Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

09 Januari, 2019

World Reformation 61

on  
In  

hanya di setiablog
“Karen-saaan, apa kau memanggil?”

Aku tiba di salah satu kamar di Gereja Air.

Itu adalah ruangan yang disediakan untuk Pahlawan Cahaya, Karen-san. Karen-san sudah tidur di sini dalam beberapa hari ini, jadi jika dia ada di suatu tempat, pasti ada di sini, jadi aku mencoba memasuki ruangan, tapi...

Ini aneh. Aku tidak melihatnya di manapun.

Tapi aku merasakan kehadiran seseorang.

“Haine-san! Jadi kau datang!”

Jadi, kau benar-benar ada di sini, Karen-san.

Tapi dimana dia? Aku tidak melihatnya sama sekali.

“Mirack dan Celestis menyuruhku datang ke sini, tapi, apakah aku mengganggu kau di tengah sesuatu? Kalau begitu, aku akan kembali ke sini nanti.”

Kurasa itulah alasan mengapa dia tidak menunjukkan dirinya, tapi sepertinya bukan itu masalahnya.

“Tidak, aku sedang menunggu Haine-san. Duduklah di manapun kau mau.”

“Oke...kalau kau bilang begitu...”

“Kalau bisa, di depan lemari...”

Lemari?

“Pertama-tama, Haine-san, terima kasih untuk waktu itu. Kau telah menyelamatkan kami lagi.”

“Tapi aku tidak berpartisipasi. Aku menerima hukuman karena alasan yang sama belum lama ini.”

“Gak, Mirack-chan juga mengerti. Itu jelas cara dia menyembunyikan rasa malunya.”

Namun persembunyiannya hampir membuatku harus membayar mahal.

Dari sana, percakapan terputus untuk sementara, dan keheningan terjadi. Lalu, orang yang sekali lagi melanjutkan pembicaraan adalah Karen-san.

“................Haine-san di sana, kan?”

“Hm? Di sana apanya?”

“Maksudku, Raksasa Hitam itu.”

Aah.

Dia bicara soal monster elemen kegelapan yang aku buat untuk membantu Karen-san dan yang lain melawan Hydra Serpent.

Karena aku harus tetap mengendalikan Coacervate, ini adalah tindakan putus asa yang kupikirkan dengan menjengkelkan sekali.

Karen-san tahu bahwa aku adalah pengguna elemen kegelapan, tapi menciptakan monster adalah perbuatan Dewa.

Aku tidak bisa dengan patuh mengatakan iya untuk ini.

Pada akhirnya, Raksasa Hitam itu tidak hanya dilihat oleh para pahlawan, tetapi juga oleh banyak orang lain, namun itu hanya menjadi benih banyak kebingungan, dan dengan perjuangan keras para pahlawan, poin lain ini tidak menjadi topik pembicaraan.

Monster yang melindungi manusia; keberadaan seperti itulah yang menjungkirbalikkan akal sehat manusia, bahkan ketika melihatnya dengan mata kepala sendiri, itu masih sesuatu yang sulit dipercaya.

Itu sebabnya, media massa juga tidak tahu bagaimana menangani informasi ini dan hanya mengabaikannya, dan bahkan tidak menjadi artikel.

“Tidak apa-apa, kau tidak perlu menjawabku. Tapi, ketika aku bertarung bersama di laut dengan Raksasa Hitam, aku merasa seolah-olah bertarung bersama dengan Haine-san. Meskipun itu situasi yang berbahaya, aku benar-benar merasa damai.”

“Karen-san...”

“Aku pikir Mirack-chan juga sama. Itu sebabnya aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih.”

Karen-san masih tidak menunjukkan dirinya, tapi perasaannya mencapaiku dengan baik.

Terima kasih, kasih sayang yang dalam, niat baik; perasaan semacam itu.

“J-Jadi...!”

“Hm?”

Entah kenapa, nada suara Karen-san mendadak menjadi tidak tenang.

“Rasanya tidak tepat untuk selalu mengucapkan terima kasih, jadi kali ini, aku ingin mengucapkan terima kasih dengan cara yang lebih berwujud!”

“Berwujud?”

Tidak, tidak perlu terlalu memikirkannya.

“...Haine-san, kau benar-benar di depan lemari, kan?”

“I-Iya?”

Dari tadi, aku merasa terganggu dengan ini tapi, suara Karen-san...aku merasa itu berasal dari lemari ini...

Lemari, dengan kata lain, tempat menyimpan pakaian. Meskipun itu adalah ruang tamu, ini adalah ruang tamu dimana Gereja Air mengarungi tamu kehormatan mereka, sehingga memiliki lemari yang sangat bagus, dan cukup besar untuk bisa dimasuki satu orang.

Lalu, apa dia benar-benar di dalam sini...

“Haine-san, tolong perhatikan baik-baik, oke? 3...2...1!!!”

Kenapa kau melakukan hitung mundur?!

Jelas bagi siapapun bahwa aku harus menatap tajam ke lemari ketika jumlahnya mencapai 0.

Lalu, lemari dibuka dengan ‘bam’ dari dalam.

“Haine-san!!”

“Karen-san?!!”

Karen-san telanjang.

Tidak, dia mengenakan pakaian dalamnya, jadi, secara akurat, dia tidak benar-benar telanjang, tapi meskipun begitu, dia menunjukkan sebagian besar kulitnya yang praktis telanjang.

Dia biasanya mengenakan armor dan lengkap di seluruh tubuhnya, jadi membuat sosok berbusana ringan ini bahkan lebih mempesona. Bagaimanapun, kulitnya putih. Aku mendengar sebelumnya bahwa dia memiliki ‘tubuh yang lemah di masa lalu’, dan dengan ini, aku bisa mempercayainya.

Warna pakaian dalamnya juga putih. Putih murni adalah simbol warna Dewi Cahaya, Inflation.

“Oke, selesai!”

“Eh?!”

Karen-san dengan cepat menutup lemari dan mengunci dirinya lagi.

Pada akhirnya, sosok pakaian dalam putih mempesona dari Karen-san hanya bertahan sesaat di mataku.

“Bagaimana, Haine-san?! Apa kau senang?!”

Karen-san bertanya padaku dari lemari kayu.

Apa?

“Tidak yah, mengesampingkan kebahagiaanku, apa ini caramu berterima kasih padaku?! Apakah itu tidak apa-apa?! Ini sangat bermasalah sebagai pahlawan!”

“Itu baik-baik saja! Karena Haine-san......kau juga melihat pakaian dalam Celestis-san!!”

......Ah.

Tepat sebelum serangan Hydra Serpent di pertunjukan langsung, aku merasa seperti kecelakaan seperti itu terjadi ketika Celestis mengganti pakaian panggungnya...

“Apa itu berarti...kau merasa bersaing dengan Celestis?”

Walau begitu, rasa malunya membuatnya hanya menahannya untuk sesaat ya.

Aku tidak mengerti, Karen-san. Aku benar-benar tidak mengerti.

“...Dan? Bagaimana? Apa aku menang?”

“Anehnya Karen-san peduli dengan menang dan kalah.”

Dan beginilah, sekali lagi aku mengintip sisi misterius Karen-san.

Malam terakhirku di Hydra Ville dilewati dengan begini, tapi benar saja, aku harus mengatakan ini sebelum semuanya berakhir.

“Aku merasa senang.”

FP: setia's blog

Share: