Unlimited Project Works

09 Januari, 2019

World Reformation 56

on  
In  

diterjemahkan oleh setia-kun
“Hei, Coacervate.”

Di sudut area audiensi yang berputar-putar karena panas, aku berbicara dengan pria yang berdiri di sampingku.

“Itu adalah hasil yang kautuju. Upaya hebat para pahlawan membuat penonton bangkit serempak.”

Tentu saja, aku tidak mengatakan ini karena sarkasme.

Skenario yang ia inginkan adalah satu-satunya kemenangan pahlawan Celestis. Namun, pada tahap itu, ketiga pahlawan bekerja sama dan bahkan menggabungkan kekuatan mereka menjadi satu untuk bertarung.

Apalagi mereka memegang keunggulan.

Penonton sangat bersemangat, dan di bagian itu, itu persis seperti yang ditujukan Coacervate, tapi justru itulah mengapa bagian yang ketinggalan justru semakin menonjol.

Aku tertarik pada reaksi apa yang akan ditunjukkan Coacervate, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Dia mengabaikanku sepenuhnya.

Ketika aku memeriksa untuk melihat apa yang sedang terjadi, aku terkejut. Wajahnya dipenuhi dengan kemarahan yang terkonsentrasi.

“Tak bisa dimaafkan! TAK BISA DIMAAFKAN!”

Ke mana sikap asyiknya yang biasa. Apa dia tipe orang yang begitu diliputi oleh emosi hanya karena segalanya tidak berjalan sedikit seperti yang direncanakan?

“Aku sudah selesai bermain-main!! Mahakaryaku, Hydra Serpent! Kita banyak mengubah skenario! Lepaskan semua kekuatan yang kuberikan padamu tanpa kendali!!”

Tanpa penundaan setelah perintah Coacervate, Hydra Serpent bereaksi.

Bahkan dari jauh, sudah jelas bahwa warna matanya telah berubah, apalagi, itu adalah warna yang ganas dan berbahaya.

“Gyoooooooo!!”

Menyingkirkan Raksasa Hitam yang bergulat itu, 8 kepala diangkat ke langit dan diayunkan ke laut.

“Apa yang ingin dilakukan?!”

Delapan kepala itu tenggelam ke laut dan tidak bergerak sama sekali.

Tapi itu jelas bukan karena sudah mati atau karena sudah lelah dan sedang beristirahat; sudah jelas bahwa ini bukan hal sepele seperti itu.

Kelainan itu pertama kali diperhatikan oleh penonton.

Orang-orang membuat keributan.

“Oi, apa itu?” “Lautnya...”

Kelainan itu terjadi di garis pantai –di pantai. Ombak kembali dari pantai berpasir. Gelombang itu hanya menarik kembali tapi tidak kembali karena terus disokong.

Pasang surut? Tapi kecepatan itu terlalu cepat dan tidak wajar.

Seolah sedang ditarik ke bagian air laut...

“Mungkinkah...Hydra Serpent?!”

Apa ia menarik air dengan kekuatan dewata airnya?

Karena itu, permukaan air terus menurun.

“Hei...bukankah ini...buruk?!”

Ini dikatakan oleh orang tak dikenal di suatu tempat di sekitar. Orang-orang lokal di Hydra Ville pasti tahu lebih banyak tentang laut daripada orang sepertiku yang dibesarkan di pedesaan di dalam hutan.

“Buruk? Apanya?!”

Aku buru-buru bertanya.

Orang ini menjawab.

“Karena, kau tahu...ini bukan saatnya untuk pasang surut, tapi, tingkat air menurun secara drastis. Bukankah itu...tanda-tanda tsunami?”

Tsunami?!

“Lagipula, aku belum pernah melihat ombak menarik sebanyak ini! Kalau terus begini, yang akan terjadi adalah tsunami besar yang bisa menelan seluruh Hydra Ville!!”

Kata-kata itu pasti membuat panik sekitar.

Ini sudah pada tingkat yang tidak bisa dikendalikan oleh hati para pahlawan dan manusia. Orang-orang melompat keluar dari tempat duduk mereka dan berlari ke arah yang berlawanan dari bencana besar yang akan menyerang kami.

“Hahahaha! Larilah! Dengan kaki-kaki lamban kalian manusia, kalian tidak akan bisa lepas dari tsunami besar yang datang!”

Ada satu orang yang tidak melarikan diri dan tinggal di tempat, Coacervate sang Dewa Air.

Biarpun dia meniru manusia, bagian dalamnya adalah Dewa, dan pertama-tama, tubuhnya itu milik monster elemen air. Dia mungkin tinggal di sini karena dia tahu dia akan baik-baik saja walaupun dia menerima serangan langsung dari tsunami.

Aku mengambil kerah Dewa yang jahat itu.

“Apakah ini karya Hydra Serpent itu?! Makhluk itu mengendalikan permukaan air dengan kekuatan dewata airnya dan menciptakan tsunami?!”

“Apa lagi yang ada selain itu? Mereka terlalu percaya diri. Mereka sudah memandang rendah Dewa ini dan telah terlalu mengacaukan rencanaku. Sungguh tidak lucu. Mainan yang menghilangkan kesenangan pemiliknya tidak layak untuk dimainkan lagi.”

“Jadi kau akan menghancurkan seluruh kota karena itu?! Ini adalah kota tempat gereja kau berada! Apa kau akan membunuh orang berimanmu sendiri?!”

“Apa ada yang perlu dikhawatirkan? Manusia telah menyebar terlalu banyak karena era eteril. Meskipun jumlahnya berkurang sedikit, masih akan ada lebih banyak manusia yang tersisa.”

Bajingan ini mengatakan hal yang sama dengan Nova!

Apakah semua Dewa seperti ini?!

Kepala Hydra Serpent masih tenggelam ke laut dan tidak bergerak sama sekali. Seolah mengumpulkan kekuatan.

Dan itu benar-benar menjadi masalahnya. Untuk menyebabkan tsunami besar, butuh menarik air, dan ketika sudah mencapai maksimum, itu akan melepaskan semuanya sekaligus.

Pada saat itu, itu akan menjadi bencana terbesar bagi Hydra Ville.

“Fuhahahaha! Kemarahan Dewa Air adalah kemarahan laut! Abdiku, Hydra Serpent, tunjukkanlah bahaya laut!! Wujudkanlah kemarahanku!!”
MARI KOMENTAR

Share: