Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

14 Januari, 2019

Campione v21 2-3

on  
In  

hanya di setiablog
Bagian 3

Pedang Dewata Keselamatan.

Panjang bilahnya hampir satu meter, itu adalah pedang yang sangat panjang.

Itu bermata dua, ketebalan bilahnya sangat mirip kapak. Dan kemudian, bilah pedang tak bercacat yang mengandung kecemerlangan yang jelas dan martabat agung.

Itu adalah rupa aslinya.

Harta karun suci tak tertandingi meluap dengan keanggunan bermartabat nan kekasarannya——.

Namun, selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang panjang, pedang dewata itu kehilangan pancaran sinar.

Waktu itu tertutup karat juga panjang.

Bahkan ada periode di mana apalagi berkarat, bahkan akhirnya membusuk dan usang, seolah-olah itu hanya tiang baja.

Setelah pemilik Ramachandra dikalahkan oleh Kusanagi Godou, noda hitam menyebar di bilah yang mengandung Pangeran Lakhsmana.

Lalu, hanya sedikit waktu berlalu——.

Dewa monyet putih Hanuman membiarkan sang musuh besar Kusanagi Godou menyelinap pergi di sudut Dunia Astral, lalu dia bergumam pada dirinya sendiri bagaimana dia harus mempercepat kebangkitan Pahlawan Rama.

Tepat setelah itu.

Hanuma melemparkan Pedang Dewata Keselamatan ke udara.

Pedang Dewata yang dicelup hitam lenyap *fuh* di udara, dan saat berikutnya terbang di langit dunia permukaan layaknya badai.

Pedang Dewata Keselamatan terbang lurus sejenak, lalu jatuh dalam orbit yang melengkung.

Itu bertujuan pada “pusat” Jepang yang akan menjadi tanah kebangkitan Rama.

Tempat itu adalah puncak gunung yang hanya memiliki batu dan pasir.

*Za-!* Pedang Dewata Keselamatan menikam di batu yang cukup besar.

Ada kuil yang sudah usang di dekatnya. Puncak gunung ini berada di sekitar kaldera gunung berapi besar. Jika manusia berjalan di sekitar kaldera dengan berjalan kaki, mereka pasti membutuhkan lebih dari satu jam.

Gunung sakral, Gunung Fuji——.

Itu adalah tanah spiritual paling kuat di Jepang, pusat spiritual.

Saat ini, Pedang Dewata Keselamatan ditikam di puncak Gunung Fuji.

......Jika orang Jepang berada di tempat ini secara kebetulan, mereka pasti akan menganggapnya aneh. Saat itu Februari, gunung Fuji berada tepat di puncak musim dingin.

Namun meski begitu——

Hampir tidak ada salju yang menumpuk di puncak gunung.

Tidak, bukan itu saja, jumlah hujan salju di seluruh Gunung Fuji hampir tak ada.

Jika seseorang menatap keagungan gunung sakral ini dari jauh, itu akan menjadi jelas dalam sekejap. Walau selimut putih salju harusnya menutupi permukaan di musim ini.

Saat ini, Gunung Fuji itu seharusnya hanya terlihat di musim panas.

Tentu saja, itu karena kebangkitan Ramachandra sudah dekat. Peningkatan suhu panas bumi dan atmosfer membawa fenomena aneh “awal salju mencair” ke Gunung Fuji.

Pedang dewata menikam puncak gunung sakral——.

Bilah yang harus jernih dan murni memiliki noda hitam masih menyebar di atasnya.

Tapi sepanjang hari dan malam berlalu. Ketika puncak Gunung Fuji menyambut terbitnya mentari, noda menghilang dari Pedang Dewata Keselamatan. Kotorannya telah jatuh.

Aura kemurnian yang mengisi Gunung Fuji yang sakral dikatakan membangkitkan keagungan dewa.

......Lantas, bagaimana dengan pendekar pedang yang harus menggunakan pedang?

Sekitar seminggu yang lalu, Pahlawan Rama dikalahkan oleh si Pembunuh Dewa Kusanagi Godou.

Tempat itu Pushpaka Vimana. Kapal terbang raksasa seukuran kota. Itu jatuh di Samudra Pasifik di dekat wilayah Kanto Jepang dan tenggelam ke laut......

Lalu, apakah jenazah pahlawan besar itu juga tenggelam ke kedalaman samudra bersama-sama?

Tidak, jiwanya meleleh ke udara, pada waktu itu menunggangi angin, kadang menentang angin sambil bergerak menuju tanah spiritual yang paling murni di Jepang.

Jiwanya secara tidak sadar merasa bahwa tanah adalah tempat yang paling pas untuk kebangkitannya.

“Ah. Kakakku Rama adalah kelahiran agung tertinggi yang haruslah murni.”

Pangeran Lakhsmana muncul dalam bentuk manusia sekali lagi dan berlutut.

Dia berada di depan pedang dewata yang menusuk ke dalam batu itu—tubuh asli kakaknya.

“Tanah suci yang memurnikan dan membersihkan setiap kotoran duniawi.......Adik ini percaya bahwa kesedihan tempat ini adalah yang paling layak untuk tubuhmu!”

Kulit Lakhsmana berwarna coklat gelap walau terlihat persis seperti Rama.

Cinta dan rasa hormatnya terhadap kakak lelakinya yang jernih berubah menjadi kata-kata kekuatan dan dia dengan tulus melantunkan.

“Saat ini adalah tepat waktunya, untuk tangan keselamatan membawa hari-hari terakhir ini......wahai kakak!”

“Tentu, Pangeran Rama.”

Orang yang bergumam dengan nada serius adalah Hanuman.

Dia mendadak muncul di samping Pangeran Lakhsmana dan berlutut.

“Saat ini hanya ada satu Raja Iblis yang tersisa di dunia ini. Raja serigala, ratu kesenian bela diri, ratu malapetaka, raja petir hitam, raja topeng, raja pedang—semuanya hilang. Untuk meruntuhkan yang tersisa, Kusanagi Godou—aku menyadari yang kedua datang sekarang!”

Hanuman terus berlutut sambil meluruskan punggungnya, dan melafalkannya dengan keras.

“Agar kita dapat memisahkan kegelapan dari hari-hari terakhir dan memusnahkan Raja Iblis yang menodai dewa, kita berharap kelahiran kembali pedang. Ah, pedang paling mulia di antara pedang, pedang di antara pedang. Artimu pedang pemusnahan raja iblis. Artimu cahaya putih dari keselamatan. Artimu yang lahir demi membantai semua Rakshasa!”

Itu adalah kitab suci untuk menentukan kedatangan kedua Raja Akhir.

Seketika——langit yang sangat cerah dan awan guntur memenuhi langit.

*GOooooooooOOONN-!*

*GOooooooooOOONN-!*

Dua petir jatuh berturut-turut dan kilatan petir mewarnai langit putih.

Cahaya itu tercermin—bayangan seseorang di tanah. Itu tidak datang dari Lakhsmana dan Hanuman. Itu bayangan orang ketiga.

“Oo”

“Oo, harimau di antara manusia! Ya raja suci yang mengumpulkan kemegahan di atas kemegahan!”

Hanuman sangat terharu sementara Lakshmana berteriak penuh semangat.

Orang ketiga perlahan-lahan menggenggam Pedang Dewata Keselamatan, dan menariknya keluar dari batu——

“Aku sudah membuat kalian berdua menunggu.”

“Kakak!”

“Tuanku Ramachandra.”

Pangeran Rama mengangguk ke arah adik laki-lakinya yang berlutut dan pengikut setia.

Rambut panjang putih kebiruan. Wajah pria tampan nan anggun. Tapi, penampilan cantik yang indah itu—ditambahkan dengan aksen dari rasa lelah yang seperti karat dan kejantanan.

Mirip seperti sebelumnya, dia mengenakan kemeja biru sederhana dan celana panjang, serta mantel putih murni.

Rama menyarungkan pedang dewata panjang di dalam sarungnya di punggungnya dan dia bergumam.

“......Tak kusangka bahwa kedatangan keduaku bisa menjadi kenyataan secepat ini. Benar saja itu berbeda setelah menggunakan Hukum Perjanjian Agung. Pemulihan kekuatan dan dagingku sangat cepat......”

Tidak ada kebahagiaan dalam suaranya.

Hanya ada kesedihan dari menuju konflik baru. Namun.

“Mengenai masalah itu selama pemutusan hubunganku, para wanita dan pria yang berselingkuh melakukan kompetisi, benar? Lalu yang tersisa sampai akhir adalah......”

“Ini Kusanagi Godou.”

“Sudah kuduga.”

Bibir Pangeran Rama tersenyum, mendengar apa yang dikatakan Hanuman.

“Fufufufu. Tak kusangka bahwa mereka sendiri akan menghancurkan sesama Pembunuh Dewa untuk melawan hukum besarku. Rencana yang sangat sederhana dan berani yang mereka pilih. Astaga, inilah mengapa mereka tidak bisa diremehkan......”

Bahkan Rama sendiri tak tahu sejak kapan itu terjadi.

Namun sekarang, dia terstimulasi oleh dorongan yang sulit untuk dijelaskan—

Dia tersenyum. Pria yang harusnya benar-benar kelelahan dari pertempuran panjang tertawa dengan bahu gemetar. Dia dengan putus asa menekan bagaimana dia sebenarnya ingin tertawa keras seperti idiot.......

Pengikutnya yang setia menatap tuan mereka dengan tatapan bingung.

“Raja.”

“K, kakak.”

“Aah, maafkan aku Hanuman, Lakhsmana.”

Rama entah bagaimana menahan keinginan untuk tertawa dan dia tersenyum.

Namun, kejutan menyaksikan bagaimana Raja Akhir yang merenung banyak waktu menjadi hampir tertawa keras sepertinya sangat besar. Dua pengikut tengah menatap pahlawan besar yang luar biasa dengan mata kaget.

Rama menghadap mereka dan berbicara.

“Mungkin......mungkin baik-baik saja kali ini.”
setiakun
“Apa maksudmu, Tuanku Rama?”

“Fufufufu. Lupakan semua yang merepotkan ini dan itu, dan hanya bertarung dengan sungguh-sungguh.”

“Kakak! Bukankah itu kedengarannya seperti kau akan melakukan hal yang sama——seperti dewa-dewa pembenci itu!?”

“Bukankah itu bagus, adikku.”

Lakhsmana memprotes dengan tatapan bingung, namun Rama mengatakan kepadanya dengan nada segar.

“Bahkan aku punya waktu ketika aku hanya ingin menjadi liar sebagai pendekar belaka. Bila lawannya adalah Kusanagi Godou, maka aku tidak perlu mengeluh.”

Pangeran Rama memejamkan mata sejenak dan mengingat masa lalu.

“Aku berhadapan dengannya dua kali seribu tahun yang lalu di Gallia. Ini juga dua kali dalam kesempatan kemunculanku sebelumnya. Bila dikombinasikan dengan konfrontasi berikutnya, aku akan melawan Kusanagi Godou lima kali.”

Dia berbicara lebih jauh usai bergumam.

“Lima kali pertempuran. Aku bahkan tidak keberatan menyebut dia lawan yang layak pada saat ini. Dia adalah lawanku dari takdir yang berlawanan.”

“Absurd! Sesuatu seperti musuh yang kuat yang bisa menyaingi kakak itu tidak ada!”

“Benarkah? Coba pikir kembali semua konfrontasi sampai sekarang...... Skornya adalah satu kakalahan dan tiga ketaklukan untuk pihakku. Aku tertinggal jauh dalam jumlah kemenangan, apa lagi yang bisa dikatakan bahwa aku yang berada di posisi penantang.”

“Kakak!”

“Aku tidak mengatakan apapun selain fakta, Lakhsmana.”

“Bagi yang paling mulia di sini untuk memberikan evaluasi semacam itu terhadap orang-orang seperti Rakshasa Raja——itu tidak dapat diterima! Itu adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip dasar surga!”

“Fufufufu. Bila memang begitu, maka itu berarti aku sejenis dengan para pembunuh dewa itu.”

“Raja!”
setiakun
“Maafkan aku, lupakan apa yang kukatakan tadi. Itu hanya bercanda.”

Adik laki-laki dan dewa monyet yang setia itu bingung. Namun Rama tersenyum nakal.

Lalu tidak pantas bagi Raja Akhir——pahlawan pemusnahan raja iblis berkata.

“Kekuatan dan tubuhku benar-benar pulih, tapi......itu masih agak kurang. Aku akan beristirahat sebentar dan menyiapkan kondisi yang sempurna.”

“Tuanku. Seperti yang Anda mau.”

“Aku akan menghadapi rival kuatku dari takdir yang berlawanan. Ini tata krama.”

“............”

Hanuman menundukkan kepalanya mendengar pernyataan tuannya yang luar biasa meletakkan jiwa juangnya.

Baik dia dan Lakhsmana terus berlutut. Dewa angin kera putih menggosok dahinya di tanah dan memohon kepada tuannya yang menakjubkan.

“Dalam hal itu tuan. Aku punya satu permintaan.”

“Apa?”

“Tolong biarkan diri rendahan ini pergi ke depan. Gairah Anda untuk menempatkan semuanya ke dalam konfrontasi dengan Kusanagi Godou, itu telah terukir dalam hati Hanuman ini. Itu sebabnya”

Sang pengikut, bawahan dewa dengan kesetiaan teguh Hanuman, berharap seperti ini.

“Aku akan menjadi garda depan, sementara tuan beristirahat—aku ingin menantang Kusanagi Godou.”

“Jangan bodoh.”

Rama dengan cepat menolak banding langsung dari atasannya yang setia.

“Bertarung dengan dia menggunakan seluruh kekuatanku adalah harapanku, kau tahu? Mana mungkin aku akan memberikan kesempatan itu padamu. Itu sungguh kurang ajar, Hanuman.”

“Teguran Anda adalah yang paling benar. Namun, bila tuan ingin duel dengannya”

Dewa monyet putih mengangkat dahinya dari tanah dan melihat wajah tampan tuannya dari postur sujud.

“Tolong, biarkan diri rendahan ini pergi.”

“......Maksudmu apa?”
setiakun
“Aku adalah wakil jenderal tuan. Ketika pertempuran sengit terakhir dimulai, aku pastinya akan membantu tuan. Itulah sebabnya. Hasil dari kepergian Hanuman ini, entah itu hidup atau mati, kemenangan atau kekalahan, entah aku atau Kusanagi Godou akan diakhiri—”

“Wahai pendekar setia Hanuman.”

Rama mengarahkan tatapan tegas ke arah dewa monyet putih yang bersujud.

“Kalau kau menang, tidakkah aku akan kehilangan giliranku?”

“Itu yah, sesuatu yang tidak bisa diperbuat. Tolong ratapi itu sebagai ketidakmampuan dari Kusanagi Godou yang rendahan itu.”

“Kau yang akan menjadi penghalang——Aku tidak akan ragu untuk memotongmu langsung, kau tahu?”

“Aku telah menyelesaikan sendiri hal itu dari awal. Daripada hanya menjadi penonton pertempuran sengit tuan seperti ini, secara pribadi diturunkan oleh tuan adalah apa yang aku harapkan.”

“ ——Fuh. Jadi kau juga mengatakan hal yang sama dengan para pembunuh dewa itu.”

Setelah omelan yang keras, dalam perubahan lengkap Rama tersenyum ringan.

Ini juga sesuatu yang langka untuk dia lakukan, seolah-olah kelelahan yang seperti karat itu tertiup angin.

“Baiklah kalau begitu. Untuk mematuhi abdi utamaku, aku akan membiarkan kepergian pendekar Hanuman.”

“Aku bersyukur dan gembira!”

“Kakak. Lakhsmana ini juga menginginkan peran yang sama!”

“Bagus. Pergilah, kalian berdua.”

Rama tidak keberatan lagi. Dia juga mengizinkan kepergian adiknya.

Dia mengerti perasaan bawahannya. Mereka ingin menjadi berguna demi tuan mereka yang mencoba untuk memulai pertempuran sengit yang sepenuhnya tidak terkait dengan misi pemusnahan raja iblis——.

“Pergilah ke medan perang sebagai garda depan dariku, Ramachandra. Soal raja iblis, Kusanagi Godou dan kembalilah dengan kemenangan luar biasa!”

Itu adalah perintah besar yang layak untuk pahlawan hebat India kuno yang bersinar.

FP: setia's blog

Share: