Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

24 Januari, 2019

World Reformation 77

on  
In  

hanya di setiablog
Bagaimanapun, Yorishiro-sama dan aku –Kourin Karen– memutuskan untuk menyelidiki reruntuhan bersejarah dari Negeri Dunia Bawah yang ada di depan kita.

Aku juga terganggu oleh bayangan yang menyebut dirinya Entropy sang Dewa Kegelapan, namun tujuan awal kami adalah menemukan kota ini, dan menyelidikinya.

Mengapa kota ini runtuh? Mengapa terkubur jauh di bawah tanah?

Jika kami bisa mengungkap kebenaran dengan menyelidiki reruntuhan, kami mungkin bisa lebih dekat dengan identitas bayangan itu.

Yorishiro-sama dan aku berjalan di jalan setapak di kota.

Melewati di tengah dan lebarnya jalan besar.

Pada masa-masa ketika kota itu masih hidup, aku berpikir bahwa banyak orang telah bergerak bolak-balik di jalan ini.

Tapi saat ini, itu adalah ruang yang tenang di mana hanya ada puing-puing dan pasir berserakan.

“Yorishiro-sama, hati-hati. Gelap dan kita tidak bisa melihat apa yang ada di kaki kita.”

“Ara, kalau begitu, ingin berpegangan tangan sambil berjalan?”

“Apa?!”

Tanpa sadar, akhirnya aku berpegangan tangan dengan Yorishiro-sama saat kami berjalan.

Entah mengapa, ini membuat jantungku berdetak kencang.

Biarpun aku berpegangan tangan dengan seseorang, orang lain itu adalah seorang gadis sepertiku, terlebih lagi, aku memiliki hati yang tertuju pada Haine-san, namun...

Benar saja, apakah itu karena Yorishiro-sama terlalu cantik?

Bahkan di mata orang yang berjenis kelamin sama, Yorishiro-sama itu cantik secara transenden. Aku berpikir seperti itu bahkan ketika dia biasanya menutupi wajahnya dengan cadar. Ketika dia melepaskan cadar itu, kecantikannya melampaui imajinasiku. Sangat tidak adil.

Jika seseorang menyembunyikan wajahnya secara normal, kau akan membayangkan orang itu sebagai sangat cantik, jadi bukankah rintangan kecantikan seharusnya meningkat ketika orang itu mengungkapkan wajahnya?

“Ufufufu...berjalan berdampingan seperti ini...”

“Ya?”

“Kita terlihat seperti teman, bukan?”

“Y-Y-Ya?!”

Aku hanya mengatakan ‘ya’.

“I-I-I-Itu berlebihan-hhh! Aku seorang pahlawan dan Yorishiro-sama adalah seorang Pendiri! Aku berjanji pada penobatan pahlawan bahwa aku akan mencurahkan pedangku untuk Yorishiro-sama...”

“Ara ara, itu Karen-san yang kaku-desu wa ne. Tapi berjalan dengan tangan dipegang seperti ini, melihat tubuh telanjang masing-masing, dan yang paling penting, mencintai pria yang sama; bukankah ini sudah sampai tidak apa-apa memanggil kita sahabat?”

“I-Itu...!”

Meski dia memberitahuku itu, seperti yang aku pikirkan, seseorang seperti aku yang menjadi teman Yorishiro-sama tidak terpikirkan.

Seorang teman, dengan kata lain, adalah orang yang sederajat.

Tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, aku tidak bisa menganggap Yorishiro-sama setara denganku.
setiakun
Ada Pendiri dan Pahlawan yang berdiri, tapi ada juga yang kukatakan sebelumnya, meski aku mengambil bagian kecantikan, aku masih jauh dari mencapai levelnya.

Sebagai contoh, pada masa perselisihan idol, ketika kami bertarung bersama dengan Celestis, aku kewalahan oleh kesederhanaan dan pesona orang itu.

Bahkan dengan itu, aku tidak ingin kalah sebagai wanita di depan Haine-san, jadi akhirnya aku berkata ‘Aku menang’. Aku hanya bertindak keras di sana.

Dan saat ini, di depan kecantikan Yorishiro-sama, aku bahkan tidak bisa bersikap keras.

Kecantikan sempurna yang akan membuatmu bertanya-tanya apakah dia sebenarnya bukan representasi seorang Dewi. Selain itu, orang ini tidak hanya memiliki kecantikan dan status.

Dia juga sempurna dalam kekuatan.

Bepergian bersama dengannya dalam kesempatan ini, fakta ini menjadi lebih jelas. Orang ini melampauiku –pahlawan– dengan panjang dan batas, dan kemampuannya untuk mengendalikan kekuatan dewata cahaya dengan baik.

Bahkan keterampilan menghancurkan lantai di pertarungan bayangan-san, Yorishiro-sama tidak memiliki alat dewata seperti pedang suci Saint-George, tapi, ia mampu menciptakan kehancuran seperti itu dengan tangan kosong.

Biasanya, berapapun jumlah elemen cahaya yang kaupunya, tanpa alat dewata yang menguatkannya, seseorang tidak bisa tidak bisa mengeluarkan kekuatan dewata yang cukup untuk menghancurkan sesuatu.

Yorishiro-sama membalikkan norma seperti itu.

Dia mungkin memiliki elemen cahaya yang jauh melebihi punyaku; seseorang yang jarang terlahir dengan afinitas tinggi dari elemen cahayanya.

Bahkan dalam ‘Jarum Bimbingan’, pada awalnya, itu seharusnya aku dan Yorishiro-sama yang menuangkan kekuatan dewata bersama-sama, namun, akhirnya Yorishiro-sama melakukannya sendirian di sini.
setiakun
Jika Yorishiro-sama bukan sang Pendiri, dia akan menjadi pahlawan cahaya, tidak diragukan lagi.

Berpikir seperti itu, kepercayaan diriku semakin berkurang.

Bahkan Haine-san, dia pasti lebih menyukainya...

“Maaf, sepertinya aku telah mengubah suasana hatimu jadi masam.”

Tangan Yorishiro-sama terlepas dari jemariku.

Ini buruk. Apakah wajahku menunjukkan perasaanku?

“Tapi jangan khawatir. Haine-san pasti akan memilihmu.”

“Eh?”

“Dahulu kala, aku melakukan dosa. Dosa besar yang tidak bisa kutebus walaupun aku berusaha menebusnya. Dia...masih belum tahu tentang perincian dosaku ini. Tapi dia akan tahu itu pada waktunya. Ketika dia mengetahui hal itu, dia tidak akan memaafkanku.”

Kota bawah tanah ini gelap sehingga aku tidak dapat memastikan ekspresi Yorishiro-sama dengan baik.

Tapi entah kenapa, kupikir Yorishiro-sama mungkin menangis.

“Karena itulah aku tidak bisa bersama Haine-san. Dimanjakan olehnya itu menyenangkan dan itu membuatku bahagia, tapi sejauh itulah aku diizinkan melangkah. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh dari itu. Ketika Haine-san belajar tentang segalanya dan mulai membenciku, aku tidak akan bisa menerimanya.”

Aku tidak bisa memahami sepenuhnya kata-kata Yorishiro-sama.

Aku tidak tahu apa maksudnya tentang ‘dosa besar’, dan sejak awal, aku tidak bisa membayangkan Pendiri Cahaya Yorishiro-sama melakukan dosa, entah itu besar atau kecil.

Tapi dia kemungkinan besar...tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

“Itu sebabnya, Karen-san, aku akan mendukungmu. Walau aku tidak berada di sisinya, bagaimanapun juga, aku akan senang akan kebahagiaannya. Mungkin ini cara kasar untuk mengatakan ini pada Karen-san...”

“!!”

“Eh?!”

Aku memegang tangan Yorishiro-sama dengan erat.

Kekuatannya sangat kuat, aku pun mengejutkan Yorishiro-sama. Tapi, aku tidak bisa menghentikan perasaan ini.

“Yorishiro-sama! Tolong jadilah temanku!!”

“Eeh?!”

“Jujur saja, aku tidak mengerti dengan baik apa yang dikatakan Yorishiro-sama. Yang kumengerti yaitu Yorishiro-sama adalah orang yang baik!”

Jika bukan itu masalahnya, dia tidak akan mengirim kata-kata baik kepadaku berkali-kali, dia tidak akan bermain bersama denganku.

Dimanjakan oleh Haine-san bersama Yorishiro benar-benar menyenangkan.

Jika dengan seseorang yang membohongi dirinya sendiri, aku tidak akan bersenang-senang.

“Itu sebabnya, Yorishiro-sama, tolong jadilah temanku. Ayo bikin Haine-san memanjakan kita dan disusahi kita!”

“Karen-san!”

“Jika Yorishiro-sama telah melakukan kesalahan, aku tidak bisa mengatakan sesuatu yang lancang: ‘Aku memaafkan Yorishiro-sama’. Tapi, setidaknya aku bisa minta maaf denganmu sebagai teman! Tolong beri aku kualifikasi untuk melakukan itu, Yorishiro-sama!”

Dan Haine-san pasti akan menerima apapun itu.

Dia adalah orang yang aku cintai.

Tidak masalah bagi Yorishiro-sama dan aku untuk bahagia!

“Astaga, kau benar-benar...”

Itu sangat gelap, aku tidak bisa melihat ekspresi Yorishiro-sama dengan baik.

Namun , dari tangan yang kupegang, aku bisa mengatakan bahwa kekuatan yang dipegangnya telah menguat.

“...Kau benar-benar pahlawanku-desu wa ne.”

FP: setia's blog

Share: