Unlimited Project Works

29 Januari, 2019

Valhalla Saga 2-1

on  
In  

diterjemahkan oleh setia-kun

Episode 2/Chapter 1: Legiun (1)

Pertempuran telah berakhir.

Pertempuran berakhir dengan tiba-tiba seperti saat itu dimulai. Setelah bernapas dengan kasar karena telah membunuh monster keenam atau ketujuh, suara terompet tanduk terdengar bersama dengan sorakan.

Dan berapa jam telah berlalu setelah itu?

Tae Ho kembali dengan kapal dan duduk di depan meja bundar besar. Meja itu dipenuhi dengan alkohol dan daging, dan para prajurit dari meja yang sama sibuk makan, minum, dan berbicara.

‘Apakah ini...perjamuan malam?’

Tae Ho melihat sekelilingnya. Dia bisa melihat orang-orang dengan tubuh yang sangat besar yang semuanya duduk berdekatan dan rasanya suhu naik 5 derajat.

Itu pasti perjamuan makan. Karena ada alkohol dan daging.

‘Meski hanya ada alkohol dan daging.’

Rasanya cukup sederhana untuk menjadi perjamuan Valhalla, dengan para Dewa berpartisipasi. Dan dia bahkan tak bisa melihat Valkyrie di sekitarnya. Satu-satunya hal yang bisa dia lihat adalah pria-pria yang bau dan berotot.

Tae Ho melihat sekelilingnya dan minum alkohol. Bukannya dia sangat menyukai alkohol, tetapi dia hanya bisa meminumnya karena itu satu-satunya yang ada di meja. Dia berpikir bahwa dia tidak akan memiliki nafsu makan setelah pertempuran pertama dalam hidupnya tetapi itu tidak terjadi sama sekali. Setelah dia menaruh daging di mulutnya, itu terus berjalan dengan baik.

‘Ayo makan dulu.’

Itu tidak enak karena hanya dipanggang, tapi itu masih daging. Dia harus mengisi perutnya dulu.

‘Tapi di mana aku tidur?’

Apakah dia akan makan dan minum sepanjang malam dan kemudian pergi ke medan perang berikutnya?

Walaupun ini masalahnya, Valhalla adalah tempat yang mengirimnya ke medan perang tanpa penjelasan. Dia bertanya-tanya, tetapi bukan karena tidak ada kemungkinan.

‘Tapi meski begitu.’

“Anak muda.”

Sebuah suara terdengar. Saat Tae Ho menoleh, dia melihat wajah yang dikenalnya. Pria yang dilihatnya di kapal.

“Jadi, kau selamat. Kalau begitu kau bisa memberiku namamu sekarang. Namaku Bjorn.”

Pria itu-Bjorn tersenyum dan duduk di sebelah Tae Ho. Dia sangat tinggi sehingga Tae Ho harus mengangkat kepalanya untuk menatap matanya.

“Aku Lee Tae Ho.”

Saat Tae Ho mengungkapkan namanya, Bjorn memiringkan kepalanya.

“Hah? Kau memiliki nama yang aneh. Aku melihatmu juga mengenakan pakaian aneh.”

Bjorn membuka matanya dengan tajam dan kemudian memandang Tae Ho dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tae Ho ingin berteriak bahwa dia baru menyadari itu, tetapi dia memaksakan dirinya untuk tenang dan berkata dengan suara tenang.

“Ada yang salah. Aku yakin ada kesalahan.”

Sebenarnya dia mengucapkan ini tanpa berharap banyak. Karena jika kata-kata ini berhasil, dia tidak akan pergi ke medan perang sama sekali.

Tapi tanpa diduga, Bjorn mengangguk dan setuju.

“Sepertinya begitu. Orang-orang dengan nama yang mirip denganmu seharusnya pergi ke kota berikutnya.”

Dia benar. Ada yang salah bahkan ketika melihatnya dengan sudut pandang tempat ini.

Tapi yang paling penting, perkataan terakhir menarik perhatian Tae Ho.

“Kota berikutnya?”

“Betul. Bukankah aku sudah memberitahumu di kapal? Tentang Asgard dan sembilan dunia. Orang-orang dengan nama yang mirip denganmu tidak seharusnya berkumpul di Valhalla tetapi di tempat lain. Apa tempat yang disebut……kuil?”

Tae Ho berkedip. Dan kemudian minum bir.

Jika perkataan Bjorn itu benar, maka ada sembilan dunia lagi selain Valhalla, dan tempat yang disebut kuil adalah tempat di mana orang-orang dengan nama yang mirip dengan Tae Ho berkumpul.

Tapi itu segalanya.

‘Tidak. Setidaknya mungkin saja ada orang Korea di sana.’

Tentu saja, itu mungkin bukan masalahnya. Karena itu hanya mirip untuk Bjorn.

“Yah, datang ke sini juga takdir, bukan? Kau bahkan dapat menulis sagamu. Aku yakin kau ditakdirkan untuk datang ke sini.”

Bjorn tersenyum karena rumit sama sekali. Dia tak ingin membantah tetapi perkataannya tampak benar.

“Yang paling penting, sepertinya kau telah cukup pantas. Kau memiliki sedikit rune.”

“Bisakah kau melihat sesuatu?”

Bjorn tertawa ketika Tae Ho bertanya balik secara refleks.

“Um, benar. Kau bahkan tak tahu apa itu saga. Lantas aku akan menjelaskannya padamu.”

Bjorn berhenti sejenak dan kemudian menyentuh dagunya seolah-olah dia memilih kata-kata yang tepat.

“Kau juga pasti mengetahuinya, tapi semua keberadaan yang memiliki kehidupan memiliki mana dalam tubuh mereka. Baik kecil atau besar. Dan itu juga sama untuk musuh Valhalla.”

Monster berkepala anjing itu tentu saja makhluk hidup. Namun meski begitu, dia tidak merasakan penolakan karena berpikir telah membunuh sesuatu dengan benar karena itu adalah monster. Pertama, nyawa Tae Ho dalam bahaya.

Saat Tae Ho mengangguk pelan, Bjorn terus menjelaskan.

“Ketika para prajurit Valhalla mengalahkan musuh, mereka dapat mengambil mana dan mengubahnya menjadi rune ajaib. Pikirkan saat ketika kau memikirkan sagamu.”

Itu permintaan yang tidak masuk akal, tapi Tae Ho memejamkan matanya dan mencobanya. Dan pada akhirnya berseru.

“Oh.”

[Rune terendah: 7]

Pesan mengkilap baru muncul di bawah kategori saga.

Bjorn mencubit dada Tae Ho dengan jemarinya yang besar dan berkata.

“Kau bisa menggunakan rune dan memperkuat kemampuanmu. Ada beberapa kondisi tetapi kau akan dapat belajar sihir dan saga baru.”

‘Sederhananya, kau meningkatkan statistik dan meningkatkan keterampilanmu, kan?’

Rasanya dia tahu apa yang harus dia lakukan. Bjorn terus berbicara.

“Pertama adalah kemampuan fisik – dan di antara kemampuan fisik tersebut aku sarankan kau memperkuat staminamu. Tubuhmu adalah hal pertama yang akan dihabiskan di medan perang.”

Tae Ho mengangguk tetapi dia tidak segera menggunakan rune. Dia memiliki terlalu sedikit informasi saat ini. Jika dia harus pergi ke medan perang lagi dia akan menggunakan rune, tetapi dia masih punya waktu.

“Um, tapi mengapa Valkyrie tidak ada di sini?”

Valkyrie berambut hitam yang membawa Tae Ho ke Valhalla. Dia tentu saja menyuruhnya untuk bertemu lagi di perjamuan malam.

Atas pertanyaan Tae Ho, Bjorn mendecakkan lidahnya dan kemudian menepuk bahu Tae Ho.

“Valkyrie tidak ada di sini. Mereka ada di perjamuan lain.”

“Perjamuan lain?”

“Ini adalah perjamuan terendah yang diadakan oleh prajurit kelas terendah dan pendatang baru. Karena itulah makanan dan alkoholnya seperti ini. kalau kau ingin minum dengan Valkyrie, kau harus bekerja keras. Karena kau harus setidaknya naik ke perjamuan menengah.”

Jadi itu sebabnya makanannya seperti ini. sampai ada jajaran di perjamuan makan.

‘Betapa buruknya. Mereka mendiskriminasi dengan makanan.’

Omong-omong, sepertinya keistimewaan kelas atas bukan hanya perjamuan makan. Mungkin kau dapat menerima peralatan yang lebih baik atau mendapatkan teknik khusus.

“Bagaimana denganmu?”

Bjorn mengatakan bahwa ini adalah tempat bagi pendatang baru dan prajurit kelas terendah.

Lalu apakah Bjorn juga seorang prajurit kelas terendah?

Mendengar pertanyaan Tae Ho, Bjorn tertawa.

“Aku hanya turun untuk menemuimu.”

Dengan kata lain, dia bukan pendatang baru.

“Aku benar-benar bersyukur.”

Tae Ho membungkuk ke arah Bjorn. Itu bukan pura-pura, tetapi perasaan sejatinya. Jika Bjorn tidak mengajarinya saga di kapal, ia akan mati di medan perang hari ini.

“Kau tahu sopan santun. Aku suka kau.”

Bjorn mengangguk dan meletakkan tangan di bahu Tae Ho.

“Kau mempunyai talenta. Kau akan dapat memanjat dengan cepat. Kalau kau harus bertarung, bukankah lebih baik mendapatkan perlakuan yang baik dan kemudian bertarung?”

Dia tentu saja mendorongnya, tapi mengapa kekuatan meninggalkan tubuhnya? Tae Ho memaksa tersenyum lalu mengajukan pertanyaan lain.

“Um, tapi di mana aku akan tidur hari ini?”

Dia ingin tahu tentang banyak hal, tetapi untuk sekarang, dia harus mengurus kebutuhan dasarnya yang paling mendesak.

“Ah, kau dikirim ke medan perang segera setelah kau datang sehingga kau tidak akan tahu. Akan diumumkan nanti, tapi tempat tinggalmu akan bergantung pada legiun Dewa apa yang kau ikuti.”

“Legiun?”

“Ya, para prajurit Valkyrie semuanya di bawah legiun para Dewa Asgard.”

Dia memikirkan sesuatu. Tae Ho membuka matanya dengan tajam dan bertanya.

“Aku hanya penasaran tapi apakah berkatnya berbeda tergantung Dewa apa yang diikuti?”

“Oh, kau cepat menangkap. Betul. Itu sama untuk Valkyrie yang berafiliasi.”

Dia benar. Dia masih tidak tahu berkat apa yang diberikan setiap Dewa, tetapi dia merasa itu adalah keberuntungan.

“Sudah mulai sekarang.”

Bjorn menunjuk ke tengah aula dengan gerakan dagunya. Dia berbalik untuk melihat secara refleks dan kemudian melihat Valkyrie berambut emas. Itu adalah Reginleif.

“Prajurit! Aku telah melihat kinerja hari ini dengan baik! Valhalla menyambut kalian, para prajurit mulia!”

“Ohh!”

“Thor!”

“Thor!”

Para prajurit mengangkat cangkir mereka dan mengklaim nama Dewa Petir. Reginleif tersenyum bangga dan kemudian mengangkat suaranya lagi.

“Mulai dari sekarang, aku akan mengajarimu afiliasi! Semuanya, lihat cangkir kalian! Sekarang, kalian akan ingat nama orang yang akan kalian percayai dan ikuti!”

Reginleif mengayunkan pedangnya ke udara setelah dia selesai berbicara. Lalu, cahaya mulai bersinar dan dicurahkan di atas kepala para prajurit setelah dipecah menjadi ratusan dan ribuan keping.

“Cepat. Periksa.”

Bjorn mendesak. Para prajurit di sekitarnya juga melihat cangkir mereka.

Tae Ho, yang kagum pada partikel cahaya, menatap cangkirnya. Kata-kata mengilap mulai muncul di tempat yang sebelumnya tidak ada.

‘Kumohon! Kumohon!’

Meskipun dia hanya tahu tentang Odin, Thor dan Freya dalam Mitologi Nordik, Tae Ho masih memiliki legiun yang dia inginkan untuk berafiliasi.

Odin atau Thor.

Dewa yang kuat!

“Odin!”

“Ohh! Thor!”

Para prajurit mulai berbicara di antara mereka sendiri. Tae Ho menelan ludah dan kemudian melihat cangkirnya. Itu adalah pertama kalinya dia melihat simbol-simbol ini, tetapi dia bisa dengan jelas membacanya.

“IĆ°unn?”

Jelas, itu adalah nama yang tidak dikenalnya. Dan karena itu, Tae Ho menoleh dan menatap Bjorn.

Lalu, Bjorn mendecakkan lidahnya dan menepuk bahu Tae Ho.

“Semangat.”

Apa yang dia maksud dengan itu?

Tae Ho ingin bertanya ketika dia sudah tahu jawabannya.
MARI KOMENTAR

Share: