Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

02 Januari, 2019

World Reformation 25

on  
In  

hanya di setiablog
*Doshin Doshin*

Penyebab tanah bergetar seperti gempa bumi, sebenarnya, bukan karena gempa bumi; itu adalah Phalaris si sapi api yang mengguncang tanah dengan setiap langkah yang dibutuhkan dengan kaki-kaki itu.

“Kenapa?! Phalaris si sapi api tidak pernah bergerak dengan aktif sebelumnya!”

Mirack, yang hanya mengawasi situasi selama ini, menggumamkan ini.

“Apakah ini saatnya untuk linglung?!”

Berteriak pada Mirack yang benar-benar linglung, aku berlari sekuat tenaga.

Untuk mengejar sapi sialan itu.

“Ke mana makhluk itu?! Kalau itu dia, kau harusnya tahu, kan?! Bagaimanapun, ini adalah tanah airmu!”

“Lalu, seperti yang aku pikirkan! Makhluk itu benar-benar menuju ke Muspelheim...kota tempat markas Gereja Api?!”

“Karen-san!”

“Eh? Y-Ya!”

Karen-san ditarik oleh aku bersama dengan Mirack.

“Aku akan menahannya! Karen-san dan Mirack, cari cara untuk mengalahkan makhluk itu!”

“Eeh?! Gak mungkin! Mengalahkan monster raksasa seperti itu...”

“Itu pekerjaan pahlawan, kan?!”

Dengan satu raungan itu, kaki Karen-san dan Mirack berhenti.

Meninggalkan gadis-gadis itu, aku menambah kecepatanku, dan pergi mengitari bagian depan sapi api ini.

Bahkan kepalanya beberapa kali lebih besar dari seluruh tubuhku. Monster raksasa semacam itu mengarahkan kedua matanya ke arahku.

(...Kau masih punya urusan denganku, Dewa Kegelapan?)

Itu benar, sapi sialan ini adalah salah satu dari lima Dewa Pencipta, Nova sang Dewa Api.

Monster terkuat yang bisa dia ciptakan dengan tangannya sendiri, dan bereinkarnasi menggunakan jiwanya sendiri. Ada aroma menyengat dari dirinya yang merencanakan sesuatu yang berskala besar dan buruk.

(Jadi, ke mana kau akan pergi? Apa kau bergerak dengan pengetahuan bahwa ada sesuatu dalam arah sini?)

(Tentu saja. Ada kota besar manusia di sana, kan? aku menuju ke sana untuk menghancurkannya.)

...Seperti dugaanku ya.

(Kau serius? Kota yang terletak di sana, Muspelheim, adalah kota tempat markas utama Gereja Api berada, kau tahu? Ini adalah kota tempat orang-orang yang menyembahmu berkumpul. Dan kau akan menghancurkan tempat itu dari semua tempat?)

(Tidak masalah. Manusia yang sudah lupa untuk menyembah Dewa mereka adalah orang berdosa yang sama. Juga, kota itu bukan satu-satunya yang akan aku hancurkan. Kalau aku menghancurkan sekitar setengah dari seluruh umat manusia, mereka harusnya dapat mengingat untuk takut akan Dewa mereka.)

(Dasar keparat! Apa yang kaulakukan itu kontradiktif! Hanya karena mereka tidak menyembahmu...Jika manusia mati, doanya juga ikut!)

(Artinya orang yang tidak menyembah kita tidak ada nilainya. Siapa takut. Karena benda yang tidak perlu yang disebut eteril, jumlah manusia telah meningkat secara tidak perlu. Biarpun mereka sedikit menipis, yang tersisa akan mengingat kebesaran Dewa mereka dan beribadah dengan segala yang mereka miliki. Dengan begitu, energi doa akan banyak mengalir!!)

...

(Sepertinya kalian para Dewa tidak berubah sama sekali dalam 1.600 tahun ini. Seperti saat kita bertarung, kalian hanya memandang rendah manusia.)

(Manusia diciptakan oleh kita para Dewa! Itu diberikan! Kau Dewa Kegelapan eksentrik yang telah bereinkarnasi sebagai manusia, minggirlah dari sini! Aku akan memenuhi peranku sebagai Dewa!)

(Kalau aku yang minggir dari sini, aku tidak akan bertarung dengan kalian 1.600 tahun yang lalu. Ini agak mendadak tapi, mau gimana lagi. Mari kita mengadakan pertandingan balas dendam untuk pertempuran di zaman kuno!)

(Sangat kurang ajar. Tapi Dewa Kegelapan, walau aku telah bereinkarnasi sebagai monster, aku masih salah satu dari Dewa yang mahakuasa. Di sini pun, aku masih bisa menghancurkan kota dengan mudah, kau tahu?)

Mengatakan ini, sapi api membuka mulutnya lebar-lebar.

Karena badannya besar, jadi ketika membuka mulutnya yang besar, ukuran lubang itu seperti gua.

(Dewa Kegelapan, kenapa menurutmu aku menciptakan monster raksasa? Selain itu, aku bereinkarnasi di dalamnya? Jawabannya adalah...karena jika tak sebesar ini, ia takkan menampung semuanya; kemampuan untuk memanfaatkan kekuatan Dewa.)

(Mungkinkah kau—?!)

(Di dalam sapi baja ini, aku sudah mengumpulkan kekuatan dewata apiku. Karenanya, kerangka besar dan kulit bajaku. Lihat dan takjublah, saat kekuatan ini meletus!)

Dari dalam mulut raksasa yang terbuka, sebuah cahaya melambai keluar.

([High Temperature Flash]!)

Apa yang keluar dari mulut sapi api adalah kilat raksasa yang menyelimuti segalanya.

Dan ini ditembak ke arahku — bukan, bukan itu. Itu diarahkan pada apa yang langsung di belakangku, Kota Muspelheim. Melihat skala kilat panas itu, kisarannya cukup besar. Jadi tujuannya ada di sana sejak awal!

“Kugh! [Dark Matter, Set]!”

Materi gelap menyembur keluar dari seluruh tubuhku. Ini menyebar seperti perisai dan memenuhi kilat panas.

Kekuatan api dan gelap berselisih. Perisai materi gelapku entah bagaimana mampu memblokir kilat suhu tinggi.

(Menyebalkan sekali! Materi gelap ini yang menghapus kekuatan kita para Dewa. Tak kusangka itu akan dapat memblokir kilat suhu tinggi kekuatan penuh. Bahkan ketika kau telah bereinkarnasi sebagai manusia yang sangat kecil, kekuatanmu itu tidak berkurang, ya, Dewa Kegelapan.)

(Itu sebabnya aku telah memberitahumu sejak lama; manusia itu hebat.)

(Kehebatan yang kaubicarakan itu tidak ada artinya kalau itu tidak berguna bagi kami para Dewa. Memang benar bahwa materi gelapmu ini menyusahkan, tapi kalau kau mengabdikan diri untuk pertahanan, aku bertanya-tanya, berapa lama kau bisa bertahan? [High Temperature Flash]!)

Meriam suhu tinggi ditembak sekali lagi dari mulut sapi api.

Aku tidak melakukan apapun selain memblokirnya dengan menyebarkan materi gelap.

(Jadi kau akan memblokirnya lagi ya. Meskipun akan lebih mudah untuk menghindarinya. Aku sudah tahu. Itu karena kalau menghindari High Temperature Flash ini, itu akan langsung menyerang kota manusia yang ada di belakangmu. Itu akan menghapusnya dalam satu serangan. Siapa sangka kau akan memperhatikan manusia dan tidak dapat menunjukkan kekuatan penuhmu, seperti biasa, kau adalah Dewa yang bodoh!!)

Phalaris si sapi api...Nova sang Dewa Api sialan itu meningkatkan output dari High Temperature Flash, dan aku terus memblokirnya.

Ini menjengkelkan, tapi lawanku adalah Dewa. Menahan gelombang serangan ini membutuhkan semua usahaku dan aku tidak bisa menemukan celah untuk melakukan serangan balik.

Ini benar-benar sebuah loop tanpa akhir.

Ketika lawannya Dewa dan aku juga Dewa, perjuangan ini adalah hasil yang jelas.

Itu sebabnya, butuh pemicu yang berbeda untuk membalikkan situasi ini. Campur tangan sesuatu yang bukan Dewa.

2 pahlawan

Kunci untuk mengakhiri pertempuran ini dipegang oleh mereka.

FP: setia's blog

Share: