Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

09 Januari, 2019

World Reformation 37

on  
In  

hanya di setiablog
“Hm? Itu...”

Yang pertama memperhatikan apa yang kulakukan adalah Mirack.

Dia bergerak dari belakangku dan melihat poster yang terbentang.

“...Itu semacam wanita berkilau yang membuat mataku sakit.”

Itu adalah kesanku setelah melihat Pahlawan Air idol Celestis.

“Dia rupanya idol super populer yang merusak lima gereja, tahu.”

“Duh, betapa menyedihkannya. Ada apa dengan celah yang sangat dalam ini? Bukankah itu akan menunjukkan celana dalammu?! Kotor!”

“Tapi...kalau sampai membuatnya hampir bisa dilihat, matamu pun pergi ke sana meskipun tidak mau. Dalam hal itu, mereka memahami naluri seorang pria.”

“Pria itu kotor!”

“Lalu Mirack-san juga, berhenti mengenakan pakaian yang menunjukkan belahan dada begitu banyak.”

Pahlawan Air yang ada di poster ini, benar saja, seorang gadis muda yang berusia sekitar 15 tahun. Bagaimana mengatakannya, dia adalah tipe gadis cantik yang berkilauan.

Dalam hal itu, Karen-san dan Mirack, yang cantik juga, adalah tipe yang berbeda. Senyumnya yang cerah memiliki dampak yang cukup besar, rasanya seperti meninju menembus poster.

“Pakaian dan asesorisnya semuanya berwarna dingin dan disatukan dengan baik.”

“Dia mungkin sadar bahwa setidaknya dia adalah pahlawan. Biru adalah warna simbol Gereja Air.”

“Apakah itu juga suatu hal? Nah, kalau gadis ini, bahan kainnya berkilau dan membuatmu lebih sadar akan sosok tubuhnya.”

“Kau melihatnya dengan hati-hati ya, sungguh bernafsu.”

“Lengan dan kakinya dalam kondisi yang baik, tapi payudaranya lebih besar dari biasanya, dan lekuknya membentuk garis yang indah...atau lebih tepatnya, orang yang mengambil foto itu pasti bertujuan untuk efek ini.”

“Kau sudah mendekati kalimat menjijikkan, tahu?”

“Begitu? Tapi itu adalah sesuatu yang diperhitungkan untuk membuatmu melihatnya seperti ini jadi...Ah...”

Poster itu tiba-tiba direbut dariku.

Ketika aku mendongak kaget, kulihat pelaku yang mencuri poster itu adalah Karen-san.

“Karen-san?”

“...”

Karen-san dengan tenang berjalan pergi dengan poster di tangannya...adalah apa yang kupikirkan, tapi tempat yang Karen-san tuju bukanlah pintu, atau bahkan jendela, hanya dinding.

Apa yang akan dia lakukan di tempat seperti itu — oh, Karen-san menyebarkan poster di dinding yang tidak ada apa-apanya dan mendorong paku payung pada keempat sudut untuk menempelkan pada tempatnya.

Yah, poster awalnya untuk itu.

“Karen-san, apa yang kaulakukan?”

“Haine-san, tolong kemarilah.”

“Iya!”

Nada suara Karen-san sama seperti biasanya, tapi dia memiliki semacam intensitas yang mengatakan bahwa dia tidak akan menerima jawaban tidak.

Aku berjalan ke depan dinding tempat poster itu diletakkan.

Dan sebagainya...

“Silakan sentuh itu.”

“Hah?”

Sentuh?

“Sentuh apa?”

“Ini.”

Yang ditunjukkan Karen adalah poster yang ditempelkan di dinding, pada pahlawan idol Celestis yang difoto di dalamnya — di area dadanya.

“Tunggu, meskipun itu poster...foto, itu hanya...”

Menyentuh area dada itu akan dipertanyakan.

Tentu saja, ini hanya foto, tapi rasanya kriminal. Tidak, ini malah membuatnya terasa lebih kriminal dan salah...

“Jangan mengeluh dan tolong sentuh saja. Bahkan ketika kau menyentuh payudaraku...”

“Baik?!”

Orang ini masih menyimpan dendam padanya!

Itu hanya kecelakaan saat kami mengendarai satu kendaraan!

“Tunggu dulu. Aku tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja kaukatakan!”

Itulah yang dikatakan Mirack. Ketika aku berpikir satu orang bermasalah lagi terlibat di dalamnya juga...

“Mirack-chan, tutup mulut sebentar. Kita berada di tengah-tengah sesuatu di sini.”

“Iya...”

Dia segera dijatuhkan.

Pahlawan Api sangat lemah.

“S-Sentuh saja, Haine-san.”

“...Iya.”

Aku tak tahu apa yang sedang dicoba dicapai Karen-san di sini, tapi untuk sekarang, aku merasa bahwa pilihan teraman adalah menyentuhnya saja.

Aku menyerah dan mengikuti apa yang dikatakan Karen-san. Dengan kata lain, aku menyentuh payudara idol yang tertempel di dinding...tidak, di foto, nah, aku hanya menyentuh dinding di sini.

“...”

*tepuk tepuk*

Hanya sensasi yang diharapkan yang dirasakan. Keras. Datar. Itu jelas, itu adalah dinding. Ini lebih menyedihkan dari yang kuharapkan.

“Jadi, apa kesanmu?”

Aku ditanya oleh Karen-san.

Meskipun kau bertanya tentang kesanku...

“...Uhm, itu adalah dinding yang luar biasa. Sangat datar. Tidak ada sama sekali.”

“Lalu, ini adalah kemenanganku.”

““Kemenangan apa?!””

Bahkan Mirack berteriak bersamaku.

“Toh, aku sudah memutuskan.”

“Apa?”

“Apa yang coba kaubuat aku lakukan sekarang...”

Mirack dan aku tidak dapat mengikuti apa yang sedang terjadi dan semangat kami perlahan-lahan terkikis.

“Kita pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Ibukota air, Hydra Ville. Kita pergi ke sana untuk bertemu dengan Pahlawan Air, Celestis-san.”

FP: setia's blog

Share: