Back to top

Martial Peak 8

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas
Chapter 8: Pinggang Ramping yang Indah

Setengah jam setelah ia menerobos, hasil dari catatan tubuh pendinginan terbukti. Meskipun pengetahuannya sendiri berkontribusi, jika bukan karena teknik itu, dia percaya bahwa dia membutuhkan tiga-empat bulan sebelum maju.

Dengan ini, dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kotoran di tubuhnya.

Dari dalam mulutnya, keluarlah asap hitam pekat. Kotor, karena jatuh ke tanah. Setelah mengeluarkan asap ini, keenam indranya menjadi lebih akut dan tajam.

Apa ini kotoran tubuhnya? Yang Kai terguncang segera.

Dengan latihan kultivasi kau akan mengurangi dan menguras kotoran tubuh setiap kali. Yang Kai sebelumnya pernah mengalami ini, tetapi tidak pernah sampai begini.

Banyak ide dan kegembiraan yang tersisa dalam benaknya. Meskipun ia telah berhasil memasuki Tahap Keempat, ia tidak membuat kemajuan nyata dalam Teknik Tinju dari Catatan Sifat Tubuh. Latihan sehari-harinya hanya bisa menghasilkan satu persen dari total hasilnbya, 101 pukulan.

[Pria kejam tidak makan tahu panas dan dengan hati tergesa-gesa, kau tidak akan bisa merasakan bokong yang panas.] (TLN: Sabar dan hasil akan datang. Terburu-buru kehilangan banyak hal)

Berpikir sejenak, Yang Kai merencanakan sedikit masa depannya. Meskipun itu tidak teliti, dia tidak bisa lagi seperti biasanya, mengambil setiap langkah ketika itu datang. Setelah beberapa saat, kau malah tidak sabar.

Lalu setelah makan sesuatu dia terus menyapu area tersebut.

Meskipun dia adalah seorang penyapu, bukan berarti bahwa dia harus menyapu seluruh sekolah. Dia hanya bertanggung jawab untuk sepersepuluh sekolah. Meskipun itu rumit, itu hanya akan memakan waktu satu jam atau lebih.

Di dalam pepohonan, Xia Ning Chang mulai memantau para Murid dan secara tidak sengaja melihat Yang Kai menyapu. Tidak memiliki emosi akan menjadi aneh. Hari ini, ada sesuatu yang berbeda pada dirinya, tapi dia tidak yakin. Selama lebih dari setengah jam, dia tidak meninggalkan tempat itu, menyapunya sampai mengilap dan bersih. Itu sangat licin sampai jika seekor nyamuk mau pergi, pergelangan kaki nyamuknya akan terkilir.

[Orang ini……..] Xia Ning Chang tidak tahu harus berbuat apa padanya.

Pada saat itu, Yang Kai sedang memikirkan hal lain. Kemarin dia telah mendapatkan peluang besar, jadi tentu saja dia mempertimbangkan masa depannya. Tapi tidak ada opsi nyata yang ditemukan. Dia hanya bisa terus berlatih saat matahari terbit setiap hari, untuk saat ini.

Sementara dia merenung, langkah cepat mendekat dengan cepat dari belakang. Dia menghindar dengan cepat, tapi tidak menyadari bahwa pihak lain sedang membuat persiapan untuk menghindarinya juga. Jadi mereka saling bertabrakan.

Meskipun dia tidak mengalami cedera besar, ketika dia menabrak orang itu, rasanya seolah-olah dia menabrak dinding baja. Dengan teriakan, dia jatuh ke tanah dan tempat dia bertemu terasa mati rasa.

Yang Kai pulih dengan cepat dan meminta maaf: “Hei, apa kau baik-baik saja?”

Pemuda itu kesal dan ketika dia mendongak untuk melihat bahwa itu adalah Yang Kai, yang amarah ledakannya hilang. Memegang kemarahan untuk orang semacam itu tidak ada artinya dan juga itu salahnya sendiri.

Membalas segera sambil melambaikan tangannya: “Tidak apa-apa, tidak apa-apa!”

Sambil mengatakan ini dan bangun, dia kemudian melarikan diri dengan penuh semangat.

Yang Kai bertanya: Hei, kenapa kau pergi buru-buru?”

Pemuda itu berteriak samar-samar: “Aula Kontribusi, ke mana lagi?”

Mendengarkan kata-katanya, Yang Kai menyadari bahwa hari ini sudah hari kedelapan dalam sebulan. Itu adalah hari dimana gerbang utama membagikan poin kontribusi bulan lalu!

Jadi setiap bulan pada hari ini, Aula Kontribusi akan penuh sesak dengan murid-murid yang berbondong-bondong untuk mengumpulkan poin mereka. Dengan ini mereka dapat menukar poin mereka dengan berbagai pil kultivasi, harta dan seni bela diri untuk meningkatkan kekuatan mereka. Jadi hari ini membuat semua Murid bersemangat.

Beberapa bersemangat, sementara yang lain kecewa. Yang Kai adalah yang terakhir.

Terkejut, dia hanya bisa cemberut. Setiap bulan, jumlah poin yang diterimanya cukup sedikit.

Penyapu bisa mendapat sepuluh poin, tapi dalam sebulan terakhir dia ditantang enam kali, dan setiap kali dia kalah! Dengan pengurangan setelah setiap kekalahan, dia hanya menyisakan empat poin.

Ini ...... ini benar-benar membuat orang menangis.

Untungnya dia hanya seorang Murid Percobaan. Statusnya adalah yang terendah, jadi jika dia kalah, dia hanya akan kehilangan satu poin. Murid Biasa kehilangan dua!

Memikirkan hal ini, Yang Kai berterima kasih.

Tapi seekor nyamuk kecil pun memiliki daging. Dan dengan tabungannya, suatu hari ia akan mendapat cukup uang untuk menukarnya dengan sesuatu yang berharga.

Sudah ada cukup banyak penundaan hari ini, pikirnya sambil terus menyapu.

Ketika dia akhirnya menyelesaikan pekerjaannya, sudah siang. Waktunya pergi ke aula untuk mengumpulkan poinnya.

Setelah kesibukan pagi hari, aula itu kini kosong dan sunyi. Syukurlah dia tidak datang pagi-pagi, atau menunggu itu terlalu merepotkan.

Melakukan wals ke aula, kau bisa dengan jelas melihat seorang pria tua tertidur.

Pria tua ini adalah bendahara Sekte. Dia sekitar lima puluh dengan rambut putih tipis dan wajah yang baik. Melihatnya, dia tampak tidak berbahaya bagi hewan dan manusia, tapi Yang Kai tahu dia adalah rubah licik!

Pernah ada Murid Elite yang berani bertindak arogan di sini dan kemudian diusir dari aula beberapa ratus kaki. Hidupnya hampir direbut. Yang Kai hadir, jadi dia tahu ini dan juga tahu bahwa si pria tua ini memiliki kekuatan yang tak terukur.

Melangkah ke dalam pandangan pria tua itu, Yang Kai bisa dengan jelas melihat pria tua itu mendengkur.

[Pak tua ini! Siapa lagi Murid cewek Paviliun Surga Tinggi yang dia impikan lagi!]

Memegang sapu, dia menyikut pelan pria tua itu sambil memanggil pelan: “Bendahara Meng!”

Nama keluarga pria tua itu adalah Meng, nama depannya Yang Kai tidak tahu jadi dia tidak bisa memanggilnya begitu.

Mengetuk konter beberapa kali, pria tua itu pun terbangun. Dia membuka matanya dengan grogi dan melihat bahwa itu adalah Yang Kai. Mengerutkan wajahnya seolah-olah dia melihat kotoran.

“Ada apa dengan wajah itu?” Yang Kai bertanya dengan marah.

Memutar matanya: “Kenapa kau tidak datang pagi-pagi?”

Dia menjawab dengan percaya diri: “Ada terlalu banyak orang di pagi hari, dan saat ini tenang!”

“Mengganggu istirahat pak tua ini. Apa kau tahu apa artinya menghormati orang tua?”

Bersandar, Yang Kai berbisik: “Wanita muda apa yang kau impikan?”

Tiba-tiba penuh energi, Bendahara Meng menjawab Yang Kai dengan mata penuh penghinaan dan menyatakan dengan keras: “Kata-katamu barusan, mencoreng reputasi pak tua ini! Terlalu memalukan.”

“Sosok tubuh yang bagus?”

“Besar!” Tanpa sadar Bendahara Meng mengucapkannya.

“Kaki yang lentur, kulit putih dan pinggang yang indah dan tipis?”

“En, en, en …….” Segera dia mengangguk, langsung berpikir Yang Kai sebagai teman.

“He, he ......” Yang Kai mencemooh.

Bendahara Meng tergagap dan tersipu secerah pantat monyet. Penuh rasa malu, ia hanya ingin menggali lubang dan merangkak masuk untuk bersembunyi.