Little Mokushiroku v2 4

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

Satsuki menempatkan kita jauh dari kuil, mungkin di sekitar tempat Nozomiya bila ini adalah permukaannya.

“Kita seharusnya cukup jauh, kurasa.”

“Untuk jaga-jaga, aku akan membiarkan mantra tembus pandang.”

“Ya, trims. Untuk kalian berdua.”

Ketika Bah menyerangku, aku yakin aku hampir mati. Tanpa bantuan mereka, aku mungkin sudah mati.

Astaga, aku benar-benar tidak berguna ketika sampai pada itu, ya?

Aku telah kehilangan gelang dari Bah, bersama dengan peluang untuk menyelesaikan dua cerita.

“Kurasa kita kembali ke tempat kita mulai ...”

Aku merasakan beban berat membebani bahuku lagi.

Aku berharap dengan sahabat karib seperti Bah sepanjang waktu ini bahwa hal-hal itu mungkin mudah, tapi harapanku telah dikhianati. Lebih dari satu cara juga.

Dan sekarang aku punya heroine baru untuk diurus.

Kami semua melihat gadis berambut merah yang diam di jarak yang cukup jauh dari kami.

Tubuhnya ditutupi cedera dan setelan tempur ketat yang dikenakannya compang-camping, tapi cahaya di matanya sama kuatnya seperti biasa.

“...” Dia membawa dirinya ke satu lutut dan menatap kami. Kami telah bekerja dengan Bah sampai beberapa saat yang lalu, jadi masuk akal bahwa dia akan waspada terhadap kami.

Tapi jika dia benar-benar seorang heroine, aku harus membantu ceritanya juga. Dan untuk itu, hal pertama yang harus kulakukan adalah ...

“Satsuki, bisakah kau menyembuhkannya?”

“Tentu, tapi ...” Satsuki mengangguk, tapi melirik ke arah Leviathan, yang masih menatap kami.

Dia mungkin khawatir Leviathan tidak akan menerima perawatan itu. Kupikir bagiankulah untuk membujuknya ...

“Um, kurasa aku harus memperkenalkan diri, ya? Aku Rekka Namidare. Ini Satsuki, Harissa, dan Tetra. Haruskah aku memanggilmu Leviathan? Kami ingin menggunakan sihir untuk menyembuhkanmu, dan semoga kami bisa bicara ...”

“... Kalau begitu jawab pertanyaanku dulu.” Tatapan Leviathan sendiri membuatku merasakan tekanan luar biasa. “Pertama-tama, siapa kau? Pada awalnya kupikir kalian bersama Bahamut, tapi kurasa bukan begitu. Kau tidak tampak seperti penjaga segel. Kalian semua.”

“Umm ...” Apakah Leviathan tidak tahu manusia itu apa? Apakah itu di mana aku perlu memulai penjelasanku? “Satsuki, Harissa, dan aku adalah makhluk yang disebut manusia.”

“Apa manusia itu?”

Aku curiga ...

“Bagaimana aku bisa menjelaskan apa itu manusia ...? Kurasa mereka makhluk paling banyak di permukaan?”

Aku tidak bisa mengatakan “makhluk paling cerdas” karena itu akan terdengar seperti menyombongkan diri. Aku bukan contoh cerdas kecerdasan manusia.

Tapi ketika Leviathan mendengar apa yang kukatakan, matanya melebar. Dia berdiri perlahan-lahan dan mencengkeram pundakku.

“Apa katamu ada banyak di permukaan? Berapa banyak?!”

“Ow! B-Berapa banyak? Kupikir ada sekitar tujuh miliar atau lebih, tapi ... kau mencengramku! Sakit tahu! Kau akan mengilir bahuku!”

“Tujuh miliar ... Maka permukaannya tidak hancur?”

“B-Bukan itu yang aku sadari, tapi ... Oww! Itu sakit banget!”

“O-Oh, maaf ...” Leviathan melepaskan pundakku, lalu menatap ke luar selama beberapa saat seolah tenggelam dalam pikiran. Air mata besar mulai mengalir di matanya sambil akhirnya berbisik, “Aku mengerti ... Permukaannya sudah baik. aku sangat senang ... aku yakin dia telah menghancurkan semuanya.”

Aku masih belum tahu apa ceritanya, tapi sekarang setidaknya aku tahu dia senang permukaannya aman. Jika dia benar-benar “Monster Yang Melawan Dewa” yang telah menghancurkan permukaan, apakah dia akan menangisi itu?

“Baiklah, sebelum kamu memberitahu kami tentang itu, kami perlu menyembuhkan lukamu. Satsuki, silakan.”

“Betul.”

Leviathan terus menangis, tapi dia tidak benar-benar menolak selagi Satsuki melakukan sihirnya. Begitu dia dalam kondisi yang lebih baik, aku menunggunya untuk tenang dan kemudian mencoba untuk berbicara dengannya lagi.

“Um, Leviathan?”

“Panggil aku Lea.”

“Hah?”

“Panggil aku Lea, manusia bernama Rekka Namidare. Dan kau tidak perlu bertindak takut ketika kau berbicara denganku,” Ucap Leviathan ... Lea dengan air mata masih mengalir di wajahnya.

“Benar. Mengerti.”

Aku tidak yakin mengapa Lea tiba-tiba membuka diri terhadap kami, tapi aku memberinya ringkasan singkat tentang apa yang telah terjadi.

Aku memberitahu dia tentang garis keturunan Namidare, serta cerita Tsumiki dan Tetra. Aku memberitahu dia mengapa kami bekerja dengan Bahamut. Dan aku memberitahunya alasan mengapa kami curiga padanya.

Usai menceritakan semuanya, aku bisa mendengarnya menggertakkan giginya.

“Jadi dia masih penipu ulung. Beraninya dia menyebutku monster ...!”

Dia gemetar dengan marah sejenak lalu mengambil napas dalam-dalam.

“Aku akan menceritakan keseluruhan ceritanya. Tentang dia, tentang aku, dan tentang kesalahanku — alasan aku terjebak di sini di belakang segel bukannya dia.” Lea menutup matanya selagi mulai berbicara. “Dewa mencipatkan Makhluk Sempurna, Bahamut, dan menempatkannya di atas semua makhluk hidup. Dia adalah raja para makhluk, dan diberi kehidupan sehingga dia bisa dimakan pada perjamuan terakhir sebelum kiamat. Tetapi Bahamut dipenuhi dengan keserakahan. Dia bangga dengan kerajaannya, dan menghancurkan permukaan untuk kesenangannya sendiri.”

“Tapi Bahamut dibuat oleh Dewa, kan? Jadi kenapa ...?”

“Entah apa yang manusia pikirkan, tapi Dewa tidak sempurna ... Sebagai hukuman, Dewa menusuk Bahamut dengan tombak yang dia buat sendiri, lalu menyegelnya di dalam dunia palsu ini. Setelah penyegelan, ia disebut “Monster Yang Menantang Dewa,” dan klan penjaga ditempatkan oleh Aula Penyegelan untuk mengawasinya.”

Tetra sedang mendengarkan cerita Lea dengan cermat.

“... Jadi Monster Yang Menantang Dewa dalam legenda kami adalah Bahamut? Tapi mengapa kau mengambil tempatnya?”

“Iya ... Aku akan memberitahumu itu.” Lea menarik napas dalam lagi dan berhenti sejenak.

Mungkin ada hubungannya dengan “kesalahan” yang dia sebutkan sebelumnya. Ekspresi wajahnya adalah wajah seorang pendosa yang bertobat.

“Bahamut sudah disegel, dan aku diciptakan sebagai persembahan baru untuk Dewa. Kali ini, Dewa memberikan ciptaannya kebijaksanaan agung, pengendalian diri, dan emosi sehingga aku tidak akan menghancurkan permukaan. Sama seperti yang Dewa maksudkan, walau mereka memanggilku ‘Makhluk Terkuat’, aku hidup dengan damai. Tapi ...”

“... Tapi?”

“Hatiku ... Itu lemah,” Lea berbisik dengan suara yang sangat pelan sehingga aku hampir tidak bisa mendengarnya.

“Kekuatanku terlalu kuat. Aku tidak bisa dekat dengan siapa pun, dan tak ada yang bisa mendekatiku. Tapi hatiku lemah, dan aku tidak tahan dengan kesepian ... aku mengambil bentuk ini sehingga tidak ada yang mengenaliku, dan pergi ke Desa Jizu di mana segel itu berada.”

“Kenapa?”

“...Untuk bertemu Bahamut.”

Semua orang terkejut dengan perkembangan mendadak ini. Lea pergi untuk bertemu Bahamut dengan sengaja?

“Kupikir karena kekuatan Bahamut sama dengan kekuatanku, dia tidak akan takut padaku ... Bahwa dia akan menjadi temanku. Aku sangat ingin percaya itu. Aku lemah dan bodoh saat itu.” Dia tertawa pahit pada dirinya sendiri. “Dari sudut pandangnya, mangsa yang sempurna jatuh tepat ke pangkuannya. Dia lebih dari senang untuk berbicara denganku dan berbaik hati padaku. Ketika kami berbicara melalui pintu yang tertutup, aku mulai merasa kasihan padanya. Dan aku mulai menyalahkan Dewa karena menyegelnya. Itu sebabnya aku merusak segel ketika Bahamut memintaku.”

“Tapi ...” Tetra terkejut.

Memang benar bahwa jika seseorang memiliki kekuatan sekuat Bahamut, bisa saja bagi mereka untuk membuka segel dari luar. Itulah mengapa Bahamut memilih untuk memanfaatkannya.

“Kau bisa membayangkan apa yang terjadi setelah itu. Dia melewati pintu, mengunciku di sini, dan kemudian menutupnya lagi.”

“Dia takut padamu karena kau punya kekuatan seperti dia, kan?” Harissa menimpali. Dia mungkin benar.

“... Ya. Sepertinya apa yang dia katakan itu benar.”

Satsuki menggunakan Sihir Kemahatahuan untuk memverifikasi ceritanya. Bahkan tanpa membaca catatan puluhan juta tahun, dia sekarang memiliki cukup informasi untuk mempersempit pencariannya dan sampai ke inti masalahnya. Kebenaran.

Singkatnya, Bahamut telah memperalat Lea untuk semua yang berharga, lalu mengurungnya di sini sehingga dia tidak akan menjadi ancaman baginya.

Kita akhirnya mendapatkan cerita aslinya.

“Mendengar itu sudah cukup untuk membuatmu kesal, ya?”

Aku marah, tapi Lea hampir malu-malu.

“Tidak ... Itu semua adalah hasil dari kelemahanku. Aku yakin Bahamut akan menghancurkan permukaan untuk kepuasannya sendiri. Sepertinya kau cukup beruntung bahwa itu tidak terjadi, tapi keegoisanku sendiri masih membahayakan permukaan.”

“Tidak, itu ...”

Aku ingin mengatakan padanya itu bukan salahnya, tapi tatapan tajamnya membuatku mundur.

“Aku sudah lama menyesalinya. Ketika aku terjebak di sini, aku bermimpi dia menghancurkan permukaan lagi dan lagi. Waktu berlalu perlahan di dunia ini. Setiap detik aku terbuang di sini, pikiranku adalah semua kehidupan yang hilang. Aku bertanya-tanya apakah ada yang selamat, atau bahkan ada dunia yang tertinggal di sana. Aku tidak punya cara untuk tahu.”

Lea menatap langit, matanya dipenuhi dengan tekad. Langit cerah dan berkabut, tapi tidak ada matahari. Di luar itu adalah permukaan — yang asli.

“Selama dia bebas, permukaannya masih bisa dihancurkan kapan saja. Itu sebabnya aku akan melakukan apa yang diperlukan untuk menghabisinya. Meski itu membuatku kehilangan nyawaku.”

Lea berdiri dan melotot ke arah kuil tempat Bahamut terbaring menunggu, lalu mulai berjalan.

Melihat kesedihan yang sama di matanya, aku segera berdiri menghalanginya.

“T-Tunggu! Kau tidak harus pergi sendiri, bukan? Aku akan membantumu! Dan kalau aku cukup kuat, aku akan memikirkan sesuatu! Jadi jangan melakukan hal bodoh!”

“Pertempuran ini adalah tanggung jawabku. Aku tidak bisa melibatkanmu.”

Lea mencoba menjauhi kami.

Berjuang sendirian akan menjadi cara dia untuk menebusnya. Aku bisa tahu apa yang dia pikirkan.

Tapi aku menghentikannya juga.

“Kau tidak bisa menang! Apa kau lupa dia menghajarmu saat tadi?”

“Aku masih harus melakukan ini.”

“... Duh! Kalian semua!”

Tsumiki, mencoba menyelamatkan Nozomiya.

Tetra, mencoba menyelamatkan Desa Jizu.

Lea, mencoba mengalahkan Bahamut.

Mereka semua begitu keras kepala karena mereka tidak ingin membuat orangtua mereka khawatir, atau mereka menyerah untuk bergantung pada penduduk desa, atau mereka tidak ingin orang lain terluka ...

Dan ya, aku memahami itu, tapi ...

Tapi ayolah!

“Aku bilang tunggu!” Aku meraih lengan Lea dan menariknya kembali.

“Apa yang sedang kau lakukan...?”

“Aku baru saja memberitahumu tentang garis keturunanku, bukan? Kau adalah heroine-ku sekarang. Tanpa aku, ceritamu tidak akan pernah mencapai akhir yang bahagia.”

“... Tapi kau hanya terjebak dalam kebetulan ini, kan? aku tidak menginginkan itu.” Lea menatapku dengan mata yang masih tajam, tapi diwarnai oleh kesedihan. “Aku pikir permukaan telah hancur karena aku, tapi aku salah. Kalian manusia telah hidup dan berkembang di sana ... aku bahkan tidak bisa memberitahu kalian betapa bahagianya aku, atau betapa aku sangat mencintai kalian semua karena itu. Kata-kata mengecewakanku. Itu sebabnya aku tidak tahan melihat kalian terluka.”

Kata-kata Lea dipenuhi dengan emosi, dan aku merasa masing-masing menarik hatiku. Aku dapat mengatakan bahwa dia benar-benar ingin melindungi umat manusia. Itu termasuk kami. Ketulusannya jelas dari suaranya.

Tapi ...

“Aku tahu. Tapi aku tidak peduli.”

“Apa?”

“Kenapa kalian semua orang berusaha keras untuk melakukan semuanya sendiri?!” Perasaan yang telah menggerogoti perutku berdegup kencang. “Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan padamu? Meski aku terjebak dalam ceritanya, aku punya kemampuan untuk meninggalkannya jika aku mau. Jadi jika aku memutuskan untuk menyelamatkanmu, atau Tsumiki, atau Tetra, itulah yang ingin kulakukan!”

Aku selangkah lebih dekat pada Lea.

“Mungkin kau melakukan ini karena kau baik. Mungkin itu karena kau merasa bertanggung jawab. Tapi ketika kau tidak dapat melakukan sesuatunya sendiri, tidak salah jika meminta bantuan seseorang. Itu normal!”

Langkah lain.

Dia sedikit lebih tinggi dariku, jadi aku menatap lurus ke matanya.

“Jadi, biarkan aku membantumu. Untuk itulah aku di sini!”

“...”

Lea mengerang pelan. Dia membuka matanya lebar-lebar dan terhuyung seolah ingin melarikan diri.

Aku meraih tangannya.

“Kau menghabiskan seluruh waktu ini di tempat kosong ini, menyalahkan dirimu sendiri, kan? Mungkin kau malah takut meminta bantuan. Tapi jangan begitu.”

Sudah puluhan juta tahun di luar. Karena waktu berlalu lebih lambat di dunia palsu ini, itu pasti terasa seperti kekekalan di sini sendirian.

Mungkin rasa bersalah telah memudar di hatinya sampai tak ada yang tersisa.

Tapi itu berarti aku harus membantunya mengingat — ingat betapa rapuhnya dia. aku hanya perlu mengingatkannya bahwa dia begitu lemah dan kesepian sehingga dia bergantung pada Bahamut untuk meminta bantuan. Aku perlu mengingatkan dia tentang bagaimana rasanya ingin bergantung pada seseorang.

Mungkin itu pilihan yang salah, tapi dia tidak akan menyesal kali ini. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

“Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Kalau kau mau percaya padaku, remas saja.”

Lea tidak mengatakan apa pun untuk saat ini. Tapi aku tidak melepaskannya.

Dan akhirnya, aku merasakan kekuatan yang ragu-ragu di tangannya. Dia menggenggam tanganku.

“... Apa kau benar-benar akan membantuku?”

Ada air mata mengalir di pipinya. Aku tidak ingin membuatnya menangis, jadi aku memutuskan untuk mencoba dan meringankan suasana hati.

“Sepertinya itu menjadi keahlianku belakangan ini.”

Aku tertawa kecil ...

“Jadi serahkan padaku.”

Dan mengangguk meyakinkan dia sebisaku.
Load comments