Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

06 Januari, 2019

World Reformation 31

on  
In  

hanya di setiablog
Aku Kuromiya Haine, reinkarnasi Entropy sang Dewa Kegelapan.

Untuk memulihkan persahabatan pahlawan cahaya Kourin Karen-san dan pahlawan api Katack Mirack, aku bertindak keluar dari atmosfer dan ketegangan, dan akhirnya menciptakan kekacauan.

Karena itu, aku bertemu Dewi Cahaya, Inflation, dan Dewa Api, Nova, lagi.

Skema para Dewa itu...itu adalah sesuatu yang tidak bisa aku tutup mata, tapi untuk sekarang, aku akan mengesampingkannya.

Alasannya adalah...karena urutan kejadian itu, aku saat ini...

“Apa itu kau? Katakanlah.”

“Iya, aku lariii!!”

Menghadapi kesulitan terbesarku setelah memasuki Gereja Cahaya.

Wanita amazon yang berdiri tepat di depanku, Angan Regine. Koki kepala dari dapur Gereja Cahaya.

Dia adalah atasan langsungku. Aku dikirim untuk melakukan pekerjaan lain-lain setelah gagal dalam ujian masuk dan akhirnya bekerja di dapur.

Tapi pada waktu aku di sini, aku diseret oleh Karen-san dan pergi untuk menaklukkan sapi api. Waktu aku di markas besar sebenarnya telah singkat, dan yang tercermin di mata Regine-san adalah...

“Aku sangat membenci orang yang menganggap enteng pekerjaan mereka.”

Jadi, begitulah adanya.

Aku adalah orang yang telah absen tanpa pemberitahuan beberapa hari terakhir ini, dan tepat pada saat ini, aku dimarahi.

Sejak aku diikat, digantung terbalik, dan ditinju sekitar tiga kali, ingatanku menjadi kabur.

“Tunggu! Tunggu, Regine-neesan! Ada alasan yang sangat dalam untuk ini!!”

Temanku Frost menempel padanya dan berusaha menghentikannya.

Dia benar-benar pria yang baik. Bagian yang menyedihkan adalah itu tidak membantu sedikitpun dalam menghentikan Regine-san.

“Entah dia punya alasan atau tidak, itu tidak masalah. Masalahnya yaitu taoge ini menganggap enteng pekerjaan dapur, dan dia membuatku marah. Itu saja yang ada di sana.”

“Tidak, bukan itu-ssu yo! Kalau kau mendengarnya, kau pasti akan mengerti-ssu! Karena itu, tolong dengarkan dia!”

Kalau terus begini, aku pasti akan dibunuh oleh Regine-san.

Walau aku tidak memiliki gambaran kematian yang jelas ketika aku bertarung melawan Phalaris si sapi api –Nova sang Dewa Api–, entah kenapa, ketika lawannya adalah Regine-san, aku melihatnya.

Namun nasibku tidak berakhir di sini.

Bila Wakil Kapten Grades datang, dia seharusnya bisa mengendalikan sesuatu. Dia adalah wakil kapten Korps Aurora Knight. Bahkan seseorang seperti Regine-san kemungkinan besar akan mendengarkan seseorang sekelasnya.

Wakil Kapten Grades pastinya tahu tentang berbagai hal, dan dia menunjukkan wajahnya beberapa kali di dapur, jadi jika dia mendengar tentang kegaduhan ini, dia seharusnya...

“Tunggu sebentar, Miss Regine! Seperti kataku, tolong dengarkan apa yang kukatakan. Haine absen karena keadaan yang tidak dapat dihindari. Aku akan menjelaskannya, jadi tolong, berhentilah meninju dia!!”

“Minggir, Wakil Kapten Grades.”

Aku sudah berakhir.

Sekarang aku melihat dengan benar, di kaki kanan Regine-san, ada Frost; di kaki kirinya, ada Wakil Kapten Grades. Tapi mereka tidak bisa menghentikan Regine-san sama sekali.

Atau lebih tepatnya, biarpun seorang wakil kapten dari korps ksatria tidak dapat menghentikan Regine-san, seberapa besar ke-amazon-an dia?

“Orang-orang yang memiliki sikap menghina seperti ‘itu cuma memasak’ akan aku –tanpa pengecualian– menenggelamkan mereka di wastafel. Apa kau bilang pekerjaan ini polos dan bodoh dibandingkan menjadi seorang ksatria? Tapi kau tahu, aku melakukan pekerjaan itu lebih serius daripada orang lain. Entah itu wakil kapten atau kapten, aku tidak punya niat untuk membiarkan mereka menghalangi.”

Aku sudah berada di jalur yang pasti untuk dipukul sampai mati.

‘Ibu, Ayah, aku minta maaf karena tidak bisa kembali’ ...adalah apa yang kupikirkan, ketika...

“Kalau begitu, aku yang akan menghalangi.”

Seseorang baru muncul di dapur.

Dan orang ini sangat tak terduga sehingga setiap orang yang melihat orang itu mengangkat suara terkejut.

“Pahlawan-sama?!” “Pahlawan-sama?!” Pahlawan Karen-sama?”

Pahlawan cahaya, Karen-san.

‘Apa yang perwakilan gereja lakukan di tempat seperti ini?’, adalah yang biasanya terlintas dalam pikiran seseorang, tapi tidak ada alasan lain selain aku.

Karen-san mengonfirmasi keadaanku yang terbalik. Lantas, dia melihat sosok Regine-san dipegang oleh dua orang dan segera memahami situasinya.

“Regine-san, aku benar-benar minta maaf.”

Mengatakan ini, dia menunduk dalam-dalam.

Dengan hanya itu, semua orang di tempat itu kewalahan.

“Akulah yang menyeret Haine-san keluar saat dia berada di tengah-tengah pekerjaannya. Bantuan Haine-san diperlukan. Kalau kau menyalahkan seseorang, salahkan aku.”

“Kalau begitu…!”

Seperti yang diduga, bahkan Regine-san tidak segegap itu bicara besar ketika pahlawan menurunkan kepalanya.

Dia goyah dan kehilangan kata-kata.

“Haine-san adalah bakat yang diperlukan untuk masa depan Gereja Cahaya. Aku tidak punya niat untuk meremehkan pekerjaanmu, tapi, bisakah kau menyerahkan Haine-san kepada kami atas dasar itu?”

“...Mau bagaimana lagi.”

Tekanan menakutkan itu ditarik kembali seolah-olah itu bohong.

“Diminta oleh pahlawan cahaya, aku tidak bisa menolak. Toh, ini adalah dapur Gereja Cahaya.”

“Terima kasih banyak!”

Karen-san berbalik ke arahku yang sedang bersukacita dan menghunuskan pedang sucinya.

Dengan satu ayunan pedang suci itu, tali yang mengikatku terputus.

“Wa!”

Tentu saja, tidak ada satu luka pun di tubuhku bahkan ketika tali itu terikat erat di tubuhku.

Itu tidak terpikirkan, tapi kadang-kadang, Karen-san amat menakutkan.

“Kalau begitu, aku akan membawa Haine-san bersamaku! Terima kasih banyak untuk semuanya sampai sekarang!”

“Wa?!”

Dengan kata-kata itu, aku diseret keluar dari dapur.

Lantas, sejak saat itu, tidak pernah kedua kalinya aku akan melangkah ke dapur ini sebagai juru masak magang.

FP: setia's blog

Share: