Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

09 Januari, 2019

World Reformation 50

on  
In  

hanya di setiablog
Lalu, keesokan hari, di tempat live...

Seperti yang diumumkan, ada panggung khusus yang mengapung di laut. Para penonton menikmati semuanya di kursi yang disiapkan khusus di pantai berpasir dan perahu wisata.

Jadi ini juga merupakan anugerah dari peradaban eteril ya.

Menerima tamu-tamu yang mengejutkan, Pahlawan Cahaya dan Pahlawan Api, tempat itu dipenuhi oleh orang-orang. Sangat sukses sehingga mereka bahkan mengambil keuntungan bahwa itu adalah panggung laut dengan menjual kursi kapal.

“A-Apa yang harus kita lakukan, Mirack-chan! Aku mulai gugup!!”

“Tenang, Karen! Pahlawan harus menunjukkan m-m-m-martabat!”

Keduanya, yang merupakan pemula dalam hal-hal semacam ini, menjadi gugup seperti orang gila dengan ribuan mata yang akan segera diarahkan pada mereka.

Di sisi lain, idol yang memimpin pertunjukan hari ini, Celes-tan –Pahlawan Air, Celestis– sudah ada di panggung tengah bernyanyi dan menari.

Dia sepertinya sudah terbiasa dengan ini dan gerakannya tajam.

Usai menyelesaikan satu lagu, dia menerima sorakan para penggemar sambil kembali ke belakang panggung di mana kami berada.

“Awal mula akan berenang! Benar juga, lagu pertama harus selalu ‘mencuci semuanya dengan air’!”

Itu nama lagu, rupanya.

“Terima kasih atas kerja kerasmu.”

“Ooh, Germana......tunggu, eh? Bukan Germana?”

Orang yang mengatakan itu adalah aku.

Celestis menggerakkan kepalanya ke kedua sisi seolah-olah mencari seseorang.

“Asisten-chan, apa kau tahu di mana Germana-ku? Kupikir kau bertemu dengannya kemarin...kau tahu, wajahnya adalah satu-satunya hal yang terlihat tampan, dan sebaliknya membuatnya tampak teduh...”

“Bila kau berbicara tentang Manajer-san-mu, sepertinya dia punya urusan penting dan akan datang terlambat.”

Manajernya, dengan kata lain, Dewa Air Coacervate yang mengambil bentuk manusia dan bergaul dengan masyarakat manusia.

Pria itu saat ini berhati-hati dengan serangan mendadak yang mungkin aku lakukan dan saat ini harus siaga di atas Hydra Serpent.

“Begitu. Orang itu melakukan hal-hal semacam itu sekali-sekali kau tahu. Yah, itu pekerjaannya jadi tidak bisa dihindari.”

“Sudah lama kau kenal dia?”

Celestis tengah mengganti kostumnya untuk lagu berikutnya. Aku pikir dia melepas pakaiannya saat ini.

Alasan mengapa aku mengatakan ‘berpikir’ adalah karena aku tidak menonton. Karen-san menutupi mataku dengan erat sampai-sampai mungkin akan menghancurkan wajahku.

“Tidak, belum. Pada saat kegiatan idolku dimulai, gereja memperkenalkannya padaku. Yah, dia seharusnya menjadi pengawasku, tapi dia ternyata bisa diandalkan. Dia memiliki koneksi yang cukup bagus di puncak, dan memberik berbagai pekerjaan. Panggung lautan kali ini juga idenya, kau tahu?”

Pastilah.

Coacervate memilih ini sebagai panggung untuk pertarungan dengan Naga Laut Besar.

“Celestis-san...”

“Hm?”

“Bagaimana kau mulai berpikir untuk melakukan pekerjaan idol ini? Sejak kapan kau berpikir tentang menjadi idol saat bekerja sebagai pahlawan?”

“Hm? Nah, itu pertanyaan yang sering kudengar dalam wawancara. Meskipun aku terlihat seperti ini, titik awalku adalah sebagai orang yang ingin menjadi pahlawan, kau tahu. Memasuki Gereja Air, melatih kekuatan dewataku, dan melakukan yang terbaik dengan pola pikir ‘kalau aku akan melakukannya, aku akan menuju ke puncak’.”

Namun, suatu hari, Celestis memikirkan sesuatu: ‘Mengapa aku harus menderita karena itu?’

Pelatihan di gereja itu keras, dan jika demi mencapai puncak, itu adalah pahlawan, lebih tepatnya. Para atasan yang menginstruksikannya mengatakan pelatihan yang menyakitkan itu diberikan dan sebenarnya lebih baik bila menyakitkan.

Celestis pada masa itu tidak dapat menerimanya.

Menjadi pahlawan adalah impiannya yang panjang. Bukankah mimpi seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan memacu jantung?

Dia berpikir bahwa ‘jika aku benar-benar mengejar mimpi itu, bukankah seharusnya aku bersenang-senang dengan semua latihan yang menyakitkan dan pertarungan berbahaya?’.

Namun, dia melihat pelatihannya untuk menjadi pahlawan itu menyakitkan dan sulit.

Apakah itu karena dia sendiri tidak punya cukup nyali? Atau karena pahlawan yang dia tuju tidak sama dengan pahlawan yang ditunjukkan gereja? Itukah sebabnya itu menyakitkan?

Perasaan tidak nyaman ini menjadi keraguan, dan keraguan ini dengan mantap menyingkirkan motivasinya.

“Tapi kau tahu, suatu hari, aku memikirkan ini.”

“Apa?”

“‘Tidak perlu memikirkan mata orang lain. Tidak apa-apa menjadi pahlawan yang kuimpikan’. Sejak saat aku memutuskan ini, latihan pahlawan berubah total. Karena aku ingin melakukan hal-hal yang mencolok, aku berlatih menari. Setelah membunuh monster, aku bahkan melatih pose untuk menunjukkan kepada orang-orang yang kuselamatkan dan kawan-kawanku. Atasanku jelas marah akan hal ini, tapi aku tidak berhenti. Karena semuanya menyenangkan.”

Lantas, untuk suatu alasan misterius, dia mendapatkan lebih banyak kekuatan untuk melanjutkan pelatihan pahlawannya yang biasa, menunjukkan tanda-tanda yang terlihat semakin kuat, dan kemampuannya menjadi kelas atas dalam Gereja Air.

“Kemudian, pahlawan sebelumnya pensiun, dan seleksi dibuat untuk memilih yang berikutnya, tapi...itu adalah sapuan bersih. Kandidat pahlawan lainnya tak ada yang bisa bernyanyi. Pemilihan pahlawan yang biasanya memakan waktu beberapa hari, atau bahkan berbulan-bulan, telah berakhir dalam sekejap.”

Maka, Pahlawan Celestis lahir.

“Setelah itu, pertempuran berlanjut. Aku tidak ingin menjadi pahlawan yang lurus dan didorong oleh gereja; aku ingin menjadi pahlawan yang akan membuat semua orang tersenyum. Itu sebabnya aku melakukan banyak hal yang tidak ada preseden, dan aku juga mengganggu lingkunganku. Lalu, tujuan yang aku capai adalah idol......Asisten-chan.”

“Iya?”

“Aku mengerti apa yang kalian katakan. Aku mengerti bahwa aku adalah pahlawan yang aneh. Tapi kaulihat, bagiku, ini adalah pahlawan yang terbaik dan paling pas. Sebagai seorang pahlawan, itu untuk menyelamatkan orang, tapi aku tidak ingin menahan diri. Jika aku akan melakukannya, aku harus membuat orang-orang dan diriku bahagia, atau itu jadi bohong.”

“...Yeah.”

“Karena itu, aku tidak berencana berhenti menjadi pahlawan atau idol. Aku akan berjalan di jalanku sendiri. Aku tidak punya niat untuk menyerahkannya.”

“Aku menger—”

“AKU MENGERTI!”

““Eh?””

Celestis dan aku dikejutkan oleh pihak ketiga yang mendadak terlibat dalam pembicaraan kami.

Itu Karen-san.

Karen-san telah menutupi mataku sepanjang waktu sehingga aku tidak mengintip Celestis yang berganti baju, itu sebabnya, jelas bahwa percakapan itu akan mencapai telinganya juga.

“Aku juga mengerti! Aku menjadi pahlawan karena aku ingin melindungi orang-orang yang berada dalam masalah, tapi Gereja Cahaya hanya memikirkan otoritas mereka sendiri setiap saat...Ketika aku berbicara dengan orang-orang itu, aku kehilangan kepercayaan apakah apa yang kulakukan itu benar! Tapi tidak apa-apa, kan?! Tidak apa-apa untuk hanya melakukan apa yang ingin kaulakukan, iya kan?!”

“Y-Yeah!”

Kedua tangan Celestis dipegang oleh Karen-san dan bingung.

“Aku mengerti sekarang. Biarpun arah kita berbeda, jika kita semua melihatnya sebagai pahlawan yang kita inginkan, dunia akan berubah menjadi lebih baik! Celestis-san! Ayo lakukan yang terbaik bersama!!”

“T-Terima kasih...tapi, uhm...”

Betul. Kau masih ingat?

Karen-san menutupi mataku untuk tidak menunjukkan Celestis yang saat ini tengah berganti pakaian untuk lagu berikutnya.

Dan karena saat ini Karen-san memegangi tangan Celestis dengan kedua tangannya.

Jadi...tidak ada lagi yang menutupi mataku.

Di bidang penglihatan terbuka, apa yang terpantul di mataku adalah sosok Celestis dalam pakaian dalamnya.

Mungkin karena dia bernyanyi dan menari, desainnya ternyata sederhana. Dan warna pakaian dalam itu adalah...

“Biru langit!”

“Kyaaaaaaaa!!”

Jika para penggemar mengetahui hal ini, aku pasti bakalan dibunuh, jadi aku harus tetap diam akan hal ini.

FP: setia's blog

Share: