Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

09 Januari, 2019

World Reformation 41

on  
In  

hanya di setiablog
“Hah? Apa katamu?”

Permintaan Karen-san begitu jujur sehingga Celestis tampak mengerutkan kening.

“Aktivitasmu memiliki pengaruh buruk di kota-kota kami. Aku ingin kau menghentikannya.”

Karen-san tidak mengubah ekspresinya dan tidak menunjukkan emosinya.

Di sisi lain, reaksi Celestis jelas.

“Itu sebabnya aku bertanya, apa katamu! Laguku memberikan pengaruh buruk?! Itu tidak mungkin! Meskipun aku terlihat seperti ini, aku masih seorang pahlawan, tahu! Aku tidak akan bernyanyi kecuali penggemarku senang!”

“Tidak, tidak, kau tahu...!”

Memikirkan Celestis akan sangat marah. Sepertinya dia memiliki kekhawatiran sendiri tentang kegiatannya sebagai idol, tapi kalau begini terus, pikiran mereka tidak akan terhubung sama sekali.

Aku tidak punya pilihan selain ikut campur. Lalu, aku menambahkan bagian-bagian yang kurang dalam penjelasan Karen-san.

Tentang bagaimana popularitas idol Celestis mengalami kenaikan drastis, dan dengan itu, penyebaran penggemar di Kota Apollon dan Muspelheim telah meledak. Ini langsung berubah menjadi sebagian besar dari mereka bergabung dengan Gereja Air.

Ini bertentangan dengan persetujuan larangan dakwah yang dibentuk antara gereja-gereja.

“Ah, aku mengerti. Jadi begitu rupanya.”

Setelah mengatakan ini, Celestis pun mencapai pemahaman.

“Dengan kata lain, popularitasku hampir mencuri para penggemarmu, jadi kau datang ke sini untuk memintaku menghentikannya. Gadis-gadis polos ini sulit melakukannya huh.”

“Bukan itu.”

Karen-san dengan tegas menjawab.

“Aku tidak keberatan dengan aktivitas idolmu sendiri. Masalahnya yaitu itu berhubungan dengan dakwah. Bagian itu membuat masalah ini rumit. Jadi, menurutku serang butuh untuk merevisi situasi ini. Demi itu, metode yang bisa diambil adalah dua.”

“Berhenti menjadi idol, atau berhenti menjadi pahlawan. Begitu, jadi itu maksudmu dengan ‘berhenti menjadi idol’ ya.”

Celestis mengatakan ini seolah menangkal ringan tekanan dari Karen-san.

Selain itu, Mirack berdiri bahu-membahu dengan Karen-san dan menekankan kritik.

“Aku juga berpendapat sama. Itu sebabnya aku di sini. Pertama, Celestis, bahkan ketika kau berdiri sebagai pahlawan, kau melakukan hobi seperti menjadi idol. Apa kau tak malu? Kalau kau seorang pahlawan, kau harus mengabdikan diri pada pekerjaan utamamu sebagai pahlawan. Kalau kau ingin mengabdikan diri menjadi idol, kau harus memberikan kursi pahlawan kepada orang lain. Saat ini kau tidak bisa duduk di keduanya dan setengah-setengah.”

Pahlawan Api dan Pahlawan Cahaya; dua pahlawan ini sedang memprotes bersama-sama, jadi Pahlawan Air tidak bisa mengabaikannya.

Itulah tujuan ketika mereka berdua datang ke sini, tapi, apakah itu akan menunjukkan keefektifan?

“...Apa kalian bodoh? Itu cuma pemikiran dangkal kalian saja.”

Itu tidak berpengaruh.

“Lalu, aku akan menanyakan ini padamu juga. Apa pekerjaan seorang pahlawan?”

“Itu...melindungi orang-orang dari ancaman monster...”

“Itu benar, tapi bukan itu saja.”

Celestis tersenyum sugestif.

“Pahlawan...melawan monster sebagai wakil dari gereja. Lalu, dengan itu, mereka menunjukkan kekuatan gereja kepada mereka. Pahlawan adalah wajah gereja, pembawa standar. Dengarkan, lima pahlawan saat ini adalah gadis remaja di umur sekitar 15 ini memperjelas, bukan?”

Eh, benarkah itu?

Pahlawan Cahaya, Pahlawan Api, dan Pahlawan Air di sini semuanya perempuan, tapi tadi dia menyebutkannya, jika gereja akan menggunakan seseorang sebagai wajah mereka, daripada seorang lelaki, akan lebih menarik bagi seorang gadis imut.

“Kalian tahu, untuk melayani pekerjaanku sebagai wajah gereja, aku melakukan yang terbaik. Itulah idol. Untungnya, penggemarku telah menerima ini, dan popularitasku telah meningkat. Popularitasku mencapai di luar ibukota air yang berarti bahwa upayaku juga ikut bermain di sana.”

“Tapi kalau begitu, gereja-gereja lain—!”

“Jika itu mengganggu api dan cahaya, itu berarti kalian kurang dalam upaya. Sesuai dengan monster yang baru saja dibunuh. Kalian kurang kesadaran sebagai wakil gereja. Kalian tidak punya kebijakan yang jelas dan hanya bekerja tanpa satu pun pemikiran sebagai wajah gereja. Semua ini berarti bahwa sekarang ia menggigit kalian dari belakang, itu saja.”

Karen-san dan Mirack tidak bisa mengatakan apa-apa.

Itu sama dengan mengakui bahwa apa yang dikatakan Celestis benar.

“Celestis-san...kau terlihat seperti orang bodoh biasa, tapi kau sungguh memikirkan hal-hal dengan benar huh.”

“Ada apa dengan cowok ini, sangat kasar pada pertemuan pertama kita! Atau lebih tepatnya, serius, siapa kau?”

Aku sudah ikut sampai sekarang seperti biasa, tapi tampaknya Celestis bahkan tidak mengakui kehadiranku.

Dengan sedikit pengenalan diri, aku melanjutkan pembicaraan.

“Kalau begitu, Celestis-san tidak akan menahan diri dalam kegiatan idolmu dan tidak akan menunjukkan pertimbangan kepada gereja-gereja lain, kan?”

“Tentu saja. Kenapa seseorang yang berupaya harus menunjukkan perhatian kepada orang yang tidak berupaya?”

Jadi begitu. Dimengerti.

“Maka itu tidak bisa dihindari. Kami pergi!”

FP: setia's blog

Share: