World Reformation 2

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

“Apa ini?!”

Ketika kami kembali, desa itu dipenuhi dengan kelainan.

Sebuah desa sepi yang bahkan tidak mencapai lima puluhan dengan semua anggota bersama-sama. Namun, di tempat itu, ada lebih dari seratus orang berkerumun di sana.

Jelas bahwa sekelompok orang datang ke desa ini dari luar.

Sebagai buktinya, orang-orang yang datang dari luar mengenakan armor putih yang bersinar dan berbeda dari penduduk desa.

Masalahnya yakni banyak yang mengenakan armor putih bersinar jelas bertindak dengan cara menekan terhadap penduduk desa.

“Kumpulkan semua penduduk desa! Terutama anak-anak muda yang berusia antara 10 hingga 20 tahun! Jangan biarkan satupun lolos!!”

Pria yang tampaknya memimpin orang-orang berarmor itu memberi perintah ketika air liur keluar dari mulutnya.

Orang-orang berarmor –kemungkinan besar ksatria– telah mengambil pedang dan tombak mereka, dan mendesak maju penduduk desa dengan menunjuk mereka dengan itu. Para ksatria benar-benar mengancam mereka.

Sepertinya orang-orang ini mengumpulkan penduduk desa di suatu tempat.

Orang-orang di dalam rumah-rumah diseret keluar, dengan paksa entah mereka setuju atau tidak.

Aku dan ayah memperhatikan kejadian abnormal ini dari luar desa, dan saat ini kami bersembunyi di hutan, mengamati situasinya.

Karena kami sedang berburu, kami tidak perlu menghadapi kelainan ini secara langsung.

“Siapa orang-orang ini?!”

“Mereka mungkin datang dari kota. Kelompok yang seragam, mana mungkin mereka dari sekitar sini.”

Ayah mengatakan itu setelah melihat kilau armor tersebut.

Aku juga berpikir dengan cara yang sama. Selain itu, aku membawa kenangan, yang datang dari tempat lain yang bukan dari Kuromiya Haine, dan memiliki gagasan tentang identitas mereka.

Ksatria yang ditutupi dengan armor penuh.

Ksatria-ksatria itu tidak hanya memiliki pedang dan tombak, ada juga bendera yang diangkat seolah menampilkan siapa mereka.

Lambang yang terukir di benderanya, tak ada keraguan, itu adalah simbol Dewi Cahaya, Inflation.

(Kenapa lambang Dewi Cahaya terukir di bendera manusia ini?)

Dari ingatan sewaktu aku sebagai Dewa Kegelapan, aku punya gagasan tentang apa itu lambang.

Sudah 18 tahun sejak aku bereinkarnasi sebagai manusia. Pada saat itu, aku belum pernah meninggalkan desa sekalipun. Tidak punya minat pada cara-cara dunia telah datang menggigitku.

“...Haine, bagaimanapun, mari kita pergi ke tempat kepala desa, terus, kita akan bertanya apa yang terjadi—”

“Tunggu, Ayah!”

Aku buru-buru meraih lengan ayah yang keluar dari semak-semak dan akan memasuki desa.

“Ayah, kita berada di luar desa dan mereka tidak memperhatikan kita. Kalau kita pergi sekarang, mereka akan menemukan kita dan kita akan berakhir dengan cara yang sama seperti yang lain.”

“Y-Yeah...”

“Selama kita belum memperjelas apa tujuan para ksatria itu, lebih baik jangan bergerak sembarangan. Bergantung pada bagaimana kejadian ini berkembang, itu bisa menjadi nilai tambah bahwa kita bersembunyi di sini.”

“Aku mengerti...itu betul.”

Sepertinya ayah telah mendengarkan pendapatku, dia membungkuk lagi, dan kembali ke bayangan pohon.

“Seperti katamu. Astaga, meskipun kau adalah putraku, kau mengatakan hal-hal yang membuat Ayah berpikir kau adalah yang lebih tua.”

“Itu salah. Aku anak Ayah.”

Tapi...

“Ayah, ini mungkin terdengar aneh setelah aku bilang jangan bergerak tapi...bagaimana kalau kita bergerak?”

“Ayah tahu. Ayah juga khawatir soal itu.”

Aku dan Ayah pergi ke luar desa, berhati-hati agar tidak diperhatikan oleh para ksatria, dan berganti lokasi.

Sangat beruntung bahwa ini adalah desa terpencil di relung gunung, lingkungan desanya sebagian besar hutan.

Jadi, tempat kami pindah adalah rumah kami di desa.

Saat ini, ibu pasti sendirian di rumah.

Ibu telah memiliki tubuh yang lemah sejak lama, dan itulah sebabnya, peristiwa yang tidak biasa ini membuatnya semakin mengkhawatirkan.

Sementara kami bersembunyi di hutan, kami tidak bisa memeriksa dalam rumah karena jaraknya.

Pada saat aku berpikir tentang bagaimana menghadapi ini, suara berisik terdengar dari dalam rumah.

“Segera keluar! Dewi Cahaya memanggil!”

Ibu diseret keluar dari rumah oleh seorang ksatria berarmor.

Kulit wajahnya jelas buruk. Kondisinya mungkin tidak baik hari ini dan sedang berbaring di tempat tidur.

Tubuh ibu lemah sejak awal, dan dia sudah melahirkan aku ketika dia sudah di atas umur.

Dia memiliki tubuh yang membuatnya sulit untuk memiliki bayi, dan sebenarnya, tubuhku ini seharusnya lahir mati.

Tubuh adalah bejana jiwa.

Karena aku harus mengambil bejana jiwa, sewaktu aku sebagai Dewa Kegelapan, aku memutuskan untuk lahir mati ketika aku turun.

Walaupun itu adalah lahir mati, jika itu adalah Dewa, bisa saja untuk menyembuhkan bagian-bagian yang telah menjadi buruk dan dilahirkan kembali. Namun, aku yang lahir dengan cara itu, telah membuat ayah dan ibuku selangkah lebih bahagia dari biasanya, dan dibesarkan dengan perhatian.

Seorang anak yang tidak akan diberkati karena penyakit. Selain itu, mereka diberitahu bahwa itu akan menjadi kelahiran mati sebelumnya, tapi seorang anak masih dilahirkan, sehingga pasti membuatnya lebih bahagia bagi mereka.

Pada saat aku 1 tahun, pernah aku menghabiskan hampir sepanjang hari berjalan di luar desa.

Tubuhku sudah cukup dewasa untuk berjalan dengan kedua kaki, jadi aku ingin memeriksa dunia permukaan.

Meskipun itu adalah tubuh seorang bayi, bagiku yang adalah Dewa, tidak ada masalah.

Dengan maksud berjalan-jalan ringan, aku memeriksa di sana-sini, dan ketika aku puas serta kembali, ibu memelukku sambil menangis dengan keras.

Wajah seorang wanita tua yang cemas tentang anaknya yang berusia 1 tahun menghilang tampak di mataku.

Suatu hari aku biasa berjalan-jalan dan mengisi rasa ingin tahuku, adalah hari yang menyedihkan bagi orang itu.

Sewaktu itu, akhirnya aku perhatikan. Saat ini aku adalah Kuromiya Haine sebelum itu adalah Entropy sang Dewa Kegelapan.

Bahwa aku adalah putra dari orang-orang ini.

Sebelum berpikir, tubuhku sudah bergerak.

“?!! Hei tunggu, Haine!”

Penghentian ayah tidak berhasil tepat waktu, dan, setelah berlari keluar dari naungan pohon, aku bergegas menuju sasaranku.

“Eh? Guwaaaaa?!!!”

Ksatria itu ditinju dan berguling.

“Ibu!”

“Haine...Jangan! Larilah!”

Namun, aku berdiri di depan ibu, menghadapi para ksatria yang bingung, dan berkata,

“Kalau kalian datang padaku, bersiaplah! Kalau kalian mau melukai orang ini, aku akan mematikan kalian!!”
Load comments