Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

09 Januari, 2019

World Reformation 44

on  
In  

hanya di setiablog
Jadi, telah diputuskan bahwa kami akan menginap satu malam di Hydra Ville.

Kami dianggap sebagai tamu istimewa dalam live stage, jadi kami diizinkan di kamar tamu Gereja Air.

Bahkan di kota wisata dan pelabuhan perdagangan yang terkenal ini, ini adalah bangunan sentral. Kamar tamu di tempat seperti itu, hebatnya, cukup mewah. Itu adalah struktur yang dibuat sedemikian rupa sehingga angin laut dapat dengan mudah melewatinya, jadi aku bisa memiliki pemandangan yang indah dari pemandangan malam kota.

“Hmph, pamer.”

Mirack menggumamkan ini ketika dia menenggelamkan punggungnya berulang-ulang di ranjang empuk.

Apakah dia berencana bertindak seperti itu dalam semua perjalanan ini?

“Dia bilang kita bisa bebas menghabiskan waktu sampai besok. Sepertinya kita juga bisa jalan-jalan di luar selama kita memutuskan waktunya.”

“Meskipun ini membuat Celestis-san mendengarkan permintaan kami, ini sudah menjadi hal yang luar biasa. Pada awalnya, kupikir kami akan bernyanyi juga, dan itu membuatku bingung.”

Tapi, benar saja, itu tidak terjadi.

Dalam hal pertunjukan artistik, keduanya adalah pemula total. Tidak mungkin si pro Celestis ingin mereka tiba-tiba mempelajari liriknya dan meminta mereka berdiri di atas panggung. Sepertinya mereka dapat dengan aman menyaksikan dari sisi.

Walau begitu, untuk menghibur penonton hingga batas tertinggi, dia berkata dia akan memikirkan cara terbaik untuk menunjukkan kegembiraan memiliki tiga pahlawan bersama, lalu, pergi ke pertemuan.

Dia benar-benar pekerja yang rajin.

“Dia benar-benar orang yang agresif, Celestis-san itu. Tidak hanya pahlawan, dia juga bangga menjadi idol juga.”

“Bagiku, dia cuma orang yang setengah-setengah yang tidak bisa memutuskan satu hal...ya, itu yang ingin kukatakan, tapi...sebenarnya, bahkan dengan itu, dia masih bisa melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai seorang pahlawan.”

Eh? Benarkah?

“Sejak resmi menjadi pahlawan, jumlah monster yang dia kalahkan adalah...tidak berbeda dari Karen dan aku. Bahkan ketika dia menaruh begitu banyak semangat dalam hobinya. Aku penasaran, kapan dia pergi untuk melakukan penaklukannya.”

“Aku mengerti. Celestis-san benar-benar orang yang luar biasa. Dia mengatur dengan benar sebagai pahlawan dan idol......Haine-san.”

Karen-san membuat nada yang lebih serius dari biasanya.

“Apa kau ingat apa yang dikatakan Celestis-san?”

Pahlawan adalah wajah gereja. ‘Karena kau telah menjadi pahlawan, kau harus memenuhi tugas itu’, apakah itu yang dia maksud?

“Aku...berpikir kalau para pahlawan hanya bisa membunuh monster dan melindungi penghidupan warga. Tapi kursiku sebagai pahlawan dan kekuatanku diberikan kepadaku oleh gereja, itu sebabnya, aku mungkin juga memegang tanggung jawab sehubungan dengan gereja.”

Karen-san yang serius mengatakan ini dengan ekspresi seolah itu benar-benar mengganggu hatinya.

“Aku pikir tanggung jawab itu bisa dipenuhi hanya dengan membunuh monster. Tapi itu belum semuanya. Mungkin ada hal lain yang harus dilakukan. Melihat Celestis-san hari ini, aku mulai memikirkan itu...”

“Karen-san tidak salah.”

Pertama-tama, aku mengatakan ini.

“Apa yang Celestis katakan tidak salah, tapi Karen-san juga tidak salah. Tugas terpenting para pahlawan adalah melindungi warga. Karen-san yang selalu memikirkan hal itu sebagai prioritas nomor satu sudah menjadi pahlawan yang hebat.”

“Itu benar, Karen. Tidak dapat dihindari bahwa matamu dicuri oleh keceriaan Celestis, tapi kau tidak boleh tersesat karenanya. Juga, ingat apa yang kita lakukan di sini. kau mengalami kesulitan untuk datang jauh-jauh ke sini untuk menyelesaikan gesekan antara lima gereja. Kau melakukan cukup banyak tugas untuk gereja.”

Mirack juga bergabung denganku dan menghibur Karen-san.

“Begitu. Betul.”

Sepertinya Karen-san telah mendapatkan kembali semangatnya.

Mirack dan aku diam-diam meninju.

“Kalau begitu, mari kita tidur. Aku akan kembali ke kamarku.”

“Eh? Haine-san tidak tidur di sini?”

Gaklah.

Aku seorang pria dewasa. Kalau aku tidur malam di kamar yang sama dengan mereka, beberapa kesalahan pasti akan terjadi.

Meskipun aaku adalah reinkarnasi dari Dewa Kegelapan, selama aku memiliki tubuh manusia, aku tak bisa tetap acuh pada naluri dan keinginan fisiologis yang menyertainya.

Itu sebabnya aku mengikuti alasan.

“A-aku mengerti...kalau begitu malam ini, cuma Karen dan aku...!!”

“Tidak, Mirack punya kamar yang disiapkan untuk Mirack saja, jadi tidurlah di sana.”

“Apa?!”

“Benar-benar sambutan VIP. Tak kusangka mereka akan memberi kita kamar pribadi untuk kita masing-masing.”

“Sial!! Ini adalah definisi kebaikan yang tidak dibutuhkan!”

Lain kali, biarpun ada peluang untuk tidur nyenyak, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku pasti akan menghalangi peluang Karen-san dan Mirack berbagi kamar sendirian.

***

Jadi, aku kembali ke kamar yang disiapkan untukku, dan tepat pada saat aku mau tidur...

*tok tok*

‘Siapa ini?’ adalah apa yang kupikirkan ketika aku membuka pintu untuk memeriksa. Yang berdiri di sana adalah seorang pria dewasa kurus.

“Eh? Kau ini...”

Saya ingat pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya.

...Benar, orang yang Celestis panggil Germana. Dia mungkin sama denganku, asisten pahlawan atau bawahan.

‘Tapi kenapa orang itu ada di sini?’, adalah apa yang kupikirkan ketika pria kurus itu mulai berbicara.

“Aku minta maaf karena mengganggumu pada jam selarut ini. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu tentang kesempatan yang diberikan, kau tahu.”

“...Sesuatu yang ingin kaubicarakan? Apakah ini terkait dengan live besok?”

Aku tidak punya gagasan lain selain ini.

Sesuatu untuk dibicarakan dengan seseorang yang dia temui untuk kali pertama hari ini, satu-satunya hal yang akan terjadi adalah terkait pekerjaan.

“Sudah terkait dengan itu, tapi ada juga satu hal lagi.”

“Eh?”

“Pertama-tama, aku harus memperkenalkan diri di sini. Aku adalah manajer aktivitas idol Celestis-sama, tapi...”

Manajer? Bukan Germana?

“...Itu hanya wujud anggapanku. Aku sebenarnya Dewa Air yang bereinkarnasi, Coacervate. Halo, Dewa Kegelapan, Entropy.”

FP: setia's blog

Share: