Unlimited Project Works

02 Januari, 2019

World Reformation 21

on  
In  

diterjemahkan oleh setia-kun
Distrik gunung Radona awalnya merupakan area yang dipenuhi dengan tanaman hijau dan suhu hangat. Dan juga tanah subur yang memiliki bunga-bunga indah bermekaran di mana wisatawan akan datang untuk melihat-lihat.

Namun, sekarang ini adalah tanah tandus dengan bumi pucat.

“Itu kesalahan monster itu.”

Tersembunyi dalam bayang-bayang bebatuan, Mirack, Karen, dan aku mengamati monster yang memiliki warna pucat sama seperti permukaan bumi.

Astaga, melihat dari dekat begini, kau benar-benar dapat mengetahui seberapa besar itu. Semakin kau memandangnya, semakin rasanya seolah-olah aku sedang melihat gunung yang sesungguhnya.

“Ini adalah panas yang dihamburkan oleh monster elemen api ini. Semua tanaman di pegunungan telah mengering, dan semua makhluk hidup di sana mati. Berkat itu, distrik gunung Radona saat ini tidak memiliki bayangan dari diri sebelumnya; mereka sekarang adalah gunung-gunung gersang.”

“Elemen api ya. Dari kelihatannya, sepertinya lebih dari tipe bumi.”

Melihat sosok monster raksasa itu, Karen-san menumpahkan kesannya.

Namun meski begitu, itu pasti elemen api. Seolah membuktikan penjelasan Mirack tentang ‘hamburan panas’, bahkan di kejauhan yang jauh di mana kita bisa mengamatinya, udara dipenuhi dengan panas dan rasanya kita berada di dalam tungku.

Sebentar saja, Karen-san, Mirack, dan aku sudah berkeringat tanpa henti.

“Atau lebih tepatnya, bahkan monster memiliki elemen ya.”

“Hah? Apa katamu? Itu sudah jelas.”

Mirack menatapku seolah-olah melihat orang idiot.

“Itu karena monster memiliki elemen sehingga kita manusia harus menggunakan kepala kita untuk melawan monster-monster berelmen.”

“Bagaimanapun juga ada afinitas elemen.”

Afinitas?

“Api mengusir angin, angin mengering dan menghancurkan bumi, bumi menyerap air, dan air memadamkan api. Itu adalah afinitas elemen-elemen. Sebagai contoh; Pythonfly yang muncul di hutan tempo hari adalah monster elemen angin, karenanya, mereka lemah terhadap api. Mampu memusnahkan mereka dengan ‘Flame Burst’-ku juga berkat alasan itu.”

“Tapi kali ini, Phalaris si sapi api adalah elemen api. Dengan Mirack-chan yang memiliki elemen api yang sama dengannya, itu akan berubah menjadi pertempuran kekuatan murni. Terus gimana?”

“Apa menurutmu sesuatu dapat dilakukan untuk melawannya? Melawan makhluk raksasa itu?”

Kata-kata itu sangat meyakinkan.

Bagi seorang wanita, tinggi Mirack lumayan bagus, walau begitu, ketika berdiri melawan monster raksasa sebesar gunung, dia seukuran semut.

“Tapi, hanya elemen cahaya yang tidak memiliki afinitas unsur yang lemah, dan merupakan elemen spesial yang sedikit lebih kuat terhadap semua elemen. Kalau kau melawannya, mungkin ada sedikit harapan?”

Mirack menanyakan ini pada Karen-san dengan cara yang sedikit menggoda.

Beberapa saat yang lalu, Mirack mengatakan bahwa dia memberikan tugas yang tidak mungkin untuk menolak saran, yang menggangguku.

Jika kita mengalahkan monster itu, Mirack berjanji untuk membentuk hubungan kerja sama.

Tapi dia pikir tidak mungkin Karen-san bisa mengalahkan Phalaris si sapi api.

“Dimengerti.”

Tanpa ragu-ragu, Karen-san menghunuskan pedang suci Saint-George.

“Tolong tetap tersembunyi, Haine-san. Mulai sekarang, ini adalah pekerjaan para pahlawan. Mirack-chan dan aku pasti akan membunuh makhluk itu.”

Selain itu, Karen-san melompat keluar dari bayang-bayang.

“[Holy Light Blade]!”

Gelombang pedang cahaya dilepaskan dari pedang sucinya.

Karena targetnya amat besar, itu mengenainya. Tapi di situlah masalahnya.

Kulit pucat monster raksasa itu mengusir gelombang pedang cahaya.

Cahaya menyebar dengan sia-sia. Tak ada satupun luka di permukaan monster.

“Kulit si sapi api, Phalaris, sekeras baja. Dulu, ia menghadapi serangan gabungan Korps Ignis Militant, tapi tidak hanya tidak menerima kerusakan, ia bahkan tidak bergerak. Kulit baja dan gumpalan raksasa; dengan gabungan keduanya, mustahil untuk melukai monster itu.”

“Mirack! Ini bukan waktunya untuk menganalisis ini dengan tenang, kan?!”

Serangan Karen-san tidak melukai, tapi itu cukup untuk membuat monster raksasa memperhatikan kehadiran kami.

Berbalik perlahan-lahan ke arah kami.

“Bumooooo!!”

Dengan teriakan, api merah dimuntahkan dari permukaan monster.

Alasan sebenarnya mengapa itu disebut sapi api, kita akan mempelajarinya saat ini.
MARI KOMENTAR

Share: