Unlimited Project Works

05 Februari, 2019

Strike the Blood v7 1-5

on  
In  

diterjemahkan oleh setia-kun

CHAPTER 1: FAIRY’S COFFIN

5

Berbeda dengan eksterior vanila polos, ruang batu di dalam terowongan memiliki dinding yang mengkilap nan indah. Dalam perjalanan, sulit untuk melewatkan puing-puing dari pembongkaran batuan dasar berulang-ulang dan sisa-sisa monster raksasa mencakar jalan keluar, tapi bagian dalamnya sebagian besar tak rusak.

Itu adalah ruangan misterius yang menyarankan telah dibangun beberapa waktu sebelumnya, hanya akan selesai dalam beberapa tahun terakhir. Tak heran itu membingungkan para penjelajah.

Kojou benar-benar menghargai pandangan pertamanya pada bagian dalam reruntuhan.

“Itu benar-benar tempat yang cantik. Aku berpikir makam bawah tanah akan sedikit lebih gelap dan menakutkan, tapi...”

Interior kamar batu itu cukup terang, membiarkannya melihat tata letak tanpa perlu senter. Rupanya, dinding-dinding batunya terbuat dari sesuatu yang mengumpulkan dan memancarkan sinar matahari.

Gajou, masuk terakhir seolah-olah dia adalah pengawal Nagisa, menjelaskan dengan nada serius yang tidak biasanya, “Sepertinya ini dibangun lebih sebagai kuil daripada makam sungguhan.”

“Dewa kuno tidur di sini, ya?”

“Dewa, katamu?” Gajou membuat tawa senang di tenggorokannya dan melanjutkan, “Tidak ada hal kudus begitu. Aku kira jika kau akan membandingkannya dengan para dewa, dewa jatuh tidaklah jauh.”

“Dok…!” Liana memarahi Gajou.

Tapi Gajou tertawa tanpa menahan diri dan menggelengkan kepalanya.

“Tak ada gunanya menyembunyikannya sekarang. Bukannya aku mencoba menakutimu. Kebetulan itu adalah kebenaran.”

Kojou memelototi ayahnya. “Maksud Ayah apa?”

“Di mana aku harus mulai?” ucap Gajou, sedikit merengut. “Pernahkah kau mendengar Leluhur Keempat?”

“Masalah Kaleid Blood, leluhur yang melayani duabelas Beast Vassals, bukankah begitu...?”

Tentu saja Kojou tahu nama itu. Itu adalah legenda urban yang cukup terkenal sehingga setiap orang mesti mendengarnya sekali. Dia mungkin menarik kakiku, pikir Kojou, kesal.

“Itu benar,” jawab Gajou. “Dia tidak punya saudara, berdiri sendiri sebagai Vampir Perkasa di Dunia. Konon dia muncul di titik balik dalam sejarah beberapa kali, membawa genosida dan kehancuran ke dunia setelahnya.”

“Tapi tak ada bukti nyata tentang itu, kan? Bahkan anak SD saja takkan percaya hal-hal gaib seperti itu saat ini.”

Gajou menunjuk ke ujung ruangan batu sebelum dia menjawab.

“Ada buktinya, dan itu tepat di depan matamu.”

Di sana berdiri pintu batu yang tebal. Kojou tak bisa melihat parutan atau engsel, dia juga tidak tahu bagaimana seseorang seharusnya membukanya. Mencoba untuk meledakkan pintu mungkin membuat seluruh ruangan batu hancur, mengubur semua orang hidup-hidup. Itu mungkin jebakan yang dibangun dengan teknologi yang sangat canggih.

Dia pikir Nagisa telah dipanggil untuk membantu mereka mencari cara untuk membuka pintu itu.

Tanpa disadari menurunkan suaranya, Kojou bertanya, “Jadi apa, Leluhur Keempat tertidur di dalam benda itu?”

Gajou terkekeh tanpa peduli. “Itu benar-benar lucu, bukan?”

Kojou menerima dua kali dan berteriak pada ayahnya, “Apa-apaan ini?! Ayah tidak bisa menggali reruntuhan kuno yang berharga dengan teori konyol seperti itu!”

“Sama sekali tidak konyol!” Liana berteriak, suaranya jelas sekali.

“L-Liana...?”

Kojou kembali menatapnya, tercengang. Gema teriakan Liana bergema samar-samar di dalam ruang batu besar. Liana, yang mungkin merasa malu ketika tersadar, berkata, “Aku minta maaf” dengan suara kecil, meminta maaf, menundukkan kepalanya dalam diam.

Gajou tampaknya mendukung Liana saat dia berbicara dengan nada ceroboh. “Yah, kita orang dewasa punya alasan. Kalian anak-anak tidak perlu memikirkan hal-hal kecil... Ini adalah strata ketiga dari makam bawah tanah, Room of Reminiscence. Seharusnya ada satu ruangan lagi untuk dilewati, tetapi ruangan itu terkunci sangat ketat sehingga kami tak tahu bagaimana cara masuk. Karena itu kami membawa Nagisa, jadi...”

Ucapan Gajou menghilang saat tatapannya bergeser ke sisi wajah gadis itu. Saat itulah Kojou menyadarinya. Nagisa yang biasanya suka mengobrol tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka tiba—

Kojou dengan terbata-bata memanggil adik perempuannya. “Nagisa...?”

Namun, dia tidak berbalik ke arahnya. Irisnya terbuka lebar karena dia hanya menatap tanpa ekspresi ke pintu batu tersebut.

Kojou mendadak menyadari bahwa cahaya pucat dari dinding reruntuhan telah meningkat. Batu itu menjadi setransparan kristal; di dalamnya, sesuatu seperti arus listrik membentuk simbol sihir raksasa.

Bibir Nagisa mengucapkan kata-kata dalam bahasa asing yang Kojou tidak tahu. Seolah-olah Nagisa menggunakan kata-kata tersebut untuk berkomunikasi dengan pikiran yang ditinggalkan orang di reruntuhan—

Secara alami, orang-orang yang membangun bangunan itu tahu cara membuka pintu batu. Nagisa berusaha berkomunikasi dengan roh mereka yang telah pergi untuk menguraikan segel. Namun, Nagisa sudah kehilangan kesadarannya karena menerima ke dalam dirinya makhluk yang terlalu kuat.

Saat ini, dia tak punya kemauan sendiri. Dia telah menjadi salah satu sirkuit ajaib yang membentuk sistem kontrol reruntuhan.

Terkejut, Liana mulai bertanya, “Dok! Apa...?”

Ekspresi Gajou hanya mengandung sedikit jejak kegugupan. “Sepertinya reruntuhan sedang di-boot ulang. Mempertimbangkan gargoyle, aku punya ide yang cukup bagus bahwa sumber prana masih berjalan, tapi itu pertunjukan yang lebih besar dari yang kuduga.”

Nagisa tetap kesurupan. Dia mengambil langkah ke depan, seolah mengharapkan sesuatu akan terjadi, dan setelah itu, cahaya yang memancar dari pintu batu tersebut menjadi lebih terang.

Lalu, tanpa peringatan, pintu menghilang tanpa jejak. Tak ada satu pun kerikil yang tersisa.

Kemungkinan besar, pintu telah dipindahkan ke dimensi lain melalui mantra kontrol spasial. Kojou bahkan tak bisa memahami tingkat teknologi sihir yang diperlukan untuk prestasi seperti itu.

Liana berada di samping dirinya sendiri, mendesis ketika dia menatap Nagisa, masih dalam kondisi hipnosis.

“Itu tak mungkin... Sebuah segel yang bahkan para insinyur penyihir Warlord’s Empire tak bisa uraikan, hanya dalam sekejap...”

Gajou menggigil hebat ketika hawa dingin bertiup dari lorong itu, bahkan membuat napas mereka terlihat.

“Whoa... Ini membuatku merinding!”

Mendadak, udara dingin menyebabkan kabut tebal mulai terbentuk di dalam reruntuhan. Nagisa melangkah ke koridor, sepertinya mencair ke dalam kabut.

Kojou bergegas mencoba menghentikannya.

“Nagisa?!”

Suara Gajou menengahi. “Tunggu, Kojou! Jangan dekat dengannya!”

“Tapi Nagisa...!”

“Serahkan itu padanya. Paling tidak, dia berhasil menyalurkan. Lebih berbahaya untuk mengusirnya.”

“Ugh...!”

Kojou tetap di tempatnya dan menggigit bibirnya. Dia benci mengakuinya, tapi ayahnya benar. Yang bisa dia lakukan pada saat itu hanyalah mengikuti Nagisa dengan putus asa sehingga dia tak melupakannya.

Ketika dia keluar dari sisi lain dari lorong yang gelap itu, ruangan terakhir terbentang di depan.

Itu adalah ruangan dengan dinding tinggi, hampir berbentuk silindris. Altar di tengah ruangan tersebut menyerupai balok es raksasa, bagaikan gletser dari bagian terjauh di dunia. Di dalam peti mati sedingin es itu tertidur sosok mungil — seorang gadis seukuran Nagisa.

Kulitnya begitu pucat hingga kau hampir bisa melihat menembusnya. Wajah mudanya tampak simetris dan tidak manusiawi, dan rambutnya yang pirang berpigmen tampak memantulkan cahaya sehingga berkilau bak pelangi.

Kojou menatap gadis itu. “Itu Fairy’s Coffin...? Apakah...dia mati?” dia mendesis.

Tentu saja, gadis yang tidur di peti es membentuk gambar peri yang terperangkap dalam sepotong ambar bening. Entah bagaimana, makhluk cantik itu terasa beramat buruk.

Walaupun dia adalah Leluhur Keempat, Vampir Perkasa di Dunia, Godou takkan menduga gadis itu bisa hidup dalam kondisi tersebut. Namun, semua orang di ruang batu sudah menyadari — gadis di peti mati inilah yang merupakan sumber energi magis yang mengalir melalui reruntuhan. Dan dialah yang memanggil Nagisa.

“Kami akhirnya menemukanmu...Kaleid Blood keduabelas...!” Liana bergumam pada dirinya sendiri.

Kojou tidak mengerti apa yang dia maksud. Tapi entah bagaimana, dia merasa judul hampa itu tidak sesuai dengan gadis fana yang tidur di peti mati.

Es tajam yang tak terhitung jumlahnya menutupi tempat peristirahatannya, menangkis semua orang yang akan mendekat. Mereka menyerupai dinding duri yang dimaksudkan untuk melindungi gadis yang tidur itu.

Tanpa sadar Kojou mengatakan dengan keras ucapan yang terlintas di benaknya.

“Dia seperti putri tidur...”

Ya, gadis yang terperangkap sendirian di peti es seperti bukan vampir malah seorang putri tragis dari dongeng.


Tampaknya, Kojou bukan satu-satunya yang berpikir seperti itu. Liana melirik wajah Kojou ketika sebuah senyuman murni muncul dari dalam dirinya, bagaikan bunga putih yang mekar.

“Putri tidur...Lalu, Avrora Florestina...putri Raja Florestin?”

Gajou memberikan kata-kata pujian yang tidak biasa.

“Itu keren. Kedengarannya jauh lebih puitis daripada sekadar menamai dia dengan nomor.”

Kojou merasa sangat malu pada kurangnya perhatian ayahnya. “Ini bukan waktunya untuk santai! Kalau terus begini, Nagisa akan membeku bersamanya!”

“Ah...ya...”

Gajou tidak benar-benar membantah putranya.

Kabut dingin menyelimuti Nagisa, yang berdiri di depan peti mati. Jika berjalan terus, dia akan ditarik ke dalam es, peti mati yang sama yang membuat Avrora terjebak.

Atau, mungkin Avrora sendiri akan menyedot energi spiritual Nagisa sampai kering untuk kembali hidup—

Namun Gajou, yang sepenuhnya menyadari masalah ini, tidak membuat langkah untuk menyelamatkan Nagisa. Sebaliknya, dia berkata, “Nona Caruana, apakah kau keberatan jika aku meninggalkan ini di tanganmu?”

Kali ini, mulut Kojou terbuka ketika dia melihat ayahnya tiba-tiba memunggungi Nagisa.

“Ayah—?!”

Tubuhnya bergerak sebelum dia menyadarinya. Dia melompat, kepalan tangannya yang kecil mengepal mengarah ke wajah ayahnya.

Tapi bukan Gajou yang menghentikannya. Sebelum Kojou bisa menampar wajahnya, seluruh reruntuhan bergetar. Seolah-olah palu raksasa telah jatuh, dengan gelombang kejut mengguncang bumi, menyebabkan Kojou kehilangan keseimbangan dan jatuh.

“…Gempa bumi?!” serunya.

Seluruh ruangan batu pecah dengan ganas, dan serpihan puing-puing menghujani mereka. Getaran itu tidak berlangsung lama. Angin yang kuat bertiup di tempatnya — ledakan dengan aroma bahan peledak.

Mungkin gelombang kejut itu menarik Nagisa keluar dari kesurupannya. Tanpa suara, sosok mungilnya dengan pakaian miko-nya meringkuk ke lantai.

Liana memasang ekspresi sedih saat dia melihat ke belakang.

“Dok, tadi itu...!”

Gajou mengambil senapan yang dibawanya di punggungnya, membalik pengamannya. Itu adalah senjata otomatis gaya bullpup untuk penggunaan militer.

“Yeah...Sepertinya kita mengalami sedikit masalah.”

Aura yang menindas dari ayah Kojou memberitahu bocah itu keras dan jelas bahwa sesuatu mendadak berubah menjadi lebih buruk.

“Maaf, Kojou. Jaga Nagisa. Aku akan segera kembali.”

“Ayah!!”

Ditinggalkan, Kojou menatap tercengang di punggung Gajou.

Dia ingat suasana mengesankan di base camp yang dijaga oleh Carrozzo dan yang lainnya. Mereka sudah tahu sejak awal bahwa seseorang mengejar reruntuahn. Kojou adalah satu-satunya yang tidak tahu. Dan Gajou telah memanggil Nagisa ke tempat seperti itu, sepenuhnya menyadari akan ada bahaya—

Kojou dengan paksa memukul lantai dengan tinjunya.

“Sialan! Apa yang dipikirkan pria itu?!”

Liana menunduk, meringis, ketika dia berjongkok di samping Kojou.

“...Aku minta maaf karena menyeretmu ke semua ini. Tapi, tolong jangan salahkan Dok. Ini lebih sulit baginya daripada orang lain.”

Dengan Liana yang dekat dengannya, Kojou bertanya padanya, “Ada apa dengan reruntuhan ini? Bukan hanya makam bawah tanah, ya kan? Kaleid Blood Keduabelas, apa itu—?!”

Liana diam-diam melepaskan aura mematikan, tampaknya untuk memotong Kojou dan menyingkirkan kekhawatirannya.

“Mari kita simpan percakapan itu untuk nanti. Kojou, kembalilah.”

“Eh?”

Liana menatap tajam ke pintu masuk reruntuhan ketika dia melepaskan gelang di pergelangan tangan kirinya. Matanya bersinar merah ketika taring mencuat di antara bibirnya.

Kojou mengingat sifat aslinya. Liana adalah seorang bangsawan dari Warlord’s Empire, seorang vampir Old Guard.

“—Musuh sudah datang.”

Sebelum Liana bahkan selesai berbicara, longsoran siluet manusia mengalir ke ruang batu.

Pemandangan itu membuat Kojou terdiam. Dia tahu mereka, wajah para prajurit “musuh” yang telah membuka pintu masuk reruntuhan, memaksa masuk—

Mereka mengenakan jaket antipeluru dan dipersenjatai dengan senjata otomatis; mereka adalah penjaga Private Military Corporation yang telah melindungi kamp.
MARI KOMENTAR

Share: