Unlimited Project Works

12 Februari, 2019

Denpachi C2-2

on  
In  

diterjemahkan oleh setia-kun
Bagian 2

Ada pengguna yang mungkin menilai game sebagai ‘game menyebalkan’, tetapi juga pengguna lain yang menyebutnya ‘judul bagus’, bukan? Apakah ini produksi yang baik jika penjualannya bagus? Apakah ini produksi yang baik jika memiliki sistem yang inovatif? Apakah ini produksi yang baik jika ini sekuel dari judul utama? Ada banyak kondisi untuk sesuatu yang dianggap sebagai ‘judul bagus’. —Salah satunya yakni pengguna menyebut ini ‘game menyebalkan’ atau tidak. Ada banyak orang yang mungkin menganggap sesuatu sebagai ‘game menyebalkan’ atau ‘judul bagus’ — mudah ketika kamu memikirkannya seperti itu. Tentu, tampaknya memang benar. Jadi, para player dan produser puas, dan mereka mendambakan game berikutnya. Namun, terlepas dari berapa banyak sesuatu yang merupakan ‘judul bagus’, kekurangannya yakni ia bisa menjadi ‘game buruk’ dalam sekejap. —Itu disebut ‘kebosanan’. Manusia berulang kali mengalami ‘kebosanan’ dan kemudian mencoba mengkonsumsi hal berikutnya untuk memuaskan keserakahan mereka. Bahkan game yang dikenal sebagai ‘judul bagus’ tidak bisa menang melawan ‘kebosanan’. Lalu, apakah game yang tidak pernah bisa menyebabkan ‘kebosanan’ mungkin yang terhebat dari ‘judul bagus’?

 

“Tim [Cú Chulainn] dan Tim [Endless Heart] telah memasuki lapangan!”

Menanggapi pengumuman itu, tim tiga orang [Cu Chulainn] yang melangkah maju dengan momentum direndam dalam semua sorakan yang mereka terima. Pemimpin, seorang Fighter, menggunakan keterampilan gulat profesionalnya untuk menghajar lawan-lawannya dengan kombinasi kekuatan dan teknik yang luar biasa. Pada saat yang sama, seorang wanita muda berpakaian hitam menutupi dia dari belakang sebagai Hunter. Penembakannya yang tepat mampu menghasilkan kerusakan pada lawan dengan andal. Dan, Knight pria muda yang membela garda depan tim maju ke lapangan. Meskipun gerakannya masih agak canggung, dia pasti menjadi kekuatan yang bisa diandalkan dalam tim.

—Itu adalah Mitsuya. Satu setengah bulan setelah pertandingan debutnya, levelnya sudah lebih dari dua puluh setelah mengalami peningkatan dalam hal kemajuan. Fighter yang menggunakan keterampilan gulat profesional adalah Dojima. Gadis yang menjadi Hunter adalah Momiji. Mereka bertiga tidak memiliki kelas yang tumpang tindih, mereka memiliki kompatibilitas yang besar, dan mereka juga melengkapi kekurangan satu sama lain — dengan semua itu, mereka terus mendapatkan momentum. Begitu Mitsuya mencapai level dua puluh, mereka mulai memasuki pertarungan party. Pertarungan di tempat parkir bawah tanah diorganisir sehingga pertarungan individu dan party diadakan pada hari yang berbeda. Tidak seperti pertarungan individu, pertarungan party dua kali lebih besar — ini berarti bahwa penghalang diperluas untuk menciptakan medan perang yang lebih besar.

Sebenarnya tak ada arti yang lebih dalam untuk nama tim Mitsuya dan yang lainnya. Dojima hanya memutuskan nama yang tidak akan terdengar aneh dalam game. Para anggota tim lawan, [Endless Heart], berbaris di depan kelompok Mitsuya. Itu adalah party Beat yang mereka temui sebelumnya. Beat ditemani oleh player pria dan wanita yang belum pernah dilihat Mitsuya sebelumnya. Salah satunya adalah seorang gadis seumuran Mitsuya dengan rambut kepang yang mengenakan blus dan hotpants sementara yang lain adalah seorang bocah dengan tudung yang terlihat masih di kelas lima atau enam sekolah dasar. Tak satu pun dari mereka yang bersama Beat ketika Mitsuya pertama kali bertemu dengannya.

“Apa ini? Sudah kembali ke kebiasaan lamamu, ya?”

Dojima bertanya dengan ekspresi nakal.

“Haha, kurasa seperti itu.”

Beat balas tersenyum masam sambil menggaruk pipinya. Sepertinya gadis dan bocah itu tergoda oleh undangan Beat seperti halnya Mitsuya, dan mereka akhirnya bergabung dengan party-nya. Dengan kata lain, apakah Beat putus dengan wanita yang ada di sana ketika mereka pertama kali bertemu?

“Yah, aku pikir sudah waktunya untuk memulai!”

Ketika pria yang bertindak sebagai penyiar menyatakan demikian, Dojima dan Beat berjabat tangan sebagai pemimpin tim perwakilan. Setelah itu, kedua belah pihak bergerak mundur, dan semua orang mengeluarkan ponsel mereka.

Party-party dapat dibentuk dengan maksimal empat orang dan anggota party yang sama berbagi poin pengalaman dan kemampuan, meskipun ada banyak player yang mengabaikan kondisi ini. Namun demikian, poin pengalaman hanya dapat dibagikan ketika dalam sebuah party hingga empat orang. Selain itu, setelah meninggalkan party, mustahil untuk bekerja sama dengan anggota yang sama lagi selama sebulan.

“Mulai!”

Ketika penyiar berteriak agar mereka mulai, kedua belah pihak dengan cepat mulai memasukkan perintah ke ponsel mereka. Mitsuya sudah mampu memasukkan perintah ke teleponnya tanpa melihatnya. Game yang dikenal sebagai [Innovate] memiliki fungsi konversi karakter otomatis yang sama dengan yang digunakan pada ponsel biasa untuk mengetik. Sampai batas tertentu selama pertarungan, hanya dengan menekan satu karakter pada keypad dapat memicu fungsi konversi dalam game untuk mendapatkan kata akhir yang diinginkan. Untuk Mitsuya, ketika memasukkan [gunakan sabukku sebagai senjata], cukup menekan tombol untuk [s] akan secara otomatis mengarah ke kata [sabuk]. Berkat fungsi ini, waktu input dapat dipersingkat, dan kemampuan dapat digunakan dalam pertarungan lebih cepat. Yang berarti bahwa jauh lebih mudah untuk mencegah kesalahan pengetikan serta kesalahan konversi input. Jika kesalahan pengetikan atau konversi terjadi, suara kesalahan akan dipancarkan dari ponsel player.

Ketika gadis dari kelompok lawan bergerak di belakang anggota timnya dan mengangkat kedua tangannya ke atas, semua anggota tim lawan mulai bersinar. Itu sihir yang mengangkat pertahanan mereka — gadis itu adalah seorang Mage. Sihir dukungan agak sulit untuk ditangani karena efeknya bertahan bahkan ketika si perapal bergerak untuk menggunakan mantra berikutnya. Tidak ada Mage di party Mitsuya, artinya tidak ada yang bisa memberikan sihir dukungan. Mage di party lawan adalah rintangan yang paling menyusahkan bagi mereka. Meskipun Mitsuya ingin mengalahkan Mage duluan, sulit bagi serangannya untuk mencapainya karena Mage itu berdiri di belakang anggota party-nya. Tepat ketika Mitsuya merasa telah mencapai jalan buntu, dia mendengar suara angin merobek di sampingnya, dan gadis itu mengeluarkan jeritan kecil tak lama kemudian. Dia terkena serangan milik — Momiji. Seperti biasa, ia mengenakan pakaian hitam dan memegangi busur versi Jepang tradisional. Di ujung setiap panah ada panah bundar yang terbuat dari karet, dan itulah yang mengenai bahu gadis itu, menyebabkan si gadis Mage mencengkeram sisi bahunya dengan kesakitan.

Kemampuan Hunter — mereka diaktifkan ketika suatu objek dilepaskan dari tangan mereka. Benda yang dilepaskan membawa kekuatan di dalamnya dan mampu menyebabkan kerusakan pada lawan. Ini adalah kebalikan dari kelas Knight yang hanya mengaktifkan kemampuan mereka saat sebuah benda ada di tangan mereka. Hunter juga ditandai oleh peningkatan ekstrem dalam kecakapan visual mereka selama pertarungan. Peningkatan ketajaman visual ini sangat efektif dalam berbagai skenario pertarungan.

Momiji telah berlatih memanah sejak kecil, dan dia adalah salah satu yang paling terampil bahkan di antara sekolah-sekolah menengah atas di daerah metropolitan. Karena mereka tidak memiliki Mage di tim mereka, dia bertindak sebagai pendukung belakang tim dengan busurnya dari belakang. Meskipun panahnya terbuat dari karet, sebenarnya panahnya dikeraskan, sehingga mampu menghasilkan lebih banyak kerusakan daripada yang diperkirakan.

Ketika Mitsuya mengalihkan pandangannya, dia menemukan Dojima dan Beat terlibat dalam pertarungan. Fighter Dojima menggunakan gerakan ringan dan gesit untuk mendekati Beat. Namun, Beat dilengkapi dengan poster yang digulung yang dia pegang di antara masing-masing jari di kedua tangan. Meskipun itu tampak seperti ide yang agak diragukan dari sudut pandang penonton, delapan poster yang seperti cakar telah diresapi dengan kekuatan game, mengubahnya menjadi aset yang tangguh yang cocok untuk penyerangan dan pertahanan.

Kemampuan seorang Fighter hanya untuk meningkatkan kekuatan ofensif dan defensif dari tubuh sendiri. Biarpun seorang Fighter mengambil benda, mereka tidak memiliki kemampuan pengerasan yang sama seperti yang dilakukan Knight, dan tidak memiliki kekuatan untuk memperkuat benda yang mereka lepaskan seperti Hunter juga. Selain itu, Fighter tidak dapat menangani kekuatan magis seperti Mage. Satu-satunya kemampuan mereka adalah memperkuat diri.

Ketika Beat menyilangkan lengannya sehingga poster-poster di kedua tangannya bersilangan, mereka bertindak seperti perisai. —Tapi, satu pukulan dari tinju Dojima lebih keras dan lebih kuat daripada poster, menghasilkan penyok berbentuk kepalan di poster-posternya.

“...Jadi kamu melebihi kekerasan posterku, ya?”

Sepertinya Beat sekali lagi mengenali kekerasan dan kekuatan tinju Dojima yang tidak normal. Mitsuya telah mendengar bahwa level Beat sekitar lima puluh lima. Karena Beat memiliki kemampuan di atas rata-rata sebagai player dan agak unik dalam cara dia menggunakan poster, namanya sedikit terkenal di tempat parkir bawah tanah. Sementara itu, level Dojima adalah lima puluh tiga. Meskipun Beat memiliki level yang lebih tinggi, bagaimana poster-posternya bisa dilemahkan oleh serangan sejauh itu?

Momiji menembakkan panah ke kaki Beat untuk mengganggu keseimbangannya, dan Dojima tidak melewatkan kesempatan ketika Beat sesaat. terhuyung Mengikuti satu langkah panjang, Dojima mengayunkan tinjunya secara diagonal ke arah Beat dari bawah. Beat juga bereaksi dengan mencoba menggunakan poster-posternya sebagai perisai — dan suara dampak yang tajam bergema keluar. Beat terpukul oleh satu pukulan ketika poster menghantam wajahnya, dan dia langsung berlutut ketika dia jatuh di tempat. Dia mencoba bangkit kembali, tetapi tampak jelas bahwa matanya telah kehilangan fokus. Lagipula dia telah dipukul tepat di rahang. Dojima tiba-tiba meletakkan kakinya di atas lutut Beat, dan kemudian memberikan kekuatan pada kakinya sambil menendang ke atas untuk menyerang sisi kepala Beat dengan lutut kanannya dengan kecepatan penuh—. [Shining Wizard] — itu adalah salah satu gerakan gulat profesionalnya. Itu adalah pukulan lutut yang mematikan dengan kekuatan yang jauh lebih merusak daripada yang diperlukan untuk lawan yang sudah di ambang kekalahan. Secara alami, Beat tak sadarkan diri dengan gerakan itu.

Apakah seorang Fighter yang hanya dapat meningkatkan kekuatan tubuhnya sendiri lemah? Jawabannya adalah tidak. Walau biarpun seorang amatir dalam pertarungan itu seorang Fighter, itu tak ada artinya kecuali mereka dapat menguasai bagaimana memanfaatkan tubuh mereka yang diperkuat. Jadi, bagaimana jika seseorang yang ahli dalam seni bela diri menjadi seorang Fighter? Perbedaannya jelas. Bagi mereka yang telah mengasah keterampilan bertarung mereka dalam karate, tinju, taekwondo dan sebagainya, tubuh yang diperkuat itu menjadi senjata yang mematikan. Bahkan keterampilan gulat profesional dapat digunakan selama sesuai dengan situasi. Kesimpulannya, kelas Fighter sangat kuat.

Sementara Dojima mendaratkan pukulan menentukan pertandingan, Momiji melanjutkan pertarungan jarak jauhnya dengan gadis lain, dan Mitsuya terlibat dalam pertarungan defensif melawan bocah Hunter yang memegang pistol air mainan dengan kedua tangan. Berkat serangan awal Momiji, gadis itu tidak dapat mendukung rekan satu timnya dan harus mengerahkan semua upayanya untuk melindungi diri dari panah dengan sihir. Sementara itu, Momiji mampu mendukung teman timnya dengan benar — setelah menarik panah demi panah dari quiver di pinggangnya, dia melepaskannya dengan kecepatan tinggi. Tekniknya hebat. Mempertahankan ekspresi tanpa emosi, Momiji terus menembakkan panah bagaikan mesin. Walaupun Mitsuya telah ditembaki oleh pistol air, berkat dukungan Momiji-lah dia bisa terus bertarung. Hanya masalah waktu sebelum pertarungan antara Momiji dan Mage akan berakhir. Lagi pula, serangan Momiji sudah mulai mengenai tubuh gadis itu, dan kemungkinan beberapa faktor mental karena kehilangan pemimpin mereka, Beat, telah melemahkan pertahanannya.

Namun masalahnya, terletak pada Mitsuya. Semburan air yang menyembur keluar dari pistol air itu sangat cepat, dan setelah terkena, Mitsuya mengalami kerusakan dan juga menjadi basah, membuat tubuhnya lebih berat dan lebih lambat untuk bereaksi terhadap setiap tembakan berturut-turut. Mitsuya tahu pasti bahwa baterainya sedang dikonsumsi. Jika dia kalah, maka dia tidak akan mendapatkan pengalaman sama sekali. Meskipun poin pengalaman dibagikan dalam suatu party, mereka yang dianggap tidak bisa bertarung tidak akan menerima apapun. Teman satu timnya menang, jadi dia tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri. Apalagi sepertinya lawannya masih di sekolah dasar! Rasa sakit menjalari tubuh Mitsuya dengan masing-masing dan setiap dampak. Walau itu hanya air, itu telah diisi oleh kekuatan Hunter, sehingga sejumlah kerusakan dapat ditangani melalui serangan berulang. Sambil menyadari ekspresinya yang semakin tersiksa, Mitsuya terus mendekat ke lawannya, langkah demi langkah. Namun, sepertinya baterai Mitsuya akan habis sebelum lawannya bisa terjebak dalam jangkauan pedangnya. Tiba-tiba, sesuatu memasuki pandangan Mitsuya — itu adalah Dojima! Bocah itu terkejut melihat hal itu juga, dan dia langsung mengarahkan moncong pistol airnya ke Dojima. Pada saat itu, Mitsuya menahan rasa sakit dan maju bersamaan. Berkat Dojima bertahan melawan semburan air dengan lengannya, Mitsuya bisa mencapai jarak serang lawannya. Ketika dia mengayunkan sabuknya, tubuhnya bergetar karena rasa sakit yang melewatinya.

(Sialan!)

Lawannya mengarahkan moncong ke arahnya, dan saat pelatuknya ditarik—

“Ugah!”

Bocah itu menjerit karena sebuah panah mengenai lengannya. —Itu adalah Momiji. Pertarungan melawan Mage sudah berakhir. Tepat saat anak itu menurunkan moncongnya, Mitsuya memasang sabuknya dengan kuat ke bahu lawannya, dan anak itu menjatuhkan pistol airnya ketika ekspresi kesakitan berdesir di wajahnya. Mitsuya mengarahkan sabuknya lurus ke kepala bocah itu, Momiji membidik bocah itu dengan panah dari belakang, dan Dojima berdiri di sebelah bocah itu sambil melenturkan otot-otot di lengannya.

“Jadi apa yang akan kamu lakukan?”

Menanggapi pertanyaan Dojima, bocah itu dengan diam-diam mengeluarkan ponselnya dan mematikannya.

 

Setelah pertarungan, Mitsuya pergi ke kamar mandi di tempat parkir untuk mencuci muka. Tercermin di cermin, wajahnya menjadi sedikit bengkak.

(Meskipun itu air, kamu masih dapat menyebabkan banyak kerusakan ini tergantung pada bagaimana itu digunakan...)

Sekali lagi, Mitsuya terkejut dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing kelas. Bahkan air biasa yang familier dan sangat diperlukan untuk kehidupan sehari-hari dapat dibuat menjadi senjata yang kuat dalam game. Di jalanan, beberapa pertarungan sebenarnya bertarung dengan pisau tajam dan berbagai senjata berbahaya lainnya. Hanya membayangkan rasa takut yang ditanamkan pada Mitsuya. Ketika Mitsuya berulang kali bertarung dalam pertarungan, ia melihat berbagai metode serangan yang berbeda. Beberapa orang menggunakan handuk sebagai senjata, sementara yang lain mengeraskan CD dan melemparkannya. Semua orang bermain dengan metode serangan yang paling cocok untuk mereka.

Tiba-tiba Mitsuya melirik ponselnya. Selain dari penggunaannya yang sebenarnya dalam kehidupan nyata, seberapa nyaman seseorang dengan menggunakannya sebagai terminal selama pertarungan adalah masalah hidup dan mati. Tombol yang sulit ditekan dapat menyebabkan kesalahan pengetikan atau konversi yang fatal. Tergantung pada model teleponnya, ada berbagai tingkat kemudahan dalam menekan tombol dan melihat layar, dan ada juga tipe flip atau slide yang perlu dipertimbangkan. Namun, player yang memiliki hasil yang buruk dan mereka yang tidak terhubung dengan baik dengan ponsel mereka tampaknya diberikan langkah perbaikan oleh [Innovate]. Dikatakan bahwa ponsel di antara model-model yang ada yang kompatibel dengan player akan tiba-tiba dipilih dan dikirim kepada mereka. Apakah itu seharusnya semacam ‘layanan’ dari game di mana konsep ‘kematian’ itu ada?

Ada juga desas-desus bahwa game mengumpulkan data tentang bagaimana pengguna menangani telepon mereka. Meskipun ada ketidakpastian tentang apakah ini terkait dengan sifat gamenya, tampaknya mustahil bagi para player untuk menggunakan model yang berwarna kuning. Player yang memiliki model kuning akan dikirim model yang sama dengan warna yang berbeda. Juga, setiap kali seorang player mengubah model ponsel mereka, mereka sepertinya dikenakan semacam penalti. Meskipun Mitsuya agak terkejut ketika mengetahui hal ini, dia merasa lega ketika Dojima menjelaskan kepadanya bahwa ini diizinkan sampai batas tertentu untuk player level satu yang belum bertarung dalam pertarungan. Sepertinya para player yang telah menaikkan level mereka tidak seharusnya mengubah model ponsel atas kemauan mereka sendiri — pinalti untuk melakukan itu juga digolongkan berat. Untungnya bagi Mitsuya, ia memiliki kompatibilitas yang baik dengan ponselnya, jadi tidak perlu baginya untuk mengubah model dan menjalankan risiko terkena penalti.

Meskipun mereka semua berada di bawah kekuasaan aturan yang tidak masuk akal ini, semua orang masih bermain. Dengan tersandung dan menemukan gaya bermain yang cocok untuk mereka, para player dalam game ini belajar untuk bertahan hidup. Dengan demikian, serangan masing-masing player itu unik dengan individualitas mereka sendiri, namun juga kuat. Mitsuya juga berusaha menemukan caranya sendiri yang unik dalam menggunakan kemampuannya, tapi semuanya masih terasa sama seperti sebelumnya. Itu terjadi tepat ketika Mitsuya membasahi saputangannya dan menerapkannya pada memarnya saat melangkah keluar dari kamar mandi.

“—Ah.”

Gadis Mage yang merupakan salah satu dari anggota tim yang dia lawan sebelumnya berdiri di pintu masuk ke kamar mandi. Tepat ketika Mitsuya menunduk dan mencoba untuk bergegas, gadis memanggilnya.

“U-Umm....Apakah lukamu baik-baik saja?”

Mitsuya mengangguk.

“Apa kamu bebas sekarang?”

Gadis itu bertanya dengan sedikit rasa malu dalam ekspresinya.

 

“Jadi, anak lelaki tadi adalah adikmu?”

“Yep.”

Mitsuya dan gadis itu duduk di sebelah mesin penjual otomatis di tempat parkir ketika mereka mulai berkomunikasi satu sama lain. Nama gadis yang mengenakan blus dan hotpants adalah [Mii]. Tentu saja, itu hanya nama pegangan yang dia gunakan dalam game. Dia memiliki rambut panjang yang diikat menjadi tiga kepang, dan dia sekitar satu kepala lebih pendek dari Mitsuya. Dia memalingkan wajahnya ke arah Mitsuya dengan senyum ramah. Mitsuya berpikir bahwa dia adalah gadis yang cantik. Nama adik laki-lakinya adalah [Yu], dan gadis itu menyebutkan bahwa adiknya pergi entah ke mana dengan Beat. Setelah bertukar pengenalan diri yang ringan, Mitsuya menyadari bahwa dia seusia dengannya.

“—Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”


Karena sepertinya gadis itu tidak akan berkata langsung dengan mudah, Mitsuya memutuskan untuk memotong dan mempercepat prosesnya. Mii menempelkan tangannya ke pipinya dan tertawa canggung seolah terpojok.

“Bagaimana aku mengatakan ini...umm....aku sudah mengawasimu sejak lama.”

“Eh...”

Tiba-tiba dada Mitsuya tersentak. Tentunya, itu bukanlah pengakuan yang tiba-tiba—

“Ah, aku tidak bermaksud dengan cara yang aneh.”

Tangannya gemetaran.

“Ah...a-aku mengerti. Tentu saja...”

Nada suara Mitsuya sedikit lebih tinggi dari biasanya.

“Jadi masalahnya...aku penasaran. Dark-kun...bahkan ketika kamu memenangkan pertarungan, kamu selalu menatap ke suatu tempat yang jauh, bukan?”

Tentu saja, meskipun dia memenangkan pertarungan, dia tidak merasa senang dengan hal itu. Dia selalu merasa hampa, seolah-olah beberapa emosi yang lahir di hatinya telah ditolak.

“—Betul. Mungkin itu karena aku tidak pernah ingin memainkan game ini, dan aku merasa ingin keluar dari gamenya secepat mungkin.”

Ucap Mitsuya dengan getir.

“…Aku mengerti. Aku juga tidak suka. Biar bagaimanapun, kematian adalah suatu kemungkinan.”

“Kamu takut, Mii? Bertarung, maksudku.”

“Aku takut, tentu saja. Itu wajar mengingat kemungkinan mati, tapi tidak seperti itu di sini.”

Lagipula, para player yang berkumpul di sini bertarung melawan ketakutan mereka menuju tujuan menyelesaikan game. Gagasan itu sekali lagi diperbarui dalam benak Mitsuya.

“Tapi, aku harus bertarung...”

“Kenapa?”

Ketika Mitsuya bertanya, Mii tersenyum ketika dia melirik medan perang.

“—Orangtua. Kami tidak memilikinya…. Jadi agar kami bisa hidup sendiri, kami butuh uang.”

“Bagaimana dengan kerabat? Apa kamu punya?”

Ekspresi Mii menjadi agak kesepian saat dia mendengarkan pertanyaan Mitsuya.

“Kami sering dilempar di antara kerabat kami. Itu cukup umum...”

Mitsuya tidak dapat menjawab. Mitsuya yang lahir dan besar di rumah tangga biasa tidak memiliki pengalaman langsung dengan hal-hal seperti itu, dan itu adalah sesuatu yang hanya dilihatnya di televisi.

“Kamu tahu, hadiah untuk menyelesaikan game dikatakan sejumlah besar uang, jadi itu sangat luar biasa, bukan? Jadi ketika aku menyelesaikan ini dengan adik laki-lakiku, aku akan membeli rumah untuk kami berdua. Dengan itu, kami mungkin bisa hidup dengan baik. Apakah kamu pikir itu aneh?”

Mitsuya menggelengkan kepalanya.

—Tampaknya ada semacam kesamaan di antara orang-orang yang menerima undangan email.

Itulah yang pernah Dojima katakan. Jika itu benar, mungkin kakak-beradik ini telah dipilih oleh game, dan itulah sebabnya mereka menerima email.

“Dark-kun, apakah kamu memiliki sesuatu yang kamu inginkan?”

“—”

Sejenak, semua yang ada dalam pikirannya menjadi kosong. Itu adalah pertanyaan paling sulit baginya untuk dijawab. Itu adalah pertanyaan yang tidak disiapkan jawabannya. Bagaimanapun juga, dia bahkan tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk mendapatkan hadiah yang jelas atau semacamnya.

“Aku—”

“Nee-chan.”

Ketika Mitsuya melihat ke arah sumber suara yang mendekat, adik Mii, Yu, mendekati mereka.

“Beat-san memanggilmu.”

Beat berdiri agak jauh dari mereka, dan ketika mata mereka bertemu, Beat melambai. Mitsuya juga sedikit menundukkan kepalanya.

“Ah, baiklah. Maaf, mari kita lanjutkan kali lain—”

Setelah Mii bertepuk tangan dan meminta maaf kepada Mitsuya, dia pergi bersama adik laki-lakinya ke tempat Beat berada. Ditinggal sendirian, Mitsuya hanya menatap langit-langit. Dia benar-benar merasa lega bahwa dia dibebaskan dari kewajiban menjawab. Apa yang akan dia katakan saat itu? Dia tidak tahu. Kenapa dia ada di sini? Kenapa dia begitu terbenam? Hanya beberapa hari yang lalu, dia ingin melarikan diri dari game sesegera mungkin.... Namun, ada satu hal yang dia mengerti, dan itu adalah hal yang bodoh. Itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan yang dia ingin tolak — dia menikmati pertarungan dalam game ini. Meskipun dia menang, dia menekan perasaannya dan menolaknya, tapi dia benar-benar merasa gembira di dalam. Dia tahu semua itu, dan dia tahu pasti bahwa dia berada di puncak kecanduan—.

 

Mitsuya kembali ke rekan-rekannya yang telah menunggunya di sebelah salah satu pilar di tempat parkir. Dojima tidak ada, sementara Momiji yang mengenakan pakaian hitam duduk di lantai untuk membaca buku.

“Hah? Di mana Dojima-san?”

“Dia pergi ke party seorang kenalan.”

Momiji menjawab tanpa melepaskan matanya dari buku.

“Begitu.”

Setelah mencari-cari sosok Dojima secara visual dari lokasi mereka tetapi tidak berhasil, Mitsuya duduk agak jauh dari Momiji.

“Aduh!”

Rasa sakit luka-lukanya akibat pistol air sebelumnya masih berdesir di sekujur tubuhnya, dan ada sejumlah memar ringan di tubuhnya. Dia mengeluarkan cold patch dari kotak obat yang dia bawa dan mencoba menerapkannya ke daerah yang terluka, tetapi dia tidak bisa mengumpulkan kekuatan di jemarinya untuk melakukannya, menyebabkan dia menjatuhkan cold patch ke tanah beberapa kali. Rupanya, ini bukan tambalan dingin biasa. Itu adalah salah satu item yang telah didistribusikan kepada player yang bertarung di tempat parkir bawah tanah ini. Tampaknya itu adalah cold patch khusus yang telah diproduksi oleh Mage yang memiliki efek penyembuhan yang meningkat selama beberapa hari setelah aplikasi. Mitsuya telah menerima perawatan yang baik di sini sejauh ini, dan dampaknya luar biasa. Setelah menempel di daerah yang terkena, kerusakan akan hilang dengan kecepatan luar biasa, biasanya dalam sepuluh menit atau lebih. Momiji tiba-tiba menutup bukunya dan mengambil cold patch yang jatuh.

“...Lepaskan.”

“Hah?”

Tiba-tiba mendengar ungkapan seperti itu, Mitsuya malah meragukan telinganya.

“Kalau tidak, aku tidak bisa menempelkannya padamu.”

“T-Tapi...”

Dia belum pernah melepas pakaiannya di depan seorang gadis sebelumnya, jadi dia tentu saja merasa sangat malu dan ragu-ragu tentang hal itu.

“Bukannya aku belum pernah melihat pria telanjang sebelumnya, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu.”

Dia malu. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan mendengar pengakuan seperti itu dari seseorang yang lebih muda dari dirinya sendiri. Mitsuya dibuat lebih sadar akan fakta bahwa tidak mungkin untuk menilai seseorang dari penampilan mereka. Tapi—

“Berhenti membayangkan hal-hal aneh. Kamu hanya terbiasa dengan perawatan seperti ini.”

Momiji membela diri dengan sedikit merona.

“Ah, benar.”

Mitsuya melepas jaketnya dan menunjukkan padanya area yang terkena dampak yang telah memerah. Momiji menyentuhnya dengan lembut.

“—”

Tubuh Mitsuya bereaksi dengan kedutan.

“Maaf.”

Sambil menarik tangannya, Momiji mengambil salah satu cold patch itu. Jantung Mitsuya berdenyut-denyut karena jemari Momiji mendadak dingin dan sentuhannya pada kulitnya juga terasa menyenangkan. Jika dia tahu tentang pikirannya yang tidak senonoh, dia mungkin tidak akan pernah merawatnya lagi. Mitsuya berusaha keras untuk menghentikan jantungnya yang berdebar kencang di dadanya. Sementara Mitsuya fokus pada cold patch, sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya.

“...Hei. Momiji-san—”

“Tak usah pakai [-san]. Kamulah yang lebih senior dariku.”

“Kalau begitu, Momiji...chan...kenapa kamu memainkan game ini?”

Setelah percakapan sebelumnya dengan Mii, dia menjadi ingin tahu tentang hal itu. Karena Momiji berada di party yang sama dengan dia, dia merasa agak bersalah karena dia tidak tahu alasannya. Untuk sekali ini, Momiji melakukan kontak mata langsung dengan Mitsuya.

“Maksudmu tujuanku?”

“Ya.”

“…Begitu ya. Kita berada di party yang sama, jadi kurasa wajar saja jika kamu bertanya.”

“Bisakah kamu ceritakan pada aku?”

Setelah Momiji terdiam beberapa saat, dia membuka mulutnya.

“—Aku ingin tahu.”

“Kamu ingin tahu?”

“Kakak laki-lakiku...aku ingin tahu apa yang dicari kakakku yang meninggal dalam game ini...itulah yang ingin kuketahui. Aku mendapat email dari Shintaro-kun yang menjelaskannya, dan itulah kesimpulanku.”

“Kakak laki-laki? Kakakmu bermain game ini?”

“Shintaro-kun tidak memberitahumu?”

Hanya ketika Momiji mengatakan itu dia ingat. Dojima sebelumnya menyebutkan bahwa temannya meninggal dalam game.

“Jadi, kamu adik perempuannya?”

“Ya.”

Dia tidak tahu. Tapi sekarang, dia akhirnya mengerti sifat hubungan antara Dojma dan Momiji. Sudah ada dalam pikirannya untuk waktu yang lama. Mengapa mereka berdua membentuk party? Sepertinya mereka tidak ingin merekrut lebih banyak anggota, dan mereka juga tampaknya memiliki hubungan saling percaya yang aneh. Dia mengira ada sesuatu yang lain di antara mereka berdua.

“Tapi aku masih belum tahu....aku berencana untuk mencari tahu sebelum aku menyelesaikan game. Jadi bagaimana denganmu?”

“Apakah buruk bagiku untuk menjadi seperti ini? Lagipula, ketika menyangkut gol, tujuan, atau mimpi, apakah aneh kalau aku tidak punya hal tersebut?”

Ucap Mitsuya dengan senyum masam. Tentunya, mereka yang telah menemukan gol atau tujuan memandang rendah dirinya. Sampai saat ini, dia tidak peduli tentang hal-hal seperti itu. Dia hanya berpikir bahwa dia adalah manusia yang tidak memiliki mimpi. Namun, sejak dia mulai berpartisipasi dalam game ini, itu telah membebani pikirannya sejak dia diberitahu bahwa ada makna dalam panduan game. Mengapa dia mulai berpartisipasi? Kenapa dia mendaftar daripada mengabaikan email?

“Aku pikir itu baik-baik saja, bukan?”

“Hah?”

Itu adalah jawaban yang melebihi harapannya.

“Meskipun kamu tidak dapat menemukan tujuan dalam game ini sekarang, aku pikir itu tidak dapat dihindari meskipun kamu tidak mencoba karena hal-hal seperti tujuan sering lahir entah dari mana. Tidak masalah seberapa besar atau kecilnya itu.”

“Kamu pikir begitu?”

“Semua orang di sini tiba-tiba menerima email dan terjebak dalam game. Semua player akhirnya memikirkan sesuatu seperti gol saat mereka memainkan game. Karena itu aku berpikir bahwa kamu juga akan menemukan sesuatu yang kamu inginkan suatu hari nanti, Kanzaki-san.”

Ucapan Momiji memberinya sedikit kenyamanan sebagai jawaban. Itu adalah sesuatu yang bisa beresonansi dengan Mitsuya.

“—Terima kasih.”

“Eh, apa?”

Meskipun suaranya begitu pelan sehingga nyaris tidak terdengar, Mitsuya tersenyum.
MARI KOMENTAR

Share: