk datang. Jadi tentu saja aku akan bertanggung jawab untuk itu.”

“T-Tanggung Jawab!” Pipi Harissa berubah merah. Aku tidak tahu mengapa kata itu mengubahnya menjadi tomat sampai ke telinganya, tapi setidaknya itu tidak membuatnya kesal.

Dan untuk suatu alasan, kedua gadis di belakangku semakin kesal.

“Apa? Aku tidak membiarkan itu terjadi!” Kata Iris.

“Aku juga tidak. Aku tidak bisa membiarkan teman masa kecilku berubah menjadi lolicon,” kata Satsuki.


“Siapa yang kamu sebut lolicon?” Aku berteriak.

“Harissa jelas lebih muda darimu.”

“Aku berusia tiga belas tahun! Aku bisa menikah kapanpun aku mau! “ Harissa berkata dengan gembira.

Aku kira usia nikah di Aburaamu adalah tiga belas tahun. Tapi tunggu ... Bukan itu yang kami bicarakan!

“Betul! Harissa bisa tinggal di rumahku.” Satsuki memberikan saran yang bagus.

“Itu dia!” Aku setuju.

Tapi ...

“Gak! Aku mau tinggal dengan Tuan Rekka!” Gagasannya pun ditolak oleh oposisi Harissa yang ganas.

“Aku juga harus tinggal dengan Rekka!”

“Apa yang kaubicarakan?!”

Iris mulai bertingkah aneh di tengah-tengahnya, dan kami tidak pernah sampai pada kesimpulan yang bagus.

“Tidak ada pilihan yang lebih baik, oke? Harissa tidak punya tempat untuk pergi. Satsuki membuat orangtuanya berpikir, tapi aku hidup sendiri. Jadi lebih masuk akal baginya untuk berbicara denganku.”

“Betul!”

“...”

“...”

Hanya Harissa yang tampak senang tentang itu. Dua lainnya tampak jijik.

“Aku bersumpah aku tidak akan melakukan hal aneh, oke?” Bukannya aku punya petunjuk mengapa aku harus bersumpah.

“Asal kita jelas, aku akan datang dan memastikan kau tidak melakukan hal aneh.” Satsuki bersikeras.

“Baik ...” Aku bahkan tidak punya tenaga yang tersisa untuk berdebat.

Dengan masalah Harissa akhirnya terselesaikan, kami mengucapkan salam perpisahan pada Iris.

“Ya ... Sampai jumpa lagi.” Dia mengucapkan selamat tinggal jauh lebih mudah daripada yang kuharapkan, lalu kembali ke pesawat ruang angkasa dan terbang di luar cakrawala. Kalau dipikir-pikir, Iris sudah diam di tengah percakapan, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu. Tapi aku terlalu lelah untuk bertanya-tanya apa itu.

“Baik. Aku akan tidur, Satsuki. Sampai ketemu besok ... atau hari ini, kurasa. Sampai ketemu di sekolah.”

“Ya. Cobalah untuk setidaknya tidur sebentar, oke?” Satsuki dan aku mengucapkan salam perpisahan, dan kami masing-masing menuju ke rumah.

Aku terlalu lelah untuk melakukan hal lain, jadi aku menunjukkan Harissa ke kamar orangtuaku dan kemudian menyelam ke tempat tidur.

Ah, sial ... Aku akan segera tertidur. Aku akan tertidur dalam lima detik.

“Rekka, Rekka.”

“Tolong ... biarkan aku ... tidur.”

R mengatakan sesuatu, tapi aku memukulnya dan menutup mataku.

Aku baru saja memiliki hari terpanjang sepanjang hidupku. Bukan salahku jika aku ketiduran sedikit, dan bukan salahku juga jika aku kembali tidur setelah itu. Dan bukan salahku jika aku terlambat, jadi selamat tidur.

“REKKA! BANGUN!”

“Uwah?!” Tiba-tiba, seseorang merenggut selimutku dan mendorongku keluar dari tempat tidur.

R tidak bisa menyentuh benda-benda fisik, dan Harissa tidak tahu kapan sekolah dimulai, jadi siapa yang membangunkanku? Aku menemukan jawabannya segera setelah aku membuka mata.

“S-Satsuki?”

“Bangun sana. Kau bakal terlambat.” Satsuki berada di kamarku layaknya itu hal yang paling normal di dunia, mengenakan seragam SMA yang tidak dapat kulihat kemarin. Itu membuatnya terlihat lebih dewasa, entah bagaimana.

“Hah? Tidak, tunggu ... kenapa kau ada di kamarku? Bagaimana dengan kunci?”

“Paman Jigen memberiku sebuah kunci. Dia bilang untuk mengawasi anaknya yang keras kepala, jadi dia tidak terlalu lepas kendali saat dia pergi.”

“Pak tua bodoh itu!” Kenapa dia tidak memberitahuku lebih awal?! Bagaimana jika aku lengah dan meninggalkan banyak majalah memalukan yang tergeletak di sekitar kamarku?! Untungnya, aku bisa menghindari itu kali ini, tapi mulai sekarang, aku harus berhati-hati. Terutama karena akan jauh lebih buruk membiarkan teman masa kecilku melihatnya daripada keluargaku.

“Jadi kau tidur di kamar yang berbeda dari Harissa?”

“Tentu saja.”

“Baik. Maka aku tidak perlu menggunakan sihirku.” Sihir apa yang bakal dia gunakan jika aku tidur di kamar yang sama? Ini mungkin lebih buruk daripada tinggal bersama orangtuaku.

“Hahh ...”

“Jangan memulai pagimu dengan mendesah.”

“Salah siapa itu? Oh iya. Apakah orangtuamu kembali?”

“Ya. Mereka baik-baik saja. Keduanya lebih baik dari yang kuharapkan.”

“Aku mengerti. Senang mendengarnya.”

“Ya. Oh ya. Aku bikin sarapan. Panggil Harissa dan kita semua bisa makan sama-sama.”

“Oh itu bagus.” Terpikat oleh janji makanan, aku buru-buru mengganti pakaian jadi seragamku dan turun dengan Harissa.

Aku menaruh pakaiannya di tempat cuci, jadi dia masih mengenakan piyama ibuku yang kupinjamkan padanya kemarin. Piyamanya kebesaran.

“Kami juga perlu membelikanmu pakaian, Harissa.”

“Y-Ywwweaahh ...” Harissa menguap ketika dia berbicara. Mungkin dia mengalami tekanan darah rendah di pagi hari.

Setelah kami berdua mencuci muka di wastafel yang sama, kami berbaris di meja makan. Meja itu dipenuhi dengan nasi, salmon panggang, dan sup miso. Itu sarapan Jepang sungguhan.

“Mari makan!” Kami semua menyatukan tangan kami, dan kemudian mulai menggunakan sumpit kami.

“Astaga, ini lezat sekali, Satsuki. Kau koki yang handal.”

“Ini sangat enak! Aku senang aku datang ke dunia ini!”

“Makasih,” Satsuki menyeringai.

“Aku akan datang dan memasak untukmu mulai sekarang, jadi kalau kau punya permintaan, beritahu aku, oke?”

“Hah? Setiap hari?” Harissa dan aku berkata serempak.

Mata Satsuki menyipit. “Apakah itu masalah?”

“Nggak!”

“Tidak!”

Kami tidak punya pilihan selain patuh. Tetapi untuk sautu alasan, ini tidak terasa seperti akhir.

Dan setelah Satsuki dan aku meninggalkan Harissa dan tiba di kelas kami, aku tahu aku benar.

“Ahem ... saya tahu ini tiba-tiba, tapi saya ingin memperkenalkan murid pindahan.”

“Hai semuanya! Aku Iris!” Iris melangkah keluar dari belakang guru, senyum memesona di wajahnya.

“Baiklah, ayo cari tempat untukmu duduk.”

“Aku ingin duduk di sebelah Rekka!”

“Baiklah, saya kira.”

Hei, guru! Hentikan dia!

Iris bersenandung nada senang saat dia memindahkan kursinya ke sebelah kiriku Satsuki, omong-omong, duduk di sebelah kananku. Dia bermuka yang jauh lebih seram daripada yang dirasakannya pagi ini. Aku ingin lari.

“Senang bertemu denganmu lagi, Rekka.”

“Y-Ya ...”

“Kau juga, Satsuki.”

“... Ya.”

Hei, jangan saling melotot padaku! Kenapa kalian berdua begitu akrab? Aku bisa melihat bunga api terbang di antara kalian.

“Hei, Iris. Kenapa kau masih di Bumi? Bukankah kau kembali ke Planet Finerita?”

“Aku meminta bantuan Ayah, dan dia memberiku berbagai macam barang. Dia berutang budi padaku setelah apa yang terjadi dengan Raja Satamonia, jadi cukup mudah untuk meyakinkan dia untuk membiarkanku pergi ke sekolah di Bumi.”

Aku hanya bisa melihat kerutan di wajahnya ketika dia bertanya padanya. Tapi kenapa datang jauh-jauh ke Bumi? Dia tersipu ketika aku bertanya padanya.

“Aw, kau tahu sebabnya! Aku berlatih untuk menjadi seorang istri! SEORANG I-S-T-R-I!”

“Istri siapa? Dan lepaskan aku!”

“Istrimu, tentu saja! Kau bilang kau jatuh cinta padaku pada pandangan pertama, kan?”

“Itu cuma untuk menyingkirkan Raja Satamonia ... dan tunggu, aku bisa merasakan payudarmu! Lepaskan aku!”

“Nggak! Gak boleh!”

“Plis!”

Seluruh kelas menatapku! Aku benci bahan perhatian! Dan tatapan Satsuki benar-benar menyeramkan di matanya! Begitu juga cowok-cowok lain di kelas!

“Iris, tolong menjauh dari Rekka.”

“Gak.” Iris mengabaikan Satsuki dan mulai menekannya— Hei, kalian tahu itu salah untuk mendorong seorang gadis, bukan? Bukan cuma aku menyerah pada godaan lembut ini, kan? Yah, tentu saja, tidak ada yang akan mengerti itu.

“Yang benar saja ...”

Melihat apa yang terjadi, aku akhirnya tinggal dengan seorang gadis, dan teman masa kecilku datang setiap pagi untuk membangunkanku, dan aku baru saja bertemu seorang gadis cantik yang pindah ke kelasku. Jadi mengapa aku merasa sangat lelah? Seseorang, tolong aku ...


Jadi pada dasarnya, semua ini adalah kesalahanku, dan kesalahan R.


“Ahem ... Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, War of All dimulai oleh gadis-gadis yang kauselamatkan, tapi sebenarnya, tidak semua dari mereka berpartisipasi dalam perang. Beberapa setuju untuk menyerah dan mundur, jadi hanya sekitar delapan puluh persen dari heroine yang masih berpartisipasi dalam War of All. Akan tetapi, kedatanganku kepadamu telah menyebabkan kau terperangkap dalam cerita di mana kau menyelamatkan masa depan dengan memilih seseorang dari antara gadis-gadis yang kautemui. Dengan kata lain, selama kau adalah protagonis dari ceritaku, semua gadis yang kau temui akan dianggap sebagai bagian dari ceritaku, dan semua cerita mereka akan diperlakukan sebagai kejadian dalam diriku sendiri. Dengan demikian, salah satu heroine yang akan mengundurkan diri sendiri akan menghilang, dan yang lainnya akan berkumpul padamu.”

“Apa?”

“Oh, kau tidak mengerti itu? Hmm ... aku kira aku harus mempersingkatnya. Biarkan aku menempatkan ini dengan cara yang bahkan otak kecilmu bisa mengerti. “ R menggelengkan kepalanya secara dramatis dan menjulurkan jari telunjuknya tepat di depan hidungku.

“Ucapkan selamat tinggal pada kehidupan kelabu kesepianmu, dan halo ke harem, penuh dengan cinta, nafsu, dan romansa manis!”

“Aku tidak mengerti sama sekali ...” Aku menjatuhkan kepalaku ke meja. “Pada dasarnya, sampai aku berkomitmen pada seorang perempuan, lebih banyak perempuan akan terus muncul, kan?”

“Berita bagus, ya, Rekka? Setiap cowok menginginkan harem, kan?”

“Diam!”

Sial. Seluruh kelas memandangku. Tidak ada orang lain yang bisa melihat R, jadi dari sudut pandang mereka, aku hanya membanting kepalaku di meja dan berteriak ke udara tipis. Semua kelelahan dari kemarin datang kembali padaku.

Satsuki, Iris, Harissa ... dan R. Harem? Hanya mereka berempat yang membuatku berantakan. Apalagi perutku bakal berlubang!

“Aku cuma mau seorang perempuan, layaknya orang normal.”

“Kalau begitu cepat pilih satu.”

“Ini tidak semudah itu ...”

Sudah waktunya untuk istirahat. Kelas terakhir adalah olahraga, jadi butuh beberapa waktu bagi para perempuan untuk ganti pakaian dan kembali ke ruang kelas. Ini adalah satu dari beberapa kali hari aku harus beristirahat, dan aku perlu beristirahat sementara aku bisa. Tapi ketika aku mendekatkan mataku, pintu ke ruang kelas tiba-tiba terbuka dengan keras.

“Tuan Rekka! Aku sedikit tersesat, tapi orang yang sangat baik memberitahuku jalan ke sini, dan aku berhasil membawakanmu makan siang!” Harissa masuk ke ruang kelas, dengan riang mengayunkan tas berisi kotak makan siang di dalamnya.

Aku senang dia tidak tersesat, tapi ... aku benar-benar berharap dia tidak muncul di sekolah dengan piyamanya. Aku benar-benar berharap dia berhenti memanggilku “Tuan Rekka,” juga.

Kemudian Satsuki dan Iris muncul.

“Apa yang Harissa lakukan di sini?” Satsuki sangat tenang, tapi matanya terkunci di kotak makan Harissa. Omong-omong, jika ingatanku benar, Satsuki membuat kami berdua makan siang pagi ini di dapur.

“Rekka, aku lapar setelah berolahraga juga. Mari makan!” Iris, bagaimanapun, benar-benar tidak sadar.

Dan tentu saja, itu masih jam pelajaran keempat.

Alien dan gadis dari dunia lain mulai berdebat tentang siapa yang akan makan denganku. Alih-alih mencoba menghentikan mereka, Satsuki bergabung.

Aku lebih suka makan sendiri, tapi ... untuk suatu alasan, akhirnya aku harus memutuskan dengan siapa aku ingin makan. Tapi tentu saja, aku tidak bisa melakukan itu, jadi aku berlari keluar ruang kelas seperti kelinci yang ketakutan.

“Tunggu!”

“Tunggu!”

“Tunggu!”

Aku bisa mendengar langkah kaki mereka mengejarku.

“Ya ampun. Kau seperti protagonis komedi romantis,” kata R.

“Salah siapa itu?!”

Ini bukan kehidupan sehari-hari yang aku tahu! Tapi ini adalah kehidupan sehari-hari aku yang baru.

“Seseorang, siapa saja, selamatkan aku dari ini!” Ketika saya berlari menyusuri lorong secepat yang aku bisa, aku menjerit SOS ke pangeran-pangeran pahlawan super-panas yang mungkin tinggal di suatu tempat di dunia ini. Tapi tentu saja, jauh di lubuk hatiku, aku tahu tidak ada.

Gyah!

—Fin—
MARI KOMENTAR

Share: