Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

09 Januari, 2019

World Reformation 58

on  
In  

hanya di setiablog
Hydra Serpent diselimuti oleh kilatan itu...dan menghilang.

Aku tak tahu secara terperinci apa yang terjadi di sana, tapi dari apa yang bisa kulihat dengan pandangan Raksasa Hitam adalah sosok Karen-san menyodorkan pedang suci Saint-George dengan kekuatan dewata gabungan dari dua lainnya menuju Hydra Serpent.

Lantas, setelah sekejap itu, kilat menyelimuti segalanya.

Kilatan yang meluas seperti ledakan telah menelan Hydra Serpent, dan kekuatan dewata air yang terdiri dari tubuhnya diuapkan tanpa jejak.

Apa itu elemen gabungan dari cahaya, api, dan air?

Pertanyaanku tak ada habisnya, tapi tanpa memberiku waktu untuk memikirkannya, bencana berikutnya dilepaskan.

Hadiah perpisahan dari Hydra Serpent. Air laut yang dikumpulkan makhluk ini sudah dekat dengan titik kritisnya, dan biarpun berhenti di tengahnya, sudah jelas bahwa itu masih akan menjadi tsunami yang cukup besar.

Jika itu tiba di tanah begitu saja, setengah dari Hydra Ville akan ditelan.

Itu sebabnya, mulai sekarang, ini pekerjaanku. Pekerjaanku dan makhluk ini.

Benar kan, anakku, Darkness Giant?

Bendungan materi gelap yang dibangun sebagian besar di kedua sisi pada awalnya bukan cara materi gelap seharusnya digunakan, tapi tak ada cara lain sehingga apa boleh buat.

Percayalah pada kekuatan kegelapan!

Air dan kegelapan berbenturan.

Volume air yang mengerikan yang melonjak maju, dan tekanan abnormal yang diciptakannya, diteruskan ke tubuh raksasa itu dan bahkan sampai padaku.

Tapi, aku akan kalah!

Bukan hanya Hydra Ville, aku tidak akan membiarkannya menelan panggung laut juga. Bagaimanapun, semua orang akan melakukan pertunjukan langsung mereka di sini besok.

Darkness Giant, peras semua yang kau miliki!

Tidak masalah kalau kau adalah monster, saat ini, kau adalah penjaga kota ini!

***

Gelombang tenang.

Setelah melepaskan semua amarah yang berkumpul, ia mendapatkan kembali ketenangannya, dan permukaan air kembali ke keadaan bergelombang yang tenang.

“...Ppuha!”

“Aku pikir aku akan mati!!”

“Ooi, kau masih hidup?”

Ketika permukaan laut tenang, Karen-san, Mirack, dan Celestis menunjukkan wajah mereka.

Itu bagus, mereka baik-baik saja.

Aku bisa memastikan situasi dengan mata Raksasa Hitam.

“Ketika aku tertelan ombak, aku benar-benar berpikir aku sudah mati.”

“Sangat bagus bahwa [Water Embrace] berhasil tepat waktu. Dengan kekuatan dewata air, ini memungkinkanmu untuk bernapas di bawah air. Ini juga melindungimu dari tekanan air sampai tingkat tertentu.”

“Bagaimanapun, kami mampu mengalahkannya...Bagaimana dengan kotanya?!”

Tak ada cara bagi gadis-gadis itu, yang sedang dihantui oleh arus yang mengamuk, untuk memastikan keselamatan kota dalam keadaan begitu.

Tapi...

“Kalau kotanya, baik-baik saja.”

Tatapan Karen-san diarahkan padaku.

Secara akurat, kepada Raksasa Hitam tempat aku meminjam akal sehatnya.

Dari yang bisa kulihat, makhluk ini sudah menggunakan setiap tetes kekuatan yang dimilikinya dan sedang dalam proses menghilang.

Pertama, itu adalah monster dadakan yang aku buat dalam satu malam, dan aku bahkan memaksanya lebih dari yang diharapkan.

Aku menggunakan terlalu banyak kekuatan dewata kegelapan untuk memblokir tsunami besar, menghabiskan kekuatan dewata yang membentuk tubuhnya, dan sekarang tidak dapat mempertahankan tubuhnya.

Bagian tubuhnya sudah memiliki lubang di sana-sini, dan itu masalah waktu sebelum menghilang.

Karen-san sedang menatap sosok menyedihkan itu.

“Ia melindungi kami sampai menjadi usang begini. Kota ini baik-baik saja. Kau telah melakukan begitu banyak untuk kami, jadi tidak mungkin itu tidak akan berhasil.”

Lantas, batasnya tiba.

Raksasa Hitam yang agung telah menyelesaikan tugasnya dan kembali menuju kehampaan. Matanya diarahkan pada para pahlawan yang telah bertarung sampai akhir.

“...Terima kasih.”

Dalam perasaan pudar, aku jelas mendengar suara Karen-san.

***

“...”

Dengan lenyapnya Raksasa Gelap, indraku yang bersama dengannya hilang, dan aku berkonsentrasi pada indra tubuhku sendiri.

Aku sudah tidak punya cara untuk memastikan situasi di pihak mereka, tapi itu sudah baik-baik saja.

Bahayanya sudah hilang. Sekarang kita hanya perlu menunggu gadis-gadis itu kembali.

Jadi, aku masih punya satu hal lagi yang harus dilakukan.

“...Kami menang.”

Aku mengatakan ini kepada pria yang berdiri diam di sampingku.

Semua orang selain dia dan aku sudah melarikan diri karena keributan tsunami. Tapi para pahlawan menang, dan ketika orang-orang mendengar bahwa bahayanya sudah hilang, semua orang akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan kembali.

Itu sebabnya, aku akan menyelesaikan ini sebelum mereka kembali.

“Mereka menang. Gadis-gadis itu. Dan itu juga berarti...kau kalah.”

Dewa Air, Coacervate; ini saatnya menyelesaikan masalah.

FP: setia's blog

Share: