Unlimited Project Works

07 Januari, 2019

Little Mokushiroku v2 1

on  
In  

diterjemahkan oleh setia-kun
Sudah lima hari sejak aku terbangun dengan garis keturunan Namidare, dan menyelamatkan tiga cerita dan tiga heroine.

Aku tidak terjebak dalam cerita baru sejak sekolah dimulai, jadi aku menjalani kehidupan sekolah yang aman dan damai ... atau, setidaknya, itulah teorinya.

“Tuan Rekka, kau kelihatan agak lelah hari ini, ya?”

“... Hah?” Sebelum aku berangkat ke sekolah, Harissa Hope telah menanyakan hal itu padaku, dan aku tidak yakin bagaimana harus menanggapi.

Harissa mempunyai rambut pirang berasap serta mata biru yang membuatnya terlihat seperti orang asing, tapi sebenarnya dia adalah seorang penyihir dari dunia lain. Saat ini dia tidak bisa pulang, jadi dia tinggal bersamaku.

Harissa selalu menawarkan diri untuk melakukan tugas-tugas, dan dia rajin bekerja sepanjang pagi dengan celemek kelinci. Di baliknya, dia mengenakan pakaian lamaku karena punya ibuku tidak cocok. Kupikir dia mungkin tak suka mengenakan pakaian cowok, tapi dia tampak lebih baik dengan itu daripada yang kuduga.


Jadi ya, Harissa adalah gadis yang baik, pekerja keras. Terkadang dia bisa kikuk, tapi aku merasa lucu.

Kebanyakan cowok bakal senang punya cewek seperti itu menatap mereka dan khawatir ... tapi aku cuma memalingkan muka. “Gak, aku cuma belum cukup tidur. Istirahat sebentar di sekolah dan aku bakal baikan,” kataku, berharap dia akan meninggalkan topik pembicaraan.

“Jadi begitu. Aku senang mendengarnya. Sampai jumpa lagi, Tuan Rekka.” Dia tampaknya percaya kebohongan yang aku berikan padanya, dan tersenyum berseri-seri.

Aku melambai-lambaikan tanganku yang dingin dan berkeringat selagi dia membungkuk, lalu melarikan diri keluar dari pintu depan.

Selagi aku menyusuri jalan ke sekolah dengan teman sekelasku, Satsuki Otomo, dia mengintip wajahku.

“Rekka, kau lelah?”

“... Huh?” Ini adalah kedua kalinya pada hari itu aku mendapatkan pertanyaan sama, dan aku butuh sedetik untuk menjawab.

Aku memiringkan kepalaku dengan canggung dan menatapnya sembari dia berjalan di sebelahku. Aku masih belum terbiasa melihatnya berseragam SMA, dan itu membuat jantungku sedikit berdebar kencang.

Pada hari upacara penerimaan sekolah, aku mengetahui bahwa dia adalah seorang penyihir, tapi hal lain tidak banyak berubah di antara kami sejak saat itu. Terbukti hubungan kami sebagai teman masa kecil tidak akan berubah dengan mudah.

Dia berdiri tegak, dengan rambut hitam panjangnya tertiup sedikit oleh angin, dan menatapku layaknya seorang kakak khawatir pada seorang adik yang tidak menjaga dirinya sendiri. Aku senang dia khawatir, tapi ... aku memalingkan muka. “Tidak, cuma kesakitan otot. Aku terlalu memaksakan diri di kelas olahraga kemarin.” Aku hanya membuat alasan, berharap dia membiarkannya.

“Jadi begitu. Kalau sakit, kau harus meminta penghangat tubuh dari kantor perawat.”

“Yeah ...” Aku mengangguk setengah hati, masih memalingkan muka.

“Met pagi, Rekka.”

“Hei. Pagi.” Orang pertama yang menyambutku ketika aku masuk ke kelas adalah gadis cantik di kursi sebelah, Iris.

Namanya adalah Iris Fineritas Cyphercall. Alasannya begitu konyol yakni dia adalah apa yang kausebut alien. Biasanya dia menyembunyikan ekor di dalam tubuhnya sehingga tak ada yang bisa melihatnya, tapi dia beneran punya ekor perak yang cantik dari bokongnya.

Ada alasan dia duduk di sini di kelasku sebagai “murid pertukaran Bumi,” tapi ceritanya panjang.

“Kelihatan agak lelah, ya, Rekka?” Rambut ekor kembar Iris yang panjang memantul sambil dia memiringkan kepalanya dan menggerakkan wajahnya di dekat wajahku.

“... Benarkah?” Setelah ketiga kalinya pagi itu, aku tidak punya energi yang tersisa untuk berpaling.

“Ya, itu benar. Seperti kau terlalu memaksakan diri.”

“...” Aku tahu persis sebabnya, tapi aku hanya menghindari tatapannya dan tetap diam.

Iris pasti tidak menyukai responku, karena dia melompat dari kursinya dan memelukku.

“H-Hei!”

“Aww, ayolah! Kenapa kau bikin wajah gitu kalau kau cukup beruntung untuk bisa menemuiku?”

“Gak, kita berdua ini murid. Kita saling bertemu di sekolah setiap hari ...”

“Rekka, jangan balas bicara padaku.” Kau bisa tahu dia seorang putri. Keegoisannya bersinar.

Tapi ketika dia memegangku seperti itu, bagian lain darinya menekanku ... aku tidak akan mengatakannya, tapi dua hal yang lembut! Lebih buruk lagi, semua orang menatap kami! “Rekka! Iris! Menyingkir!” Teriak Satsuki, membanting tangannya ke meja. Lalu dia memelototi Iris.

Satsuki duduk di sisi lain kursiku. Dan setiap hari, perutku meringis kesakitan karena terjebak di antara mereka berdua.

“Diam sana. Aku cuma khawatir soal kesehatan Rekka.”

“Kelihatannya gak gitu bagiku.”

“Jangan terlalu kesal. Itulah mengapa kalaupun kau minum susu, tidak ada nutrisi yang masuk ke payudaramu.”

“Aku menduga nutrisi tidak masuk kepalamu, Iris.”

Mereka berdua saling berteriak.

“... Tidakkah kaupikir kita perlu segera bicara?” Ucap Iris dengan senyum ceria di wajahnya.

“Kedengarannya bagus bagiku. Aku berpikir kau dan aku perlu menyelesaikan berbagai hal.” Senyum Satsuki sendiri membuatku merinding.

Percikan terbang di antara mereka berdua, dan aku masih terjebak di tengah. Jika mereka akan mencoba menyalakan api, aku hanya berharap mereka melakukannya di tempat lain.

“Ayo kita bawa ini keluar,” Iris mengejek.

“Orang pertama yang tidak bisa berdiri lagi adalah yang kalah,” Jawab Satsuki.

“Tunggu! Bentar, kalian semua!” aku berharap mereka akan melakukannya di tempat lain, tapi aku tetap mencoba untuk ikut campur.

Keduanya mulai membuatku takut, untuk satu hal. Diskusi macam apa yang berakhir dengan satu orang tidak pernah bisa bangun lagi? Inti dari sebuah percakapan adalah membicarakan hal-hal dan menemukan solusi damai!

Maka dimulailah hari berat secara psikologis lain bagiku.


Aku tahu persis apa itu. Alasan aku merasa sangat lelah sepanjang waktu adalah ...

“KALIAN!”

Aku berteriak ke arah pegunungan dari atap sekolah. Ketika aku berdiri di sana terengah-engah, gema datang berteriak ke arahku: “...lian!”

“Apa yang kaulakukan, Rekka? Kau kelihatan kayak orang gila,” Kata R, perempuan dalam seragam militer yang mengambang di sampingku.

Dia tampak seperti gadis muda, tapi sebenarnya dia adalah bentuk kehidupan buatan dari masa depan yang dikirim untuk mengamatiku. Dia hampir selalu tanpa ekspresi, tapi dia bisa jahat sekali.

“Jangan panggil aku orang gila. Kalau Satsuki, Iris dan Harissa mengganggumu setiap hari, kau juga ingin berteriak!”

“Jika salah satu dari cowok lain mendengar itu, mereka bakal mencabik-cabikmu.”

“Aku gak peduli!” Aku mengusap kedua tanganku dengan kasar melalui rambutku.

“Kalau gitu pilih saja salah satu heroine,” R menghela napas.

R ada di sini untuk menghentikan “War of All,” sebuah bencana berskala besar yang akan terjadi di masa depan antara “heroine” yang aku selamatkan. Untuk mencegahnya, aku diduga perlu memilih heroine untuk jatuh cinta.

Dan dia tidak pernah ragu untuk mengingatkan aku tentang itu juga.

“Ini tidak semudah itu.”

“Astaga. Jadi kau lebih memilih hubungan poligami?”

“Tutup mulutmu!” Aku berbalik ke pagar dan berteriak lagi, tapi dengan cepat bosan dan mulai berguling di atap. Sejujurnya, aku mencapai batasku.

Nama keluargaku adalah Namidare. Keluarga Namidare mempunyai garis keturunan istimewa yang menyebabkan kami terjebak dalam “cerita.”

Garis keturunan istimewa ini aktif pada usia enam belas, dan karena itu, aku sudah bertarung melawan penyihir paling kuat, raja iblis dunia lain, dan tirani galaksi ... hanya memikirkannya saja sudah cukup untuk membunuh suasana hatiku.

Aku pikir entah bagaimana berhasil melewati itu dan mendapatkan kembali kehidupanku yang baik dan normal ... tapi aku menyadari hari setelah memahami kembali betapa salahnya aku.

Misalnya, siapa yang akan membuat makan siangku? Satsuki atau Harissa?

Siapa yang akan jadi pasanganku di kelas olahraga? Satsuki atau Iris?

Apakah tidak apa-apa bagiku untuk duduk di sofa yang sama dengan Harissa dan menonton TV?

“Makan siang itu sangat mengerikan ...”

“Maksudmu ketika Satsuki dan Harissa hampir terlibat duel?”

“Yeah ...” Mulanya, Satsuki datang setiap pagi untuk memastikan Harissa dan aku tidak “melakukan sesuatu yang aneh,” tapi dia juga membuatkan kami sarapan dan mengemas makan siang. Namun, begitu Harissa mulai memikirkan bagaimana melakukan tugas-tugas, ia memutuskan ingin membuat makan siang buatannya. Begitulah semuanya dimulai.

Duh, Harissa maupun Satsuki tidak bersedia mundur sedikit pun ... mereka berdua hampir mengadakan duel magis saat itu juga.

Bagian yang paling berbahaya adalah mereka berdua mengharapkan aku untuk makan apa yang mereka buat dan memberitahu mereka siapa yang lebih enak ...

Alhasil, aku meminta mereka untuk menyetujuinya: jika Harissa membuat sarapan, maka Satsuki akan membuat makan siang, dan jika Satsuki membuat sarapan, Harissa akan membuat makan siang. Tapi pada saat mereka mencapai kompromi, aku hampir maag.

Pada dasarnya itulah lima hari yang telah terjadi padaku.

“Jangan bilang kau tidak menikmati kehidupan harem.”

“Satu-satunya hal yang aku ‘nikmati’ adalah luka dan kelelahan mental ...” Aku menghela napas dan bersandar di pagar.

Kurang tidur dan sakit otot pun berhubungan dengan gadis-gadis itu setiap hari. Jika mereka tidak membiarkan aku beristirahat sebentar, itu mungkin bakalan membunuhku.

Garis keturunanku ini berubah menjadi kerumitan nyata.

“Kalau aku terjebak dalam cerita lain, aku bakal kacau ...” Aku melihat ke langit yang sebagian berawan dan berbisik.

“Kau seharusnya tahu lebih baik daripada menguji takdir.”

... Aku benci orang-orang dari masa depan.

Saat itulah matahari merunduk di balik awan.


Istirahat makan siang hampir berakhir, jadi aku memutuskan untuk meninggalkan atap.

R membungkuk dalam bentuk bumerang, terbang dalam lingkaran di sekitarku dan berteriak, “Kepalaku berputar!”

Itu menjengkelkan sekali, tapi seharusnya dia tidak bisa menjauh lebih dari lima meter dariku, jadi mau bagaimana lagi. Aku mengabaikan R sebaik mungkin dan bergegas ke lorong.

Aku pergi ke atap gedung kelas khusus dengan harapan menghindari semua orang, jadi aku perlu buru-buru kembali ke ruang kelas tepat waktu.

“Hei, hei, hei! Kau! Kau! Kau di sana!” Aku mendengar suara yang sangat cepat berbicara di belakangku dan berhenti.

Aku berbalik untuk melihat seorang gadis dengan seragam sekolah yang sedikit berantakan sambil menunjuk sumpit ke arahku.

“Ap-Apa?”

Menilai dari warna dasinya, dia adalah murid kelas 1 seperti aku, tapi sesuatu tentang penampilannya membuatku waspada.

“Apa kau sudah makan siang?”

“Hah ...?” Aku lengah oleh pertanyaan mendadaknya.

Rambut gadis itu turun ke pundaknya, dan dia mengikatnya ke kiri. Dia mengetukkan kakinya ke lantai dengan tidak sabaran.

“Aku bilang apa kau sudah makan siang,” Katanya lagi.

“... Aku belum makan hari ini.”

Aku bergegas keluar dari ruang kelas untuk mengeluarkan sedikit tenaga. Jika aku menunggu lebih lama lagi, Satsuki dan Iris akan menangkapku dan meminta untuk mengetahui dengan siapa aku makan siang bersama. Pikiran itu terlalu mengerikan untuk direnungkan.

“Kau belum makan, kan? Beneran, kan?”

“Ya, tapi ... bukankah itu pertanyaan aneh untuk ditanyakan pada akhir istirahat makan siang?”

Itu murni kebetulan bahwa aku belum makan hari itu. Biasanya, aku sudah lama menghabiskan makananku saat itu. Dalam arti tertentu, gadis ini sangat beruntung ...

“Kalau begitu makan ini,” katanya sambil menusuk sumpitnya menjadi sesuatu di piring yang dipegangnya di tangan yang lain.

“... Tidak, tunggu ... Apa itu?”

Itu hitam.

Dan bukan hitam alami, seperti biji wijen atau rumput laut. Itu lebih seperti seseorang telah memercikkan semua warna pada palet mereka di atas kanvas, lalu mencampurnya dengan tepung kentang yang direndam dalam asam sulfat ... aku tidak yakin akan mengarah kemana aku dengan kiasan itu, tapi itu adalah jenis hitam busuk.

Dan bola hitam yang mencurigakan ini dibawa tepat di depan wajahku. Naluri bertahan hidupku berteriak padaku untuk kabur. Jika aku tidak kabur, aku bakalan mati.

“M-Maaf, aku tidak lapar. Selamat tinggal.” Aku mencoba lari — tapi dia ada di depanku.

“Itu semakin banyak alasan agar bisa memakannya. Aku memasukkan buah prem kering, lemon, limau gedang dan pasta cabai ... Oh, cuka balsamic dan miso pedas juga, jadi seharusnya merangsang nafsu makanmu.”

“Itu gak masuk akal! Itu sama sekali gak masuk akal!”

“Makanan asam merangsang produksi air liur dan membuatmu lebih lapar. Pedas juga sama. Jadi aku memasukkan nasi kari juga. Semua orang suka nasi kari.”

“Itu kebanyakan! Dan di mana ada nasi kari di dalam bola hitam itu?!”

“Aku cuma mencampurkan semuanya, meremasnya, menggorengnya, mengukusnya, membekukannya, menambahkan dalam bahan rahasia, menggabungkannya — dan beginilah hasilnya.”

Ini bukan rebusan atau salad, jadi kau gak bisa mencampur semuanya! Dan bagian soal bahan rahasia itu semakin mengkhawatirkan aku. Apakah dia mencampur lumpur atau sesuatu?! Naluri bertahan hidupku menjerit semakin keras.

“...!” Aku berbalik, terdiam.

Aku mencoba lagi untuk kabur secepat yang aku bisa, tapi dia bereaksi dengan cepat, membuatku tersandung dan menjatuhkan aku ke tanah. Lalu dia naik di atasku dan mengangkangiku. Apa tak ada jalan keluar?

“Menyerahlah dan makan saja!”

“Tunggu, tunggu, tunggu! Aku sebenarnya tidak suka makanan pedas!”


“Jadi begitu. Tapi ada cokelat dan Mont Blanc di dalamnya juga, jadi kau akan baik-baik saja.”

“Itu bahkan lebih buruk! Aku tahu! Kalau ada kari, ada daging sapi, kan? Aku tidak bisa makan daging sapi karena alasan agama!”

“Baik. Apa agamamu?”

“Um ... Uh ...” Agama apa yang tidak bisa makan daging sapi?

“Aku tahu kau bohong. Kenapa semua orang berbohong padaku?”

“... Semua orang?”

“Setiap kali aku mencoba memberi makan ini kepada seseorang, mereka semua berbohong dan mencoba melarikan diri. Itu sangat kasar. Aku terjaga sepanjang malam membuat menu baru ini untuk Nozomiya. Seharusnya kau senang bahwa kau bisa memakannya.”

“... Cuma mau tahu, apa yang terjadi pada orang-orang yang berbohong?”

“Mereka semua tidur di ruang perawat.”

“Gyaaahh!” Ini terlalu berbahaya!

Saat itu, aku melihat seorang gadis muncul di lorong gedung ruang kelas khusus.

“Tsumiki! Apa yang sedang kaulakukan?!”

“Ck!” Cewek yang dia panggil Tsumiki panik dan mencoba memaksa membuka mulutku.

“Aku tidak akan membiarkan dia menghentikanku kali ini! Nah makan ini!”

“GYABUH?!”

Ketika gumpalan hitam memukul lidahku, aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya — dan aku tiba-tiba mulai mengingat hal-hal seperti piknik yang aku jalani dengan orangtuaku ketika aku masih kecil, dan bermain di taman bersama Satsuki ...

“Itu adalah hidupmu yang berkedip di depan matamu,” Kata naluri bertahan hidupku. “Kau tidak akan membutuhkanku lagi.”

Lalu semuanya menjadi hitam.

“UGWAH!”

Aku bermimpi bahwa serangga pil raksasa berwarna hitam menghancurkan seluruh dunia. Itu hampir menghancurkanku juga ...

Ketika aku bangun, aku menemukan diri di kantor perawat. Aku bisa melihat seprai yang terlontar dari tempat tidur ketika aku melompat, serta bantal yang basah karena keringat.

“Rekka, aku senang kau baik-baik saja. Kau benar-benar bangun, kan?” Tanya Satsuki saat dia datang melalui tirai.

Dia menjatuhkan handuk basah yang dibawanya dan terisak-isak dengan kegembiraan.

“Aku senang ... Aku sangat senang ... Kami melakukan semua yang kami bisa, tapi mereka bilang kau mungkin tidak akan pernah bangun lagi ...”

“... Apa? Aku sebegitu buruknya?”

Aku ingat bahwa si Tsumiki itu memaksa bola hitam di tenggorokanku ... tapi aku tidak bisa mengingat apapun setelah itu.

Satsuki meletakkan tangannya di dahi dan dadaku. Dia masih terlihat cemas.

“Apa yang terjadi? Rasanya kau telah menerima racun terkutuk yang sangat keji sehingga pasti terbuat dari ratusan pengorbanan ...”

“Racun ... terkutuk?” Aku tahu itu buruk ketika aku mendengar apa yang ada di dalamnya, tapi ternyata itu jauh lebih buruk daripada yang aku duga.

“Untungnya, bukan magis, jadi aku bisa menghancurkan kutukannya.” Satsuki menegaskan kembali bahwa itu sudah menjadi panggilan akrab bagiku.

Yang bisa kulakukan cuma tersenyum paksa.

Jika masakannya bisa menakut-nakuti bahkan ahli sihir seperti Satsuki, maka, dalam arti tertentu, bukankah dia genius?

Rupanya ada banyak korban lain dari gadis ini — Tsumiki, namanya sih — tapi Satsuki telah menyembuhkan mereka semua. Tak satu pun dari mereka dipaksa untuk memakan seluruh bola sepertiku, jadi mereka semua sudah bangun dan pergi.

“Hei, dimana Iris?” Aku memikirkan dia akan menjadi orang pertama yang muncul untuk keributan seperti ini, tapi aku tidak melihatnya.

“Um, ya ... dia ...” Satsuki melanjutkan untuk menjelaskan bahwa ketika mantra anti-kutukannya gagal bekerja pada awalnya, Iris mengatakan dia akan mendapatkan “teknologi medis paling canggih di alam semesta” dan meninggalkan sekolah — jadi, dia telah meninggalkan Bumi.

“Jadi dia menuju Planet Finerita?”

“Mungkin ... aku seharusnya menghentikan dia, tapi aku juga panik. Aku tidak bisa ...” Satsuki terlihat menyesal.

Barangkali dia kesal karena dia tidak berpikir jernih.

“Gak, tidak apa-apa. Kalian berdua mencemaskanku, kan? Makasih buat itu.”

“Y-Yeah ...” Satsuki memalingkan muka, malu karena suatu alasan.

Toh, Iris berada di luar angkasa, ya? Itu berarti tidak mungkin bagiku untuk menghubunginya sekarang. Jika aku bisa mengatakan padanya aku selamat, aku yakin dia akan segera kembali, tapi ...

Ketika aku berpikir, seseorang membuka pintu ke kantor perawat dan masuk ke dalam.

“Oh, kau sudah bangun. Aku senang.”

Itu adalah gadis yang mencoba menghentikan Tsumiki sebelumnya.

Teman Tsumiki, Sato, meminta maaf kepadaku dan menjelaskan situasinya.

“Food Champion?” Aku meminta klarifikasi.

“Iya. Ini adalah acara besar yang diadakan setiap tahun di kota tetangga. Belakangan ini telah ada booming makanan cepat saji besar, jadi sekarang disiarkan di TV secara nasional,” Lanjut Sato.

Aku tidak begitu tertarik hal semacam itu, jadi itu semua berita untukku.

“Begitu ya. Jadi dia ingin menang di sana dan membantu menyelamatkan kefetaria keluarganya?”

“Ya, sesuatu seperti itu.”

“Dan itulah mengapa dia membuat makanan kreatif ini dan memberikannya pada semua orang?”

Dengan “makanan kreatif,” yang aku maksudkan adalah gumpalan hitam yang dia berikan kepadaku. Tapi sejujurnya, tidak mungkin “makanan” itu akan memenangkan dirinya. Satu-satunya hal yang akan dia menangkan adalah tumpangan gratis dalam mobil polisi.

“Um, ayahnya adalah koki di tempat Nozomiya ini, kan? Tidak bisakah dia ikut Food Champion?” Aku bertanya.

Tapi Sato menggelengkan kepalanya, “Jangan menyinggung ayah Tsumiki, tapi ... Nozomiya membuat jenis makanan yang bisa kaudapatkan di setiap restoran tua. Aku sungguh berpikir dia tidak bisa membuat apapun yang akan membuat para juri terkesan.”

Jadi begitulah. Bukan cuma mereka harus memasuki kompetisi, mereka benar-benar harus memenangkannya.

“Lalu, bisakah seseorang mengajarinya memasak?” Aku terus bertanya.

Saat itulah Satsuki menyela. Dia juga telah mengikuti, dan muncul dengan ide yang berbeda. Tidak ada jaminan itu akan membuat Tsumiki menang, tapi itu pasti akan memberikan peluang yang lebih baik daripada apa yang dia miliki sekarang.

Tapi Sato terlihat sedikit terganggu.

“Begitu Tsumiki memutuskan, dia adalah tipe yang tidak pernah menyerah. Mana tahu jika dia akan mendengarkan orang lain ...”

“Itu ...”

“Itu kepribadian yang sulit untuk ditangani ...” Satsuki dan aku berbisik.

“Aku minta maaf,” Sato meminta maaf, kendati itu bukan salahnya.

Hmm ... sekarang, turnamen Food Champion ini dan restoran dalam bahaya gulung tikar ...

Tunggu, bukankah itu ...

“Hei, R.” Aku berbisik di pundakku ketika Sato tidak memperhatikan.

“Aww, itu geli.”

“Tidak seksi ketika kau mengatakannya dengan suara datar. Jadi aku menduga Tsumiki adalah heroine?”

“Ya, betul.”

Ternyata aku benar.

Tapi astaga ... Itu berarti aku tidak punya pilihan dalam hal ini. Aku cuma seorang pria biasa yang membenci masalah, tapi aku tidak cukup tanpa perasaan hanya untuk meninggalkan seorang gadis menuju takdirnya ketika aku tahu itu akan menjadi menyedihkan.

Terkadang itu membuatku dalam masalah ... tapi apa yang akan orang lain lakukan?

“Baiklah, aku mengerti. Aku akan berbuat sesuatu.”

“Apa?!” Kedua gadis itu berteriak pada waktu yang sama.


Setelah mengetahui di kelas mana Tsumiki dari Sato, aku berlari menyusuri lorong.

Pada saat aku meninggalkan kantor perawat, pelajaran keenam telah berakhir, yang berarti kami ada istirahat sejenak sebelum homeroom dimulai. Aku harus menggunakan kesempatan singkat ini untuk menemukan Tsumiki dan bicara dengannya.

“Rekka, bagaimana kau akan meyakinkan Nozomuno?” Satsuki bertanya sambil mengikutiku.

Itu pertanyaan yang bagus. Berdasarkan apa yang aku dengar tentang Tsumiki dari Sato, dia tidak akan mudah dibujuk.

“Aku ingin bantuanmu soal itu.”

Aku berbalik untuk melihat mata teman penyihirku.

“Bantuanku?”

“Ya, jelasnya ...”

Ruang kelas Tsumiki adalah tiga ruangan dari kami. Aku mengetuk pintu sebelum masuk, tapi sepertinya tidak ada yang memperhatikan. Mungkin ada hubungannya dengan kenyataan bahwa orang-orang selalu datang dan pergi selama istirahat. Selain itu, tahun ajaran sekolah baru saja dimulai, jadi bukan berarti ada orang yang kenal wajah semua teman sekelasnya.

Tapi aku melihat gadis yang kucari dan berjalan ke mejanya.

Alis Tsumiki berkedut ketika dia melihatku.

“... Hmm? Kau siapa?” Dia sepertinya tidak ingat orang yang hampir diracuni sampai mati tadi.

Meskipun, aku sudah melewati ambang batas antara hidup dan mati selama setidaknya satu jam, jadi mungkin itu bukan “tadi” lagi ... tapi tetap saja, bukan berarti tidak apa-apa untuk memaksa makanan turun ke tenggorokan orang dan kemudian melupakannya tepat setelah mereka pingsan, kan? ... Yah, terserah.

Bagaimanapun juga, aku memutuskan untuk berbicara dengannya.

“Um, aku Rekka Namidare. Kudengar kafetaria keluargamu bermasalah, dan um ... aku penasaran apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membantu.”

“... Siapa yang memberitahumu?”

“Sato.”

“Sato, huh ...? Yah, itu bukan masalahmu. Minggir.”

Grr ... Ini tidak akan berhasil.

“S-Setidaknya dengarkan aku, oke?”

“Diam. Dan tinggalkan aku sendiri! Aku sibuk bikin resep baru.”

Apakah aku harus berasumsi bahwa maksudnya dia sedang mengembangkan jenis racun baru? Gak gak. Bukan waktunya untuk khawatir tentang itu. Takdir seorang gadis sedang dipertaruhkan di sini.

“Tsumiki. Apa kau masih punya hitam ... Maksudku, hidangan kreatif yang kaubuat?”

“Astaga, kau masih di sini? Kukira sudah pergi. Tapi apa pedulimu?”

Yap. Aku benar.

“Minta.”

“Hah?” Tsumiki jadi gembira. Dia telah memalingkan wajah dengan tidak tertarik, tapi kini dia berpaling kepadaku karena terkejut.

“Kau sedang mengerjakan resep baru, tapi kau masih membutuhkan seseorang untuk mencicipinya, bukan?”

“... Tidak juga. Itu bukan masalah.”

“Pembohong. Kau hanya memaksa orang untuk makan masakanmu.”

“... Apa kau melihatku?”

“Tidak, aku adalah salah satu dari orang-orang itu.” Ada nada marah dalam suaraku, tapi aku tidak peduli.

“Pasti butuh waktu lama untuk menemukan seseorang untuk mencobanya setiap saat, kan? Saatnya kau bisa menghabiskan uang untuk hal-hal lain.”

“Tentu, tapi ...” Tsumiki terlihat sedikit tidak yakin, tapi menarik tupperware dari tasnya.

Dia membuka tutupnya, dan aku melihat bola-bola hitam di dalamnya.

“Ugh ...”

“Kalau kau pingsan setiap kali kau memakannya, itu tidak akan menyelamatkanku sewaktu-waktu. Asal tahu saja, semua yang aku masak nyatanya seperti ini.”

“...Jadi kau tahu itu tidak enak?”

“Diam. Sato benar-benar marah padaku karena itu. Dengar, apa kau mau memakannya atau tidak?”

Mengapa dia terdengar begitu suka memerintah soal itu? Yah, terserah. Aku hanya harus menerima bola hitam itu — mungkin lebih baik menyebutnya sebagai materi gelap — dan berhasil memakannya tanpa pingsan.

“Oke, berikan padaku.”

Aku memindahkan materi gelap ke mulutku.

“...” Aku bisa melihat Tsumiki meneguk sedikit.

Nyam.

“Mmwarraaggghmm!” Rasanya aneh: pahit, pedas, dan asin, tapi sedikit manis, lembut, renyah, dan gertakan gigi pada saat bersamaan. Kebanyakan, sulit untuk dijelaskan.

Satsuki duduk di sebelahku. Yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya selagi aku mencoba menahan air mata. Dia mengangguk, sebutir keringat membasahi wajahnya.

Itu berarti mantra anti-kutukan yang dia kenakan padaku tengah berjalan. Dia telah mengatakan bahwa sihir penyembuhannya berhasil setelah aku pingsan pertama kali, jadi kupikir mungkin sihir pertahanan juga bisa berfungsi.

Berkat itu — seperti yang kuharapkan — aku tidak pingsan.

Tapi masih ada ledakan hebat dari rasa yang meledak di mulutku. Mungkin tanpa sihir pertahanan, itu akan menjadi lebih buruk.

“Mgghh ...! G-Gaaahh!”

... Mantra itu bekerja, kan?

Mungkin tak sopan karena blak-blakan, tapi benda ini sangat menjijikkan sehingga itu berbahaya. Jika dia membawanya ke turnamen, itu mungkin diperlakukan sebagai semacam makanan yang disemprotkan. SDF atau bahkan PBB barangkali harus terlibat.

Biarpun tidak sampai sejauh itu, Nozomiya akan gulung tikar dan ceritanya akan berakhir dengan buruk. Aku harus menghentikan itu, bagaimanapun caranya. Tapi itu tidak mengubah betapa memalukannya ini!

Glup!

Aku entah bagaimana berhasil menelan semuanya. Kepalaku terkulai ke meja.

“T-Tapi ... aku tidak pingsan?!”

Aku merasa sedikit pusing, tapi aku mampu menanggung semuanya. Aku benar-benar berutang pada Satsuki untuk yang satu ini.

Mata Tsumiki melebar sejenak, tapi kemudian dia mulai menyeringai.

“Hmph. Baik. Aku akan membiarkanmu menjadi penguji rasaku untuk sementara ini.”

Dia menawarkan tangannya padaku.

“Begitu? Siapa namamu?”

“Sudah kubilang, dan kau sudah lupa ... Rekka Namida—?!”

Aku pergi untuk meraih tangannya, tapi dia tiba-tiba mendorongku. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang. Oww ...

“Aku Tsumiki Nozomuno. Akan kuperjelas, kau cuma penguji rasaku. Jangan berpikir bahwa kau jadi pacar atau apapun, oke?”

“... Aku akan mengingatnya.” aku mengangguk lemah.

“Kelihatannya jalanmu masih panjang, ya?” R menatapku, tampaknya tidak peduli, selagi dia melayang terbalik di udara.


Sepulang sekolah, aku langsung menuju Nozomiya untuk mencicipi tes (tes racun?) kreasi terbaru Tsumiki. Ketika aku duduk di konter yang kosong, R yang bosan mengintip ke dapur untuk melihat apa yang tengah dilakukannya.

“Rekka, jangan mati di sini, oke?”

Mengatakan hal itu, aku tidak yakin apa dia khawatir padaku atau cuma merengut.

Aku meletakkan sikuku di meja dan mendesah, benar-benar mulai cemas.

Hanya aku, R, dan Tsumiki di Nozomiya. Orangtuanya mengadakan rapat jalan perbelanjaan dan tidak akan kembali sampai larut malam.

Aku pikir Satsuki mungkin setuju untuk datang, tapi dia harus pergi ke gunung di belakang sekolah untuk memetik ramuan herbal untuk ramuannya.

“Aku akan membuatkanmu obat perut sederhana. Dan mencari bahan-bahan untuk mantra anti-kutukan dan anti-racun,” katanya.

Aku benar-benar berutang banyak pada Satsuki. Tidak bercanda. Tanpa dia, aku mungkin tidak akan bertahan dari jalan cerita ini.

Tapi dia tidak bisa segera datang dengan ramuan itu! Aku putus asa! Tsumiki muncul dari dapur, mengenakan lengan pendek dan mengenakan bandana di kepalanya.

“Selesai.”

Jadi, sudah waktunya ...

Aku mempersiapkan diri untuk memenuhi tugasku sebagai penguji rasa, tapi aku belum siap untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.

“ZzzZZOOGHH?!”

Sekali lagi, ada serangan teroris di mulutku. Aku jatuh dari kursi dan memukul kepalaku di lantai. Seluruh tubuhku mengejang.

Tsumiki menatapku, kesal, tapi kemudian dia menepuk bahuku dengan sendoknya.

“Terus? Bagaimana rasanya?” Dia bertanya, seolah-olah tidak ada yang salah.

“RASANYA MENGERIKAN!” Aku menjerit, kepalaku masih sakit karena benturan, dan lebih buruk lagi, makanannya.

“Itu karena kau punya karma buruk.”

“Siksaan neraka akan lebih baik dari ini!”

Setelah itu, aku meminum beberapa gelas air dan memutuskan untuk mendapatkan laporan langsung tentang bagaimana kekacauan ini terjadi. Jelas ada sesuatu yang sangat salah.

Ternyata, itu bukan cuma satu hal ...

“Tunggu! Kenapa kau mencampurkan semua bumbu itu bersama-sama?!”

“Aku membuat saus baru.”

“Tapi kau sudah mencampurkannya beberapa lusin! Mangkuknya meluap!”

“Diam. Coba saja rasanya dan rasakan apakah itu enak.” “Mmm ... GWAAH!”

Atau ...

“Tunggu. Apa yang semua gulma ini lakukan? Gulma-gulma ini masih kotor!” “Tidak ada tanaman yang bernama ‘gulma’. Mungkin salah satunya bisa dimakan. Mari kita mulai dengan melemparkan semuanya ke dalam blender.”

“Gyaah! Tunggu, kenapa kau menaruh rumput di sana?”

“Ini juga tanaman. Mungkin ini akan berjalan dengan baik. Ini dia.”

“Rumput tidak cocok dengan apapun! Dan wow, baunya mengerikan ... Tunggu dulu, apakah kau memberiskan kotorannya?”

“Mereka bilang ini lebih segar jika kotorannya masih menempel.”

“Begitulah caramu mengetahui apakah itu segar ketika kau membelinya!”

“Jadi begitu. Lalu aku akan menaruh ini dalam gelatin. Tapi kalau aku membuat makanan penutup, aku harus menambahkan sesuatu yang manis. Apakah kau lebih suka cokelat atau permen kapas?”

Atau ...

“Apa kau tahu mengapa semua yang kaulakukan selalu berakhir menjadi materi gelap?”

“Tidak, gak tahu.”

“Itu karena kau menggabungkan semuanya! Kalau kau mencampur banyak cat bersama-sama, semuanya berubah menjadi hitam! Itu mungkin hal yang sama! Tolong, cobalah buat sesuatu yang lebih normal!”

“Aku tidak bisa memenangkan Food Champion dengan makanan normal! Yang kubutuhkan adalah sesuatu yang berdampak!”

“Kau bukan selebriti baru yang mencoba membuat orang mengingatmu dengan membuat wajah lucu! Kau membutuhkan lebih dari sekadar dampak.”

“... Lagu tema?”

“Apakah kau seorang pegulat pro sekarang?!”

Atau ...

Tidak, ini benar-benar berubah menjadi sketsa komedi yang makin kurang ada hubungannya dengan seni kuliner. Masakan Tsumiki sangat buruk sampai mendasar sehingga aku mulai mempertanyakan apa yang dia lakukan di sini sama sekali.

“Aww, dasar! Diam saja! Aku melakukan semua ini sendiri!” Akhirnya, dia mulai menggertak.

“...” Aku tidak punya energi untuk mengatakan apapun, jadi aku hanya jatuh ke kursi.

Keheningan yang mengerikan memenuhi dapur.

“... Aku akan membuang sampah,” Kata Tsumiki sambil mengambil piring besar penuh bola-bola hitam keluar dari pintu belakang.

“... Hahh.” Aku menghela napas dan mengusap rambutku.

Kami punya waktu sepekan sampai Food Champion. Aku perlu menemukan cara untuk membawa ini ke akhir yang bahagia sebelum itu.

Tapi aku juga tidak pandai memasak. Tidak mungkin aku bisa menyiapkan sesuatu yang akan memenangkan kompetisi profesional. Hal yang sama mungkin terjadi pada Satsuki, Iris, dan Harissa. Dan R tidak akan membantuku menyelesaikan salah satu alur cerita yang kuhadapi.

“...”

Aku harus tenang dan memikirkan semuanya. Tsumiki selalu bekerja sebagai pelayan di Nozomiya, tapi dia tidak punya pengalaman memasak. Seburuk yang dia lakukan, orangtuanya mungkin menghentikannya ketika dia mencoba.

Koki terbaik yang aku tahu adalah ayahku dan Satsuki. Kalau aku meminta bantuan salah satu dari mereka, itu mungkin adalah Satsuki. Tapi, aku tidak bisa melihat dia memenangkan Food Champion.

Mengingat di mana kita berdiri, bagaimanapun, membuat Satsuki mengajarkan Tsumiki untuk memasak kemungkinan adalah pilihan terbaik.

Ketika aku menyarankan itu kepada Tsumiki, dia menjawab, “Kau benar-benar bodoh, ya? Maksudku, kalau kita punya beberapa hidangan terkenal yang dikenal kota itu, seperti Utsunomiya gyoza atau Sanuki udon, maka mungkin aku bisa melakukan itu. Tapi kota ini tidak ada yang seperti itu! Dan kami hanya sebuah kafetaria tua belaka! Jika kami melakukan ini dengan cara lama, kami tidak akan pernah menang! Jadi kami harus memikirkan sesuatu yang tidak pernah dilihat siapapun!”

Dia melanjutkan dengan melemparkan nanas di kepalaku. Sakit tahu. Sekarang yang harus aku tunjukkan adalah wajahku yang diperban.

Tapi, ada suatu kebenaran terhadap apa yang dikatakannya. Nozomiya tidak punya apa-apa. Jika dia ingin menang, dia harus membidik pertandingan akbar. Itulah sebabnya dia melanggar semua aturan dan mencoba mencari cara memasak yang baru dan ganjil. Tapi itu taruhan yang buruk.

“Aku tahu cara mengalahkan raja iblis jahat dan penyihir ... tapi ini sama sulitnya dengan cara yang berbeda, sialan.”

Meski begitu, berat dari apa yang tergantung pada keseimbangannya sama. Jika aku tidak melakukan sesuatu, Tsumiki dan Nozomiya akan menemui akhir yang buruk. Itu adalah tugasku untuk mencegah hal itu terjadi.

“Tapi tetap saja ... Memasak, ya?”

Dan kita tidak hanya perlu memenangkan Food Champion, kita perlu menghirup kehidupan Nozomiya. Mungkin kita bisa menggunakan sihir untuk mengelabui juri Food Champion agar mengira makanannya enak. Tapi kalaupun itu membuat pelanggan kembali ke restoran, jika makanannya tidak enak, mereka akan pergi lagi.

“Nah, bisakah kau selamatkan cerita ini, Rekka?” R bertanya mengejek selagi berbaring dan mengayunkan kakinya ke udara.

“Grr ... Ini bakalan sulit.”

“Oh, menyerah?”

“Memasak semuanya tentang latihan, kan? Entahlah ... Kalau kami tidak dapat membuat cara khusus untuk memasak, mungkin kami harus menemukan bahan baru yang tidak dimiliki oleh siapapun. Hanya itu yang bisa kupikirkan.”

Tapi di mana kau akan menemukan sesuatu seperti itu? Jika Iris ada, mungkin dia bisa memberikan kami sesuatu dari planet lain, tapi itu sudah tidak membantu kami. Jika saja ada cara untuk berhubungan dengannya ...

“Omong-omong, bukankah Tsumiki mengambil masa indahnya?”

“Kau benar, sebenarnya ...”

R dan aku melihat keluar pintu belakang.

Karena dia mengambil seluruh nampan, dia mungkin menggunakan tempat sampah di belakang toko. Dia tidak akan mengambil piring raksasa dari materi gelap terlalu jauh.

Tapi ada waktu yang cukup untuk mengurusnya. Barangkali dia telah melakukan sesuatu yang lain ketika dia melangkah keluar. Aku sedikit cemas.

“Kurasa aku akan pergi melihatnya.”

“Mungkin ide yang bagus.”

Aku berdiri, dan R berenang di sebelahku selagi kami keluar dari pintu belakang bersama.

Sesi pengujian rasa harus berlangsung lebih lama dari yang kukira. Matahari sudah terbenam.

“Hm?” Aku menemukan Tsumiki dengan cepat.

Dia berlutut di sudut halaman belakang, melakukan sesuatu dengan tenang.

“...?”

Curiga, aku semakin dekat dengannya.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Kyaaah! J-Jangan menakut-nakuti aku seperti itu!” Tsumiki menjatuhkan sekop yang dipegangnya dengan terkejut.

Kenapa dia bawa sekop?

“Kau tidak berencana untuk mengubur materi gelap yang kau buat di tanah, kan? Itu akan mencemari area ini begitu parah sehingga tidak akan ada yang tumbuh selama berabad-abad ... Hah?” Aku melihat ke bawah di mana tangannya hanya melihat lubang misterius.

Sekop dan lubang.

Tidak ada yang luar biasa tentang kombinasi itu, tapi tidak ada yang biasa tentang lubang ini.

Sebagai permulaan, kau tidak bisa melihat bagian bawah. Itu hanya seukuran piring makan kecil, jadi menggali lebih dalam berarti menancapkan lenganmu ke dalamnya. Tapi tidak ada kotoran di baju Tsumiki.

Aneh sih, permukaan lubang itu gelap gulita. Bahkan lubang terdalam seharusnya membiarkan kau melihat ke dalamnya setidaknya sedikit di bagian atas.

Dan yang paling aneh dari semua, sedikit tentakel hitam kegelapan merayap dari tepi lubang.

Kesimpulan: Ini bukan lubang normal.

“Apa ... Lubang apa itu?”

“Itu tempat aku selalu membuang sampahku. Kenapa?”

“Gak gak gak! Aku tidak menanyakan apa yang kaulakukan dengan itu. Itu kelihatan lubang hitam atau pintu masuk ke jurang yang sangat dalam bagiku!”

“Hah? Apakah kau memikirkan dongeng?”

Ugh. Mungkin itu bukan analogi terbaik, tapi ...

“Gak, serius, lubang apa itu?!”

“Aku menemukannya secara kebetulan ketika aku masih kecil. Aku mencoba mengisinya dengan tanah, dan aku tidak tahu, jadi biasanya aku hanya memasang penutup dan kemudian menyembunyikannya dengan tanah.”

“Kenapa kau menyembunyikannya?”

“Aku sudah bilang, kan? Lubang ini menelan semuanya, jadi sangat berguna. Ini kecil, jadi tidak perlu khawatir jatuh juga.”

... Ah. Jadi dia melempar materi gelap ke sana, ya? Yah, aku kira dia tidak bisa membiarkan orangtuanya melihatnya ketika mereka pulang dari rapat mereka.

“Hei, apakah kau yakin kau tidak ingin ayahmu membantu?”

“Ya, aku yakin. Ibu dan Ayah berusaha sangat keras untuk membuatku tidak khawatir, jadi aku pura-pura tidak memerhatikan. Selain itu, aku sudah memulai ini, jadi aku harus melakukannya sendiri ...”

Aku menghela napas, tapi pelan sehingga dia tidak akan mendengarku.

Mungkin dia hanya keras kepala. Dia sepertinya berpikir bahwa begitu dia mendapatkan sesuatu, dia harus bertanggung jawab untuk itu. Pada umumnya itu hal yang baik, tentu saja, tapi itu bisa dianggap berlebihan.

Dia sepertinya hanya menganggapku sebagai penguji rasa, dan karena dia tidak mau mendengarkan nasihatku, aku tidak punya cara untuk membantunya. Kalau begini terus, akan sangat sulit bagiku untuk membantunya mencapai tujuannya.

Aku mungkin mengatakan itu mustahil. Itu adalah hal-hal yang sangat suram.

“...”

“...”

Tsumiki dan aku menatap lubang misterius itu untuk sementara. Ketika aku melihatnya di cahaya bintang, itu mulai terasa bak aku bisa jatuh selamanya ...

“...” Itu adalah hal yang menakutkan untuk dibayangkan.

Aku menggelengkan kepala.

Di depanku, Tsumiki juga menggelengkan kepalanya. Mungkin dia juga membayangkan hal yang sama denganku.

Akhirnya dia berbalik dan menatapku.

“... Hei.”

“Apa?”

“Kenapa kau setuju untuk membantuku?”

Meringkuk seperti dia, dia tampak lebih kecil dari biasanya. Hampir seperti dia menjadi lebih muda.

“Yah, aku ... Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.”

Tsumiki adalah seorang heroine, tapi dia juga cuma seorang gadis biasa. Karena memberitahunya tentang garis keturunan Namidare hanya akan membuatnya berpikir aku aneh, aku memutuskan untuk tidak menyebutkannya. Tapi dia tampak terkejut dengan jawabanku, lalu meringkuk dalam bola seolah-olah dia menyembunyikan sesuatu yang dia tidak ingin aku lihat.

“... Tsumiki?”

“Di-Diam! Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengatakan sesuatu yang sangat memalukan dengan wajah polos.” “...?” Apakah aku sudah mengatakan sesuatu yang memalukan?

Tsumiki-lah yang tampak malu. Dia jadi merah sampai ke telinganya. Apa aku membayangkannya? Untuk beberapa saat setelah itu, dia hanya menyuruhku untuk diam setiap kali aku mengatakan sesuatu, tetapi kemudian ada keheningan.

“Kau aneh. Kau pingsan menyantap makananku, tapi kau masih ingin membantuku.” Tsumiki berbisik sambil membenamkan kepalanya di lututnya.

“Maaf aku aneh ... Tunggu.”

Tunggu sebentar. Apa aku mendengar apa yang aku pikir baru aku dengar?

“Jadi kau ingat aku. Kau pura-pura tidak seperti itu!”

“Diam. Itu tepat setelah orang lain yang aku berikan makan datang untuk mengeluh kepadaku. Jadi aku memutuskan untuk pura-pura lupa.”

Kalau dipikir-pikir, aku bukan satu-satunya korban, kan?

Aku mengerti tidak ingin dimarahi, tapi tidak bisakah dia merespon dengan cara lain? Dia sangat keras kepala.

“... Hei,” Kata Tsumiki lagi.

“Apa?”

“Kau pikir aku bisa memenangkan turnamen Food Champion?”

“...”

“A-aku tidak akan kesal atau apalah! Aku cuma mau pendapat yang tidak memihak, kau tahu? Atau pendapat pihak ketiga, atau apalah.”

Itu sama saja, tapi aku tidak mengoreksinya.

Apa yang harus kukatakan? Sejujurnya, mana mungkin dia bisa menang. Aku yakin itu. Tidak ada harapan. Tapi sepertinya dia tidak meraih seseorang untuk menghiburnya.

Yang diinginkannya adalah cara untuk menang. Dia menginginkan sebuah rencana.

“...” Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang dia inginkan.

“Aku tidak bisa memasak, tapi aku suka restoran ini. Aku suka orangtua yang datang ke sini sepanjang waktu, juga. Jadi aku ingin menang, tidak peduli seberapa buruk keadaannya. Aku ingin mencoba dan mencoba dan mencoba sampai ke akhir yang pahit.”

Mungkin dia menguatkan dirinya dalam menghadapi kemungkinan yang mustahil, atau mungkin dia hanya ingin seseorang mendengarkan perasaannya ...

Lagipula, aku menyadarinya lagi.

Kalaupun tidak ada kerajaan ruang angkasa, tidak ada dunia lain, tidak ada penyihir, tidak ada meteor, dan tidak ada raja iblis, “cerita” ini masih sangat penting baginya.

“Ayo lakukan yang terbaik dan buat hidangan baru ini. Aku akan membantumu.”

“Aku bertanya padamu sebelumnya, tapi kenapa kau sangat mendukung?”

Dia tampak curiga lagi. Tapi hanya ada satu jawaban.

“Karena aku ingin membantumu.”

“Itu lagi ...?!”

“Hmm?”

Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang aneh lagi? Tsumiki mengambil napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya. Ketika akhirnya dia berbalik beberapa saat kemudian, dia menempelkan jarinya tepat di wajahku, menunjukku dengan ketenangan yang baru ditemukan.

“Hmph! Mulutmu cuma buat mencicipi masakanku. Yang perlu kaulakukan adalah makan apa yang kuberikan dan katakan bagaimana kau menyukainya.”

“Benar, benar.”

Sheesh. Dia sangat keras kepala. Dan aku berharap dia tidak akan tersipu malu hanya untuk mengucapkan terima kasih. Itu memalukan aku.

Setelah mengumpulkan dirinya, Tsumiki berdiri dan menyingkirkan dirinya.

“Kita membuang banyak waktu. Mari kembali bekerja.”

“Benar, terserah.”

“Tunjukkan antusiasmenya!” panggilnya, berlari menuju pintu belakang.

“Hmm, untukmu, kurasa itu angka kelulusan.”

“Buat apa?”

“Aku berharap kau bisa sampai memahami itu.”

Aku tidak tahu mengapa R menilaiku, tapi ketika aku mulai kembali ke kafetaria ...

“Rekka!”

“... Satsuki?”

Satsuki mengatakan dia tidak akan datang hari ini, tapi dia muncul dalam kepanikan. Dan bukan cuma dia.

“Hei, siapa itu?”

Satsuki membawa seorang gadis kecil di punggungnya.

“Entahlah. Aku menemukan dia pingsan di gunung. Aku memberinya pertolongan pertama, tapi dia masih belum sepenuhnya sadar ...”

“Kalau begitu bawa dia ke rumah sakit.”

“Awalnya aku berpikir untuk melakukan itu, tapi dia mungkin bukan manusia.”

“Apa ...?”

Satsuki bukan tipe bercanda pada saat-saat seperti ini, jadi aku melihat lagi gadis di punggungnya.

Dia memiliki rupa yang unik. Rambutnya putih dengan sedikit warna hijau di ujungnya, dan aku bisa tahu betapa putih kulitnya, bahkan di kegelapan. Dia mengenakan jubah kain, tapi itu sedikit kotor.

Dia sangat pucat sehingga dia hampir terlihat sakit-sakitan, tapi itu tidak cukup bagiku untuk berpikir dia bukan manusia ... atau setidaknya itulah yang aku pikirkan sampai dia mengerang lemah dan membuka matanya.

“!” Di bawah kelopak matanya, aku melihat mata bersinar. Melintas seperti kucing. Mereka pasti tidak normal.

“Tolong aku ... Monster itu ...”

Ketika aku mendengar suara gemetarnya saat dia melihatku dan memohon bantuan ... aku tahu aku terjebak dalam cerita lain.
MARI KOMENTAR

Share: