Little Mokushiroku v2 3

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

“Baiklah, mari kita bunuh monster ini!” Suara Bah masih ceria ketika kami sampai di Desa Jizu, tapi ...

“Tidak akan ...” Ucapku.

“Betisku sangat kaku ...” Kata Satsuki.

“Aku tidak bisa berdiri tanpa memegang tongkatku ...” Ujar Harissa.

Tetra hanya terengah-engah.

Pada saat kami tiba di desa orang-orang tanah, kami semua terlalu lelah untuk bertarung melawan monster.

“Hmm ... Yah, segel itu melemah, tapi itu tidak akan rusak besok atau lusa, jadi aku kira boleh saja untuk beristirahat.”

“Kau bisa tahu, Bah? Kami masih di pintu masuk ke desa, kan?”

Tetra mengatakan bahwa Aula Penyegelan ada di kuil di belakang desa.

“Aku bisa memahami ide dasar, ya,” Jawab Bah.

Yah, aku ingin istirahat juga, jadi aku tidak akan mengeluh.

Kami memasuki Desa Jizu, merasa sedikit lebih baik. Itu adalah pemukiman kecil di sebuah gua yang terbuka di bawah tanah. Hampir membuat seluruh desa merasa berada di dalam gedung olahraga besar.

Bangunan atap berkubah terbuat dari batu dan tanah. Tidak banyak, dan semuanya kecil.

“Tidak banyak orang di sini,” Kataku pada diri sendiri ketika berjalan melewati kota.

“Betul. Desa ini tidak bisa lebih besar dari gua, jadi penduduknya tidak membesar.” Tetra tampak sedikit kesal ketika berbicara.

“Omong-omong, apa yang menerangi desa ini? Bukan api, dan mustahil listrik ...”

Kini giliran Tetra menjelaskan.

“Cahayanya tidak memiliki sumber. Ini berkah dari Dewa. Seluruh desa selalu dikelilingi oleh cahaya.”

“Apa yang kaulakukan ketika ingin tidur?”

“Hah? Kami menutup mata.”

Kukira mereka sudah terbiasa.

Seorang pria — mungkin seorang warga desa — mendekat. Kami membungkuk sedikit, lalu dia terus berjalan. Dia hanya melirik kami dan pergi ke arahnya.

“... Itu respon yang sangat berbeda dari ketika aku berada di dunia lain.”

Semua orang menatapku saat itu.

Tetra dan penduduk desa sangat pucat, tapi matahari telah menyamarkan kulit kami dan membuatnya menjadi warna yang berbeda. Seharusnya bisa langsung dikatakan bahwa kami adalah orang luar. Apa dia tidak peduli dengan orang lain? Ketika aku merenungkan ini, Tetra berhenti.

“Ini adalah kuil Desa Jizu.”

“Huh ...”

Aku melihat ke arah gedung, yang lebih besar dari yang lain.

Itu mengingatkan aku pada versi lebih kecil dari kuil-kuil Yunani yang pernah kulihat di buku sejarah atau seni. Tapi masih jauh lebih besar dari rumah-rumah lain, dan ada ukiran di atap dan pilar. Bahan-bahannya pasti tidak digali dari bawah tanah.

“Sepertinya seseorang baru saja membawa ini ke sini.”

“Ada saatnya aku mencoba untuk meneliti, meskipun aku tidak belajar banyak. Ini adalah salah satu dari berkah Dewa, jadi menurutku itu mungkin ada hubungannya dengan itu.”

“Begitu.”

Aku masih sedikit penasaran, tapi lebih dari apa pun, aku hanya ingin beristirahat.

Karena tak ada penginapan di Desa Jizu, kami memutuskan untuk beristirahat di ruang terbuka di kuil. Tetra memerintahkan penduduk desa untuk membawa kami ke tempat tidur, lalu mengantarkan kami ke kamar, tapi ...

“Um, Tetra ... apa cuma ada satu kamar?”

“Iya.”

“Dan sepertinya cuma ada dua tempat tidur, ya?”

“Maaf. Ini adalah dua tempat tidur cadangan di desa.”

Yah, ini kan desa kecil. Mungkin tidak bisa dihindari. Aku tidak begitu kesal pada Tetra atas cara kami diperlakukan. Tapi ...

“......”

“Ooooh ... Ahhh ...”

Satsuki dan Harissa sedang menatap tempat tidur dengan saksama hingga membuatku takut.

“Baiklah, semuanya. Selamat malam.”

Tetra membungkuk dan meninggalkan ruangan dengan tenang. Tak ada yang mengatakan sepatah kata pun sampai dia menutup pintu.

Tapi kesunyian itu tidak berlangsung lama.

Satsuki menoleh pada Harissa dengan tatapan paling serius yang bisa dibayangkan di wajahnya.

“Harissa, kau gak mau tidur di tempat tidur yang sempit, kan? Rekka dan aku akan tidur bersebelahan.”

“Gak! Aku lebih mungil, jadi masuk akal bagiku dan Rekka tidur di ranjang yang sama ...”

“Gak apa-apa. Ketika aku masih kecil, aku sudah biasa tidur dengan Rekka sepanjang waktu ...”

“Keluargaku juga miskin, jadi aku terbiasa berbagi ranjang dengan saudara-saudaraku ...”

“Gak, aku bersikeras.”

“Gak, aku bersikeras.”

Mereka terus berdebat.

“Aku akan tidur di lantai, jadi kalian berdua bisa tidur di ranjang kalian sendiri-sendiri.”

Aku mencoba berkompromi, tapi ...

“Kau harus bertarung dengan Monster besok, kan? Kau tidak bisa tidur nyenyak di lantai.”

“Betul. Kau tidak perlu melakukan itu, Tuan Rekka ... Sejujurnya, aku lebih suka tidur di ranjang yang sama ...” Harissa terdiam, bergumam saat wajahnya memerah. Apa itu tadi?

Pokoknya, rencanaku gagal.

“Baik ... Aku akan keluar sebentar. Kalian berdua yang memutuskan.”

Aku cepat-cepat meninggalkan ruangan. Jika aku tetap tinggal, mereka mungkin akan memintaku untuk memutuskan dengan siapa aku ingin tidur.

Untuk saat ini, aku hanya akan berkeliaran dan mencoba mencari tempat untuk tidur.

“Rekka, aku pikir kau diizinkan untuk menjadi sedikit lebih mesum,” R menghela napas sambil melayang di udara di sebelahku. “Atau mungkin kalian bertiga bisa tidur bersama.”

“Aku gak bisa melakukan itu!”

“Lakukan saja. Lalu lakukan apa yang datang secara alami juga. Kalau tidak, aku tidak bisa menyelesaikan misiku.”

“Ini tidak semudah itu ... Huh?”

Ketika aku berbicara dengan R, aku memasuki ruangan yang lebih besar di kuil. Tetra berdiri diam di tengah ruangan.

“Tetra?”

“Oh, Rekka. Ada apa? Kau tidak bisa tidur?”

“Gak, sesuatu muncul sebelum aku sempat memikirkannya.”

“...?”

Tetra hanya terlihat bingung. Tapi ya, kukira dia akan begitu. Aku hampir tidak memahaminya sendiri.

Tanpa alasan tertentu, aku memasuki aula besar.

“Omong-omong, apa itu?” Aku duduk di sebelah Tetra dan menunjuk apa yang dia lihat.

Itu adalah sesuatu di tengah ruangan — patung seorang dewi dan sebuah kotak. Kotak itu berbentuk persegi panjang, berbentuk seperti peti mati tanpa penutup. Itu terukir dan ditempelkan ke lantai, jadi mungkin itu selalu ada di sana. Sang dewi berada di atas peti mati, memegang pedang.

Itu adalah kuil, jadi wajar untuk memiliki patung seorang dewi ... tapi peti mati dan pedang membuatnya terlihat seperti sebuah monumen serampangan.

“Ini adalah berkah Dewa yang lain. Kalau kau memasukkan makanan atau pakaian ke dalam kotak ini dan berdoa, apa pun yang kau masukkan ke dalamnya akan berlipat ganda.”

“Serius? Itu hebat.”

Itu terdengar seperti mukjizat ilahi. Sungguh menakjubkan bahwa ada cahaya di bawah tanah juga, tapi itu sedikit pudar.

“Bisakah aku menggunakan ini juga?”

“Tidak. Ini dibuat oleh Dewa untuk kepentingan para pelindung, jadi hanya kami yang bisa menggunakannya.”

Sayang sekali. Kalau aku bisa menaruh teh dan camilan Jepang ke dalamnya untuk mendapatkan lebih banyak, aku bisa beristirahat dan bersantai sedikit. Akan sangat menyenangkan untuk menyingkirkan kelelahan yang telah terjadi akhir-akhir ini.

Tetra bercerita lebih banyak tentang peti mati itu. Rupanya, semakin banyak orang yang berdoa, semakin cepat benda-benda di dalamnya akan bertambah banyak. Dan tak ada batasan berapa banyak. Selama mereka terus berdoa, isinya akan terus bertambah jumlahnya.

Selama beberapa generasi, klan Tetra telah mengendalikan peti mati ini. Dia berkata bahwa dia telah mempelajari semua ini melalui gulungan-gulungan tua dan buku-buku yang dia temukan sendiri.

“Setiap tujuh hari sekali, desa berkumpul di kuil untuk berdoa bagi semua makanan, air, dan pakaian yang kami butuhkan. Ini adalah cara paling efisien untuk memastikan semua orang mendapatkan apa yang mereka butuhkan.”

Di masa lalu, konon setiap orang berdoa untuk apa yang mereka inginkan secara individu. Tapi ketika semua orang berdoa sendiri-sendiri, orang harus mengantre. Dan jika kau membiarkan sesuatu dimanjakan, kau hanya bisa mendapatkan lebih banyak barang manja. Itulah sebabnya Tetra memutuskan bahwa mereka semua akan berkumpul dan berdoa, lalu membagikan apa yang dibutuhkan setiap orang.

“Sulit menjadi putri kepala desa, ya?” ujarku, terkesan.

Aku bermaksud itu sebagai pujian, tetapi Tetra menunduk.

“Aku berharap aku bisa membawa lebih banyak kehidupan ke desa ... aku berharap peraturan yang kubuat tentang berdoa sekali setiap tujuh hari akan membuat semua orang merasa seperti bagian dari kelompok. Tapi tidak semudah itu.” Tetra menggosok ujung kotak dengan jarinya. “Peti mati ini yang membuat kami tetap hidup, tapi telah mencuri dari kami alasan kami harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Ini memberi kami makanan dan pakaian — semua yang kami butuhkan.”

“... Bukankah ada penduduk desa yang membantumu?”

Kupikir itu adalah pertanyaan yang cukup jelas, tapi Tetra menggelengkan kepalanya.

“Desa ini terinfeksi dengan puluhan juta tahun kemalasan. Ini adalah desa mayat hidup. Bahkan dengan apa yang terjadi sekarang, hanya diriku sendiri dan beberapa orang muda lainnya yang tertarik. Orang dewasa — bahkan ayahku, kepala suku — tidak mau mencoba melakukan apa pun.” Tetra mendesah sedikit sambil bicara.

Dia mungkin menyerah meminta bantuan penduduk desa. Dia bekerja sangat keras tanpa dukungan siapa pun ... Dia pasti sangat lelah.

Dia sudah lelah bekerja sendirian, dan mungkin dia telah meninggalkan harapan desa yang mendapatkan energinya kembali, tapi tetap saja ... Dia datang ke permukaan dan meminta kami untuk membantu menyelamatkan desa yang dicintainya.

Lantas aku bertanya-tanya ...

Apakah cerita Tetra benar-benar tentang mengalahkan Monster Yang Menantang Dewa? Tentu, jika hidup kembali, desa akan hancur, dan dia tidak menginginkan itu, tapi ... Bukankah jiwa Desa Jizu apa yang sebenarnya ingin dia selamatkan? Yang ingin aku selamatkan?

Tentu saja, ini hanyalah sebuah teori. Tetra tidak mengatakan apa-apa akan hal itu, tapi bagaimana jika itu karena dia tidak bisa? Bagaimana jika dia begitu lelah dan kalah sehingga dia bahkan tidak bisa mengatakan apa yang diinginkannya? Bagaimana jika dia menjaga keinginannya yang sebenarnya tersegel di alam bawah sadarnya?

Haruskah aku mencoba untuk membantunya? Aku tak tahu caranya, tapi ...

“Aku pikir kau berusaha sangat keras, Tetra.”

“Rekka ... Biarpun aku ...”

“Jadi aku akan membantu juga.”

“Hah?” Tetra menatapku, kaget.

Betul. Dia begitu mungil sehingga dia menengadah ketika dia berbicara. Biarpun cara tenangnya dia bertindak dan berbicara membuatnya tampak dewasa, dia hanyalah gadis biasa.

Dia benar-benar hanya mencoba menyelamatkan kampung halamannya. Dan dia melakukan semuanya sendiri.

Berbicara dengannya, aku menyadari betapa lelahnya dia bekerja, tapi rasanya dia berusaha terlalu keras hanya untuk satu orang.

Bukankah itu baik-baik saja ... baginya bergantung pada orang lain? Aku, misalnya.

“Yah, pertama-tama kita harus melewati Monster Yang Menantang Dewa besok, tapi ketika itu berakhir, jika ceritamu tidak terpecahkan, aku akan tetap bersamamu. Aku masih belum tahu apa yang diperlukan untuk membantu Desa Jizu, tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Mari kita coba dan menyelesaikannya bersama, oke?”

Aku tidak terlalu pintar, dan mungkin aku tidak bisa berbuat banyak, tapi ketika aku tertawa dan mengatakan itu padanya, ekspresinya berangsur-angsur berubah. Kejutan berubah menjadi senyuman yang tenang.

“... Makasih, Rekka.”

Setelah aku mengucapkan selamat malam kepada Tetra, aku mulai berkeliaran di sekitar kuil.

Maksudku, ketika aku kembali untuk memeriksa gadis-gadis lain, ada catatan di pintu yang berbunyi, “Tolong putuskan siapa yang akan tidur denganmu.” Mereka berdua sudah mengambil ranjang. Biasanya kau lari, kan?

“Kau pengecut sekali sampai stresku meledak-ledak.”

Aku mengabaikan kata-kata R yang tidak bermakna (meskipun aku memahami maksudnya) dan terus berjalan tanpa tujuan yang nyata.

Sampah. Aku benar-benar lelah.

“Ugh ... Mungkin aku hanya akan tidur di lorong.”

“Terserah kau,” Gadis yang melayang di udara di sebelahku berkata dengan dingin.

Apakah dia begitu marah karena aku tidak tidur di samping salah satu cewek? Tapi kau tahu, tidur dengan seorang cewek di ranjang sempit adalah ide yang buruk. Untuk sejumlah alasan.

Sebenarnya, aku pikir aku tidak akan tidur.

Rrrrrring! Rrrrrring!

“Hah?” Ponselku berdering? Dibawah sini?

Bingung, aku mengeluarkan ponselku dari saku. Tapi bukannya nomor telepon, layar menunjukkan hieroglif.

“... Apa rusak?”

“Yakin, itu bukan panggilan lelucon?”

“Panggilan lelucon seperti apa yang akan mengubah angka menjadi hieroglif?”

Aku berpikir untuk mengabaikannya, tapi itu tidak berhenti berdering. Itu tidak masuk ke pesan suara, dan aku tidak bisa menolak panggilan ... jadi aku menyerah dan menjawabnya.

“... Halo?”

“Halo?! Rekka, apa kamu hidup?!”

Sebuah suara bernada tinggi terdengar di ujung yang lain — yang kurasakan seperti tidak kudengar dalam waktu yang lama. Itu Iris.

“Iris? Dari mana kau menelepon? Ada hieroglif aneh di ponselku.”

“Planet Finerita! Aku ingin bisa berbicara denganmu kapan pun aku mau, jadi aku menyuruh Ayah membuatku telepon seluler yang dapat memanggilmu di mana saja di alam semesta!”

Teknologi ruang angkasa benar-benar sesuatu yang lain, eh? Tapi karena aku tak bisa menyimpan nomor aneh teleponnya di kontakku, itu akan menjadi saluran satu arah.

“Aku mendapatkan teknologi medis paling canggih di alam semesta untukmu! Aku punya jarum suntik HUUUGE yang cocok untuk monster luar angkasa juga! Mereka bilang itu bahkan bisa menyembuhkan binatang pemakan planet dengan satu suntikan! Jadi jangan mati sampai aku tiba di sana, Rekka!”

Gawat, suntikan dari sesuatu seperti itu mungkin bakal membunuhku ...

“Tunggu, sebenarnya aku ...”

“Oke, aku sedang dalam perjalanan kembali! Tunggu saja, oke?”

Bunyi bip booooop ...

“Dia tidak mendengar sepatah kata pun yang kukatakan ...”

“Kau akan berpikir dia akan menyadari bahwa kau menjawab telepon berarti kau baik-baik saja. Dia pasti sangat khawatir. Dia benar-benar jatuh cinta padamu, hah?”

“Bla bla bla!” Aku memasukkan jemariku ke telinga dan berpura-pura tidak dapat mendengar R.

Ketika aku terus berkeliaran, aku memutuskan untuk mengunjungi Aula Penyegelan di belakang kuil. Aku tidak bermaksud melakukan banyak hal di sana. Aku penasaran.

Tetapi ketika aku tiba, seseorang sudah ada di sana.

“Hei, Rekka Namidare.”

“Bah.”

Itu adalah peri gajah menyeramkan yang super-deformasi. Dia mengepakkan telinganya di depan pintu raksasa ke Aula Penyegelan dengan senyum tak nyaman di wajahnya.

Apakah tidak apa-apa bagi maskot gadis penyihir untuk memiliki senyuman yang tampak jahat? Maksudku, aku juga bukan gadis penyihir, tapi ...

“Apa yang kaulakukan disana?”

“Hm? Oh, tidak ada. Aku hanya berpikir.”

Rasanya dia tidak jujur, tapi pasti ada banyak pikiran dalam menghadapi pertempuran dengan musuh selama berabad-abad.

Aku berdiri di sampingnya dan melihat ke arah pintu yang menandai batas antara kami dan dunia yang tertutup.

Itu menakjubkan.

Tidak ada atap di Aula Penyegelan, dan pintu membentang sampai ke langit-langit gua. Karena itu, meskipun kami berada di dalam ruangan, rasanya seperti berdiri di luar.

Ukiran dan dekorasi di pintu jauh lebih kasar dibanding yang ada di kuil, dan di tempat-tempat yang retak. Aku bahkan bisa mendengar suara pintu retak, dan jelas segelnya akan rusak.

Besok, aku akan menghancurkan segel itu dan pergi ke sisi lain, ya?

“Kau tahu, ada satu hal yang tidak kupahami.”

“Apa itu?”

“Kenapa kau ingin meminta bantuanku melawan si Monster?”

Itu adalah pertanyaan yang sederhana, tapi aku tidak tahu jawabannya.

Pada awalnya kupikir itu karena kami memiliki kepentingan bersama dalam mengalahkan Monster, tapi itu tidak masuk akal. Aku tidak memiliki apa-apa selain garis keturunan Namidare, dan aku tidak dapat memberikan alasan yang baik baginya untuk membantuku melakukannya.

Tapi Bah hanya tertawa. Seolah-olah dia merasa aku mengajukan pertanyaan yang jelas.

“Itu karena kau mengalahkan penyihir paling kuat, Messiah Kyandistrapps, tentu saja.”

“Hah? Karena aku mengalahkan Messiah?” Aku tersentak kaget ketika aku mendengar nama penyihir yang membuatku mengalami semua penderitaan terakhir kali. “Tidak, tunggu. Bagaimana kau bisa tahu tentang itu, sih? Satsuki dan aku tidak memberitahu siapa pun, dan Messiah bukan tipe orang yang berbicara tentang dikalahkan, kan?”

“Dunia sihir adalah tempat khusus. Messiah mungkin yang terkuat, tapi itu bukan berarti tidak ada banyak penyihir berbakat lainnya. Tapi hanya aku yang tahu tentang Satsuki dan Sihir Kemahatahuan, jadi jangan cemas soal itu.”

Dari apa yang dia katakan, Bah telah mendengar tentang kekalahan Messiah dan menjadi penasaran mengapa dia bertarung. Ketika dia mendalami itu, dia belajar tentang Sihir Kemahatahuan dan keluarga Satsuki.

Tentu saja, informasi itu dilindungi dengan hati-hati dengan banyak pengamanan dan dalih. Itu hanya kekuatannya yang luar biasa sebagai “Makhluk Sempurna” yang memungkinkan Bahamut untuk menerobos semua itu.

Dia meyakinkan aku bahwa biarpun penyihir lain mencoba melakukan hal yang sama, mereka mungkin tidak akan sampai begitu. Itu membuatku merasa lebih tenang, tapi aku masih harus mengoreksinya dengan detail penting.

“Bah, aku benci mengatakan ini ... tapi aku tidak mengalahkan Messiah karena aku lebih kuat dari dia.”

“Kau tidak perlu menjadi rendah hati. Messiah sangat kuat bahkan aku tidak ingin bertarung dengannya. Dia bukan orang normal yang bisa dikalahkan dengan beberapa trik.”

“Tapi aku orang normal. Kau tahu ...” Aku memberi Bah ringkasan singkat tentang bagaimana aku mengalahkan Messiah.

“... Lalu kau berbohong dan memberitahunya senjata meteor alien ini adalah sihirmu sendiri?”

“Betul. Jadi, seperti kataku, aku hanyalah manusia normal yang tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. Tunggu, tidak bisakah kau tahu dengan melihatku?”

Messiah dapat mengatakan sekilas bahwa aku bukan seorang penyihir, seperti yang kuingat.

“Menentukan apakah seseorang memiliki sihir, dan berapa banyak yang mereka miliki, adalah sejenis mantra dukungan. Aku terspesialisasi dalam sihir serangan, jadi aku tidak bisa menggunakan mantra seperti itu.”

“Cukup adil.”

Kalau dipikir-pikir, dia bertanya padaku ketika kami bertemu jika aku bisa menggunakan area efek sihir ofensif. Kupikir itu semacam lelucon, tapi ternyata dia keliru.

“Jadi begitu ... Jadi kau benar-benar bocah biasa, ya?”

Aku merasa menggigil ketika sesuatu yang dingin mengalir di tulang punggungku.

Secara refleks, aku menoleh ke samping untuk melihat Bah ... tapi dia hanya berdiri di sana dengan senyum menyeramkan yang sama di wajahnya, tidak berbeda dari sebelumnya.

“Ada apa, Rekka?”

“Tidak ada ...”

Apakah aku hanya membayangkan sesuatu? Sesuatu masih terasa tidak benar, tapi ketika aku mencoba meyakinkan diri kalau tidak ...

Pintu ke Aula Penyegelan tiba-tiba mulai bergemuruh dan bergetar.


Leviathan telah mendapatkan kembali kekuatannya dan sedang meronta-ronta di sisi lain pintu. Kalau begini terus, segel bisa hancur kapan saja ... Setidaknya, itulah yang dikatakan Bah dengan tenang kepada semua orang ketika mereka berkumpul untuk melihat keributan itu.

“Tidak ada keringat di punggungku, tapi aku membayangkan kalian tidak ingin Leviathan datang ke dunia ini, kan? Jadi kupikir kita harus segera pergi.”

“Ya, aku kira kau benar.” Aku menelan ludah dan mencoba untuk menguatkan diri usai perubahan dramatis dalam situasi ini.

“Kau tidak tidur, Rekka. Apa kau baik-baik saja?” Satsuki bertanya dengan waspada.

“Aku menunggumu,” Kata Harissa, kesal.

... Aku memang tidak bisa melindungi diri, ya.

“Mmm! Tunggu, apa kalian berdua benar-benar akan mengikutiku?” Aku melihat mereka berdua lagi.

“Tentu saja.”

“Aku akan mengikutimu kemana pun.”

Yah, aku pikir mereka mengatakan itu ... Tapi tunggu, ada orang lain.

“Apa yang kaulakukan di sini, Tetra?”

“Akulah yang memintamu melakukan ini. Aku memiliki kewajiban untuk melihatnya sampai akhir.”

“Tunggu, tunggu ...”

“Aku akan tidak peduli apa katamu,” Katanya, tersenyum. “Kau bilang kau akan tinggal bersamaku. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke tempat berbahaya itu sendirian.”

“...!”

Tatapan murni di matanya menembusku, dan aku tidak bisa menahan senyum.

Mengapa semua heroine kali ini begitu keras kepala?

“Rekka ... kau akan memberitahuku semua hal ini ketika kita kembali, oke?”

“......”

Entah mengapa, baik Satsuki dan Harissa menatapku dengan marah. Apa lagi?!

“Bah, aku baru menyadari sesuatu. Bagaimana kita akan melewati segel itu?” Aku menoleh pada Bah, putus asa.

Tergantung bagaimana kami akan melakukannya, masih ada kemungkinan aku bisa meninggalkan mereka di sini. Mereka mungkin akan berteriak padaku nanti, tapi itu lebih baik dibanding membawa mereka ke dalam bahaya.

“Pintu ini bisa dibuka dari luar selama kau mengikuti instruksi. Tentu saja, dibutuhkan banyak kekuatan, jadi manusia tidak bisa melakukannya sendiri.”

... Yang berarti bahwa begitu Bah dan aku masuk ke dalam, itu akan tetap terbuka, ya?

Aku mencoba memikirkan beberapa cara untuk membuat para gadis tetap berada di belakang, tapi aku tahu di dalam hatiku bahwa meski aku mengunci mereka di suatu tempat, mereka hanya akan menggunakan sihir mereka untuk mengikutiku.

“Baik. Tapi jangan lakukan hal gila, kalian.”

“Ya, aku mengerti.”

“Baiklah, Tuan Rekka!”

“Oke.”

Setidaknya mereka mengatakan apa yang ingin kudengar, meski mereka tidak memiliki niat untuk mengikuti ...

“Apa kau sudah siap? Mari kita lanjutkan.”

Bah mulai melantunkan mantra yang rumit.


Ketika kami melewati pintu ke sisi lain ...

“... Hah?”

Kami kembali di kuil yang sama.

“Bah, apa yang terjadi di sini?”

“Di sisi lain segel adalah Bumi palsu yang dibuat oleh Dewa. Kau bisa menyebutnya sebagai dunia paralel buatan, mungkin? Tapi karena itu tidak nyata, tidak ada kehidupan dan tidak ada yang tumbuh. Juga, versi kuil ini akan berada di atas tanah.”

Um, jadi pada dasarnya, ini adalah duplikat cerdik dari dunia yang kami tahu?

Seperti perkataan Bah, ketika kami meninggalkan kuil (palsu), kami berada di permukaan, bukan di Desa Jizu. Dan itu adalah tempat yang kutahu cukup baik.

“Di sinilah kota kita, bukan? Tidak ada bangunan, jadi rasanya agak aneh.”

“Sungguh?”

Hanya ketika Satsuki berbicara, akhirnya aku menyadari ...

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Tidak ada orang. Tidak ada rumah. Tidak ada toko atau jalan ... Ada air dan tanah, tapi aku tidak dapat melihat pepohonan atau sesuatu yang hijau. Ada cahaya yang turun dari langit, tapi tidak ada yang tampak seperti matahari.

“Yah, seperti yang kaulihat, itu seperti dunia kita, tapi dengan cara yang sangat tidak biasa. Perbedaan terbesarnya adalah waktu berlalu dengan sangat lambat.”

“Hah. Mirip, tapi beda ... Ini agak aneh.”

Dan tak ada suara juga.

Itu tidak pernah menyadarkan aku sebelumnya bahwa kurangnya kehidupan menciptakan kurangnya suara ... Meskipun, aku kira mungkin aneh untuk berbicara tentang “menciptakan” tidak adanya sesuatu.

“Aku bakal gila dalam tiga hari di tempat begini.”

“Sama.”

“Aku juga.”

“Aku tahu aku juga sama.”

Dan Leviathan terjebak di tempat seperti ini, ya?

“Tunggu, dimana Leviathan? Jika ia mencoba untuk menghancurkan segel, bukankah seharusnya kita mengalami itu tepat ketika kita datang?”

“Mungkin ia memutuskan untuk berhati-hati ketika kita membuka pintu. Ia bisa mengawasi kita, jadi kau harus berubah, Rekka.”

“Ugh ... Baik.”

Bah ada benarnya, jadi aku memutuskan bahwa aku tidak punya pilihan selain menaikkan gelangku ... meskipun aku benar-benar takut. Ini bukan waktu atau tempat bagiku untuk berpikir egois, jadi aku cepat-cepat berubah.

“Ya ampun, kenapa aku harus mengucapkan mantranya juga? Kururun, Kururun, Kururinpyon! Kurukurupah, jadilah gadis penyihir peledak!”

Aku membacakan mantra perubahan yang diberikan Bah kepadaku ketika aku melambaikan tanganku dengan gelang itu di dalam lingkaran, dan kemudian mengikutinya dengan putaran kemenangan. Aku menjulurkan lidahku juga untuk langkah yang baik.


Dan sambil aku berpikir aku lebih baik mati, tubuhku dilingkari cahaya aneh.

“Bwahha!”

“Pfft! Heeheehee!”

“T-Tuan Rekka, apa itu — bwahaha!”

Pada saat perubahanku selesai, gadis-gadis sudah ketawa.

Aku akan mengatakannya lagi. Aku beneran mau mati saja. Serius

Setidaknya berubah menjadi gadis penyihir membuatku lebih kuat secara fisik, jadi aku tidak akan memperlambat Bah dengan begini.

Bahamut, “Makhluk Sempurna,” akan menangani sebagian besar pertarungan. Secara realistis, itu tidak seperti siapa pun tapi dia bisa mengalahkan Leviathan, “Makhluk Terkuat.” Aku di sini sebagai cadangan.

“Jadi, ya, Bah, aku mengandalkanmu ... Hah?”

Bah sudah pergi.

“Hei apa yang terjadi? Kemana Bah pergi?”

“Hah? Entah!”

Mereka bertiga begitu asyik dengan perubahanku sehingga mereka tidak melihat apa yang terjadi pada Bah.

Kami memanggilnya, tapi yang kami dapatkan hanyalah sunyi.

“R, dimana Bah?” Aku berbisik.

“Aku sedang memerhatikan urutan perubahan lucumu, jadi aku tidak tahu.”

“Sampah ...”

Bah adalah pemain kunci dalam cerita ini. Tidak mungkin aku bisa menang tanpa dia.

Para gadis dan aku berpencar untuk mencari di sekitar bebatuan dan benda-benda di dekatnya, tapi dia tidak bisa ditemukan.

“Apa yang kita lakukan, Rekka?” Tetra menanyaiku dengan suara ketakutan, tapi aku tidak bisa menjawab.

“...”

Saat aku melihat ke bawah dengan panik ... Semuanya tiba-tiba menjadi gelap. Bayangan besar membayangi kami.

“Satsuki! Harissa! Lari!”

“!!”

“Hah? Wah! Wah!”

Satsuki menjawab dengan meraih Harissa dan melompat. Dia pasti menggunakan semacam sihir levitasi, karena hanya satu lompatan yang diperlukan untuk menjauh.

“Oh, Rekka ...”

“Uh oh!”

Tetra belum mengetahui apa yang terjadi, jadi aku meraihnya dan melompat juga. Berkat kemampuan fisikku yang jauh lebih baik, aku bisa mendapatkan jarak yang cukup jauh, meskipun dalam arah yang berbeda dari Satsuki.

Dan ketika aku berada di udara, “Ia” turun dari langit.

Rasanya seperti seluruh gedung pencakar langit runtuh, tapi lebih besar dari itu. Itu adalah ular putih raksasa yang meninggalkan kawah yang menganga di tanah di mana ia mendarat.

“Leviathan!”

Itu lebih dekat dengan naga daripada ular, tapi itu bukan jenis naga yang pernah kulihat. Itu memiliki tanduk dan sayap, dan ekornya menyebar seperti kipas. Tubuhnya yang panjang dan berliku ditutupi dengan pola seperti gelombang. Di atas kepalanya ada benda aneh yang mengambang yang tampak seperti sepasang headphone emas. bItu benar-benar terlihat seperti monster dari zaman dewa. Itu langsung dari dongeng.

Sial! Apakah kita harus melawan benda ini sendiri? Mengapa Bah harus menghilang pada saat-saat seperti ini? Aku sangat marah dan tidak mengerti, tapi aku harus menghadapi hambatan di depanku dulu ... tidak peduli seberapa besar itu.

“Tetra, kau tetap di sini!”

“Rekka!”

Dia menjerit, tetapi aku menyembunyikannya di balik batu dan menuju Leviathan.

“Hah? Hmm ...” R memiringkan kepalanya dalam kebingungan ketika aku berlari.

“R, ada apa?”

“Hmm, aku tidak yakin. Mungkin itu imajinasiku.”

“Apa-apaan itu?” Mengapa gadis dari masa depan selalu mengatakan hal-hal aneh pada saat yang paling penting?

“Satsuki! Harissa!” Aku meneriaki nama mereka.

“Rekka!”

“Tuan Rekka!”

Mereka mendengarku dan menjawab. Jelas mereka juga mencariku.

Keduanya tertutup asap dan debu, tapi tidak terlihat terluka. Aku merasa lega.

“Rekka, apa yang kita lakukan?”

“Sejujurnya, aku tidak tahu ... tapi kita akan mencoba melakukan sesuatu.” Aku benar-benar tidak tahu, tapi ini bukan waktunya untuk melarikan diri. “Jika aku tidak bisa menghentikannya, kalian berdua bawa Tetra dan kembali ke dunia kita dari kuil!”

“Mana mungkin! Aku membantumu.”

“Aku juga!”

Ayolah! Kenapa mereka tidak bisa mendengarkanku sekali ini saja?

“Astaga! Sial ... Kalau gitu jangan dekat-dekat dengan monster! Paham?” Aku berteriak dan terus lari.

Tapi rok bodoh ini membuatnya sulit untuk berlari! Aku mengepalkan tinjuku dengan kesal di seluruh pakaian gadis penyihir itu.

Lalu Leviathan menatapku dengan kepala yang mungkin lebih besar dari rumahku.

“Kau ... bersama ‘dia,’ bukan? Apa kau di ‘sisi’-nya?”

Dia? Siapa yang dibicarakan? Aku tidak punya waktu untuk memikirkannya.

Sihir peledak yang diberikan Bah padaku sangat kuat. Tapi apakah itu akan bekerja pada monster besar begitu? Sambil aku mencoba menggunakan tongkatku untuk mencari tahu ...

Perubahanku tiba-tiba berakhir.

“Huh? Apa?”

Kemampuan fisikku yang ditingkatkan rupanya menghilang dengan itu. Aku jatuh ke depan, memukul daguku di tanah dengan sangat keras hingga aku melihat bintang-bintang.

“... Astaga. Kau memang hanya manusia biasa, Rekka Namidare.”

Saat aku berbaring di tanah layaknya orang bodoh, aku tiba-tiba melihat Bah, peri yang menyeramkan yang menghilang beberapa saat yang lalu. Dia memegang gelang perubahanku di tangannya yang gemuk dan memainkannya.

“Bah ... Kenapa?”

“Kau tahu, awalnya kupikir kau cerdik dan menyembunyikan kekuatanmu, jadi aku menempatkanmu dalam situasi di mana kau tidak punya pilihan selain menggunakannya ... Tapi aku kecewa sekali, Rekka Namidare. Kau benar-benar tidak punya kekuatan lebih dari manusia lain, kan?”

“Hah?” Apa yang dia bicarakan tadi?

“Pada dasarnya, dia menyembunyikan dirinya dengan sengaja untuk mengujimu.” R memahami kebingunganku dan cukup baik untuk memberiku penjelasan.

Tapi aku masih tidak mengerti. Jika dia ingin melihat kekuatanku, dia bisa saja bertarung bersamaku. Gadis-gadis dan aku hampir terkurung di sana!

Dan kemudian aku teringat rasa dingin yang kurasakan di Aula Penyegelan. Aku menyadari itu tepat setelah aku memberitahu Bah bahwa aku tidak istimewa.

Apakah ini sudah rencananya sejak itu ...?

“... Bahamut. Aku tidak pernah menyangka kau akan datang padaku.”

Aku bisa mendengar suara kebencian Leviathan dari atas.

Tubuhku menegang, tapi mata monster itu tertuju pada Bah, bukan aku.

“Aku sudah menunggu lama untuk membalaskan dendam padamu,” Gerutu Monster itu.

“Oh ya? Maka kurasa aku membuatmu menunggu sebentar.”

Suara Leviathan mendidih karena marah, tapi Bah sepertinya sedang bersenang-senang. Dia menyeringai lebar seperti mulut raksasa.

“Ketika aku mendengar segelnya hancur, aku sedikit cemas. Aku pikir kau akan mendapatkan kembali sebagian besar kekuatanmu. Tetapi melihat kau dalam wujudmu saat ini, aku merasa jauh lebih baik. Kau hanya memiliki kurang dari satu persen kekuatanmu kembali, ya?”

Kurang dari satu persen? Dan itu masih sebesar ini?

Bah mengabaikan keterkejutanku dan tertawa dengan riang.

“Yah, aku penasaran bagaimana kau berhasil mendapatkan kekuatan itu di dalam sini di mana tidak ada makanan ... tapi apakah kau benar-benar berencana untuk menghancurkan segel lama itu dan melawanku ketika kau masih sangat lemah? Itu bunuh diri.”

“Aku memutuskan aku akan menebus kesalahan dengan melepaskanmu. Tidak peduli betapa kuatnya dirimu, aku akan menghabisimu,” Kata ular putih itu.

“Hahaha! Payah, aku merasa bodoh karena pergi dengan semua masalah ini! Aku kira aku hanya akan menunjukkan perbedaan kekuatan kita setelah semua zaman ini.” Bah tertawa, lalu berbalik ke arahku sambil tersenyum. “Jadi, Rekka Namidare, aku mengambil kembali kekuatan yang kupinjamkan padamu. Kupikir aku bisa menangani Leviathan sendiri.”

Bah melemparkan gelang itu ke mulutnya dan memakannya dengan suara berderak. Tiba-tiba tubuhnya mulai berubah.

Pertama, dia tumbuh setinggi aku, tapi dia sekitar tiga kali lebih lebar. Kemudian anggota tubuhnya menjadi panjang, dan lima jari mencakar muncul di masing-masing tangan. Hidung, telinga, dan taringnya juga tumbuh.

Dia bukan peri kecil lagi. Dia lebih seperti ... iblis.

“Gufwah!”

Dia meletakkan tangannya di perutnya yang menonjol, dan menyentak belalai panjangnya pada Leviathan, yang terbang ke arahnya untuk menyerang.

Lalu ada ledakan.

“Gyaaaooooh!” Ular raksasa itu menggeliat, dan Leviathan menjerit.

“Gufwah! Gufwah! Gufwah!” Setiap kali belalainya bergerak, serangkaian ledakan lain menghantam tubuh Leviathan.

Darah mengalir keluar seperti air terjun, dan bau daging terbakar tercium hidungku.

Leviathan terhempas oleh ledakan, tapi bahkan berlumuran darah, ia terus maju.

Tapi itu tanpa harapan.

Pilar air muncul di sekitar Leviathan, lalu menyerbu ke Bah dari segala arah seolah-olah memiliki kemauan sendiri.

Tapi itu tidak berhasil juga.

Serangan putus asa dan pilar-pilar air Leviathan dihancurkan oleh Bah.

Dia tidak beranjak sejak awal pertarungan. Dia diam saja serta terus menyerang.

Aku pikir ini persis bagaimana aku ingin melihat ...

Tapi, itu mengerikan.

“Gaah ... gyah ... guh ...”

Akhirnya, Leviathan yang kekuatannya dilemahkan tidak bisa lagi mengangkat tubuhnya yang besar. Ketika aku menyaksikan dengan kaget, ular itu sendiri tampak runtuh.

“Oh, sepertinya itu tak bisa mempertahankan bentuk ini lagi.”

“... Apa maksudmu?”

“Tubuh Leviathan, seperti punyaku, berubah berdasarkan jumlah energi yang tersimpan di dalamnya. Jadi semakin banyak kekuatan yang hilang, semakin sulit mempertahankan bentuk tertentu. Aku kira intinya saja yang tersisa sekarang.”

“Jadi itu seperti balon, ya?”

Jika udara (atau energi) di dalamnya adalah apa yang menyebabkannya membengkak, seperti udara yang tersisa, itu wajar jika ia akan menyusut. Maka yang tersisa hanyalah karet yang kempes. Karet, dalam hal ini, adalah “inti” yang dibicarakan Bah.

“Yah, sesuatu seperti itu. Oke, waktunya untuk menemukan inti dan menghancurkannya.” Bah menyeringai dan lenyap.

Aku pergi untuk menemui Satsuki dan gadis-gadis lain, lalu berlari mengejarnya.

Ketika kami tiba, kami melihat apa yang tampak jelas seperti seorang gadis manusia yang berbaring.











“Bah! Siapa itu?”

“Hm? Oh, ini adalah inti Leviathan.”

“Ini ...?”

Memang benar kalau aku diberi tahu bahwa tidak ada orang di dunia buatan ini, tapi Monster Yang Menantang Dewa. Jadi tidak peduli bagaimana tampangnya, dia pastilah Leviathan.

Dengan kata lain, bahkan dalam wujud manusia, ini adalah Monster Yang Menantang Dewa. Makhluk Terkuat yang pernah meratakan permukaan bumi ...

Yang berarti aku tidak punya pilihan selain menonton saat Bah menghabisinya ...

“Hmm ...? Aku pikir begitu.” Suara pelan aneh R saat dia mengitari kepalaku, menatap Leviathan.

Aku sangat tertarik dengan apa yang dia katakan barusan ini.

“Hei, apa yang terjadi? Apa maksudmu?” Mungkin saja gadis-gadis lain mendengarku, jadi aku berbisik sepelan mungkin.

“Gak ada. Cuma gadis itu kelihatan seperti seorang heroine.”


“... Hah?”

“Gadis yang tergeletak di tanah di sana. Dia seorang heroine. Pada awalnya aku pikir itu ada kesalahan, tapi aku kira tidak.”

“Hah?! Bah, tunggu!” Ketika aku mendengar apa yang dia katakan, aku berteriak dan mulai berlari. Aku menempatkan diri di antara Leviathan dan Bah untuk melindunginya.

“Oh? Apa lagi ini?”

“Yah, uh ...”

Dia menyipitkan matanya ke tatapan tajam yang diarahkan tepat ke arahku, dan aku berkeringat dingin.

“Rekka! Apa yang sedang terjadi?” Tetra dan gadis-gadis itu tercengang melihat tindakan mendadakku.

Sejujurnya, aku tidak bisa menjelaskannya. Apakah itu hanya karena Leviathan dalam bentuk manusia? Atau apakah itu karena dia adalah seorang heroine? Itu mungkin keduanya.

Tapi ... itu juga benar bahwa ada sesuatu yang tidak beres tentang bagaimana Bah berperilaku.

Cara dia bereaksi ketika dia mengetahui bahwa aku tidak memiliki kekuatan sama sekali. Cara serangannya tampaknya tentang memaksimalkan penderitaan lawannya. Dan sifat aneh dari percakapannya dengan Leviathan.

Bah telah memberi tahu kami sejak awal bahwa dia ingin membalas dendam, tetapi Leviathan adalah satu-satunya yang mengatakan balas dendam begitu kami tiba di sini.

Itu seperti kebalikan dari apa yang kami harapkan.

Dan baru saja aku bertanya ...

“... Yah. Lupakan.”

Sikapnya tiba-tiba berubah.

“Rekka Namidare, aku sudah selesai denganmu. Mati sana.”

Kata-kata berikutnya dari mulutnya adalah hukuman mati.

“Apa?!”

“Baguslah, kau bocah tidak berguna.” Belalai Bah berbalik ke arahku.

Oh sial! Dia akan meledakkanku!

Aku tegang, menunggu yang terburuk.

“Rekka!”

Dan pada saat yang sama, bidang penglihatanku diliputi oleh api dari ledakan, aku melihat Satsuki memblokirnya dengan semacam penghalang yang tak terlihat.

“Wew. Kau bisa memblokir itu, ya?” Bah tampak terkesan.

“Berlari dan melindungi diri adalah dua hal yang aku kuasai!” Teriak Satsuki.

Ketika Bah tertawa dan mencoba menyerang kami lagi, Harissa kembali dengan Tetra. Lalu ...

“Ealim Nekram!” Harissa melantunkan mantra.

“Hmm? Mereka menghilang?” Bah melihat sekeliling dengan bingung.

Seakan dia kehilangan kami ... Apakah ini sihir tembus pandang Harissa?! Aku tidak pernah merasakannya padaku sebelumnya, tapi ternyata efeknya dikurangi untuk orang-orang di bawah mantra yang sama. Kami berempat, ditambah Leviathan, masih bisa melihat satu sama lain.

Satsuki mengayunkan tangannya seolah berkata “raih aku.”

Harissa dan Tetra menempel di lengannya. Aku meletakkan Leviathan yang tak bergerak di punggungku dan kemudian meletakkan tanganku di bahu Satsuki.

Hal berikutnya yang aku tahu, kami mulai melayang di udara.

Satsuki mencoba menuju kuil, tapi dia meringis ketika kami mendengar Bah bergumam, “Hmm, kurasa aku bisa menunggu mereka di pintu masuk.”

Untuk sementara waktu, kami menuju ke arah yang berlawanan hanya untuk menjauh darinya.
Load comments